Tag: Green Jobs

  • Riset SUMA UI: Mayoritas Mahasiswa Tertarik pada Green Jobs demi Lestarikan Lingkungan

    Riset SUMA UI: Mayoritas Mahasiswa Tertarik pada Green Jobs demi Lestarikan Lingkungan

    7cloud.asia –  Ketertarikan mahasiswa terhadap pekerjaan hijau atau green jobs ternyata cukup tinggi yakni mencapai 98 persen.

    Demikian hasil riset bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa (Suma) Universitas Indonesia (UI) dan Yayasan CERAH Indonesia soal potensi green jobs di kalangan mahasiswa.

    “Anak muda percaya bahwa green jobs memberikan peluang karier yang menarik,” kata Pemimpin Redaksi Suma UI, Dian Amalia Ariani di Kampus UI Depok, Selasa (21/11/2023).

    Menurut dia, ketertarikan anak muda terhadap green jobs tidak terlepas dari kekhawatiran mengenai dampak krisis iklim dan degradasi lingkungan yang makin parah.

    Baca: Pentingnya green skills untuk kelestarian lingkungan

    Saat mencari pekerjaan, mereka tidak hanya mempertimbangkan penghasilan, tetapi juga ingin pekerjaannya berdampak positif bagi lingkungan.

    Namun demikian, masih banyak hambatan yang dihadapi responden dalam mengakses green skills.

    “Informasi tentang pekerjaan hijau saat ini masih kurang atau bahkan tidak dapat diakses,” ujar Dian.

    Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Bappenas, Maliki, menekankan bahwa green jobs kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

    Baca: Generasi muda sadra lingkungan, tapi yang aktif bergerak masih sedikit

    Ia menyoroti berbagai manfaat yang dihasilkan dari green jobs, seperti manfaat ekonomi, pengurangan emisi, dan peningkatan lapangan kerja.

    Menurutnya, kebutuhan industri akan tenaga kerja hijau belum seimbang, sehingga hal itu menjadi peluang bagi anak muda untuk memainkan peran penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut.

    Bappenas saat ini sedang menyusun peta jalan pengembangan sumber daya manusia menuju pekerjaan hijau.

    Dalam menghadapi krisis lingkungan dan iklim, transisi ke pekerjaan hijau diharapkan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari dan menciptakan dampak positif yang signifikan.

    Baca: Cara media memotret aksi lingkungan anak muda

    “Ada kekhawatiran bahwa uang di green jobs itu tidak menjanjikan. Untuk sekarang mungkin belum, tetapi untuk 10–15 tahun ke depan, karena semua akan green, itu akan lebih kompetitif,” ujar Maliki.

    Senior Project Development Manager Akuo Energy, Dallih Warviyan, mengatakan prospek green jobs cukup cerah karena berbagai pekerjaan baru yang muncul akibat krisis iklim.

    Ada banyak green jobs yang belum banyak diketahui khalayak, misalnya sustainability manager, wind turbine engineer, solar energy specialist, hingga environmental health and designer.

    Akan tetapi, ia mencatat bahwa peningkatan green jobs tidak sebanding dengan peningkatan green skills.

    Baca: Bumi butuh aksi nyata anak muda untuk merawat lingkungan

    Kebutuhan akan green jobs muncul dari industri baru, juga industri konvensional. Hanya saja, peningkatan green jobs naik 8 persen dalam durasi 5 tahun (2016–2021), namun tidak dibarengi dengan green skills yang hanya naik 6 persen.

    “Jadi, demand-nya ada, supply-nya belum mencukupi,” kata Dallih.

    Manajer Kebijakan dan Advokasi Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan menuturkan pentingnya sinergi dari lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mempromosikan pekerjaan hijau kepada masyarakat.

    Hal ini karena masih banyak miskonsepsi di kalangan mahasiswa dan masyarakat terkait green jobs.

    Baca: Demi lingkungan, Nicholas Saputra ajak anak muda mengubah pola konsumsinya

    Azis mengatakan, miskonsepsi ini  juga terjadi pada mahasiswa yang dekat dengan isu lingkungan.

    “Apalagi kalau kita menyurvei masyarakat umum, pasti lebih banyak lagi,” tandasnya.

    Oleh karena itu, dibutuhkan program peningkatan kesadaran melalui kampanye, serta upaya penguatan melalui peraturan perundang-undangan.

    Sumber: Antaranews

  • Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    7cloud.asia – Asosiasi Industri Fotovoltaik Eropa (EPIA) bersama Greenpeace International memprediksi green jobs akan menjadi tren global mulai tahun 2025.

    Namun, badan PBB untuk program pembangunan (UNDP) memperkirakan pada tahun 2030, 60 persen generasi muda di dunia belum memiliki green skills yang diperlukan untuk memasuki era green jobs.

    Green jobs adalah jenis pekerjaan yang berkontribusi melestarikan dan memulihkan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan dan sektor ekonomi.

    Green jobs antara lain mencakup pekerjaan yang dapat membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi.

    Salah satu bentuk green jobs saat ini misalnya pekerjaan teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bertanggung jawab mentransformasikan energi terbarukan agar berkelanjutan.

    Untuk mendukung penciptaan green jobs, Higher Education Sustainability Initiative, kemitraan terbuka antara beberapa badan PBB dan komunitas pendidikan tinggi, mengkampanyekan “Education for Green Jobs” sebagai upaya untuk memfasilitasi tuntutan green jobs melalui pendidikan.

    Lantas apa saja langkah yang ditempuh?

    Yang pertana adalah membangun green awareness. Green awareness atau kesadaran hijau merupakan sikap yang dianggap pro-lingkungan.

    Kesadaran ini memahamkan pentingnya mengurangi jejak ekologis untuk menjaga keberlanjutan Bumi, sebagai bentuk menghadapi tantangan kritis persoalan lingkungan.

    Untuk mendukung green jobs di masa depan, institusi pendidikan perlu menyuburkan green awareness sehingga dapat mendorong siswa menerapkan praktik keberlanjutan, seperti pengurangan jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.

    Sekolah-sekolah di Indonesia juga dapat membangun green awareness dengan menguatkan literasi lingkungan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan_ (OECD), green awareness mencakup:

    Kesadaran terhadap isu-isu lingkungan: Diukur dari seberapa banyak siswa mendapat informasi tentang isu-isu lingkungan saat ini.

    Persepsi terhadap permasalahan lingkungan hidup: Diukur dari seberapa besar kepedulian siswa terhadap permasalahan lingkungan hidup.

    Optimisme lingkungan: Diukur dari keyakinan siswa bahwa tindakan mereka atau tindakan manusia dapat berkontribusi terhadap pelestarian dan perbaikan lingkungan.

    Dalam membangun green awareness, para guru berperan sebagai fasilitator utama dalam menyampaikan pengetahuan dan pemahaman mengenai isu-isu lingkungan. Guru membentuk karakter dan nilai-nilai berkelanjutan, semisal dengan memberikan landasan konseptual yang kuat kepada siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan.

    Kurikulum Merdeka yang saat ini digunakan oleh sekolah belum berhasil membuat kesadaran lingkungan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan bagi siswa.

    Meskipun pembelajaran sudah terintegrasi, masih terdapat hambatan pengetahuan, keterampilan, dan infrastruktur yang perlu diatasi. Ini menunjukkan upaya membangun green awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tapi juga sekolah dan pemerintah secara kolaboratif.

    Revitalisasi pendidikan
    Bentuk revitalisasi pendidikan untuk memenuhi tuntutan green jobs dapat dilakukan dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia sejak dini.

    Dimulai dari pembuatan kebijakan pendidikan untuk membentuk standar kompetensi yang mengarah pada keahlian dan kesiapan menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

    Kebijakan ini juga perlu memperhatikan unsur kesinambungan dan keberlanjutan di semua tingkatan.

    Pemerhati pendidikan Ina Liem dalam wawancara di VOA Indonesia menyebutkan, di sekolah dasar hingga menengah atas, sistem pendidikan seringkali memiliki proyek ramah lingkungan, tapi upaya ini tidak berlanjut ke perguruan tinggi.

    Integrasi kurikulum green skills
    Kurikulum green skills menjadi kebutuhan mendesak seiring maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

    Integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan berpeluang membuat siswa lebih siap untuk mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan ramah Bumi.

    Keterampilan green skills menurut OECD terdiri dari cognitive competencies (kemampuan kognitif untuk pemahaman ekologi dan solusi lingkungan), interpersonal skills (keterampilan berkomunikasi dan bekerja sama dalam konteks lingkungan), dan intrapersonal competencies (kemampuan mengelola diri dan motivasi untuk tindakan pro-lingkungan).

    Kompetensi dasar dan inti dalam green skills perlu membantu siswa memahami konsep keberlanjutan secara menyeluruh. Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

    Siswa perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

    Dalam praktiknya, kompetensi green skills tidak hanya mempelajari biologi, geografi, atau mata pelajaran ilmu lingkungan, melainkan juga perlu diperluas ke berbagai disiplin ilmu.

    Green skills perlu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran yang bertujuan menciptakan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan green jobs.

    Pada mata pelajaran matematika, misalnya, integrasi green skills dapat dilakukan ketika mempelajari geometri — siswa tidak hanya diajak untuk memahami konsep dan rumus, tetapi juga diberi kesempatan untuk menggambarkan secara matematis desain taman berbasis ekologi atau merancang tata ruang kota yang ramah lingkungan.

    Kemudian dalam mata pelajaran sosiologi, integrasi green skills dapat melibatkan kearifan lokal sehingga siswa paham keterkaitan perubahan iklim dengan dinamika sosial-budaya sesuai konteks lokal daerah masing-masing.

    Green skills juga dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran teknologi informasi dengan menciptakan aplikasi atau solusi teknologi untuk memonitor dan mengelola konsumsi energi.

    Mata pelajaran ekonomi dapat mengintegrasikan praktik green skills untuk menciptakan eco entrepreneurship atau kegiatan bisnis ramah lingkungan.

