7cloud.asia – Belanja online kini makin dilirik banyak orang, tak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.
Namun, belanja online juga memicu sederet dampak yang mengancam kelestarian lingkungan akibat emisi karbon yang dihasilkannya.
Masalah pertama yang dipicu belanja online adalah soal sampah atau limbah dari packaging yang sebagian besar tidak bisa didaur-ulang sehingga memicu naiknya emisi karbon.
Masalah lain yang ditimbulkan belanja online adalah emisi karbon yang dipicu dari pengiriman merupakan dampak lingkungan belanja online lainnya yang perlu dipertimbangkan.
Dilansir earth.org, pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon yang dihasilkan oleh e-commerce.
Baca: Dampak yang dipicu packaging belanja online
Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi karbon. Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.
Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.
Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi karbon, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.
Pasalnya, kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.
Namun, menurut earth.org masalah sebenarnya dari belanja online terletak pada pengiriman cepat.
Baca: 10 aplikasi belanja online yang paling banyak diunduh
Ketika teknologi baru meningkatkan transportasi barang dan menjadikannya lebih cepat dari sebelumnya, semakin banyak konsumen yang meminta pengiriman pada hari yang sama dan instan.
“Dua opsi yang masing-masing tumbuh sebesar 36% dan 17% per tahun,” tulis Martini Igini di earth.org.
Kedua opsi ini, seperti yang dilaporkan oleh Forum Ekonomi Dunia, sangat populer di China dan menyumbang lebih dari 10% dari total jumlah paket yang dikirim setiap hari, yang rata-rata berjumlah hampir 3 juta.
Sebuah studi dari MIT menemukan bahwa belanja tradisional memiliki jejak karbon dua kali lipat jika dibandingkan dengan belanja online. Namun wacana ini hanya berlaku jika seseorang tidak mempertimbangkan belanja online yang terburu-buru.
Memang benar, ketika konsumen memilih pengiriman cepat, emisi yang dihasilkan jauh melebihi emisi yang dihasilkan dari belanja langsung.
Baca: Gen Z lebih suka TikTok Shop, ini alasannya
Alasan utamanya adalah perusahaan pengiriman tidak bisa menunggu sampai semua produk tiba sebelum mengirimkannya.
Ketika berhadapan dengan jangka waktu pengiriman satu atau dua hari, mereka sering kali terpaksa mengirimkan truk yang terisi setengah kapasitasnya, sehingga menghasilkan lebih banyak lalu lintas dan juga menghasilkan emisi.
Namun pengiriman bukanlah satu-satunya masalah lingkunganyang dipicu belanja online.
Karena semakin banyak pengecer online, yang menawarkan opsi untuk mengirim kembali barang dengan mudah dan seringkali gratis, tingkat pengembalian, terutama barang fashion, telah meroket, melebihi 30% dari seluruh barang yang dibeli.
Sebuah studi tentang perilaku konsumen menunjukkan bahwa 79% konsumen menginginkan pengiriman pengembalian gratis dan 92% dari mereka cenderung membeli lagi jika barang yang mereka beli mudah untuk dikembalikan.
Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living
Statistik seperti inilah yang memberi insentif kepada perusahaan untuk menawarkan opsi tersebut, karena pada akhirnya akan menguntungkan mereka.
Tidak ada keraguan bahwa revolusi e-commerce telah membawa manfaat yang sangat besar. Namun, belanja online dan dampaknya terhadap lingkungan tidak boleh diabaikan.
Saat ini, sebagian besar konsumen lebih memilih kenyamanan daripada kelestarian lingkungan.
Meskipun upaya perusahaan untuk menjadi lebih berkelanjutan merupakan langkah yang baik menuju arah yang benar, perubahan ini saja tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.
Konsumen adalah pihak yang mempunyai keputusan akhir, dan perilaku serta keputusan merekalah yang pada akhirnya menentukan dampak dari industri ini.
Baca: Meski kaya raya aktor ini jalani hidup sederhana
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membalikkan tren berbahaya yang terjadi pada e-commerce adalah dengan adanya perubahan pola pikir baik dari pihak produsen maupun konsumen.
Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Martina Igini

Leave a Reply