Tag: beras

  • El Nino Mengancam Ketersediaan Beras Nasional, Begini Penjelasan Mentan

    El Nino Mengancam Ketersediaan Beras Nasional, Begini Penjelasan Mentan

    7cloud.asia – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, memastikan  ketersediaan beras nasional cukup baik hingga September 2023, meski saat ini El Nino menghantui dan bisa memicu gagal panen.

    Mentan menyebut, sampai September atau puncak kemarau yang dipicu El Nino, Indonesia masih punya overstock beras di atas 2,7 juta [ton].

    “Artinya, dari setiap bulan masih ada panen di atas 800 ribu hektare, itu menghasilkan cukup untuk kebutuhan (beras, red) kita setiap bulannya di atas 2 jutaan,” kata Mentan usai rapat terbatas (ratas) membahas ketersediaan beras nasional mengantisipasi dampak El Nino di Istana Merdeka, Rabu (02/08/2023).

    Baca: Penyebab El Nino dan dampak yang ditimbulkan

    Dalam rapat tersebut, ungkap Mentan, Presiden juga meminta jajarannya untuk mempersiapkan dan memastikan ketersediaan beras nasional dalam menghadapi fenomena El Nino yang memicu kekeringan dan menurunnya produktivitas pertanian.

    Mentan mengatakan, pihaknya akan mempersiapkan kurang lebih 500 ribu hektare untuk menjaga ketersediaan beras nasional dan antisipasi El Nino.

    “Walaupun dalam kenyataan sampai hari ini tentang El Nino dan lain-lain sebagainya yang digambarkan akan panas dan lain-lain, saya habis cek beberapa waduk-waduk dan dam kita yang besar, ternyata airnya cukup,” kata Syahrul.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 Triliun guna antisipasi kekeringan dampak El Nino

    Mentan pun mengharapkan pemerintah daerah turut mempersiapkan diri dalam menghadapi El Nino.

    Menurutnya, sejumlah daerah telah menyatakan kesiapan untuk mempersiapkan lahan guna menjamin ketersediaan beras nasional mengantisipais dampak El Nino.

    Ia menyebut ada enam daerah utama yang disiapkan, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, tiga Jawa, ditambah dengan Sulawesi Selatan.

    Baca: El Nino mulai memasuki puncaknya, warga diminta antisipasi kekeringan

    “Kemudian ada penyangganya adalah Kalimantan Selatan, NTB [Nusa Tenggara Barat], Banten, dan Lampung.

    “Saya yakin kalau ini bisa bergerak 500 ribu hektare, shorted atau kemungkinan imbas dari El Nino itu kita bisa kendalikan dengan baik,” tandasnya.

    Indonesia diperkirakan akan turut merasakan dampak larangan ekspor beras yang dilakukan India guna mengantisipasi dampak El Nino.

    Baca: Dampak El Nino pada kesehatan

    Seperti diberitakan sebelumnya, pada 20 Juli lalu India melarang ekspor beras non basmati demi menjaga pasokan sekaligus mengantisipasi dampak El Nino.

    Sejumlah negara penghasil beras seprti Vietnam sedang mempertimbangkan hal yang sama.

    Sumber: Setkab

     

  • El Nino Picu Kenaikan Harga Beras, Warga Rangkasbitung mulai Beralih ke Palawija

    El Nino Picu Kenaikan Harga Beras, Warga Rangkasbitung mulai Beralih ke Palawija

    7cloud.asia – Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino berdampak pada menurunnya produksi padi yang berimbas pada naiknya harga beras.

    Dampak El Nino ini juga dirasakan warga Lebak, Banten. Sebagian masyarakat di sana mulai beralih ke palawija sebagai makanan pendamping beras. 

    Yayah(45) warga Rangkasbitung Lebak mengatakan, memasuki Agustus yang disebut sebagai puncak El Nino ini, ia dan keluarganya kini terbiasa sarapan pagi dengan mengkonsumsi palawija sebagai makanan pendamping beras.

    “Kami di tengah El Nino hanya satu kali mengkonsumsi nasi, karena pagi hari cukup ubi kayu juga terkadang jagung,” jelas Yayah seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: Dampak El Nino, warga Bandung Barat mulai kesulitan air bersih

    Yayah mengatakan, kadang ubi kayu itu diolah menjadi kue bolu. Selama ini, kue bolu ubi dari ubi kayu bisa bertahan hingga enam jam, sehingga bisa mengurangi konsumsi beras.

    Peningkatan permintaan palawija juga dirasakan oleh Ahmad, pedagang di Rangkasbitung, Lebak yang sehari-hari menjual ubi jalar. 

    Ahmad menjelaskan selama sepekan terakhir dia bisa menjual dua ton ubi jalar dengan harga Rp7.000/kilogram.

    “Sehingga omzet naik menjadi Rp14 juta, padahal sebelumnya hanya Rp7 juta sepekan.,” ujarnya

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras dikhawatirkan minus

    Meningkatnya permintaan ubi jalar ini, menurut Ahmad, untuk dijadikan makanan pendamping beras menyusul musim kemarau, di mana harga beras jenis medium terjadi lonjakan.

    Karena itu, masyarakat banyak membeli ubi jalar untuk dijadikan makanan pendamping beras itu.

    “Kami mendatangkan ubi jalar itu dari petani langsung,” kata Ahmad.

    Hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lebak beleum menetapkan status darurat meski kekeringan dan krisisis air bersih mulai dirasakan warga.

    Bahkan beberapa waktu lalu juga dilaporkan setidaknya 50 hektare sawah di wilayah ini mengalami gagal panen. 

    Baca: Langkah Kementan antisipasi kemungkinan gagal panen akibat El Nino

    Pemkab Lebak mengatakan akan terus berupaya memenuhi ketersediaan palawija sebagai makanan pendamping beras.

    “Kita menjamin ketersediaan makanan pendamping beras dari komoditas palawija mencukupi dan tidak terdampak El Nino,” urai Kepala Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak. 

    Deni memastikan selama musim kemarau akibat El Nino ini, persediaan palawija sebagai makanan pendamping beras relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

    Deni menyebut, hasil produksi palawija dari Januari hingga pertengahan Agustus 2023 sebanyak 11. 971 ton terdiri dari jagung 2.800 ton, kedelai 185 ton, kacang tanah 131 ton, kacang hijau 13 ton, ubi kayu 10.346 ton dan ubi jalar 1.481 ton.

    Lebak, ujarnya, juga memasok palawija tersebut ke luar daerah, seperti Tangerang dan Jakarta.

    Baca: Antisipasi kekeringan akibat El Nino, pemerintah siapkan dana Rp 8 triliun

    Melimpahnya produksi palawija, kata Deni, karena tanaman palawija yang tidak membutuhkan air banyak seperti tanaman padi sawah.

    Sehingga produksi komoditas tanaman palawija itu di saat musim kemarau juga tetap memanen. “Saya kira makanan pendamping itu bisa menjadi makanan pokok karena kandungan karbohidratnya sama dengan beras,” terangnya.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan, Syahrul Yasin Limpo memperkirakan dampak El Nino tahun ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.

    Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.

    Baca: Mengenal fenomena alam El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    Penulis: Nurakhmayani

  • Meski Banyak Sawah Gagal Panen, Pasokan Beras di bandung Relatif Aman

    Meski Banyak Sawah Gagal Panen, Pasokan Beras di bandung Relatif Aman

    7cloud.asia – El Nino membuat panen beras di sejumlah daerah di Bandung Jawa Barat menurun. 

    Meski demikian, suplai beras ke pasaran di Kabupaten Bandung masih dalam kondisi aman.

    “Insya Allah aman, suplai beras ke pasar (di bandung) juga tidak terganggu dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispakan) juga menyampaikan ketersediaan masih bagus,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ningning Hendasah Kamis (31/08/2023) seperti dilansir Antaranews.

    Baca: Petani di Ciamis Jawa Barat mulai rasakan dampak El Nino

    Terlebih, kata dia, dalam musim panen sebelumnya, ada tambahan sebanyak
    301,185 ton beras. Sehingga suplai beras tidak terganggu.

    Ningning menyebut pihaknya menerapkan antisipasi dalam menghadapi musim kemarau seperti optimalisasi petugas keliling dalam program Pelayanan Keliling Alat Mesin Pertanian (Pangkalan).

    Optimalisasi petugas yang mengamati kekeringan sampai hama, percepatan masa tanam, hingga menggalakkan penanaman padi dengan cara organik.

    “Jadi dengan begitu kami bisa memantau dan mudah-mudahan bisa aman sampai kemarau berakhir,” harapnya.

    Baca: Mengapa El Nino terjadi dan dampaknya bagi petani

    Pada musim kemarau ini, ada 2.231 hektare lahan persawahan di Kabupaten
    Bandung yang terdampak kekeringan dari luasan tanam 21.262 hektare.

    Untuk lahan persawahan yang terdampak kekeringan ini tersebar di beberapa
    kecamatan, terbesar di Rancaekek yakni 746 hektare,

    Kemudian di Solokan Jeruk sebesar 212 hektare, di Banjaran sebesar 120 hektare, dan di Baleendah sebesar 85 hektare.

    Selanjutnya di Cikancung terdampak sebesar 80 hektare, di Paseh sekitar 75
    hektare, di Ciparay sebesar 70 hektare, di Pacet sebesar 69 hektare, di Cileunyi
    sebesar 60 hektare.

    Baca: Pemerintah siapkan dana RP 8 Triliun untuk antisipasi ketahanan pangan selama El nino

    Di Cicalengka sebesar 40 hektare, di Margaasih sebesar 35 hektare, di Nagreg sebesar 30 hektare, di Bojongsoang sebesar 25 hektare, di Katapang sebesar 20 hektare.

    Kemudian di Cimenyan lahan yang terdampak kemarau sebesar 17 hektare, di
    Pameungpeuk ada delapan hektare, di Kertasari delapan hektare, di Majalaya
    sekitar tujuh hektare, di Ibun sekitar enam hektare, dan di Cilengkrang sekitar dua hektare.

    “Jadi yang banyak di Rancaekek, karena di sana luasannya 2.166 hektare,
    kemudian di sana juga kan daerah industri, jadi kalau kemarau lahan yang sumber airnya dari pompa, mungkin berebut dengan pabrik,” jelas Ningning.

    Karena itu, untuk daerah yang masih memiliki persediaan air, Pemkab Bandung
    mendorong percepatan masa tanam.

    Baca: Warga diminta mulai menghemat air

    Sedangkan untuk yang ketersediaan airnya melalui pompanisasi, didorong mengganti jenis tanaman ke hortikultura yang lebih tahan cuaca dan masa panen cepat.

    “Daerah yang ketersediaan airnya memang lewat pompanisasi seperti
    Rancakasumba dan lainnya, kami dorong berganti ke hortikultura yang cepat
    panennya seperti mentimun atau lainnya,” urainya.

    Dengan potensi kekeringan karena kemarau yang diprediksi bisa mencapai
    November 2023, beberapa pihak menilai produksi beras Kabupaten Bandung yang
    pada tahun sebelumnya bisa sampai 289.205,70 ton, bakal terganggu.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BPS Catat Inflasi September 0,19 Persen, Penyumbang Terbesar Beras dan Bensin

    BPS Catat Inflasi September 0,19 Persen, Penyumbang Terbesar Beras dan Bensin

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut beras dan bensin menjadi komoditas penyumbang inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) terbesar pada September 2023 yang mencapai 0,19 persen dibanding bulan sebelumnya.

    “Komoditas penyumbang inflasi secara month-to-month terbesar adalah beras dengan andil inflasi sebesar 0,18 persen, kemudian bensin dengan andil inflasi sebesar 0,6 persen sejalan dengan adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi,” kata Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

    Selain beras dan bensin (BBM), kata Amalia, penyumbang inflasi terbesar berikutnya adalah tarif pulsa ponsel, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, rokok kretek filter, dan daging sapi yang berkontribusi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi September.

    Baca: Kemarau memuncak, harga beras merangkak naik

    Dalam Rilis Perkembangan Indeks Harga Konsumen edisi Oktober 2023 di Jakarta, Senin (2/10/2023), BPS melaporkan perekonomian Indonesia mengalami inflasi 0,19 persen pada September 2023 jika dibanding dengan IHK bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

    Sementara secara kelompok, makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi sebesar 0,35 persen dan berkontribusi 0,09 persen terhadap inflasi September.

    Meski sejumlah komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkontribusi terhadap inflasi, namun BPS juga mencatat terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi.

    Baca: El Nino bisa mengakibatkan produksi beras minus 1,2 juta ton

    Di antaranya adalah telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, dan cabai merah.

    Amalia menambahkan penyumbang deflasi berikutnya adalah tarif angkutan udara, sejalan dengan situasi low season saat ini.

    Bila dilihat secara wilayah, kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Tanjung Pandan dengan inflasi sebesar 1,41 persen.

    Baca: Harga beras dunia terkerek naik

    Komoditas penyumbang inflasi kota tersebut adalah ikan segar dengan andil 0,58 persen, beras 0,40 persen, angkutan udara 0,11 persen, kangkung 0,07 persen, dan kacang panjang 0,07 persen.

    Kota lainnya yang mencatatkan inflasi tertinggi pada September adalah Sumenep (jawa Timur) dengan inflasi 0,72 persen.

    Selanjutnya Kota Bima (NTB) dengan inflasi 0,63 persen, Kota Tual (Maluku) dengan inflasi 0,61 persen.

    Baca: Pasokan pangan dunia terancam perubahan iklim dan krisis geopolitik dunia

    Disusul Kota Kendari (Sulawesi Tenggara) dengan inflasi 0,38 persen, dan Kotabaru (Kalimantan Selatan) dengan inflasi 0,34 persen.

    Sedangkan kota yang mengalami deflasi terdalam yaitu Manokwari (Papua Pegunungan) dengan deflasi 1,70 persen.

     

  • Stok Beras Aman Hingga Akhir Tahun, Jagung Kudu Diimpor untuk Cegah Lonjakan Harga

    Stok Beras Aman Hingga Akhir Tahun, Jagung Kudu Diimpor untuk Cegah Lonjakan Harga

    7cloud.asia – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa saat ini Indonesia memiliki stok beras yang cukup.

    Namun Mendag mengakui, meskipun tidak naik, harga beras di sejumlah daerah masih tinggi dan belum turun.

    “Stok beras cukup, mulai dari pusat, provinsi sampai kabupaten ya, jadi digelontorkan. Memang yang dekat-dekat, seperti Jakarta dan Jawa Barat sebagian sudah turun, tapi yang jauh-jauh belum turun tapi tidak naik lagi,” ujarnya Senin (09/10/2023) usai mengikuti Ratas di Istana Merdeka, Jakarta.

    Baca: Antisipasi gagal panen akibat El Nino, pemerintah kemungkinan akan impor beras

    Ratas yang dipimpin Presiden Joko Widoso ini membahas stabilitas harga komoditas pangan, khususnya jagung, gula, dan beras. 

    Mendag menambahkan, untuk mengantisipasi dampak dari El Nino pemerintah juga tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara untuk pengadaan beras jika memang nanti diperlukan.

    “Tadi diputuskan, kalau diperlukan ada kita bisa beli lagi beras itu walaupun nanti belum tentu dibawa kemari. Jadi, kalau ada kita beli, pada waktu yang diperlukan baru nanti diimpor,” kata Mendag.

    Baca: Meski stok beras aman, mengapa pemerintah tetap akan impor beras?

    Sedangkan untuk gula, Zulkifli mengungkapkan bahwa harga gula mulai berangsur naik yang disebabkan minimnya realisasi pengadaan gula dari luar negeri untuk menutupi kekurangan suplai dari dalam negeri.

    Para pelaku importir gula, kata Zulkifli, baru mengimpor gula itu kira-kira 30 persen.

    “Jadi, yang diharuskan, dikeluarkan persetujuan impornya yang diputuskan neraca komoditas dan dihitung, direkomendasikan oleh perindustrian karena yang menunjuk itu dua ini, baru terealisasi kami cek, lebih kurang 30 persen,” tandasnya.

    Baca: India setop ekspor beras, harga beras dunia melonjak

    Zulkifli mengatakan dalam Ratas ini diputuskan pemerintah akan melakukan impor jagung guna menekan harga jagung pakan ternak yang mulai merangkak naik.

    “Jagung memang berangsur-angsur harga di tempat peternak ya naik. Oleh karena itu, tadi ditambah, ditambah karena kita impor jagung untuk industri, ditambah sebanyak 250 ribu ton tadi,” terangnya. 

    Baca: Dampak El Nino roduksi beras Indonesia bisa minus 1,2 juta ton

    Zulkifli menekankan, jagung yang diimpor tersebut hanya diperuntukkan untuk pakan ternak dan bukan untuk konsumsi.

    “Untuk peternakan, untuk industri, untuk peternakan, bukan konsumsi untuk industri pakan ternak,” tegasnya.

    Sumber: Setkab

     

     

  • Grace Natalie Bilang Lumbung Pangan Perlu Dibuat Masif, Analisis Data Bilang Tidak Tepat

    Grace Natalie Bilang Lumbung Pangan Perlu Dibuat Masif, Analisis Data Bilang Tidak Tepat

    7cloud.asia – Penduduk tiap tahun nambah 3 juta orang. Per orang, butuh 120 kilogram beras per tahun. Sedangkan luas lahan pertanian berkurang 100 ribu hektare (ha) per tahun.

    “Jadi, kita cepat atau lambat kalau enggak menambah secara masif atau membuat lumbung pangan, kita pasti akan krisis pangan,” ujar Grace Natalie, Wakil Ketua Umum Tim Kampanye Nasional pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka,  yang tayang di kanal YouTube TVOneNews pada 23 Januari 2024.

    Benarkah? Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertambahan penduduk setiap tahun memang mencapai 3 juta jiwa.

    Adapun rincian jumlah penduduk dari tahun ke tahun adalah: 2020 sebanyak 270 juta jiwa, 2021 sebanyak 272 juta, 2022 sebanyak 275 juta, dan 2023 mencapai 278 juta jiwa.

    Sementara, luas panen padi pada 2022 mencapai sekitar 10,45 juta ha, naik 40,87 ribu ha atau 0,39% dibandingkan luas panen padi di 2021 yang sebesar 10,41 juta ha.

    Baca: Alih fungsi lahan ancam produksi pangan

    Kenaikan menyebabkan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2022 mencapai 31,54 juta ton, bertambah 184,50 ribu ton atau 0,59% dibandingkan produksi beras pada 2021 yang sebesar 31,36 juta ton.

    Jika dikaitkan dengan konsumsi beras di tahun yang sama, menurut data Kementerian Pertanian,konsumsi beras di tahun 2022 sekitar 30.6 juta ton.

    Ini lebih besar dibanding konsumsi di tahun 2021 yang berkisar 30.04 juta ton. Namun hal ini masih setara dengan kenaikan produksi beras di tahun 2022.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa produksi dan konsumsi beras sampai tahun 2022 masih mencukupi kebutuhan konsumsi Masyarakat.

    Adapun luas panen padi pada 2023 menjadi 10,20 juta hektare, menurun sebanyak 255,79 ribu ha atau 2,45% dibandingkan 2022 sebesar 10,45 juta ha.

    Baca: Kekeringan akibat El Nino pengaruhi produksi pangan  

    Akibatnya, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk menurun sebanyak 645,09 ribu ton atau 2,05% menjadi 30,90 juta ton, dibandingkan produksi tahun 2022 sebesar 31,54 juta ton.

    Fenomena cuaca kering El Nino yang terjadi pada 2023 diduga menjadi penyebab penurunan produksi beras.

    Hasil analisis:
    Benar bahwa setiap tahun pertambahan penduduk mencapai 3 juta jiwa, tapi luasan panen padi juga bertambah—kecuali pada 2023, yang mungkin menurun karena El Nino.

    Data-data di atas juga menunjukkan bahwa produksi dan konsumsi beras sampai tahun 2022 masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.

    Walaupun begitu, mengatasi krisis pangan bukan hanya dengan menambah produksi dan menambah luas lahan pertanian, tetapi juga meningkatkan akses masyarakat pada pangan yang sudah tersedia.

    Jadi pernyataan Grace Natalie kurang tepat.

  • Produksi Beras yang Bisa Beradaptasi pada Perubahan Iklim

    Produksi Beras yang Bisa Beradaptasi pada Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan curah hujan yang berdampak pada kekeringan di suatu wilayah, dan banjir di wilayah lainnya, serta peningkatan suhu yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

    Kondisi akibat perubahan iklim tersebut berisiko mempengaruhi produksi sekaligus kualitas beras – makanan pokok yang dikonsumsi 90% masyarakat Indonesia.

    Pasalnya, padi merupakan tanaman yang sensitif terhadap perubahan suhu dan pasokan air yang dipicu perubahan iklim.

    Padi membutuhkan debit air sebesar 450-700 milimeter (mm) selama musim tanamnya atau sekitar 1,9 – 2,25 mm/hari.

    Jika padi kekurangan air, terutama selama tahap tanam dan reproduksi, maka pertumbuhannya akan memburuk. Serangan hama penyakit tanaman juga berisiko lebih intens.

    Pertumbuhan tanaman padi pun rentan terhadap perubahan suhu. Kondisi ideal untuk tanaman padi berkisar 25 – 28 °C dan tidak lebih dari 35 °C.

    Baca: Pemerintah perkirakan impor beras pada 2024 bisa capai 5 juta ton

    Jika suhu melebihi angka itu, maka kualitas maupun kuantitas produksi beras dari padi akan terganggu.

    Studi yang dilakukan Andrianto Ansari, dosen di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menganalisis dampak perubahan iklim terhadap produksi beras di Wonogiri, salah satu sentra pangan Jawa Tengah.

    Hasilnya, pada 2050, temperatur di kawasan tersebut akan naik 1.3 – 2.0 °C. Pada waktu yang sama, kenaikan suhu akan mengubah pola hujan secara spasial (wilayah) dan temporal (waktu).

    Akibatnya, produksi beras kawasan tersebut akan berkurang sekitar 2,56 – 11,77 persen pada 2050 .

    Penelitian ini menjadi asesmen pertama ihwal dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman di lokasi tertentu.

    Kita perlu lebih banyak membuat pemodelan iklim dan tanaman di masa depan berbasis suatu lokasi, terutama lumbung pangan nasional. Pemodelan diperlukan karena efek iklim regional bisa saja berbeda satu sama lain.

    Baca: El nino mengakibatkan produksi beras Indonesia minus

    Pentingnya membuat model iklim dan tanaman berbasis daerah karena model iklim akan memprediksi iklim di masa depan.

    Sedangkan model tanaman mensimulasikan pertumbuhan dan hasil tanaman berbasis data iklim masa depan serta data lainnya seperti data sifat tanah, praktik pengelolaan, dan karakteristik agronomi.

    Dalam hal ini, penggunaan model iklim sebagai input pada model tanaman dilakukan melalui beberapa skenario yang disusun para ilmuwan dari Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change, atau IPCC), yakni Representative Concentration Pathway (RCP) 2.6 (risiko rendah), RCP 4.5 (risiko menengah), RCP 6.0 (risiko cukup berat), dan RCP 8.5 (risiko amat berat).

    Skenario tersebut akan menghasilkan data iklim yang berbeda-beda baik suhu maksimum, suhu minimum, curah hujan, intensitas matahari serta konsentrasi karbon dioksida.

    Perbedaan data iklim tersebut berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi beras karena padi memiliki respons yang berbeda terhadap suhu, ketersediaan air, ataupun intensitas sinar matahari.

    Baca: Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas

    Pemodelan akan menjadi bekal bagi petani untuk menyusun langkah – langkah antisipasi dampak perubahan iklim terhadap pertumbuhan dan produksi beras di sawahnya.

    Strategi berbasis pemodelan
    Pemodelan iklim dan tanaman berbasis lokasi dapat dimanfaatkan petani secara langsung.

    Misalnya, berbasis data tersebut, petani dapat mengubah tanggal tanam yang akan membantu mencegah banjir di musim hujan dan potensi kekurangan air di musim kemarau.

    Strategi ini bertujuan untuk mencegah gagal panen yang mempengaruhi produksi beras.

    Strategi pindah tanam (transplanting) – teknik memindahkan suatu tanaman ke tempat lain – juga dapat diberlakukan untuk menyiasati efek iklim regional yang bervariasi.

    Selain itu, penerapan praktik pengelolaan pupuk yang tepat, seperti meningkatkan frekuensi dan dosis aplikasi pupuk, jumlah pupuk yang diterapkan setiap aplikasinya.

    Juga penggunaan bagan warna (alat bantu pemupukan berdasarkan warna daun padi), menjadi faktor penting dalam meningkatkan produksi padi.

    Baca: Pemanasan global memicu lebih banyak bencana

    Misalnya, penggunaan pupuk nitrogen (N) yang tidak dapat menyeimbangkan kadar fosfor (P) dan kalium (K) akan berdampak negatif terhadap hasil padi, kualitas tanah, dan lingkungan sekitarnya.

    Risiko lainnya adalah rubuhnya tanaman, persaingan gulma, dan serangan hama.

    Petani juga mesti menerapkan manajemen terpadu nutrisi tanaman (IPNM) agar meningkatkan efisiensi nutrisi secara bijaksana untuk meningkatkan kesuburan dan kelestarian tanah.

    Contohnya adalah penggunaan nutrisi pupuk dari sumber organik yang tersedia di lahan pertanian.

    Hal lainnya yang patut diterapkan adalah pengembangan asuransi tanaman. Ini penting untuk melindungi ekonomi petani dari risiko ketidakpastian terkait iklim.

    Bagi pemerintah, pemodelan iklim dan tanaman dapat diprioritaskan di kawasan lumbung pangan nasional. Strategi-strategi adaptasi yang tepat berbasis data iklim juga mesti disosialisasikan secara masif kepada kelompok tani.

    Hal lainnya yang dapat dilakukan pemerintah adalah memperbaiki pengelolaan irigasi, mengembangkan area pertanian baru, dan mengembangkan varietas tanaman tahan panas.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation; Penulis: Andrianto Ansari, dosen di Universitas Gadjah Mada

  • Pasca Pemilu, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak

    Pasca Pemilu, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak

    7cloud.asia – Beberapa hari pasca pemilu, sejumlah harga bahan kebutuhan pokok mulai naik. Seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Harga cabai merah melonjak hingga Rp 100 ribu per kilogram.

    Padahal sebelum pemilu, harga cabai merah masih berada pada kisaran harga Rp 80 ribu per kilogram.

    Harga cabai rawit merah juga melonjak dari harga Rp 75 ribu rupiah per kilogram kini menjadi Rp 100 ribu rupiah per kilogram.

    Harga bawang merah juga naik dari harga sebelumnya Rp 35 ribu kini menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

    Baca: Harga cabai tinggi, omset pedagang turun

    Selain itu harga tomat juga mengalami kenaikan.kini harga tomat dijual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga tomat Rp 20 ribu per kilogram.  

    Kondisi ini dikeluhkan oleh para pedagang. Seperti yang diungkapkan oleh Mak Tole. “Cabe mahal, semua mahal, mbak. Abis pemilu naik semua ini,” kata Mak Tole kepada 7cloud.asia pada Jumat (16/02/2024).

    Hanya bawang putih saja yang harganya masih stabil diangka Rp 35 ribu per kilogram.

    Mak Tole menjelaskan naiknya harga bahan kebutuhan pokok ini selain karena Pemilu juga karena kondisi cuaca.

    Baca: Harga sembako melonjak

    Beberapa wilayah pemasok bahan kebutuhan pokok seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah sering hujan bahkan banjir.

    “Jadi mungkin banyak tanaman yang rusak terendam air. Jadi harga mahal,” ungkapnya.

    Kenaikan harga juga terjadi pada beras. Beras dengan kualitas sedang kini dijual dengan harga Rp 14 ribu per kilogram.

    Padahal sebelum Pemilu, harga beras masih berada pada kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu per kilogram.

    Beras pandan wangi berkualitas premium kini dijual dengan harga Rp 17 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya beras ini dijual dengan harga berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram.

    Baca: Harga beras naik, pedagang sepi pembeli

    “Sekarang parah naiknya. Bukan tiap minggu lagi. Tetapi 2 hari sekali naik,” kata Tami, salah seorang pedagang beras.

    Kenaikan harga beras ini, lanjut Tami, mempengaruhi penjualan. Sejak harga beras naik, banyak pelanggannya yang mengurangi pembelian beras.

    Baik Tami maupun Mak Tole berharap harga-harga kebutuhan pokok dapat kembali normal dan pembeli kembali ramai seperti biasa.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pasca Pemilu 2024 Beras Langka dan Mahal, Pembeli dan Pedagang Menjerit

    Pasca Pemilu 2024 Beras Langka dan Mahal, Pembeli dan Pedagang Menjerit

    7cloud.asia – Masyarakat mengeluhkan langkanya beras premium  dua pekan terakhir. Bahkan pedagang pasar ikut menjerit lantaran harganya terus meroket.

    Menurut Wakil Ketua Komisi VI DPR Sarmuji, kelangkaaan beras dapat terjadi karena fenomena El Nino atau memang stok beras yang diproduksi belum memadai.

    Jika itu disebabkan El Nino, maka menurut Sarmuji persoalannya bakal lebih rumit karena dampak yang dirasakan akan mempengaruhi masa tanam dan juga masa panen.

    Namun, jika produksi beras terbukti kurang, maka jalan satu-satunya ialah mengimpor beras.

    Baca: Jor-joran Bansos jelang pemilu ditengarai memicu lonjakan harga beras

    Meski demikian, Sarmuji mengingatkan untuk tidak merugikan petani lokal, impor jangan dilakukan pada masa panen.

    Ia menyarankan agar kelangkaan ini bisa teratasi satu-satunya jalan harus impor, karena tidak mungkin membiarkan masyarakat mengalami kekurangan ketersedian pangan yang menjadi bahan pokok utama.

    “Bisa saja diatur impor beras pada saat tidak musim panen jadi tidak merugikan petani,” ujarnya saat Kunjungan Kerja Reses Ke Provinsi Jawa Timur, Senin (19/2/2024).

    Lanjut Politisi Partai Golkar ini, pemerintah harus fleksibel terhadap penyesuaian harga beras di pasaran.

    Baca: Pasca Pemilu 2024 harga bahan kebutuhan melonjak

    Ia menghimbau jangan sampai petani yang berproduksi karena dipatok dengan harga eceran tinggi malah menahan angka produksi.

    “Situasi tersebut akan berdampak adanya penimbunan dalam gudang karena tidak adanya kejelasan, kenaikan harga akan terjadi karena langkanya stok beras,” jelasnya.

    Disisi lain, Sarmuji mengatakan sesuai apa yang di instruksikan Presiden Jokowi bahwa banjiri pasar-pasar yang ada dengan produk-produk pangan.

    “Dengan demikian tiap pekan atau bulan harus ada operasi pasar yang memantau akan ketersedian pangan di setiap pasar-pasar. Sehingga kelangkaan pangan bisa teratasi dengan sistem seperti itu,” katanya.

    Baca: Jelang Pemilu 2024, anggaran Bansos melonjak 

    Adapun menurut Bulog, realisasi impor beras tahun 2024 untuk memenuhi kebutuhan dan stabilitas harga mencapai 507.000 ton.

    Perusahaan negara itu mengakui bahwa saat ini tidak dapat menyerap beras lokal karena harga gabah sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

    Diketahui, Bulog mendapatkan penugasan impor sebanyak 2,5 juta ton pada tahun 2024 ini.

    Rinciannya, sebanyak 500.000 ton merupakan penugasan lanjutan dari tahun 2023 dan 2 juta sisanya merupakan penugasan impor khusus tahun 2024.

  • Jelang Ramadan dan Idul Fitri, DPR ingatkan Kemendag untuk Stabilkan Harga Pangan Khususnya Beras

    Jelang Ramadan dan Idul Fitri, DPR ingatkan Kemendag untuk Stabilkan Harga Pangan Khususnya Beras

    7cloud.asia – Pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan diingatkan untuk menstabilkan bahan pangan dan kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak goreng, harganya harus terjangkau oleh masyarakat.

    Menurut Anggota Komisi VI DPR Amin Ak, selain harga yang terjangkau ketersediaan pangan juga harus tercukupi.

    Hal itu,  menurutnya dapat dibenahi melalui tata kelola niaga pangan dan beras yang dilakukan Pemerintah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik.

    “Misalnya untuk minyak goreng produksi melimpah, namun jika ada penimbunan oleh pihak-pihak tertentu, mohon maaf (misalnya) dari pemerintah ada yang terlibat seperti kasus-kasus lalu, maka masyarakat yang jadi korban.

    Baca: Jor-joran bansos jelang Pilpres 2024 diduga memicu kelangkaan stok beras

    Dengan demikian agar tidak terjadi persoalan kunci utama, Pemerintah bisa menjalankan sebagaimana tugas dan fungsinya,” ujar Amin saat Kunjungan Kerja Reses Tim Komisi IV DPR ke Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/02/2024).

    Amin menyorot stok minyak goreng sempat melambung, namun terkadang juga terjadi kelangkaan hingga tidak pernah ada penyelesaian.

    Karena itu dia berharap, kondisi ini tak terulang kembali tahun ini.

    Dia juga menyoroti persoalan yang sedang ramai belakangan ini terkait kelangkaan beras premium di sejumlah toko ritel modern. Bahkan, menurutnya, pedagang pasar ikut menjerit lantaran harga beras terus meroket.

    Baca: Pasca pencoblosan harga beras meroket, ada apa?

    Menurutnya kelangkaan beras yang menjadi bahan pokok seharusnya tidak harus terjadi, jika tak ada silang sengketa antara Kementrian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

    “Jika (Kementan) selalu berbicara stok beras selalu cukup melebihi kebutuhan konsumsi nasional. Namun (Kemendag) bicara data, mengatakan tidak cukup sehingga pilihan selalu impor,” jelasnya.

    Sehingga, Amin mempertanyakan apakah impor beras yang dilakukan pemerintah suatu kebutuhan atau kepentingan. Jika sebuah kebutuhan, artinya produksi dalam negeri yang dihasilkan tidak cukup.

    Namun, jika impor dilakukan untuk kepentingan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain, maka dapat dikaitkan karena ini tahun politik.

    Baca: Anggaran Bansos melonjak, ini kata DPR

    Jutaan ton beras harus impor, lanjutnya, stok beras tercukupi namun harga tinggi akan sangat menghawatirkan

    ”Sebentar lagi umat muslim akan dihadapkan bulan ramadhan dan idulfitri yang pasti kebutuhan pangan ini menjadi bahan pokok yang harus dijamin ketersedianya,” jelasnya.