Meski Banyak Sawah Gagal Panen, Pasokan Beras di bandung Relatif Aman

Written by

in

7cloud.asia – El Nino membuat panen beras di sejumlah daerah di Bandung Jawa Barat menurun. 

Meski demikian, suplai beras ke pasaran di Kabupaten Bandung masih dalam kondisi aman.

“Insya Allah aman, suplai beras ke pasar (di bandung) juga tidak terganggu dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispakan) juga menyampaikan ketersediaan masih bagus,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ningning Hendasah Kamis (31/08/2023) seperti dilansir Antaranews.

Baca: Petani di Ciamis Jawa Barat mulai rasakan dampak El Nino

Terlebih, kata dia, dalam musim panen sebelumnya, ada tambahan sebanyak
301,185 ton beras. Sehingga suplai beras tidak terganggu.

Ningning menyebut pihaknya menerapkan antisipasi dalam menghadapi musim kemarau seperti optimalisasi petugas keliling dalam program Pelayanan Keliling Alat Mesin Pertanian (Pangkalan).

Optimalisasi petugas yang mengamati kekeringan sampai hama, percepatan masa tanam, hingga menggalakkan penanaman padi dengan cara organik.

“Jadi dengan begitu kami bisa memantau dan mudah-mudahan bisa aman sampai kemarau berakhir,” harapnya.

Baca: Mengapa El Nino terjadi dan dampaknya bagi petani

Pada musim kemarau ini, ada 2.231 hektare lahan persawahan di Kabupaten
Bandung yang terdampak kekeringan dari luasan tanam 21.262 hektare.

Untuk lahan persawahan yang terdampak kekeringan ini tersebar di beberapa
kecamatan, terbesar di Rancaekek yakni 746 hektare,

Kemudian di Solokan Jeruk sebesar 212 hektare, di Banjaran sebesar 120 hektare, dan di Baleendah sebesar 85 hektare.

Selanjutnya di Cikancung terdampak sebesar 80 hektare, di Paseh sekitar 75
hektare, di Ciparay sebesar 70 hektare, di Pacet sebesar 69 hektare, di Cileunyi
sebesar 60 hektare.

Baca: Pemerintah siapkan dana RP 8 Triliun untuk antisipasi ketahanan pangan selama El nino

Di Cicalengka sebesar 40 hektare, di Margaasih sebesar 35 hektare, di Nagreg sebesar 30 hektare, di Bojongsoang sebesar 25 hektare, di Katapang sebesar 20 hektare.

Kemudian di Cimenyan lahan yang terdampak kemarau sebesar 17 hektare, di
Pameungpeuk ada delapan hektare, di Kertasari delapan hektare, di Majalaya
sekitar tujuh hektare, di Ibun sekitar enam hektare, dan di Cilengkrang sekitar dua hektare.

“Jadi yang banyak di Rancaekek, karena di sana luasannya 2.166 hektare,
kemudian di sana juga kan daerah industri, jadi kalau kemarau lahan yang sumber airnya dari pompa, mungkin berebut dengan pabrik,” jelas Ningning.

Karena itu, untuk daerah yang masih memiliki persediaan air, Pemkab Bandung
mendorong percepatan masa tanam.

Baca: Warga diminta mulai menghemat air

Sedangkan untuk yang ketersediaan airnya melalui pompanisasi, didorong mengganti jenis tanaman ke hortikultura yang lebih tahan cuaca dan masa panen cepat.

“Daerah yang ketersediaan airnya memang lewat pompanisasi seperti
Rancakasumba dan lainnya, kami dorong berganti ke hortikultura yang cepat
panennya seperti mentimun atau lainnya,” urainya.

Dengan potensi kekeringan karena kemarau yang diprediksi bisa mencapai
November 2023, beberapa pihak menilai produksi beras Kabupaten Bandung yang
pada tahun sebelumnya bisa sampai 289.205,70 ton, bakal terganggu.

Reporter: Nurakhmayani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *