Tag: boyolali

  • Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

    Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

     

    7cloud.asia –  Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah punya kiat tersendiri dalam meningkatkan literasi atau minat baca warganya. Pemkab Boyolali selalu mengedepankan komunikasi dan sosialisasi, terutama kepada ruang-ruang lingkup Pendidikan.

    “Kita dorong, kita bangun kesadaran, kata kuncinya adalah membangun kesadaran, kita bangunkan perpustakaan yang baik,” ujar Bupati Boyolali Said Hidayat saat menerima kunjungan kerja Anggota Komisi X DPR, Jumat (14/4/2023) lalu.

    Pemkab Boyolali juga menggalakkan program Boyolali Kaya Cerita. Menurut Hidayat, langkah ini mulai dilakukan tahun 2022 yang lalu dengan menghasilkan 22 buku tentang kearifan lokal Boyolali.

    “Sedangkan di tahun 2023 ini adalah sekitar 39 buku yang dapat kita hadirkan sehingga secara keseluruhan sudah ada 61 buku dalam konsep Boyolali Kaya Cerita,” papar Hidayat

    Apa yang dilakukan Pemkab Boyolali ini berhasil mendongkrak minat baca warga sehingga tingkat literasi kabupaten yang berada kaki gunung Merapi ini berada di peringkat 7 terbaik di tingkat nasional. 

    “Ini bagian juga yang memberikan dorongan anak-anak, karena ini secara rutin dari sekolah-sekolah hadir langsung ke perpustakaan diantar para guru-gurunya juga hadir di perpustakaan untuk apa membaca secara langsung buku-bukunya,” imbuh Hidayat.

    Baca: Menggali pemikiran Kartini lewat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    Dalam kesempatan itu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyampaikan bahwa Komisi X DPR memiliki perhatian serius terkait tingkat literasidi Indonesia yang masih sangat rendah.

    “Kita baru saja membentuk Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP). Kita sedang menggali kenapa kita selalu tertinggal, apakah dari pemerintah, pemerintah itu dari desa kabupaten, kota atau provinsi atau dari pemerintah pusat atau dari masyarakat,” ungkapnya dalam kunjungan ke Boyolali tersebut. 

    Tingkat literasi di Indonesia memang masih memprihatinkan dan butuh perhatian serius oleh pihak-pihak terkait. 

    Merujuk pada data Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki tingkat literasi rendah di tahun 2019. Tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara. 

    Sementara dalam penilain PISA, hasilnya juga tidak jauh berbeda. Di mana, indeks literasi Indonesia berada di posisi 62 dari 68 negara yang dinilai. Rendahnya literasi mengakibatkan rendahnya daya saing tenaga kerja Indonesia di tataran global. 

    Baca: Mengenal sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Menurut Fikri, untuk mengatasi kondisi ini, diperlukan kerjasama lintas sektor. Selain Kemendikbudristek, DPR dan pemerintah daerah juga punya peran sentral dalam meningkatkan minat baca atau literasi masyarakat.  

    “Kita akan terus menggali, sebabnya apa sehingga tingkat literasi ini sangat rendah. Faktanya kan banyak taman bacaan masyarakat, perpustakaan sekolah, nah ini seperti apa. Pada masa sidang nanti akan kita gali. Temuan di Kabupaten Boyolali ternyata tingkat literasinya peringkat 7 terbaik di Indonesia, saya kira best practice nampaknya kalau perlu nanti kita undang juga,” ungkap Fikri.

    Lebih lanjut, Fikri menegaskan harus ada terobosan-terobosan di era digital ini, karena sekarang ini eranya anak-anak pakai gadget, dan hampir semua aspek kehidupan bisa diakses secara daring. 

    “Kita tentu targetnya dalam meningkatkan literasi enggak peduli apakah ini pakai buku secara langsung atau mungkin pakai gawai atau apa saja karena memang eranya berubah, yang terpenting nantinya tingkat literasi bisa meningkat,” ujar Fikri.

     

     

  • Taman Toga di Desa Sidomulyo Boyolali Ini Diharapkan Jadi Pusat Komunitas

    Taman Toga di Desa Sidomulyo Boyolali Ini Diharapkan Jadi Pusat Komunitas

    7cloud.asia – Minggu (23/7/2023) masih pagi, ketika warga RT 01 Desa Sidomulyo, Pulisen Boyolali mulai berdatangan ke salah satu rumah warga setempat. Hari ini mereka akan mulai membuat taman toga lingkungan.

    Lokasi taman toga yang berlokasi di Jalan Regulo, Boyolali itu telah disiapkan sebelumnya. Sebuah bedeng kecil dari bambu dengan atap peneduh siap disulap menjadi taman toga.

    Para ibu datang dengan membawa pisau dan gunting. Mereka akan menyiapkan pot untuk taman toga yang terbuat dari galon air bekas. Para ibu di bawah koordinasi Suwahyuni, Christina Sri Hartati dan Seksiati Sri Wahyuni.

    Sementara para bapak membawa peralatan tukang. Mereka akan menyelesaikan bedeng taman toga.

    Baca: Literasi Bintaro, tumbuhkan minat baca dengan mendongeng dan mewarnai

    Kepada 7cloud.asia Suwahyuni mengatakan taman toga ini dibuat untuk mendukung anjuran pemerintah kabupaten Boyolali untuk menggalakkan taman toga dan taman gizi keluarga.

    “Taman toga ini sekaligus untuk mengurangi sampah plastik dengan menggunakannya untuk pot tanaman. Tidak semua sampah plastik ini tidak berguna, kalau kita bisa mengolah maka bisa dimanfaat,” ujar Seksiati yang biasa disapai Mimin.

    “Dan yang paling penting, taman toga ini untuk mengumpulkan warga agar tetap guyub dan rukun. Ke depannya, kita akan melibatkan anak muda dan juga anak-anak,” imbuh Wahyuni.

    Baca: Kerja bareng pengelola bank sampah dan kader Jumantik jaga kebersihan lingkungan

    Pembangunan taman toga di Sidomulyo, Boyolali ini dibiayai secara swadaya dari hasil botol sisih atau uang sisa belanja para ibu.

    “Besarnya Rp 500 atau Rp 1000 sehari yang lantas dikumpulkan dan digunakan untuk membiayai  kegiatan ibu PKK, beli seragam, piknik bersama termasuk untuk membuat taman toga ini,” terang Wahyuni.

    Untuk sementara taman toga ini dijalankan secara mandiri di bawah koordinasi pengrus PKK setempat. Namun jika memang dibutuhkan, dari pihak kelurahan juga menyediakan pendampingan. 

    Baca: Bank sampah ini nggak punya kantor, tetapi tetap juara

    Keberadaan taman toga ini diharapkan bisa dimanfaatkan warga untuk penyediaan tanaman obat ataupun menambah gizi keluarga.

    Meski di Sidomulyo Boyolali saat ini belum ditemukan kasus stunting disini, lanjut Mimin, taman toga ini diharapkan bisa mencegah stunting karena di sini banyak ibu-ibu muda yang produktif, 

    “Jadi nanti seandainya nanti ada yang mau mengambil tanaman di taman toga ini monggo, silakan,” ujar Wahyuni.

    Christina menambahkan, taman toga ini diharapkan juga bisa menjadi sarana untuk mendidik anak-anak dan generasi muda tentang manfaat tanaman untuk pengobatan terutama untuk pertolongan pertama.

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan

    Dipaparkannya, sekarang ini banyak masyarakat termasuk di Sidomulyo Boyolali ini yang menggunakan obat-obat kimia, padahal tidak semua obat kimia itu baik. 

    Taman toga ini ingin mengajak masyarakat untuk tidak terlalu banyak menggunakan obat-obat kimia, terutama untuk pertolongan pertama ketika sakit ringan, seperti diare, batuk atau luka memar. 

    Dulu waktu kita kecil, ujarnya, kita diajari untuk memanfaatkan obat-obatan tradisional. Di jaman modern ini banyak anak muda yang belum paham nama dan manfaat tanaman. 

    “Kalau nanti hasilnya berlebih nanti bisa kita gunakan untuk tambah uang kas,” terang Christina.

    Baca: Cara mudah memilah sampah

    Keberadaan taman toga ini diharapkan juga dapat menghidupkan kembali bank sampah yang pernah diupayakan warga setempat, tetapi tidak berjalan dengan baik.

     

    “Bank sampah pernah dicoba, tapi belum jalan dengan baik. Mungkin warga di sini mayoritas berjualan sehingga merasa repot untuk memilah dan membawa sampahnya. Selain itu petugas dan tempatnya juga belum ada,” terang Wahyuni soal bank sampah di lingkungannya.

    Lebih jauh ke depan, keberadaan taman toga ini bisa menjadi awal dari usaha desa yang menghasilkan. 

    “Mungkin nanti kalau hasilnya sudah melimpah kita akan buat semacam industri kecil, kunyit atau jahe bubuk yang jika kebutuhan warga sudah terpenuhi kita pasarkan ke luar,” imbuh Christina.

    Baca: Penjelasan mengapa pupuk kandang lebih bagus ketimbang pupuk kimia

     

     

     

     

  • Mengenal Stasiun Telawa, Satu-satunya Stasiun di Wilayah Boyolali

    Mengenal Stasiun Telawa, Satu-satunya Stasiun di Wilayah Boyolali

    7cloud.asia – Stasiun Telawa, demikian satu-satunya stasiun kereta di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini dinamai.

    Stasiun Telawa terletak di desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, dan agak jauh dari pusat Kota Boyolali.

    Stasiun Telawa memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus yang berada di jalur Solo-Semarang.

    Ke arah barat stasiun Telawa, sebelum Stasiun Padas, terdapat Stasiun Gedangan yang sudah tidak aktif lagi karena okupansi yang minim, letaknya yang terpencil, dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan Stasiun Padas.

    Sedangkan ke arah timur stasiun Telawa, sebelum Stasiun Karangsono, terdapat Stasiun Jetis yang juga sudah dinonaktifkan dengan alasan yang sama dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Telawa.

    Baca: Cara Pemkab Boyolali dongkrak literasi

    Kabar baiknya, mulai bulan depan, PT KAI akan melayani penumpang Kereta Api (KA) Banyubiru yang akan naik maupun turun di Stasiun Telawa.

    “Mulai 1 Juni, KA Banyubiru relasi Semarang-Solo akan berhenti di Stasiun Telawa,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo di Semarang, Selasa (28/5/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Jadi, bagi penumpang dari Boyolali yang akan menuju Kota Solo maupun Semarang, kata dia, bisa naik melalui Stasiun Telawa.

    Franoto menambahkan, Stasiun Telawa merupakan satu-satunya stasiun yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali.

    Selama ini, kata dia, KA Banyubiru hanya melayani penumpang yang akan naik dan turun di Stasiun Brumbung, Stasiun Karangsono, Stasiun Padas, Stasiun Gundih, dan Stasiun Salem.

    Baca: Kereta cepat akan dilanjutkan ke Surabaya, bagaimana kelayakannya?

    Ia menjelaskan KA Banyubiru memiliki daya tampung 640 tempat duduk yang terbagi atas kelas ekonomi dan eksekutif

    Menurut dia, harga tiket kelas ekonomi sebesar Rp40 ribu per orang, sedangkan kelas eksekutif sebesar Rp80 ribu per orang.

    KA Banyubiru melayani empat perjalanan setiap hari dengan lama perjalanan sekitar 2 jam.

    Ia menuturkan tambahan stasiun perhentian KA Banyubiru ini diharapkan meningkatkan mobilitas masyarakat pengguna kereta di wilayah Semarang, Grobogan, Boyolali dan Solo.

  • Temu Pengelola Kebun Raya Indonesia 2024: Konservasi Tumbuhan Butuh Perhatian Serius

    Temu Pengelola Kebun Raya Indonesia 2024: Konservasi Tumbuhan Butuh Perhatian Serius


    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) didukung oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali menyelenggarakan kegiatan Temu Pengelola Kebun Raya Indonesia 2024 di Kabupaten Boyolali, Rabu (19/6/202).

    Temu Pengelola Kebun Raya ini untuk meningkatkan kapasitas pengelola kebun raya terkait perkebunrayaan, sekaligus memperkuat koordinasi antara BRIN, selaku pembina pembangunan dan pengelolaan kebun raya di Indonesia.

    Kegiatan ini sekaligus untuk lebih menyosialisasikan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Kebun Raya kepada pengelola kebun raya daerah.

    Dilansir di laman resmi BRIN, Hingga saat ini, konservasi tumbuhan masih menjadi isu strategis yang perlu mendapat perhatian serius.

    BRIN punya peran penting dalam memperkuat upaya konservasi tumbuhan, diantaranya melalui pengembangan kawasan kebun raya di berbagai daerah di Indonesia.

    Baca Juga: Bukan Hanya Kebun Raya Bogor, Berikut Sejumlah Kebun Raya yang Layak Kamu Kunjungi

    Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyatakan, kebun raya memiliki peran vital dalam pelestarian berbagai jenis tumbuhan, khususnya yang terancam punah.

