Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

Written by

in

7cloud.asia – Sejumlah produsen yang menggunakan kemasan plastik mengklaim dan menggencarkan iklan telah menerapkan ekonomi sirkular.

Namun demikian, klaim perapan ekonomi sirkular ini belum bisa dikatakan benar jika produknya belum menggunakan plastik hasil daur ulang (rPET). Ini karena konsep ekonomi sirkular terbaik adalah model Close Loop atau menjadikan hasil plastik daur ulang kembali sebagai bahan kemasan.

Demikian salah satu topik yang diangkat dalam webinar bertema “Akuntabilitas Program Pengelolaan Sampah Plastik Produsen” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Profesi Jurnalis Indonesia (APJI), Rabu (15/6/2023).

Ujang Solihin “Uso” Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, penarikan kembali dan daur ulang botol-botol plastik itu merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular.

Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastik

Menurutnya, langkah ini ada arahan kebijakan atau semacam directive dalam pengelolaan sampah plastik, namun belum secara tegas dinyatakan sebagai mandatory.

“Tapi, directive ke depan bahwa kemasan-kemasan botol-botol plastik AMDK, baik yang kecil maupun ukuran besar atau galon itu harus mengandung recycle content, harus mengandung bahan daur ulang,” ujarnya.

Uso menambahkan, di Uni Eropa, tahun depan recycle content itu sudah 25% harus mandatory.

“Jadi, produk-produk yang berbasis kemasan PET tidak bisa dipasarkan di seluruh negara Eropa kalau tidak mengandung 25% bahan daur ulang di dalam kemasan,” ungkapnya.

Baca: Pemerintah-produsen dan konsumen harus bahu membahu tangani sampah plastik

Karena, kata Uso, dalam prinsip pendauran ulang atau recycle, produsen wajib untuk melakukan pendauran ulang produk atau kemasan produk yang mereka hasilkan melalui
penarikan kembali.

“Jadi, post costumer packaging itu harus ditarik lagi, dikumpulkan lagi oleh para produsen untuk kemudian masuk ke jalur daur ulang. Tentunya harus dipastikan di awal bahwa kemasan itu memang kemasan yang layak, mudah didaur ulang,” tandasnya.

Uso menegaskan, ketika bicara daur ulang, yang ideal itu adalah model close loop (botol harus kembali ke botol) dan dan bukan open loop atau down cycle (botolnya dari daur ulang
menjadi produk lain).

Dia menyebutkan sudah ada beberapa produsen terutama produsen yang menghasilkan produk minuman dengan wadah kemasan plastik PET yang sudah menerapkan model close loop atau recycle PET.

Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

“Berdasarkan data kami, yang sudah bergerak ke sana itu Danone Aqua atau Danone Indonesia yang produknya bermerk Aqua. Kemudian yang sudah bergerak ke arah sana juga, tapi ini baru tahap awal atau rencana dan mereka sudah bangun pabrik juga yaitu Coca Cola dengan produk PET. Yang lainnya belum, baru dua itu,” tuturnya.

Bisuk Abraham Sisungkunon, Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) mengatakan esensi dari ekonomi sirkular kadang
hanya terbatasi oleh yang namanya pendauran ulang. Padahal, lanjutnya, sebetulnya sirkulasi ekonomi jauh lebih luas.

“Kita ingin menghasilkan sebuah close loop. Jadi diupayakan agar produsen itu bisa menarik lagi bekas kemasan plastiknya sehingga itu bisa masuk lagi ke dalam siklus produksi. Hal ini
bisa mengurangi jumlah sampah yang akan tertumpuk di TPS itu akan menjadi lebih sedikit daripada yang sebelumnya,” ujarnya.

Baca: Robries, cara unik daur ulang sampah plastik

Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo mengatakan, menjadi tantangan bagi industri AMDK untuk menerapkan model close loop sebagai realialisasi ekonomi sirkular.

Karena, menurutnya, pada saat berbicara tentang close loop, itu akan kembali lagi menjadi sebuah kemasan seperti yang didesain pada awalnya atau air minum menjadi kemasan air minum lagi.

“Tidak semua industri siap menerapkan konsep ini karena membutuhkan sebuah tantangan. Karenanya perlu mulai dipikirkan bagaimana kita bisa meng-encourage konsumen kita atau pengguna produk ini untuk mengembalikan atau untuk terlibat dalam sebuah close loop system,” ucapnya.

Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace, menyambut baik dengan adanya dorongan kepada produsen AMDK untuk menerapkan model circular close loop.

Menurutnya, dengan daur ulang menjadi produk yang sama akan jauh lebih baik karena tidak perlu lagi mencari atau mengambil sumber daya yang baru.

“Tapi memang pada praktiknya di lapangan tentu ini tidak mudah. Tapi, sebenarnya model sirkuler yang ideal itu adalah ketika didaur ulang yaitu menjadi resource yang sama, itu akan bertahan menjadi satu produk yang sama,” katanya.

Baca: Plastik ramah lingkungan yang ada di Indonesia

Reza Andreanto, Ketua Umum PRAISE dan juga Sustainability Manager TetraPak Indonesia bahkan mengutarakan bahwa dalam konteks ekonomi sirkular, model close loop ini levelnya lebih tinggi.

Tapi, menurutnya, untuk bisa mengarah ke model close loop ini dibutuhkan proses mengingat pengendaliannya di masyarakat itu juga cukup berat.

“Kalau di lapangan ini tantangan cukup besar sehingga pelaksanaannya tidak bisa diterapkan secara otomatis tapi harus bertahap,” tukasnya.

Penulis: Charles Maruli Siahaan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *