Tag: desain biofilik

  • Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    7cloud.asia – Gaya hidup ramah lingkungan kini semakin dilirik banyak orang. Berbagai upaya untuk kembali ke alam dilakukan, termasuk dalam desain bangunan dan kota sehingga kemudian lahirlah desain biofilik. 

    Mungkin kamu bertanya-tanya apa sih desain biofilik itu? Desain biofilik adalah pendekatan arsitektur dan desain interior yang menggabungkan elemen alam dan alam ke dalam lingkungan binaan.

    Wujud desain biofilik bisa ditemukan di Bandara Changi, Singapura yang memasukkan hutan kecil di dalamnya.

    Baca:  Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Istilah “biophilia” yang menjadi dasar terminologi desain biofilik diciptakan oleh ahli biologi Edward O. Wilson. Kata ini mengacu pada hubungan manusia yang melekat dan kedekatan dengan alam. 

    Desain biofilik mengakui banyak manfaat menghubungkan manusia dengan alam di ruang hidup dan kerja mereka.

    Untuk itu desain biofilik berusaha untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesejahteraan penghuni, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan dengan menggabungkan elemen, pola, dan proses alami.

    Baca: 8 tanaman yang bisa menyerap polusi udara

    Manfaat desain biofilik antara lain dapat mengurangi stres, meningkatkan produktivitas, meningkatkan fungsi kognitif, meningkatkan kreativitas, dan secara keseluruhan meningkatkan kesejahteraan penghuninya.

    Dengan mengintegrasikan alam ke dalam lingkungan binaan kita, desain Biofilik bertujuan untuk menciptakan ruang yang mendorong hubungan mendalam antara manusia dan alam.

    Desain biofilik mendasarkan pada beberapa prinsip utama berikut ini: 

     

    Baca: Tanaman yang diyakini bisa membawa keberuntungan

    Alam di dalam ruang

    Desain biofilik melibatkan pengintegrasian tanaman hidup yang sebenarnya, fitur air, dan bahan alami seperti kayu dan batu ke dalam desain.

    Ini mungkin termasuk taman dalam ruangan, dinding hijau, atau penempatan tanaman yang strategis.

    Cahaya dan pemandangan alami

    Desain biofilik memaksimalkan penggunaan cahaya alami dan memberikan pemandangan luar ruangan merupakan aspek penting dari desain biofilik.

    Jendela besar, skylight, dan tata letak terbuka yang memungkinkan cahaya matahari yang cukup dan pemandangan alam membantu menciptakan koneksi ke alam.

     

    Baca: Mengenal mitos kehidupan bernama pohon hayat

    Bentuk dan pola organik

    Desain biofilik menggunakan bentuk dan pola organik mengalir yang meniru yang ditemukan di alam dapat membangkitkan rasa tenang dan relaksasi.

    Garis lengkung, pola fraktal, dan bentuk biomorfik dapat dimasukkan ke dalam elemen arsitektur, perabotan, dan karya seni.

    Bahan dan tekstur alami

    Desain biofilik menggabungkan bahan alami seperti kayu, batu, bambu, dan tekstil alami dapat menciptakan hubungan taktil dengan lingkungan.

    Tekstur yang menyerupai elemen alami, seperti permukaan yang kasar atau halus, dapat meningkatkan pengalaman indrawi.

    Baca: Menggali makna pohon hayat yang menjadi logo IKN

    Kualitas udara dalam ruangan

    Desain Biofilik juga mempertimbangkan kualitas udara dalam ruangan dengan menggabungkan sistem ventilasi yang tepat dan menggunakan bahan rendah VOC (senyawa organik yang mudah menguap).

    Kualitas udara yang baik mendukung lingkungan yang lebih sehat dan nyaman menjaid pertimbangan utama dalam konsep desain biofilik

    Habitat satwa liar dan keanekaragaman hayati

    Merancang ruang yang mendukung satwa liar dan mempromosikan keanekaragaman hayati adalah aspek lain dari desain biofilik. Ini dapat mencakup fitur yang menarik dan mendukung flora dan fauna lokal.

