Tag: perubahan iklim

  • Tanam Pohon Serentak, Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

    Tanam Pohon Serentak, Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Ada banyak cara yang dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Salah satunya dengan menanam pohon serentak seperti yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

    Penanaman pohon ini dalam rangka peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-41 yang juga dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    “Penanaman serentak sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, dan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan merupakan upaya memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon atau tanaman,” jelas Siti Nurbaya.

    Melansir Antaranews, Siti dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Tasdiyanto Rohadi mengatakan penanaman serentak tak hanya menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.

    Baca: Menteri Siti ajak gen Y dan gen Z tanam pohon

    Penanaman serentak juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat umum atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan khususnya kegiatan penanaman pohon.

    Penanamn pohon ini perlu dilakukan karena pohon memiliki manfaat multiguna untuk seluruh makhluk hidup.

    Pohon tidak hanya sebagai penyedia oksigen, tetapi juga menjadi tempat penyimpanan karbon yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya di bumi.

    Pohon juga bermanfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Selain itu, pohon juga berperan penting dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, sumber kehidupan makhluk hidup.

    Manfaat lain pohon adalah untuk menyimpan air, menjaga suhu udara, meredam kebisingan, dan mengurangi terjangan angin. Pohon juga menjadi solusi atas berbagai persoalan polusi udara.

    Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon

    Dampak perubahan iklim secara nyata sudah dirasakan seperti suhu udara yang panas, musim kemarau yang berkepanjangan dan lain-lain.

    Karena itu keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup.

    “Ini adalah langkah positif untuk merestorasi dan melindungi lingkungan. Kita tidak hanya memberikan manfaat bagi bumi, tetapi juga menciptakan warisan untuk generasi mendatang,” ujarnya.

    Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia mempunyai arti sangat penting dalam upaya pengendalian iklim global.

    Hutan merupakan salah satu kunci untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, mendinginkan udara dan melindungi dari kekeringan, panas ekstrem, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati, atau Triple Planetary Crisis.

    Baca: KLHK siapkan lebih dari 2 ribu bibit untuk refleksi akhir tahun

    karena itu, dalam memperingati Hari Bhakti Rimbawan ke-41, Siti mengajak seluruh rimbawan baik di Kementerian LHK, pemerintah daerah, bisnis leaders dan para aktivis, para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat bekerjasama memberikan  kontribusi pemikiran dan kegiatan nyata di tingkat tapak secara masif dan terukur.

    Menurutnya, Indonesia memandang sangat penting untuk memastikan bahwa komitmen-komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

    “Salah satunya dengan menanam dan memelihara pohon sebanyak mungkin,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BRIN: Kemunculan Siklon Tropis adalah Indikasi Perubahan Iklim

    BRIN: Kemunculan Siklon Tropis adalah Indikasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kemunculan banyak siklon tropis mengindikasi perubahan iklim yang telah berkontribusi dalam peningkatan intensitas kejadian cuaca ekstrem di Indonesia.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan mengatakan, munculnya tiga siklon tropis saat ini telah memicu cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana hidrometeorologi di berbagai daerah di Indonesia.

    “Kemunculan mata badai banyak, frekuensi kejadian ekstrem meningkat, dan juga lokasinya bertambah,” kata Eddy saat dihubungi di Jakarta, Senin (18/3/2024).

    Baca: Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah

    Selain kemunculan siklon tropis di wilayah perairan Indonesia yang berbatasan dengan Australia, dua mata badai yang juga muncul di atas Jepang.

    Eddy menuturkan mata badai yang muncul dalam waktu bersamaan seperti saat ini adalah fenomena tidak biasa yang mengindikasikan efek perubahan iklim.

    Keberadaan siklon tropis dalam jumlah banyak tersebut tidak hanya menimbulkan cuaca ekstrem dan  bencana hidrometeorologi.

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi di Indonesia 

    Badai siklon tropis tetapi juga menarik angin dingin dari Kutub Selatan yang membuat udara di Indonesia terasa cukup dingin.

    “Salah satu teori dampak perubahan iklim adalah frekuensi kemunculan fenomena ekstrem meningkat. Kemudian, lokasi yang tidak biasanya,” kata Eddy.

    Lebih lanjut dia mencontohkan daerah yang biasanya tidak mengalami hujan justru turun hujan, seperti Timur Tengah. Lalu, kutub yang dingin kini mulai menghangat.

    Baca: BRIN usulkan bentuk tim khusus untuk tangani cuaca ekstrem 

    Bagi wilayah tropis seperti Indonesia yang hanya memiliki dua musim, cuaca ekstrem yang meningkat tidak hanya terjadi saat musim hujan.

    Cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan ekstrem juga terjadi saat periode transisi menuju musim kemarau atau musim pancaroba seperti sekarang.

    Eddy mengatakan kondisi cuaca di Indonesia akan kembali normal bila siklon tropis mendekati wilayah daratan.

    Baca:  3 jenis cuaca ekstrem yang merusak 

    Hal ini karena mata badai punya energi yang kuat saat berada di tengah laut, melemah saat mencapai daratan karena menemukan lebih banyak penghalang.

    “Cuma sampai kapannya saya belum berani (memprediksi), karena memang kondisinya masih seperti ini,” kata Eddy.

    Sumber: Antaranews.com

  • WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    WMO Kembali Ingatkan Tahun 2023 sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Pencatatan Suhu Bumi

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyatakan 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dengan tingkat panas lautan juga mencapai tingkat tertinggi.

    “Belum pernah kita sedekat ini, meski hanya sementara, dengan batas bawah 1,5 derajat Celcius Perjanjian Paris tentang perubahan iklim,” kata Sekjen WMO Celeste Saulo dikutip Anataranews.com, Rabu (20//2024).

    Dalam laporan WMO State of the Global Climate 2023 mengonfirmasi bahwa 2023 merupakan tahun terpanas dengan rata-rata temperatur global 1,45 derajat Celcius, di atas rata-rata pra-industri.

    Baca: WMO sebut pemanasan global akan picu lebih banyak bencana alam

    Tahun 2023 menjadi yang terpanas dalam catatan yang sudah dilakukan 174 tahun, mengalahkan rekor pada 2016 yang mencatat 1,29 derajat Celcius di atas rata-rata pra-industri.

    Rata-rata dalam sehari pada 2023, hampir sepertiga dari lautan global mengalami gelombang panas laut yang berdampak terhadap ekosistem penting dan sistem rantai makanan.

    Menuju akhir 2023, lebih dari 90 persen lautan mengalami kondisi gelombang panas laut di titik tertentu.

    Baca: Pemanasan global picu berbagai masalah lingkungan

    Rata-rata permukaan laut global juga mencapai rekor tertinggi pada tahun 2023.

    Laju kenaikan permukaan air laut dalam sepuluh tahun terakhir atau periode 2014-2023 meningkat lebih dari dua kali lipat sejak dekade pertama pencatatan satelit pada 1993-2002.

    Konsentrasi tiga gas rumah kaca (GRK) yaitu karbon dioksida, metana dan dinitrogen oksida mencapai rekor tertinggi pada 2022. Dengan data menunjukkan di beberapa lokasi memperlihatkan kenaikan kembali pada 2023.

    Baca: Mungkinkah dunia mencapai nol emisi pada 2050  

    Level CO2 lebih tinggi 50 persen dibandingkan masa pra-industri, memerangkap panas di dalam atmosfer. Tingkatan CO2 tersebut berarti temperatur akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.

    “Perubahan iklim tidak hanya terkait temperatur. Apa yang kita saksikan pada 2023, khususnya dengan pemanasan laut, penyusutan gletser dan hilangnya laut es Antartika juga menjadi kekhawatiran,” katanya.

    Namun, ada secercah harapan. Secara global pembangkit energi terbarukan terutama yang menggunakan tenaga matahari, angin dan air telah menjadi yang terdepan dalam upaya iklim.

    Baca: Kabar baik untuk lingkungan pada tahun 2023

    Berbagai jenis energi hijau ramah lingkungan ini sangat berpotensi dalam mengejar capaian target dekarbonisasi.

    Pada 2023, penambahan kapasitas energi terbarukan meningkat hampir 50 persen dari tahun 2022. Dengan total 510 gigawatt (GW), angka tertinggi dalam dua dekade terakhir.

    Sumber: antaranews.com

  • Yuk, Ubah Gaya Hidup untuk Tangkal dan Memitigasi Dampak Perubahan Iklim

    Yuk, Ubah Gaya Hidup untuk Tangkal dan Memitigasi Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia khususnya anak muda.

    Studi yang dilakukan oleh Save the Children pada tahun 2020 menemukan, anak-anak yang lahir pada tahun 2020 mengalami bencana sebanyak 3.4 kali lebih sering daripada kakek-nenek mereka yang lahir pada tahun 1960.

    Bencana tersebut melibatkan dampak perubahan iklim seperti gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan kegagalan panen.

    Semua ini memberikan tekanan tambahan pada lingkungan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perlindungan anak-anak.

    Studi lain yang dilakukan oleh UNICEF menyoroti bahwa perubahan iklim merupakan ancaman terbesar terhadap kesehatan, nutrisi, pendidikan, dan masa depan anak-anak. 

    Baca: Milenial dan Gen Z bisa jadi kelompok penekan agar industri lebih ramah lingkungan 

    Di sisi lain, perkembangan sektor industri dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah gaya hidup masyarakat dari berbagai sisi. Mulai dari barang-barang elektronik hingga pakaian sehari-hari.

    Sayangnya, aktivitas produksi dan konsumsi yang tidak berwawasan lingkungan kerap kali memiliki dampak buruk terhadap perubahan iklim.

    Misalnya, penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, deforestasi akibat aktivitas industri, serta berkembangnya tren fast fashion yang mendorong konsumsi yang tidak berkelanjutan.

    Bahkan, sektor industri sendiri telah menyumbang 25 persen dari emisi karbon global (UNEP, 2023).

    Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan dalam pola pikir dan perilaku sehari-hari, terutama generasi muda, untuk mengurangi dan memitigasi dampak perubahan iklim dari sektor industri dan gaya hidup.

    Baca: Riset mengungkap antusiasme generasi muda pada aksi lingkungan masih rendah

    Hal ini menjadi sorotan dalam webinar bertajuk Road to Youth Climate Conference Webinar: Perubahan Iklim, Industri, dan Gaya Hidup yang diikuti secara daring pada Jumat (22/3/2024).

    Dalam kesempatan itu, Faricha Hidayati, Koordinator Dekarbonisasi Industri IESR mengatakan setiap aktivitas yang dilakukan akan memicu emisi karbon.

    Emisi karbon ini jika berlebihan dan tidak dikurangi akan memicu kenaikan suhu global. Ketika kenaikan suhu sudah melebihi 1,5 derajat celcius, maka manusia mulai menghadapi berbagai masalah.   

    Lantas, apa yang bisa dilakukan mengantisipasi perubahan iklim disebabkan oleh industri dan gaya hidup masyarakat umum, termasuk yang dilakukan oleh orang muda? 

    ”Anak muda sebagai mayoritas dapat membangun gaya hidup yang berkelanjutan serta merumuskan inovasi dalam industri untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan,” ujar Faricha.

    Baca: Perempuan ini menjadi pejuang lingkungan sejak usia 8 tahun

    Edukasi juga penting dilakukan, karena anak muda sebagai angkatan kerja masa depan harus dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan.    

    Menurut Faricha, ada beberapa yang bisa dilakukan anak muda untuk kurangi dampak negatif lingkungan, yakni dengan menerapkan prinsip-prinsip sirkular ekonomi yang meliputi aspek 7R.

    Faricha memaparkan 7R itu adalah Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Recover, Recycle

    Anak muda juga bisa mengambil peran dengan menjadi konsumen yang bijak dengan menerapkan prinsip avoid (hindari), shift (geser), improve (tingkatkan) prinsip-prinsip ramah lingkungan.

    Yang tak kalah penting, anak muda juga bisa berperan dengan menggunakan hak konsumen dengan baik (PP no 8/1999). 

    Baca: Upaya Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan 

    ”Hak untuk mendapatkan keamanan dan keselamatan atas penggunaan produk;
    hak mendapat produk sesuai harga dan kondisi yang dijanjikan, hak untuk mendapatkan informasi produk yang sejujur-jujurnya,” imbuh Faricha.

    Dan yang terakhir adalah mengampanyekan ilmu-ilmu terkait produk hijau via media sosial maupun secara langsung.

    Agar dapat didengar dengan baik, ujar Faricha, dibutuhkan banyak suara yang lantang menyuarakan pesan yang sama.

    ”Semakin banyak yang bersuara, maka akan lbih didengar,” pungkas Faricha. 

     

     

  • Skema Perlindungan Sosial (Perlinsos) Direformasi Agar Lebih Adaptif terhadap Perubahan Iklim

    Skema Perlindungan Sosial (Perlinsos) Direformasi Agar Lebih Adaptif terhadap Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Hasil reformasi perlindungan sosial (perlinsos) yang kini sudah rampung diharapkan dapat menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia.

    Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Maliki mengatakan reformasi sistem pelindungan sosial ini untuk mendukung fokus pembangunan, pemerintah.

    Dalam hal ini, ujarnya, Bappenas terus berupaya untuk memperkuat aspek hukum Perlindungan sosial (Perlinsos).

    ”Ini sudah diamanatkan oleh presiden, kemudian juga sudah dituangkan di dalam RKP (Rencana Kerja Pemerintah), baik pada 2021, yaitu rencana kerja pemerintah yang ditetapkan di dalam Peraturan Presiden, RKP 2022 maupun RKP 2023,” ujarnya dalam Seminar Nasional Menuju Indonesia Sejahtera 2045 yang dipantau secara virtual, Jakarta, Kamis (28/3/2024).

    Baca: Bansos dibiayai dari uang pajak rakyat

    Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa ada sejumlah reformasi yang telah dilakukan pemerintah sebagai prasyarat menuju transformasi sosial sebagaimana Visi Indonesia Emas 2045.

    Pertama adalah transformasi data yang melakukan konvergensi dan integrasi pengelolaan sumber data kemiskinan ekstrem agar program perlinsos bisa diberikan secara tepat sasaran.

    Jadi, ujarnya, data selama ini relatif masih sangat banyak, dan kita sebenarnya mempunyai aset data cukup kaya.

    “Namun, dalam hal ini, kita bersama-sama berupaya untuk bisa mengkonsistenkan seluruh pendataan tersebut, sehingga setidaknya data itu bisa mempunyai informasi yang sama, akurat, dan juga bisa terkini dan konsisten terutama,” ujar dia.

    Baca: Penyaluran Bansos sering tidak tepat sasaran, data rakyat miskin harus dibenahi

    Kedua adalah pengembangan skema perlinsos yang lebih adaptif karena Indonesia sangat rentan terhadap bencana, khususnya akibat perubahan iklim.

    Maliki mngatakan, bencana akibat perubahan iklim disebut akan terus-menerus terjadi yang dengan sangat cepat mengubah nasib seseorang.

    Oleh karena itu, seluruh penduduk Indonesia harus dilindungi dan bisa beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, baik bencana seperti perubahan iklim maupun pandemi, melalui skema perlinsos adaptif.

    Ketiga, pemerintah juga dinyatakan telah menjalankan dan menyempurnakan program penyaluran bantuan sosial (bansos) nontunai.

