Tag: Carbon Capture Storage

  • Mengenal Carbon Capture Storage yang Seharusnya Ditanyakan di Debat Cawapres Mendatang

    Mengenal Carbon Capture Storage yang Seharusnya Ditanyakan di Debat Cawapres Mendatang

    7cloud.asia – Carbon Capture Storage menjadi salah satu isu yang diangkat dalam debat cawapres beberapa waktu lalu.

    Isu Carbon capture storage ini sempat jadi perbincangan publik karena Cawapres 03 Mahfud MD berhasil menyekak Cawapres 02 Gibran Rakabuming karena ditanyakan di waktu yang tidak tepat.

    Carbon capture storage yang masuk dalam isu lingkungan harusnya baru akan menjadi bahasan dalam debat cawapres yang akan digelar pada Minggu (21/1/2024) mendatang.

    Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah Gibran benar-benar memahami dengan baik tentang carbon capture storage, karena menanyakannya dalam debat yang  seharusnya mengambil tema ekonomi kerakyatan 

    Lantas apa sebenarnya carbon capture storage dan manfaat penangkapan karbon, berikut hasil penelitian dan analisis Fred Mason, Gerry Stokes, Susan Fancy, dan Stephen McCord dari Global CO₂ Initiative terkait hal ini seperti telah terbit di The Conversation.

    Baca: Penerapan pajak karbon, belajar dari India

    Menangkap karbon dioksida (CO2) dari udara atau industri lalu menggunakannya kembali mungkin terdengar seperti solusi perubahan iklim yang saling menguntungkan.

    Dengan cara ini, karbon dan gas rumah kaca lainnya yang dapat memanaskan Bumi dapat menjauh dari atmosfer. Proyek ini pun mampu mencegah kenaikan penggunaan bahan bakar fosil.

    Namun, tidak semua proyek penangkapan karbon menawarkan manfaat ekonomi dan lingkungan yang sama. Faktanya, beberapa hal justru dapat memperburuk perubahan iklim.

    Saya memimpin Inisiatif CO2 Global untuk mempelajari cara memanfaatkan CO2 yang ditangkap supaya bisa digunakan dengan cara-cara ramah iklim. Inisiatif ini saya lakukan bersama rekan-rekan di Universitas Michigan di Amerika Serikat.

    Untuk membantu mengetahui proyek mana yang akan memberikan hasil dan mempermudah pilihan, kami memetakan pro dan kontra mengenai sumber dan penggunaan karbon hasil penangkapan yang paling umum.

    Baca: Pertemuan G20 gagal sepakati pengurangan emisi karbon

    Mengganti bahan bakar fosil dengan karbon yang ditangkap
    Karbon berperan penting di banyak bagian kehidupan kita. Bahan-bahan seperti pupuk, bahan bakar penerbangan, tekstil, deterjen, dan masih banyak lagi turut bergantung pada karbon.

    Namun, penelitian bertahun-tahun dan perubahan iklim yang dialami dunia telah sangat jelas: umat manusia harus segera mengakhiri penggunaan bahan bakar fosil dan menghilangkan kelebihan CO2 dari atmosfer dan lautan.

    Beberapa bahan karbon dapat diganti dengan bahan alternatif bebas karbon, seperti penggunaan energi terbarukan untuk menghasilkan listrik.

    Namun, untuk penggunaan lain, seperti bahan bakar penerbangan atau plastik, karbon akan lebih sulit tergantikan. Teknologi penangkapan dan daur ulang karbon dari kebutuhan tersebut sedang dikembangkan.

    Usaha menangkap kelebihan CO2—dari lautan, atmosfer, atau industri—dan menggunakannya untuk tujuan baru disebut penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (carbon capture, utilisation, and storage atau CCUS).

    Baca: Mengapa pajak karbon penting diterapkan

    Dari semua opsi untuk mengatasi CO2 yang tertangkap, saya dan kolega saya lebih suka menggunakan karbon untuk membuat produk. Mari kita periksa semuanya.

    CCUS terbaik dan terburuk
    Dalam setiap metode, kombinasi sumber CO2 dan penggunaan akhir, (disposisi) memiliki dampak lingkungan dan ekonomi yang berbeda.

    Dalam kasus terbaik, CCUS akan menghasilkan lebih sedikit CO2 di lingkungan dibandingkan sebelumnya. Contoh nyata dari hal ini adalah penggunaan CO2 yang ditangkap untuk memproduksi bahan konstruksi, seperti beton.

    Proses ini menyegel karbon yang ditangkap kemudian memanfaatkannya dalam produk yang bernilai ekonomi.

    Beberapa metode bersifat netral karbon, artinya tidak menambahkan CO2 baru ke lingkungan.

    Baca: Peran multipihak dalam perdagangan karbon

    Misalnya, ketika menggunakan CO2 yang ditangkap dari udara atau lautan dan mengubahnya menjadi bahan bakar atau makanan, karbon tersebut akan kembali ke atmosfer.

    Namun, penggunaan karbon yang ditangkap tersebut menghindari kebutuhan karbon baru dari bahan bakar fosil.

    Adapun metode lainnya justru berbahaya karena meningkatkan jumlah CO2 di lingkungan kita.

    Metode penyimpanan karbon bawah tanah yang paling umum—misalnya untuk menyedot lebih banyak minyak bumi—adalah contoh utamanya.

    Pro dan kontra penyimpanan karbon bawah tanah. Selama bertahun-tahun, beberapa proyek sudah menangkap kelebihan CO₂ dan menyimpannya di bawah tanah dalam struktur alami dari batuan berpori seperti batuan basal, seperti reservoir air asin, maupun sumur minyak atau gas habis pakai.

    Baca: Potensi penyalahgunaan perdagangan karbon

    Metode ini disebut penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Jika dilakukan dengan benar, penyimpanan CO2 secara geologis ini dapat menghilangkan sejumlah besar CO2 dari atmosfer dalam waktu lama.

    CO2 yang ditangkap dari udara, air, ataupun biomassa menciptakan proses karbon negatif atau mengurangi kandungan karbon di udara setelahnya.

    Namun, jika CO2 berasal dari emisi bahan bakar fosil baru, seperti pembangkit listrik tenaga batu bara atau gas, maka netralitas karbon tidak mungkin terjadi.

    Tidak ada teknologi penangkapan karbon yang bekerja dengan efisiensi 100%. Akan selalu ada CO2 yang terlepas ke udara.

    Penangkapan CO2 juga mahal. Jika tidak ada produk untuk dijual, penyimpanan karbon bawah tanah dapat menjadi layanan yang berat di ongkos.

    Baca: Indonesia sudah punya bursa karbon

    Ujung-ujungnya biaya ini dapat tercakup ke pajak atau pungutan kita, serupa dengan iuran pembuangan sampah.

    Salah satu cara menurunkan biaya adalah dengan menjual CO₂ untuk pengurasan minyak bumi (enhanced oil recovery).

    Melalui metode ini, CO2 yang ditangkap akan dipompa ke dalam sumur untuk mendorong lebih banyak minyak keluar dari dalam tanah.

    Meskipun sebagian besar CO2 dalam proses ini dapat tertanam di dalam tanah, proses pengurasan minyak justru memicu lebih banyak produksi bahan bakar fosil.

    Pada akhirnya, praktik ini justru melepaskan lebih banyak CO2 ke atmosfer. Manfaat lingkungan penangkapan karbon justru akhirnya sirna.

    Baca: Perdagangan karbon dorong perusahaan terapkan ekonomi hijau

    Memanfaatkan karbon yang ditangkap untuk makanan dan bahan bakar
    Ada bahan berumur pendek yang terbuat dari CO2 seperti bahan bakar penerbangan, makanan, obat-obatan dan working fluids untuk mesin berbahan logam.

    Barang-barang ini tidak terlalu tahan lama dan akan segera terurai sehingga melepaskan CO2 lagi. Namun, produk ini cukup bernilai ekonomi sehingga membuat penangkapan karbon semakin murah.

    CO₂ yang terlepas dari barang-barang tersebut dapat ditangkap kembali dari udara dan digunakan untuk membuat produk generasi masa depan.

    Pada dasarnya proses ini akan menciptakan ekonomi karbon sirkular yang berkelanjutan.

    Namun, praktik ini hanya berhasil jika CO2 ditangkap dari udara atau lautan. Jika CO2 berasal dari sumber bahan bakar fosil, maka ini adalah CO2 baru yang akan dilepaskan ke lingkungan ketika produk tersebut terurai.

    Baca: Mekanisme perdagangan karbon

    Jadi, kalaupun ditangkap lagi, penangkapan karbon semacam ini malah memperburuk perubahan iklim.

    Menyimpan karbon dalam material, seperti beton
    Beberapa mineral dan bahan limbah dapat mengubah CO2 menjadi batu kapur atau bahan batuan lainnya. Masa pakai material ini bisa sangat tahan lama, lebih dari seratus tahun.

    Contohnya adalah beton. Partikel beton menyebabkan CO2 termineralisasi sehingga lebih keras. Beton semacam ini dapat menjadi produk yang bisa dijual daripada disimpan di bawah tanah.

    Produk tahan lama lainnya mencakup produk agregat untuk pembangunan jalan, serat karbon yang digunakan dalam industri otomotif, ruang angkasa dan pertahanan, serta beberapa polimer.

    Bahan-bahan ini menciptakan kombinasi terbaik antara manfaat lingkungan dan ekonomi jika dibuat dengan CO₂ yang ditangkap dari atmosfer, bukan emisi bahan bakar fosil baru.

    Baca: Hutan mangrove sebagai alternatif penyerap karbon

    Proyek karbon yang bijak
    Teknologi CCUS dapat menjadi solusi yang berguna. Pemerintah Amerika Serikat pun mulai menggelontorkan miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi ini.

    Pengawasan harus ketat untuk memastikan bahwa teknologi penangkapan karbon tidak akan menunda penghentian penggunaan bahan bakar fosil.

    Perlu ada upaya menyeluruh untuk memanfaatkan kombinasi terbaik antara sumber dan pembuangan CO₂ untuk mencapai skala yang cepat dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat.

    Karena perubahan iklim merupakan masalah kompleks yang merugikan manusia di seluruh dunia serta generasi mendatang, saya meyakini bahwa tindakan harus dilakukan tidak hanya dengan cepat, tapi juga dipikirkan dengan matang dan berbasis bukti.

    Fred Mason, Gerry Stokes, Susan Fancy, dan Stephen McCord dari Global CO₂ Initiative berkontribusi pada artikel ini.

  • Kementerian ESDM Berencana Mengimpor Karbon untuk Disimpan Lewat Sistem Carbon Capture Storage, Begini Tanggapan DPR

    Kementerian ESDM Berencana Mengimpor Karbon untuk Disimpan Lewat Sistem Carbon Capture Storage, Begini Tanggapan DPR

    7cloud.asia – Anggota Komisi VII DPR Diah Nurwitasari menyoroti rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) untuk mengimpor karbon dari negara lain sebagai bentuk dari penerapan inovasi program Carbon Capture and Storage (CCS).

    Karbon yang diimpor dan nantinya akan disimpan (storage) di Indonesia. Menurut Diah penting untuk dilakukan perhitungan dengan cermat terkait dampak lingkungan yang nantinya akan ditimbulkan.

    Hal ini disampaikan Diah saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM, SKK Migas, serta grup Pertamina (Persero) terkait implementasi program CCS dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Lapangan Migas Sukowati, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/7/2024).

    Untuk diketahui Carbon Capture and Storage atau CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer.

    Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan (capture) CO2 dari sumber emisi gas buang (flue gas), pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan (transportation), dan penyimpanan ke tempat yang aman (storage).

    Baca: Mengenal apa itu carbon captures storage

    Diah menegaskan hal ini berarti Indonesia menjadi tempat penyimpanan atau storage karbon yang diimpor dari negara lain.

    Yang saya cermati, ujarnya, jangan sampai kita ini menjadi dalam tanda kutip ‘tempat sampah’ bagi negara- negara lain yang akan menyalurkannya.

    “Pemerintah harus memikirkan apa benefitnya? Apa dampak lingkungannya? jangan hanya mengejar investasi, harus diperhitungkan secara cermat apa dampak positif untuk Indonesia,” jelas Diah.

    Lebih lanjut Diah berpesan penting menjaga spirit dalam menurunkan emisi karbon dan lain-lain diimbangi dengan memperhatikan pelestarian sumber daya manusia dan alam secara keseluruhan.

    Ia menegaskan jangan sampai karena kecerobohan dan mengejar keuntungan jangka pendek, sehingga mewariskan lingkungan yang rusak untuk generasi berikutnya.

    Baca: Mengapa pajak karbon perlu meski telah ada perdagangan karbon

    Spirit ini mudah-mudahan tetap menjiwai. Tidak hanya karena keuntungan rupiah cepat melalui bisnis-bisnis yang nantinya dapat berdampak serius terhadap lingkungan.

    “Saya harap Kementerian ESDM dapat lebih hati-hati dan cermat dengan perencanaan-perencanaan seperti itu,” ungkapnya.

    Di sisi lain, Diah mengapresiasi inovasi implementasi teknologi CCS dan CCUS yang diyakini dapat mendukung peningkatan produksi migas disamping mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Dirinya berharap dengan penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkan target lifting minyak di Indonesia.

    “Jika memang itu merupakan salah satu bagian dari produksi kita untuk meningkatkan lifting migas kita tentu ini merupakan sesuatu yang bermanfaat. Namun tetap perlu dilakukan perhitungan dengan cermat persoalan teknologinya.”

    “Mudah-mudahan dengan teknologi yang lebih baik kita bisa meningkatkan lifting migas kita khususnya dengan teknologi CCUS tersebut,” imbuh Diah.

    Baca: Mengenal penerapan pajak karbon

  • Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi ini menyebut bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Baca: Apa itu carbon capture storage

    Namun faktanya, teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

    Permasalahan pertama yang sangat nampak adalah bahwa Carbon Capture Storage memiliki sejarah panjang tantangan teknis dan finansial yang signifikan.

    Dilansir di laman walhi.or.id, kondisi ini telah mengakibatkan proyek-proyek Carbon Capture Storage berakhir dengan kegagalan, memiliki kinerja buruk dan mengakibatkan pembengkakan biaya.

    Permasalahan kedua yang muncul dari operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS adalah dampak lingkungan dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut.

    Baca: Tanggapan DPR soal carbon capture storage

    Juga ada kemungkinan proyek CCS memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain yang dipicu proyek ini yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Oleh karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama ini meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Organisasi tersebut juga meminta pemerintah idak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Mengenal Teknologi Carbon Capture Storage: Banyak Proyek yang Gagal

    Mengenal Teknologi Carbon Capture Storage: Banyak Proyek yang Gagal

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang.

    Biasanya lokasi penyimpanan dalam teknologi Carbon Capture Storage ini berada di dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi ini menyebut, Carbon Capture Storage bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Baca: Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan

    Dilansir di laman resmi walhi.or.id, sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

    Permasalahan pertama yang sangat nampak adalah bahwa Carbon Capture Storage memiliki sejarah panjang tantangan teknis dan finansial yang signifikan yang mengakibatkan proyek Carbon Capture Storage berakhir dengan kegagalan.

    Tidak sedikit proyek Carbon Capture Storage juga memiliki kinerja buruk dan mengakibatkan pembengkakan biaya.

    Pada proyek Carbon Capture Storage Gorgon di Australia, misalnya, guna mengimbangi kekurangan target karbon dioksida sebesar 5,23 juta ton, Gorgon akhirnya Gorgon harus menambah lebih banyak pembiayaan antara 100 juta dolar dan 184 juta dolar.

    Baca: DPR minta rencana penerapan Carbon Capture Storage dikajiulang

    Cerita kegagalan lain bisa dilihat pada proyek Carbon Capture Storage di Aljazair di mana upaya menginjeksikan CO₂ ke lapangan gas yang telah terkuras sejak tahun 2004.

    Akhirnya proyek ini harus dihentikan pada tahun 2011 ketika timbul kekhawatiran akan kemungkinan kebocoran, karena ditemukan adanya pergerakan pada lapisan tanah yang seharusnya mampu mencegah kebocoran CO₂ ini.

    Peristiwa serupa terjadi pada proyek Carbon Capture Storage Sleipner di Norwegia, di mana CO₂ yang telah disuntikkan jauh ke dalam perut bumi, bermigrasi naik ke lapisan atas lebih cepat dari yang diperkirakan.

    Sebuah Laporan dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), bahkan menunjukkan bahwa dari 13 proyek CCS/CCUS “andalan, berskala besar” di seluruh dunia yang bertanggung jawab terhadap lebih dari separuh operasi CCS/CCUS hanya menghasilkan total 39 juta ton CO₂ per tahun.

    Angka ini hanya sekitar 1/10.000 dari total 36 miliar ton emisi yang dibuang ke atmosfer pada tahun 2021.

  • Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi Carbon Capture Storage menyebut cara ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Namun sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain di balik teknologi Carbon Capture Storage yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Baca: Banyak proyek Carbon Capture Storage yang gagal

    Dilansir dari laman resmi Walhi.or.id, operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS bisa memicu dampak negatif pada lingkungan.

    Hal ini dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut, dan kemungkinan proyek Carbon Capture Storage memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Meskipun dikatakan teknologi Carbon Capture Storage telah dikembangkan sejak tahun 1970-an, sebetulnya penggunaannya secara umum dipakai untuk meningkatkan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR), yaitu proses di mana CO₂ yang ditangkap disuntikkan ke ladang minyak untuk meningkatkan jumlah minyak mentah yang diekstraksi.

    Sehingga alih-alih menurunkan emisi karbon, praktek ini sesungguhnya justru mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menyebabkan emisi karbon tambahan.

    Hal ini karena lebih dari 80 persen proyek Carbon Capture Storage digunakan untuk EOR, atau untuk produksi minyak dan gas.

