Mengenal Teknologi Carbon Capture Storage: Banyak Proyek yang Gagal

Written by

in

7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang.

Biasanya lokasi penyimpanan dalam teknologi Carbon Capture Storage ini berada di dalam formasi geologi di bawah tanah.

Para promotor teknologi ini menyebut, Carbon Capture Storage bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

Baca: Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan

Dilansir di laman resmi walhi.or.id, sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

Permasalahan pertama yang sangat nampak adalah bahwa Carbon Capture Storage memiliki sejarah panjang tantangan teknis dan finansial yang signifikan yang mengakibatkan proyek Carbon Capture Storage berakhir dengan kegagalan.

Tidak sedikit proyek Carbon Capture Storage juga memiliki kinerja buruk dan mengakibatkan pembengkakan biaya.

Pada proyek Carbon Capture Storage Gorgon di Australia, misalnya, guna mengimbangi kekurangan target karbon dioksida sebesar 5,23 juta ton, Gorgon akhirnya Gorgon harus menambah lebih banyak pembiayaan antara 100 juta dolar dan 184 juta dolar.

Baca: DPR minta rencana penerapan Carbon Capture Storage dikajiulang

Cerita kegagalan lain bisa dilihat pada proyek Carbon Capture Storage di Aljazair di mana upaya menginjeksikan CO₂ ke lapangan gas yang telah terkuras sejak tahun 2004.

Akhirnya proyek ini harus dihentikan pada tahun 2011 ketika timbul kekhawatiran akan kemungkinan kebocoran, karena ditemukan adanya pergerakan pada lapisan tanah yang seharusnya mampu mencegah kebocoran CO₂ ini.

Peristiwa serupa terjadi pada proyek Carbon Capture Storage Sleipner di Norwegia, di mana CO₂ yang telah disuntikkan jauh ke dalam perut bumi, bermigrasi naik ke lapisan atas lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sebuah Laporan dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), bahkan menunjukkan bahwa dari 13 proyek CCS/CCUS “andalan, berskala besar” di seluruh dunia yang bertanggung jawab terhadap lebih dari separuh operasi CCS/CCUS hanya menghasilkan total 39 juta ton CO₂ per tahun.

Angka ini hanya sekitar 1/10.000 dari total 36 miliar ton emisi yang dibuang ke atmosfer pada tahun 2021.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *