Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Sekjen PBB Kembali Serukan inggalkan Bahan Bakar Fosil untuk Hadang Krisis Iklim

Written by

in

 

7cloud.asia – Krisis iklim telah menjadi isu utama selama Antonio Guterres menjabat sebagai Sekjen PBB sejak tujuh setengah tahun yang lalu.

Ia telah berulang kali menyerukan penghentian penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dan beralih ke energi terbarukan yang lebih bersih untuk menghadang laju krisis iklim.

Energi terbarukan yang lebih bersih, seperti tenaga angin dan tenaga surya – telah menghasilkan hampir sepertiga kapasitas listrik dunia.

Peringatan ini kembali disuarakan Guterres di Hari Lingkungan Hidup Sedunia Rabu (5/6/2024) dengan mendesak bank-bank untuk berhenti membiayai proyek-proyek minyak, batu bara dan gas.

Sebagai gantinya, Guterres mengajak dunia perbankan berinvestasi pada energi terbarukan.

Ia meminta negara-negara untuk melarang iklan dari produsen bahan bakar fosil dan mengatakan bahwa platform berita dan teknologi harus berhenti menerima iklan mereka.

“Saya menyerukan kepada para pemimpin industri bahan bakar fosil untuk memahami bahwa jika Anda tidak berada di jalur cepat menuju transformasi energi bersih, Anda membawa bisnis Anda ke jalan buntu – dan menyeret kita semua,” ujarnya.

Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

Guterres menambahkan bahwa industri minyak dan gas hanya menginvestasikan 2,5 persen dari total pengeluaran untuk energi bersih pada tahun lalu.

Ia mendesak perusahaan-perusahaan hubungan masyarakat dan pelobi untuk berhenti mendukung industri “penghancuran planet” ini dan meninggalkan klien-klien tersebut.

“Banyak orang di industri bahan bakar fosil yang tanpa malu-malu melakukan greenwashing, bahkan ketika mereka berusaha untuk menunda aksi iklim – dengan lobi, ancaman hukum, dan kampanye iklan yang besar-besaran,” katanya.

Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, Guterres juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim adalah mereka yang paling menderita,

Masuk dalam kelompok ini terutama negara-negara miskin di Afrika dan negara-negara kepulauan kecil.

Negara-negara ekonomi utama G20 menghasilkan 80 persen emisi dunia justru lebih sedikit merasakan dampak krisis iklim.

“Sangat memalukan bahwa mereka yang paling rentan dibiarkan terlantar, berjuang mati-matian untuk menghadapi krisis iklim yang tidak mereka ciptakan,” katanya.

Baca Juga: 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

Guterres memperingatkan bahwa perbedaan suhu antara 1,5 dan 2 derajat celcius dapat berarti kelangsungan hidup atau kepunahan bagi beberapa negara kepulauan kecil dan masyarakat pesisir.

“1,5 derajat bukanlah sebuah target. Itu bukan tujuan. Ini adalah batas fisik,” katanya.

Pemanasan global, ujarnya, telah merusak lautan di planet ini, terumbu karang dan ekosistem laut, serta mencairnya es laut.

Di seluruh dunia, banjir besar, kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan bencana lain yang berhubungan dengan iklim menjadi semakin sering terjadi.

Guterres menegaskan bahwa harus ada lebih banyak pembiayaan dan dukungan teknis dari negara-negara kaya untuk mengurangi dampak iklim dan berinvestasi pada energi terbarukan bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

Ia juga mengatakan bahwa sistem peringatan dini global harus tersedia pada tahun 2027, untuk melindungi semua orang di Bumi dari cuaca, air, dan iklim yang berbahaya.

Dia mendesak warga untuk terus membuat suara mereka didengar dan mengatakan bahwa inilah saatnya bagi para pemimpin untuk memutuskan di pihak siapa mereka berada.

“Sekarang adalah waktunya untuk menggerakkan; sekarang adalah waktunya untuk bertindak; sekarang adalah waktunya untuk menyampaikan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah. “Ini adalah momen kebenaran kita.”

Sumber: VOA Indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *