Tag: bps

  • BPS Catat Deflasi Sebesar 0,18 persen pada Juli 2024

    BPS Catat Deflasi Sebesar 0,18 persen pada Juli 2024

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat deflasi secara bulanan sebesar 0,18 persen, dengan Indeks Harga Konsumen atau IHK sebesar 106,09 pada Juli 2024

    Dalam konferensi pers, Berita Resmi Statistik yang digelar secara hybrid di Jakarta, Kamis (1/8/2024) BPS menyebut secara tahunan, angka inflasi tercatat sebesar 2,13 persen.

    “Pada Juli 2024, terjadi deflasi sebesar 0,18 persen secara bulanan, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 106,28 pada Juni 2024 menjadi 106,09 pada Juli 2024,” tutur Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia A Widyasanti.

    Pada Juli 2024, Amalia melanjutkan, terjadi deflasi yang lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya. “Deflasi bulan Juli 2024 ini lebih dalam dibandingkan Juni 2024 dan merupakan deflasi ketiga pada 2024,” kata dia.

    Amalia menyebutkan, kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar meliputi makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,97 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,28 persen.

    Baca Juga: Kisah Sukses Petani Milenial Jawa Barat Jaga Angka Inflasi

    Komoditas penyumbang utama deflasi pada kelompok ini adalah bawang merah, cabai merah, tomat, dan daging ayam ras.

    Sementara itu, perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2024 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, pada Juli 2024 terjadi inflasi secara tahunan (year-on year) sebesar 2,13 persen.

    Ini artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,88 pada Juli 2023 menjadi sebesar 106,09 pada Juli 2024.

    Adapun terkait sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, Amalia mengatakan, tercatat 32 provinsi mengalami deflasi dan 6 provinsi mengalami inflasi.

    Baca Juga: BPS: Inflasi April 2024 Sebesar 0,25 Persen, Bawang Merah Penyumbang Terbesar

    “Sebanyak 32 dari 38 provinsi Indonesia mengalami deflasi, sedangkan 6 lainnya mengalami inflasi,” jelas Amalia.

    Deflasi terdalam sebesar 1,07 persen terjadi di Sumatera Barat. Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat Daya sebesar 0,25 persen.

    Menurut laporan BPS, inflasi provinsi year-on-year tertinggi terjadi di Provinsi Papua Pegunungan sebesar 5,09 persen dengan IHK sebesar 110,80, dan inflasi terendah terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,84 persen dengan IHK 103,54.

    Sedangkan, inflasi kabupaten/kota secara tahunan yang tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 6,68 persen dengan IHK sebesar 108,77, dan yang terendah di Kabupaten Bangka Barat sebesar 0,46 persen dengan IHK sebesar 101,63.

  • BPS: Inflasi Oktober 2024 Sebesar 0,08 Persen Disumbang Harga Perhiasan

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan Oktober 2024 sebesar 0,08 persen (month-to-month/mtm) mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei 2024.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan dari 105,93 pada September 2024 menjadi 106,01 pada Oktober 2024.

    Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar (pada Oktober 2024) adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 0,94 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen.

    ”Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen,” katanya di Jakarta, Jumat (1/11/2024).

    Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi antara lain daging ayam ras sebesar 0,04 persen, bawang merah 0,03 persen, tomat dan nasi dengan lauk masing-masing 0,02 persen.

    Kemudian kopi bubuk, minyak goreng, sigaret keretek mesin (SKM), dan telur ayam ras yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

    Tujuh dari sembilan komoditas tersebut termasuk ke dalam golongan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

    Kelompok makanan, minuman, tembakau kembali mengalami inflasi pada Oktober 2024 dan memberikan andil inflasi 0,03 persen setelah mengalami deflasi sejak April 2024.

    “Hal yang sama ditunjukkan dari pola inflasi beberapa komoditas pada kelompok ini. Komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras mengalami inflasi setelah beberapa bulan sebelumnya menjadi penyumbang utama deflasi,” ucap Amalia yang akrab dipanggil Winny.

    Mengenai emas perhiasan sebagai komoditas utama yang mendorong inflasi bulan Oktober 2024, ini dipengaruhi harga emas di pasar internasional terus menunjukkan tren kenaikan.

    Fenomena ini disebut tergambar pada harga emas perhiasan di dalam negeri. Secara historis, komoditas emas perhiasan mengalami deflasi lima kali di tahun 2022 serta deflasi tiga kali di tahun 2023.

    Namun, komoditas emas perhiasan terus mengalami inflasi hingga Oktober 2024 sejak September 2023.

    Untuk kelompok transportasi pada Oktober 2024, memberikan andil deflasi 0,52 persen dengan andil deflasi 0,06 persen.

    Komoditas yang dominan mendorong deflasi kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing 0,06 persen dan 0,01 persen.

    “Untuk komoditas bensin, deflasi sudah terjadi selama dua bulan berturut-turut. Hal ini tentunya seiring dengan penyesuaian harga BBM (Bahan Bakar Minyak) non-subsidi yang dilakukan oleh Pertamina dan sejalan dengan tren penurunan harga minyak di pasar global,” ungkap dia.

    Lebih lanjut, inflasi pada Oktober 2024 didorong oleh komponen inti yang mengalami inflasi 0,22 persen dengan andil inflasi 0,14 persen.

    Komoditas yang memberikan andil inflasi secara dominan pada komponen inti adalah emas perhiasan, nasi dengan lauk, kopi bubuk, serta minyak goreng.

    Selanjutnya, komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi 0,25 persen dengan andil deflasi 0,05 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah bensin dan tarif angkutan udara.

    Komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi sebesar 0,11 persen yang berarti telah mengalami deflasi selama tujuh bulan berturut-turut. Namun tekanan deflasi semakin berkurang pada Oktober 2024.

    Adapun komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen ini adalah cabai merah, cabai rawit, kentang, dan ikan segar.

    Untuk sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, sebanyak 28 dari 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi, sedangkan 10 lainnya mengalami deflasi.

    “Inflasi tertinggi terjadi di Maluku yang sebesar 0,65 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Maluku Utara sebesar 1,05 persen,” ucap Winny.

  • Wujudkan Kebijakan Satu Data, Pimpinan DPR Dorong Revisi UU Statistik

    Wujudkan Kebijakan Satu Data, Pimpinan DPR Dorong Revisi UU Statistik

    7cloud.asia – Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan pentingnya penguatan regulasi bagi Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperkuat implementasi kebijakan satu data.

    Untuk mewujudkan kebijakan satu data ini, Undang-Undang Statistik perlu direvisi agar BPS memiliki payung hukum yang lebih kuat sebagai lembaga pengelola data nasional.

    Ikhwal satu data ini disampaikannya dalam pertemuan dengan BPS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara di Medan, Jumat (15/11/2024)..

    Jangan sampai, ujarnya, setiap kementerian atau lembaga memiliki versi data masing-masing. Dia menegaskan, Indonesia butuh satu sumber data yang terintegrasi, dan BPS harus menjadi acuan utama.

    “Pak Prabowo sudah memberikan contoh bagus dengan menyatakan bahwa tidak ada yang boleh berbicara soal data kecuali BPS. Ini langkah yang harus kita apresiasi,” ujar Cucun dikutip Parlementaria.

    Baca: KTP Sakti yang diperkenalkan Ganjar-Mahfud jadi solusi menuju satu data

    Cucun menambahkan, DPR harus segera merespons isu ini dengan merevisi undang-undang yang berkaitan dengan statistik.

    Menurutnya, penguatan regulasi ini akan memberikan kewenangan lebih besar kepada BPS untuk memastikan semua data yang digunakan pemerintah memiliki keseragaman dan validitas tinggi.

    Cucun menilai bahwa BPS memegang peranan penting sebagai pengelola data nasional yang kredibel.

    Dengan regulasi yang lebih kuat, BPS dapat memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga berjalan lebih baik, sehingga tidak ada tumpang tindih atau perbedaan data yang berpotensi menghambat pelaksanaan program-program pemerintah.

    Dengan satu data BPS, ujarnya, pemerintah akan memiliki dasar yang kokoh untuk merumuskan kebijakan. 

    Baca: Perubahan skema BBM Bersubsidi harus didukung data yang akurat

    “Ini akan membuat semua program menjadi lebih presisi dan tepat sasaran, terutama dalam menjawab kebutuhan masyarakat,” jelas Wakil Ketua DPR Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) ini.

    Politisi PKB ini juga berharap revisi Undang-Undang Statistik dapat segera menjadi prioritas DPR RI.

    Hal ini tidak hanya untuk memperkuat peran BPS, tetapi juga memastikan bahwa data menjadi fondasi utama dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.

    Pertemuan tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong implementasi satu data yang lebih efektif di tingkat pusat maupun daerah.

  • Mengapa Angka Kemiskinan Versi BPS dan Bank Dunia Berbeda

    Mengapa Angka Kemiskinan Versi BPS dan Bank Dunia Berbeda

    7cloud.asia – Sejak lama data Badan Pusat Statistik (BPS) kerap jadi perbincangan hangat publik, khususnya di linimasa.

    Terakhir, BPS merilis angka kemiskinan Indonesia per September 2024 hanya sebesar 8,57 persen dari total jumlah penduduk Indonesia sekitar 24,06 juta jiwa.

    Kontroversi mencuat saat Bank Dunia melansir statistik senada dengan hasil yang jauh berbeda: 60 persen penduduk Indonesia tergolong miskin.

    Warganet kemudian menyoroti berbagai hal mengenai BPS disorot mulai dari metode, kredibilitas, hingga motivasi politik di balik kecilnya angka kemiskinan.

    Di balik kontroversi ini, sebenarnya seperti apa duduk permasalahan perbedaan angka kemiskinan dari BPS dan Bank Dunia?

    Miskin versi BPS
    Secara garis besar, BPS menentukan garis kemiskinan berdasarkan dua komponen utama: kebutuhan makanan dan kebutuhan nonmakanan.

    Kebutuhan makanan BPS mengacu pada kebutuhan energi minimum 2.100 kilokalori (kcal)/kapita/hari. Artinya, secara statistik orang bisa tergolong “tidak miskin” jika ia mampu memenuhi kebutuhan makanan minimum untuk bertahan hidup dan kebutuhan dasar nonmakanan seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

    Misalnya, ilustrasi harga bahan makanan pokok (lansiran survei sosial ekonomi nasional) ditentukan sebasar 2.100 kcal/hari adalah Rp440 ribu/bulan, lalu ditambah kebutuhan nonmakanan sekitar Rp150 ribu/bulan.

    Baca: Bank Dunia sebut 60 persen penduduk Indonesia miskin

    Maka, garis kemiskinannya sekitar Rp590 ribu/bulan/orang, atau sekitar Rp19 ribu/hari/orang dengan asumsi 1 bulan 30 hari.

    Penting untuk diketahui bahwa BPS menghitung kemiskinan berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan, bukan per hari. Besarannya pun disesuaikan untuk tiap provinsi, kota, dan desa berdasarkan harga dan pola konsumsi lokal.

    Garis kemiskinan makanan nasional yang menggunakan satuan rupiah/kapita/bulan periode Maret dan September 2024 ada di angka 433.906 dan 443.433. Adapun periode yang sama tahun lalu ada di angka 424.160 dan 430.508.

    Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2024 menjadi provinsi dengan garis kemiskinan makanan terendah di angka 342.934 dan 350.315. Sedangkan, Papua Pegunungan memiliki tingkat kemiskinan makanan tertinggi sebesar 757.648 dan 820.343.

    Yang perlu dipahami adalah, batas ini bukan berarti orang yang pengeluarannya Rp600 ribu/bulan (sedikit melebihi Rp590 ribu/bulan) sudah tergolong sejahtera. Garis ini bukan batas sejahtera, tapi batas minimum agar tidak dikategorikan miskin.

    Jika ibaratnya batas suhu orang sehat dengan demam yang ditetapkan 38°C sebagai batas kategori orang terjangkit demam. Apakah orang yang suhunya 37,9°C sehat sepenuhnya? Jawabannya bisa iya atau tidak—tergantung persepsi dan intensi tambahan yang akan digunakan.

    Acuan Bank Dunia berbeda
    Sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (Upper Midle Income Country/UMIC), garis kemiskinan versi Bank Dunia untuk Indonesia adalah sebesar 6,85 dolar per orang per hari.

    Angka ini merupakan median di antara 37 negara UMIC lainnya yang menjadi salah satu acuan perhitungan kemiskinan Bank Dunia. Dari perhitungan ini, munculah 60 persen penduduk Indonesia terkategori miskin yang memicu perdebatan publik.

    Baca: Di bawah Jokowi jurang ketimpangan semakin melebar

    Padahal, meski tergolong UMIC, posisi Indonesia masih di batas bawah. Ini terlihat dari pendapatan nasional bruto/PNB per kapita Indonesia sebesar 4.870 dolar, dibandingkan rentang PNB negara-negara UMIC saat ini 4.516 hingga 14.005 dolar

    Adanya perbedaan tersebut membuat penerapan garis kemiskinan versi Bank Dunia sebesar 6,85 dolar secara langsung di Indonesia, cukup beresiko. Apalagi angka kemiskinan Bank Dunia bertujuan untuk melihat posisi negara yang bersangkutan di internasional, bukan implementasi kebijakan pengentasan kemiskinan.

    Kesalahpahaman berikutnya adalah penggunaan kurs nilai tukar pasar untuk mengkonversi garis kemiskinan 6,85 dolar ke dalam rupiah yang seharusnya menggunakan kurs paritas daya beli Purchasing Power Parity (PPP) 2017.

    PPP ini bukan sistem valuta asing yang mengkonversi nilai satu mata uang dengan mata uang lain dengan skema pasar, tetapi lebih kepada daya beli relatif suatu negara terhadap negara lainnya .

    Alhasil, jika batas garis kemiskinan untuk UMIC sebesar 6,85 dolar/hari PPP, maka tidak mutlak nilai tersebut setara Rp109,6 ribu/hari sesuai nilai aktual kurs pasar (Rp16 ribu per dolar ).

    Bisa saja nilainya turun hingga mencapai Rp41 ribu/hari karena ada penyesuaian indeks daya beli aktual daerah tujuan (menyesuaikan dengan kurs PPP Indonesia Rp5.993/dolar).

    Tapi sekali lagi, angka kemiskinan ini untuk melihat posisi Indonesia di Internasional bukan untuk implementasi kebijakan. Dengan demikian angka garis kemiskinan Bank Dunia dan BPS memiliki perannya masing-masing dan tidak dapat dicampuradukan.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Andri Yudhi Supriadi (Statistisi Ahli, Badan Pusat Statistik)

  • Belajar dari Vietnam dan Malaysia: Standar Miskin BPS Perlu Diubah

    Belajar dari Vietnam dan Malaysia: Standar Miskin BPS Perlu Diubah

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik atau BPS menyatakan, hanya sekitar 9 persen masyarakat Indonesia tergolong miskin. Namun, laporan Bank Dunia menunjukkan hal yang berbeda, lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan internasional.

    Adapun garis kemiskinan internasional itu sebesar 6,85 dolar Purchasing Power Parity (PPP) atau setara Rp35.000-41.000per hari per hari.

    Ini bukan sekadar perbedaan angka semata. Publik mempertanyakan kenapa dua lembaga tersebut bisa berbeda angka. Ternyata perbedaan berasal dari dasar asumsi dan metode yang berbeda di antara kedua lembaga tersebut.

    Bank Dunia menetapkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (Upper Midle Income Country/UMIC). Adapun garis kemiskinan versi Bank Dunia untuk Indonesia adalah sebesar 6,85 dolar PPP/orang/hari.

    Yang perlu diperhatikan adalah jumlah 6,85 dolar ke dalam rupiah yang seharusnya menggunakan kurs paritas daya beli Purchasing Power Parity (PPP) 2017 bukan kurs valuta asing.

    Sedangkan BPS menentukan garis kemiskinan berdasarkan dua komponen utama yakni kebutuhan makanan dan kebutuhan nonmakanan.

    Perbedaan angka ini bukan semata-mata soal teknis, tetapi mencerminkan cara kita memahami atau “menyederhanakan” realitas sosial-ekonomi masyarakat Indonesia.