    “Kebun raya menjadi pilihan strategis dalam konteks konservasi tumbuhan, sekaligus kawasan penting bagi pelaksanaan berbagai macam penelitian, mendorong fungsi eduwisata konservasi dan lingkungan, berperan penting dalam memberikan layanan ekosistem, serta menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat,” katanya.

    Merujuk Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023, kebun raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola tersebut.

    Pasal 29 menyatakan bahwa BRIN melakukan pembinaan dan pengawasan pembangunan kebun raya dan pengelolaan kebun raya.

    Hingga Mei 2024, tercatat ada 53 kebun raya di Indonesia. Lima diantaranya dikelola oleh BRIN, 42 kebun raya dikelola oleh pemerintah daerah.

    Baca Juga: Kenali Beragam Jenis Tanaman Bakau di Kebun Raya Mangrove Surabaya

    Sebanyak empat kebun raya dikelola oleh perguruan tinggi, satu kebun raya dikelola oleh BUMN, dan satu kebun raya dikelola oleh swasta.

    Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN R. Hendrian mengungkapkan, jaringan kebun raya yang dimiliki Indonesia adalah satu modal yang sangat penting dalam mendorong upaya konservasi tumbuhan secara ex situ.

    Di sisi lain, tidak banyak negara di dunia yang memiliki jaringan kebun raya sebagaimana yang dimiliki Indonesia.

    Hendrian mengatakan, pembinaan intens terhadap kebun raya-kebun raya di Indonesia perlu dilakukan secara terus menerus agar kesamaan persepsi dan pemahaman antara BRIN – sebagai pembina, dan para pengelola kebun raya di berbagai daerah di Indonesia dapat terus dijaga.

    Demikian pula komitmen jangka panjang dari para pihak, serta kapasitas para pengelola terkait pengelolaan kebun raya tentunya juga harus terus diperkuat,” kata Hendrian.

  • PDI Perjuangan dan PKS Berkoalisi Hadapi Adik Mantan Ajudan Jokowi di Pilkada Boyolali

    PDI Perjuangan dan PKS Berkoalisi Hadapi Adik Mantan Ajudan Jokowi di Pilkada Boyolali

     

    7cloud.asia – PDI Perjuangan dan PKS berkoalisi mengajukan pasangan Marsono-Saifulhaq Mayyazi menjadi bakal calon bupati-wakil bupati Boyolali di kontestasi Pilkada 2024 ini.

    Marsono sebelumnya adalah Ketua DPRD Kabupaten Boyolali, sedangkan Saifulhaq Mayyazi adalah pengusaha yang juga anak dari anggota DPR dari PKS, Abdul Kharis Almasyhari.

    Pasangan Marsono-Saifulhaq Mayyazi resmi mendaftar ke KPUD Boyolali, Kamis (29/8/2024) kemarin. Selain PDI Perjuangan dan PKS, pasangan Marsono-Saifulhaq Mayyazi(Massif) juga mendapat dukungan dari PPP.

    PPP memberikan rekomendasi kepada Marsono-Saiful Mayyazi dalam Pilkada 2024 ini. Rekomendasi itu diserahkan Ketua DPC PPP Boyolali, di Panti Marhaen, sebelum pasangan ini berangkat ke KPU untuk mendaftar.

    Para pendukung Marsono-Saifulhaq Mayyazi dari ketiga partai tersebut, sejumlah ormas dan relawan turut mengantarkan ke KPUD Boyolali, di jalan Perintis Kemerdekaan.

    Baca: Anies Baswedan urung maju di Pilkada Jawa Barat

    Tampak pula Mohammad Said Hidayat dan Wahyu Irawan, yang saat ini menjabat Bupati dan Wakil Bupati Boyolali juga ikut mengantar dengan berjalan kaki bersama rombongan.

    Mereka berangkat sekira pukul 10.30 WIB dari Panti Marhaen ke kantor KPU yang berjarak sekitar 1 kilometer.

    Pasangan Marsono-Saiful akan berhadapan dengan Agus Irawan dan Dwi Fajar Nirwana yang telah mendaftar sehari sebelumnya.

    Agus merupakan adik dari Devid Agus Yunanto yang merupakan mantan ajudan Jokowi saat menjabat sebagai Wali Kota Solo.

    Baca: PDI Perjuangan usung Pramono Anung-Rano Karno di Pilkada Jakarta

    Pasangan itu diusung sembilan partai politik di antaranya Partai Gerindra, PKB, dan Partai Golkar.

    Sejumlah partai politik non parlemen yaitu NasDem, PAN, Demokrat, Perindo, Partai Buruh, dan PSI juga mendukung pasangan ini

    Dilansir Tempo.co, Agus Irawan semula merupakan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Solo tapi telah mengundurkan diri menjelang pencalonannya sebagai bupati Boyolali di Pilkada 2024 ini.

    Dari informasi yang dihimpun Tempo, Dwi Fajar sebelumnya diketahui merupakan anggota DPRD terpilih dari PDI Perjuangan Boyolali. Namun, Dwi Fajar juga telah mengundurkan diri dari anggota DPRD terpilih maupun dari PDIP Boyolali.

     

     

  • Mengenal Marsono dan Saifulhaq Mayyazi, Penantang Calon yang Didukung Jokowi di Boyolali

    Mengenal Marsono dan Saifulhaq Mayyazi, Penantang Calon yang Didukung Jokowi di Boyolali


    7cloud.asia – Di tengah kesibukannya, Saifulhaq Mayyazi yang baru saja maju sebagai calon wakil bupati Boyolali di Pilkada 2024, sering mengisi waktu luang dengan bersepeda.

    Hampir tiap akhir pekan bersama rekan gowesnya yang tergabung di ECC (Era Cycling Community) Saifulhaq Mayyazi bersepeda keliling kota.

    Saat bersepeda itulah, terkadang Saifulhaq Mayyazi sering dihadapkan pada kondisi kampung halamannya, yang akhirnya menggerakkan hatinya untuk ikut andil membangun desa.

    Oleh karenanya, pada Kamis (29/8/2024) Saifulhaq Mayyazi membulatkan tekad maju bersama mantan Ketua DPRD Boyolali, Marsono ikut berjuang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat Boyolali.

    Marsono sebelumnya adalah Kepala Desa atau Kades Kemiri pada 2007-2011. Pada 2015, Marsono mencoba peruntungan dengan maju sebagai caleg pada Pemilu 2015 lewat PDIP.

    Ia pun terpilih menjadi anggota DPRD Boyolali periode 2015-2019. Ia kembali maju sebagai caleg pada Pemilu 2019 dan terpilih lagi untuk periode 2019-2024. Pun demikian di Pileg 2024 lalu.

    Baca: PDI Perjuangan dan PKS berkoalisi melawan calon dukungan Jokowi di Boyolali 

    Sementara, Saifulhaq Mayyazi yang juga anak dari anggota DPR dari PKS, Abdul Kharis Almasyhari selama ini bekerja sebagai pengusaha.

    Saifulhaq Mayazzi, dilahirkan sebagai anak kembar. Dari sang ayah, dia mewarisi darah pejuang pasukan Diponegoro, karena konon leluhurnya dulu salah satu komandan pasukan sang Pangeran Perang Jawa.

    Sementara dari sang ibu mengalir darah Resodimejan Kragilan, di mana jantung Laskar Tentara Pelajar Boyolali berada.

    Sedari kecil orangtuanya memberinya bekal pendidikan yang kuat. Pendidikan sekolah dasar ditempuhnya dengan naik kendaraan umum dari kontrakan orang tuanya di pinggiran kota Surakarta.

    Sementara pendidikan tingkat atasnya sesuai wasiat sang kakek sebagai seorang ulama sepuh NU, ia lalui dengan nyantri di sebuah ponpes di Kuningan Jawa Barat.

    Karena minat dan kemampuannya, ia berhasil lolos saringan masuk Universitas Gadjah Mada. Ia lulus mengantongi gelar Sarjana Ilmu Komputer.

    Baca: Penganiayaan terhadap pendukung Ganjar-Mahfud di Boyolali 

    Selepas dari bangku sarjana, berkat kegigihannya pula ia diterima di sebuah universitas favorit di kota Wales Inggris dengan peminatan Teknologi Informasi.

    Di sini, ia kembali mampu lulus dengan sempurna hingga tersemat gelar MSc di belakang namanya.

    Sepulang dari pengembaraan ilmu, bersama dengan rekan-rekannya ia turut membuka lapangan kerja dengan merintis usaha penerbitan dan percetakan.

    Dari kiprahnya itulah ia akhirnya diamanahi sebagai Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Provinsi Jawa Tengah.

    Dan, kini ia coba menapaki jalan baru dalam hidupnya dengan menjadi calon wakil bupati Boyolali.