Tag: depresi

  • Kenali Gejala Depresi Terselubung pada Lansia

    Kenali Gejala Depresi Terselubung pada Lansia

     
    Ukuh mengatakan depresi terselubung pada lansia ditandai dengan adanya keluhan sakit yang cukup dominan pada tubuh yang sekilas menyerupai penyakit umum dalam dunia medis, namun tidak dapat terdeteksi oleh deteksi medis.

    Dia menyebutkan perasaan nyeri tubuh, otot tegang, jantung berdebar, serta perasaan tidak nyaman yang tidak dapat dideteksi oleh medis sering dialami oleh lansia dengan depresi terselubung.

    Selain itu, lanjutnya, penyakit kronis yang menyertai lansia dalam waktu yang panjang juga dapat menutupi adanya depresi terselubung karena sering dianggap sebagai bagian dari penyakit tersebut.

    “Biasanya diagnosis dokter terkait penyakit ini sulit diterima oleh pasien dibandingkan dengan diagnosis penyakit fisik lainnya, padahal seiring bertambahnya usia ini akan berbahaya,” ujar dokter yang praktik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta itu.

     

    Dia mengungkapkan bahwa depresi terselubung bukanlah istilah diagnosis medis yang digunakan dalam ilmu kedokteran jiwa, namun istilah ini dipakai ketika depresi terjadi kepada seseorang tanpa adanya gejala khas dan cenderung menunjukkan gejala fisik.

    Dia menambahkan secara umum orang yang mengalami gejala depresi terselubung terlihat baik-baik saja, produktif, dan tidak terlihat adanya gangguan psikis.

    Namun, menurutnya, mayoritas kalangan lansia tidak mengungkapkan rasa sedih karena umumnya mereka malu dan segan untuk mengungkapkannya.

    “Maka sebagai anak yang merawatnya, kita harus peka terhadap adanya perubahan perilaku lansia yang mendadak,” ujarnya.

     
     
    Dia menjelaskan perubahan perilaku menjadi lebih menutup diri dari lingkungan, perubahan pola makan, dan pola tidur, menjadi beberapa tanda yang dapat dilihat pada lansia yang mengalami depresi terselubung.

    Ukuh menganjurkan agar anak atau keluarga tetap memberikan perhatian kepada lansia agar tidak mengalami depresi terselubung serta membawanya dengan segera ke dokter untuk mempermudah proses pengobatan.

     
    Sumber: Antaranews

  • Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    7cloud.asia – Aktivitas fisik secara teratur diketahui dapat meningkatkan kesehatan mental, dan mengatasi depresi atau kecemasan.

    Hasil studi yang dimuat di Journal of Affective Disorders Selasa (10/10/2023), menunjukkan bahwa lari bisa bermanfaat dalam pengobatan kecemasan dan depresi.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti melakukan uji coba terapi lari kepada sebagian dari 141 pasien dengan depresi dan/atau kecemasan.

    Pasien dengan depresi diberi pilihan pengobatan yakni antidepresan SSRI (inhibitor reuptake serotonin selektif) atau terapi lari berbasis kelompok selama 16 minggu.

    Baca: Mmebuat jurnal untuk lepaskankecemasan

    Penelitian ini memberi orang-orang yang dilanda kecemasan dan depresi dalam kehidupan nyata, untuk memilih pengobatan atau olahraga.

    “Menariknya, mayoritas memilih untuk berolahraga,” kata Profesor Brenda Penninx, dari Vrije University di Amsterdam.

    Baca: Lawan kecemasan dan sres dengan meditasi

    Namun, peneliti juga menemukan terdapat angka ‘berhenti’ yang lebih tinggi pada kelompok yang awalnya memilih olahraga dibandingkan antidepresan.

    Hanya 52 persen pada kelompok lari yang patuh menjalani terapi, sedangkan tingkat kepatuhan pada kelompok antidepresan mencapai 82 persen atau jauh lebih tinggi.

    Baca: Gaya hidup minimalis bagus untuk kesehatan jiwa kamu

    Pada akhir uji coba, sekitar 44 persen pada kedua kelompok menunjukkan perbaikan dalam depresi dan kecemasan.

    Jadi buat kamu yang sedang mengalami kecemasan atau depresi bisa mencoba alternatif ini.

    Jika berlari dinilai terllau berat, kamu bisa menggantinya dengan berjalan kaki. Dan hasilnya akan lebih maksimal jika kamu menggunakan bantuan dari konsultan atau pakar.

     

  • Tidur Cukup Menjadi Salah Satu Rahasia Kesehatan Mental dan Panjang Umur

    Tidur Cukup Menjadi Salah Satu Rahasia Kesehatan Mental dan Panjang Umur

    7cloud.asia – Tidur cukup, sudah lama diyakini orang sebagai resep gaya hidup sehat dan bagus untuk kesehatan mental.

