Tag: bendungan

  • Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang

    Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang

    7cloud.asia – Hujan deras saat Badai Daniel yang melanda Kota Derna, Libya Timur  mengakibatkan sebuah bendungan jebol.

    Jebolnya bendungan itu mengakibatkan seperempat kota Derna di Libya bagian timur tersapu banjir bandang. Dikhawatirkan menewaskan lebih dari 10.000 orang.

    Sejauh ini, otoritas Kota Derna, Libya teleh menemukan lebih dari 1.500 jenazah. Sementara ribuan warga lainnya belum ditemukan.

    Ada kekhawatiran jumlah korban tewas akan bertambah, dengan 10.000 orang dilaporkan hilang setelah seluruh lingkungan hanyut tersapu akibat banjir bandang itu.

    Menurut  juru bicara kementerian dalam negeri Libya, Mohammed Abu-Lamousha, di Derna saja, korban tewas diperkirakan mencapai 10.000 ribu lebih.

    Baca: Kebakaran lahan di Yunani tewaskan puluhan orang

    Palang merah Kota Derna, menyebut korban tewas yang telah ditemukan mencapai 2,300 orang. Gambar menunjukkan jenazah ditemukan di sejumlah sudut kota.

    Pihak Libya telah menyatakan Derna sebagai zona bencana dan bencana nasional.

    Tamer Ramadan, ketua Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) di Libya, mengatakan: “Kami dapat mengonfirmasi dari sumber informasi independen kami bahwa jumlah orang hilang sejauh ini mencapai 10.000 orang.

    “Korban tewas sangat besar dan mungkin mencapai ribuan.”

    Dia menambahkan bahwa kondisi di Libya “sama buruknya dengan situasi di Maroko”, yang baru-baru ini dilanda gempa bumi dahsyat.

    Dia kemudian mengatakan bahwa lebih dari 40.000 orang harus tinggal di pengungsian karena tempat tinggalnya terdampak bencana. 

    Baca: Kebakaran lahan di Hawaii tewaskan hampir 100 orang

    Sekretaris jenderal dan kepala eksekutif Palang Merah, Jagan Chapagain, Selasa (12/9/2023) mengatakan bahwa tiga sukarelawan dari cabang Libya tewas ketika mencoba membantu keluarga yang terkena dampak banjir.

    Bantuan dari luar telah mulai mencapai Derna pada hari Selasa, lebih dari 36 jam setelah bencana terjadi.

    ‘Mayat tergeletak di mana-mana’

    Jalanan terendam banjir setelah dilanda badai Daniel di Marj, di timur laut Libya

    Hichem Abu Chkiouat, menteri penerbangan sipil di pemerintahan timur, mengatakan: “Saya kembali dari Derna. Ini adalah bencana yang sangat besar.

    “Mayat-mayat tergeletak di mana-mana – di laut, di lembah, di bawah bangunan.”

    Seluruh blok pemukiman terhapus di sepanjang Wadi Derna, sungai yang mengalir dari pegunungan dan melintasi pusat kota.

    Baca: Banjir besaar landa Hong Kong

    Bahkan gedung apartemen bertingkat yang terletak jauh dari sungai sebagian ambruk ke dalam lumpur.

    Mobil-mobil yang terangkat akibat banjir saling bertumpukan.

    Kantor berita pemerintah Libya mengutip Othman Abduljaleel, menteri kesehatan Libya timur yang mengatakan Derna tidak dapat diakses dan mayat-mayat berserakan di sana, 

    “Situasinya lebih signifikan dan lebih buruk dari yang kami perkirakan… Diperlukan intervensi internasional,” katanya.

    Sumber: skynews.com

  • Korban Tewas Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai 20.000 Orang

    Korban Tewas Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai 20.000 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban tewas akibat jebolnya bendungan di Derna, Libya Tiimur terus bertambah. 

    Wali Kota Derna Abdulmenam al-Ghaithi memperkirakan, jumlah korban tewas di kota yang dipimpinnya bisa mencapai 18 ribu sampai 20 ribu orang. Angka itu didasarkan pada jumlah distrik yang hancur diterjang banjir.

    Hingga Sabtu (16/9/2023) korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai 6000an orang, sementara lebih dari 10.000 lainnya dilaporkan belum ditemukan. 

    Topan Daniel yang menyabu wilayah Libya Timur pekan lalu melanda beberapa kota yang terdampak banjir bandang, tapi Derna merupakan yang terparah.

    Hingga Kamis (14/9/2023) puluhan jenazah terdampar ke tepi pantai. Derna berada di antara laut dan dua bendungan. Karena itu, begitu dua bendungan tersebut ambrol, aliran airnya mengirim semua yang dilewatinya ke laut.

    Baca Juga: Demi Bendungan Karian, Ratusan Rumah di Empat Kampung di Lebak Banten Akan Ditenggelamkan

    Itu termasuk ribuan penduduk yang kini masih hilang. Mereka yang terkubur di balik reruntuhan juga belum bisa dievakuasi.

    JawaPos mengutip AFP menyebut, bendungan yang jebol menahan volume air sekitar 1,5 juta ton. Saksi mata mengatakan, ketinggian air mencapai hampir 3 meter di beberapa tempat ketika kejadian.

    Padahal, banjir dengan ketinggian 20 sentimeter saja sudah cukup untuk menjatuhkan seseorang dan membuat mobil mengambang.

    Jebolnya bendungan diduga karena konstruksinya yang tidak sesuai standard. Bendungan tersebut mungkin dibuat dari tanah atau bebatuan yang ditimbun dan dipadatkan sehingga tak sekuat beton.

    Bendungan dari tanah ini lebih rentan runtuh ketika terisi penuh. Situasi bertambah parah karena bendungan tersebut tidak dirawat selama bertahun-tahun.

    Baca Juga: Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang

    Pemerintah Libya yang berbasis di Tripoli meminta agar jaksa menyelidiki penyebab runtuhnya bendungan yang menimbulkan petaka di Derna itu.

    Ketua Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB Petteri Taalas mengungkapkan, sebagian besar kematian dalam bencana banjir di Libya dapat dicegah kalau saja sistem peringatan dini dan manajemen darurat berfungsi dengan baik.

    ’’Jika sistem di Libya berfungsi dengan baik, pasukan manajemen darurat akan mampu mengevakuasi warga dan kita bisa menghindari sebagian besar korban jiwa,’’ ujarnya seperti dikutip Agence France-Presse.

    Saat ini tim evakuasi berkejaran dengan waktu agar bisa menguburkan para korban secepatnya. Hal itu dilakukan agar jenazah yang membusuk tidak menjadi sarang penyakit.

  • Pembangunan Bendungan Menyimpan Segudang Ancaman bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Sejak ribuan tahun silam, bendungan menjadi infrastruktur yang bermanfaat untuk memastikan pasokan air bagi masyarakat, mengendalikan banjir, ataupun menjadi sumber pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

    Namun, seiring waktu, dunia menyadari bahwa dalam jangka panjang mudarat yang timbul akibat bendungan bisa jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

    Walhasil, beberapa negara di Amerika dan Asia kini tengah melakukan perubahan struktur dan bahkan menghancurkan bendungan demi lingkungan.

    Di Eropa, setidaknya ada 239 bendung (peninggian air sungai untuk irigasi) dan bendungan (penahan air di waduk) yang dirobohkan karena berbagai alasan.

    Beberapa di antaranya adalah biaya pemeliharaan yang tinggi, risiko bencana akibat kegagalan struktur, dan dorongan kuat untuk memulihkan lingkungan, terutama ekosistem sungai.

    Baca: Demi bendungan Karian, ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan

    Manfaat penghancuran bendungan ini bahkan turut ditonjolkan dalam produk budaya populer yakni film Frozen 2.

    Di Indonesia, pemerintah Jokowi malah jor-joran membangun bendungan. Presiden Jokowi merencanakan setidaknya sudah menuntaskan pembangunan 60 bendungan hingga tahun depan.

    Bendungan-benduagan ini tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

    Sebagian di antaranya bahkan sudah memunculkan masalah seperti konflik sosial, misalnya proyek Bendungan Bener di Jawa Tengah, hingga kerusakan lingkungan dan kehidupan satwa liar seperti Bendungan Aek Batang Toru di Sumatra Utara.

    Mengingat besarnya risiko dampak lingkungan yang ditimbulkan, Indonesia seharusnya berpikir dua – tiga kali sebelum merencanakan pembangunan bendungan.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering

    Mudarat berlipat proyek bendungan
    Bendungan dapat merusak aspek sosial dan lingkungan di sekitar kehidupan manusia. Ini bermula dari konflik sosial yang timbul pada awal pembangunannya.

    Misalnya, paksaan migrasi bagi penduduk sekitar sungai yang terimbas proyek bendungan.

    Salah satu contohnya adalah keberadaan bendungan-bendungan di Norwegia yang menghancurkan ruang hidup masyarakat adat Saami di Eropa barat laut.

    Penulis India Arundhati Roy dalam bukunya, The Greater Common Good menceritakan dampak pembangunan bendungan di India, yaitu orang-orang tergusur beserta kehidupannya dihancurkan dan ditinggalkan.

    Kasus pembangunan bendungan dan Waduk Jatigede, Jawa Barat, misalnya. Warga setempat pernah menggugat Peraturan Presiden No. 1 tahun 2015.

    Baca: Peringatan akan perubahan iklim sudah mucul sejak 70 tahun silam

    Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan Pembangunan

    Waduk Jatigede karena menganggap pemerintah melakukan diskriminasi dan mengabaikan hak asasi manusia dalam proyek ini.

    Penggunaan material bendungan juga bisa bermasalah. Sebagai contoh, pembangunan Bendungan Bener di Jawa Tengah memerlukan material batuan andesit yang didapatkan dengan cara penambangan di Desa Wadas.

    Penambangan batu dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakkan dengan 5.300 ton dinamit hingga kedalaman 40 meter.

    Penambangan ini berisiko menyebabkan kerusakan sumber mata air yang dapat mengeringkan lahan pertanian sehingga petani berisiko kehilangan mata pencaharian. Selain itu, penambangan juga meningkatkan risiko tanah longsor.

    Kedua, bendungan memblokade aliran alami air. Gangguan ini dapat mengurangi populasi ikan di suatu ekosistem, bahkan menghilangkannya.

    Baca: Perubahan iklim bikin salju abadi Puncak Jaya mencair lebih cepat 

    Sebab, ikan tidak dapat bermigrasi dengan baik ke arah hulu. Habitat ikan dan makhluk perairannya juga dapat terganggu karena terjadi perubahan debit air dan kecepatannya di daerah sungai sekitar bendungan.

    Endapan di waduk bendungan pun bisa membuat sedimen di waduk menumpuk sehingga kualitas air di sekitarnya menurun.

    Kita bisa melihat contohnya di Waduk Sermo di Kulonprogo, DI Yogyakarta, yang mengganggu populasi ikan sidat di Daerah Aliran Sungai Ngrancah.

    Di Amerika Serikat, bendungan di Sungai Corsica menyebabkan kawasan perairan di sekitarnya mengalami eutrofikasi alias peningkatan konsentrasi unsur hara, terutama nitrogen dan fosfor, di kawasan perairan.

    Eutrofikasi berisiko menyebabkan punahnya spesies akuatik, kehilangan vegetasi, penurunan kualitas air, dan peningkatan hipoksia, yakni rendahnya kandungan oksigen dalam air sehingga menyebabkan kematian massal ikan.

    Baca: Danau Sentarum mengering ini dampak yang dirasakan masyarakat

    Bendungan juga dapat meningkatkan ketinggian muka air di hulu sungai sehingga menenggelamkan daerah vegetasi, terutama akar-akar di sekitarnya.

    Tanah yang tergenang air menjadi anoksik, yaitu kehabisan oksigen terlarut yang dapat merusak akar tumbuhan.

    Beberapa tanaman sebenarnya dapat beradaptasi secara sementara untuk mengatasi kurangnya oksigen dalam tanah.

    Namun, tetap saja, dalam jangka panjang ada beberapa spesies yang akan berhenti tumbuh dan mati jika tanaman terus tergenang.

    Dalam kasus lainnya, bendungan bisa berkontribusi terhadap pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Contohnya proyek Bendungan Tucuruỉ di sungai Amazon, Amerika Selatan.

    Baca: Indonesia bakal jadi tuan rumah forum air dunia

    Bendungan Tucuruỉ merendam 20 juta kubik kayu yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Nah, dalam proses penguraian ini dapat melepaskan gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) yang ke atmosfer.

    Pelapukan kayu juga dapat melepaskan metil merkuri yang beracun bagi ikan-ikan.

    Proses dekomposisi material tanah yang tergenang air waduk juga melepaskan nitrogen dan fosfor. Kedua material ini menjadi nutrisi yang meningkatkan pertumbuhan tanaman terapung raksasa seperti kiambang (Salvinia molesta), enceng gondok (Eichhornia crassipes), dan selada air (Pistia stratiotes).

    Pertumbuhan tanaman akuatik yang relatif cepat bisa berbahaya. Pasalnya, penumpukan tanaman ini dapat menyulitkan masyarakat mengakses air waduk.

    Juga mengurangi volume waduk, dan menurunkan fungsi pompa pada intake atau saluran air masuk bendungan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

  • Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    7cloud.asia – Di masa lalu bendungan menjadi harapan banyak negara untuk ekonominya. Selain untuk pembangkit listrik bendungan juga bisa untuk irigasi dan juga berpotensi menggerakkan industri perikanan darat. 

    Namun, seiring waktu, dunia menyadari bahwa dalam jangka panjang mudarat yang timbul akibat bendungan bisa jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

    Walhasil, beberapa negara di Amerika dan Asia kini tengah melakukan perubahan struktur dan bahkan menghancurkan bendungan demi lingkungan.

    Di Eropa, setidaknya ada 239 bendung (peninggian air sungai untuk irigasi) dan bendungan (penahan air di waduk) yang dirobohkan karena berbagai alasan.

    Lantas, mungkinkah membangun  bendungan lebih ramah lingkungan?
    Usaha membuat bendungan yang ramah lingkungan merupakan hal sulit, tapi tidak mustahil.

    Baca: Pembangunan bendungan menyimpan sederet masalah untuk lingkungan

    Pemerintah juga mesti memastikan pembangun melakukan analisis dampak lingkungan secara memadai dan pemantauan dampaknya setelah bendungan beroperasi.

    Sementara, pembangun bendungan dapat mengupayakan beberapa teknik rekayasa dengan memperhatikan aspek lingkungan seperti aliran sungai dan pola migrasi ikan.

    Salah satu contohnya adalah pengurangan ketinggian bendungan agar ikan dari hulu bisa lewat.

    Sementara, untuk ikan yang bermigrasi ke hulu sungai, pembangun bisa menyiapkan infrastruktur tangga ikan.

    Pembangun juga perlu mendesain turbin bendungan lebih efisien dan fleksibel. Harapannya, produksi listrik dapat dihentikan sementara, selama periode migrasi ikan berlangsung.

    Baca: Ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan demi pembangunan Waduk Karian  

    Untuk memantau penerapan hal ini, sistem kecerdasan buatan geospasial dapat membantu pemantauan secara akurat perubahan detail pada setiap aktivitas bendungan.

    Solusi lainnya adalah pengutamaan gerakan turbin secara alami dengan memanfaatkan arus sungai tanpa harus membangun bendungan yang mengganggu arus sungai.

    Metode seperti ini acap dikenal sebagai tenaga mikrohidro.

    Pemerintah juga dapat bercermin dari proyek bendungan yang diklaim ramah lingkungan di beberapa negara.

    Bendungan Nam Theun di Laos, dan Bendungan Glen Canyon di Amerika serikat dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan bendungan yang ramah lingkungan.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering 

    Pembangunan bendungan ini dapat dilaksanakan dengan risiko yang rendah terhadap aliran sungai dan ekosistem di sekitarnya, serta pola migrasi ikan.

    Terakhir, pemerintah dan pembangun juga harus memastikan pelibatan masyarakat dalam perencanaan bendungan.

    Masyarakat harus mendapatkan informasi yang memadai sejak bendungan dalam tahap perencanaan lokasi, terlibat dalam berbagai keputusan, dan mendapatkan kompensasi yang memadai demi meredam risiko konflik sosial.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

  • Refleksi Pembangunan Bendungan di Era Jokowi: Pemeliharaan Bendungan Lama Sangat Penting

    7cloud.asia – Dalam waktu sepuluh tahun pemerintahannya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah membangun 53 bendungan di sejumlah wilayah di tanah air.

    Pembangunan waduk dan bendungan menjadi salah satu program prioritas Jokowi untuk mengatasi krisis air bersih bagi masyarakat dan lahan pertanian.

    Namun, harapan agar bendungan-bendungan ini dapat menekan krisis air di daerah-daerah, justru masih jauh dari kenyataan. Dalam beberapa kasus, bendungan justru menambah masalah baru.

    Sebagai peneliti di bidang sumber daya air, Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management) menelaah pelaksanaan program bendungan (baik yang sudah ada maupun yang baru) sebagai penyedia utama air bersih di sejumlah daerah di tanah air.

    Hasilnya pembangunan bendungan memicu sejumlah masalah, seperti memicu konflik sosial, memicu kerusakan lingkungan.

    Selain itu Rian juga menemukan infrastruktur penunjang belum siap, juga adanya bendungan yang bocor, serta kurangnya pemeliharaan menyeluruh terhadap bendungan yang sudah dibangun.

    Baca: Evaluasi masifnya pembangunan bendungan di era Jokowi

    Refleksi program bendungan
    Dari contoh-contoh ini, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan suatu bendungan dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan irigasi masyarakat bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan desain awalnya.

    Optimalisasi fungsi bendungan sangat bergantung pada kesiapan dan pemeliharaan infrastruktur penunjang secara menyeluruh—mulai dari jaringan distribusi air, pompa, hingga kanal irigasi.

    Jika aspek-aspek ini tidak diprioritaskan dalam perencanaan dan penganggaran, maka efektivitas bendungan akan tereduksi, dan manfaat jangka panjangnya tidak dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.

    Hal ini menekankan pentingnya kerangka kerja pemeliharaan yang terpadu, yang tidak hanya meliputi inspeksi rutin dan perbaikan, tetapi juga mekanisme mitigasi risiko bencana seperti banjir dan cuaca ekstrem.

    Tujuannya untuk memastikan keberlanjutan fungsi dan ketahanan infrastruktur bendungan di Indonesia.

    Baca: Pembangunan bendungan simpan segudang masalah bagi lingkungan

    Pemerintah seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan bendungan-bendungan baru, tetapi juga memberi perhatian serius terhadap pemeliharaan bendungan yang sudah ada.

    Bendungan yang sudah dibangun bertahun-tahun lalu menghadapi risiko penurunan kualitas struktur, sedimentasi yang mengurangi kapasitas penyimpanan air, dan ancaman kebocoran yang dapat membahayakan masyarakat sekitar.

    Bendungan yang ada maupun bendungan baru yang dibangun di era Jokowi masih membutuhkan banyak evaluasi.

    Pemerintahan Prabowo semestinya menampung berbagai rekomendasi solusi dengan pendekatan non-struktural langsung kepada masyarakat, yang memanfaatkan teknologi tepat guna agar dapat dipelihara secara swadaya atau melalui bantuan insentif pemerintah.

    Artikel ini merupakan bagian dari edisi khusus #PantauPrabowo di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland)

  • Jokowi Genjot Pembangunan Bendungan Selama 10 Tahun Berkuasa, Ini Berbagai Masalah yang Ditimbulkannya

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo memilih pembangunan waduk dan bendungan sebagai salah satu program prioritasnya untuk mengatasi krisis air bersih bagi masyarakat dan lahan pertanian.

    Dalam waktu sepuluh tahun pemerintahannya, Jokowi telah membangun 53 bendungan. Ini membuat Jokowi mendapatkan julukan “Raja Bendungan” karena membangun lebih banyak infrastruktur tersebut dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

    Namun, bendungan-bendungan seharusnya dapat menekan krisis air di daerah-daerah, justru masih jauh dari harapan. Dalam beberapa kasus, bendungan justru menambah masalah baru.

    Sebagai peneliti di bidang sumber daya air, berikut ini adalah hasil telaah penulis terhadap pelaksanaan program bendungan (baik yang sudah ada maupun yang baru) sebagai penyedia utama air bersih di sejumlah daerah di tanah air.

    1. Bendungan memicu konflik sosial
    Di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pembangunan Bendungan Raknamo justru memicu konflik di kalangan petani akibat distribusi air yang dinilai tidak adil.

    Sebelum adanya bendungan, konflik hampir tidak terjadi. Sebab, para petani menanam padi dengan memanfaatkan air yang ada.

    Bendungan seharusnya mampu mendukung masa tanam padi. Namun, kenyataannya, petani dengan sawah yang jauh dari bendungan justru tidak mendapatkan pasokan air secara memadai.

    Situasi ini menunjukkan bahwa kehadiran infrastruktur bendungan saja belum cukup untuk menyelesaikan krisis air yang dihadapi masyarakat.

    Kehadiran bendungan juga mengubah bentang pengaliran air di suatu daerah. Ini berdampak pada masyarakat yang bergantung pada pasokan air dari suatu ekosistem, misalnya sungai.

    Tengoklah bendungan Sepaku-Semoi di Kalimantan Timur yang menjadi pemasok air utama untuk Ibu Kota Nusantara (IKN) misalnya, menahan akses masyarakat ke air Sungai Sepaku dari hulu untuk keperluan irigasi.

    Biasanya, meskipun kemarau, warga setempat masih bisa memanfaatkan air dari Sungai Sepaku.

    Baca: Demi Bendungan Karian, ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan

    2. Bendungan merusak lingkungan
    Bendungan Bener menjadi salah satu proyek strategis nasional (PSN) dengan investasi mencapai Rp2,06 triliun.

    Masyarakat Desa Wadas yang tinggal di sekitar bendungan menganggap penambangan batuan andesit sebagai material pembangunan bendungan merusak 28 titik sumber mata air dan mengakibatkan lahan pertanian mereka tidak produktif.

    Pembangunan PLTA yang memanfaatkan bendungan di Batang Boru juga menuai kontra. Pembangunan tersebut menyebabkan fragmentasi bentang alam yang membatasi pergerakan dan akses orang utan tapanuli terhadap sumber makanan.

    Selain itu, akibat bendungan, orang utan yang hanya tersisa 800 ekor ini akan terbatasi aktivitasnya untuk kawin. Alhasil ini mengganggu upaya pelestariannya.

    Pembangunan bendungan ini menjadi sorotan internasional. Power Construction Group of China Ltd (PowerChina), perusahaan yang membangun bendungan tersebut, masuk daftar hitam investasi oleh Norwegian Government Pension Fund Global atau GPFG.

    3. Infrastruktur penunjang belum siap
    Infrastruktur lanjutan, seperti jaringan pipa dan kanal untuk distribusi air dari bendungan ke kawasan yang memerlukan, sering kali belum memadai.

    Hal ini menurunkan efektivitas bendungan karena penduduk tidak bisa langsung memanfaatkan air yang terbendung.

    Sebagai contoh, Warga di sekitar Bendungan Napun Gete, NTT, mengalami krisis air bersih meski infrastruktur tersebut sudah beroperasi sejak 2021.

    Kesulitan terjadi karena infrastruktur perpipaan belum menjangkau dusun-dusun dengan kontur daratan yang lebih tinggi dibandingkan bendungan.

    Krisis berlangsung karena harga air di sana terlalu mahal dan aksesnya terlampau jauh. Warga perlu mengeluarkan uang Rp500 ribu untuk mengisi tangki air 5 ribu liter.

    Di lain pihak, mereka yang tidak memiliki uang perlu berjalan jauh dengan kondisi terjal dan curam. Ini membuat mereka hanya bisa membawa 10-20 liter air. Ini terjadi pada masyarakat di Dusun Natarita, Nusa Tenggara Timur.

    Dusun ini hanya berjarak lima kilometer dari Bendungan Napun Gete yang beroperasi pada 2021.

    Kesulitan akses air sebenarnya sudah dialami warga Dusun Natarita sejak puluhan tahun sebelumnya. Pada tahun 2000an, warga menyebutkan bahwa pemerintah telah membangun embung, tetapi tidak dapat menampung air.

    Baca: Pembangunan bendungan simpan segudang masalah bagi lingkungan

    4. Bendungan bocor
    Kasus bendungan bocor menjadi masalah serius yang merugikan masyarakat di sekitar area bendungan.

    Kebocoran pada bendungan dapat menyebabkan kerusakan yang luas, mulai dari banjir mendadak di area pemukiman seperti di Sukabumi pada Januari 2024, kekeringan ratusan hektare sawah produktif di Jambi pada Juli 2024.

    Kebocoran juga menghilangkan pasokan air bersih yang seharusnya disalurkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti di Aceh pada Januari 2020, dan di Ende pada Januari 2013.

    Dalam banyak kasus, kebocoran ini terjadi akibat faktor konstruksi bendungan yang tidak optimal, kurangnya pemeliharaan berkala, atau perubahan geologi yang tidak terprediksi.

    Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengatasi masalah ini. Pemeriksaan dapat bermula dari pemantauan struktur dan material bendungan secara berkala, hingga peningkatan sistem deteksi dini untuk memantau potensi kebocoran.

    Selain itu, penting bagi pemerintah dan pengelola bendungan untuk memastikan adanya prosedur penanggulangan darurat yang efektif.

    Harapannya, jika kebocoran terjadi, otoritas dapat mengevakuasi masyarakat sehingga kerugian dapat berkurang.

    5. Kurangnya pemeliharaan menyeluruh
    Evaluasi terhadap pemeliharaan bendungan sangat penting. Infrastruktur yang tidak terawat menyebabkan deteksi dini kerusakan tidak optimal sehingga membahayakan fungsi bendungan dalam jangka panjang.

    Kasus ini terjadi dalam Bendungan Irigasi Kasang II Sikayan di Kelurahan Balai Gadang rusak.

    Kurangnya pemeliharaan bendungan dan curah hujan tinggi diikuti dengan perubahan iklim ekstrem memperparah dampak buruknya. Sebanyak 247 orang dievakuasi karena banjir terjadi dengan ketinggian 50-150 cm.

    Bendungan sungai bawah tanah Bribin II di Gunungkidul, Yogyakarta, pun rusak dari tahun 2017 karena badai Cempaka.

    Badai mengganggu pemompaan air hidrolik untuk mengangkat air ke permukaan. Alhasil, efektivitas bendungan dalam menyediakan air bersih warga sekitar jauh berkurang.

    Di Bangli, Bali, sebanyak tiga bendungan—Tingkad Batu, Yeh Badung, dan Tungak Alas, rusak sehingga mengurangi pasokan air untuk pertanian di Bangli.

    Artikel ini merupakan bagian dari edisi khusus #PantauPrabowo di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland)

  • Sikapi Banjir Jabodetabek, Pimpinan DPR Soroti Alih Fungsi Lahan dan Pemanfaatan Bendungan Ciawi

    Sikapi Banjir Jabodetabek, Pimpinan DPR Soroti Alih Fungsi Lahan dan Pemanfaatan Bendungan Ciawi

    7cloud.asia – Selain menyoroti alih fungsi lahan, Wakil Ketua DPR Saan Mustopa
    juga menyinggung soal pemanfaatan Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang telah dibangun sebagai penahan banjir.

    Menurutnya, bendungan tersebut harus digunakan secara maksimal agar mampu mengurangi potensi banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

    Hal ini diungkapkan Saan menyikapi banjir besar di Jabodetabek setelah hujan deras mengguyur sejak beberapa hari terakhir.

    Di Jakarta, sejumlah titik terendam banjir akibat luapan Sungai Ciliwung dan sungai-sungai lain yang berhulu di Bogor. Ketinggian air bervariasi, yang menyebabkan kemacetan dan mengganggu aktivitas warga.

    “Ya memang harus digunakan secara maksimal sebagai penyangga untuk menahan banjir. Jadi harus dirawat, nggak bisa dibangun tapi tidak digunakan, bahkan nggak dirawat dengan baik,” ujar Saan usai Rapat Paripurna ke-4 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, kamis (6/3/2025).

    Bendungan Ciawi telah diresmikan pada Desember 2022. Bendungan ini memiliki volume tampung air sebanyak 6,05 juta meter kubik dan luas area genangan 39,40 hektare.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Sementara itu, Bendungan Sukamahi memiliki daya tampung 1,68 juta meter kubik dan luas area genangan 5,23 hektare.

    Dilansir dari laman resmi kementerian Pekerjaan Umum, Bendungan Sukamahi disebut mampu mereduksi debit banjir sebesar 15,47 meter kubik per detik.

    Lebih lanjut, Saan menegaskan bahwa alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan Bogor harus menjadi perhatian serius.

    Ia menyebut bahwa banyak lahan di daerah Puncak dan Cisarua yang telah beralih fungsi secara tidak terkendali, yang berkontribusi terhadap tingginya volume air yang mengalir ke Jakarta saat hujan deras.

    “Alih fungsi ini menjadi penting, jadi harus benar-benar menjadi fokus perhatian. Karena apa? Yang terjadi hari ini, banjir-banjir ini, salah satu faktornya adalah alih fungsi lahan,” kata Saan.

    Ia menilai bahwa perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali telah mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga air langsung mengalir ke sungai dan memperparah banjir di wilayah hilir.

    Baca: Ribuan rumah di Jabodetabek terdampak banjir

    Oleh sebab itu, ia meminta agar alih fungsi lahan di kawasan Bogor tidak dilakukan sembarangan dan harus ditata dengan lebih baik.

    “Lahan-lahan di daerah Bogor, Puncak, dan Cisarua itu banyak yang dialihfungsikan. Nah, alih fungsi ini harus benar-benar menjadi fokus perhatian untuk dibenahi. Harus ditata lebih baik lagi, jadi nggak bisa sembarangan,” tambah Politisi Partai NasDem ini.

    Menurutnya, salah satu faktor utama yang menyebabkan banjir adalah alih fungsi lahan di daerah hulu, khususnya di wilayah Bogor.

    Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya koordinasi lintas wilayah dan lembaga guna menanggulangi permasalahan ini secara komprehensif.

    Karena itu dia menegaskan, langkah pertama yang penting dilakukan adalah tentu koordinasi lintas lembaga, lintas wilayah, misalnya antara Provinsi DKI dan Provinsi Jawa Barat.

    “Itu harus saling berkoordinasi untuk menyelesaikan secara komprehensif terkait dengan banjir ini,” tegas Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) ini.

    Baca: Kepala daerah di Jabodetabek diminta serius tangani masalah lingkungan

     

  • Pembangunan Bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut Ditargetkan Rampung November 2025

    Pembangunan Bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut Ditargetkan Rampung November 2025

    7cloud.asia – Puluhan truk dikerahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, untuk mengangkut sampah limbah hasil penertiban bangunan liar yang berdiri di sepanjang bendung sungai hulu Kali Cikarang dan Kali Bekasi Cikarang Laut (CBL).

    Penertiban bangunan liar di atas tanah negara ini dilakukan untuk kepentingan pembangunan bendungan yang diharapkan mencegah terulangnya banjir besar seperti yang terjadi pada Maret lalu, sekaligus untuk cadangan pengairan pertanian kawasan tersebut.

    “Titik pengangkutan limbah bangunan ini berlokasi di wilayah perbatasan antara Desa Sukajaya di Kecamatan Cibitung dan Desa Kali Jaya di Kecamatan Cikarang Barat,” kata Koordinator Lapangan UPTD Wilayah III DLH Kabupaten Bekasi Amit Setiawan di Cikarang, Kamis (8/5/2025).

    Langkah ini sekaligus bentuk nyata dalam mendukung kelancaran pembangunan proyek strategis bendungan Kali CBL oleh pemerintah daerah, sebagai upaya menyuplai air irigasi di areal persawahan wilayah utara daerah itu.

    Selain mengerahkan truk pengangkut, kata dia, puluhan personel kebersihan juga turut dilibatkan dalam proses pembersihan sisa puing bangunan hasil penertiban bangunan liar, termasuk melibatkan peran aktif unsur TNI/Polri, Satpol PP, Dinas Bina Marga, serta instansi terkait lain.

    Baca: Perencanaan pembangunan untuk cegah banjir besar terulang di Bekasi

    Amit memastikan proses pembersihan dilakukan secara menyeluruh demi mendukung kelancaran pembangunan proyek strategis bendungan Kali CBL serta penataan ruang agar lebih tertata rapi.

    “Sampah hasil dari penertiban ini, ada jenis sampah campuran kayu, plastik, dan sisa cor bangunan rumah, yang cukup banyak jumlahnya. Kami sangat mendukung penuh proses pembangunan bendungan ini dan kami pastikan lokasi ini segera terbebas dari sisa puing sampah,” katanya.

    Diperkirakan total limbah hasil pembongkaran bangunan liar mencapai seberat 150 ton. Pembersihan sampah sudah dimulai sejak awal pekan ini.

    “Kami estimasi ada sekitar 150 ton sampah sisa material bangunan liar yang akan kami angkut. Kami optimistis bisa selesai secepatnya mengingat kami juga terbantu dengan alat berat dari pelaksana yang ditunjuk pemerintah daerah membangun bendungan ini,” kata dia.

    Pemerintah Kabupaten Bekasi, menargetkan pembangunan Bendung Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) selesai dikerjakan pada November 2025.

    Baca: Bekasi dilanda banjir terburuk dalam 9 tahun terakhir

    “Bendung ini akan mengalirkan air ke saluran sekunder Kali Srengseng Hilir dan menyuplai kebutuhan irigasi untuk lahan pertanian seluas 7.252 hektare di wilayah utara,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Bekasi Henri Lincoln di Cikarang, Selasa.

    Ia menyatakan pembangunan bendung ini menjadi solusi kekeringan yang kerap melanda areal pertanian saat musim kemarau.

    Lokasi bendung berada di Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung, berbatasan dengan Desa Kalijaya di Kecamatan Cikarang Barat dan Desa Karang Asih Kecamatan Cikarang Utara.

    “Fokus kami menangani kekeringan yang menjadi aspirasi petani wilayah utara. Selama ini, air tidak sampai ke hilir saat kemarau. Pemkab Bekasi dan BBWS Citarum telah menyepakati pembagian tanggung jawab melalui nota kesepahaman,” katanya.

    Baca: Berbagai masalah muncul akibat maraknya pembangunan bendungan

    Henri menjelaskan selama ini para petani di wilayah utara secara swadaya membendung aliran air menggunakan bronjong batu dan cerucuk bambu agar debit air mengalir ke saluran sekunder Kali Srengseng saat musim kemarau.

    Pembangunan bendung sungai hulu ini sempat tertunda selama dua bulan karena menunggu tuntas proses penertiban bangunan liar yang berdiri di atas tanah negara pada sepanjang aliran sungai tersebut.

    Sementara itu, perwakilan Gerakan Petani Utara Aris Sukadam mengapresiasi pembangunan bendung, terlebih infrastruktur tersebut telah lama dinantikan petani sebagai solusi mengatasi gagal panen dan tanam, seperti yang terjadi saat kemarau ekstrem tahun lalu.

    “Kami bersyukur akhirnya pembangunan dimulai. Selama ini kami bergotong-royong membendung air secara manual agar sawah tetap mendapatkan pasokan air,” katanya.

    Kali Srengseng mengalir sepanjang 38 kilometer melintasi tujuh kecamatan di antaranya Karangbahagia, Sukatani, Tambelang, Sukawangi, Sukakarya, Cabangbungin dan Muaragembong.