Tag: hari bumi

  • Hari Bumi 2024: Serukan Pengurangan Penggunaan Plastik Demi Lingkungan

    Hari Bumi 2024: Serukan Pengurangan Penggunaan Plastik Demi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari ini, Senin 22 April 2024 masyarakat yang peduli lingkungan di seluruh dunia memperingati Hari Bumi.

    Bisa dikatakan, di Indonesia peringatan atau perayaan Hari Bumi tidak sepopuler dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni.

    Pemerintah Indonesia sendiri secara resmi telah memperingati Hari Bumi sejak 2009 sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan alam.

    Pada dasarnya memang tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia.

    Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak.

    Hal mendasar yang membedakan antara dua hari besar itu adalah sejarahnya saja.

    Baca Juga: Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    Pada tahun ini, Hari Bumi 2024 mengambil tema “Planet vs Plastic” atau “Planet vs Plastik” yang merupakan sebuah kampanye untuk mengakhiri penggunaan plastik demi kesehatan manusia dan bumi.

    Dilansir earthday.org, peringatan Hari Bumi diisi dengan kempanye mengajak semua pihak untuk mengurangi 60 persen produksi seluruh jenis plastik pada 2040 mendatang.

    Beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan meningkatkan kewaspadaan publik terhadap kerusakan yang disebabkan plastik kepada manusia, hewan, dan kesehatan seluruh biodiversitas.

    Para aktivis lingkungan juga menuntut dilakukannya lebih banyak penelitian dan publikasinya terhadap publik mengenai implikasi kesehatannya, termasuk dampaknya terhadap kesehatan.

    Masyarakat dunia juga diajak untuk meniadakan penggunaan plastik sekali pakai pada 2030, serta mencapai komitmen peniadaan bertahap ini yang sesuai dengan Perjanjian PBB tentang Polusi Plastik pada tahun 2024.

    Dalam peringatan Hari Bumi ini juga diserukan kebijakan untuk mengakhiri tren berbagai model fesyen yang silih berganti dalam waktu singkat atau fast fashion yang mengakibatkan banyaknya jumlah plastik yang diproduksi dan digunakan

    Para aktivis lingkungan juga menyerukan investasi dalam teknologi inovatif untuk menciptakan dunia tanpa plastik.

    Baca Juga: Memperbaiki Kerusakan Lingkungan di Planet Bumi Mungkin Dilakukan, Tapi Mencegah Kerusakan Jauh Lebih Baik

     

    Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup.

    Sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.

    Itu sebabnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat pemerhati lingkungan maupun pemerintah, termasuk Indonesia.

    Hari Bumi sendiri bermula dari Minyak yang tumpah pada 1969 silam di sebuah pengeboran minyak di Santa Barbara, California, Amerika Serikat (AS).

    Dilansir Antaranews.com, kejadian ini menjadi salah satu peristiwa lingkungan terburuk di dekade tersebut.

    Lebih dari 11 juta liter minyak yang tumpah di perairan tersebut menyebabkan kematian pada lebih dari 10.000 burung laut, serta mamalia laut seperti lumba-lumba, anjing laut, dan singa laut.

    Adanya peristiwa itu mengilhami seorang aktivis perdamaian bernama John McConnell dalam sebuah konferensi Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk mengusulkan adanya sebuah hari khusus untuk memperingati bumi.

    Baca Juga: Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    Awalnya, Hari Bumi diperingati pada 21 Maret 1970, dan telah disetujui oleh Sekretaris Jenderal PBB pada waktu itu, U Thant.

    Sebulan berselang, Senator AS Gaylord Nelson bergerak bersama para aktivis dalam menciptakan kegiatan yang dinamakan sebagai “Earth Day” atau Hari Bumi.

    Gaylord yang juga merupakan pengajar dan pemerhati lingkungan mengajak Denis Hayes, aktivis lulusan Universitas Harvard untuk mengoordinasikan kegiatan tersebut.

    Hasilnya, sekitar 20 juta orang tumpah ke jalan untuk meramaikan aksi tersebut, dan hingga kini menjadi salah satu peristiwa unjuk rasa dengan massa terbanyak sepanjang sejarah.

    Atas peristiwa tersebut, Hari Bumi yang disepakati pada 22 April setiap tahunnya mulai diperingati masyarakat dunia sejak 1990.

    Saat ini, atau 34 tahun setelah resmi ditetapkan, tercatat ada 192 negara yang turut ambil bagian dalam gerakan tersebut.

     

  • Hari Bumi: 5 Langkah Sederhana untuk Berperan dalam Menyelamatkan Lingkungan

    Hari Bumi: 5 Langkah Sederhana untuk Berperan dalam Menyelamatkan Lingkungan

    7cloud.asia– Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April menjadi sebuah pengingat bahwa ada banyak hal yang dapat kita lakukan, sebagai individu, untuk mengatasi krisis lingkungan.

    Setiap kali Hari Bumi diperingati kita diingatkan, bahwa lingkungan tempat kita tinggal menghadapi ancaman nyata yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta pencemaran baik air, tanah maupun udara.

    Selama puluhan tahun, umat ​​​​manusia memecahkan rekor mengenai pemanasan global yang berdampak nyata pada lingkungan sehingga menghasilkan ekosistem yang rapuh dan jauh dari lestari.

    Lebih dari 1 juta tumbuhan, hewan, dan makhluk hidup lainnya berisiko punah. Udara kotor oleh berbagai gas berbahaya, bahan kimia mengancam tanah, lautan, dan kesehatan kita.

    “Setiap tindakan, besar atau kecil, penting bagi Bumi dan kita bisa membalikkan kemerosotan bumi namun kita harus bersatu dan semua orang memainkan peran mereka.,” kata Wakil Direktur Divisi Ekosistem Program Lingkungan PBB, Bruno Pozzi. 

    Baca: Peringatan Hari Bumi 2024 serukan pengurangan plastik demi lingkungan

    UNEP telah mengembangkan perangkat untuk mengambil tindakan dalam mengantisipasi berbagai permasalahan lingkungan. Berikut adalah panduan untuk lima diantaranya:

    1. Menghidupkan kembali ekosistem 

    UNEP mencatat, secara global lebih dari 2 miliar hektar lahan terdegradasi. Semntara jumlah dan durasi kekeringan telah meningkat sebesar 29 persen sejak tahun 2000.

    Jika ingin menemukan solusi bagi permasalahan global ini adalah dengan fokus pada restorasi lahan, penggurunan dan ketahanan terhadap kekeringan.

    Buku Panduan Restorasi Ekosistem: Panduan Praktis untuk Menyembuhkan Bumi menjelaskan pendekatan-pendekatan untuk memulihkan delapan jenis ekosistem penting.

    Yaitu hutan, lahan pertanian, padang rumput dan sabana, sungai dan danau, lautan dan pantai, kota dan sabana. kota, lahan gambut, dan pegunungan.

    Dengan mengambil tindakan yang direkomendasikan ini, Anda dapat menjadi bagian dari #GenerationRestoration!

    Baca: Earth Hour, satu jam yang sangat bermakna untuk bumi

    2. Terus menyuarakan perubahan iklim

    Dunia berada dalam keadaan darurat iklim, sebuah “kode merah bagi kemanusiaan,” menurut Sekretaris Jenderal PBB.

    Jika emisi gas rumah kaca tidak turun drastis, pemanasan bisa melampaui 2,9°C pada abad ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat memaksa pemerintah dan dunia usaha untuk melakukan perubahan sistemik yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

    3. Kurangi sampah plastik global

    Meskipun plastik memiliki banyak kegunaan, kecanduan kita terhadap plastik sekali pakai bisa menjadi bencana bagi planet ini membutuhkan waktu ribuan, bahkan puluhan ribu tahun untuk terurai.

    Yang dapat dilakukan individu untuk membantu mengakhiri bencana lingkungan akibat sampah plastik termasuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak perlu, memilih untuk menggunakan kembali daripada membeli produk baru.

    Anda juga dapat mendukung merek yang mendesain ulang plastik dan mencoba untuk melakukan hal tersebut.

    Meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, dan meminta pemerintah untuk mengadopsi kebijakan ekonomi sirkular dan memperkuat sistem pengelolaan sampah.

    Baca: 17-langkah terapkan gaya hidup ramah lingkungan

    4. Mengusir udara kotor dari langit

    Lebih dari 99 persen populasi global menghirup udara yang tidak aman. Polusi udara adalah risiko kesehatan lingkungan terbesar saat ini, yang menyebabkan sekitar 7 juta kematian dini setiap tahunnya.

    Paparan udara kotor juga dapat menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, kanker paru-paru, dan penyakit jantung stroke dan penyakit lainnya.

    Polutan udara juga merusak lingkungan alami kita, mengurangi pasokan oksigen di lautan, mempersulit tanaman untuk tumbuh dan berkontribusi terhadap krisis iklim.

    Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru yang jatuh pada tanggal 7 September bertujuan untuk menyebarluaskannya kesadaran akan masalah ini.

    UNEP juga telah merilis panduan interaktif yang merinci langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mempromosikan udara yang lebih bersih.

    5. Menanam pohon dengan benar

    Pohon sangat menakjubkan karena dapat menangkap karbon dari atmosfer, melindungi dan menyuburkan tanah, menyediakan sumber kayu bakar dan kayu, serta melindungi banyak hewan, burung, dan serangga.

    Menanam pohon untuk memulihkan ekosistem dan melawan perubahan iklim, menjadi begitu populer.

    Namun hal ini tidak sesederhana kedengarannya. Misalnya, menanam pohon yang salah di tempat yang salah dapat merusak keanekaragaman hayati dan menimbulkan berbagai konsekuensi yang tidak diinginkan. 