    Telah banyak pakar yang menyebut, tidur cukup dan berkualitas tidak boleh terlewatkan karena kegiatan itu dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang.

    Researcher & Health Educator Nutrifood Research Center Rendy Dijaya seperti tertulis dalam jurnal NutriClassNews Vol. 59, menyebut tidur cukup bisa menurunkan risiko depresi.

    Mengutip Jurnal JAMA Psychiatry, Rendy menyebut, ada data yang menunjukkan bahwa pola tidur night owls terkait dengan risiko depresi hingga 2 kali lebih tinggi.

    “Tetapi mengingat kondisi kesehatan mental juga dapat mempengaruhi pola tidur, sulit menentukan mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat dari kedua faktor ini,” katanya dikutip Antaranews.com, Sabtu (4/11/2023).

    Baca: Ini yang terjadi jika kita tak cukup tidur

    Istilah night owls mengacu untuk orang-orang yang tidur lebih larut namun bangun tidur lebih siang. Sedangkan istilah early birds mengacu untuk mereka yang terbiasa tidur lebih awal namun bangun lebih pagi.

    Data lain pada tahun 2018 menunjukkan bahwa para early birds memiliki risiko depresi lebih rendah hingga 27%.

    Hal ini kemudian mendorong penelitian lebih lanjut yang menemukan bahwa memajukan waktu tidur 1 jam lebih awal dengan durasi tidur yang tetap dapat membantu menurunkan risiko depresi hingga 23%.

    Semisal seseorang yang terbiasa tidur pukul 1 pagi dan bangun pukul 8 pagi, kemudian mengubah jam tidur menjadi pukul 12 malam dan bangun pukul 7 pagi, maka risiko depresi teramati lebih rendah.

    Jika waktu tidur dimajukan 2 jam lebih awal dengan durasi tidur tetap, maka risiko depresi teramati mencapai 40% lebih rendah.

    Baca: Mengapa obat tidur tidak disarankan dikonsumsi dalam jangka panjang

    “Memajukan waktu tidur dan bangun lebih pagi dapat membantu menjaga kesehatan mental pada para night owls,” imbuh Rendy.

    Diduga hal ini dapat terkait dengan paparan sinar matahari yang bisa lebih banyak didapat saat kita bangun lebih awal.

    Langkah yang dapat dicoba antara lain rutin berolahraga, meredupkan cahaya di malam hari, serta membatasi screen time pada malam hari.

    Selain dapat mempengaruhi kondisi mental, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa tidur yang cukup dan berkualitas ternyata juga berkaitan dengan umur yang lebih panjang.

    Jurnal American College of Cardiology’s Annual Scientific Session menunjukkan bahwa kurang tidur berkaitan dengan pola makan yang lebih tidak sehat, masalah berat badan, peningkatan risiko penyakit, dan kesehatan emosional yang lebih buruk.

    Baca: Mencari alternatif pengganti obat tidur

    Selain itu, penelitian terhadap 172.321 responden menunjukkan bahwa sebanyak 8% kasus kematian dari semua penyebab dapat terkait dengan kebiasaan tidur yang tidak baik.

    Sedangkan mereka yang memiliki semua aspek kualitas tidur yang baik teramati memiliki risiko kematian akibat segala penyebab hingga 30% lebih rendah, risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 21% lebih rendah,

    Serta risiko kematian akibat kanker hingga 19% lebih rendah apabila dibandingkan dengan yang tidak dan hanya memiliki 1 aspek kualitas tidur yang baik.

    Angka harapan hidup juga teramati lebih tinggi, yaitu 4.7 tahun lebih tinggi untuk pria dan 2,4 tahun lebih tinggi untuk wanita pada mereka yang memiliki semua aspek kualitas tidur baik.

     

  • Caleg Gagal Pemilu 2024 Perlu Dukungan Keluarga untuk Cegah Depresi

    Caleg Gagal Pemilu 2024 Perlu Dukungan Keluarga untuk Cegah Depresi

    7cloud.asia – Banyak calon legislatif (caleg) yang gagal pada Pemilihan Umum atau Pemilu 2024. Dukungan keluarga sangat penting dan dibutuhkan untuk mencegah depresi.

    Dukungan untuk caleg gagal ini diungkapkan oleh psikiater Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr Agus Japari seperti yang dilansir Antaranews.

    Agus menjelaskan, jika ada salah satu anggota keluarga yang gagal dalam Pemilu 2024, maka anggota keluarga lainnya harus mengambil peran dalam meningkatkan semangat caleg yang gagal itu.

    Sebab, menurut Agus, jika semangat caleg tersebut turun, maka dapat menyebabkan caleg tersebut mengalami depresi.

    Baca: Pemkot Jakpus siapkan layanan kesehatan mental untuk caleg gagal Pemilu 2024

    Support System atau sistem pendukung yang bukan hanya dari keluarga, namun juga teman-teman dan lingkungan, dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan kejiwaan para caleg gagal untuk bisa lebih menerima kenyataan.

    Support system ini harus selalu memberi dukungan, semangat, dan nasehat, karena siapapun itu jika gagal pasti akan down (semangat menurun), termasuk caleg.

    “Tetapi jika tidak punya dukungan, maka akan lebih gampang sakit kejiwaannya,” jelas Agus.

    Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak malu membawa serta mendampingi anggota keluarganya untuk berkonsultasi jika mengalami sakit karena gagal menjadi anggota legislatif.

     

    Baca: RSJ Islam Klender siap terapi caleg

    Nantinya akan dilihat seberapa berat gangguan kejiwaan yg dialami. Adapun tahapan gangguan kejiwaan tersebut diawali dengan kecemasan, khawatir berlebih.

    Kondisi ini dapat berakibat pada susah tidur atau insomnia, dan selanjutnya banyak pikiran hingga semakin lama hilang semangat, lalu akhirnya depresi.

    “Silakan datang ke RSKD Dadi, kami siap memberikan konsultasi. Memang biasanya ada yang alami ini setelah Pileg, meski tidak banyak,” katanya.

    Sementara di RSKD Dadi Makassar menyiapkan 14 psikiatri guna memberikan pelayanan maksimal bagi para caleg yang mengalami depresi pasca-Pesta Demokrasi 2024.

    Baca: PDI Perjuangan resmi menolak penggunaan Sirekap

    Koordinator Humas RSKD Dadi, dr Wawan Satriawan menyebut sampai saat ini belum ada caleg yang datang untuk berkonsultasi.

    “Mungkin masih menunggu penghitungan suara dan pengumuman, tetapi kami harap tidak ada yang mengalami depresi,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Riset: Konsumsi Buah Dapat Menangkal Gejala Depresi di Masa Tua

    Riset: Konsumsi Buah Dapat Menangkal Gejala Depresi di Masa Tua

    7cloud.asia – Sebuah studi terbaru dari Yong Loo Lin School of Medicine dan National University of Singapore (NUS Medicine) di Singapura menemukan fakta bahwa konsumsi banyak buah dapat menangkal gejala depresi di masa tua.

    Dilaporkan oleh Medical Daily, Rabu, dalam penelitian yang melibatkan 13.738 peserta selama 20 tahun, para peneliti menyelidiki peran pola makan, terutama buah-buahan dan sayuran, dalam menentukan risiko terjadinya depresi.

    Penelitian tersebut berfokus pada 14 buah-buahan yang biasa dimakan, seperti jeruk, jeruk keprok, pisang, pepaya, semangka, apel, dan melon madu, serta 25 sayuran berbeda.

    Setelah menindaklanjuti partisipan dari usia paruh baya hingga lansia, peneliti menemukan bahwa individu yang mengonsumsi buah-buahan dalam jumlah lebih banyak di awal kehidupannya memiliki risiko lebih rendah mengalami gejala depresi seiring bertambahnya usia.

    Melalui penelitian yang dipublikasikan dalam “Journal of Nutrition, Health, and Aging”, konsumsi sayuran tidak menunjukkan hubungan serupa dengan berkurangnya gejala depresi.

    Baca: Jenis buah ini tidak disarankan dikonsumsi saat sarapan

    Kaitan konsumsi buah dan gejala depresi ini dipaparkan peneliti utama dari NUS Medicine Prof. Koh Woon Puay.

    Ia menjelaskan peserta yang tergabung dalam penelitian dan mengonsumsi setidaknya tiga porsi buah sehari, sebesar 21 persen mengalami pengurangan risiko terkena depresi dibandingkan mereka yang memakan buah kurang dari satu porsi sehari.

    Oleh karena itu, ujarnya, kami tidak melihat adanya perbedaan dalam hasil kami antara buah-buahan dengan indeks glikemik tinggi dan rendah,

    “Bagi penderita diabetes, mereka dapat memilih buah-buahan dengan indeks glikemik rendah yang tidak akan meningkatkan gula darah sebanyak buah-buahan dengan indeks glikemik tinggi,” ujar Prof. Puay.

    Hasil lain yang ditemukan adalah adanya hubungan antara efek perlindungan terhadap depresi dengan tingginya tingkat antioksidan dan mikronutrien anti-inflamasi yang ditemukan dalam buah-buahan seperti vitamin C, karotenoid, dan flavonoid.

    Baca: Buah kiwi bagus untuk tekanan darah

    Senyawa ini bekerja sama untuk mengurangi stres oksidatif dan menghambat proses inflamasi dalam tubuh; faktor-faktor yang dapat memengaruhi perkembangan depresi.

    Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti merekomendasikan masyarakat untuk mengkonsumsi buah-buahan pada pertengahan masa dewasa biasanya usia 40 hingga 65 tahun untuk mendapatkan manfaat kesehatan mental jangka panjang hingga setelah usia 65 tahun.