    Sumber: prettyslow.life, baca artikel asli di sini

  • Sama-sama untuk Berkelanjutan, Berikut Beda Desain Biofilik dan Desain Ramah Lingkungan

    Sama-sama untuk Berkelanjutan, Berikut Beda Desain Biofilik dan Desain Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Banyak orang menyamakan desain hijau atau desain ramah lingkungan dengan desain biofilik. 

    Padahal desain ramah lingkungan dan desain biofilik adalah dua konsep yang berbeda di bidang arsitektur berkelanjutan dan desain interior.

    Desain Hijau, juga dikenal sebagai desain berkelanjutan atau desain ramah lingkungan, berfokus terutama pada meminimalkan dampak lingkungan negatif dari bangunan dan mempromosikan praktik berkelanjutan.

    Baca: Manfaat desain biofilik

    Desain ramah lingkungan bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi, menghemat sumber daya, dan meminimalkan limbah sepanjang siklus hidup bangunan.

    Prinsip green design atau desain ramah lingkungan meliputi efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, konservasi air, pengurangan limbah, dan penggunaan material yang ramah lingkungan.

    Di sisi lain, sementara desain biofilik melampaui kelestarian lingkungan untuk menekankan hubungan manusia dengan alam dan manfaat menggabungkan elemen alam ke dalam lingkungan binaan.

    Baca: Terapkan desain ramah lingkungan dan kearifan lokal, bangunan ini raih Aga Khan Award

    Desain Biofilik berupaya menciptakan ruang yang meningkatkan kesejahteraan manusia, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan dengan mengintegrasikan alam dan pola alami ke dalam desain.

    Meskipun desain ramah lingkungan dan Biofilik bertujuan untuk menciptakan ruang yang berkelanjutan dan sadar lingkungan, keduanya memiliki fokus yang berbeda.

    Desain ramah lingkungan terutama membahas dampak lingkungan dan efisiensi sumber daya bangunan, sementara desain biofilik menekankan pengalaman manusia dan manfaat psikologis dan fisiologis dari keterhubungan dengan alam.

    Baca: Slow city, konsep baru mengelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Desain ramah lingkungan sering menggabungkan sistem hemat energi, bahan berkelanjutan, dan strategi konservasi sumber daya, sementara desain biofilik mencakup elemen seperti cahaya alami, tumbuh-tumbuhan, bahan alami, dan pemandangan alam untuk menciptakan hubungan dengan alam.

    Desain ramah lingkungan terutama berfokus pada kelestarian lingkungan, sedangkan Biophilic Design bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan menciptakan ruang yang menumbuhkan hubungan yang kuat dengan alam.

    Kedua pendekatan tersebut sangat berharga dalam menciptakan lingkungan binaan yang sehat dan berkelanjutan serta dapat saling melengkapi dalam menciptakan desain yang holistik dan sadar lingkungan.

    Baca: Bersepeda, cara warga kota nikmati kotanya

    Singkatnya, ini adalah perbedaan utama antara desain ramah lingkungan dan desain biofilik:

    Fokus

    Desain ramah lingkungan terutama berfokus pada meminimalkan dampak lingkungan negatif dari bangunan dan mempromosikan praktik berkelanjutan.

    Desain ramah lingkungan ini menekankan efisiensi sumber daya, konservasi energi, konservasi air, pengurangan limbah, dan penggunaan bahan ramah lingkungan.

    Desain Biofilik, di sisi lain, menekankan pada hubungan manusia-alam dan berupaya mengintegrasikan elemen dan pola alami ke dalam lingkungan binaan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan menciptakan ikatan yang lebih kuat dengan alam.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Tujuan

    Desain ramah lingkungan bertujuan untuk mengurangi jejak ekologi bangunan dan membuatnya lebih ramah lingkungan.

    Desain ramah lingkungan berusaha untuk mengatasi masalah seperti konsumsi energi, emisi karbon, penggunaan air, dan generasi limbah.

    Desain Biofilik, selain menangani keberlanjutan, berfokus pada manfaat fisiologis, psikologis, dan emosional dari keterhubungan dengan alam. Ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang meningkatkan kesehatan manusia, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan warga Kota Bogota

    Strategi dan Elemen

    Desain ramah lingkungan menggunakan strategi seperti sistem hemat energi, penggunaan energi terbarukan, perlengkapan air yang efisien, bahan daur ulang, dan praktik pengelolaan limbah.

    Desain ramah lingkungan ini berfokus pada menggabungkan teknologi berkelanjutan dan meminimalkan konsumsi sumber daya.

    Desain biofilik memanfaatkan unsur-unsur alami seperti cahaya matahari, pemandangan alam, tumbuhan hidup, bahan alami, dan fitur air untuk menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan alam.

    Desain biofilik ini juga menekankan penggunaan bentuk, pola, dan tekstur organik yang terinspirasi oleh alam.

    Baca: Jakarta kini sudah punya peta bersepeda

    Pengalaman Manusia

    Meskipun Desain ramah lingkungan dan Desain Biofilik memprioritaskan kesejahteraan manusia, Desain Biofilik lebih menekankan pada penciptaan ruang yang berdampak positif bagi pengalaman manusia.

    Desain biofilik berusaha untuk meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi stres, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan dengan mengintegrasikan elemen alam dan alami ke dalam desain.

    Sementara desain ramah lingkungan, sambil mempertimbangkan kenyamanan penghuni, lebih fokus pada pengurangan dampak lingkungan dari bangunan.

  • Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau rendah emisi.

    Pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu juga meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Ini karena desain biofilik menghubungkan manusia sebagai penghuni kota/bangunan dengan alam, sekaligus mengoptimalkan cahaya dan meningkatkan kualitas udara sekaligus mengurangi penggunaan energi.

    Desain biofilik yang berkelanjutan dan canggih dapat mengurangi konsumsi material berdampak tinggi seperti kaca dengan emisivitas rendah (Low-E), isolasi berkinerja tinggi, dan sistem ramah lingkungan.

    Fitur-fitur ini menjadikannya penting untuk proyek-proyek sadar iklim. Berinvestasi dalam strategi ramah lingkungan ini akan mendorong masa depan yang lebih harmonis bagi manusia dan planet ini.

    Baca: Desain Biofilik menghadirkan alam ke dalam bangunan

    Banyak pakar menyebut desain biofilik merupakan tahap tingkat lanjut dalam arsitektur modern.

    Desain biofilik berkembang jauh melampaui penambahan penghijauan pada lanskap perkotaan. Arsitek masa kini menciptakan ekosistem di dalam bangunan untuk membantu menumbuhkan manfaat penting alam di kawasan perkotaan yang padat.

    Para ahli percaya peralihan ke arsitektur biofilik dapat mendorong keberlanjutan dengan memasukkan proses alami ke dalam ruang sehari-hari, membantu mengatasi tantangan perkotaan seperti kelangkaan sumber daya dan terbatasnya akses ke kawasan hijau.

    Melalui fitur-fitur inovatif seperti dinding hidup yang sarat tanaman, taman di puncak gedung, ataupun koridor hijau, desain biofilik menghubungkan kembali manusia dengan alam.

    Hal ini menciptakan ekosistem perkotaan yang mendukung keanekaragaman hayati, mengelola air hujan, dan meningkatkan kualitas udara.

    Baca: Beda desain biofilik dan desain ramah lingkungan

    Pendekatan ini memposisikan bangunan sebagai kontributor aktif terhadap keberlanjutan perkotaan, membawa sistem alam ke dalam ruang yang sering kali terlewatkan.

    Sinergi antara biomimikri dan biofilia mendorong transformasi ini seiring dengan semakin banyaknya arsitek yang mengandalkan alam sebagai inspirasi.

    Dengan meniru proses seperti teknik pendinginan mandiri pada sarang rayap atau penangkapan energi yang efisien pada dedaunan, para arsitek dapat membuat bangunan yang mengoptimalkan penggunaan listrik dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi penghuninya.

    Desain biofilik menawarkan manfaat terukur, mulai dari peningkatan kenyamanan termal dan produktivitas hingga peningkatan kesejahteraan emosional.

    Pada ujungnya, desain biofilik akan meningkatkan tampilan ruang kota dan membangun lingkungan berkelanjutan yang mendukung planet ini dan penghuninya.

  • Prinsip Desain Ruang Berkinerja Tinggi sebagai Salah Satu Aspek Desain Biofilik

    Prinsip Desain Ruang Berkinerja Tinggi sebagai Salah Satu Aspek Desain Biofilik

    7cloud.asia – Prinsip desain ruang berkinerja tinggi menjadi salah satu aspek desain biofilik yang ramah lingkungan.

    Prinsip desain ruang berkinerja tinggi ini bertujuan untuk menciptakan bangunan berketahanan dan hemat energi yang bermanfaat bagi lingkungan dan penghuninya.

    Langkah-langkah yang dilakukan, antara lain dengan menurunkan kandungan karbon, memaksimalkan efisiensi sumber daya, serta meningkatkan kualitas udara dalam ruangan yang dapat mendukung tujuan ekologi dan kesehatan manusia.

    Prinsip desain ruang berkinerja tinggi berupaya mewujudkan bangunan yang rendah emisi sekaligus rendah jejak karbonnya.

    Desain rendah emisi menargetkan arsitektur yang inovatif dan berkelanjutan. Hal ini mendorong bangunan yang menyeimbangkan energi yang dikonsumsi dengan energi terbarukan yang dihasilkan.

    Baca: Atap hijau penuh tumbuhan makin diminati karena bagus untuk lingkungan

    Sebagian besar tujuan rendah emisi ini berfokus pada pengurangan kandungan karbon, termasuk jejak karbon tersembunyi yang terkait dengan produksi dan pengangkutan material bangunan dalam proses konstruksi.

    Penggunaan material ramah lingkungan seperti baja daur ulang atau beton rendah karbon menjadi poin utama, karena menciptakan bangunan dengan kandungan karbon yang lebih rendah dan siklus hidup yang lebih lama dan efisien.

    Hal ini penting karena hampir 40 persen jejak karbon di Amerika Serikat, tempat penulis tinggal, berasal dari konsumsi listrik saja.

    Menggabungkan pilihan material yang cerdas dengan elemen desain praktis akan menurunkan dampak bangunan terhadap lingkungan dan mendukung masa depan yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

    Transparansi Materi dan Penilaian Siklus Hidup
    Analisis siklus hidup yang lengkap membantu arsitek dan pengembang dalam membuat pilihan material yang bermanfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.

    Baca: Bangunan hijau menjadi solusi strategis untuk antisipasi pemanasan global

    Pendekatan ini mempertimbangkan keseluruhan perjalanan material, mulai dari produksi dan transportasi hingga penggunaan dan pembuangan, guna memastikan dampak lingkungan yang rendah di setiap tahapannya.

    Deklarasi Produk Lingkungan (EPD) sangat penting dalam proses ini karena memberikan data yang transparan dan terstandarisasi mengenai jejak karbon, konsumsi energi, dan emisi suatu material.

    Dengan EPD, desainer dapat membuat pilihan berdasarkan informasi yang selaras dengan tujuan keberlanjutan. Mereka dapat memilih material yang mendukung efisiensi dan ramah lingkungan bangunan dari awal hingga akhir.

    Dengan berfokus pada analisis siklus hidup penuh dan EPD, perancang dapat mengurangi emisi dan menyiapkan proyek yang bertanggung jawab terhadap lingkungan selama beberapa dekade.

    Baca: Desain biofilik menghadirkan alam ke dalam bangunan

    Energi Operasional dan Energi Terwujud
    Untuk menciptakan bangunan ramah lingkungan, desain berkelanjutan harus memperhatikan penggunaan energi selama masa pakai bangunan beserta energi yang terkandung di dalamnya.

    Bangunan di AS menyumbang 75 persen dari total konsumsi listrik, hal ini menggarisbawahi perlunya memangkas operasional dan penggunaan energi untuk mencapai tujuan ekologis.

    Penggunaan selama masa pakai bangunan mencakup semua yang diperlukan untuk pengoperasian sehari-hari, mulai dari pemanasan dan pendinginan hingga penerangan dan peralatan.

    Strategi untuk menurunkan angka ini termasuk memasang sistem HVAC yang efisien, menggunakan lampu LED, dan memanfaatkan sumber terbarukan seperti tenaga surya.

    Memilih material berdampak rendah, seperti logam daur ulang atau beton rendah karbon, dapat mengurangi jejak lingkungan suatu bangunan sebelum ditinggali.

  • Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau bangunan rendah emisi.

    Perlu diingat, pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu desain biofilik juga akan meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Memadukan kaca rendah emisi dan material efisien lainnya ke dalam desain biofilik dan berkelanjutan dapat mengoptimalkan konsumsi energi dan menurunkan secara signifikan dampak bangunan pada lingkungan.

    Pemilihan sumber daya dan elemen desain yang cermat menciptakan ruang yang memaksimalkan cahaya alami, mengurangi kebutuhan energi, sekaligus menumbuhkan hubungan mendalam dengan lingkungan.

    Baca: Desain Biofilik membuka jalan menuju kota rendah emisi

    Para perancang dapat mengintegrasikan kaca rendah emisi dengan material ramah lingkungan lainnya ke dalam desain biofilik melalui langkah-langkah praktis berikut:

    Tentukan tujuan energi dan lingkungan:
    Tetapkan target efisiensi dan keberlanjutan yang jelas untuk memandu pilihan material dan desain berdasarkan kebutuhan proyek.

    Analisis pertimbangan iklim:
    Untuk mengoptimalkan retensi atau pantulan panas, pilih jenis kaca rendah emisi yang sesuai berdasarkan kondisi iklim setempat.

    Misalnya, kaca lembaran menutupi lebih dari 50 persen luas permukaan eksterior gedung pencakar langit modern. Namun, ia menghantarkan panas dengan cepat dan menghasilkan konsumsi yang lebih tinggi.

    Berkonsultasi dengan pakar keberlanjutan:
    Libatkan konsultan untuk melakukan penilaian siklus hidup, untuk memastikan material memiliki kandungan karbon yang rendah dan EPD yang tinggi.

    Baca: Mengenal lebih dekat konsep desain biofilik

    Mengarahkan bangunan untuk mendapatkan manfaat sinar matahari:
    Rencanakan penempatan jendela dan orientasi bangunan untuk memanfaatkan pemanasan matahari pasif di bulan-bulan dingin dan menghindari perolehan panas berlebih di bulan-bulan hangat.

    Menggabungkan sistem peneduh dinamis:
    Gunakan tirai atau kisi-kisi otomatis untuk menyesuaikan peneduh dan memungkinkan cahaya alami tanpa panas berlebihan.

    Tambahkan elemen biofilik dengan cermat:
    Padukan material alami, dinding hidup, dan atap hijau untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dan membina hubungan yang lebih kuat dengan alam.

    Targetkan sertifikasi bangunan ramah lingkungan:
    Targetkan sertifikasi seperti LEED atau WELL, yang memberikan kerangka kerja untuk menggabungkan praktik berkelanjutan dan material yang efisien di seluruh proses desain.

    Langkah-langkah di atas akan dapat menciptakan struktur yang memenuhi standar kinerja dan memperkaya hubungan penghuni dengan lingkungan alam.

    Menjelajahi strategi canggih untuk menggabungkan kaca rendah emisi dan material ramah lingkungan memungkinkan para arsitek untuk mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dilakukan dalam desain lingkungan.

    Dengan mengadopsi teknik-teknik ini, dimungkinkan untuk menciptakan kawasan yang hemat energi dan sangat terhubung dengan alam.