7cloud.asia – Hari ini, Senin 22 April 2024 masyarakat yang peduli lingkungan di seluruh dunia memperingati Hari Bumi.
Bisa dikatakan, di Indonesia peringatan atau perayaan Hari Bumi tidak sepopuler dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni.
Pemerintah Indonesia sendiri secara resmi telah memperingati Hari Bumi sejak 2009 sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan alam.
Pada dasarnya memang tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia.
Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak.
Hal mendasar yang membedakan antara dua hari besar itu adalah sejarahnya saja.
Baca Juga: Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah
Pada tahun ini, Hari Bumi 2024 mengambil tema “Planet vs Plastic” atau “Planet vs Plastik” yang merupakan sebuah kampanye untuk mengakhiri penggunaan plastik demi kesehatan manusia dan bumi.
Dilansir earthday.org, peringatan Hari Bumi diisi dengan kempanye mengajak semua pihak untuk mengurangi 60 persen produksi seluruh jenis plastik pada 2040 mendatang.
Beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan meningkatkan kewaspadaan publik terhadap kerusakan yang disebabkan plastik kepada manusia, hewan, dan kesehatan seluruh biodiversitas.
Para aktivis lingkungan juga menuntut dilakukannya lebih banyak penelitian dan publikasinya terhadap publik mengenai implikasi kesehatannya, termasuk dampaknya terhadap kesehatan.
Masyarakat dunia juga diajak untuk meniadakan penggunaan plastik sekali pakai pada 2030, serta mencapai komitmen peniadaan bertahap ini yang sesuai dengan Perjanjian PBB tentang Polusi Plastik pada tahun 2024.
Dalam peringatan Hari Bumi ini juga diserukan kebijakan untuk mengakhiri tren berbagai model fesyen yang silih berganti dalam waktu singkat atau fast fashion yang mengakibatkan banyaknya jumlah plastik yang diproduksi dan digunakan
Para aktivis lingkungan juga menyerukan investasi dalam teknologi inovatif untuk menciptakan dunia tanpa plastik.
Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup.
Sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.
Itu sebabnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat pemerhati lingkungan maupun pemerintah, termasuk Indonesia.
Hari Bumi sendiri bermula dari Minyak yang tumpah pada 1969 silam di sebuah pengeboran minyak di Santa Barbara, California, Amerika Serikat (AS).
Dilansir Antaranews.com, kejadian ini menjadi salah satu peristiwa lingkungan terburuk di dekade tersebut.
Lebih dari 11 juta liter minyak yang tumpah di perairan tersebut menyebabkan kematian pada lebih dari 10.000 burung laut, serta mamalia laut seperti lumba-lumba, anjing laut, dan singa laut.
Adanya peristiwa itu mengilhami seorang aktivis perdamaian bernama John McConnell dalam sebuah konferensi Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk mengusulkan adanya sebuah hari khusus untuk memperingati bumi.
Baca Juga: Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah
Awalnya, Hari Bumi diperingati pada 21 Maret 1970, dan telah disetujui oleh Sekretaris Jenderal PBB pada waktu itu, U Thant.
Sebulan berselang, Senator AS Gaylord Nelson bergerak bersama para aktivis dalam menciptakan kegiatan yang dinamakan sebagai “Earth Day” atau Hari Bumi.
Gaylord yang juga merupakan pengajar dan pemerhati lingkungan mengajak Denis Hayes, aktivis lulusan Universitas Harvard untuk mengoordinasikan kegiatan tersebut.
Hasilnya, sekitar 20 juta orang tumpah ke jalan untuk meramaikan aksi tersebut, dan hingga kini menjadi salah satu peristiwa unjuk rasa dengan massa terbanyak sepanjang sejarah.
Atas peristiwa tersebut, Hari Bumi yang disepakati pada 22 April setiap tahunnya mulai diperingati masyarakat dunia sejak 1990.
Saat ini, atau 34 tahun setelah resmi ditetapkan, tercatat ada 192 negara yang turut ambil bagian dalam gerakan tersebut.