    Para peneliti turut menjelaskan bahwa depresi di usia tua akan lebih umum terjadi dengan gejala berupa berkurangnya perasaan senang, berpikir lebih lambat, kurang tidur, nafsu makan dan konsentrasi menurun serta mudah lelah.

    Kondisi ini sering kali diakibatkan oleh perubahan neurodegeneratif di otak yang berhubungan dengan penuaan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Lansia Rentan Alami Depresi: Stigma Lemah Jadi Pemicu

    Lansia Rentan Alami Depresi: Stigma Lemah Jadi Pemicu

    7cloud.asia – Orang berusia lanjut (lansia) tidak hanya berisiko mengalami penurunan fungsi tubuh dan kemampuan berpikir. Mereka juga rentan terkena gangguan mental, termasuk depresi.

    Sejumlah perubahan besar dalam hidup bisa jadi pemicunya, mulai dari penurunan kondisi fisik, berkurangnya aktivitas, hingga rasa kesepian setelah kehilangan pasangan, teman, ataupun anak-anak yang sudah hidup mandiri.

    Kasus depresi lansia global sangatlah tinggi, sekitar 18,6 persen. Di Indonesia, riset tahun 2022 menunjukkan prevalensi depresi lansia berkisar antara 9,2 hingga 16,3 persen.

    Ironisnya, nyaris 50 persen keluarga tidak menyadari lansia terkena depresi, bahkan ketika tingkat keparahannya sudah berat.

    Penyebabnya, banyak orang salah kaprah menganggap gejala depresi lansia (seperti kelelahan, tidak bersemangat, dan sedih berkepanjangan) sebagai bagian normal dari penuaan.

    Masih kuatnya stigma masyarakat terhadap kesehatan mental—yang sering kali terkait dengan stereotip negatif dan ketidaktahuan—turut memperparah kondisi gangguan mental lansia.

    Contohnya, keluarga bereaksi lebih cepat dan responsif terhadap keluhan fisik lansia (seperti pusing atau nyeri sendi), ketimbang keluhan emosionalnya.

    Akibatnya, lansia tidak mendapatkan pertolongan psikologis yang seharusnya mereka butuhkan. Ini diperparah pula dengan banyaknya anggapan keliru masyarakat soal lansia yang membuat mereka kian berisiko mengalami depresi.

    Baca: Indonesia masuki fase aging population

    Butuh dihargai, bukan dikasihani
    Ketika mengurus lansia, kita mungkin lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka (seperti pangan dan obat). Namun, kita lalai untuk menanyakan kabar dan mengobrol dengan lansia.

    Apalagi mereka rentan mengalami diskriminasi usia karena banyak orang menganggap lansia lemah, lamban, dan tidak lagi relevan.

    Pandangan tersebut bisa sangat menyakitkan, merampas rasa percaya diri, menyebabkan banyak lansia merasa sendirian, ditinggalkan, dan kesepian secara emosional meski mereka dikelilingi keluarga.

    Penelitian terhadap 673 paruh baya dan lansia di Cina (2025) mengungkap bahwa perasaan tidak lagi dibutuhkan dan ditinggalkan meningkatkan risiko depresi pada lansia.

    Perasaan dihargai dan diakui memang sangat penting bagi mereka. Lansia ingin didengarkan, dilibatkan, dan tidak dianggap sebagai “beban”, melainkan bagian penting dari lingkungan sosialnya.

    Mereka tetap butuh terhubung secara emosional, bukan sekadar fisik.

    Studi literatur (2025) menunjukkan bahwa risiko depresi lansia bisa menurun ketika mereka mendapatkan dukungan emosional yang sepadan, termasuk perasaan dihargai dan terkoneksi dengan keluarga dan masyarakat.

    Karena itu, kita perlu meluangkan waktu untuk mengobrol rutin dari hati ke hati dengan lansia, bukan sekadar basa-basi. Tunjukkan bahwa perasaan, pengalaman, dan pendapat mereka masih relevan dan berharga.

    Baca: Tantangan yang dihadapi Indonesia saat masuki fase aging population

    Pastikan pula untuk selalu melibatkan lansia dalam kegiatan dan pengambilan keputusan keluarga, misalnya:

    “Menurut ibu, enaknya Lebaran tahun ini kita kumpul di rumah siapa ya?” atau “Pak, waktu menghadapi situasi sulit di masa muda, biasanya bapak bagaimana? Saya pengen belajar dari pengalaman bapak.”

    Jangan batasi, mereka tetap ingin berdaya
    Laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan SMERU (2020) mengungkapakan bahwa 11 persen lansia hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 60 persen dari mereka tinggal dengan anggota keluarga yang kemungkinan besar bukan pengasuh mereka.

    Sayangnya, hanya 2 persen dari total seluruh lansia di Indonesia yang mendapatkan bantuan sosial. Sementara itu, hanya 12 persen lansia yang punya jaminan sosial ketenagakerjaan.

    Kondisi ini membuat lansia rentan terjebak dalam situasi bergantung pada orang lain, yang akhirnya berisiko membuat mereka kehilangan kendali atas hidupnya.

    Misalnya, pihak keluarga melarang lansia berjualan atau melakukan aktivitas fisik yang disenangi karena takut mereka kelelahan dan jatuh sakit.

    Meski bermaksud baik, pihak keluarga sering tanpa sadar mengambil alih semua hal, bahkan tugas-tugas sederhana yang sebenarnya masih bisa dilakukan sendiri oleh lansia seperti mengenakan pakaian.

    Baca: 8 Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

    Situasi ini rentan menyebabkan lansia merasa tidak berdaya, sehingga memperbesar risiko depresi.

    Padahal, penelitian menunjukkan banyak lansia memiliki semangat dan kemampuan untuk hidup secara aktif. Motivasinya bukan cuma faktor ekonomi saja, melainkan keinginan untuk tetap merasa berdaya dengan aktif secara fisik, mental, maupun sosial.

    Sebaiknya hindari memperlakukan lansia seperti anak kecil. Biarkan lansia memiliki kendali atas hidup mereka dengan melakukan berbagai aktivitas (yang tidak membahayakan) secara mandiri.

    Dorong mereka melakukan hobi yang disenangi, serta libatkan mereka dalam kegiatan sosial bersama kelompok lansia.

    Pentingnya lebih peduli lansia
    Menghilangkan stigma terhadap lansia merupakan tugas kita. Upaya ini lebih dari sekadar terhubung dengan mereka secara emosional, tapi juga memberikan lansia ruang agar bisa hidup lebih mandiri, produktif, dan bahagia.

    Dimulai dari keluarga, kita bisa menciptakan lingkungan ramah lansia—yang tidak memandang mereka sebagai beban, melainkan bagian hidup yang patut dirayakan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Resti Pujihasvuty (Researcher at Family Dynamic Research Group; Research Center for Population, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Gejala Depresi Dapat Menular, Begini Penjelasannya

    Gejala Depresi Dapat Menular, Begini Penjelasannya

    7cloud.asia – Ketika menyaksikan pasangan sedang bad mood atau depresi, kadang suasana hati kita juga ikut terganggu. Hal ini sangat wajar dan sangat mungkin terjadi.

    Penelitian pada 2022 menemukan bahwa emosi manusia tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Seperti virus, emosi dapat menular dari satu individu ke individu lainnya.

    Fenomena ini disebut sebagai penularan emosi (emotional contagion), yaitu kecenderungan seseorang untuk merasakan dan meniru emosi orang lain di sekelilingnya. Ini juga yang menyebabkan gejala depresi dapat ditularkan melalui interaksi sosial dengan penyintas.

    Lantas, bagaimana depresi bisa menular? Penularan emosi terjadi melalui dua mekanisme utama.

    Pertama adalah peniruan otomatis (automatic mimicry), yang membuat kita secara tidak sadar meniru ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh orang lain.

    Baca: Langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental

    Saat kita melihat seseorang menunjukkan ekspresi sedih, otot-otot wajah kita dapat secara refleks menyesuaikan diri dengan ekspresi tersebut, yang kemudian menimbulkan resonansi emosional di dalam diri.

    Proses sederhana ini membentuk dasar dari empati, termasuk menjadi pintu masuk bagi penularan suasana hati negatif, seperti sedih, putus asa, atau kelelahan emosional yang khas pada depresi.

    Kedua, otak kita memiliki sistem neuron cermin (mirror neuron system). Sistem ini membantu kita memahami dan merasakan emosi orang lain.

    Aktivasi sistem neuron cermin memungkinkan kita merasakan kesedihan, ketakutan, atau kegembiraan orang lain. Di sisi lain, hal ini juga menjadikan kita rentan tertular emosi negatif ketika berinteraksi dengan individu yang sedang depresi.

    Faktor yang meningkatkan risiko ‘tertular’ depresi
    Namun, ada sejumlah faktor bisa membuat seseorang cenderung lebih mudah tertular depresi. Berikut beberapa di antaranya:

    Baca: Gejala stres akibat gangguan mental di tempat kerja

    1. Karakteristik individu.
    Orang dengan empati tinggi, riwayat gangguan suasana hati, atau kebutuhan dukungan sosial yang berlebihan cenderung lebih mudah tertular suasana hati negatif.

    2. Tingkat interaksi
    Struktur jaringan sosial serta hubungan yang dekat dan intens dengan penyintas (seperti pasangan, sahabat, atau rekan kerja) bisa memperbesar peluang penularan.

    3. Konteks sosial
    Masa-masa stres berat atau isolasi sosial (seperti pandemi COVID-19) dapat memperkuat dampak penularan emosi negatif, baik secara langsung maupun melalui media digital.

    Meski demikian, penularan emosi ini bersifat dua arah. Jadi, sama seperti emosi negatif yang dapat menyebar, emosi positif juga bisa menular, seperti semangat, harapan, dan empati positif.

    Oleh karena itu, komunitas yang hangat, suportif, dan terbuka terhadap percakapan emosional punya peran penting dalam mencegah penyebaran depresi.

    Baca: Kapan kita harus berkonsultasi ke psikolog

    Ketika seseorang dikelilingi orang yang peduli dan mau mendengarkan tanpa menghakimi, tubuh kita menerima ‘sinyal’ aman yang menenangkan. Hal ini membantu menurunkan stres dan membuat kita merasa lebih terhubung dengan mereka.

    Makanya, pencegahan dan penanganan depresi tidak bisa berhenti pada level terapi individual.

    Perlu pendekatan yang mencakup intervensi berbasis komunitas, yaitu dengan memperkuat dukungan sosial, mengembangkan komunikasi empatik, dan membangun lingkungan emosional yang sehat.

    Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang penuh empati dan saling mendukung. Karena proses penyembuhan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga hasil dari interaksi manusiawi yang saling menguatkan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Jessica Christina Widhigdo (Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra)

     

  • Kondisi Tak Menentu Bisa Memicu Depresi, Kenali Gejalanya Yuk!

    Kondisi Tak Menentu Bisa Memicu Depresi, Kenali Gejalanya Yuk!

    7cloud.asia – Kondisi sosial politik yang tidak menentu ternyata dapat memicu depresi. Dan, depresi bukan hanya tentang merasa sedih dan tak berdaya.

    Menurut psikiater kenamaan, Nova Riyanti Yusuf, depresi bisa memengaruhi cara seseorang berpikir, berperilaku, bahkan merasakan tubuhnya sendiri.

    Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, mengenali tanda-tanda depresi menjadi langkah penting agar seseorang bisa segera mencari pertolongan.

    Dilansir Kompas.com, beberapa waktu lalu, Nova mengatakan bahwa mengenali gejala depresi ini untuk menolong, bukan untuk menghakimi

    Mengenali ciri-ciri depresi juga bukan untuk memberi label pada seseorang, tapi agar kita bisa memberi ruang bagi proses pemulihan.

    Depresi bisa dialami siapa saja, dari remaja, mahasiswa, hingga orang dewasa, dan sering kali tidak tampak dari luar.

    “Kadang mereka itu sudah kelihatan potensial, pintar, tapi kemampuan argumentatifnya hilang. Jadi ini ciri-cici depresi,” ucapnya.

    Kesadaran untuk mengenali tanda-tanda depresi menjadi langkah awal penting agar seseorang bisa segera mencari bantuan profesional.

    Baca: Awas! Gejala depresi dapat menular

    Melalui dukungan yang tepat, depresi dapat ditangani dan kualitas hidup bisa kembali pulih.

    Nova yang juga direktur utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi mengatakan, depresi bisa dilihat dari tiga kelompok gejala utama, yakni emosional dan psikologis, fisik, serta perubahan perilaku.

    “Ciri-ciri depresi ya, dari gejala emosional pasti ada ya. Seperti sedih, hilang minat, rasa guilty (bersalah), sulit konsentrasi, itu sering deh,” ujar Nova dalam acara Festival Kata 2025 akhir 2025 lalu.

    Berikut penjelasan dari ketiga gejala depresi yang disampaikan oleh Nova. Simak selengkapnya.

    1. Gejala emosional dan psikologis
    Gejala emosional dan psikologis menjadi tanda yang paling sering terlihat. Seseorang yang mengalami depresi biasanya merasa sedih hampir setiap hari dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.

    “Biasanya kan orang hedon ya. Orang yang ciri-ciri depresi itu unhedon, jadi dia enggak suka lagi hal-hal yang membuat happy,” kata Nova

    Hal ini terlihat seperti bagaimana seseorang bisa kehilangan minat pada kegiatan yang dulunya menyenangkan, namun sekarang tampak biasa saja.

    Dalam kondisi ini, perasaan tidak berharga dan sulit konsentrasi bisa muncul. Seseorang juga bisa merasa tidak mampu membuat keputusan, hingga muncul pikiran tentang kematian.

    Baca: Ini tandanya kita perlu berkonsultasi dengan Psikolog

    2. Gejala fisik
    Selain emosional, depresi juga tampak lewat gejala fisik. Dr. Nova menjelaskan bahwa banyak orang tidak menyadari kalau tubuh sebenarnya ikut merespons tekanan mental yang dialami.

    “Banyak yang mengalami insomnia, enggak bisa tidur. Atau sebaliknya, ketiduran terus,” ujarnya.

    Selain itu, gejala lain yang sering muncul adalah perubahan nafsu makan dan berat badan.

    Ada yang langsung kurus karena enggak mau makan, atau malah makan terus, comfort food (makanan yang membuat nyaman). Bahkan, pada beberapa orang makanan bisa jadi pelarian.

    “Dikit-dikit comfort food, mie goreng, mie ayam, sosis, teokbokki. Tepung semua,” tuturnya.

    Adapun, kelelahan ekstrem, nyeri tubuh, atau gangguan pencernaan tanpa sebab medis yang jelas juga bisa jadi tanda.

    “Kelelahan ekstrem tanpa sebab yang jelas. Bawaannya kayak lelah. Terus nyeri-nyeri tubuh, nyeri sakit kepala, sakit perut enggak jelas sebabnya. Udah minum obat warung, udah habis masih juga. Nah itu biasanya gangguan cerna karena ada gut brain axis,” jelasnya.

    3. Perubahan perilaku sehari-hari
    Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku. Seseorang bisa mulai menarik diri dari lingkungan sosial, menurunnya produktivitas, hingga mengabaikan kebersihan diri.

    “Menarik diri dari lingkungan sosial, keluarga, teman. Penurunan produktivitas kerja atau akademik,” paparnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa sebagian orang mencoba mengatasi perasaan emosionalnya dengan cara yang salah seperti mengonsumsi alkohol atau obat penenang untuk mengatasi sakit emosional.

    “Obat penenang tuh harus paling dijaga. Kalau di rumah sakit jiwa, saya paling jagain obat penenang di gudangnya,” ujarnya.

  • Studi: Olah Raga Singkat Selama 10 Menit Efektif Kurangi Dampak Depresi

    Studi: Olah Raga Singkat Selama 10 Menit Efektif Kurangi Dampak Depresi

    7cloud.asia – Depresi menjadi masalah serius dan beban berat bagi masyarakat modern yang sibuk dan banyak tuntutan.

    Diperkirakan, setidaknya 332 juta orang yang merasakan dampak depresi setiap tahun di seluruh dunia.

    Meskipun pengobatan berbasis bukti seperti psikoterapi efektif atasi depresi, perawatan profesional jangka panjang bukanlah pilihan bagi kebanyakan orang. Hal ini karena sejumlah hambatan seperti kurangnya akses, biaya, dan stigma.

    Bagi banyak orang, depresi dapat membuat pengendalian pikiran dan perasaan menjadi suatu hal yang sulit dicapai.

    Studi yang dilakukan Benjamin Kaveladze, mahasiswa Pascasarjana di Bidang Sumber Daya Kesehatan Mental, Dartmouth College menunjukkan bahwa intervensi satu sesi dapat menyebabkan pengurangan depresi selama berbulan-bulan pada orang dewasa.

    Baca: Yuk, kenali gejala depresi

    Studi ini menunjukkan bahwa meluangkan waktu hanya 10 menit untuk mempelajari keterampilan berbasis bukti dapat menjadi langkah pertama yang berharga menuju peningkatan jangka panjang.

    Dalam laporannya yang dilansir di sciencealert.com, Benjamin mengatakan, tujuan penelitian ini dalam mempelajari intervensi satu sesi sederhana untuk mengatasi depresi.

    “Jika kita dapat menyaring elemen inti dari perawatan psikologis yang efektif ke dalam format yang singkat dan mudah digunakan, akan ada lebih banyak orang akan dapat mengakses dukungan berbasis sains ketika mereka membutuhkannya,” ujarnya.

    Tujuan sesi ini bukan untuk menggantikan terapis atau psikiater, tetapi untuk menawarkan pilihan yang andal bagi orang-orang yang mungkin tidak menerima dukungan sama sekali.

    Intervensi satu sesi seperti ini juga dapat digunakan untuk mendukung perawatan tradisional, misalnya untuk orang-orang yang berada dalam daftar tunggu untuk bertemu terapis.

    Baca: Waspadai! Gejala depresi dapat menular

    Apa langkah selanjutnya?
    Setelah mengidentifikasi intervensi satu sesi yang efektif untuk mengatasi depresi, prioritas utama Benjamin dan tim adalah menyebarkan informasi bahwa sumber daya kesehatan mental singkat berbasis bukti ini tersedia secara online tanpa biaya.

    Misalnya, Koko, tim yang menciptakan intervensi paling berdampak dalam penelitian kami, menciptakan intervensi gratis selama lima hingga sepuluh menit untuk berbagai tantangan kesehatan mental.

    Anda juga dapat mencoba semua 12 intervensi satu sesi yang kami uji. Makalah yang telah kami publikasikan memiliki informasi lebih lanjut tentang efektivitas masing-masing intervensi.

    Tim kami, ujarnya, terus meneliti intervensi satu sesi dan mempelajari implementasinya di berbagai lingkungan, termasuk media sosial, sekolah, dan daftar tunggu terapi.

