Tag: bangunan

  • Prinsip Desain Ruang Berkinerja Tinggi sebagai Salah Satu Aspek Desain Biofilik

    Prinsip Desain Ruang Berkinerja Tinggi sebagai Salah Satu Aspek Desain Biofilik

    7cloud.asia – Prinsip desain ruang berkinerja tinggi menjadi salah satu aspek desain biofilik yang ramah lingkungan.

    Prinsip desain ruang berkinerja tinggi ini bertujuan untuk menciptakan bangunan berketahanan dan hemat energi yang bermanfaat bagi lingkungan dan penghuninya.

    Langkah-langkah yang dilakukan, antara lain dengan menurunkan kandungan karbon, memaksimalkan efisiensi sumber daya, serta meningkatkan kualitas udara dalam ruangan yang dapat mendukung tujuan ekologi dan kesehatan manusia.

    Prinsip desain ruang berkinerja tinggi berupaya mewujudkan bangunan yang rendah emisi sekaligus rendah jejak karbonnya.

    Desain rendah emisi menargetkan arsitektur yang inovatif dan berkelanjutan. Hal ini mendorong bangunan yang menyeimbangkan energi yang dikonsumsi dengan energi terbarukan yang dihasilkan.

    Baca: Atap hijau penuh tumbuhan makin diminati karena bagus untuk lingkungan

    Sebagian besar tujuan rendah emisi ini berfokus pada pengurangan kandungan karbon, termasuk jejak karbon tersembunyi yang terkait dengan produksi dan pengangkutan material bangunan dalam proses konstruksi.

    Penggunaan material ramah lingkungan seperti baja daur ulang atau beton rendah karbon menjadi poin utama, karena menciptakan bangunan dengan kandungan karbon yang lebih rendah dan siklus hidup yang lebih lama dan efisien.

    Hal ini penting karena hampir 40 persen jejak karbon di Amerika Serikat, tempat penulis tinggal, berasal dari konsumsi listrik saja.

    Menggabungkan pilihan material yang cerdas dengan elemen desain praktis akan menurunkan dampak bangunan terhadap lingkungan dan mendukung masa depan yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

    Transparansi Materi dan Penilaian Siklus Hidup
    Analisis siklus hidup yang lengkap membantu arsitek dan pengembang dalam membuat pilihan material yang bermanfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.

    Baca: Bangunan hijau menjadi solusi strategis untuk antisipasi pemanasan global

    Pendekatan ini mempertimbangkan keseluruhan perjalanan material, mulai dari produksi dan transportasi hingga penggunaan dan pembuangan, guna memastikan dampak lingkungan yang rendah di setiap tahapannya.

    Deklarasi Produk Lingkungan (EPD) sangat penting dalam proses ini karena memberikan data yang transparan dan terstandarisasi mengenai jejak karbon, konsumsi energi, dan emisi suatu material.

    Dengan EPD, desainer dapat membuat pilihan berdasarkan informasi yang selaras dengan tujuan keberlanjutan. Mereka dapat memilih material yang mendukung efisiensi dan ramah lingkungan bangunan dari awal hingga akhir.

    Dengan berfokus pada analisis siklus hidup penuh dan EPD, perancang dapat mengurangi emisi dan menyiapkan proyek yang bertanggung jawab terhadap lingkungan selama beberapa dekade.

    Baca: Desain biofilik menghadirkan alam ke dalam bangunan

    Energi Operasional dan Energi Terwujud
    Untuk menciptakan bangunan ramah lingkungan, desain berkelanjutan harus memperhatikan penggunaan energi selama masa pakai bangunan beserta energi yang terkandung di dalamnya.

    Bangunan di AS menyumbang 75 persen dari total konsumsi listrik, hal ini menggarisbawahi perlunya memangkas operasional dan penggunaan energi untuk mencapai tujuan ekologis.

    Penggunaan selama masa pakai bangunan mencakup semua yang diperlukan untuk pengoperasian sehari-hari, mulai dari pemanasan dan pendinginan hingga penerangan dan peralatan.

    Strategi untuk menurunkan angka ini termasuk memasang sistem HVAC yang efisien, menggunakan lampu LED, dan memanfaatkan sumber terbarukan seperti tenaga surya.

    Memilih material berdampak rendah, seperti logam daur ulang atau beton rendah karbon, dapat mengurangi jejak lingkungan suatu bangunan sebelum ditinggali.

  • Bagaimana Sektor Konstruksi Menyumbang Sekaligus Menjadi Solusi Krisis Iklim

    Bagaimana Sektor Konstruksi Menyumbang Sekaligus Menjadi Solusi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Pada Maret 2024 lalu, untuk pertama kalinya digelar Forum Global Bangunan dan Iklim (Buildings and Climate Global Forum) di Chaillot, Paris, Prancis.

    Forum ini mempertemukan lebih dari 1.400 peserta di ibu kota Prancis, dan didedikasikan untuk dekarbonisasi dan ketahanan bangunan atasi krisis iklim.

    Forum ini diselenggarakan oleh Pemerintah Prancis dan Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/UNEP) ini melahirkan Deklarasi de Chaillot oleh perwakilan dari 70 negara.

    “Untuk pertama kalinya, 70 negara dari semua benua berkomitmen untuk membuat peta jalan operasional yang konkret dengan mekanisme pemantauan untuk mengatasi tantangan dekarbonisasi, ketahanan, dan transisi di sektor bangunan dan iklim,” kata Christophe Béchu, Wakil Presiden Senior Bidang Iklim dan Pembangunan Prancis.

    Dia melanjutkan, bersama dengan semua pemangku kepentingan dalam rantai nilai, mereka berjanji untuk memperkuat kerangka kerja, memobilisasi pendanaan, dan berbagi solusi dari seluruh dunia untuk melaksanakan Perjanjian Paris.

    Baca: Mesir sukses mengubah sampah plastik jadi bahan bangunan

    Sektor konstruksi, menurut Bechu, mencakup 21 persen dari emisi gas rumah kaca dan 55 persen kekayaan global. Karena itu pertemuan ini adalah momen penting bagi diplomasi dan aksi iklim.

    Deklarasi Chaillot adalah sebuah dokumen dasar untuk kerja sama internasional yang akan memungkinkan kemajuan menuju transisi sektor bangunan yang lebih cepat, adil, dan efektif.

    Menurut Laporan Status Global terbaru untuk Bangunan dan Konstruksi, yang dirilis oleh UNEP dan Aliansi Global untuk Bangunan dan Konstruksi (GlobalABC), di pekan yang sama, sektor konstruksi bangunan menyumbang lebih dari seperlima emisi gas rumah kaca global.

    Laporan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2022, sektor ini menyumbang 37 persen emisi CO2 global terkait proses dan operasionalnya.

    Dalam Deklarasi Chaillot, para menteri penandatangan mengingatkan bahwa dengan percepatan perubahan iklim, bangunan akan semakin terpapar risiko terkait iklim. Kondisi ini terutama terjadi dan memengaruhi kota-kota di negara berkembang.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

    Pada tahun 2050, diperkirakan 68 persen populasi dunia akan tinggal di daerah perkotaan, dan permintaan global terhadap bahan baku diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2060.

    Para menteri penandatangan Deklarasi de Chaillot menekankan masih kurangnya volume renovasi dan pembangunan bangunan berkelanjutan.

    Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara lintasan sektor ini dan tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah 1,5°C pada tahun 2100.

    Mereka juga mengecam investasi tidak berkelanjutan dalam sistem dan bangunan dengan intensitas karbon berlebihan dan eksploitasi berlebihan sumber daya alam untuk produksi material konstruksi.

    Semua ini berkontribusi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi atau penurunan kualitas lingkungan.

    Dalam menghadapi darurat iklim, transisi cepat sektor bangunan merupakan persyaratan langsung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris.