    Baca: 18 Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan

    CO₂ yang terkompresi juga sangat berbahaya jika bocor dan terlepas ke permukaan, karena dapat mengakibatkan sesak napas pada manusia dan hewan.

    Pada tahun 2020, misalnya, jaringan pipa transportasi CO₂ yang merupakan bagian dari proyek EOR di Mississippi, AS mengalami kerusakan, yang kemudian mengakibatkan lebih dari 200 orang harus dievakuasi, dan 45 orang harus menjalani rawat inap karena keracunan karbon dioksida.

    Karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama yang meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Mereka juga meminta pemerintah tidak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Menyoal Carbon Capture Storage: Aksi Iklim yang Justru Bisa Perburuk Dampak Pemanasan Global dan Krisis Iklim

    Menyoal Carbon Capture Storage: Aksi Iklim yang Justru Bisa Perburuk Dampak Pemanasan Global dan Krisis Iklim

    7cloud.asia – Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca, termasuk pemerintah Indonesia.

    Oleh para promotornya, Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

    Namun sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

    Salah satu permasalahan dari proyek-proyek CCS/CCUS adalah bahwa pendekatan ini akan melanggengkan inefisiensi energi karena besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan dalam fase-fase tertentu operasi Carbon Capture Storage.

    Baca: Mengenal apa itu Carbon Capture Storage

    Fase yang paling membutuhkan energi adalah penangkapan dan kompresi karbon, dengan sejumlah tambahan lain lagi yang dibutuhkan untuk transportasi dan penyimpanan, terutama karena CO₂ butuh untuk dicairkan lebih dahulu untuk transportasi dan penyimpanan yang efisien.

    Energi yang dibutuhkan pada fase penangkapan dan kompresi saja dapat mencapai 330–420 kWh per ton CO₂ yang ditangkap.

    Secara rata-rata proyek Carbon Capture Storage akan mengakibatkan peningkatan permintaan energi hingga sebesar 15 hingga 25 persen bagi fasilitas penangkapan karbon mereka.

    Permasalahan lain adalah memastikan penyimpanan permanen. Agar Carbon Capture Storage menjadi pilihan yang layak untuk dekarbonisasi, penting untuk memastikan bahwa karbon dapat disimpan dalam keadaan stabil secara permanen.

    IPCC menggunakan kata “durably” atau “awet/tahan lama” untuk menggambarkan penyimpanan CO₂ di reservoir geologis, baik di daratan maupun di laut, atau dalam produk untuk Penghapusan Karbon Dioksida/Carbon Dioxide Removal (CDR).

    Baca: 18 Organisasi lingkungan tolak penerapan Carbon Capture Storage

    Tetapi, tidak ada definisi yang jelas mengenai jangka waktu yang dimaksud dengan “awet/tahan lama” ini, tetapi beberapa pihak menyebut setidaknya dibutuhkan 200-300 tahun untuk menyimpan CO₂.

    Secara praktis, hampir mustahil untuk memastikan ada mekanisme dan sistem legal yang memadai untuk dapat menjamin pertanggung jawaban dari penyimpanan karbon dalam jangka waktu yang begitu lama.

    Setelah periode operasi korporasi penyimpan karbon berakhir, siapa yang akan bertanggung jawab terhadap CO₂ yang diinjeksi ke dalam tanah serta berbagai permasalah yang sebelumnya telah disinggung?

    Pada akhirnya, besar kemungkinan pemerintahan negara di mana CO₂ itu diinjeksikan yang akan mengambil alih tanggung jawab tersebut.

    Negara itu jugalah yang harus membiayai pengelolaan sejumlah besar upaya penyimpanan karbon dengan biaya publik hingga bergenerasi-generasi yang akan datang.

    Baca: Banyak proyek Carbon Capture Storage yang gagal

    Di Indonesia, Kementerian ESDM menyebut setidaknya 16 proyek CCS/CCUS akan dijalankan, termasuk pada proyek-proyek gas baru seperti di Blok Masela.

    Presiden Jokowi juga telah mengeluarkan Perpres Nomor 14 Tahun 2024 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, yang akan memberi insentif lebih kepada industri fosil untuk menerapkan teknologi ini, dan juga memperbolehkan impor karbon dari luar negeri untuk diinjeksikan di Indonesia.

    Praktik membuang karbon dari satu negara ke negara lain semacam ini, tidak ubahnya bentuk lain dari kolonialisme limbah.

    Oleh karena itu, 18 organisasi Lingkungan menandatangani pernyataan bersama meminta Pemerintah berhenti mempromosikan CCS/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca, serta tidak menerapkan CCS/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    CCS/CCUS dinilai sebagai solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.

    Sumber:walhi.or.id