    Jika jutaan orang tidak tergolong miskin menurut negara, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, sewa tempat tinggal, atau biaya kesehatan, maka kita perlu pertanyakan kembali, “Siapa yang kita anggap miskin? Dan siapa yang terlewat dari perhatian kebijakan?”

    Baca: Mengapa angka kemiskinan versi BPS dan Bank Dunia berbeda

    Penetapan garis kemiskinan dari pemerintah kurang relevan
    Menurut penulis, penggunaan standar hidup sebesar Rp 20 ribu /orang/hari justru berisiko meremehkan kondisi riil masyarakat rentan.

    Meskipun terlihat sangat berbeda, angka kemiskinan versi BPS dan Bank Dunia sebenarnya berasal dari sumber data yang sama, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

    Pendekatan yang dilakukan BPS berisiko mengecilkan beban hidup masyarakat di era kini. Sebab acuan alokasi 25 persen untuk komponen nonmakanan bisa jadi terlalu rendah untuk mencerminkan kondisi hidup layak.

    Internet misalnya, buat banyak orang sudah seperti kebutuhan pokok. Belum lagi kebutuhan pendidikan yang kenaikan pertahunnya mencapai 10-15 persen.

    Jika acuan garis kemiskinan terlalu rendah, maka program bantuan sosial berisiko tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

    Padahal sudah jelas, tren demografi nasional saat ini sedang negatif lantaran masyarakat kelas menengah yang sudah naik kelas justru lebih mudah kembali miskin (rentan miskin).

    Padahal dalam situasi seperti kehilangan pekerjaan, jatuh sakit, atau terkena dampak inflasi, kelompok ini sangat rentan untuk langsung jatuh ke dalam kemiskinan absolut. Apalagi untuk mereka yang sudah terjerat dengan pinjaman online.

    Tanpa perlindungan sosial yang memadai, mereka akan terus hidup dalam ketidakpastian, namun tetap tidak terlihat oleh kebijakan resmi negara.

    Baca: Angka statistik dengan realita kemiskinan di Indonesia

    Penetapan kategorisasi individu/keluarga miskin BPS yang sebatas pengeluaran hariannya senilai Rp20 ribu/orang/hari justru mendiskreditkan fenomena kemiskinan nasional yang sebenarnya.

    Angka segitu hanya sekadar cukup untuk menyambung hidup semata, tidak untuk berkembang dalam hidupnya. Dalam topik ini Indonesia bahkan sudah tertinggal dari Vietnam dan Malaysia.

    Vietnam berani tingkatkan standar angka kemiskinan secara signifikan
    Contoh menarik datang dari Vietnam. Secara resmi masih dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah (Lower Middle Income Country/LMIC).

    Namun pemerintah Vietnam justru berani menetapkan garis kemiskinan nasional yang lebih tinggi daripada ambang batas internasional yang digunakan Bank Dunia untuk negara sekelasnya.

    Untuk periode 2021–2025, Vietnam menetapkan garis kemiskinan sebesar VND2 juta/kapita/bulan untuk wilayah perkotaan (sekitar setara Rp 1,3 juta/bulan), jauh di atas standar 3,65 dolar PPP yang lazim digunakan Bank Dunia untuk LMIC.

    Bahkan, pemerintah Vietnam telah mengintegrasikan pendekatan kemiskinan multidimensional, yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, sanitasi, hingga akses informasi.

    Langkah progresif ini menunjukkan bahwa menaikkan garis kemiskinan bukanlah tanda kelemahan ekonomi, melainkan komitmen terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan minimum.

    Menariknya, meskipun menetapkan standar kemiskinan yang tinggi, Vietnam tidak malu mengakui bahwa banyak warganya masih tergolong miskin.

    Baca: Perubahan iklim membuat masyarakat rentan jatuh miskin

    Dengan pendekatan yang lebih realistis, pemerintah Vietnam mencatat bahwa sekitar 18 persen penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan setara 6,85 dolar PPP/hari.

    Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, tetapi Vietnam memilih untuk jujur terhadap kondisi sosial-ekonominya.

    Malaysia: Dari klaim rendah ke realitas yang lebih akurat
    Hal serupa terjadi di Malaysia. Pada tahun 2019, pemerintah Malaysia mengklaim tingkat kemiskinan hanya 0,4 persen.

    Sontak Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti bahwa garis kemiskinan nasional Malaysia, yang saat itu ditetapkan sebesar RM980/rumah tangga/bulan (senial Rp3,8 juta), terlalu rendah dan tidak mencerminkan realitas biaya hidup.

    Menanggapi kritik itu dan bersamaan dengan pandemi Covid-19, Malaysia melakukan reformasi menyeluruh pada tahun 2020 dengan menaikkan garis kemiskinan menjadi RM2.208/rumah tangga/bulan atau senilai Rp8,5 juta.

    Hal ini menyebabkan lonjakan angka kemiskinan menjadi 8,4 persen, namun langkah ini justru membuka jalan bagi kebijakan sosial yang lebih akurat. Dengan data yang akurat, program bansos pemerintah Malaysia seperti Bantuan Prihatin Nasional tepat sasaran.

    Hasilnya, pada 2024, tingkat kemiskinan resmi turun menjadi hanya 1,3 persen—bukan karena garisnya diturunkan, tetapi karena intervensinya menjadi lebih tepat sasaran.

    Baca: Akses digital yang tidak merata langgengkan kemiskinan

    Pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa keberanian menaikkan standar bukanlah bentuk kegagalan, tetapi dasar untuk merancang kebijakan yang lebih adil dan berdampak nyata.

    Pelajaran dari dua negara tier Indonesia di kawasan Asia Tenggara tersebut yang melakukan penyesuaikan garis kemiskinan memang tidak populis dan memiliki risiko politik bagi pemerintahannya.

    Tapi situasi akan cepat berbalik jika pemerintah berkomitmen penuh untuk mengentaskan kemiskinan melalui program yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

    Sebagai sesama negara berkembang, angka pertumbuhan ekonomi Vietnam dan Malaysia bisa dijadikan acuan.

    Indonesia sejak sedekade terakhir selalu berkutat di kisaran 5 persen, sedangkan Malaysia dan Vietnam masing-masing pernah tumbuh lebih dari 8 persen beberapa tahun terakhir.

    Reformasi garis kemiskinan adalah langkah awal untuk memastikan kebijakan publik memberi jaminan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat secara riil tidak hanya angka statistik semata.

    Tanpa akurasi data demografi, program pengentasan kemiskinan berkelanjutan, dan inovasi kebijakan lanjutan bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar masuk dalam jeratan middle income trap atau tidak akan pernah lepas landas menjadi negara maju.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Coversation, Penulis: Dipo Satria Ramli (Doctoral Student in Economics, Universitas Indonesia)

  • Pemerintah Akan Merevisi Garis Kemiskinan Nasional

    Pemerintah Akan Merevisi Garis Kemiskinan Nasional

    7cloud.asia – Anggota Dewan Ekonomi Nasional Arief Anshory Yusuf mengatakan Badan Pusat Statistik (BPS) dan kementerian terkait sedang membahas revisi garis kemiskinan nasional.

    Selama ini, BPS masih menggunakan metode penghitungan kemiskinan yang sama sejak 1998. Arief menyebut proses kajian untuk menyusun metodologi yang baru sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

    “Enam bulan terakhir saya kerja sama dengan teman-teman di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), juga dengan Bank Dunia, lalu komunikasi juga dengan BPS untuk segera merevisi, jadi sudah mulai ada proses,” kata Arief dilansir Tempo Minggu (8/6/2025).

    Menurut dia, proses revisi harus segera diselesaikan tahun ini. Sebab, garis kemiskinan Indonesia sudah semakin mendekati batas kemiskinan ekstrem yang ditetapkan Bank Dunia.

    Padahal, Indonesia sudah masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income).

    Baca: Mengapa angka kemiskinan versi BPS dan Bank Dunia berbeda

    Bank Dunia telah menaikkan garis kemiskinan internasional dari yang semula 2,15 dolar per kapita per hari menjadi 3,00 dolar per kapita per hari.

    Garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle income) juga direvisi dari yang sebelumnya 3,65 dolar menjadi 4,20 dolar.

    Begitu juga dengan garis kemiskinan negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income). Batasnya berubah dari 6,85 dolar menjadi 8,30 dolar. Salah satu pemicu perubahan ini adalah naiknya garis kemiskinan nasional di 16 negara berpendapatan rendah.

    Berbeda dengan BPS, Bank Dunia menggunakan pendekatan paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP), yaitu metode konversi yang menyesuaikan daya beli antarnegara.

    Dalam garis kemiskinan yang baru ini, Bank Dunia mengadopsi PPP 2021. Sebelumnya, Bank Dunia menggunakan PPP 2017.

    Baca: Bank Dunia sebut lebih dari 60 persen penduduk Indonesia miskin

    Menurut Arief, jika dihitung menggunakan PPP terbaru, batas kemiskinan internasional adalah sekitar Rp 545 ribu per orang per bulan. Sedangkan, garis kemiskinan Indonesia saat ini adalah sekitar Rp 595 ribu per orang per bulan.

    Idealnya, kata Arief, garis kemiskinan nasional berada di rentang Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta, jika mengacu pada garis kemiskinan lower-middle income dan upper-middle income.

    Bila diukur menggunakan garis kemiskinan upper-middle income terbaru, angka kemiskinan di Indonesia pada 2024 mencapai 68,25 persen atau sekitar 193,49 juta jiwa.

    Sedangkan, bila menggunakan garis kemiskinan internasional, ada sebanyak 15,42 juta penduduk atau 5,5 persen yang di hidup di bawah garis kemiskinan.

    Sementara itu, berdasarkan garis kemiskinan nasional yang berlaku saat ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Indonesia per September 2024 adalah sebesar 8,57 persen atau sekitar 24,06 juta jiwa.

    BPS sendiri menggunakan pendekatan cost of basic needs atau atau jumlah rupiah minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

    Baca: Vietnam dan Malaysia ubah garis kemiskinan dan berhasil entaskan kemiskinan

  • Dengan Garis Kemiskinan Rp609.160/Bulan, Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Capai 23,85 Juta Orang

    Dengan Garis Kemiskinan Rp609.160/Bulan, Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Capai 23,85 Juta Orang

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik atau BPS pada Jumat (25/7/2025) merilis data jumlah penduduk miskin dan angka kemiskinan nasional.

    Dalam pernyataan resminya, BPS menyebut bahwa persentase penduduk miskin atau angka kemiskinan pada Maret 2025 tercatat sebesar 8,47 persen,

    Dengan data ini berarti angka kemiskinan menurun 0,10 persen poin terhadap September 2024 dan menurun 0,56 persen poin terhadap Maret 2024.

    Adapun jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 23,85 juta orang, turun sekitar 210.000an orang terhadap September 2024 dan menurun 1,37 juta orang terhadap Maret 2024.

    Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (25/7/2024) menjelaskan penduduk miskin adalah warga yang pengeluaran hariannya di bawah garis kemiskinan.

    Garis kemiskinan pada Maret 2025 berdasarkan survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan atau sebesar Rp 20.305 per hari.

    Baca: Pemerintah akan merevisi garis kemiskinan nasional

    Angka ini naik Rp13.918 jika dibanding dengan garis kemiskinan pada September 2024 yang sebesar Rp595.242 per kapita per bulan.

    Adapun komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp454.299,00 (74,58 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp154.861,00 (25,42 persen).

    BPS menyebut, persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2025 sebesar 6,73 persen, naik dibandingkan September 2024 yang sebesar 6,66 persen.

    Sementara itu, persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2025 sebesar 11,03 persen, menurun dibandingkan September 2024 yang sebesar 11,34 persen.

    Jumlah penduduk miskin Maret 2025 perkotaan meningkat sebanyak 0,22 juta orang dibanding September 2024, yakni dari 11,05 juta orang pada September 2024 menjadi 11,27 juta orang pada Maret 2025.

    Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan justru menurun sebanyak 0,43 juta orang (dari 13,01 juta orang pada September 2024 menjadi 12,58 juta orang pada Maret 2025).

    Baca: Standar Miskin BPS perlu diubah

    Kemiskinan ekstrem
    Pada Maret 2025, persentase penduduk miskin ekstrem tercatat sebesar 0,85 persen atau 2,38 juta orang. Angka ini oleh BPS disebut menurun dibandingkan September 2024 yang sebesar 0,99 persen atau 2,78 juta orang.

    Ateng mengatakan, BPS masih mengacu pada garis kemiskinan ekstrem Bank Dunia sebesar 2,15 dolar purchasing power parity (PPP 2017) per kapita per hari,

    Sekalipun saat ini Bank Dunia telah menggunakan PPP 2021 sebagai acuan baru kemiskinan ekstrem, dengan angka 3 dolar AS per kapita per hari.

    Berdasarkan standar terbaru PPP 2021, pada tahun 2023, Bank Dunia memperkirakan 5,44 persen penduduk Indonesia berada dalam tingkat kemiskinan ekstrem.

    “Sampai saat ini, kita memang belum secara resmi mengadopsi batas 3 dolar PPP 2021 sebagai garis kemiskinan ekstrem nasional. Namun, BPS akan terus mengikuti perkembangan metodologi global terkait pengukuran, terutama kemiskinan ekstrem tersebut,” ujar Ateng di Jakarta, Jumat (25/7/2025).

    Baca: Angka Kemiskinan BPS berbeda dengan versi Bank Dunia

  • DPR Dorong BPS Transparan Mengungkap Metodologi Pengumpulan Data PDB

    DPR Dorong BPS Transparan Mengungkap Metodologi Pengumpulan Data PDB

    7cloud.asia – Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati menyoroti adanya perbedaan antara angka pertumbuhan yang dirilis BPS dengan sejumlah indikator ekonomi sektoral yang justru menunjukkan perlambatan

    Seperti diberitakan, BPS menyebut pertumbuhan ekonomi Triwulan II-2025 yang mencapai 5,12 persen (yoy). Meskipun capaian tersebut patut diapresiasi, Anis mengingatkan kondisi di lapangan yang butuh perhatian serius.

    Dia menyebut pertumbuhan kredit yang melambat, penerimaan pajak yang makin seret, serta meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

    DPR, ujar Anis, tentu senang dan mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi ini, apalagi lebih tinggi dibandingkan Triwulan I-2025 yang sebesar 4,87 persen.

    “Beberapa sektor utama seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan mencatatkan pertumbuhan positif, begitu pula dari sisi pengeluaran, yakni konsumsi, investasi, dan ekspor,” jelas Anis dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Selasa (12/8/2025).

    Baca: DPR soroti ketimpangan data pertumbuhan ekonomi BPS dengan kondisi di lapangan

    Anis mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas data BPS, mengingat lembaga tersebut menjadi rujukan utama bagi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

    Menurutnya, integritas data menjadi modal utama dalam proses pembangunan, sehingga perlu dijaga dengan transparansi dan akuntabilitas.

    Tidak bisa dipungkiri, lanjutnya, bahwa dalam proses penyajian data, seringkali ada multi interpretasi jika dibandingkan dengan kondisi riil di lapangan.

    “Jika BPS bisa meyakinkan publik melalui penjelasan yang transparan, akuntabel, dan dengan metode yang diakui, maka keraguan seperti saat ini bisa dihindari,” tegasnya.

    Baca: Gelombang PHK makin membesar

    Politisi PKS ini juga menilai, untuk menjaga kepercayaan publik, BPS dapat membuka metadata hingga metodologi perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang digunakan.

    Ini termasuk sumber data, pembobotan sektor, dan metode estimasi yang bisa diverifikasi oleh pihak independen.

    “Langkah ini bukan untuk meragukan BPS, justru akan memperkuat posisinya sebagai lembaga negara yang akuntabel. Sehingga pertanyaan publik tentang kesenjangan antara data pertumbuhan dengan indikator sektoral dapat terjawab tuntas,” tandasnya.

    Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa komitmen dan integritas BPS yang selama ini teruji dapat terus dipertahankan, sehingga publik memperoleh data ekonomi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.