7cloud.asia – Dalam upaya menekan emisi karbon atau dekarbonisasi ekonomi global dan mengantisipasi krisis iklim, mata dunia lebih banyak menyorot energi terbarukan, kendaraan listrik, dan penangkapan karbon.
Padahal, ada pengungkit lain yang sama kuatnya dalam menekan emisi karbon hingga mendekati nol persen yang sering kali beroperasi di balik layar yaitu ekonomi sirkular yang juga disebut sebagai sirkularitas.
Ekonomi sirkular atau sirkularitas bukan sekadar strategi pengelolaan limbah, tetapi juga pemikiran ulang sistemik tentang cara mendesain, memproduksi, sekaligus dalam mengonsumsi.
Ekonomi sirkular adalah strategi yang menata ulang limbah sebagai sumber daya, merangkul penggunaan ulang daripada penggantian, dan melihat nilai dalam material jauh setelah masa pakai pertamanya.
Dan, yang terpenting, ekonomi sirkular memiliki potensi yang sangat besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di setiap sektor industri.
Dalam ekonomi linier, kita diajarkan untuk memperlakukan produk dengan pola pikir “satu-dan-selesai”; gunakan sekali, buang, dan lanjutkan. Pola ini terbukti hasilkan banyak limbah.
Baca: Menyelesaikan masalah polusi plastik dengan ekonomi sirkular
Sebaliknya, ekonomi sirkular mendorong orang untuk mengambil material dan menggunakannya kembali sebagaimana adanya, atau mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk digunakan.
Ekonomi sirkular cenderung menyingkirkan model “ambil, buang, buat” dan meminta kita untuk mencoba menggunakan kembali material selama mungkin. Banyak hal yang mendasari ekonomi sirkular bergantung pada material apa yang dimasukkan ke dalam siklus sirkular.
Namun, masalahnya adalah tidak semua material bisa digunakan berulang kali. Material seperti kaca, aluminium, dan baja, yang dapat dilebur dan dibentuk ulang tanpa kehilangan sifat intinya, memiliki potensi tertinggi untuk sirkularitas sejati.
Material tersebut dapat didaur ulang berulang kali, dengan kemurnian dan kekuatan material yang tetap terjaga setiap siklusnya. Kaca dapat dilebur dan dibentuk ulang tanpa degradasi, dan logam, seperti aluminium, mempertahankan kualitasnya bahkan setelah digunakan berkali-kali.
Jenis plastik tertentu, khususnya termoplastik, juga dapat dilebur dan dibentuk ulang, meskipun cenderung mengalami degradasi pada setiap siklus daur ulang.
Namun, tidak semua material sesuai dengan pola ini. Sebut saja kayu, tekstil, dan komposit tidak dapat dilebur atau dibentuk ulang dengan cara yang sama.
Baca: Mendulang cuan dari model ekonomi sirkular
Meskipun kayu dapat digunakan kembali atau didaur ulang (menjadikannya produk bermutu rendah, seperti membuat rak atau palet kayu dari meja yang rusak), setiap penggunaan baru mengurangi kualitasnya.
Keramik sangat tahan lama tetapi tidak dapat dengan mudah dicairkan atau didaur ulang dengan cara tradisional. Bahan yang kita daur ulang secara teratur seperti kardus juga tidak mengalami siklus tanpa akhir.
Setelah beberapa siklus, seratnya menjadi lebih pendek dan lebih lemah, dan kardus kehilangan integritas strukturalnya. Inilah sebabnya mengapa bubur kayu baru sering dicampur dengan bahan daur ulang untuk memastikan kekuatannya.
Tekstil juga menghadapi keterbatasan; mereka dapat digunakan kembali atau dibuat kompos tetapi tidak dapat digunakan kembali tanpa henti dalam bentuk aslinya.
Bahan-bahan seperti ini masih dapat berkontribusi pada ekonomi sirkular, tetapi tidak dalam siklus daur ulang “tak terbatas” yang sama seperti yang dinikmati logam dan kaca.
Daur ulangnya sering kali melibatkan daur ulang, atau diproses secara biologis, seperti dengan pengomposan atau penguraian/biodegradasi.
Apa saja jenis ekonomi sirkular dan bagaimana ekonomi ini dapat diterapkan, akan diulas dalam tulisan selanjutnya. Jangan lewatkan!
Baca: Sejumlah merek global mulai terapkan ekonomi sirkular

Leave a Reply