    Baca: Ganjar-Mahfud gagas KTP Sakti untuk integrasi data

    Beberapa langkah penyempurnaan yang dilaksanakan yaitu digitalisasi bansos untuk memastikan penerima tepat sasaran dalam rangka memberdayakan masyarakat.

    Kemudian, inovasi skema pembiayaan seperti kolaborasi yang telah dilakukan antara Bappenas dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) guna mensinergikan pelbagai bantuan, khususnya dari filantropi keagamaan.

    Skema pembiayaan Perlinsos secara kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak lebih baik lagi terhadap penduduk Indonesia.

    Salah satu upaya reformasi perlinsos selanjutnya adalah integrasi perencanaan, program, dan penganggaran pada kementerian/lembaga yang terkait kemiskinan ekstrem di tingkat pusat maupun daerah.

    Baca: Antisipasi perubahan iklim, perlindungan hukum bagi masyarakat menjadi penting

    Langkah ini juga termasuk monitoring dan evaluasi secara berkala guna melihat efektivitas implementasi program.

    ”Dengan paradigma baru,  upaya pencapaian sasaran kemiskinan mendekati 0 persen menjadi bagian integral dari agenda dan misi transformasi sosial menuju transformasi Indonesia.

    ”Tiga arah pembangunan utama di dalam agenda transformasi sosial ini telah ditetapkan dalam satu nafas pembangunan, yaitu kesehatan untuk semua, kemudian pendidikan berkualitas, dan juga pelindungan sosial yang adaptif,” ujar Maliki.

    Sumber: Antaranews.com

  • Mempertahankan Produksi Kopi Indonesia di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

    Mempertahankan Produksi Kopi Indonesia di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

    foto: coofeeland

    7cloud.asia – Kopi saat ini menjadi komoditas unggulan perkebunan yang menjadi sumber pendapatan petani, menghasilkan devisa serta dapat berkontribusi bagi pembangunan negara.

    Tahun 2023, Indonesia menempati urutan ketiga produsen kopi dunia di bawah Brasil dan Vietnam.

    Dari data statistik, pada 2023 produksi kopi Indonesia meningkat 1,43% dibandingkan dengan tahun 2022. Sebanyak 75% kopi yang dihasilkan Indonesia, berasal dari daerah dataran rendah di Sumatra Selatan dan Pulau Jawa.

    Namun demikian, produksi kopi bukan tanpa tantangan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberlanjutan produksi kopi Indonesia.   

    Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari mengatakan, banyaknya faktor yang mempengaruhi produksi kopi merupakan tantangan tersendiri bagi para periset, baik periset BRIN maupun di luar BRIN (Universitas, Swasta, BUMN).

    ”Varietas unggul baru kopi diharapkan mampu berproduksi tinggi dengan cita rasa excellent, beradaptasi terhadap lingkungan abiotik terutama adanya el nino dan la nina yang berdampak pada produksi pertanian,” ujarnya saat memberikan sambutan webinar “Sharing Session” pada acara EstCrops_Corner #2, Rabu (20/3/2024) yang diikuti secara virtual.

    Baca: Petani kopi kehiangan produksi akibat perubahan iklim

    “Kita diharapkan dapat menyelesaikan masalah pertanian terutama tanaman kopi, agar kebutuhan varietas unggul kopi meningkat menyesuaikan kebutuhan dan minat para stakeholder dalam membangun komoditas perkebunan,” jelasnya.

    Ia mnambahkan, dari sejarah keberadaan kopi Arabika dan Robusta yang sudah ada sejak zaman kolonial belanda, dan disusul liberika, semuanya membutuhkan sentuhan teknologi.

    ”Tidak hanya berbasis konvensional namun juga pendekatan bioteknologi, yang berdampak tidak hanya untuk pemanfaatan, tetapi juga science riset untuk intelektual,” tambah Puji.

    Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, OR Pertanian dan Pangan, BRIN Setiari Marwanto menjelaskan bahwa Industri kopi di Indonesia telah berkontribusi besar terhadap perolehan devisa negara.

    Permintaan dalam negeri terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup. Industri kopi telah berhasil menyediakan lapangan pekerjaan dengan jumlah yang signifikan dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

    ”Tren positif ini perlu diiringi perbaikan industri kopi secara menyeluruh baik di level on farm maupun out farm, sehingga industri ini bisa eksis tumbuh secara berkelanjutan,” kata Setiari.

    Baca: Kisah sukses petani pisang Kalimantan

    Ia melajutkan, hal ini tidak mudah, banyak sekali tantangan industri kopi, mulai dari produktivitas yang belum optimal, penggunaan benih yang tidak terspesifikasi sebagai benih unggul, budidaya yang belum sepenuhnya benar

    ”Juga kendala ketersediaan pupuk, dan ketersediaan lahan hingga fenomena perubahan iklim,” terangnya.

    Menurutnya masih banyak yang perlu diperbaiki, baik di pertaniannya maupun di luar pertanian agar produktivitas dan kualitas biji kopi juga meningkat, salah satunya adalah aspek pemuliaan.

