Tag: belanja online

  • Gen Z Lebih Minati Belanja di Tiktok Ketimbang Shopee, Ini Penjelasannya

    Gen Z Lebih Minati Belanja di Tiktok Ketimbang Shopee, Ini Penjelasannya

    7cloud.asia – Kehadiran fitur live streaming TikTok turut meramaikan khazanah belanja online di Indonesia.

    Sejumlah survei menunjukkan jika live streaming TikTok lebih diminati sebagai tempat transaksi belanja online lainnya, seperti Shopee.

    Dalam rilis yang dilakukan perusahaan e-logistik Ninja Van pada November 2022 lalu, live streaming TikTok menempati urutan pertama aplikasi belanja online favorit dengan torehan 27,5 persen mengalahkan Shopee yang berada di urutan kedua.

    Survei tersebut dilakukan terhadap 316 pedagang online, di mana satu dari tiga responden menggunakan fitur live streaming seperti TikTok sebagai platform tempat mereka jualan online.

    Baca: Sama-sama tawarkan live shopping, ini keunggulan Tiktok dibanding Shopee

    Lantas dagangan apa yang dijual dalam aplikasi belanja online di live streaming Tiktok tersebut? Ternyata cukup beragam, mulai skin care, perlengkapan kecantikan, baju, aneka makanan dan minuman, bahkan hingga perlengkapan rumah.

    Dilihat dari pangsa pasarnya, live streaming TikTok Shop lebih digemari kaum milenial atau Gen-Z yang merupakan kelompok mayoritas pengguna platform media sosial ini.

    Sehingga varian basis produk yang menawarkan kebutuhan kelompok tersebut akan jauh lebih visible dan bonafit bagi penjual yang menggunakan live streaming TikTok.

    Survei yang dilakukan perusahaan e-logistik Van Ninja juga mengajak produk yang identik dengan kaum millennial dan Gen-Z dalam aplikasi belanja online TikTok Shop ini.

    Baca: Cara internetan yang ramah lingkungan

    Unggulnya live streaming TikTok Shop sebagai platform jual beli online dalam survei e-logistik Ninja Van tersebut didasarkan pada sejumlah fakta. 

    Tingginya pengguna TikTok di Indonesia yang mencapai 135 juta orang dalam kuartal satu tahun 2023 atau tertinggi di Asia Tenggara menurut Firma Riset Insider Intelligence menjadi salah satu dari sekian penyebab mengapa live streaming TikTok lebih diminati sebagai tempat belanja online.

    Jumlah ini tentu saat akan membuat jangkauan audiens saat live streaming menjadi lebih luas dan potensi menjaring para tukang belanja online jauh lebih besar.

    TikTok yang merupakan platform berbentuk media sosial membuat customer secara psikologis lebih nyaman untuk menikmati konten di dalamnya termasuk saat live streaming jual beli online.

    Baca: Gaya hidup tak rmah lingkungan yang layak ditinggalkan

    Sehingga hanya lewat satu platform TikTok saja, customer bisa berselancar menikmati konten-konten yang menghibur sekaligus mencari kebutuhan belanja produk melalui live streaming TikTok.

    Sementara, Shopee hanya berisi konten berupa produk jual beli saja. Ini juga menjadi kelebihan live streaming TikTok

    Secara teknis, aturan 1000 followers sebagai syarat untuk melakukan live streaming di TikTok justru menjadi verifikasi penting sekaligus meningkatkan tingkat kepercayaan calon customer terhadap akun si penjual.

    Aturan ini berbeda dengan Shopee yang memungkinkan akun baru sekalipun untuk melakukan live streaming tanpa syarat minimal followers.

    Baca: Dampak fast fashion untuk lingkungan

    Lalu dalam hal interaksi, live streaming TikTok juga mempermudah penjual dan customer dalam tanya jawab seputar produk dengan adanya fitur Q&A secara real time dan tidak mengganggu tampilan.

    Keuntungannya tentu saja akan membuat customer mendapatkan review secara detail tentang produk yang dijajakan.

    Dalam proses transaksi, live streaming TikTok dilengkapi dengan keranjang kuning yang menjadi etalase produk-produk yang tersedia dan memudahkan customer menentukan pilihan.

     

    Dari sisi keamanan, live streaming TikTok Shop dilengkapi dengan fitur keywords word yang membuat penjual bisa melakukan filter terhadap kata-kata tertentu yang dianggap mengganggu dalam live chat.

    Baca: Kebanyakan belanja nggak bagus untuk lingkungan

    Manfaatnya tentu saja black campaign yang memungkinkan terjadi saat live streaming Tiktok bisa dihindari.

    Berimbangnya kelebihan live streaming TikTok Shop bagi penjual dan juga customer menjadi salah satu penyebab meningkatnya transaksi hingga mencapai 4,4 milliar dolar AS sepanjang tahun 2022 lalu.

    Jumlah tersebut meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya atau sejak diluncurkan pada bulan April 2021 lalu di dua negara berbeda. Yaitu Amerika dan India.

    Tingginya visibilitas TikTok khususnya fitur live streaming dalam transaksi belanja online jelas menjadi ruang profit bagi UMKM untuk memasarkan produknya terutama bagi segmen milenial dan Gen-Z.

  • TikTok Dikabarkan Bahas Kemitraan dengan Sejumlah Perusahaan E-commerce di Tanah AIr

    TikTok Dikabarkan Bahas Kemitraan dengan Sejumlah Perusahaan E-commerce di Tanah AIr

    7cloud.asia – TikTok telah mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan e-commerce di Tanah Air tentang kemungkinan untuk menjalin kemitraan.

    Pembicaraan ini terjadi sebulan setelah pemerintah melarang TikTok untuk menyelenggarakan belanja online, karena ijinnya adalah media sosial. 

    Dilansir VOA Indonesia, TikTok telah berbicara dengan lima perusahaan e-commerce, termasuk Tokopedia, Bukalapak dan Blibli, kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki, Senin (13/11/2023).

    “Beberapa perusahaan e-commerce di Indonesia telah berbicara dengan TikTok,” katanya dalam sebuah wawancara, mengutip apa yang dikatakan oleh para eksekutif perusahaan tersebut kepadanya.

    Baca: Alternatif setelah TikTok dilarang jualan online

    Kementerian Perdagangan Indonesia, Oktober lalu resmi melarang Tiktok menyelenggarakan belanja online untuk melindungi pedagang kecil dan memastikan perlindungan data pengguna.

    Kebijakan ini merupakan pukulan telak bagi TikTok yang terpaksa menutup layanan e-commerce TikTok Shop. TikTok memiliki 125 juta pengguna di Indonesia.

    Namun, menurut VOA Indonesia juru bicara TikTok Indonesia tidak bersedia memberi komentar. Demikian juga dengan Tokopedia.

    Sementara perwakilan Bukalapak mengatakan perusahaannya tidak mengetahui pembicaraan tersebut. Blibli tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    Baca: TikTok resmi dilarang lakukan transaksi online, ini alasan pemerintah

    TikTok dan YouTube sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Meta dalam mengajukan izin e-commerce di Indonesia setelah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu melarang belanja online di platform media sosial.

    Aplikasi TikTok yang dimiliki oleh raksasa teknologi China, Bytedance, juga sedang melakukan pembicaraan dengan sejumlah pemain e-commerce lokal, tambah mereka.

    Teten, salah satu kritikus paling gigih terhadap TikTok Shop sebelum larangan tersebut diberlakukan, mengatakan bahwa ia ditugaskan oleh Presiden Jokowi untuk merumuskan aturan mengenai e-commerce.

    Baca: Bikin UMKM kalah bersaing, alasan pemerintah larang TikTok Shop

    Ia berencana bertemu dengan Chief Executive TikTok Shou Zi Chew akhir bulan ini. “Saya ingin mereka berkomitmen untuk memiliki bisnis berkelanjutan yang tidak merugikan produk UKM dalam negeri,” ujarnya.

    Teten juga mengatakan, dirinya telah mengusulkan pengaturan lebih lanjut mengenai arus barang impor ke dalam negeri, namun tidak merinci lebih lanjut.

    TikTok, YouTube, Meta Incar Lisensi E-Commerce di Indonesia. Sebelum dilarang melakukan belanja online, TikTok Shop mengirim sekitar 3 juta paket setiap hari di Indonesia, kata sejumlah sumber.

    Baca: Pedagang Pasar Tanah Abang keluhkan sepinya pembeli

    Pasar e-commerce Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 160 miliar dolar AS pada tahun 2030 dari 62 miliar dolar pada tahun ini.

    Angka ini dirilis laporan ekonomi internet Asia Tenggara yang diterbitkan bersama oleh Google, Singapura Temasek Holdings, dan perusahaan konsultan Bain & Co.

    Pemain e-commerce besar lainnya di Indonesia mencakup Shopee dan Lazada.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Seperti Ini Dampak Belanja Online pada Lingkungan

    Seperti Ini Dampak Belanja Online pada Lingkungan

    7cloud.asia – Kecanduan belanja online pada konsumen modern tidak hanya membawa rantai pasokan global ke titik yang tidak dapat kembali lagi, namun juga menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar.

    Tanpa disadari kebiasaan belanja online yang belakangan makin booming membawa konsekuensi bencana yang sangat besar terhadap lingkungan dan planet Bumi.

    Martina Igini dalam tulisannya di earth.org menyebut, dampak belanja online dapat dilihat di seluruh dunia.

    Namun, ada satu negara yang dampak industri ini terhadap lingkungan sangat nyata: China. Para ahli memperkirakan bahwa 52,1% penjualan ritel di China berasal dari belanja online pada tahun 2021.

    Keberhasilan ini terutama disebabkan oleh pesatnya evolusi internet dan digitalisasi sistem pembayaran di China. E-commerce di negara ini mampu menghasilkan pendapatan ratusan miliar dolar dari sehari promo belanja online.

    Baca: Belanja sambil berbagi untuk sesama perempuan

    Kelompok pencinta lingkungan hidup mengingatkan, bahwa ekstravaganza belanja ini menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan. 

    Kemasan produknya menyumbang sebagian besar emisi CO2 dari produksi plastik, mencemari ekosistem, serta menambah jumlah sampah dalam jumlah besar ke tempat pembuangan sampah.

    Selain itu, setidaknya 3 miliar pohon ditebang setiap tahunnya untuk menghasilkan 241 juta ton karton pengiriman, demikian temuan kelompok konservasi hutan Canopy.

    Dan dari 86 juta ton kemasan plastik yang diproduksi secara global setiap tahunnya, kurang dari 14% yang didaur ulang.

    Sedangkan di China, statistik menunjukkan bahwa kurir negara tersebut menangani 83 miliar paket ekspres pada tahun 2020 saja, yang mencakup 1,8 juta ton sampah plastik dan hampir 10 juta ton sampah kertas.

    Baca: Ini alasan mengapa anak muda makin gemari thrifting

    Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Green Sense, 780 juta keping sampah kemasan dari belanja online dihasilkan sepanjang tahun 2020 di Hongkong.

    Penelitian itu juga menunjukkan bahwa rata-rata 2,18 buah kemasan digunakan untuk setiap produk pada tahun yang sama, sebagian besar terdiri dari bahan campuran yang sulit didaur ulang.

    Ketika ruang untuk tempat pembuangan sampah semakin langka, China kesulitan mengimbangi tumpukan sampah e-commerce yang semakin meningkat.

    Perusahaan seperti Alibaba kemudian mengembangkan kemasan yang lebih ramah lingkungan, mencoba membalikkan tren tersebut sementara pemerintah China  mengambil langkah-langkah untuk mengatur standar kemasan.

    Pengiriman barang dalam belanja online juga menimbulkan dampak yang tak kecil bagi lingkungan. Hal ini perlu dipertimbangkan.

    Baca: Baju recycle dari ControlNew

    Pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi CO2 yang dihasilkan oleh e-commerce. Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi gas rumah kaca.

    Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.

    Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.

    Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi CO2, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.

    Hal ini karena kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.

