7cloud.asia – Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino berdampak pada menurunnya produksi padi yang berimbas pada naiknya harga beras.
Dampak El Nino ini juga dirasakan warga Lebak, Banten. Sebagian masyarakat di sana mulai beralih ke palawija sebagai makanan pendamping beras.
Yayah(45) warga Rangkasbitung Lebak mengatakan, memasuki Agustus yang disebut sebagai puncak El Nino ini, ia dan keluarganya kini terbiasa sarapan pagi dengan mengkonsumsi palawija sebagai makanan pendamping beras.
“Kami di tengah El Nino hanya satu kali mengkonsumsi nasi, karena pagi hari cukup ubi kayu juga terkadang jagung,” jelas Yayah seperti dikutip Antaranews.com.
Baca: Dampak El Nino, warga Bandung Barat mulai kesulitan air bersih
Yayah mengatakan, kadang ubi kayu itu diolah menjadi kue bolu. Selama ini, kue bolu ubi dari ubi kayu bisa bertahan hingga enam jam, sehingga bisa mengurangi konsumsi beras.
Peningkatan permintaan palawija juga dirasakan oleh Ahmad, pedagang di Rangkasbitung, Lebak yang sehari-hari menjual ubi jalar.
Ahmad menjelaskan selama sepekan terakhir dia bisa menjual dua ton ubi jalar dengan harga Rp7.000/kilogram.
“Sehingga omzet naik menjadi Rp14 juta, padahal sebelumnya hanya Rp7 juta sepekan.,” ujarnya
Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras dikhawatirkan minus
Meningkatnya permintaan ubi jalar ini, menurut Ahmad, untuk dijadikan makanan pendamping beras menyusul musim kemarau, di mana harga beras jenis medium terjadi lonjakan.
Karena itu, masyarakat banyak membeli ubi jalar untuk dijadikan makanan pendamping beras itu.
“Kami mendatangkan ubi jalar itu dari petani langsung,” kata Ahmad.
Hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lebak beleum menetapkan status darurat meski kekeringan dan krisisis air bersih mulai dirasakan warga.
Bahkan beberapa waktu lalu juga dilaporkan setidaknya 50 hektare sawah di wilayah ini mengalami gagal panen.
Baca: Langkah Kementan antisipasi kemungkinan gagal panen akibat El Nino
Pemkab Lebak mengatakan akan terus berupaya memenuhi ketersediaan palawija sebagai makanan pendamping beras.
“Kita menjamin ketersediaan makanan pendamping beras dari komoditas palawija mencukupi dan tidak terdampak El Nino,” urai Kepala Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak.
Deni memastikan selama musim kemarau akibat El Nino ini, persediaan palawija sebagai makanan pendamping beras relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Deni menyebut, hasil produksi palawija dari Januari hingga pertengahan Agustus 2023 sebanyak 11. 971 ton terdiri dari jagung 2.800 ton, kedelai 185 ton, kacang tanah 131 ton, kacang hijau 13 ton, ubi kayu 10.346 ton dan ubi jalar 1.481 ton.
Lebak, ujarnya, juga memasok palawija tersebut ke luar daerah, seperti Tangerang dan Jakarta.
Baca: Antisipasi kekeringan akibat El Nino, pemerintah siapkan dana Rp 8 triliun
Melimpahnya produksi palawija, kata Deni, karena tanaman palawija yang tidak membutuhkan air banyak seperti tanaman padi sawah.
Sehingga produksi komoditas tanaman palawija itu di saat musim kemarau juga tetap memanen. “Saya kira makanan pendamping itu bisa menjadi makanan pokok karena kandungan karbohidratnya sama dengan beras,” terangnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan, Syahrul Yasin Limpo memperkirakan dampak El Nino tahun ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.
Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.
Baca: Mengenal fenomena alam El Nino dan dampaknya pada lingkungan
Penulis: Nurakhmayani

Leave a Reply