Tag: banjir sumatera

  • YLBHI Dorong Presiden Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    YLBHI Dorong Presiden Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    7cloud.asia – Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera (Banjir Sumatera) telah menimbulkan dampak yang sangat serius.

    Berdasarkan laporan dari jaringan LBH–YLBHI di lapangan, masih banyak wilayah yang terisolir, korban belum terdata secara menyeluruh, akses bantuan terbatas, serta situasi sosial-ekonomi masyarakat semakin memburuk. Di sejumlah daerah yang terdampak mulai terjadi penjarahan.

    Untuk mencegah hal ini memburuk, LBH–YLBHI se-Sumatera dalam konferensi pers pada Minggu (30/11/2025) mendorong pemerintah segera menetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional.

    Pemerintah pusat juga diminta segera mengambil langkah-langkah mendesak yang dibutuhkan untuk membantu para korban banjir Sumatera.

    Melalui penetapan bencana nasional, penanganan di wilayah yang terdampak dan koordinasi lintas sektor berjalan lebih optimal. Selain itu, pemerintah juga diminta mengevakuasi wilayah yang terisolasi dengan mengerahkan alat-alat evakuasi yang memadai.

    Edy Kurniawan dari YLBHI mengatakan, ada indikasi kuat banjir besar yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh YLBHI dipicu oleh tata kelola hutan yang buruk oleh pemerintah pusat.

    Kementerian Kehutanan, ujarnya telah gagal menjalankan amanat konstitusi untuk memanfaatkan sumber daya hutan yang berlimpah di Sumatera untuk menyejahterakan masyarakat setempat.

    Sebaliknya, Kemenhut telah mengobral izin eksplorasi hutan kepada pemilik modal yang memicu deforestasi yang selanjutnya memicu banjir besar yang dampaknya dirasakan ratusan ribu warga di tiga provinsi di Sumatera bagian utara ini.

    Baca: Kepala BNPB pimpin penanganan banjir Sumatera dari Sibolangit

    “Pemerintah pusat harus bertanggung jawab atas banjir Sumatera ini,“ dalam jumpa pers pada Minggu (30/11/2025) yang dipantau secara daring.

    Dalam kesempatan sama, Aulianda Wafisa dari LBH Banda Aceh menegaskan, status Bencana Nasional dibutuhkan, karena kondisi di lapangan memang sudah mengkhawatirkan.

    Banyak jembatan putus baik di jalur barat maupun timur. Infrastruktur komunikasi dan listrik juga belum berfungsi optimal.

    Dia mengatakan, sampai hari ini masih terjadi pemadaman listrik, sambungan telepon dan internet masih terputus di sejumlah daerahh, sementara pasokan bahan makanan dan BBM mulai langka.

    “Sejumlah kepala daerah juga sudah mengisyaratkan mereka tidak sanggup menangani dampak bencana banjir besar ini,“ ujarnya.

    Adapun korban meninggal di Aceh mencapai 47 orang, 51 orang hilang dan ribuan orang lainnya harus mengungsi.

    Sementara Irvan dari LBH Medan mengatakan 14 kabupaten/kota di Sumatera Utara yang terdampak banjir, paling parah terjadi di Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Sibolga.

    Hingga hari ini, tercatat 166 meninggal akibat banjir di berbagai daerah di Sumatera Utara, 143 hilang dan lebih 300.000 terdampak banjir. Warga yang mengungsi sangat membutuhkan bantuan makanan, obat-obatan dan pakaian sehari-hari

    Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    Listrik masih putus, sehingga komunikasi juga terhambat. Terputusnya jalur transportasi mengakibatkan kelangkaan BBM, sembako dan sebagainya.

    “Sudah sepantasnya pemerintah menetapkan status Bencana Nasional, apalagi di beberapa daerah mulai terjadi penjarahan karena masyarakat kesulitan mendapatkan sembako,“ ujarnya.

    Banjir dan longsor ini, menurut Irvan, tidak lepas dari kerusakan ekosistem di Batang Toru akibat deforestasi.

    Mengutip data WALHI, dia menyebut ada tujuh perusahaan yang diduga kuat sebagai pemicu deforestasi yang mengakibatkan gundulnya hutan di kawasan penyangga ekologis Batang Toru tersebut.

    Hal senada diungkapkan, Diki Rafiqi dari LBH Padang. Dia melihat persoalan banjir ini sudah menahun dan sudah bisa diprediksi. LBH Padang, ujarnya, pernah mengingatkan pada 2023 ada persoalan lingkungan, baik daya dukung dan daya tampung.

    “Ada persoalan di mana daya dukung lingkungan yang sudah melampaui batas. Tidak mungkin pemerintah daerah menangani, baik dari intensitas kerusakan infrastruktur dan jumlah korban,“ ujarnya

    Adapun jumlah korban meninggal di Sumatera Barat mencapai 90 orang, 85 orang lainnya hilang dan masih dalam pencarian, dan lebih dari 11.000 orang mengungsi di berbagai tempat pengungsian.

    Namun, Diqi belum melihat adanya respon serius dari pemerintah pusat atas banjir besar di wilayah utara Pulau Sumatera ini.

    Dia meminta respon yang jelas dari pemerintah, bukan hanya soal tanggap darurat tapi juga penanganan pasca bencana. Diqi menegaskan, ini sangat urgent dan perlu dukungan dari pemerintah pusat.

    Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa pemerintah masih mengkaji penetapan status bencana nasional atas banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera.

    Meski demikian, dia memastikan bahwa penyaluran bantuan dan pemantauan terus berlanjut. Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah bergerak cepat menyalurkan bantuan bagi para korban.

    “Kami terus monitor dan kirim bantuan terus, nanti kami menilai kondisinya. Bantuannya akan kami kirim terus-menerus,” ujarnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Banjir Sumatera hingga Para Perempuan Pahlawan Nasional

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Banjir Sumatera hingga Para Perempuan Pahlawan Nasional

    7cloud.asia – Artikel mengenai banjir Sumatera menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel mengenai kondisi di Sumatera Utara yang menjadi daerah pling terdampak banjir yang dipicu badai Senyar tersebut.

    Perempuan yang diangkat menjadi pahlawan nasional juga kembali masuk daftar berita terpopuler pekan ini.

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Banjir Sumatera adalah kegagalan Negara
    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menyebut banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten/kota di wilayah itu bukan semata bencana alam akibat hujan ekstrem yang dipicu badai tropis Senyar.

    Seperti diberitakan, sejak Selasa (25/11/2025), sedikitnya 8 kabupaten/kota di Sumatera Utara terdampak banjir bandang dan longsor, dengan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah sebagai wilayah paling parah.

    Puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian rusak tersapu banjir. Hingga kini, tercatat 51 desa di 42 kecamatan terdampak, dengan banjir melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, dan sekolah.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Banjir Sumatera telah ratusan korban meninggal
    Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sejak 25 November lalu, telah menelan lebih dari 100 korban jiwa.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Jumat (28/11/2025) sore mengungkapkan korban meninggal Terbanyak ada di wilayah Sumatera Utara.

    Korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara mencapai 116 orang dan 42 orang lainnya masih dalam pencarian.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Status tanggap darurat di Sumatera Barat
    Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada Kamis (27/11/2025) mengakibatkan 12 orang meninggal. Pemerintah provinsi Sumatera Barat menetapkan status darurat bencana.

    Hal ini disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Vasko Ruseimy dalam rapat tingkat menteri secara virtual pada Kamis sore.

    “Data terakhir di Sumatra Barat, korban meninggal dunia sebanyak 12 orang dan warga terdampak sekitar 12.000 jiwa,” ujar Vasko.

    Pihaknya, lanjut Vasko, bersama unsur organisasi perangkat daerah bersama TNI-Polri terus melakukan operasi penanganan darurat.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Penembakan petani di Bengkulu
    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengecam keras aksi main tembak petugas keamanan perusahaan sawit PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) terhadap 5 (lima) orang petani Pino Raya, Bengkulu Selatan pada Senin (24/11/2025).

    Dalam rilis yang diterima 7cloud.asia, WALHI mendesak Polda Bengkulu mengusut tuntas kasus penembakan ini termasuk kepemilikan senjata api yang dimiliki oleh pihak keamanan PT. ABS yang digunakan untuk menembak para petani.

    Selain itu, Polda Bengkulu juga harus memberikan perlindungan keamanan bagi korban, keluarga korban dan petani Pino Raya yang kerap mendapat teror dan ancaman.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Para perempuan yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional
    “Sejauh mana perjuangan Kartini mampu mempengaruhi pola pikir perempuan saat itu, sehingga mendorong gerakan kesetaraan di masa penjajahan tersebut?“ demikian pertanyaan yang terlontar

    Pelontar pertanyaan beralasan, meski jauh ke depan, pemikiran Kartini hanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada JH Abendanon dan tidak dipublikasikan secara luas.

    Pun, belum ada kajian yang menyebutkan Kartini mensosialisasikan pemikirannya secara masif kepada masyarakat luas.

    “Atau pemikiran Kartini sebenarnya hanya menentang sistem feodalistik di Jawa yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Sebab, di luar Jawa ada banyak perempuan yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda,“ lanjutnya.

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Komisi V DPR Beri Lampu Hijau Dana BA99 untuk Percepatan Penanganan Banjir Sumatera

    Komisi V DPR Beri Lampu Hijau Dana BA99 untuk Percepatan Penanganan Banjir Sumatera

    7cloud.asia – Komisi V DPR memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk segera memanfaatkan dana BA99 sebagai langkah percepatan penanganan banjir Sumatera yang melanda Provinsi Sumatera Utara dan Aceh.

    Dana BA 99 merupakan bagian anggaran di luar perencanaan yang biasanya dinegosiasikan oleh penyusun anggaran dengan kepala daerah yang ingin mendapat tambahan dana.

    Ketua Komisi V DPR, Lasarus, menegaskan bahwa penggunaan dana darurat tersebut merupakan solusi paling cepat untuk menghindari terhambatnya penanganan bencana akibat proses anggaran reguler yang memerlukan waktu panjang.

    Lasarus menjelaskan bahwa Komisi V telah memberikan keleluasaan penuh kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam mengambil tindakan strategis.

    “Kami sudah memberikan izin sepenuhnya kepada Kementerian PUPR. Kalau anggaran APBN belum tersedia, silakan gunakan dana BA99. Yang penting penanganan banjir segera dilakukan,” ujar Lasarus di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, Kamis (27/11/2025).

    Baca: Presiden diminta tetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional

    Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam situasi darurat.

    Menurut Lasarus, skala bencana yang terjadi di Sumatera Utara dan Aceh menunjukkan perlunya langkah cepat dan responsif.

    “Banjir kali ini skalanya besar dan dampaknya luas. Pemerintah harus segera melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi awal agar masyarakat tidak terlalu lama menunggu,” tegasnya.

    Ia menambahkan bahwa penanganan darurat tidak boleh menunggu proses administrasi anggaran yang berbelit.

    Komisi V juga meminta lembaga teknis terkait memperkuat koordinasi. Lasarus menyoroti pentingnya informasi cuaca yang akurat sebagai dasar mitigasi lanjutan.

    Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    “BMKG harus memberikan data cuaca yang lebih up to date. Basarnas maupun BNPB juga harus bergerak cepat sesuai tugas dan fungsinya masing-masing,” paparnya.

    Menurutnya, percepatan penanganan hanya dapat tercapai jika seluruh instansi bergerak secara terpadu.

    Di sisi daerah, Lasarus mengingatkan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk aktif melaporkan seluruh kebutuhan dan kerusakan secara rinci. Pelaporan yang cepat akan mempercepat pencairan dan eksekusi dana darurat tersebut.

    “Kami minta pemerintah daerah proaktif. Laporkan data kerusakan dengan lengkap agar penggunaan dana BA99 tepat sasaran dan tidak menimbulkan hambatan teknis di kemudian hari,” jelasnya.

    Menutup pernyataannya, Lasarus menegaskan komitmen Komisi V dalam mengawal proses pemulihan. Dana BA99, ujarnya, sudah tersedia dan bisa digunakan kapan saja untuk kondisi gawat darurat.

    ”Jadi tidak ada alasan untuk menunda. Komisi V akan terus mengawasi agar proses penanganan bencana di Sumatera Utara dapat berjalan efektif dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkasnya.

  • Negara dan Korporasi Jadi Pihak yang Paling Bertanggungjawab Atas Terjadinya Banjir Sumatera

    Negara dan Korporasi Jadi Pihak yang Paling Bertanggungjawab Atas Terjadinya Banjir Sumatera

     
     
    7cloud.asia – Banjir dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Banjir Sumatera) pada 25-27 November lalu menyebabkan 442 orang meninggal, 402 orang hilang, dan 156.918 orang harus mengungsi.
     
    Berdasarkan catatan WALHI, bencana banjir Sumatera disebabkan oleh kerentanan ekologis yang terus meningkat akibat perubahan bentang ekosistem penting seperti hutan, dan diperparah oleh krisis iklim.
     
    Periode 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang telah terdeforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin tambang, HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM.
     
    Jika dilihat lebih detail, bencana di tiga provinsi ini bersumber dari wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) besar yang hulu-nya berada di bentang hutan Bukit Barisan. Di Sumatera Utara misalnya, bencana paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli (Ekosistem Batang Toru), yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
     
    Ekosistem Batang Toru yang berada di bentang Bukit Barisan telah mengalami deforestasi sebesar 72.938 hektare (2016-2024) akibat operasi 18 perusahaan.
     
    Sedangkan di Aceh, ada 954 DAS, 60 persen dalam Kawasan Hutan, 20 DAS kritis. Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Trumon yang memiliki luas 53.824 Ha.
     
    Sejak 2016-2022 43 persen DAS tersebut mengalami kehilangan tutupan hutan, sekarang tersisa 30.568 Ha atau sekitar 57 persen. DAS Singkil sebagaimana yang ditetapkan pemerintah berdasarkan SK 580 seluas 1,241,775 hektare.
     
    Namun sisa tutupan hutan pada 2022 hanya 421,531 hektar. Artinya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mengalami degradasi tutupan hutan di DAS Singkil seluas 820,243 hektar, 66 persen.
     
    DAS Jambo Aye luas awalnya 479.451 hektar, kerusakan 44,71 persen. DAS Peusangan yang luasnya 245.323 kerusakan 75,04 persen, DAS Krueng Tripa dari total luas 313.799 kerusakan 42,42 persen. DAS Tamiang dari luas 494.988 kerusakan 36.45 persen.
     
    Di Sumatera Barat, DAS Aia Dingin yang merupakan salah satu DAS administratif penting di Kota Padang, dengan luas 12.802 hektar. Secara topografis, kawasan hulu DAS memiliki kelerengan datar hingga terjal, dengan bagian hulu berada di wilayah kawasan hutan konservasi Bukit Barisan yang seharusnya berfungsi sebagai benteng ekologis utama.
     
    Namun, kawasan terdegradasi cukup parah akibat tekanan aktivitas manusia. Dari tahun 2001 hingga 2024, DAS Aia Dingin kehilangan 780 hektar tutupan pohon, mayoritas deforestasi terjadi di wilayah hulu, yang memiliki peran vital dalam meredam aliran permukaan dan mencegah banjir bandang.
     
    Ahmad Solihin, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Aceh mengatakan “Banjir yang melumpuhkan sedikitnya 16 kabupaten di Aceh memberikan satu pesan keras, bahwa alam tidak lagi mampu menahan beban kerusakan yang dipaksakan manusia. bencana kali ini bukan hanya fenomena alamiah, melainkan bencana ekologis yang diproduksi oleh kebijakan pemerintah yang abai, permisif, dan memfasilitasi penghancuran ruang hidup masyarakat melalui investasi ekstraktif yang rakus ruang.
     
    Banjir berulang ini sebagai hasil akumulasi dari deforestasi, ekspansi sawit, hingga Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dibiarkan merajalela. Pemerintah gagal menghentikan kerusakan di hulu dan terjadi pembiaran, justru terpaku pada solusi tambal sulam di hilir seperti pembuatan tebing sungai dan normalisasi sungai.”
     
    Riandra Purba, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Utara menyampaikan “Wilayah yang paling kritis adalah Tapanuli Tengah, Sibolga dan Tapanuli Selatan yang hulunya ada di ekosistem Batang Toru. Dalam delapan tahun terakhir WALHI Sumut mengkritisi terus-menerus model pengelolaan Batang Toru, misalnya PLTA Batang Toru, selain akan memutus habitat orang utan dan harimau, juga merusak badan-badan sungai dan aliran sungai yang menjadi daya dukung dan daya tampung lingkungan.
     
    Selain itu juga pertambangan emas yang berada tepat di sungai Batang Toru. Desa-desa lain di kecamatan Sipirok juga ada aktivitas kemitraan kebun kayu dengan PT Toba Pulp Lestari yang akhirnya mengalihfungsikan hutan. Semua aktitas eksploitasi dilegalisasi oleh pemerintah melalui proses pelepasan kawasan hutan untuk izin melalui revisi tata ruang.”
     
    Andre Bustamar dari WALHI Sumbar menyatakan bahwa penyebab bencana di Sumbar diakibatkan oleh akumulasi krisis lingkungan karena gagalnya pemerintah dalam melakukan pengelolaan SDA. Deforestasi, Pertambangan emas ilegal, lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab kenapa Sumbar terus didera bencana ekologis.
     
    Fenomena tunggul-tunggul kayu yang hanyut terbawa arus sungai, ujar Andre, menunjukkan adanya aktivitas penebangan di kawasan hulu DAS. Hal ini memperkuat dugaan bahwa praktik eksploitasi hutan masih berlangsung dan menjadi penyebab langsung meningkatnya risiko bencana ekologis.
     
    Bencana ekologis yang terjadi di Sumbar menempatkan Negara dalam hal ini Pemerintah Daerah Provinsi Sumbar sebagai aktor yang paling bertanggung jawab melindungi masyarakatnya dari risiko bencana.”
     
    Uli Arta Siagian, Manager Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional menambahi, dari fakta ini kita bisa lihat dengan jelas bahwa penyebab bencana ekologis yang terjadi saat ini adalah pengurus negara dan korporasi. Maka tanggung jawab pengurus negara adalah mengevaluasi seluruh izin perusahaan yang ada di Indonesia, terkhususnya di ekosistem penting dan genting.
     
    “Jika harus dilakukan pencabutan izin, maka itu harus dilakukan. Apalagi Menteri Kehutanan sudah bilang akan mengevaluasi, ya sekarang kami tagih, kami punya nama-nama perusahaannya, silahkan evaluasi dan lakukan penegakan hukum,” ujarnya.
     
    Dia menegaskan, pemerintah jangan hanya berjanji di tengah ratusan ribu orang tengah berduka di Sumatera. Hal lainnya adalah menagih pertanggungjawaban korporasi untuk menanggung biaya eksternalitas dari bencana yang terjadi.
     
    Negara, ujarnya, tidak boleh menanggung biaya eksternalitas itu sendiri, karena uang yang akan dipakai adalah uang negara yang sumbernya dari pajak kita.
     
    “Menurut kami negara juga harus menagih tanggung jawab korporasi untuk memulihkan ekosistem yang telah mereka rusak. Mereka telah menikmati keuntungan besar dari eksploitasi alam, saatnya mereka juga ditagih tanggungjawab untuk memulihkannya.” imbuhnya.
     
    Gandar Mahojwala, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Yogyakarta mengatakan, BMKG telah menyatakan bahwa 17 November telah dideteksi Pusat Tekanan Rendah (Low Pressure Area). Pers rilis BMKG telah menegaskan pentingnya pemerintah daerah untuk mulai mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.
     
    Tanggal 21 November 2025, BMKG menyatakan bahwa Pusat Tekanan Rendah telah menjadi Bibit Siklon. Kedua informasi ini menunjukkan bahwa peringatan dini sudah cukup menjelaskan adanya potensi bencana, namun tidak dilakukan aksi merespon peringatan dini yang serius oleh pemerintah.”
     
    “Sebagaimana telah dijelaskan oleh WALHI Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh di media, bahwa bencana ini ada penyebab non-alamnya. Pemicu utamanya bukan alam semata, tapi karena kerentanan yang disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang merusak daya dukung dan daya tampung lingkungan.
     
    Ini menegaskan bahwa tidak ada yang namanya Bencana Alam. Istilah Bencana Alam seolah membuat kambing hitam bencana ada pada alam. Padahal, proses terjadinya bencana sangat dipengaruhi dari kerentanan yang dibuat oleh perusahaan- perusahaan yang menguasai luas lahan yang besar,” jelas Gandar.
     
    “Pemerintah juga perlu tegas untuk segera mengesahkan mekanisme Analisis Risiko Bencana, sebuah kegiatan penelitian dan studi tentang kegiatan yang memungkinkan terjadinya bencana. Analisis Risiko Bencana sudah diatur dalam Pasal 40 ayat (3), Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
     
    Pasal ini menyatakan bahwa setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencana sesuai dengan kewenangannya. Instrumen ini menjadi penting untuk segera disahkan, untuk memastikan bahwa tidak ada lagi perusahaan-perusahaan yang meningkatkan dan memungkinkan terjadinya bencana.” tutup Gandar.
     
    Melva Harahap, Manager Penanganan dan Pencegahan Bencana Ekologis WALHI Nasional, juga menyampaikan bahwa “bencana ekologis yang terjadi di Sumatera mengakibatkan kolapsnya pranata kehidupan di 3 provinsi tersebut.
     
    Rakyat mengalami kerugian material seperti kehilangan rumah, keluarga, harta benda, hewan ternak, kebun, hak hidup dengan rasa aman dan nyaman termasuk lingkungan hidup yang sehat hilang seketika ketika bencana ekologis ini terjadi.
     
    Di sisi lain bencana ini juga mengakibatkan rusaknya sarana prasana jalan rusak, listrik mati, sinyal komunikasi terputus, bbm langka, bahan makanan semakin hari menipis, mengakibatkan warga terisolir. Hak bekerja, hak belajar, dan kebutuhan dasar lain rakyat tidak dapat terpenuhi, padahal UU 24 tahun 2007 Tentang Kebencanaan, mewajibkan negara untuk melindungi rakyat dari bencana yang terjadi fakta di lapangan hak dasar dan hidup yang menjadi tanggung jawab negara tidak dapat memenuhinya.”
     