    Pada akhirnya, integrasi kurikulum green skills yang selaras sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat mempersiapkan kebutuhan aktual pasar kerja di sektor green jobs.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami, PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia

  • Upaya Merevitalisasi Pendidikan untuk Penuhi Kebutuhan Green Jobs

    Upaya Merevitalisasi Pendidikan untuk Penuhi Kebutuhan Green Jobs

    7cloud.asia – Asosiasi Industri Fotovoltaik Eropa (EPIA) bersama Greenpeace International memprediksi green jobs akan menjadi tren global mulai tahun 2025.

    Namun, badan PBB untuk program pembangunan (UNDP) memperkirakan pada tahun 2030, 60 persen generasi muda di dunia belum memiliki green skills yang diperlukan untuk memasuki era green jobs.

    Untuk memenuhi kebutuhan green jobs ini, salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan revitalisasi pendidikan.

    Bentuk revitalisasi pendidikan untuk memenuhi tuntutan green jobs dapat dilakukan dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia sejak dini.

    Dimulai dari pembuatan kebijakan pendidikan untuk membentuk standar kompetensi yang mengarah pada keahlian dan kesiapan menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

    Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan green jobs

    Kebijakan ini juga perlu memperhatikan unsur kesinambungan dan keberlanjutan di semua tingkatan.

    Pemerhati pendidikan Ina Liem dalam wawancara di VOA Indonesia menyebutkan, di sekolah dasar hingga menengah atas, sistem pendidikan seringkali memiliki proyek ramah lingkungan, tapi upaya ini tidak berlanjut ke perguruan tinggi.

    Integrasi kurikulum green skills
    Kurikulum green skills menjadi kebutuhan mendesak seiring maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

    Integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan berpeluang membuat siswa lebih siap untuk mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan ramah Bumi.

    Baca: Riset UI ungkap mayoritas mahasiswa tertarik pada green jobs

    Keterampilan green skills menurut OECD terdiri dari cognitive competencies (kemampuan kognitif untuk pemahaman ekologi dan solusi lingkungan).

    Selanjutnya, interpersonal skills (keterampilan berkomunikasi dan bekerja sama dalam konteks lingkungan).

    Selain itu juga intrapersonal competencies  atau kemampuan mengelola diri dan motivasi untuk tindakan pro-lingkungan.

    Kompetensi dasar dan inti dalam green skills perlu membantu siswa memahami konsep keberlanjutan secara menyeluruh.

    Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

    Baca: Ini alasan kamu harus kuasai green skils

    Siswa perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

    Dalam praktiknya, kompetensi green skills tidak hanya mempelajari biologi, geografi, atau mata pelajaran ilmu lingkungan, melainkan juga perlu diperluas ke berbagai disiplin ilmu.

    Green skills perlu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran yang bertujuan menciptakan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan green jobs.

    Pada mata pelajaran matematika, misalnya, integrasi green skills dapat dilakukan ketika mempelajari geometri.

    Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajak untuk memahami konsep dan rumus, tetapi juga diberi kesempatan untuk menggambarkan secara matematis desain taman berbasis ekologi atau merancang tata ruang kota yang ramah lingkungan.

    Baca: Seperti ini media memandang aksi lingkungan yang dilakukan anak muda 

    Kemudian dalam mata pelajaran sosiologi, integrasi green skills dapat melibatkan kearifan lokal sehingga siswa paham keterkaitan perubahan iklim dengan dinamika sosial-budaya sesuai konteks lokal daerah masing-masing.

    Green skills juga dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran teknologi informasi dengan menciptakan aplikasi atau solusi teknologi untuk memonitor dan mengelola konsumsi energi.

    Mata pelajaran ekonomi dapat mengintegrasikan praktik green skills untuk menciptakan eco entrepreneurship atau kegiatan bisnis ramah lingkungan.

    Pada akhirnya, integrasi kurikulum green skills yang selaras sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat mempersiapkan kebutuhan aktual pasar kerja di sektor green jobs.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami, PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia

  • Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    7cloud.asia – Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) memandang Indonesia membutuhkan banyak green jobs atau pekerjaan dan pekerjaan terampil untuk menyukseskan laju pertumbuhan ekonomi hijau.

    Country Delivery Lead GEAPP Lucky Nurrahmat mengatakan pekerjaan hijau atau green jobs dapat memberikan tipe pekerjaan yang berkelanjutan.

    Green jobs juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, dan memperkuat daya saing jangka panjang sekaligus membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

    “Untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan tersebut diperlukan tenaga kerja terlatih, karena green jobs umumnya memerlukan hard skill,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

    Baca: Manfaat yang dipetik Indonesia jika seriusi transisi ke ekonomi hijau 

    Lembaga nirlaba Bridgespan melaporkan bahwa energi surya, mobilitas listrik, lingkungan binaan, pertanian berkelanjutan, dan pengelolaan limbah adalah sektor-sektor penting dari ekonomi hijau.

    Lucky menjelaskan berbagai keterampilan teknis yang harus dimiliki untuk masuk ke green jobs, seperti pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

    Sedangkan, keterampilan nonteknis berupa crisis response dan manajemen risiko terutama terkait dengan dampak perubahan iklim dan krisis lingkungan lainnya seperti polusi plastik.

    Sementara, lembaga think-tank Institute for Essential Service Reform (IESR) memprediksi dekarbonisasi dapat menghasilkan 3,2 juta pekerjaan baru di Indonesia pada tahun 2050.

    Baca: Cara yang bisa dilakukan untuk mengakselerasi transisi ekonomi hijau

    Menurut laporan Asian Development Bank (ADB), pertumbuhan ekonomi hijau di seluruh Asia Tenggara dapat menciptakan peluang investasi sebesar 172 miliar dolar AS setiap tahun.

    Ekonomi hijau juga berpeluang menghasilkan lebih dari 30 juta pekerjaan pada tahun 2030.

    “Peluang pertumbuhan itu sejalan dengan hampir 60 persen dari target-target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB,” kata Lucky.

    Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional telah mempersiapkan peta jalan untuk pengembangan ekonomi hijau dan pekerjaan hijau. 

    Baca: Yang harus dilakukan dunia pendidikan untuk penuhi kebutuhan green jobs

    Peta jalan ke ekonomi hijau itu yang berfokus pada tiga tantangan. Pertama, memanfaatkan pendorong transformasi ekonomi.

    Tantangan kedua, melakukan transisi green jobs dan ekonomi hijau ke dalam kebijakan pemerintah.

    Fokus terakhir adalah kebutuhan akan kolaborasi untuk menciptakan ekosistem pengembangan keterampilan hijau bagi masyarakat Indonesia.

    Lucky menuturkan pemerintah dapat mempelajari praktik terbaik dalam pekerjaan hijau dari pengembangan pekerjaan hijau yang telah dilakukan oleh Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO) di Indonesia.

    Baca: Penuhi kebutuhan ekonomi hijau, dunia pendidikan perlu direvitalisasi

    Hal ini melibatkan penciptaan ekosistem pendukung untuk mengadopsi sektor-sektor hijau seperti energi terbarukan melalui kebijakan dan regulasi yang menguntungkan.

    Pemerintah juga harus memberikan insentif dan subsidi, serta kampanye terkait manfaat teknologi bagi pekerja lokal, ekonomi Indonesia, dan lingkungan lokal serta global.

    Dengan melakukan hal-hal tersebut, kata Lucky, peluang bisnis menarik bagi investor dalam proyek-proyek hijau akan tercipta.

    “Langkah ini sekaligus mengembangkan keterampilan dan penciptaan pekerjaan yang memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, keluarga, dan masyarakat,” pungkas Lucky.

    Sumber: Antaranews.com

  • Kenali 3 Indikator Green Jobs: Tak Hanya Ramah Lingkungan dan Bisa Mencakup Pekerjaan yang Telah Ada Saat Ini

    Kenali 3 Indikator Green Jobs: Tak Hanya Ramah Lingkungan dan Bisa Mencakup Pekerjaan yang Telah Ada Saat Ini

    7cloud.asia – Istilah green jobs semakin populer di Indonesia belakangan ini, masih banyak yang salah mengartikan istilah ini.

    Research and Knowledge Management Manager Coaction Indonesia, Ridwan Arif mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia sudah semakin memahami dan tertarik terhadap tren green job.

    Namun, belum semuanya memahami bahwa pekerjaan tradisional pun bisa menjadi green jobs. Menurutnya, green jobs adalah jenis pekerjaan yang ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.

    Menurut organisasi non-profit Coaction Indonesia, ada sedikitnya tiga indikator yang membuat sebuah pekerjaan masuk kategori green jobs.

    “Pertama, melestarikan lingkungan atau mengurangi dampak lingkungan,” ujar Arif dalam paparannya di Festival Energi Terbarukan 2024 yang digelar beberapa waktu lalu.

    Baca Juga: Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    Kedua, pekerjaan tersebut layak secara ekonomi. Artinya, dalam menjalankannya seseorang memperoleh pendapatan yang sesuai dengan pekerjaannya, dan cukup untuk menghidupi diri sendiri.

    Ketiga, lantaran green jobs merupakan hasil dari praktik ekonomi hijau (green economy), maka pekerjaan ini juga harus inklusif secara sosial.

    “Green jobs tidak hanya untuk pekerjaan berlatar teknik atau yang mengandalkan energi terbarukan. Jenis pekerjaan apa pun bisa diadaptasi menjadi green job,” imbuh Arif.

    Arif mengatakan, green jobs bisa mencakup banyak bidang. Adapun Coaction Indonesia atau Koaksi Indonesia menyerap definisi green jobs berdasarkan definisi dari organisasi buruh dunia (ILO) pada 2007.

    “Mereka (ILO) mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan yang layak, dan berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Arif.

