Bagaimana Sektor Konstruksi Menyumbang Sekaligus Menjadi Solusi Krisis Iklim

Written by

in

7cloud.asia – Pada Maret 2024 lalu, untuk pertama kalinya digelar Forum Global Bangunan dan Iklim (Buildings and Climate Global Forum) di Chaillot, Paris, Prancis.

Forum ini mempertemukan lebih dari 1.400 peserta di ibu kota Prancis, dan didedikasikan untuk dekarbonisasi dan ketahanan bangunan atasi krisis iklim.

Forum ini diselenggarakan oleh Pemerintah Prancis dan Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/UNEP) ini melahirkan Deklarasi de Chaillot oleh perwakilan dari 70 negara.

“Untuk pertama kalinya, 70 negara dari semua benua berkomitmen untuk membuat peta jalan operasional yang konkret dengan mekanisme pemantauan untuk mengatasi tantangan dekarbonisasi, ketahanan, dan transisi di sektor bangunan dan iklim,” kata Christophe Béchu, Wakil Presiden Senior Bidang Iklim dan Pembangunan Prancis.

Dia melanjutkan, bersama dengan semua pemangku kepentingan dalam rantai nilai, mereka berjanji untuk memperkuat kerangka kerja, memobilisasi pendanaan, dan berbagi solusi dari seluruh dunia untuk melaksanakan Perjanjian Paris.

Baca: Mesir sukses mengubah sampah plastik jadi bahan bangunan

Sektor konstruksi, menurut Bechu, mencakup 21 persen dari emisi gas rumah kaca dan 55 persen kekayaan global. Karena itu pertemuan ini adalah momen penting bagi diplomasi dan aksi iklim.

Deklarasi Chaillot adalah sebuah dokumen dasar untuk kerja sama internasional yang akan memungkinkan kemajuan menuju transisi sektor bangunan yang lebih cepat, adil, dan efektif.

Menurut Laporan Status Global terbaru untuk Bangunan dan Konstruksi, yang dirilis oleh UNEP dan Aliansi Global untuk Bangunan dan Konstruksi (GlobalABC), di pekan yang sama, sektor konstruksi bangunan menyumbang lebih dari seperlima emisi gas rumah kaca global.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2022, sektor ini menyumbang 37 persen emisi CO2 global terkait proses dan operasionalnya.

Dalam Deklarasi Chaillot, para menteri penandatangan mengingatkan bahwa dengan percepatan perubahan iklim, bangunan akan semakin terpapar risiko terkait iklim. Kondisi ini terutama terjadi dan memengaruhi kota-kota di negara berkembang.

Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

Pada tahun 2050, diperkirakan 68 persen populasi dunia akan tinggal di daerah perkotaan, dan permintaan global terhadap bahan baku diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2060.

Para menteri penandatangan Deklarasi de Chaillot menekankan masih kurangnya volume renovasi dan pembangunan bangunan berkelanjutan.

Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara lintasan sektor ini dan tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah 1,5°C pada tahun 2100.

Mereka juga mengecam investasi tidak berkelanjutan dalam sistem dan bangunan dengan intensitas karbon berlebihan dan eksploitasi berlebihan sumber daya alam untuk produksi material konstruksi.

Semua ini berkontribusi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi atau penurunan kualitas lingkungan.

Dalam menghadapi darurat iklim, transisi cepat sektor bangunan merupakan persyaratan langsung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris.

Namun, penting untuk membangun transisi ini dengan semua pemangku kepentingan, dengan visi kerja sama dan koordinasi bersama, dengan mempertimbangkan kekhususan setiap negara.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *