Tag: hamas

  • Trump Sebut Israel Sepakati Usulan Gencatan Senjata

    Trump Sebut Israel Sepakati Usulan Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang mengupayakan solusi yang mungkin baik untuk Gaza, beberapa jam setelah mengeluarkan apa yang disebutnya “peringatan terakhir” kepada Hamas.

    Trump menyampaikan komentar tersebut kepada wartawan pada hari Minggu (7/9/2025) setelah tiba di Washington, DC, setelah kunjungan singkat ke New York.

    “Kami sedang mengupayakan solusi yang mungkin sangat baik,” katanya, menggambarkan perang yang sedang berlangsung di Gaza. Trump menyebut penahanan puluhan warga Israel oleh Hamas sebagai “masalah yang sangat besar”.

    “Ini adalah masalah yang ingin kami selesaikan untuk Timur Tengah, untuk Israel, untuk semua orang. Tapi ini adalah masalah yang akan kami selesaikan,” katanya.

    “Anda akan segera mendengarnya. Kami berusaha untuk mengakhirinya, mendapatkan kembali para sandera,” tambahnya.

    Baca: Guru-Guru di Spanyol Desak Embargo Senjata pada Israel

    Sebelumnya pada hari Minggu, Trump mengatakan dirinya telah mengajukan proposal baru untuk mengakhiri perang di Gaza, dengan mengatakan bahwa Israel telah menerima persyaratannya.

    Trump kemudian memperingatkan Hamas untuk menerima persyaratannya, dengan mengatakan bahwa ia telah memberi tahu kelompok tersebut tentang “konsekuensi” penolakan tawaran tersebut.

    Selama perang 23 bulan, para pejabat AS telah berulang kali mengklaim bahwa Israel telah menerima upaya gencatan senjata, bahkan ketika para pemimpin Israel terus berjanji secara terbuka untuk mengintensifkan serangan mereka.

    Serangan Israel ini oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan cendekiawan terkemuka digambarkan sebagai genosida.

    “Semua orang ingin para sandera pulang. Semua orang ingin perang ini berakhir!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

    Baca: Anak Gaza Terancam Jadi “Generasi Hilang” Akibat Perang

    “Israel telah menerima persyaratan saya. Sudah saatnya Hamas juga menerima. Saya telah memperingatkan Hamas tentang konsekuensi jika tidak menerima. Ini peringatan terakhir saya, tidak akan ada peringatan lain!”

    Presiden AS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan lisan serupa kepada Hamas dan meramalkan bahwa perang akan segera berakhir.

    Terakhir kali, pada 25 Agustus, Trump mengatakan ia memperkirakan perang akan mencapai “akhir yang konklusif” dalam waktu tiga minggu.

    Belum ada komentar langsung dari Israel mengenai tawaran terbaru Trump ini.

    Namun, The Times of Israel, mengutip sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa pemerintah Israel “sedang mempertimbangkan secara serius” proposal tersebut.

    Sementara itu, kelompok perlawanan Hamas mengonfirmasi telah menerima “gagasan” dari AS untuk mengakhiri perang.

  • Hamas Desak Langkah Nyata Pasca Gelombang Pengakuan Palestina

    Hamas Desak Langkah Nyata Pasca Gelombang Pengakuan Palestina

    7cloud.asia – Pengakuan negara Palestina oleh sejumlah negara Eropa dinilai sebagai langkah penting untuk menambah tekanan terhadap Israel.

    Namun, langkah nyata tetap dibutuhkan untuk mengakhiri agresi militer Israel di Jalur Gaza, kata juru bicara Hamas di Lebanon, Walid Kilani, kepada RIA Novosti.

    “Pengakuan Eropa terhadap negara Palestina adalah langkah yang sangat penting, terutama dalam menekan (pemimpin otoritas Israel Benjamin) Netanyahu agar gagal menjalankan rencananya mengusir warga Palestina dari tanah mereka, khususnya di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta memindahkan mereka ke Sinai, Yordania, atau negara lain,” ujar Kilani.

    Ia menambahkan, pernyataan pengakuan tersebut harus diikuti dengan langkah nyata yang konsisten. Jika tidak, dorongan untuk mewujudkan negara Palestina hanya akan berhenti pada tataran moral.