    Baca Juga: Riset SUMA UI: Mayoritas Mahasiswa Tertarik pada Green Jobs demi Lestarikan Lingkungan

    Dengan definisi itu, green jobs tidak hanya berkutat pada sektor manufaktur, konstruksi, dan energi hijau, seperti energi terbarukan dan transisi energi, namun juga bisa dilakukan oleh pekerja di semua sektor.

    Pada intinya, yang memenuhi sebagai pekerjaan layak, atau tidak eksploitatif secara fiskal dan tidak diskriminatif secara sosial. Selain itu, pekerjaannya berkontribusi untuk kebaikan lingkungan.

    “Misalnya bekerja sebagai desainer pakaian atau desain grafis, ketika produk-produknya menggunakan limbah atau berkampanye tentang lingkungan, mendapatkan bayaran cukup, itu bisa masuk kategori green jobs,” paparnya.

    Seperti yang sudah ditetapkan oleh ILO, green jobs memiliki lima tujuan, yakni melindungi dan memulihkan ekosistem, meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku.

    Green jobs juga meminimalkan limbah dan polusi dari proses produksi, membatasi emisi gas rumah kaca, dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    Selama memenuhi salah satu tujuan dari green jobs yang sudah ditetapkan ILO, berarti suatu sektor atau pekerjaan termasuk dalam kategori green jobs.

    Tren geen jobs.
    Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Koaksi Indonesia menghitung akan tercipta setidaknya 432.000 tenaga kerja langsung pada 2030 dan lebih dari 1,12 juta pada 2050.

    Angka tersebut belum termasuk tenaga kerja tidak langsung dan terinduksi. Bappenas dan United Nations Development Programme (UNDP) juga memproyeksikan pekerjaan yang membutuhkan green skills akan membuka peluang hingga 4,4 juta pekerja pada 2030.

    “Kami, Koaksi Indonesia, melihat potensi green jobs dalam bidang energi terbarukan (EBT) cukup besar. Di Indonesia kita punya RUEN, kurang lebih potensi green jobs yang dihasilkan dari EBT tadi 1,1 juta pekerja,” papar Arif.

    Sementara, dari target dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021- 2030, 51,6 persen energi terbarukan setara 20,9 GW menciptakan lebih dari 140.000 tenaga kerja.

    Baca Juga: Mengungkap Jejak Karbon Sepak Bola; Sisi Gelap Olahraga Terpopuler Sejagad

    Sedangkan 48,4 persen energi fosil setara 19,6 GW menciptakan 10.000 tenaga kerja. Artinya, energi terbarukan menciptakan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan energi fosil dengan jumlah kapasitas yang hampir sama.

    “Para pekerja di sektor formal dan nonformal bisa beralih menjadi pekerja ramah lingkungan atau green job agar bisa turut serta menanggulangi dampak krisis iklim,” ujar Arif.

    Adapun dengan gencarnya upaya mitigasi perubahan iklim, green jobs bisa menjadi bagian dari upaya tersebut. Ia pun terus mendorong lebih banyak masyarakat untuk beralih ke green jobs.

    Misalnya dengan membuat peta jalan pengembangan keterampilan green job, hingga menginformasikan peluang dan contoh nyata green jobs di berbagai sektor.

    “Sambil mencari peluang untuk menekuni green jobs, penting untuk mempelajari green skills, emisi, atau keterampilan yang mendukung pelestarian lingkungan,” pungkasnya.

    Sumber:Kompas.com

  • Dukung Penciptaan Lapangan Kerja Hijau atau Green Jobs, Ini yang Dilakukan Kemnaker

    Dukung Penciptaan Lapangan Kerja Hijau atau Green Jobs, Ini yang Dilakukan Kemnaker

    7cloud.asia – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan siap mendukung implementasi dan penciptaan pekerjaan hijau atau green jobs di Indonesia.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemnaker Anwar Sanusi mengatakan, penciptaan green jobs menjadi kebutuhan demi mewujudkan pembangunani yang keberlanjutan pada 2025-2029.

    “Green jobs adalah sesuatu yang tak bisa dihindari dan sangat prioritas. Ketika ada pekerjaan hijau, tentunya tenaga kerjanya juga yang memahami tentang hakikat pekerjaan hijau,” katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (28/5/2024).

    Anwar menambahkan, merujuk kepada International Labour Organization (ILO), green jobs menjadi lambang dari perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan.

    Green jobs, ujarnya, baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang.
    Anwar mengatakan jenis pekerjaan hijau yang mengusung konser berkelanjutan akan berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan.

    Beberapa bidang yang akan menjadi fokus dalam green jobs atau pekerjaan hijau, kata dia, termasuk yang melibatkan sektor energi terbarukan, efisiensi energi, manajemen limbah, transportasi berkelanjutan, dan pertanian berkelanjutan.

    Baca: Kenali tiga indikator green jobs

    Untuk mendukung penciptaan lapangan kerja hijau, lanjutnya, Kemnaker akan mendorong perusahaan untuk menerapkan alat, teknis dan metode peningkatan produktivitas berbasis Green Productivity.

    Salah satunya dengan menyusun standar kompetensi kerja, skema kompetensi, program dan modul pelatihan sesuai kebutuhan lapangan kerja hijau.

    Kemnaker juga akan memperkuat Forum Kemitraan dengan perusahaan, industri dan institusi yang mendukung pelatihan vokasi pada lapangan kerja hijau.

    “Bersama Bappenas, kita akan koordinasi karena seluruh rancang bangun perencanaan nasional, sudah sejak awal kita antisipasi dan diskusikan secara intensif,” demikian Anwar Sanusi.

    Direktur Utama Lembaga Pelatihan Kerja Global Edukasi Talenta Inkubator Amalia Prabowo mengatakan green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan menjadi primadona di kalangan produsen besar untuk lima tahun ke depan.

    “Green job merupakan salah satu primadona untuk lima tahun ke depan,” ucap Amalia di acara daring “Raih Peluang Kreatif di Era Digital” di Jakarta, beberapa waktu lalu

    Baca: Mengarah ke ekonomi hijau, Indonesia butuh banyak green jobs

    Amalia mengatakan bahwa kolaborasi antara lembaga pelatihan dengan Program Kartu Prakerja sangatlah erat, termasuk dalam pertukaran informasi terkait dengan perkembangan dunia kerja.

    Informasi terkini dari tim Prakerja, kata Amalia, adalah dukungan kepada LPK GeTI untuk mempersiapkan pelatihan-pelatihan green jobs.

    Lembaga tersebut, kata Amalia, menindaklanjuti perkembangan green jobs dengan menyelenggarakan focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah bersama para pakar untuk membahas kurikulum ajar kelas green job.

    Dia memastikan agar materi tersebut dapat diajarkan melalui digital.

    “Itu sangat luar biasa karena dalam waktu dekat pasti banyak sekali kelas-kelas yang berhubungan dengan green job,” kata Amalia.

    Selain berhubungan dengan Prakerja, Amalia juga mengatakan bahwa mereka juga menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang memang fokus pada perekrutan.

    Baca: Manfaat yang dipetik dari ekonomi hijau

    Secara periodik, kata Amalia, lembaga-lembaga perekrutan tersebut juga memberikan informasi tren pekerjaan yang dicari oleh para produsen besar dan pelaku manufaktur.

    “Sehingga, sekali lagi, kami melakukan FGD dengan para pakar, para dosen, untuk merancang kelas-kelas baru yang sedang dibutuhkan oleh pengguna,” pungkasnya.

    Dikutip dari dokumen resmi Organisasi Perburuhan Internasional/International Labour Organization (ILO) bertajuk “Lembar Fakta tentang Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan (Green Jobs) di Indonesia, green jobs bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan dan sektor ekonomi hingga ke tingkat yang mampu melestarikan lingkungan hidup.

    Secara khusus, hal itu mencakup pekerjaan yang dapat membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air melalui strategi yang memiliki tingkat efisiensi tinggi; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi.

    Sumber: Antaranews.com

  • Daftar Skill dan Jurusan yang Dibutuhkan dalam Green Jobs di Pembangkit Energi Terbarukan

    Daftar Skill dan Jurusan yang Dibutuhkan dalam Green Jobs di Pembangkit Energi Terbarukan

    7cloud.asia – Selain dapat membantu melawan perubahan iklim, transisi energi ke energi terbarukan turut menghasilkan pekerjaan hijau atau green jobs.

    Salah satu bentuk green jobs yang tercipta adalah tenaga teknik di pembangkit energi terbarukan

    Pembangkit energi terbarukan tersebut antara lain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTP), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), dan lain sebagainya.

    Dikutip dari studi Koaksi Indonesia pada 2022, transisi energi ke energi terbarukan berpotensi menciptakan lapangan kerja langsung sebanyak 432.000 tenaga teknik pada 2030.

    Di tahun-tahun mendatang, potensi green jobs juga semakin meningkat hingga mencapai 1,12 juta tenaga teknik pada 2050.

    Baca: Green skills yang dibutuhkan dalam ekonomi hijau

    Di sisi lain, bila dibandingkan, serapan tenaga kerja bidang keteknikan dari energi terbarukan lebih tinggi daripada bahan bakar fosil dengan kapasitas yang hampir sama.

    Menurut penghitungan Koaksi Indonesia, energi terbarukan dengan total kapasitas pembangkit 20,9 gigawatt (GW) mampu menyerap sekitar 106.000 tenaga teknik.

    Di sisi lain, energi fosil dengan kapasitas terpasang 19,6 GW hanya mampu menyerap sekitar 10.000 tenaga teknik.

    Tenaga teknik yang dimaksud terbagi ke dalam empat kelompok spesifikasi pekerjaan yaitu feasibility study atau studi kelayakan, basic design atau desain dasar.

    Dua kelompok lainnya adalah rekayasa-pengadaan-konstruksi atau engineering-orocurement-construction (EPC), serta operasional dan perawatan atau operational and maintenance (O&M).

    Baca: Yang dilakukan pemerintah dalam menciptakan green jobs

    Dalam studinya, Koaksi Indonesia memproyeksikan potensi green jobs yang tercipta dari target bauran energi pemerintah dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Lantas, apa saja skill atau keterampilan dan jurusan yang dibutuhkan untuk menyambut green jobs di bidang tenaga teknik?

    Dilansir dari publikasi Koaksi Indonesia, berikut skill dan jurusan yang diperlukan untuk menyambut green jobs di Indonesia.

    Studi kelayakan
    Skill: turvei potensi, penghitungan kapasitas, manajemen, sosial masyarakat, dan penganggaran.

    Jurusan: teknik lingkungan, teknik sipil, teknik elektro, sosiologi, ekonomi.

    Baca: Tiga indikator sebuah pekerjaan masuk kategori green jobs

    Bidang desain dasar
    Skill: survei potensi, penghitungan kapasitas, manajemen, sosial masyarakat, dan penganggaran.

    Jurusan: teknik lingkungan, teknik sipil, teknik elektro, sosiologi, ekonomi.

    Bidang EPC
    Skill: kelistrikan, komponen pembangkit, manajemen proyek, pekerjaan konstruksi, pengadaan, logistik, dan pengaturan anggaran.

    Jurusan: Teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, instrumentasi, mekatronika, teknik elektronika kuat, ilmu manajemen, ekonomi, administrasi, dan lain-lain.

    Bidang Operation&Maintenance
    Skill: Teknikal, perencanaan, perawatan, manajemen, penyelesaian masalah, dan manajemen inventori.

    Jurusan: Teknik mesin, teknik elektro, teknik kelistrikan, dan lain-lain.

  • Prospek Green Jobs di Mata Zilenial di Indonesia

    Prospek Green Jobs di Mata Zilenial di Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim dan jurang kesenjangan sosial yang makin lebar, muncul gelombang baru dalam cara Gen Z dan milenial atau biasa disebut Zilenial dalam memaknai karier.

    Zilenial tidak lagi menjadikan gaji dan jabatan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Mereka juga memilih pekerjaan berdasarkan kejelasan nilai dan dampak sosial-lingkungannya.

    Survei global yang dilakukan oleh perusahaan Big 4 Deloitte pada 2024 menunjukkan bahwa 86 persen Gen Z dan 89 persen milenial menganggap pentingnya memiliki sense of purpose dalam pekerjaan.

    Bahkan, 50 persen Gen Z dan 43 persen milenial mengaku pernah menolak proyek atau pekerjaan karena tidak sejalan dengan nilai etika pribadi mereka, termasuk yang berkaitan dengan isu lingkungan dan nilai-nilai inklusi.

    Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam etika karier: bekerja tidak lagi semata-mata mencari nafkah, tetapi juga bentuk aktualisasi nilai spiritualitas di tempat kerja.

    Aktualisasi nilai kini hadir tak hanya berbentuk ritual, tetapi melalui sikap profesionalisme yang berdampak positif pada masyarakat dan lingkungan.

    Baca: Ketrampilan yang dibutuhkan green jobs di pembangkit energi terbarukan

    Dalam kondisi ini, green jobs menjadi Jalan tengah antara etika, inovasi, dan upaya Zilenial dalam merintis karier dan masa depannya.

    Istilah green jobs merujuk pada pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, seperti sektor energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, pengelolaan limbah, desain ramah lingkungan, hingga teknologi bersih.

    Sayangnya, di Indonesia, green jobs masih dimaknai sempit dan kerap disalahartikan sebagai bentuk aktivisme semata.

    Riset Coaction Indonesia menunjukkan, hanya 2 dari 5 kaum muda yang mengaku paham tentang green jobs, itu pun dalam pengertian yang dangkal.

    Hal ini tergambar dari variasi definisi yang mereka sampaikan, yang umumnya hanya mengaitkan green jobs dengan istilah seperti “pekerjaan hijau” atau “ramah lingkungan”, tanpa pengetahuan konkret mengenai sektor, dampak, atau keterampilan yang relevan.

    Meski begitu, setelah mendapatkan penjelasan, 76 persen responden mengaku sangat tertarik bekerja di bidang ini, khususnya karena green jobs menjawab tantangan yang menyatukan inovasi, teknologi, dan keberlanjutan.

    Baca: Upaya pemerintah ciptakan green jobs

    Di dalam negeri, peluang green jobs terus berkembang seiring dengan tuntutan beralih ke energi bersih. Teknisi dan insinyur panel surya kini sangat dibutuhkan untuk membangun sistem energi bersih mulai dari tingkat desa hingga kawasan industri.

    Di sektor teknologi juga muncul profesi baru seperti analis emisi karbon dan pengembang aplikasi berbasis lingkungan.

    Data Coaction Indonesia menyebutkan bahwa investasi di energi terbarukan bisa menciptakan 70 persen lebih banyak lapangan kerja dibandingkan dengan sektor energi fosil. Besar sekali bukan?

    Tak hanya lapangan kerja formal, green jobs juga bisa mencakup berbagai wirausaha ramah lingkungan. Contohnya adalah usaha bank sampah, yang sudah menjadi model kewirausahaan sosial di berbagai daerah.

    Di sektor pangan, pertanian organik dan urban farming muncul sebagai bentuk usaha yang makin relevan. Contohnya adalah perusahaan Javara Indonesia, yang memberdayakan petani lokal untuk memproduksi bahan pangan organik tanpa bahan kimia berbahaya.

    Produk-produk ini kemudian dipasarkan secara luas sampai ke mancanegara, membuktikan bahwa ramah lingkungan bisa sekaligus menguntungkan secara ekonomi.

    Baca: Kenali tiga indikator green jobs

    Di industri kreatif, bisnis fesyen ramah lingkungan seperti Sejauh Mata Memandang membuktikan bahwa kesadaran terhadap limbah tekstil bisa melahirkan peluang usaha baru dengan penerimaan publik yang tinggi.

    Dengan menggunakan bahan daur ulang dan pewarna alami, usaha ini menunjukkan bahwa nilai estetika dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan serta menghasilkan cuan tentunya.

    Sementara itu, di sektor pariwisata, desa wisata berbasis ekowisata seperti Nglanggeran Yogyakarta menjadi contoh sukses green job berbasis komunitas.

    Melalui pelestarian alam, budaya lokal, dan pelibatan warga, desa ini mampu menarik wisatawan tanpa merusak lingkungan sekitarnya.

    Meski peminat tinggi dan peluang terbuka lebar, jalan menuju green jobs belum semudah yang diucapkan.

    Riset Coaction Indonesia mengungkap sejumlah hambatan struktural, seperti kurangnya informasi, keterbatasan keterampilan, dan ketimpangan akses membuat banyak kaum muda ragu melangkah ke bidang ini.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis:
    Imam Salehudin (Associate professor, Universitas Indonesia), Aswin Dewanto Hadisumarto (Dosen Manajemen Kewirausahaan , Universitas Indonesia), Dony Abdul Chalid (Associate professor, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia)

  • Transisi Energi Ciptakan 4 Juta Green Jobs: Bagaimana Dunia Kampus Menghadapinya

    Transisi Energi Ciptakan 4 Juta Green Jobs: Bagaimana Dunia Kampus Menghadapinya

    7cloud.asia – Perubahan iklim tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi generasi muda, yakni kebutuhan akan tenaga kerja hijau atau green jobs.

    Seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia saat ini tengah mendorong transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

    Dalam proses tersebut, penguatan keterampilan sumber daya manusia didukung melalui pelatihan dan sertifikasi yang diselenggarakan PPSDM.

    Mengacu pada proyeksi pembangunan nasional, Indonesia berpotensi menciptakan sekitar 4 juta tenaga kerja hijau atau green jobs di masa yang akan datang. Dan, green jobs ini menjadi peluang untuk mewujudkan masa depan yang lebih inklusif

    Melalui konsep green jobs, mahasiswa didorong untuk melihat perubahan global menuju ekonomi berkelanjutan sebagai ruang kontribusi sekaligus masa depan dunia kerja.

    Demikian terungkap dalam kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus yang diselenggarakan di Kampus Universitas Saintek Muhammadiyah, Rabu (25/2/2026),

    Baca: Dampak greenwashing pada upaya menuju keberlanjutan

    Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menjelaskan bahwa meningkatnya bencana akibat perubahan iklim menuntut transformasi menuju ekonomi berkelanjutan.

    Dia menjelaskan, green jobs memiliki tiga karakter utama, yaitu berkontribusi pada kelestarian lingkungan, bersifat layak dan adil bagi pekerja, serta inklusif bagi semua kalangan.

    “Green jobs bukan sekadar tren, tetapi bagian dari transformasi ekonomi menuju keberlanjutan,” jelasnya.

    Diskusi juga menghadirkan perspektif nilai keagamaan melalui paparan Syahrul Ramadan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, yang mengangkat pendekatan ekoteologi—yakni cara pandang yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.

    Dia menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kesadaran spiritual.

    “Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Greenjobs dapat menjadi salah satu bentuk aksi nyata dari nilai iman,” ungkapnya.

    Baca: Regulasi yang melarang praktik greenwashing

    Dari perspektif industri, Aki Soehartono, RE Project Consultant Inovasi Dinamika Pratama, menekankan bahwa peluang green jobs terbuka luas, tak hanya bagi tenaga teknis, tetapi juga bagi bidang komunikasi dan sosial selama memiliki wawasan lingkungan.

    Sementara itu, Fitrianti Sofyan, Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, menegaskan bahwa green jobs bersifat inklusif dan dapat diakses oleh berbagai latar belakang keilmuan selama berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.

    Mario Zulhadi Amrullah, Dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Saintek Muhammadiyah, menyoroti pentingnya peran kampus dalam menjalin kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri, serta mendorong integrasi perspektif lingkungan dalam kurikulum.

    Diskusi menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi, kesadaran lingkungan, serta kesiapan mahasiswa menghadapi masa depan kerja.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami tantangan perubahan iklim, tetapi juga melihatnya sebagai peluang untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus membangun karier di sektor green jobs

    Baca: Kesadaran masyarakat akan produk ramah lingkungan terus meningkat