Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, Perubahan Iklim telah terjadi selama hampir dua dekade terakhir pada periode tahun 2000 sampai 2019.

Perubahan Iklim mengakibatkan durasi musim hujan lebih panjang di beberapa wilayah selatan di Indonesia.

“Di Sumatera Selatan dan Kalimantan dan sebagian wilayah di selatan Pulau Sulawesi selama 49 hari. Perubahan Iklim, lanjutnya, mengakibatkan durasi musim hujan di Lampung dan bagian barat Pulau Jawa berlangsung lebih panjang 12 hari,” kata Erma di Jakarta, Maret lalu.

Baca: Agar pendidikan turut jadi solusi untuk perubahan iklim

Erna menambahkan, perubahan iklim juga mengakibatkan hari-hari kering mengalami peningkatan selama musim hujan untuk wilayah selatan Indonesia.

Untuk memantau Perubahan Iklim inim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN membangun model prediksi musim Decision Support System (DSS) Kamajaya 

Kamajaya merupakan aplikasi sistem kajian awal musim jangka madya berbasis model atmosfer. Data yang dihasilkan Kamajaya kemudian dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya. 

Pada Januari 2023, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menyatakan bahwa pemanasan global diperkirakan mencapai 1,21 derajat Celcius. Pemanasan global ini diyakini telah memperparah perubahan iklim
 
Dalam 30 tahun, pemanasan global ini dapat berlanjut hingga mencapai 1,5 derajat Celcius pada Maret 2023. Ini yang menyebabkan perubahan iklim terasa makin nyata.

Baca:  Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dimunculkan 70 tahun silam

Erma menjelaskan bahwa perubahan iklim di Indonesia memiliki dampak dan efek yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia. Namun, pengamatan BRIN terfokus pada daerah yang selama ini dikenal sebagai sumber pangan.

“Fokus pengamatan kami di selatan Indonesia, karena selatan Indonesia merupakan tempat sentra pangan di Indonesia serta memiliki penduduk terbanyak,” kata Erma.

Perubahan iklim telah mengakibatkan peningkatan hujan yang lebih ekstrem pada musim hujan.

Adapun selama musim kemarau, hujan ekstrem semakin sering terjadi di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Baca:  Agar tumbuhkan kesadaran, begini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa hasil penelitian BRIN terkait perubahan iklim menunjukkan adanya perubahan temperatur signifikan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (tahun 2021-2050 terhadap 1991-2020).

Perubahan iklim juga mengakibatkan temperatur minimum mengalami penurunan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta bagian tengah Jawa Barat.

 
Sedangkan, temperatur maksimum mengalami peningkatan di sebagian besar pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Adapun perubahan iklim mengakibatkan hari-hari tidak hujan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan diproyeksikan meningkat, sehingga lebih kering dan mengalami peningkatan kering yang signifikan, sama halnya di Sumatera Selatan hingga Lampung.

Baca:  Ribuan desa pesisir di Indonesia terancam hilang akibat perubahan iklim

Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya badai vorteks dan siklon tropis di selatan Nusa Tenggara Timur, sehingga dampaknya meningkatkan hujan dan menimbulkan banjir di Madura dan wilayah Jawa Timur lainnya.

Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan penghangatan suhu permukaan laut di Laut Jawa bagian utara Jakarta.

Di sisi lain, suhu permukaan laut yang mendingin terbentuk di Laut China Selatan telah menciptakan tekanan tinggi.

Baca:  Tentang dana loss and damage terkait perubahan iklim 

Erma menuturkan perlu model prediksi cuaca resolusi tinggi secara temporal dan spasial dengan wilayah dominan yang luas.
 
Selain itu juga perlu mengedukasi masyarakat secara komprehensif untuk mengantisipasi kebencanaan yang mungkin terjadi akibat badai badai vorteks dan siklon tropis yang akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. 
 
Terakhir, sangat perlu untuk membangun Weather Ready Nation yang merupakan upaya memaksimalkan peringatan dini terhadap kejadian vortex.
 
“Ini untuk memastikan jalur koordinasi dan komunikasi di daerah dengan kesigapan maksimal dan meminimalisasi dampak perubahan iklim yang terjadi, pungkasnya dalam webinar yang diselenggarakan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) tersebut,” pungkas Erna. 
 
Sumber: BRIN