    Diterjemahkan dari artikel di earth.org, baca artikel asli di sini

     

  • Pengiriman Barang di Belanja Online Dorong Kenaikan Emisi Karbon yang Berdampak ke Lingkungan

    Pengiriman Barang di Belanja Online Dorong Kenaikan Emisi Karbon yang Berdampak ke Lingkungan

    7cloud.asia – Belanja online kini makin dilirik banyak orang, tak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

    Namun, belanja online juga memicu sederet dampak yang mengancam kelestarian lingkungan akibat emisi karbon yang dihasilkannya.

    Masalah pertama yang dipicu belanja online adalah soal sampah atau limbah dari packaging yang sebagian besar tidak bisa didaur-ulang sehingga memicu naiknya emisi karbon.

    Masalah lain yang ditimbulkan belanja online adalah emisi karbon yang dipicu dari pengiriman merupakan dampak lingkungan belanja online lainnya yang perlu dipertimbangkan.

    Dilansir earth.org, pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon yang dihasilkan oleh e-commerce.

    Baca: Dampak yang dipicu packaging belanja online 

    Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi karbon. Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.

    Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.

    Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi karbon, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.

    Pasalnya, kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.

    Namun, menurut earth.org masalah sebenarnya dari belanja online terletak pada pengiriman cepat.

    Baca: 10 aplikasi belanja online yang paling banyak diunduh

    Ketika teknologi baru meningkatkan transportasi barang dan menjadikannya lebih cepat dari sebelumnya, semakin banyak konsumen yang meminta pengiriman pada hari yang sama dan instan.

    “Dua opsi yang masing-masing tumbuh sebesar 36% dan 17% per tahun,” tulis Martini Igini di earth.org.

    Kedua opsi ini, seperti yang dilaporkan oleh Forum Ekonomi Dunia, sangat populer di China dan menyumbang lebih dari 10% dari total jumlah paket yang dikirim setiap hari, yang rata-rata berjumlah hampir 3 juta.

    Sebuah studi dari MIT menemukan bahwa belanja tradisional memiliki jejak karbon dua kali lipat jika dibandingkan dengan belanja online. Namun wacana ini hanya berlaku jika seseorang tidak mempertimbangkan belanja online yang terburu-buru.

    Memang benar, ketika konsumen memilih pengiriman cepat, emisi yang dihasilkan jauh melebihi emisi yang dihasilkan dari belanja langsung.

    Baca: Gen Z lebih suka TikTok Shop, ini alasannya

    Alasan utamanya adalah perusahaan pengiriman tidak bisa menunggu sampai semua produk tiba sebelum mengirimkannya.

    Ketika berhadapan dengan jangka waktu pengiriman satu atau dua hari, mereka sering kali terpaksa mengirimkan truk yang terisi setengah kapasitasnya, sehingga menghasilkan lebih banyak lalu lintas dan juga menghasilkan emisi.

    Namun pengiriman bukanlah satu-satunya masalah lingkunganyang dipicu belanja online.

    Karena semakin banyak pengecer online,  yang menawarkan opsi untuk mengirim kembali barang dengan mudah dan seringkali gratis, tingkat pengembalian, terutama barang fashion, telah meroket, melebihi 30% dari seluruh barang yang dibeli.

    Sebuah studi tentang perilaku konsumen menunjukkan bahwa 79% konsumen menginginkan pengiriman pengembalian gratis dan 92% dari mereka cenderung membeli lagi jika barang yang mereka beli mudah untuk dikembalikan.

    Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

    Statistik seperti inilah yang memberi insentif kepada perusahaan untuk menawarkan opsi tersebut, karena pada akhirnya akan menguntungkan mereka.

    Tidak ada keraguan bahwa revolusi e-commerce telah membawa manfaat yang sangat besar. Namun, belanja online dan dampaknya terhadap lingkungan tidak boleh diabaikan.

    Saat ini, sebagian besar konsumen lebih memilih kenyamanan daripada kelestarian lingkungan.

    Meskipun upaya perusahaan untuk menjadi lebih berkelanjutan merupakan langkah yang baik menuju arah yang benar, perubahan ini saja tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.

    Konsumen adalah pihak yang mempunyai keputusan akhir, dan perilaku serta keputusan merekalah yang pada akhirnya menentukan dampak dari industri ini.