    Baca: Makin banyak negara yang resmi mengakui negara Palestina

    Pada Minggu, Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal secara resmi mengakui negara Palestina.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa negaranya mengikuti langkah serupa pada pertemuan puncak di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada 22 September.

    Sementara Jerman mendukung pembentukan negara Palestina merdeka, tetapi menolak untuk mengakui kedaulatan negara itu saat ini.

    “[Pembentukan] Negara Palestina adalah tujuan kami. Kami mendukung solusi dua negara. Tidak ada jalan lain,” kata Menteri Luar Negeri Johann Wadephul di Berlin menjelang kehadirannya di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York.

    Baca: Deklarasi New York dukung solusi dua negara Palestina dan Israel

    “Namun, hal ini harus dicapai melalui perundingan. Tidak ada yang boleh memaksakan diri ‘menembus tembok’ pada saat ini,” katanya, menambahkan.

    Dalam rangka memperingati 80 tahun berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengatakan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa “sedang diserang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Kehancuran Gaza.

    Beserta perang di Sudan dan Ukraina, Guterres menyebut perang Gaza menyebut menjadi bukti mendesaknya kebutuhan akan persatuan negara-negara di seluruh dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA-AlJazeera

  • Hamas Setujui Usulan Trump, Tapi Menolak Serahkan Senjata

    Hamas Setujui Usulan Trump, Tapi Menolak Serahkan Senjata

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menyetujui usulan Presiden AS Donald Trump soal gencatan senjata di Jalur Gaza. Namun kesepakatan Hamas itu tidak mencakup penyerahan senjata.

    Juru bicara Hamas di Lebanon, Walid Kilani, mengatakan pada Sabtu (4/10/2025) bahwa penyerahan senjata hanya mungkin dilakukan setelah berdirinya negara Palestina yang berdaulat dan memiliki tentara nasional.

    Dia menegaskan bahwa Hamas tidak pernah mempertimbangkan untuk menyerahkan senjatanya dan tidak pernah mengaitkan hal itu dengan persetujuannya pada syarat-syarat perjanjian.

    “Sikap kami jelas dan tegas: selama pendudukan berlanjut, perlawanan akan terus ada. Penyerahan senjata hanya mungkin dilakukan setelah negara Palestina yang berdaulat berdiri dengan kewenangan penuh dan tentara nasional yang mampu melindungi rakyat Palestina,” kata Kilani.

    Baca: Trump usulkan 20 poin penyelesaian konflik Gaza

    Dia menambahkan, poin utama usulan Presiden Trump tetaplah gencatan senjata di Jalur Gaza, sementara Hamas bersedia membahas syarat-syarat lainnya.

    “Fokus utama gerakan ini adalah gencatan senjata, sementara soal lain bisa dibicarakan dan disepakati. Karena itu, kesepakatan gencatan senjata juga mencakup klausul yang melarang pengusiran warga Palestina dari tanah mereka,” kata Kilani.

    Soal siapa yang memerintah Jalur Gaza, kata dia, harus diputuskan oleh seluruh bangsa Palestina, bukan hanya Hamas.

    “Kesepakatan atas poin-poin tertentu dari rencana Washington hanya dicapai selama sesuai dengan tuntutan dan aspirasi rakyat Palestina, tanpa menyentuh prinsip lain — khususnya isu perlucutan senjata dan kendali atas Jalur Gaza, karena keputusan itu adalah milik seluruh rakyat Palestina, bukan hanya Hamas,” katanya.

    Baca: 142 Anggota PBB dukung Palestina merdeka

    Sementara, tentara Israel mengabaikan desakan Trump untuk segera menghentikan serangan ke Gaza setelah kelompok perlawanan Hamas menyatakan setuju untuk membebaskan sandera Israel seperti yang dia usulkan.

    Serangan Israel menewaskan lima warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan, dan melukai lainnya dalam serangan di Jalur Gaza pada Sabtu (4/10/2025).

    Dalam seruannya, Trump mengatakan dia percaya kelompok Hamas “siap untuk perdamaian abadi.”

    Sumber-sumber medis dan saksi mata mengatakan meski ada desakan Trump, pasukan Israel masih menyerang dua rumah di Kota Gaza dan kamp pengungsi Nuseirat yang menewaskan lima orang dan melukai beberapa lainnya.

    Serangan udara dan darat pasukan Israel juga berlanjut di seluruh Kota Gaza dan Khan Younis di wilayah selatan.

    Sumber: Antaranews.com/Spuntik-RIA Novosti-OANA-Anadolu

  • Kelompok Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang di Gaza

    Kelompok Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang di Gaza

    7cloud.asia – Pemimpin Hamas Khalil al-Hayya, dalam pernyataan pada Selasa (7/10/2025) meminta “jaminan nyata” Israel yang memastikan berakhirnya perang di Jalur Gaza.

    “Kami menegaskan kesiapan kami mencapai (kesepakatan) untuk mengakhiri perang, menarik pasukan Israel dari Gaza, dan membebaskan semua tawanan Israel – baik yang hidup maupun yang mati – dengan imbalan tahanan Palestina sesuai rencana (Presiden AS Donald) Trump,” ujar al-Hayya kepada saluran berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News.

    “Namun, Israel masih terus membunuh dan memblokade bantuan, terutama di Gaza utara, sejak kami mengumumkan persetujuan kami atas rencana Trump.”

    Pemimpin Hamas itu menekankan bahwa Israel pertama kali melanggar kesepakatan gencatan senjata pada November 2023 dan melanjutkan perang.

    “Israel tidak pernah menepati janjinya sepanjang sejarah,” katanya.

    Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi tolak serahkan senjata

    “Kami telah menguji pemerintahan pendudukan dan tidak mempercayainya sedetik pun,” kata al-Hayya, seraya meminta “jaminan nyata” dari komunitas internasional, Presiden Trump, dan negara-negara yang mendukung perundingan.

    Ia menekankan bahwa Hamas berupaya mencapai “tujuan dan aspirasi rakyat Palestina untuk stabilitas, kebebasan, kenegaraan, dan penentuan nasib sendiri.”

    “Perang harus diakhiri selamanya agar rakyat Palestina dapat hidup dalam stabilitas seperti bangsa-bangsa lain di kawasan ini.”

    Hamas dan Israel telah mengadakan perundingan tidak langsung hari kedua di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, di Laut Merah, pada Selasa guna mencapai gencatan senjata dan pertukaran tahanan di bawah rencana Trump untuk Gaza.

    Baca: Trump umumkan 20 poin penyelesaian konflik Gaza

    Pada 29 September, Trump mengumumkan proposal 20 poin yang mencakup pembebasan semua tawanan Israel dengan imbalan tahanan Palestina, gencatan senjata, perlucutan senjata Hamas, dan pembangunan kembali Gaza.

    Hamas pada prinsipnya menyetujui rencana Trump tersebut, tetapi menolak penyerahan senjata hingga berdirinya negara Palestina yang berdaulat dan memiliki tentara nasional.

    Agresi militer Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Pengeboman yang tak henti-hentinya telah membuat daerah kantong Palestina itu hampir tak berpenghuni dan menyebabkan pengungsian massal, kelaparan, dan penyebaran penyakit.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, Kamis (9/10/2025) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dengan Israel akan ditentukan oleh para mediator.

    “Hamas telah mencapai formula kesepakatan gencatan senjata, dan para mediator akan memutuskan kapan kesepakatan itu mulai berlaku,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan yang dimuat di situs resmi kelompok tersebut.

    Kesepakatan itu diumumkan pada Kamis dini hari setelah empat hari perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Turki, Mesir, Qatar, serta Amerika Serikat (AS).

    Belum ada tanggapan langsung dari para mediator terkait pernyataan tersebut.

    “Seperti biasa, pihak pendudukan (Israel) berupaya memanipulasi jadwal, daftar, dan prosedur yang telah disepakati untuk membuat pemimpin otoritas Benjamin Netanyahu tampak seolah-olah mengendalikan situasi,” ujar Qassem.

    Baca: Kelompok Hamas tuntut jaminan Israel untuk akhiri perang di Gaza

    Ia menambahkan bahwa Hamas terus berkomunikasi dengan para mediator guna memastikan Israel mematuhi kesepakatan dan tidak diberi kesempatan untuk menunda pelaksanaannya.

    “Ada pembicaraan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada pukul 12.00 siang ini, namun pihak pendudukan menunda pengumumannya karena alasan internal,” katanya.

    Hamas juga mengatakan akan membutuhkan waktu setidaknya 10 hari untuk menemukan jenazah sandera Israel yang telah meninggal, lapor The Wall Street Journal, Kamis (9/10/2025) mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

    Pada Rabu (8/10/2025), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani fase pertama perjanjian damai Gaza, yang menyepakati bahwa Hamas setuju untuk membebaskan sandera Israel dan Israel akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza.

    Pada saat yang sama, pejabat Israel meyakini bahwa sulit bagi Hamas untuk menemukan seluruh jenazah sandera yang tersisa dan prosesnya kemungkinan bisa memakan waktu lebih dari 10 hari.

    Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi menolak letakkan senjata

    Adapun pembicaraan tidak langsung antara delegasi Hamas dan Israel yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Turki telah berlangsung di Mesir sejak Senin (6/10/2025).

    Pada 29 September, Trump mengumumkan rencana 20 poin untuk menyelesaikan konflik Gaza. Rencana tersebut di antaranya menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

    Rencana itu turut menetapkan bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya harus melepaskan keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza, yang nantinya akan dipercayakan kepada “komite teknokrat dan non -politik Palestina” yang diawasi oleh dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.

    Pada 3 Oktober, Hamas menyatakan telah setuju untuk menyerahkan pemerintahan Jalur Gaza kepada komite Palestina berdasarkan konsensus nasional.

    Hamas juga menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah yang sudah meninggal sesuai rencana Trump.

    Hamas juga akan berpartisipasi dalam diskusi mengenai masa depan Jalur Gaza dalam kerangka struktur lintas-Palestina.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Pasukan Israel Mulai Ditarik Mundur dari Gaza

    Pasukan Israel Mulai Ditarik Mundur dari Gaza

    7cloud.asia – Israel mulai menarik pasukannya secara bertahap dari Jalur Gaza, Palestina, pada Jumat (10/10/2025) dan akan mundur sepenuhnya dalam 24 jam ke lokasi yang telah disepakati

    Mengutip media setempat, penarikan pasukan Israel tersebut adalah bagian dari rencana yang diusulkan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza yang dikepung oleh Israel tersebut.

    “Dalam 24 jam ke depan, tentara Israel akan menyelesaikan penarikan pasukannya dari beberapa wilayah di Jalur Gaza sampai ke garis kuning, seperti yang disepakati dalam rencana Trump antara Israel dan Hamas,” Channel 12 melaporkan.

    Stasiun televisi Israel itu menyebutkan bahwa pasukan diperkirakan akan mundur ke arah timur dari Rafah dan Khan Younis di selatan serta dari wilayah utara Gaza sampai mendekati perbatasan dengan Israel.

    Baca: Hamas sebut tim mediator tentukan pelaksanaan gencatan senjata di Gaza

    Pada Kamis (9/10/2025) pagi, Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok perlawanan Palestina Hamas telah mencapai kesepakatan mengenai tahap pertama rencana gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

    Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan tidak langsung antara kedua pihak yang bertikai di Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan partisipasi delegasi dari Turki, Mesir, dan Qatar, di bawah pengawasan AS.

    Sejak Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak,

    Serangan Israel ke Gaza juga membuat wilayah kantung Palestina rusak parah sehingga tidak layak huni.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Hamas Sebut Palestina Tak Butuh Pasukan Asing Kecuali untuk Menghadang Militer Israel

    Hamas Sebut Palestina Tak Butuh Pasukan Asing Kecuali untuk Menghadang Militer Israel

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menyatakan pihaknya mampu menjaga keamanan wilayahnya sendiri.

    Dalam pernyataan kepada RIA Novosti, Selasa (21/10/2025), kepala departemen hubungan internasional Gerakan Palestina Hamas, Mousa Abu Marzouk mengatakan pasukan asing hanya diperlukan untuk melindungi rakyat Palestina dari Israel.

    “Kami, rakyat Palestina, memiliki kemampuan untuk mengamankan keamanan kami sendiri. Sejak awal perjanjian, pasukan penegak hukum Jalur Gaza telah mulai mengejar para provokator kerusuhan dan menjaga keamanan di Jalur Gaza,” demikian pernyataan Marzouk ketika ditanya tentang kemungkinan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional di Gaza.

    Ia menyebutkan bahwa fokus seharusnya diarahkan pada pembentukan pasukan internasional yang bertugas melindungi rakyat Palestina dari tindakan militer Israel.

    “Kami akan mendukung solusi apa pun yang menjamin perlindungan rakyat kami,” tambah Marzouk.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata di Gaza tercapai

    Marzouk mengatakan Hamas memiliki seluruh sarana yang diperlukan untuk menjaga keamanan internal.

    Ia menilai keberadaan militer Israel di Jalur Gaza merupakan hambatan utama bagi stabilitas di wilayah tersebut.

    “Akar penyebab ketidakstabilan di Jalur Gaza adalah tentara Israel, dan penarikan penuhnya dari wilayah kantong tersebut sangat penting untuk menstabilkan situasi di Jalur Gaza dan memastikan keamanan yang berkelanjutan,” ujarnya.

    Sebelumnya pada Minggu (19/10/2025), pasukan Israel menuduh Hamas menembakkan rudal anti-tank dan menembaki tentaranya di Jalur Gaza selatan, yang mereka sebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

    Militer Israel kemudian melancarkan serangan terhadap puluhan target Hamas di wilayah itu.

    Baca: Pasukan Israel mulai ditarik mundur dari Gaza

    Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza mulai diberlakukan pada 10 Oktober lalu.

    Pada 13 Oktober, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata Gaza.

    Hamas membebaskan 20 sandera yang masih hidup yang ditahan sejak 7 Oktober 2023, sementara pihak Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza dan 250 tahanan Palestina yang menjalani hukuman jangka panjang.

    Saat ini, Hamas sedang mengembalikan jenazah para sandera yang meninggal selama penahanan ke Israel.

    Berdasarkan perjanjian tersebut, Palestina berkewajiban untuk mengembalikan 28 jenazah yang tersisa. Sebanyak 12 jenazah telah diserahkan dan diidentifikasi sejauh ini.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina, Hamas, mengecam resolusi terkait pemulihan Gaza yang disahkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) baru-baru ini.

    Dalam pernyataannya, Hamas menyebut Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut tidak sesuai dengan kehendak ataupun tuntutan rakyat Palestina.

    “Resolusi tersebut tidak menjawab tuntutan dan hak politik maupun kemanusiaan rakyat Palestina, khususnya mereka yang berada di Jalur Gaza,” kata pernyataan Hamas pada Senin (17/11/2025).

    “Resolusi ini memberlakukan mekanisme perwalian internasional di Jalur Gaza, sesuatu yang ditolak oleh rakyat kami maupun faksi-faksi mereka,” menurut organisasi Palestina tersebut.

    Baca: Otoritas Palestina desak komunitas internasional tekan Israel percepat masuknya bantuan

    Diketahui, Dewan Keamanan PBB, Senin (17/11/2025) mengadopsi resolusi yang disponsori Amerika Serikat (AS) untuk membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilisation Force/ISF) di Jalur Gaza.

    Resolusi tersebut memberi dasar bagi pembentukan ISF yang akan beroperasi di Gaza melalui kerja sama dengan Israel dan Mesir, serta dengan mandat awal selama dua tahun.

    Pasukan tersebut bertugas mengamankan perbatasan Gaza, melindungi warga sipil, menyalurkan bantuan kemanusiaan, melatih kembali kepolisian Palestina, serta mengawasi proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.

    Sebanyak 13 negara anggota Dewan Keamanan PBB mendukung resolusi tersebut, sementara Rusia dan China menyatakan abstain.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Langgar Kesepakatan, Israel Kembali Lancarkan Serangan di Jalur Gaza Hingga 22 Orang Tewas

    Langgar Kesepakatan, Israel Kembali Lancarkan Serangan di Jalur Gaza Hingga 22 Orang Tewas

    7cloud.asia – Pertahanan Sipil Gaza pada Sabtu (22/11/2025) mengatakan bahwa Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Jalur Gaza, menyebabkan setidaknya 22 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka di wilayah kantong tersebut.

    Menurut Mahmoud Bassal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, korban tewas termasuk seorang komandan dari Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas.

    Seorang sumber Hamas, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan kepada Xinhua bahwa gerakan tersebut menyampaikan “kemarahan” mereka kepada tim mediator regional atas serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza

    Padahal kelompok Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya mematuhi perjanjian gencatan senjata.

    Baca: Serangan Israel ke Palestina Berlanjut Pasca Gencatan Senjata

    Sumber tersebut menambahkan bahwa Hamas mendesak para mediator untuk segera mengintervensi guna mencegah runtuhnya kesepakatan yang diinginkan Israel.

    Dia menekankan bahwa gerakan Hamas dan faksi-faksi lain tetap berkomitmen pada gencatan senjata meskipun terjadi eskalasi.

    Sumber itu juga memperingatkan bahwa pembunuhan terus-menerus yang dilakukan oleh Israel terhadap warga di Gaza yang sering disebut sebagai wilayah kantong tersebut.

    Dia menggambarkan sebagai “tekanan lambat” dari Amerika Serikat (AS) terhadap Israel untuk menahan aksinya, dapat mendorong situasi menuju potensi kekacauan.

    Baca: Israel Tolak Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza

    Tentara Israel melancarkan serangan besar-besaran di beberapa area di Jalur Gaza pada Sabtu sore waktu setempat, yang menyebabkan banyak korban, menurut sumber medis setempat.

    Sejak gencatan senjata di Gaza berlaku pada Oktober, serangan Israel telah menewaskan 318 orang dan melukai 788 lainnya, sehingga total korban tewas sejak 7 Oktober 2023 menjadi 69.733 orang.

    Adapun jumlah korban luka menjadi 170.863 orang, menurut otoritas kesehatan di Gaza.

    (Antaranews/Xinhua)

  • Faksi-faksi di Palestina dan Hamas Bertemu untuk Bahas Gencatan Senjata

    Faksi-faksi di Palestina dan Hamas Bertemu untuk Bahas Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Kelompok Perlawanan Palestina, Hamas pada Sabtu (6/6/2026) mengumumkan dimulainya serangkaian pertemuan di Kairo, Mesir untuk membahas implementasi perjanjian gencatan senjata serta masa depan Jalur Gaza.

    Pertemuan yang dihadiri berbagai faksi Palestina dan para mediator itu diharapkan menghasilkan kesepakatan yang membawa perbaikan untuk masa depan Palestina.

    Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan kepada reporter bahwa pertemuan itu bertujuan menuntaskan berbagai kesepakatan yang telah dicapai pada gencatan senjata fase pertama.

    Hal ini termasuk penghentian “agresi dan eskalasi Israel, tindak pembunuhan, pembukaan kembali perlintasan, serta mengizinkan masuknya Komite Nasional.”

    Baca: Hamas Tegaskan Tidak Akan Mundur Sampai Berdirinya Negara Palestina Merdeka

    Menurut Qassem, pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada pencarian pendekatan yang rasional dan dapat diterima oleh semua pihak mengenai pelaksanaan gencatan senjata fase kedua.

    Hal ini, baik yang melibatkan masuknya pasukan internasional maupun komite teknokratik Gaza ke wilayah kantong tersebut ataupun penanganan masalah senjata Palestina.

    Dia menegaskan bahwa Hamas mengutamakan kepentingan rakyat Palestina dan berupaya “menghilangkan segala dalih bagi Israel untuk melanjutkan perang di Jalur Gaza.”

    Delegasi Hamas yang diketuai oleh pemimpinnya di Gaza, Khalil al-Hayya, bersama perwakilan dari sejumlah faksi Palestina lainnya, tiba di Kairo pada Jumat (5/6/2026) untuk menghadiri pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari.

    Baca: Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata

    Perkembangan itu terjadi di tengah melemahnya gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan Israel yang disepakati pada Oktober 2025.

    Namun ketentuan-ketentuan utama dalam gencatan senjata tersebut, termasuk pelucutan senjata dan pembangunan kembali hingga kini belum dilaksanakan.

    Fase pertama gencatan senjata mencakup pertukaran tahanan dan tawanan, masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza serta penarikan pasukan Israel dari sejumlah wilayah.

    Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Januari lalu telah mengumumkan dimulainya fase kedua gencatan senjata.

    Tahap tersebut meliputi penarikan penuh militer Israel, pelucutan senjata Hamas, pelaksanaan pembangunan kembali serta pembentukan badan pemerintahan transisi di Jalur Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua