7cloud.asia – Jumlah korban tewas akibat jebolnya bendungan di Derna, Libya Tiimur terus bertambah.
Wali Kota Derna Abdulmenam al-Ghaithi memperkirakan, jumlah korban tewas di kota yang dipimpinnya bisa mencapai 18 ribu sampai 20 ribu orang. Angka itu didasarkan pada jumlah distrik yang hancur diterjang banjir.
Hingga Sabtu (16/9/2023) korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai 6000an orang, sementara lebih dari 10.000 lainnya dilaporkan belum ditemukan.
Topan Daniel yang menyabu wilayah Libya Timur pekan lalu melanda beberapa kota yang terdampak banjir bandang, tapi Derna merupakan yang terparah.
Hingga Kamis (14/9/2023) puluhan jenazah terdampar ke tepi pantai. Derna berada di antara laut dan dua bendungan. Karena itu, begitu dua bendungan tersebut ambrol, aliran airnya mengirim semua yang dilewatinya ke laut.
Baca Juga: Demi Bendungan Karian, Ratusan Rumah di Empat Kampung di Lebak Banten Akan Ditenggelamkan
Itu termasuk ribuan penduduk yang kini masih hilang. Mereka yang terkubur di balik reruntuhan juga belum bisa dievakuasi.
JawaPos mengutip AFP menyebut, bendungan yang jebol menahan volume air sekitar 1,5 juta ton. Saksi mata mengatakan, ketinggian air mencapai hampir 3 meter di beberapa tempat ketika kejadian.
Padahal, banjir dengan ketinggian 20 sentimeter saja sudah cukup untuk menjatuhkan seseorang dan membuat mobil mengambang.
Jebolnya bendungan diduga karena konstruksinya yang tidak sesuai standard. Bendungan tersebut mungkin dibuat dari tanah atau bebatuan yang ditimbun dan dipadatkan sehingga tak sekuat beton.
Bendungan dari tanah ini lebih rentan runtuh ketika terisi penuh. Situasi bertambah parah karena bendungan tersebut tidak dirawat selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang
Pemerintah Libya yang berbasis di Tripoli meminta agar jaksa menyelidiki penyebab runtuhnya bendungan yang menimbulkan petaka di Derna itu.
Ketua Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB Petteri Taalas mengungkapkan, sebagian besar kematian dalam bencana banjir di Libya dapat dicegah kalau saja sistem peringatan dini dan manajemen darurat berfungsi dengan baik.
’’Jika sistem di Libya berfungsi dengan baik, pasukan manajemen darurat akan mampu mengevakuasi warga dan kita bisa menghindari sebagian besar korban jiwa,’’ ujarnya seperti dikutip Agence France-Presse.
Saat ini tim evakuasi berkejaran dengan waktu agar bisa menguburkan para korban secepatnya. Hal itu dilakukan agar jenazah yang membusuk tidak menjadi sarang penyakit.

Leave a Reply