    Narasumber pertama Dani, Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan – BRIN membawakan hasil penelitiannya dengan judul paparan “Persilangan Buatan Antara Spesies Kopi Robusta dan Arabika,”.

    Ia mengatakan bahwa dampak perubahan iklim, kenaikan suhu global memberikan dampak yang serius, terutama kopi arabika karena ternyata suhu tinggi memicu perkembangan bunga abnormal atau star flower.

    Baca: Beralih bertanam ubi cilembu petani di Magelang meraup untung berlipat. 

    Hal ini tentunya akan berdampak pada rendahnya produksi kopi karena sebagian besar bunga yang terbentuk tidak berhasil membentuk buah dan biji, namun fenomena ini tidak terlihat pada kerabat diploidnya, yaitu kopi robusta dan liberika.

    “Kami kemudian mencoba untuk menginterograsikan sifat toleran terhadap suhu tinggi dari kopi robusta ke kopi arabika melalui persilangan antar spesies,” ungkapnya.

    Persilangan spesies kopi robusta dan arabika secara teoritis dapat dilakukan secara reciprocal menempatkan kopi arabika sebagai tetua betina, maupun sebagai tetua jantan meskipun dinilai lebih berhasil adalah kombinasi arabika dan robusta.

    Namun demikian ada satu laporan yang menyatakan bahwa di India pernah dilakukan persilangan reciprocal yaitu menyilangkan kopi robusta sebagai tetua betina dan kopi arabika sebagai tetua jantan.

    Ia juga mengatakan bahwa hambatan persilangan antara spesies kopi robusta dan arabika tergolong kuat namun tidak lengkap, hambatan pra-zigotik berkurang karena terdapat irisan periode antesis antar spesies.

    Baca: Petani melon di Pasaman sukses terapan smart farming

    Juga ada hambatan pasca-zigotik awal dalam bentuk kerontokan buah muda dan kegagalan endosperma tinggi, terakhir hambatan pasca-zigotik lanjut dalam bentuk triploid block tidak lengkap karena sekaligus diperoleh tipe ploidi diploid dan tetraploid.

    Narasumber kedua Meynarti Sari Dewi Ibrahim, Peneliti dari Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan – BRIN dengan materi “Pemanfaatan Teknologi Kultur Jaringan dalam Percepatan Perakitan Varietas Unggul Baru Kopi”,

    Dia memaparkan ada beberapa peran yang dapat dimainkan oleh kultur jaringan untuk dapat mempercepat perakitan varietas unggul baru kopi dibandingkan dengan konvensional.

    “Pertama adalah memperbanyak benih unggul kopi atau disebut perbanyakan in vitro. Kedua, menghasilkan tanaman kopi galur murni dengan menggunakan kultur antera. Ketiga, membantu proses transformasi genetik pada tanaman kopi.

    Keempat, meningkatkan keragaman genetik tanaman kopi yang terkenal dengan mutasi pada kultur in vitro.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi telah rusak

    Kelima, menyeleksi kultur kopi terhadap sifat yang diinginkan yang kita kenal dengan seleksi in vitro. Keenam, menyelamatkan embrio atau kultur embrio.

    Ketujuh, menyimpan koleksi plasma nutfah kopi atau konservasi in vitro. Kedelapan, mendapatkan hibrida somatik dengan fusi protoplas.

    Terakhir peranan lainnya yang masih berhubungan dengan perakitan VUB,” paparnya.

    “Teknologi kultur in vitro dapat digunakan mempercepat pembentukan VUB kopi, caranya adalah dengan meningkatkan keragaman genetik menggunakan mutasi, transformasi genetik

    Juga bisa dilakukan genom editing, fusi protoplas, kultur anter, seleksi in vitro, perbanyakan benih secara in vitro dan konservasi in vitro,” pungkas Meynarti.

    Narasumber terakhir Surip Mawardi, Pemulia Kopi dari Ladang Langit Coffee Farm, Hutan Pargompulan, Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, memaparkan materi berjudul “Status Riset, Peluang dan Tantangan Pemuliaan Tanaman Kopi”.

    Dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh moderator Rubiyo, peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN.

  • Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    7cloud.asia – Para ahli memperingatkan kenaikan suhu terkait dengan perubahan iklim menyebabkan lebih banyak penyakit yang ditularkan oleh hewan dan penyakit musiman yang lebih lama seperti halnya flu.

    Ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Adnan Menderes di Aydin, Turki, Emine Didem Evci Kiraz, Jumat (5/4/2024), mengatakan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan berbagai risiko yang berdampak pada kesehatan.

    Risiko penyakit akibat perubahan iklim tersebut di antaranya dari efek radiasi ultraviolet matahari, perubahan penyakit terkait kualitas makanan dan air.

    Selain itu juga mincul perantara penyakit menular dan penularannya, penyakit yang berasal dari hewan, dan masalah kesehatan mental.

    Kiraz juga menyoroti potensi munculnya penyakit baru, dan menekankan kerentanan kesehatan umat manusia terhadap perubahan iklim.

    Baca: Perubahan iklim ancam pariwisata dunia

    Kiraz mengatakan suhu tubuh rata-rata manusia berkisar antara 36,1-37,8 derajat Celsius, dengan mekanisme seperti berkeringat dan perpindahan panas untuk mempertahankannya.

