7cloud.asia – Dalam waktu sepuluh tahun pemerintahannya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah membangun 53 bendungan di sejumlah wilayah di tanah air.
Pembangunan waduk dan bendungan menjadi salah satu program prioritas Jokowi untuk mengatasi krisis air bersih bagi masyarakat dan lahan pertanian.
Namun, harapan agar bendungan-bendungan ini dapat menekan krisis air di daerah-daerah, justru masih jauh dari kenyataan. Dalam beberapa kasus, bendungan justru menambah masalah baru.
Sebagai peneliti di bidang sumber daya air, Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management) menelaah pelaksanaan program bendungan (baik yang sudah ada maupun yang baru) sebagai penyedia utama air bersih di sejumlah daerah di tanah air.
Hasilnya pembangunan bendungan memicu sejumlah masalah, seperti memicu konflik sosial, memicu kerusakan lingkungan.
Selain itu Rian juga menemukan infrastruktur penunjang belum siap, juga adanya bendungan yang bocor, serta kurangnya pemeliharaan menyeluruh terhadap bendungan yang sudah dibangun.
Baca: Evaluasi masifnya pembangunan bendungan di era Jokowi
Refleksi program bendungan
Dari contoh-contoh ini, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan suatu bendungan dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan irigasi masyarakat bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan desain awalnya.
Optimalisasi fungsi bendungan sangat bergantung pada kesiapan dan pemeliharaan infrastruktur penunjang secara menyeluruh—mulai dari jaringan distribusi air, pompa, hingga kanal irigasi.
Jika aspek-aspek ini tidak diprioritaskan dalam perencanaan dan penganggaran, maka efektivitas bendungan akan tereduksi, dan manfaat jangka panjangnya tidak dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Hal ini menekankan pentingnya kerangka kerja pemeliharaan yang terpadu, yang tidak hanya meliputi inspeksi rutin dan perbaikan, tetapi juga mekanisme mitigasi risiko bencana seperti banjir dan cuaca ekstrem.
Tujuannya untuk memastikan keberlanjutan fungsi dan ketahanan infrastruktur bendungan di Indonesia.
Baca: Pembangunan bendungan simpan segudang masalah bagi lingkungan
Pemerintah seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan bendungan-bendungan baru, tetapi juga memberi perhatian serius terhadap pemeliharaan bendungan yang sudah ada.
Bendungan yang sudah dibangun bertahun-tahun lalu menghadapi risiko penurunan kualitas struktur, sedimentasi yang mengurangi kapasitas penyimpanan air, dan ancaman kebocoran yang dapat membahayakan masyarakat sekitar.
Bendungan yang ada maupun bendungan baru yang dibangun di era Jokowi masih membutuhkan banyak evaluasi.
Pemerintahan Prabowo semestinya menampung berbagai rekomendasi solusi dengan pendekatan non-struktural langsung kepada masyarakat, yang memanfaatkan teknologi tepat guna agar dapat dipelihara secara swadaya atau melalui bantuan insentif pemerintah.
Artikel ini merupakan bagian dari edisi khusus #PantauPrabowo di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland)
Leave a Reply