    Namun, penting untuk membangun transisi ini dengan semua pemangku kepentingan, dengan visi kerja sama dan koordinasi bersama, dengan mempertimbangkan kekhususan setiap negara.

  • Retrofit Jadi Cara Terbaik untuk Menurunkan Emisi Karbon pada Bangunan Lama

    Retrofit Jadi Cara Terbaik untuk Menurunkan Emisi Karbon pada Bangunan Lama

    7cloud.asia – Ketika membahas emisi karbon, rumah tempat kita tinggal, tempat berbelanja, makan, dan ruang untuk bersosialisasi seringkali tidak terlintas dalam pikiran.

    Padahal menurut World Green Building Council, sektor bangunan atau lingkungan binaan punya andil besar dalam emisi karbon yakni bertanggung jawab atas 39 persen emisi gas rumah kaca terkait energi global.

    Lingkungan binaan mengacu pada semua bangunan atau infrastruktur apa pun yang mendukung kehidupan manusia modern.

    Konstruksi ini seringkali bocor dan tidak mampu menahan panas secara efektif di musim dingin dan mendingin secara alami di musim panas, sehingga memaksa bangunan mengonsumsi lebih banyak energi untuk melakukannya.

    Untuk mengatasi kondisi ini, sejumlah pakar merekomendasikan prinsip retrofit pada bangunan tua. Hal ini ditulis di Earth.org.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

    Mungkin Anda bertanya-tanya, apa itu retrofit? Retrofit mengacu pada peningkatan apa pun pada bangunan yang sudah ada untuk meningkatkan konservasi energi dan efisiensi energinya.

    Pertanyaan selanjutnya mengapa retrofit jadi pilihan? Jawabannya, karena emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah. Jika Anda penasaran, 7cloud.asia akan mengulas tentang retrofit ini dalam beberapa tulisan.

    Menurut Forum Ekonomi Dunia, 80 persen dari seluruh perumahan yang akan kita tinggali pada tahun 2050 telah dibangun.

    Alih-alih merobohkan dan mengganti rumah, retrofit atau renovasi dinilai sebagai cara paling berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon dari sektor bangunan.

    Merobohkan sebuah bangunan menghasilkan rata-rata 4,67 kilogram setara karbon dioksida (CO2e) per meter persegi luas bangunan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi kota yang berkelanjutan

    Jumlah karbon yang dilepaskan untuk setiap 100 meter persegi yang dihancurkan sama dengan perjalanan pulang pergi dari London Heathrow ke Nice

    Ini menjadi bukti bahwa mengadaptasi apa yang kita miliki lebih berkelanjutan daripada merobohkan dan membangun kembali.

    Peta jalan menuju retrofit bukannya tanpa hambatan. Namun, minat global telah meningkat selama lima tahun terakhir. Emisi gas rumah kaca dari lingkungan binaan menjadikannya sektor yang perlu segera ditangani.

    Seiring bertambahnya populasi global, kita perlu membangun lebih banyak rumah dan bangunan untuk mendukung kehidupan kita.

    Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warganya. Ini lebih dari sekadar solusi energi, melainkan keharusan bagi iklim, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

    Adapun manfaat retrofit atau renovasi dapat dibedakan menjadi tiga tahap yakni konservasi energi, efisiensi energi serta manajemen energi dan sumber energi. Seperti apa penjelasannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Emisi karbon dari sektor konstruksi berhasil ditekan

  • Tiga Tingkatan Penerapan Retrofit untuk Turunkan Emisi Karbon dari Bangunan Lama

    Tiga Tingkatan Penerapan Retrofit untuk Turunkan Emisi Karbon dari Bangunan Lama

      

    7cloud.asia – Emisi karbon yang dihasilkan rumah tempat kita tinggal, tempat kita berbelanja atau makan, serta ruang untuk bersosialisasi harus mulai dimasukkan dalam pembahasan penurunan emisi

    Pasalnya, menurut World Green Building Council, sektor bangunan punya andil besar dalam emisi karbon yakni bertanggung jawab atas 39 persen emisi gas rumah kaca terkait energi global.

    Menurut Forum Ekonomi Dunia, 80 persen dari seluruh perumahan yang akan kita tinggali pada tahun 2050 saat ini telah terbangun. 

    Dilansir earth.org, alih-alih merobohkan dan mengganti rumah, retrofit atau renovasi dinilai sebagai cara paling berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon dari sektor bangunan.

    Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warganya. Ini lebih dari sekadar solusi energi, melainkan keharusan yang harus dilakukan untuk melindungi ekonomi dan kesehatan masyarakat dari dampak krisis iklim.

    Langkah-langkah retrofit dapat dibagi menjadi tiga tingkatan.

    Tingkatan 1: Konservasi Energi
    Tingkatan pertama berfokus pada pengurangan jumlah energi yang dibutuhkan dalam bangunan.

    Langkah-langkah tersebut meliputi pemasangan lampu LED dan peredam angin, pemeliharaan sistem suhu yang tepat, dan penggunaan meter pintar untuk memeriksa konsumsi energi.

    Sebagai langkah pertama retrofit, tindakan-tindakan ini dapat membantu menghemat uang dan mengurangi konsumsi energi. Tahap 1 ini melibatkan intervensi yang lebih kecil.

    Baca: Retrofit jadi cara terbaik untuk turunkan emisi karbon pada bangunan lama

    Tingkatan 2: Efisiensi Energi
    Tahapan ini memerlukan peningkatan struktural pada struktur bangunan. Ini bertujuan untuk mengurangi kehilangan panas, meningkatkan insulasi, dan kemampuan bangunan untuk mendinginkan.

    Peningkatan ini biasanya membutuhkan investasi di muka tetapi menawarkan penghematan energi dan finansial jangka panjang. Langkah-langkah tersebut meliputi insulasi loteng, insulasi dinding rongga, pemasangan pompa panas, dan kaca sekunder.

    Tingkat 3: Sumber dan Manajemen Energi
    Tingkat ketiga berfokus pada sumber energi dan manajemen energi yang lebih luas. Ini dapat mencakup penyediaan daya untuk gedung dengan sumber karbon yang lebih rendah.

    Juga penerapan sistem pemanas dan pendingin distrik, dan penggunaan perangkat lunak untuk mengelola permintaan energi gedung.

    Perangkat lunak manajemen gedung dapat mengurangi permintaan energi gedung. Perangkat lunak ini melakukannya dengan mengatur pencahayaan, ventilasi, pemanas, dan pendingin udara.

    ‘Kebutuhan Ekonomi’
    Kebutuhan akan retrofit menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama di negara-negara maju. Eropa memiliki stok perumahan tertua di dunia.

    Sebuah laporan oleh BRE menemukan bahwa seperlima (22,3 persen) dari stok perumahan Eropa dibangun sebelum tahun 1946 – angka ini meningkat menjadi 37,8 persen di Inggris.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

    Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Forum Ekonomi Dunia, retrofit bukan hanya langkah keberlanjutan; ini adalah kebutuhan ekonomi. Retrofit berpotensi mengurangi permintaan energi global sebesar 12 persen.

    Selain itu, retrofit menciptakan 3,2 juta lapangan kerja baru per tahun dan meningkatkan produktivitas karyawan hingga 7.500 dolar per orang per tahun.

    Retrofit juga dapat memberikan manfaat kesehatan seperti penurunan angka kematian akibat polutan, kematian akibat panas, dan penyakit peredaran darah.

    Namun, implementasi retrofit juga menghadapai hambatan substansial. Di tingkat negara, hambatan ini berupa kebijakan yang tidak memadai dan ambisi yang selaras dengan retrofit.

    Hambatan bagi pemilik rumah dan penyewa individu meliputi biaya awal yang tinggi, mekanisme pengembalian jangka panjang, dan kurangnya pilihan yang terjangkau.

    Ada juga masalah yang lebih luas, yaitu kurangnya tenaga kerja terampil. Material konstruksi rendah karbon, misalnya, tidak mudah diakses maupun murah. Terakhir, banyak yang tidak menyadari manfaat retrofit bagi keuangan dan kesehatan mereka.

    Bagaimana negara-negara di dunia mendorong penerapan retrofit dan mengatasi hambatan yang dihadapi, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

  • Bagaimana Negara-negara di Dunia Mendorong Praktik Retrofit untuk Menurunkan Emisi dari Sektor Bangunan

    Bagaimana Negara-negara di Dunia Mendorong Praktik Retrofit untuk Menurunkan Emisi dari Sektor Bangunan

    7cloud.asia – Retrofit disebut-sebut sebagai cara efektif untuk menurukan emisi karbon dari sektor bangunan Bahkan, Forum Ekonomi Dunia menyebut, retrofit bukan hanya langkah keberlanjutan; ini adalah kebutuhan ekonomi. Retrofit berpotensi mengurangi permintaan energi global sebesar 12 persen.

    Selain itu, retrofit menciptakan 3,2 juta lapangan kerja baru per tahun dan meningkatkan produktivitas karyawan hingga 7.500 dolar per orang per tahun.

    Retrofit juga dapat memberikan manfaat kesehatan seperti penurunan angka kematian akibat polutan, kematian akibat panas, dan penyakit peredaran darah.

    Namun, implementasi retrofit juga menghadapai hambatan substansial. Di tingkat negara, hambatan ini berupa kebijakan yang tidak memadai dan ambisi yang selaras dengan retrofit.

    Hambatan bagi pemilik rumah dan penyewa individu meliputi biaya awal yang tinggi, mekanisme pengembalian jangka panjang, dan kurangnya pilihan yang terjangkau.

    Ada juga masalah yang lebih luas, yaitu kurangnya tenaga kerja terampil. Material konstruksi rendah karbon, misalnya, tidak mudah diakses maupun murah. Terakhir, banyak yang tidak menyadari manfaat retrofit bagi keuangan dan kesehatan mereka.

    Lantas, bagaimana negara-negara di dunia mendorong penerapan retrofit dan mengatasi hambatan yang dihadapi?

    Di Asia, tantangan retrofit bangunan telah diakui dalam beberapa inisiatif, seperti Peta Jalan Transisi Energi Nasional Malaysia (2023) dan Skema Insentif Green Mark Singapura untuk Bangunan yang Ada 2.0 (2022).

    Baca: Retrofit, cara efektif menurunkan emisi karbon pada bangunan lama

    Sementara itu, China menerapkan Dana Insentif untuk Pembangunan Bangunan Hijau pada tahun 2023, yang berupaya meningkatkan konservasi energi, baik bangunan publik maupun swasta.

    Sebanyak 75 persen bangunan di Uni Eropa memiliki kinerja energi yang buruk. Arahan Kinerja Energi Bangunan yang Direvisi Uni Eropa (2024) bertujuan untuk mengubah hal ini melalui peningkatan renovasi bangunan-bangunan dengan kinerja terburuk di setiap negara.

    Implementasi arahan ini menjadi undang-undang nasional pada tahun 2026 diperkirakan akan mengurangi konsumsi energi sebesar 11,7 persen di seluruh blok, sekaligus menurunkan tagihan energi dan memungkinkan kondisi hidup yang lebih sehat.

    Kanada mengumumkan investasi sebesar 2 miliar dolar Kanada untuk renovasi bangunan skala besar pada tahun 2020. Investasi ini didukung oleh Inisiatif Renovasi Bangunan yang didanai oleh Bank Infrastruktur Kanada.

    Pada tahun 2023, Kolombia menerbitkan Peta Jalan Nasional untuk Bangunan Nol Karbon Bersih. Ini mencakup tujuan untuk penggunaan audit energi secara luas pada tahun 2040 untuk memimpin proses renovasi.