    Peningkatan suhu memberikan tekanan pada jantung dan pembuluh darah, menyebabkan hilangnya cairan pada jaringan dan sel, serta memengaruhi fungsi ginjal, katanya.

     

    Kiraz memperingatkan keadaan darurat seperti penurunan tekanan darah dan pingsan mendadak karena panas, dan menekankan potensi perkembangan sindrom metabolik dan gangguan keseimbangan organ saat stres.

    Ia menambahkan, kehilangan panas dan cairan dalam waktu lama dapat membuat seseorang tidak bisa bergerak dan menyebabkan kematian. Sementara, gelombang panas yang tiba-tiba juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, kekerasan, dan perilaku tidak aman.

    Kiraz menyoroti bahwa suhu sekitar 37 derajat Celsius memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri secara cepat, sehingga tubuh lebih rentan terhadap kondisi yang tidak higienis dan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air.

    Baca: Pemanasan global menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Peristiwa yang disebabkan oleh perubahan iklim seperti banjir dan pemadaman listrik, dapat memperburuk penyakit yang disebabkan oleh air dan makanan, serta meningkatkan kasus keracunan makanan.

    Pada hewan yang menularkan penyakit dan infeksi baru akibat perubahan iklim, Kiraz menyebutkan peningkatan penyakit seperti arbovirus, demam berdarah, demam Chikungunya, dan demam berdarah Krimea-Kongo.

    Kiraz menekankan pentingnya untuk tidak mengabaikan dampak perubahan iklim terhadap penyakit seperti alergi dan asma.

    Ia menyebutkan kejadian polusi udara, banjir, kebakaran hutan, dan badai debu dapat mengubah struktur serbuk sari serta meningkatkan faktor penyebab penyakit.

    Hal itu meningkatkan frekuensi penyakit seperti asma, rinosinusitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan infeksi saluran pernapasan akibat musim serbuk sari yang berkepanjangan. (Antaranews/Anadolu)

    Baca: Kelompok rentan justru ditinggalkan dalam aksi iklim

  • Separuh Populasi Global Terancam Krisis Air, Berikut 7 Langkah Global untuk Mengatasinya

    Separuh Populasi Global Terancam Krisis Air, Berikut 7 Langkah Global untuk Mengatasinya

    7cloud.asia – Hari Air Sedunia 2024 yang diperingati pada tanggal 22 Maret menyoroti krisis air global.

    Krisis air global ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim, rusaknya lingkungan hingga kebocoran dalam proses distribusi.

    Berikut adalah tujuh hal yang dapat dilakukan oleh negara dan individu untuk mencegah krisis air global, sebagaimana dikutip dari unep.org.

    Baca: Separuh-populasi-dunia-terancam-krisis-air

    1. Memulihkan ruang alami

    Ekosistem yang menyediakan air bersih bagit manusia kini semakin berkurang. Lahan basah, lahan gambut, kawasan hutan, danau, sungai, dan sumber air tanah menjadi korban perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan polusi.

    Ruang-ruang alam ini perlu segera dilindungi dan ruang-ruang yang telah terdegradasi harus dihidupkan kembali melalui restorasi besar-besaran.

    Negara-negara di dunia harus mengembangkan target-target yang spesifik dan terukur untuk upaya ini perubahan, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghindari kekeringan dan penggurunan.

    Pekerjaan ini sangat penting untuk mengamankan pasokan air bagi kota-kota, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan air.

    Baca: Mengenal-subak-tata-kelola-air-berkelanjutan-di-Bali

    2. Hemat air, terutama untuk bercocok tanam

    Pertanian menyumbang sekitar 70 persen dari seluruh air bersih yang digunakan secara global.

    Mengadopsi metode produksi pangan yang hemat air, seperti hidroponik, irigasi tetes, dan agroforestri, dapat membantu meningkatkan cadangan air.

    Langkah lain yang juga bermanfaat: mendorong masyarakat untuk beralih ke pola makan nabati, yang umumnya membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan daging.

    Daging sapi, misalnya, dianggap memiliki salah satu jejak air terbesar, karena membutuhkan 15.000 liter air untuk menghasilkan satu kilo daging.

    Baca: Cinta-Laura-akan-kampanyekan-konservasi-air-bersih

    3. Mengatasi kebocoran air
    Menjadi efisien juga berarti mengurangi jumlah air yang hilang karena kebocoran melalui infrastruktur kota dan pipa bangunan.

    Tidak ada data global mengenai jumlah air yang hilang melalui cara ini, namun angka nasional menunjukkan bahwa jumlah totalnya sangat besar.

    Di Amerika Serikat saja, kebocoran rumah tangga terjadi. membuang hampir 1 triliun galon air per tahun.

    Baca: World-Water-Forum: air-bersih-adalah-hak-asasi-manusia

    4. Memanfaatkan sumber air yang tidak konvensional
    Ketika pasokan air danau, sungai, dan akuifer berkurang, negara-negara harus mengambil tindakan kreatif.

    Hal ini berarti memanfaatkan sumber daya air yang kurang dihargai, misalnya dengan mengolah dan menggunakan kembali air limbah.

    Masyarakat dunia dapat mulai memanen air hujan, yang melibatkan pengumpulan dan penyimpanan air untuk digunakan pada musim kemarau.