    “Dari sisi kemanusiaan, penetapan status bencana nasional menjadi penting dalam merespon bencana ekologis yang terjadi di Sumatera. Koordinasi antar Lembaga/Kementerian penting sehingga distribusi kebutuhan pokok, mengevakuasi warga yang masih terisolir, memastikan kebutuhan dasar dan hidup warga terjamin termasuk menyiapkan pemulihan jangka panjang bisa lebih cepat karena penetapan status bisa membuka pergerakan sumber daya nasional penuh dalam merespon bencana ekologis tersebut.”
     
    “Tetapi hal yang harus diingat, penting bagi negara untuk menagih pertanggungjawaban korporasi, dan tidak menetapkan ini sebagai bencana alam, sebab penetapan itu akan berkonsekuensi pada gugurnya tanggungjawab korporasi”, tutup Melva.
     
    Ke depan, bencana ekologis juga akan terus meluas dan semakin sering terjadi akibat kebijakan iklim yang tidak ambisius dan berbasis HAM, bahkan justru mendorog pelepasan emisi dalam skala besar dari proyek-proyek energi.
     
    Keputusan-keputusan dalam COP30, terutama yang memajukan solusi palsu di sektor energi dan memperluas mekanisme perdagangan karbon, dikhawatirkan akan membuat bencana ekologis di Indonesia semakin sering dan meluas.
     
    Pasalnya, pendekatan tersebut tidak mengurangi ketergantungan pada energi fosil, berpotensi memperparah perampasan ruang hidup serta kerusakan ekosistem, dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak untuk melakukan pengurangan emisi secara nyata.
     
    Oleh karena itu WALHI menegaskan bahwa skema offset dan teknologi semu tersebut justru membuka jalan bagi intensifikasi krisis iklim, mulai dari deforestasi hingga peningkatan risiko bencana hidrometeorologis dan menyerukan transisi energi yang adil, berbasis perlindungan lingkungan serta hak-hak masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kehancuran ekologis yang lebih besar di Indonesia.

  • BRIN Bentuk Gugus Tugas Penanganan Banjir Sumatera, Ini yang Akan Dilakukan

    BRIN Bentuk Gugus Tugas Penanganan Banjir Sumatera, Ini yang Akan Dilakukan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhir pekan lalu telah membentuk satuan gugus tugas untuk menangani bencana Banjir Sumatera.

    Tim gugus tugas penanggulangan bencana itu akan memberikan dukungan ilmiah dan teknologi untuk membantu penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera

    Ketua Task Force BRIN Joko Widodo menegaskan bahwa BRIN bergerak cepat guna memastikan lembaga riset nasional ini berkontribusi mendukung percepatan pemulihan di daerah terdampak. 

    “BRIN hadir dengan pendekatan ilmiah. Kami memastikan seluruh kemampuan riset, teknologi, dan SDM yang dimiliki dapat digunakan secara optimal untuk membantu masyarakat,” kata Joko Widodo melalui keterangan tertulis di laman BRIN.

    Dalam rapat internal tim gugus tugas penanggulangan bencana pada Minggu 30 November 2025, Joko Widodo menyatakan telah mengaktifkan beberapa unit reaksi cepat untuk merespons dampak bencana, mulai dari pemetaan berbasis satelit, penyediaan air bersih dan air siap minum.

    Baca Juga: Negara dan Korporasi Jadi Pihak yang Paling Bertanggungjawab Atas Terjadinya Banjir Sumatera

    Tim gugus tugas BRIN juga akan memobilisasi tenaga kesehatan dan dukungan psikososial bagi korban banjir.

    Joko Widodo menegaskan bahwa seluruh langkah task force akan difokuskan pada intervensi yang realistis, cepat, dan berbasis data.

    Dengan wilayah terdampak yang sangat luas, BRIN akan menentukan lokasi prioritas untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. 

    “Kami tidak mungkin turun di semua titik, tetapi kami bisa fokus pada area strategis dan memberikan solusi teknologi yang paling dibutuhkan,” ujar dia.

    Dipimpin Joko Widodo.

    Adapun ketua task force itu memiliki nama yang sama dengan Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi.

    Baca Juga: WALHI: Banjir Bandang di Sumatera Utara Cermin Kegagalan Negara Kendalikan Kerusakan Lingkungan

    Tak hanya itu, Joko Widodo dari BRIN juga lulus dari Universitas Gadjah Mada. Lantas, siapa sosok Joko Widodo yang memimpin gugus tugas penanggulangan bencana BRIN ini?

    Menyitir laman resmi BRIN, Joko Widodo menguasai bidang ilmu geografi, teknologi radar Synthetic Aperture Radar (SAR), hingga sains lingkungan.

    Dia memiliki keahlian di bidang Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) dan analisis dampak lingkungan atau environmental impact assessment.

    Joko Widodo menempuh pendidikan terakhir S3 Computer Science and Information Processing di Chiba University, Jepang. Ia mendapat gelar doktoral itu setelah lulus pada 2020.

    Berdasarkan penelusuran informasi di akun Linkedin, Joko Widodo meraih gelar sarjana di bidang Geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1999. Dia juga mendapatkan gelar magister bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia (UI) pada 2011.

    Selain tercatat bertugas di BRIN, Joko Widodo juga menjadi peneliti tamu atau guest visiting reseacher atau peneliti tamu pada Muroran Institute of Technology, Hokkaido, Jepang.

  • Korban Banjir Sumatera Tembus 810 Jiwa, Pemerintah Putuskan Bukan Bencana Nasional

    Korban Banjir Sumatera Tembus 810 Jiwa, Pemerintah Putuskan Bukan Bencana Nasional

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Rabu (3/12/2025) sore korban tewas akibat bencana  longsor dan banjir di  Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (banjir Sumatera) mencapai 810 jiwa.

    Dipantau dari data yang ditampilkan dalam situs resmi BNPB, jumlah korban hilang akibat banjir Sumatera tercatat sebanyak 612 orang yang tersebar di tiga provinsi terdampak tersebut.

    Rinciannya korban meninggal di Aceh sebanyak 272 orang dan 193 korban hilang orang. Kemudian di Sumatera Utara korban meninggal 297 orang dan korban hilang 159 orang.

    Sedangkan di wilayah Sumatera Barat, tercatat korban meninggal sebanyak 236 orang dan 260 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

    Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    Sementara itu korban luka-luka dalam bencana banjir Sumatera ini mencapai 2.600 orang di tiga provinsi tersebut.

    Sedangkan, jumlah total warga terdampak banjir besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar tembus 3,2 juta jiwa.

    Pemerintah masih belum menetapkan bencana banjir Sumatera sebagai bencana nasional, meski sudah banyak desakan dari berbagai pihak.

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno mengatakan meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganan bencana sudah dilakukan secara nasional.

    Baca Juga: Greenpeace Indonesia: Banjir Sumatera Harus Jadi Pengingat Terakhir

    Pratikno menjelaskan seluruh kementerian/lembaga telah diperintahkan Presiden Prabowo untuk mengerahkan sumber daya maksimal.

    Dia mengatakan, seluruh kementerian/lembaga diperintahkan oleh Presiden termasuk TNI-Polri, BNPB dan semua komponen untuk mengerahkan sumber dayanya semaksimal mungkin menangani bencana banjir Sumatera.

    “Jadi sekali lagi penanganannya benar-benar penanganan full kekuatan secara nasional,” kata Pratikno di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (3/12/2025).

     

  • Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    ruangkota.com – Pemerintah pusat akhirnya buka suara soal aliran dana darurat terkait penanganan bencana banjir Sumatera. Menteri Keuangan  Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan: hingga kini, penanganan banjir Sumatera masih sepenuhnya bertumpu pada anggaran pemerintah daerah.

    Kementerian Keuangan menyiapkan anggaran Rp 2,03 triliun untuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kemenkeu Deni Surjantoro mengatakan, anggaran untuk penanganan bencana banjir Sumatera itu berasal dari anggaran belanja tambahan (ABT) di APBN 2025. 

    Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran penanganan bencana darurat setiap tahunnya lewat alokasi daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) BNPB sebagai dana siap pakai (DSP) sebanyak Rp 250 miliar. Dalam APBN 2025, BNPB memiliki total anggaran sekitar Rp 2,01 triliun. Namun, pada APBN 2026, anggarannya menyusut drastis hingga tersisa Rp 491 miliar.

    Sementara Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sudah mengidentifikasi beberapa perusahaan yang diduga berkontribusi pada kerusakan lingkungan, yang berujung bencana di tiga provinsi di Sumatera. 

    Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq berjanji akan melakukan langkah lanjut berupa penegakan hukum. Publik harus mengawal upaya tersebut supaya perusahaan yang memang terbukti punya andil dalam bencana itu mendapatkan hukuman yang setimpal, yang dapat menjadi efek jera bagi perusahaan lain yang menjalankan kegiatan ekstraktif sumber daya alam.

    Bencana akibat kerusakan ekologi yang memakan 753 korban jiwa, ratusan lainnya yang belum ditemukan dan ribuan korban luka, adalah tragedi besar akibat salah urus dalam tata kelola negara.

    Namun jika seluruh kerusakan alam yang demikian dahsyat hanya ditudingkan kepada pihak-pihak swasta sebagai kambing hitam, sulit diterima. Tidak akan pernah ada eksploitasi alam yang berakibat kerusakan besar tersebut, tanpa ada perizinan dari pemerintah.

    Jika pun perusahaan itu dituding melakukan pelanggaran, hal itu tidak akan terjadi jika pengawasan secara benar telah dilakukan. Pemerintah juga harus terbuka menyebut instansi dan pejabatnya yang lalai, teledor, ceroboh, atau bahkan mungkin melakukan penyimpangan terlibat kongkalikong.

    Sanksi tegas harus diberikan agar ada _deterrent effect_ atau efek penjeraan, dan perbaikan menyeluruh.

    Sebelumnya, dalam pernyataannya Purbaya mengungkapkan bahwa hingga saat ini, penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera masih sepenuhnya menggunakan anggaran yang dimiliki masing-masing pemerintah daerah (pemda).

    Menurutnya, daerah-daerah terdampak sedang bergerak cepat memakai alokasi anggaran yang tersedia untuk merespons keadaan darurat.

    “Kayaknya ada bantuan sosial pakai anggaran yang ada dulu di mereka (kabupaten/kota),” tutur Purbaya kepada awak media, Jumat (28/11/2025).

    Ia menambahkan bahwa sampai sekarang tidak ada satu pun pemda yang secara resmi mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kementerian Keuangan.

    “Belum ada minta ke saya sampai sekarang, jadi sepertinya pakai anggaran yang ada dulu,” ujarnya menegaskan.

    Sebelum pernyataan dari Menkeu tersebut, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah lebih dulu mengeluarkan instruksi kepada seluruh pemerintah daerah di Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) agar segera melakukan pergeseran anggaran ke pos biaya tak terduga (BTT).

    Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir memaparkan bahwa pemerintah pusat memahami situasi pelik yang dihadapi daerah menjelang akhir tahun.

    Banyak daerah telah memakai sebagian besar alokasi BTT sehingga anggaran di pos tersebut menipis sementara kebutuhan mendadak akibat bencana terus meningkat dari hari ke hari.

     

     

     

  • Greenpeace Indonesia: Banjir Sumatera Harus Jadi Pengingat Terakhir

    Greenpeace Indonesia: Banjir Sumatera Harus Jadi Pengingat Terakhir

    7cloud.asia – Melihat besarnya skala dampak yang terjadi hingga saat ini, Greenpeace Indonesia mendukung desakan sejumlah pihak agar pemerintah segera menetapkan peristiwa banjir di Pulau Sumatera ini sebagai status darurat bencana nasional, serta mengerahkan penanggulangan bencana dengan cepat dan tepat. 

    “Peristiwa banjir besar yang melanda Sumatera ini seharusnya menjadi pengingat terakhir bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi kebijakan pengelolaan hutan dan lingkungan hidup serta komitmen iklim secara total. Banjir besar tersebut menandakan dua hal: dampak krisis iklim yang tak bisa lagi dihindari dan perusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi menahun,” kata Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

    Dampak krisis iklim terlihat dari cuaca yang kian ekstrem, termasuk hujan lebat yang diperparah dengan terjadinya siklon tropis Senyar pada 25-27 November 2025 di Selat Malaka.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lewatnya siklon tropis Senyar di Selat Malaka, bahkan hingga ke daratan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini bukan fenomena umum mengingat posisi Indonesia di dekat garis ekuator.

    Hujan ekstrem akan terus mengintai kita sebagai dampak dari krisis iklim. Sebagai negara kepulauan yang rawan terhadap bencana, dampak krisis iklim bukan hanya angka, tapi juga mengancam nyawa. Harus ada tindakan dan target iklim yang ambisius.

    “Pemerintah tak bisa lagi mengandalkan upaya mitigasi dan adaptasi yang hanya terpampang di atas kertas, dan tidak boleh ada lagi solusi palsu dalam kebijakan iklim nasional. Sekarang waktu yang tepat untuk memperbaiki arah kebijakan nasional agar tidak lagi berpihak pada segelintir orang, tapi kelayakan bagi semua orang,” kata Iqbal Damanik, Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

    Faktor kedua yang memicu besarnya dampak banjir Sumatera yakni perusakan hutan dan alih fungsi lahan, termasuk di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS).

    Analisis Greenpeace dengan merujuk data Kementerian Kehutanan menemukan, dalam kurun 1990-2024, banyak hutan alam di Provinsi Sumatera Utara beralih fungsi menjadi perkebunan, pertanian lahan kering, dan hutan tanaman. Situasi serupa terjadi di Aceh dan Sumatera Barat.

    Peneliti senior Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, mengatakan, mayoritas DAS di Pulau Sumatera telah kritis–dengan tutupan hutan alam kini kurang dari 25 persen. 

    “Sedangkan secara keseluruhan kini tinggal 10-14 juta hektare hutan alam atau kurang dari 30 persen luas Pulau Sumatera yang 47 juta hektare.” ujarnya.

    Salah satu DAS yang rusak parah ialah DAS Batang Toru yang meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah. Salah satu bentang hutan tropis terakhir di Sumatera Utara ini juga dibebani berbagai macam perizinan untuk industri rakus lahan–termasuk PLTA Batang Toru–yang lantas membabat hutan, juga menggusur habitat orang utan Tapanuli. 

    Berikut hasil analisis Greenpeace tentang kawasan hutan di area DAS Batang Toru:

    1. Selama periode 1990-2022, telah terjadi deforestasi seluas 70 ribu hektare atau 21 persen dari luas DAS. Kini luas hutan alam yang tersisa sebesar 167 ribu hektare atau 49 persen dari luas DAS.

    2. Areal perizinan berbasis lahan dan ekstraktif secara keseluruhan seluas 94 ribu hektare atau 28 persen. Sebagian besar berupa perizinan berusaha pemanfaatan hutan, wilayah izin usaha pertambangan, dan perkebunan kelapa sawit. 

    3. Total potensi erosi saban tahun sebesar 31,6 juta ton. Sekitar 56 persen berasal dari areal rawan erosi >180 ton/hektare/tahun. 

    4. Bagian hulu sudah beralih fungsi menjadi pertanian kering, sedangkan hilirnya beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan industri bubur kertas. Hutan alamnya hanya berada di bagian tengah DAS.

    Pemerintah Indonesia harus serius membenahi kebijakan tata kelola lahan dan hutan secara menyeluruh demi menyelamatkan ekosistem dan masyarakat dari tragedi bencana iklim.

    Dengan krisis iklim yang kian parah, hutan yang rusak dan daya dukung lingkungan yang sudah menurun drastis hanya akan membuat kita makin porak-poranda tatkala terjadi cuaca ekstrem. 

    Pemerintah harus mengakui bahwa mereka telah salah dalam tata kelola hutan dan lahan. Akibatnya hutan Sumatera hampir habis, terjadi degradasi lingkungan parah, dan kini masyarakat Sumatera harus menanggung harga yang amat mahal dari bencana ekologis ini. 

    “Prabowo dan beberapa menterinya memang sudah menyinggung soal deforestasi, tapi mereka seolah mengesankan bahwa kerusakan hutan di Sumatera terjadi karena penebangan liar. Padahal selain penebangan liar, deforestasi masif terjadi karena dilegalkan pula oleh negara dari satu pemerintahan ke pemerintahan lainnya,” kata Arie Rompas

    Selain mengevaluasi izin-izin di Sumatera, pemerintah juga harus berhenti merusak hutan di wilayah lain, seperti Papua. Hentikan perusakan hutan yang terjadi di Raja Ampat dan pulau-pulau kecil lainnya yang dibebani tambang nikel, juga deforestasi di Merauke demi ambisi swasembada energi dan pangan yang salah kaprah.

    “Pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicita-citakan Prabowo tak akan tercapai jika lingkungan rusak dan bencana iklim terus mengintai kita.”

     

     

     

  • BNPB Koreksi Korban Meninggal Akibat Banjir Sumatera: Total 770 Orang

    BNPB Koreksi Korban Meninggal Akibat Banjir Sumatera: Total 770 Orang

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) mengoreksi data jumlah korban bencana banjir dan longsor di Sumatera. Hingga Rabu (03/12/2025) malam, jumlah korban meninggal mencapai 770 orang.

    Dalam konferensi pers BNPB yang digelar secara virtual, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan memang ada koreksi data yang dikumpulkan BNPB dengan yang dimuat dalam situs BNPB.

    “Memang ini tadi ada koreksi yang kita lakukan dari data yang sudah masuk di dashboard  (situs BNPB) secara online. Sehingga total korban meninggal yang sudah tervalidasi dan terverifikasi itu ada 770 orang, korban yang masih dalam pencarian 463 orang dan 2600 orang luka-luka,” jelas Abdul Muhari.

    Baca: Kemenkeu Siapkan Dana Rp 2.03 Triliun Tangani Bencana Sumatera

    Lebih lanjut Muhari menjelaskan secara rinci menerangkan di Provinsi Aceh, korban meninggal mencapai 277 orang, 193 orang lainnya hilang dan 1800 orang terluka.

    Di provinsi dengan julukan Serambi Mekkah ini, sebanyak 48 rumah ibadah rusak, 123 fasilitas umum rusak serta 99 unit gedung perkantoran rusak.

    Dari 18 Kabupaten/Kota yang terdampak sebanyak 75 unit fasilitas pendidikan, 5200 unit rumah dan 204 jembatan rusak.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana di Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Selanjutnya Provinsi Sumatera Utara. Dari 17 Kabupaten dan Kota yang terdampak, jumlah korban meninggal mencapai 299 orang, 159 orang lainnya msih dalam pencarian dan 611 orang mengalami luka-luka.

    Jumlah rumah rusak sebanyak 2400 unit, fasilitas umum rusak 74 unit, fasilitas kesehatan rusak ada 1 unit serta fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 54 unit. Kerusakan lainnya juga terjadi pada 19 unit rumah ibadah dan 27 jembatan.

    Baca: Hampir Sepekan, Korban Bencana di Sumatera Capai 744 Orang

    Kemudian di Provinsi Sumatera Barat., Jumlah korban meninggal mencapai 194 orang yang ditemukan pada 17 Kabupaten dan Kota yang terdampak.

    Selain itu sebanyak 111 orang lainnya msih dalam pencarian dan 112 orang mengalami luka-luka.

    Jumlah rumah rusak sebanyak 2800 unit, fasilitas umum yang rusak mencapai 157 unit, fasilitas kesehatan rusak 8 unit dan fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 84 unit.

    BNPB juga mencatat kerusakan lainnya yaitu rumah ibadah sebanyak 65 unit, gedung perkantoran 1 unit dan jembatan 64 unit.

     

  • Infrastruktur yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Hambat Distribusi Bantuan

    Infrastruktur yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Hambat Distribusi Bantuan

    7cloud.asia – Anggota Komisi V DPR Danang Wicaksana Sulistya mendorong pemulihan infrastruktur dasar yang terdampak bencana banjir Sumatera melalui percepatan penyaluran logistik bantuan dan proses evakuasi. Pasalnya, kondisi infrastruktur menjadi kendala utama dalam penyaluran bantuan. 

    Menurutnya, banyak daerah yang terdampak banjir Sumatera hingga saat ini masih terisolir, sehingga menyulitkan masuknya logistik dan menghambat akses terhadap layanan kesehatan darurat.

    “Pemulihan infrastruktur dasar adalah kunci. Tanpa akses jalan dan jembatan yang memadai, upaya penyaluran bantuan dan evakuasi akan terhambat,” ujar Danang Wicaksana, dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Kamis (4/12/2025).

    Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan stakeholder terkait, bersama pemerintah daerah harus bergerak cepat melakukan pendataan kerusakan, mempercepat perbaikan jalur akses, serta memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga berjalan efektif.  

    Baca Juga: 1009 Sekolah Terdampak Banjir Sumatera, DPR Ingatkan Kemendiknas Bergerak Cepat

    Upaya pemulihan ini dinilai mendesak untuk meminimalisasi korban serta mempercepat normalisasi kondisi masyarakat.

    Anggota DPR Dapil Jateng III ini, juga mendorong peningkatan kesiapsiagaan dan penguatan sistem mitigasi bencana ke depan, termasuk penyediaan sarana transportasi darurat yang dapat menjangkau wilayah sulit.

    “Kita tidak boleh kehilangan waktu. Setiap jam sangat berarti bagi keselamatan warga,” tegasnya. 

    Hingga saat ini, sejumlah daerah dilaporkan masih sulit dijangkau akibat kerusakan jalan, jembatan, serta terganggunya jaringan komunikasi.

    Baca Juga: Tiga Bupati di Aceh Menyerah, Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan Atasi Banjir

    Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat dan terukur untuk memastikan seluruh wilayah terdampak mendapatkan bantuan yang merata dan tepat waktu. 

    Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas dalam bencana  longsor dan banjir di  Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (banjir Sumatera) bertambah menjadi 810 jiwa.

    Berdasarkan data yang ditampilkan dalam situs resmi BNPB, jumlah korban hilang akibat banjir Sumatera sebanyak 612 orang.

    Adapun total warga yang terdampak mencapai 3,2 juta orang yang tersebar di tiga provinsi terdampak tersebut.

    Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    Pemerintah masih belum menetapkan bencana banjir Sumatera sebagai bencana nasional, meski sudah banyak desakan dari berbagai pihak.

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno mengatakan meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganan bencana sudah dilakukan secara nasional.