Foto: Kompascom
7cloud.asia – Protes terhadap langkah politik Presiden Jokowi terus mluas. Menyusul petisi dari sivitas akademika puluhan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, kini mahasiswa mulai turun ke jalan.
Sekelompok mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta, pada Rabu (7/2/2024) menggelar aksi di dekat Istana Negara, Jakarta Pusat.
Sebelumnya para mahasiswa melakukan longmarch dari Tugu Reformasi menuju Harmoni, Jakarta Pusat.
Dalam orasinya, mahasiswa mengkritik politik dinasti yang dipraktikkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Baca: Mahasiswa turun ke jalan tolak politik dinasti dan capres pelanggar HAM
Mereka menolak kecurangan di Pemilu 2024 dan menuntut pemakzulan presiden Jokowi, karena dinilai sudah melenceng dari cita-cita reformasi.
Selain berorasi massa sempat mencopot alat peraga kampanye dan membakar ban di lampu merah Jalan Harmoni.
Usai berorasi mahasiswa membubarkan diri dengan tertib pada malam harinya.
Mereka mengatakan aksi merupakan aksi awal, dan akan ada aksi susulan sebagai respon atas sikap Istana soal petisi sivitas akademika sejumlah perguruan tinggi.
Baca: Sivitas akademika dari 60 kampus ingatkan Jokowi
Sebelumnya, Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Rafly Rayhan Al Khajri dikutip detikjatim.com mengatakan bahwa mahasiswa sedang melakukan konsolidasi untuk menggelar aksi Reformasi jilid II
Langkah ini diambil menyusul sikap Istana Negara mengenai pernyataan sikap dan kritik akademisi sejumlah kampus negeri di Indonesia terhadap Presiden Jokowi agar bertindak sesuai demokrasi.
Seperti diketahui, Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana menganggap fenomena kritik dari akademisi adalah hal yang wajar jelang pemilu 2024. Ia juga menyinggung soal strategi politik partisan.
Menanggapi pernyataan Ari, Rafly menilai bahwa pernyataan itu seperti suara sumbang dan pembiaran.
Baca: Bahaya dan dampak politik dinasti
Ia menilai Istana berusaha menghindari framing bahwa Jokowi juga merupakan seorang partisan yang mendukung pasangan calon capres-cawapres tertentu.
Bahkan lebih buruk, Jokowi menggunakan alat negara dan kekuasaan untuk memenangkan pasangan yang didukungnya.
“Istana lupa kalau Jokowi juga partisan. Pernyataan itu tidak lebih dari sekedar upaya penyangkalan Istana terhadap demokrasi yang telah dirusak oleh Jokowi,” kata Rafly.