    “Kolaborator kami sedang mengeksplorasi bagaimana AI dapat membuat intervensi satu sesi lebih menarik dan dipersonalisasi sesuai kebutuhan pengguna,” imbuhnya.

  • Simak! Hasil Peneiitian Terbaru untuk Mengatasi Depresi

    Simak! Hasil Peneiitian Terbaru untuk Mengatasi Depresi

    7cloud.asia – Latihan atau kuis secara daring selama 10 menit yang dirancang dengan baik dapat mengurangi gejala depresi.

    Demikian hasil riset terbaru yang dilakukan Benjamin Kaveladze, mahasiswa Pascasarjana di Bidang Sumber Daya Kesehatan Mental, Dartmouth College diterbitkan di Nature Human Behavior.

    Banyak orang percaya bahwa untuk mulai mengatasi depresi, mereka membutuhkan terapis, pengobatan, atau perubahan radikal dalam lingkungan mereka.

    Namun, studi yang dilakukan Benjamin Kaveladze, menunjukkan bahwa mengambil langkah-langkah kecil untuk mempelajari keterampilan praktis dapat menghasilkan peningkatan yang terukur dalam mengatasi gejala depresi.

    Pada tahun 2024, tim yang dipimpin Benjamin menggunakan media sosial untuk mengajukan pertanyaan kepada mereka yang bekerja di bidang kesehatan mental:

    Jika Anda dapat meminta 500 orang yang berjuang dengan depresi untuk memberikan perhatian mereka selama 10 menit, bagaimana Anda akan menghabiskan waktu itu?

    “Kami menerima 66 tanggapan dari orang-orang di seluruh dunia, termasuk ilmuwan, pengembang aplikasi kesehatan mental, YouTuber populer, dan mahasiswa,” terang Benjamin seperti dilansir di sciencealert.com.

    Tim ini kemudian memilih 12 tanggapan yang dianggap paling menjanjikan untuk dikembangkan dan diuji secara ketat dalam salah satu uji coba terkontrol acak terbesar dari intervensi kesehatan mental yang pernah dilakukan.

    Kedua belas “intervensi satu sesi” ini sangat beragam. Beberapa menggunakan pendekatan berbasis sains yang muncul dari psikoterapi tatap muka, sementara yang lain sepenuhnya baru.

    Salah satunya menampilkan latihan menulis ekspresif berbasis kecerdasan buatan. Yang lain menggunakan kembali iklan inspiratif Asuransi Jiwa Thailand untuk menunjukkan bagaimana membantu orang lain dengan langkah kecil untuk dapat membuat hidup lebih bermakna.

    Iklan asuransi jiwa Thailand tentang “percaya pada kebaikan” ini menjadi viral dan menjadi dasar program efektif untuk mengelola depresi.

    Setiap intervensi membutuhkan waktu kurang dari 10 menit dan sepenuhnya dilakukan sendiri.

    “Dalam penelitian ini, kami secara acak menugaskan 7.505 peserta dewasa Amerika untuk menyelesaikan salah satu dari 12 intervensi satu sesi atau kondisi kontrol di mana mereka belajar tentang ikan trout,” imbuh Benjamin

    Peserta menjawab pertanyaan tentang perasaan mereka segera setelah menyelesaikan intervensi. Intervensi ini dilakukan sekali lagi sebulan kemudian. Setiap peserta hanya menyelesaikan intervensi (atau kontrol) satu kali.

    Hampir semua intervensi membuat pengguna merasa penuh harapan dan termotivasi untuk melakukan perubahan positif segera setelah menyelesaikannya. Namun sebulan kemudian, hanya dua – Interactive Cognitive Reappraisal dan Finding Focus – yang secara signifikan mengurangi depresi.

    Peningkatan selama sebulan ini rata-rata kecil, yakni sekitar 4 persen pengurangan lebih besar pada ukuran depresi standar untuk dua latihan teratas dibandingkan dengan kelompok kontrol.

    Namun, efek rata-rata yang kecil dapat membuat perbedaan nyata, terutama karena sifat program yang gratis dan singkat ini memberi mereka kemampuan unik untuk menjangkau orang-orang di skala global.

    Benjamin menegaskan penelitian ini penting, karena studi ini merupakan yang pertama menunjukkan bahwa intervensi satu sesi dapat menyebabkan pengurangan depresi selama sebulan pada orang dewasa.

    Tujuan penelitian bukan untuk menggantikan terapis atau psikiater, tetapi untuk menawarkan pilihan yang andal bagi mereka yang tidak menerima dukungan sama sekali.

    “Intervensi satu sesi seperti ini juga dapat digunakan untuk mendukung perawatan tradisional, misalnya untuk orang-orang yang berada dalam daftar tunggu untuk bertemu terapis,” pungkasnya.