    Desalinasi air asin juga merupakan pilihan di beberapa tempat jika dilakukan secara berkelanjutan.

    Namun, desalinasi ini sering kali menyebabkan pembuangan air garam beracun ke laut dan peningkatan emisi gas rumah kaca dari energi yang dibutuhkan untuk bahan bakar proses tersebut.

    5. Lacak kualitas air

    Seringkali air berlimpah namun terlalu tercemar untuk digunakan sebagai minum, manufaktur, atau rekreasi.

    Mengukur kualitas air dapat membantu pembuat kebijakan memprioritaskan tindakan untuk membersihkan sumber air. Evaluasi ini dapat dilengkapi dengan data satelit, kecerdasan buatan, dan bahkan ilmu pengetahuan warga

    Penjelajah Ekosistem Air Tawar memberikan data kualitas air kepada pengambil keputusan, membantu mendorong tindakan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem air tawar.

    Baca: KLHK-sebut-kualitas-air-Indonesia-meningkat-di-tahun-2023

    6. Menggabungkan pengelolaan air dengan kebijakan perubahan iklim

    Perubahan iklim mempengaruhi pola curah hujan, habitat perairan, dan ketersediaan air berkualitas baik.

    Pada saat yang sama, lahan gambut dan gudang karbon berair lainnya mengalami degradasi, sehingga menyebabkan lonjakan emisi yang menyebabkan pemanasan global dan memperparah perubahan iklim

    Dunia harus menekankan perlindungan dan pemulihan penyerap karbon. Mereka juga harus menyelaraskan strategi pengelolaan air dengan kebijakan mereka untuk membatasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    7. Menerapkan pendekatan terpadu dalam pengambilan keputusan

    Keputusan mengenai air tidak bisa diambil begitu saja. Air merupakan komponen kunci dalam segala hal, mulai dari pembangkit listrik, industri manufaktur, hingga pertanian.

    Pendekatan terpadu dapat membantu negara-negara mengadopsi respons yang koheren terhadap tantangan terkait air sambil memaksimalkan hal-hal seperti produksi pangan dan pembangkitan energi.

    Sumber:unep.org

     
     
  • BMKG Perkirakan Permukaan Laut Indonesia Naik 1,2 Centimeter Per Tahun Sebagai Dampak Perubahan Iklim

    BMKG Perkirakan Permukaan Laut Indonesia Naik 1,2 Centimeter Per Tahun Sebagai Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan permukaan laut di Indonesia mengalami kenaikan 0,8-1,2 centimeter (cm) per tahun karena dampak perubahan iklim.

    Kenaikan permukaan laut ini harus menjadi perhatian serius karena berdampak kepada hilangnya beberapa pulau kecil di wilayah Indonesia atau daerah kota di pesisir,”

    Naiknya permukaan laut ini disampaikan Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Klimatologi Pusat Litbang BMKG Donaldi Permana dalam seminar virtual terkait iklim berkelanjutan di Denpasar, Bali, Kamis (18/4/2024).

    Dalam pemaparannya, Donaldi juga menyebutkan situasi secara nasional yang terdampak akibat perubahan iklim, yakni meningkatnya suhu 0,45 hingga 0,75 derajat celcius.

    Selain itu, diperkirakan 5,8 juta kilometer persegi wilayah perairan Indonesia berbahaya kepada kapal nelayan khususnya yang berukuran kurang dari 10 gross tonage (GT).

     

    Kemudian, sebanyak 18 ribu kilometer garis pantai diperkirakan masuk kategori rentan akibat perubahan iklim itu dan perubahan curah hujan sekitar 75 milimeter per bulan.

    Sementara itu, suhu rata-rata global juga meningkat selama 10 tahun terakhir yakni 2014-2023 mencapai 1,20 plus minus 0,12 derajat celcius di atas periode tahun 1850-1900.

    Dia menjelaskan peningkatan suhu itu menyebabkan pemanasan global terutama akibat tingginya konsentrasi karbon dioksida karena masifnya penggunaan energi fosil seperti batubara dan minyak bumi.

    Selain itu, deforestasi yang salah satunya untuk pembukaan lahan karena dikaitkan dengan tingginya kebutuhan setelah pertumbuhan penduduk dunia.

    Suhu yang meningkat itu turut membuat pencairan es di kutub utara dan selatan yang mendorong kenaikan permukaan laut secara global mencapai sekitar 4,72 milimeter per tahun pada periode Januari 2013-Desember 2022.

    “Yang terdampak lebih awal kenaikan tinggi muka laut adalah negara di wilayah iklim tropis dibandingkan negara di belahan bumi utara dan selatan,” katanya.

    Untuk menekan pemanasan global itu ia mengungkapkan perlu dilakukan upaya mitigasi di antaranya dengan mengurangi penggunaan BBM fosil, beralih menggunakan energi bersih atau energi baru terbarukan.

    Selain itu, gerakan penghijauan, hemat penggunaan listrik, hingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

  • Hari Bumi: 5 Langkah Sederhana untuk Berperan dalam Menyelamatkan Lingkungan

    Hari Bumi: 5 Langkah Sederhana untuk Berperan dalam Menyelamatkan Lingkungan

    7cloud.asia– Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April menjadi sebuah pengingat bahwa ada banyak hal yang dapat kita lakukan, sebagai individu, untuk mengatasi krisis lingkungan.

    Setiap kali Hari Bumi diperingati kita diingatkan, bahwa lingkungan tempat kita tinggal menghadapi ancaman nyata yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta pencemaran baik air, tanah maupun udara.

    Selama puluhan tahun, umat ​​​​manusia memecahkan rekor mengenai pemanasan global yang berdampak nyata pada lingkungan sehingga menghasilkan ekosistem yang rapuh dan jauh dari lestari.

    Lebih dari 1 juta tumbuhan, hewan, dan makhluk hidup lainnya berisiko punah. Udara kotor oleh berbagai gas berbahaya, bahan kimia mengancam tanah, lautan, dan kesehatan kita.

    “Setiap tindakan, besar atau kecil, penting bagi Bumi dan kita bisa membalikkan kemerosotan bumi namun kita harus bersatu dan semua orang memainkan peran mereka.,” kata Wakil Direktur Divisi Ekosistem Program Lingkungan PBB, Bruno Pozzi. 

    Baca: Peringatan Hari Bumi 2024 serukan pengurangan plastik demi lingkungan

    UNEP telah mengembangkan perangkat untuk mengambil tindakan dalam mengantisipasi berbagai permasalahan lingkungan. Berikut adalah panduan untuk lima diantaranya:

    1. Menghidupkan kembali ekosistem 

    UNEP mencatat, secara global lebih dari 2 miliar hektar lahan terdegradasi. Semntara jumlah dan durasi kekeringan telah meningkat sebesar 29 persen sejak tahun 2000.

    Jika ingin menemukan solusi bagi permasalahan global ini adalah dengan fokus pada restorasi lahan, penggurunan dan ketahanan terhadap kekeringan.

    Buku Panduan Restorasi Ekosistem: Panduan Praktis untuk Menyembuhkan Bumi menjelaskan pendekatan-pendekatan untuk memulihkan delapan jenis ekosistem penting.

    Yaitu hutan, lahan pertanian, padang rumput dan sabana, sungai dan danau, lautan dan pantai, kota dan sabana. kota, lahan gambut, dan pegunungan.

    Dengan mengambil tindakan yang direkomendasikan ini, Anda dapat menjadi bagian dari #GenerationRestoration!

    Baca: Earth Hour, satu jam yang sangat bermakna untuk bumi

    2. Terus menyuarakan perubahan iklim

    Dunia berada dalam keadaan darurat iklim, sebuah “kode merah bagi kemanusiaan,” menurut Sekretaris Jenderal PBB.

    Jika emisi gas rumah kaca tidak turun drastis, pemanasan bisa melampaui 2,9°C pada abad ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat memaksa pemerintah dan dunia usaha untuk melakukan perubahan sistemik yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

    3. Kurangi sampah plastik global

    Meskipun plastik memiliki banyak kegunaan, kecanduan kita terhadap plastik sekali pakai bisa menjadi bencana bagi planet ini membutuhkan waktu ribuan, bahkan puluhan ribu tahun untuk terurai.

    Yang dapat dilakukan individu untuk membantu mengakhiri bencana lingkungan akibat sampah plastik termasuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak perlu, memilih untuk menggunakan kembali daripada membeli produk baru.

    Anda juga dapat mendukung merek yang mendesain ulang plastik dan mencoba untuk melakukan hal tersebut.

    Meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, dan meminta pemerintah untuk mengadopsi kebijakan ekonomi sirkular dan memperkuat sistem pengelolaan sampah.

    Baca: 17-langkah terapkan gaya hidup ramah lingkungan

    4. Mengusir udara kotor dari langit

    Lebih dari 99 persen populasi global menghirup udara yang tidak aman. Polusi udara adalah risiko kesehatan lingkungan terbesar saat ini, yang menyebabkan sekitar 7 juta kematian dini setiap tahunnya.

    Paparan udara kotor juga dapat menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, kanker paru-paru, dan penyakit jantung stroke dan penyakit lainnya.

    Polutan udara juga merusak lingkungan alami kita, mengurangi pasokan oksigen di lautan, mempersulit tanaman untuk tumbuh dan berkontribusi terhadap krisis iklim.

    Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru yang jatuh pada tanggal 7 September bertujuan untuk menyebarluaskannya kesadaran akan masalah ini.

    UNEP juga telah merilis panduan interaktif yang merinci langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mempromosikan udara yang lebih bersih.

    5. Menanam pohon dengan benar

    Pohon sangat menakjubkan karena dapat menangkap karbon dari atmosfer, melindungi dan menyuburkan tanah, menyediakan sumber kayu bakar dan kayu, serta melindungi banyak hewan, burung, dan serangga.

    Menanam pohon untuk memulihkan ekosistem dan melawan perubahan iklim, menjadi begitu populer.

    Namun hal ini tidak sesederhana kedengarannya. Misalnya, menanam pohon yang salah di tempat yang salah dapat merusak keanekaragaman hayati dan menimbulkan berbagai konsekuensi yang tidak diinginkan. 

    Sumber:UNEP.org