7cloud.asia – Studi yang dilakukan para peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada tahun 2023 menemukan sejumlah faktor kelahiran terkait dengan sedikit peningkatan risiko demensia di kemudian hari.
Dikutip dari laman Science Alert, Sabtu (20/12/2025) beberapa faktor risiko demensia dapat dimulai bahkan sebelum lahir, seperti berbagi rahim dengan kembar, jarak kelahiran yang lebih pendek, dan kehamilan di atas usia 35 tahun.
Sementara faktor risiko demensia lainnya muncul seiring melewati masa kanak-kanak hingga dewasa muda.
Selama ini sebagian besar penelitian demensia berfokus pada perubahan yang terkait dengan penurunan kognitif di usia lanjut.
Namun, semakin banyak bukti yang mengungkap bahwa perbedaan dalam struktur dan fungsi otak yang terkait dengan demensia, sebagian diduga telah ada sejak masa kanak-kanak.
Tim penelitian tersebut mengungkapkan dalam studi jangka panjang di mana kemampuan kognitif seseorang dilacak sepanjang hidupnya, salah satu faktor terpenting yang menjelaskan kemampuan kognitif seseorang pada usia 70 tahun adalah kemampuan kognitif mereka ketika berusia 11 tahun.
Baca: Gaya hidup ini bisa turunkan risiko demensia
“Artinya, orang dewasa yang lebih tua dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah sering kali memiliki kemampuan yang lebih rendah ini sejak masa kanak-kanak, dan perbedaan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh penurunan yang lebih cepat di usia lanjut,” kata tim peneliti.
Jika dilihat secara keseluruhan, peneliti menyarankan pencegahan demensia dianggap sebagai tujuan seumur hidup, bukan hanya fokus untuk usia lanjut.
Dalam studi mereka tahun 2024, beberapa faktor risiko yang diidentifikasi mungkin tampak jelas.
Minum alkohol dan merokok, misalnya, diketahui buruk bagi kesehatan secara umum, dan mengalami cedera otak merupakan risiko langsung untuk demensia di kemudian hari
Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye kesehatan masyarakat dan pendidikan di sekolah, serta didanai melalui pajak atas zat-zat yang berdampak negatif terhadap kesehatan otak, seperti alkohol atau rokok.
Tim juga perlu melakukan identifikasi faktor baru yang muncul memerlukan studi lebih lanjut, termasuk makanan ultra-olahan, penggunaan narkoba, waktu di depan layar, stres, dan paparan mikroplastik.
Baca: Perbedaan penyakit Alzheimer dan Demensia
“Mungkinkah akar penyebab demensia bermula sejak masa kanak-kanak atau bayi? Bukti yang semakin banyak menunjukkan ya, dan paparan faktor risiko pada dekade pertama kehidupan (atau bahkan saat masih dalam kandungan) dapat memiliki implikasi seumur hidup terhadap risiko demensia,” jelas tim tersebut dalam artikel di The Conversation.
Studi lainnya
Studi lain yang diterbitkan pada akhir tahun 2024 meneliti faktor risiko demensia pada orang dewasa muda berusia 18 hingga 39 tahun.
Sebuah tim yang dipimpin oleh Global Brain Health Institute (GBHI) di Irlandia mengumpulkan sekelompok ahli dari 15 negara di seluruh dunia untuk membantu mengembangkan rencana seumur hidup untuk meningkatkan kesehatan otak.
Ahli saraf di GBHI, Francesca Farina mengatakan, masa dewasa muda merupakan periode penting untuk intervensi yang dapat secara signifikan mengurangi risiko demensia di kemudian hari,
“Untuk memastikan hasil kesehatan otak yang lebih baik, kaum muda harus dilibatkan sebagai mitra kunci dalam upaya penelitian, pendidikan, dan pembuatan kebijakan,” katanya
Dari faktor risiko yang diidentifikasi oleh para peneliti, beberapa di antaranya terkait dengan gaya hidup, termasuk konsumsi alkohol berlebihan, merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan isolasi sosial.
Faktor lainnya bersifat lingkungan, seperti paparan polusi, cedera otak traumatis, gangguan pendengaran atau penglihatan, atau tingkat pendidikan yang rendah.
Selain itu, obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol LDL, dan depresi adalah masalah kesehatan yang mungkin timbul dari pilihan gaya hidup yang memicu risiko demensia.

Leave a Reply