    Sumber:UNEP.org

  • Peringati Hari Bumi: 100 Batang Pohon Ulin Ditanam di Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai

    Peringati Hari Bumi: 100 Batang Pohon Ulin Ditanam di Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai

    7cloud.asia – Setiap 22 April, masyarakat dunia memperingati Hari Bumi sebagai ajakan untuk kembali merenungkan pentingnya menjaga bumi dan seluruh ekosistemnya.

    Pada momen Hari Bumi ini dilakukan penanaman 100 bibit pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) di Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai di Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

    Penanaman pohon ulin ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia dan Kanada melalui aksi nyata akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan University of Montreal.

    Pohon ulin dipilih, karena pohon ulin merupakan tumbuhan langka yang masuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dan perlu dilindungi pelestariannya.

    Pohon ulin atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas Asia Tenggara meliputi Indonesia (Sumatera & Kalimantan), Malaysia (Sabah & Sarawak), Filipina (Kepulauan Sulu).

    Pohon ulin digolongkan ke dalam suku Lauraceae. Ulin memiliki tinggi pohon umumnya 30–35 meter, diameter setinggi dada (dbh) 60–120 centimeter.

    Baca: Konservasi pohon Ulin yang terancam punah

    Pohon ulin yang dikenal sangat keras juga berperan penting sebagai habitat bagi berbagai spesies satwa liar yang bergantung pada pohon ini untuk makanan dan perlindungannya.

    Di samping itu, pohon ulin dapat berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Dengan mengubah CO2 menjadi biomassa, pohon ini berfungsi dalam upaya membantu mengurangi jumlah karbon di atmosfer sebagai mitigasi pemanasan global.

    Bibit pohon langka itu didapatkan dari Botanical Private Garden milik Chendrawan Sugianto, seorang pelaku konservasi pohon langka di Banjarmasin dan juga pemilik PT Bandangan Tirta Agung, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air murni.

    Penanaman pohon ulin pada Minggu (20/4/2025), secara simbolis dilakukan oleh Valerie Preseault dari Universitas Montreal, Kanada diikuti mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ULM di bawah bimbingan Dr Amalia Rezeki dan Luthfiana Nurtamara MPd.

    “Alhamdulillah ini suatu kebanggaan dan kehormatan tim akademisi dari Kanada bisa mengikuti rangkaian peringatan Hari Bumi Sedunia di Kalimantan Selatan,” kata Amalia Rezeki di Banjarmasin.

    Baca: Indonesia termasuk penyumbang terbesar deforestasi hutan tropis

    Amel mengatakan kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian dan ajakan nyata untuk memuliakan alam, sekaligus menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya mencintai bumi.

    Tak hanya menanam pohon, mahasiswa juga didorong untuk membangun mata rantai kepedulian, dengan cara menyebarkan semangat pelestarian lingkungan melalui unggahan di media sosial.

    Kampanye di media sosial ini diharapkan agar semakin banyak yang terinspirasi melakukan aksi serupa.

    Sementara Valerie Preseault merasa senang dilibatkan pada acara penanaman pohon ulin. Baginya merupakan pengalaman pertama bisa berkontribusi bersama dalam rangkaian acara peringatan Hari Bumi Sedunia di Indonesia.

    Sebelumnya Valerie Preseault juga mengisi kuliah tamu hukum pidana di kampus ULM di Banjarmasin.

    Baca: Pohon Ficus menjaga ekosistem hutan Sanggabuana

     

  • Peringati Hari Bumi: Komnas Perempuan Tegaskan Kerusakan Lingkungan Mengancam Kehidupan Perempuan

    Peringati Hari Bumi: Komnas Perempuan Tegaskan Kerusakan Lingkungan Mengancam Kehidupan Perempuan

    7cloud.asia – Hari Bumi 2025 kembali mengingatkan kita bahwa krisis iklim dan kerusakan lingkungan telah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan manusia dan kehidupan perempuan khususnya.

    Dalam pernyataan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Selasa (22/4/2025) Komnas Perempuan menegaskan bahwa kebijakan dan langkah-langkah penyelamatan lingkungan hidup merupakan hal mendesak.

    Komnas Perempuan juga melihat pentingnya investasi berkelanjutan untuk menghentikan pelanggaran hak asasi termasuk kekerasan terhadap alam dan kekerasan terhadap perempuan.

    Komisioner Komnas Perempuan Sundari Amir menegaskan, perusakan sumber daya alam, eksploitasi tambang, deforestasi, pencemaran lingkungan, hingga konflik agraria terus berdampak langsung pada kehidupan perempuan, terutama perempuan adat, perempuan petani, dan perempuan nelayan.

    “Mereka kehilangan akses terhadap tanah, air bersih, pangan, serta sumber-sumber penghidupan yang selama ini menopang keberlanjutan komunitas dan budaya lokal,“ ujarnya.

    Sundari menambahkan, Komnas Perempuan mencatat bahwa dampak berbagai bentuk-bentuk penghancuran dan ekspolitasi sumberdaya alam memunculkan peningkatan intensitas bencana alam dan krisis iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, dan lainnya dan mengancam kehidupan perempuan sebagai kelompok rentan.

    Perempuan, ujarnya, terdampak menanggung beban akibat berbagai konflik yang hingga kini belum juga ada penyelesaian komprehensif.

    Komisioner Komnas Perempuan, Dahlia Madanih menambahi Komnas Perempuan mencatat bahwa eksploitasi sumber daya alam (SDA) atas nama pembangunan seringkali menempatkan perempuan menghadapi kekerasan berlapis yaitu kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual, dalam rentang waktu yang panjang.

    Baca: Penanaman pohon ulin untuk pringati Hari Bumi

    Ia menyebutkan bahwa Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan mencatat setidaknya 58 pengaduan langsung kasus menyangkut konflik SDA, agraria, dan tata ruang, dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2020-2024).

    Komnas Perempuan menerima laporan tentang kriminalisasi terhadap perempuan pembela lingkungan dan HAM, yang suaranya kerap dibungkam demi kepentingan industri ekstraktif dan pembangunan skala besar yang tidak berkeadilan.

    “Kekerasan yang dihadapi kerap melibatkan aparat keamanan yang seharusnya memberikan perlindungan pada masyarakat. Komnas Perempuan mencatat kebijakan terkait penanganan krisis iklim dan bencana alam juga masih minim mempertimbangkan pengalaman dan suara perempuan,” tegas Dahlia Madanih.

    Komnas Perempuan terus mengingatkan bahwa kerangka kebijakan pembangunan jangan hanya berfokus pada kepentingan ekonomi semata. Kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan kesejahteraan dan keadilan masyarakat.

    Selain itu, kebijakan pembangunan juga harus meminimalisasi potensi ancaman kerusakan ekologi dan ekosistem kehidupan yang seimbang pada kehidupan alam dan manusia.

    “Oleh karena itu, penting menjadi aksi nyata yang tertuang dalam dokumen-dokumen perencanan dan pelaksanaan pembangunan,” Komisioner Irwan Setiawan menambahkan.

    Komnas Perempuan mendesak, pemerintah harus tegak berdiri melaksanakan konstitusi yang menyatakan bahwa kekayaan alam di pergunakan untuk kesejahteraan rakyat,

    Dahlia meminta pemerintah menindak tegas pihak-pihak yang mengambil keuntungan secara sepihak, dan tidak mengindahkan prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam bisnis dan pembangunan, dan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam.

    Baca: Lima langkah sederhana untuk peringati Hari Bumi

    Komisioner Komnas Perempuan lainnya, Chatarina Pancer Istiyani menambahkan bahwa perempuan berada di garis depan dalam dalam menghadapi krisis iklim.

    Perempuan tidak hanya sebagai kelompok rentan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa pengetahuan lokal, ketahanan, dan inovasi.

    Pengalaman dan kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan SDA, adaptasi perubahan iklim, serta praktik-praktik berkelanjutan telah terbukti memperkuat ketahanan komunitas.

    “Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, akses terhadap informasi, dan partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan harus menjadi prioritas,” kata Chatarina.

    Komnas Perempuan mengingatkan amanat konstitusi Pasal 28 H UUD 1945 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah hak asasi setiap warga negara.

    Selain itu, Indonesia juga terikat dengan Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016, yang menegaskan komitmennegara-negara untuk mengatasi krisis iklim.

    Kedua dasar hukum tersebut termasuk peraturan turunannya berupa peraturan presiden dan peraturan menteri mendorong pelibatan perempuan dalam setiap kebijakan dan aksi-aksi terkait iklim.

    Dengan memastikan partisipasi perempuan secara bermakna dan setara, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, akan lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.

    Komnas Perempuan menekankan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan perempuan dalam konteks krisis iklim harus didasarkan pada prinsip-prinsip utama, yaitu partisipasi yang bermakna, penguatan ketangguhan perempuan, penghapusan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, penegakan akuntabilitas, serta jaminan atas hak asasi.

    Komnas Perempuan percaya bahwa bumi yang pulih hanya mungkin terwujud jika perempuan hidup bebas dari kekerasan, berdaulat atas sumber-sumber kehidupannya, dan dilibatkan secara bermakna dalam seluruh proses perubahan.

  • Hari Bumi 2025: Kemenag Gelar Gerakan Penanaman Sejuta Pohon Matoa

    Hari Bumi 2025: Kemenag Gelar Gerakan Penanaman Sejuta Pohon Matoa

    7cloud.asia – Menyambut Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, Kementerian Agama menyelenggarakan Gerakan Penanaman Sejuta Pohon Matoa (Pometia pinnata) secara serentak di seluruh Indonesia dalam.

    Gerakan penanaman pohon matoa ini dipusatkan di Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat dan diikuti secara daring oleh ASN Kemenag dari seluruh Indonesia.

    “Satuan kerja Kementerian Agama itu 3.600. Satker terbesar di Indonesia. Jadi (penanaman pohon) sampai ke kawasan tingkat kecamatan itu ya, KUA,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (22/4/2025) seperti dikutip Antaranews.com.

    Gerakan ini, merupakan implementasi salah satu di antara delapan program prioritas (Asta Protas) Menteri Agama Nasaruddin Umar, yaitu Program Ekoteologi.

    Gerakan ini untuk meningkatkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama, menciptakan lingkungan hidup yang lebih hijau, dan menginspirasi umat beragama untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

    Baca: Penanaman pohon ulin untuk sambut Hari Bumi

    Gerakan penanaman sejuta pohon matoa di Hari Bumi ini merupakan hasil kolaborasi Kemenag dengan Kementerian Kehutanan untuk penyediaan bibit pohon.

    Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Nyayu Khodijah mengatakan pihaknya melibatkan ribuan madrasah saat peluncuran gerakan penanaman pohon.

    Mereka akan melakukan penanaman puluhan ribu pohon di lingkungan madrasah masing-masing.

    “Sesuai arahan Menag, kita libatkan 4.085 madrasah negeri dan 714 madrasah swasta penerima Adiwiyata,” kata dia.

    Dia menjelaskan madrasah menjadi bagian dari gerakan penanaman sejuta pohon yang berperan penting untuk melakukan edukasi terkait dengan kepedulian lingkungan.

    Baca: Daftar hewan yang punah dari muka Bumi

    “Keikutsertaan madrasah pada gerakan tersebut tentu menjadi praktik baik yang diwujudkan dalam penghijauan madrasah,” kata Nyayu Khodijah.

    Hari Bumi merupakan peringatan internasional yang dirayakan setiap tahunnya sebagai bentuk penghargaan terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan oleh para pembuat kebijakan, aktivis, hingga organisasi lingkungan dalam menjaga kelestarian bumi selama lebih dari lima dekade terakhir.

    Hari Bumi bertujuan membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem dan keseimbangan alam.

    Aksi-aksi tersebut dapat berupa penanaman pohon, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, pelestarian kawasan hutan, hingga upaya mengurangi penggunaan kertas.

    Pada tahun 2025 ini, merupakan peringatan Hari Bumi yang ke-55 sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1970. Adapun tema yang diusung adalah “Kekuatan Kita, Planet Kita”.

    Tema tersebut menekankan pentingnya tanggung jawab bersama antara masyarakat, organisasi, hingga pemerintah untuk beralih ke energi terbarukan demi membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

    Ditargetkan pada tahun 2030, produksi energi terbarukan secara global dapat meningkat dua kali lipat, dengan fokus utama pada sumber energi bersih seperti panas bumi, tenaga air, tenaga pasang surut, angin, dan matahari.

  • Merayakan Hari Bumi: Diinisiasi Senator AS Kini Menyebar ke Seluruh Dunia

    Merayakan Hari Bumi: Diinisiasi Senator AS Kini Menyebar ke Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Hari Bumi, yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 22 April, baru saja berlalu. Namun, sejenak mari kita renungkan mengapa kita perlu merayakan Hari Bumi setiap tahun.

    Hari Bumi adalah acara global yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran tentang perlindungan bagi planet Bumi dan keberlanjutan lingkungan.

    Dilansir earth.org, planet Bumi menjadi rumah bagi lebih dari 8 miliar orang, 300.000 spesies tumbuhan, lebih dari 600.000 spesies jamur, dan sekitar 10 juta spesies hewan.

    Ekosistem di seluruh dunia menyediakan layanan dan sumber daya yang berharga untuk menopang semua kehidupan di Bumi, namun manusia terus menganggapnya biasa saja.

    Perubahan iklim akibat perbuatan manusia mengancam kelestarian planet Bumi, dan kita perlu melakukan segala yang kita bisa untuk melestarikan dan melindungi rumah kita.

    Teruslah membaca untuk mempelajari fakta-fakta Hari Bumi yang menarik dan temukan cara-cara yang dapat ditindaklanjuti untuk terlibat dalam melestarikan planet kita untuk generasi mendatang.

    Baca: Gerakan menanam sejuta pohon matoa di Hari Bumi

    1. Hari Bumi pertama kali dirayakan pada tahun 1970
    Sebelum Hari Bumi pertama, orang Amerika menghabiskan banyak sekali bensin bertimbal – yang penggunaannya secara global telah dihapus sejak saat itu.

    Kabut asap yang mematikan dan asap yang mencemari juga merupakan kejadian sehari-hari yang sudah biasa. Namun, setelah serangkaian tumpahan minyak dan munculnya kesadaran publik tentang dampak buruk polusi udara dan air, sikap masyarakat berubah.

    Terinspirasi oleh gerakan protes antiperang Vietnam yang dipimpin oleh mahasiswa, Senator AS Gaylord Nelson memperkenalkan acara pengajaran di kampus-kampus tentang kesadaran lingkungan.

    Gerakan ini akhirnya berkembang menjadi gerakan global yang dikenal saat ini sebagai Hari Bumi.

    2. Hari Bumi adalah peringatan sekuler terbesar di dunia
    Meskipun dirayakan hampir secara eksklusif di AS selama hampir 20 tahun, Hari Bumi kini telah menjadi hari yang diakui secara internasional dan dirayakan di lebih dari 192 negara.

    Setiap tahun, sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia bersatu dan dimobilisasi untuk tujuan yang sama – kesadaran lingkungan yang lebih besar dan aksi iklim.

    Baca: Hari Bumi jadi momentum pelestarian pohon ulin

    3. Hari Bumi selalu diperingati tanggal 22 April
    Senator Nelson awalnya memilih tanggal 22 April sebagai Hari Bumi pertama karena jatuh tepat di antara Liburan Musim Semi dan ujian akhir, sehingga memaksimalkan partisipasi dan jumlah mahasiswa untuk acara tersebut.

    Peringatan ini diadakan pada hari yang sama untuk mendorong lebih banyak mahasiswa untuk ikut merayakan dan berunjuk rasa, dan setiap tahun, ribuan demonstrasi, konser, dan kegiatan luar ruangan diselenggarakan di seluruh dunia.

    4. Hari Bumi memperkuat kebijakan lingkungan
    Edisi pertama Hari Bumi memicu perbincangan nasional tentang kurangnya undang-undang lingkungan di negara ini, yang berujung pada penerapan beberapa undang-undang federal yang paling penting dan komprehensif tentang perlindungan lingkungan.

    Undang-Undang ini mencakup Undang-Undang Udara Bersih (1970), amandemen Undang-Undang Air Bersih (1972), dan Undang-Undang Spesies Terancam Punah tahun 1973.

    Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memilih Hari Bumi untuk menandatangani Perjanjian Paris, perjanjian iklim paling penting dan komprehensif di dunia untuk membatasi pemanasan global di bawah 1,5C atau setidaknya “jauh di bawah” 2C di atas tingkat pra-industri.

    5. Hari Bumi 2025: bersatu di balik energi terbarukan
    Setiap edisi Hari Bumi mengusung tema yang berbeda. Tema tahun 2025, “Kekuatan Kita, Planet Kita,” menyerukan semua orang untuk bersatu demi energi terbarukan

    Sekaligus mendorong target global untuk melipatgandakan listrik bersih pada tahun 2030 yang disepakati di COP28.

    Baca: Pemanasan suhu Bumi lampaui jalur yang ditetapkan

     

  • Yuk, Jadikan Momen Hari Bumi untuk Gencarkan Aksi Lingkungan

    Yuk, Jadikan Momen Hari Bumi untuk Gencarkan Aksi Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim tidak diragukan lagi merupakan masalah lingkungan terbesar yang kita hadapi saat ini, dan kita kehabisan waktu untuk membalikkannya.

    Laporan terbaru oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan bahwa suhu global kemungkinan besar akan naik 1,5C di atas tingkat pra-industri pada tahun 2040.

    Laporan itu juga mengingatkan “sekarang” adalah saat yang tepat untuk menghambat laju perubahan iklim dan pemanasan global atau masyarakat dunia sama sekali gagal.

    Memperingati Hari Bumi, masyarakat dunia diingatkan bahwa telah ada beragam alat dan opsi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis demi lingkungan yang lestari. Sudah saatnya kita memanfaatkannya.

    Secara kolektif, masyarakat atau komunitas dapat menjadikan tekanan publik dan mobilisasi masyarakat sipil sebagai alat terbesar di dunia untuk mendorong perubahan kelembagaan dan sistemik.

    Baca: Perjalanan Hari Bumi dirayakan di seluruh dunia

    Masyarakat sipil bisa terus meminta pertanggungjawaban politisi, pemerintah, dan perusahaan di seluruh sektor atas tindakan mereka dalam menekan emisi dan mencegah kerusakan lingkungan.

    Tuntutan ini bisa ditargetkan pada organisasi dan bisnis yang terkait dengan industri bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan kegiatan berbahaya bagi lingkungan yang dapat menyebabkan hilangnya habitat dan keanekaragaman hayati.

    Industri fast fashion yang menghasilkan jutaan ton limbah tekstil dan air limbah, perusahaan yang secara sembrono menghasilkan emisi dan mencemari lingkungan bisa jadi target tuntutan Anda.

    Anda dapat menggunakan suara Anda dan membuat perbedaan. Dari petisi dan advokasi lokal hingga boikot dan protes skala besar, tidak ada tindakan yang terlalu kecil.

    Secara individual, kita dapat mencapai masa depan yang berkelanjutan bagi kita dengan upaya bersama, jika setiap individu di dunia membuat perubahan pada gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

    Baca: Gerakan menanam sejuta pohon matoa di Hari Bumi

    Anda dapat menjadikannya kebiasaan untuk bergabung dalam upaya reboisasi masyarakat atau pembersihan pantai.

    Pada tingkat individu, peralihan sederhana ke pola makan nabati (atau setidaknya mengurangi konsumsi daging) dapat mengurangi tekanan signifikan pada penggundulan hutan dan emisi di sektor pertanian;

    Menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan bahan yang dapat digunakan kembali dan didaur ulang; meninggalkan mode cepat untuk mendukung mode berkelanjutan;

    Memilih transportasi umum dan sarana transportasi rendah emisi seperti bersepeda dan mobil listrik semuanya dapat sangat membantu.

    Jangan lupa juga, pengomposan dan daur ulang harian punya kontribusi signifikan dalam mengurangi jejak karbon Anda. Terakhir, mari jadikan Hari Bumi sebagai momentum untuk menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan.

  • Hari Bumi 2025: Pemadaman Lampu di Jakarta Pangkas Emisi Karbon Hingga 297 Ton

    Hari Bumi 2025: Pemadaman Lampu di Jakarta Pangkas Emisi Karbon Hingga 297 Ton

    7cloud.asia – Peringatan Hari Bumi 2025 oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan aksi memadamkan lampu di sejumlah lokasi dan gedung selama 60 menit, Sabtu (26/4/2025).

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan, aksi memadamkan lampu dilakukan selama 60 menit, sejak pukul 20.30 sampai 21.30.

    Pemadaman dilakukan terhadap lampu penerangan di jalan protokol, jalan arteri lima wilayah kota dan ikon Kota Jakarta seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI),

    Pemadaman lampu juga dilakukan di Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman serta sejumlah gedung pemerintahan hingga Balai Kota DKI.

    “Selain peringatan Hari Bumi, aksi pemadaman lampu ini merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI mensosialisasikan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030 mendatang,” terang Asep seperti dilansir Jakarta.go.id.

    Baca: Jadikan momen Hari Bumi untuk aksi lingkungan

    Ia menjelaskan, data dari PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (PLN Disjaya) menyebutkan, aksi pemadaman lampu ini berhasil menghemat konsumsi listrik sebesar 372 megawatt hour (MWh).

    Selain berdampak terhadap penghematan secara ekonomis, lanjut Asep, aksi tersebut juga mampu menekan emisi karbon dioksida (CO2e) yang dihasilkan.

    “Dari pemadaman ini, diperoleh penghematan Rp538,599 juta dihitung berdasarkan penghematan listrik sebesar 372 MWh. Selain itu, tercatat penurunan emisi karbon sebesar 297,77 ton CO2e,” ungkapnya.

    Asep mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi aktif dan turut serta melakukan pemadaman lampu.

    ”Aksi pemadaman tadi malam menghasilkan penghematan yang signifikan dibandingkan aksi yang sebelumnya pernah digelar,” cetusnya.

    Baca: Bagaimana Hari Bumi akhirnya mendunia

    Karena memiliki dampak yang signifikan, Asep berharap program ini tidak hanya dilaksanakan saat memperingati Hari Bumi, tapi bisa beberapa kali dalam satu tahun agar membiasakan warga hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.

    Ia mencontohkan, aksi hemat energi dan pengurangan emisi karbon yang bisa dilakukan oleh warga seperti menggunakan alat eletronik hemat energi dan mematikan alat elektronik hingga lampu saat tidak digunakan.

    Meski terlihat kecil, kata Asep, perilaku ini diyakininya bila dilakukan secara massif akan berdampak besar terhadap keberlanjutan planet Bumi.

    “Jika dilakukan secara konsisten, kita bisa menciptakan Kota Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tandasnya.

  • Hari Bumi 2026: Hentikan Kebijakan yang Merusak dan Merampas Ruang Hidup Rakyat

    Hari Bumi 2026: Hentikan Kebijakan yang Merusak dan Merampas Ruang Hidup Rakyat

    7cloud.asia – Hari Bumi 2026 diperingati di tengah ironi, krisis iklim dan bencana ekologis semakin meluas, namun izin-izin yang melegalkan perusakan dan menjadikan rentan ruang hidup rakyat terus diobral.

    Alih-alih menghentikan eksploitasi, kebijakan pembangunan di Indonesia justru semakin membuka peluang bagi industri ekstraktif yang merusak lingkungan baik di darat maupun lautan, mengorbankan ruang hidup petani, nelayan, masyarakat adat dan kelompok rentan lainnya.

    Atas problem tersebut, di Hari Bumi kali ini WALHI menyerukan penghentian kebijakan yang merusak dan merampas ruang hidup rakyat.

    Dalam pernyataan tertulisnya yang diterima 7cloud.asia pada Kamis (23//2026) WALHI menilai, respons kebijakan pengurus negara masih belum menyentuh akar persoalan.

    Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional WALHI, Uli Arta Siagian menegaskan tidak ada perubahan mendasar dalam pendekatan, dan solusi yang ditawarkan cenderung tambal sulam, alih-alih transformasi sistemik yang dibutuhkan.

    Uli menegaskan, bagi WALHI, momentum Hari Bumi seharusnya tidak lagi dipenuhi pernyataan normatif dan komitmen kosong.

    Baca: Daya Dukung Bumi Tak Lagi Memadai, Harus Ada Perubahan Perilaku

    Yang dibutuhkan adalah perubahan arah kebijakan secara mendasar, serta menghentikan ekspansi industri ekstraktif, mencabut izin-izin perusak lingkungan, dan mengembalikan perlindungan ruang hidup rakyat sebagai prioritas utama.

    “Peringatan Hari Bumi hanya akan menjadi simbol tanpa makna, selama kebijakan negara tetap menjauh dari perlindungan ekologis dan keadilan sosial, Bumi akan terus rusak dan rakyat akan terus menanggung akibatnya,” tandasnya.

    Dijelaskan, saat ini sejumlah wilayah Indonesia tengah dilanda krisis iklim dan bencana ekologis yang berjalan beriringan dengan ekspansi pertambangan, pembangkit listrik berbasis fosil, perkebunan sawit skala besar, serta proyek-proyek yang merusak wilayah pesisir dan pulau kecil.

    Kebijakan ini tidak hanya mengabaikan daya dukung lingkungan, tetapi juga secara sistematis meningkatkan kerentanan sosial, ekonomi, dan ekologis masyarakat.

    Massifnya program-program pembangunan di rezim Prabowo-Gibran berkorelasi erat dengan deforestasi yang meningkat di tahun 2025 sebesar 283.803 hektare (WALHI;2026). Jumlah ini jauh lebih besar dari data deforestasi yang dirilis pemerintah yang hanya 166.450 hektar pada 2025.

    “Jumlah deforestasi 2025 yang dirilis WALHI menunjukkan adanya peningkatan jumlah deforestasi dari tahun 2024 yang dirilis pemerintah sebesar 216.216 hektare,” papar Uli.

    Baca: Hari Bumi Diinisiasi Senator AS, Kini Menyebar ke Seluruh Dunia

    Uli menambahkan, fakta ini menegaskan bahwa krisis ekologis tidak terjadi secara alami, melainkan diproduksi melalui keputusan-keputusan politik. Di tengah rentetan bencana ekologis, evaluasi dan pencabutan izin industri perusak lingkungan seharusnya menjadi langkah mendesak.

    Selama negara tetap memprioritaskan kepentingan ekstraktif, ujarnya, krisis ini akan terus diperparah.

    Di saat yang sama, perusakan alam secara besar-besaran, terutama di kawasan hutan, telah memperdalam dan memperluas skala bencana ekologis. Berdasarkan hasil pengamatan WALHI, dari Papua hingga Aceh, bencana ekologis terjadi semakin masif dan intensif.

    Ancaman kerusakan juga terus membayangi masyarakat yang hidup di lingkar tambang, mulai dari batu bara hingga nikel yang selama ini diposisikan sebagai tulang punggung energi nasional.

    “Aktivitas pertambangan tidak hanya menghancurkan hutan dan meninggalkan lubang-lubang tambang, tetapi juga merusak sumber pangan serta mengancam ketersediaan air bersih bagi warga,” tegas Faizal Ratuela Pengkampanye Anti Tambang

    Baca: Kebakaran hutan mengancam biodiversitas

    Pada 2026, Indonesia diperkirakan menghadapi fenomena “Godzilla El Niño” yang lebih mengancam. Dampaknya tidak hanya berupa kemarau panjang dan penurunan curah hujan, tetapi juga mempercepat krisis air dan pangan, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

    Dalam konteks pesisir dan pulau-pulau kecil, situasi ini semakin diperparah oleh kenaikan muka laut, intrusi air asin, kerusakan ekosistem pesisir, dan menurunnya hasil tangkap nelayan.

    “Kelompok yang paling terdampak justru mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis ini: petani kecil, nelayan tradisional, perempuan pesisir, masyarakat adat, dan warga pulau-pulau kecil,” jelas Musdalifa Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial.

    Krisis ini diperparah oleh persoalan sampah yang kian tak terkendali. Timbunan sampah terus meningkat di berbagai wilayah tanpa pengelolaan yang memadai.

    Peristiwa longsornya TPA Bantargebang, banjir air lindi di TPA Piyungan di Yogyakarta, serta berbagai krisis sampah di daerah lain menjadi penanda kegagalan sistemik dalam tata kelola sampah.