    Baca: Meski kaya raya aktor ini jalani hidup sederhana

    Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membalikkan tren berbahaya yang terjadi pada e-commerce adalah dengan adanya perubahan pola pikir baik dari pihak produsen maupun konsumen.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Martina Igini

  • Habolnas: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi atau Mendorong Perilaku Konsumtif?

    Habolnas: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi atau Mendorong Perilaku Konsumtif?

    7cloud.asia – Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) merupakan tradisi tahunan yang diinisiasi oleh industri e-commerce melalui Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) sejak tahun 2012 silam.

    Tanggal cantik, 12 Desember 2024 dipilih menjadi puncak momen pesta belanja online nasional atau Harbolnas dengan banjir promo dan penawaran menarik dari berbagai platform belanja daring.

    Pada awalnya, hanya para market place saja yang memeriahkan Harbolnas sebagai ajang kampanye untuk meningkatkan minat masyarakat melakukan belanja online.

    Tapi lambat laun, para entitas bisnis yang sudah mengembangkan platform e-commercenya sendiri, ‘haram’ hukumnya jika tak berpartisipasi dalam pesta belanja ini.

    Tujuan kampanye dari Harbolnas pun terbilang sesuai dengan yang diproyeksikan. Hal ini terlihat dari omzet transaksi dari penyelenggaraan Harbolnas yang semula hanya Rp67,5 miliar (2012) melonjak menjadi Rp25,7 triliun (2023).

    Baca: Jebakan Spaving, belanja boros karena iming-iming diskon

    Tahun ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, optimis bahwa perayaan Harbolnas mampu mencapai target penjualan hingga Rp40 triliun.

    Harbolnas tahun ini diharapkan akan mendongkrak daya beli konsumen serta memberikan kontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal keempat.

    Lantas, mungkinkah perayaan Harbolnas tahun 2024 bisa menjadi momentum rebound perekonomian Indonesia yang beberapa bulan terakhir sedikit lesu?

    Atau sebenarnya perayaan Harbolnas ini justru hanya sekedar angka besar semata yang justru membuat masyarakat terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan?

    Dalam episode SuarAkademia terbarunya, The Conversation membahas isu Harbolnas ini bersama Imam Salehudin, akademisi dan ekonom dari Universitas Indonesia.

    Baca: Cara sederhana hindari jebakan spaving

    Imam mengatakan target transaksi sebesar 40 triliun dalam Harbolnas kali ini terkesan cukup ambisius.

    Berkaca dari capaian total transaksi pada tahun 2022 dan 2023 yang mencapai Rp22,7 Triliun dan Rp25 Triliun, menurutnya pemerintah bisa membuat target yang lebih realistis mengingat daya beli masyarakat sedang tidak stabil.

    Imam menyarankan kepada pemerintah untuk fokus pada pemulihan daya beli daripada mendorong konsumsi berlebihan.

    Meskipun peningkatan konsumsi memang dapat memberikan stimulus positif bagi pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun, perlu diingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada sisi permintaan, melainkan juga pada kualitas sisi produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

    Imam juga menyoroti bahaya perilaku konsumtif secara berlebihan dalam momen Harbolnas kali ini.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Ia melihat bagaimana situasi daya beli masyarakat yang sedang menurun, budaya konsumerisme yang kian populer, dan ketimpangan sosial dalam peringatan Harbolnas ini akan membahayakan masyarakat.

    Ia menambahkan, konsumen mungkin terjebak dalam siklus utang untuk membiayai pembelian yang tidak mendesak, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan jangka panjang.

    Situasi ini, pada gilirannya akan membahayakan untuk perekonomian negara dalam jangka panjang.

    Imam menyarankan agar pemerintah mengadopsi pendekatan yang lebih menyeluruh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Ia menekankan bahwa upaya pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada sisi permintaan melalui kegiatan seperti Harbolnas, tetapi juga harus memperhatikan sisi penawaran.

    Dengan meningkatkan daya saing produk lokal, mendorong masuknya investasi, dan memperbaiki infrastruktur, pemerintah dapat menciptakan iklim bisnis yang kondusif, yang pada akhirnya menarik lebih banyak investasi dan membuka peluang kerja baru.

    Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.