    Inisiatif global ini menunjukkan bagaimana negara-negara dapat menyesuaikan strategi renovasi dengan konteks mereka sendiri.

    Saat ini, tidak ada satu negara pun di dunia yang memenuhi tingkat renovasi atau retrofit bangunan sebesar 2,5 persen setiap tahun untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2030.

    Pada tahun 2022, skema Superbonus 110 persen yang dipromosikan oleh pemerintah Italia menawarkan kredit pajak hingga 110 persen untuk biaya renovasi dan perlindungan gempa rumah, sehingga proyek renovasi layak secara finansial bagi banyak orang.

    Baca: Tiga tingkatan retrofit untuk menurunkan emisi karbon

    Skema ini telah menyetujui lebih dari 122.000 aplikasi dan menghabiskan 21 miliar euro serta menciptakan 410.000 lapangan kerja baru di industri konstruksi.

    Pada tahun 2025, Tampines di Singapura menjadi pusat kota pertama yang direnovasi dengan sistem pendingin distrik terdistribusi yang berkelanjutan.

    Di sini, sistem tertutup memungkinkan air dingin didistribusikan ke masing-masing bangunan dari instalasi pusat melalui jaringan pipa. Setelah air digunakan, air tersebut dikembalikan dan didinginkan, sebelum didistribusikan kembali.

    Sistem ini seringkali lebih hemat energi daripada sistem pemanas dan pendingin bangunan individual, lebih hemat biaya, dan memiliki manfaat lain seperti peningkatan kualitas udara.

    Emisi karbon di Tampines diperkirakan akan berkurang 1.000 ton sebagai hasilnya – setara dengan menghilangkan 910 mobil dari jalan raya. Penghematan energi ini diperkirakan setara dengan pasokan listrik yang cukup untuk 710 apartemen per tahun.

    Peta jalan untuk retrofit bukannya tanpa hambatan. Namun, minat global telah meningkat selama lima tahun terakhir. Emisi gas rumah kaca dari lingkungan binaan menjadikannya sektor yang sangat perlu ditangani.

    Seiring bertambahnya populasi global, kita perlu membangun lebih banyak rumah dan bangunan untuk mendukung kehidupan kita. Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warga negara.

    Retrofit lebih dari sekadar solusi energi, ini adalah keharusan bagi iklim, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

  • CKTRP Jakpus Hentikan Pembangunan Rumah Enam Lantai

    CKTRP Jakpus Hentikan Pembangunan Rumah Enam Lantai

    7cloud.asia – Suku Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Jakarta Pusat, Rabu (17/9/2025), menjatuhkan sanksi penghentian kegiatan pembangunan rumah enam lantai di Gambir dan Menteng yang melanggar perizinan.

    Kedua bangunan yang melanggar perizinan berlokasi di Jalan Phb Petojo Selatan RT 15 / RW 05 Petojo Utara, Gambir dan Jalan Raden Saleh II RT 01/RW 03, Cikini, Menteng. .

    Sudin CKTRP Jakarta Pusat telah memasang segel dan police line pada dua bangunan yang melanggar perizinan bangunan gedung (PBG) tersebut.

    “Lokasi bangunan berada di zonasi pemukiman R1 dengan maksimal izin empat lantai, Namun, pemilik secara sengaja membangun sebanyak enam lantai. Ini masuk kategori pelanggaran berat,” kata Koordinator Penindakan Sudin CKTRP Jakarta Pusat, Budi Gunawan.

    Baca: Dinilai salahi aturan Kawasan Cagar Budaya, dua restoran di Melawai disoal warga

    Ditambahkan Budi, pihaknya memberikan sanksi penghentian kegiatan pembangunan lantai 5 dan 6. Sementara, aktivitas di lantai 1 hingga lantai 4 dapat dilanjutkan sesuai izin yang telah dikantongi pemilik.

    “Kami sudah meminta agar pekerja tidak melanjutkan proses pembangunan lantai lima dan enam dan tidak mencabut spanduk segel yang telah dipasang karena akan dikenakan sanksi pidana,’ ungkapnya.

    Ditegaskan Budi, pihaknya akan melayangkan Surat Perintah Bongkar kepada pemilik bangunan dalam kurun waktu dua pekan ke depan.

    Baca: Peta Jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

    Jika surat perintah ini masih diabaikan, Sudin CTRP akan mengerahkan petugas membongkar bangunan yang melanggar perizinan.

    Sementara Ketua RT 15/RW 05 Petojo Utara, Tony, mengapresiasi sanksi tegas yang telah dikenakan kepada pemilik bangunan yang melanggar perizinan.

    “Semoga pelanggaran bangunan lantai lima dan enam segera dibongkar. Ini sudah melanggar aturan dan tidak boleh dibiarkan,” tandasnya.

    Baca: Penerapan retrofit untuk turunkan emisi karbon dari bangunan lama

  • Bangunan Pesantren Roboh, 3 Orang Meninggal dan 91 Lainnya Masih Terjebak dalam Reruntuhan

    Bangunan Pesantren Roboh, 3 Orang Meninggal dan 91 Lainnya Masih Terjebak dalam Reruntuhan

    7cloud.asia – Tim gabungan terus melakukan upaya evakuasi terhadap korban insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khozyni, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

    Berdasarkan data absensi santri, sebanyak 91 orang diduga masih terjebak dalam timbunan material bangunan hingga Selasa (30/9/2025) malam. Sementara sebanyak 100 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.

    Dari jumlah tersebut, 26 orang masih menjalani perawatan inap, 70 orang telah diperbolehkan pulang, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan satu pasien dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto.

    Sejumlah fasilitas kesehatan menjadi rujukan utama untuk penanganan korban, di antaranya RSUD RT Notopuro, RS Siti Hajjar, RS Delta Surya, RS Sheila Medika dan RS Unair.

    Adapun rinciannya meliputi RSUD RT Notopuro merawat 40 pasien dengan delapan pasien rawat inap dan dua meninggal dunia. RS Siti Hajjar menangani 52 pasien dengan 11 pasien rawat inap, satu meninggal dunia dan satu pasien dirujuk.

    Baca: Kolam penampungan air di Gontor 5 Magelang rubuh, 4 santri meninggal

    Berikutnya RS Delta Surya merawat enam pasien rawat inap, RS Sheila Medika menangani satu pasien yang telah diperbolehkan pulang, sedangkan RS Unair merawat satu pasien rawat inap.

    Sebanyak 332 personel SAR gabungan dari BASARNAS, BPBD Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, dan BPBD dari kabupaten sekitar telah dikerahkan dengan metode kerja bergantian untuk menjaga ketahanan tim.

    Peralatan berat juga telah disiagakan, namun penggunaannya sementara belum dapat dilakukan karena dikhawatirkan getaran dapat memperparah kondisi reruntuhan.

    Upaya penyelamatan saat ini difokuskan secara manual dengan menggali lubang dan celah untuk mengevakuasi korban yang masih hidup. Tim SAR gabungan mendeteksi adanya indikasi enam orang korban yang masih bertahan di salah satu segmen reruntuhan.

    Melalui celah yang ada, petugas telah menyalurkan makanan dan minuman untuk menjaga kondisi para korban.

    Baca: Mushola roboh saat peringatan Maulid, 3 orang meninggal

    Sementara itu, proses evakuasi juga menunggu asesmen dari pihak berwenang di bawah komando Basarnas.

    Jika hasil asesmen menyatakan tidak ada lagi korban yang masih hidup, tahapan selanjutnya akan dilakukan dengan menggunakan alat berat untuk mengevakuasi korban meninggal dunia yang masih tertimbun.

    Di sisi lain, tim tengah merumuskan langkah teknis bersama ahli konstruksi untuk membersihkan puing pada jalur evakuasi secara aman tanpa memicu reruntuhan susulan.
    Dugaan kejadian ini dipicu oleh kesalahan konstruksi bangunan.