7cloud.asia – Perubahan iklim telah mengakibatkan musim panas di Eropa dirasakan makin membara dan mengintensifkan gelombang panas dan kebakaran hutan beberapa tahun belakangan ini.
Musim panas yang terlalu terik akibat perubahan iklim ini tak hanya berdampak pada keseharian warga, tapi juga pada pariwisata di sejumlah negara Eropa.
Industri pariwisata dan wisatawan perlu menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim yang semakin meningkat. Ini menjadi isu yang lebih besar bagi negara-negara di Eropa selatan yang mengandalkan pariwisata untuk meningkatkan perekonomian mereka.
Sejumlah wisatawan yang merencanakan liburan ke negara-negara Mediterania yang lebih hangat, mengeluhkan cuaca yang terlalu panas.
Minat untuk mengunjungi negara-negara Mediterania menurun pada tahun 2023 akibat gelombang panas dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor.
Baca: Sekjen PBB serukan tinggalkan bahan bakar fosil tuk hadang krisis iklim
Tempat tujuan wisata yang lebih sejuk menjadi semakin populer di Eropa, kata para ahli.
Panas ekstrem akibat perubahan iklim ini memiliki potensi untuk makin mendorong pergeseran wisatawan ke Eropa utara yang lebih sejuk.
Pengaruh perubahan iklim terhadap tempat tujuan liburan turis akan memiliki dampak serius bagi beberapa negara yang sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan mereka.
Di Yunani, sektor pariwisata menyumbang hampir 41 miliar dollar AS atau sekitar 20 persen dari seluruh ekonomi negara, menurut World Travel and Tourism Council.
Sementara di Italia, peringatan tingkat tiga terkait gelombang panas telah dikeluarkan untuk kota-kota seperti Roma, Perugia, dan Palermo.
Baca: Krisis iklim dan pemanasan global ancam pariwisata dunia
Sektor pariwisata menyumbang 10 persen perekonomian seluruh negeri ini. Di mana satu dari delapan pekerjaan di negeri itu terkait dengan industri ini.
Para wisatawan di Eropa selatan disarankan untuk beradaptasi sebelum melakukan aktivitas fisik yang berat di bawah terik matahari.
Selain panas ekstrem, perubahan iklim juga mempengaruhi munculnya populasi nyamuk pembawa penyakit ke wilayah-wilayah baru di Eropa, menurut European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC).
Penduduk seperti Clark, yang saat ini menginap di Skyros, mengatakan bahwa jumlah nyamuk sangat banyak selama musim panas pada awal Juni.
Prediksi masa depan pariwisata Eropa di tengah krisis iklim Eduardo Santander, CEO European Travel Commission (ETC), mengatakan kepada CNN Travel, bahwa kekhawatiran wisatawan tentang perubahan iklim cenderung bersifat sementara.
Baca: Kebakaran lahan tewaskan puluhan warga di Yunani pada tahun lalu
Namun, ia menambahkan bahwa di masa depan hal ini bisa menyebabkan lebih banyak wisatawan mengunjungi Eropa selatan selama musim semi dan akhir musim gugur daripada selama musim panas yang lebih panas.
Krisis iklim dan krisis panas yang semakin parah memaksa industri pariwisata di Eropa untuk memikirkan adaptasi iklim yang lebih serius.
Salah satunya adalah dengan fleksibilitas dalam aturan pemesanan penerbangan dan hotel.
Selain itu, wisatawan juga diprediksi akan lebih gemar bepergian pada malam hari saat udara sejuk, sehingga wisata malam berpotensi berkembang.
Sumber:CNNTravel

Leave a Reply