Tag: jantung

  • Malas Gerak, Penyakit Jantung Mengintai

    Malas Gerak, Penyakit Jantung Mengintai

    7cloud.asia – Malas gerak atau mager banyak dilakukan berbagai kalangan baik muda maupun tua. Apalagi saat libur. Tentu sangat nikmat melanjutkan tidur atau sekadar membaca di atas tempat tdur. Padahal ini dapat berisiko terkena serangan jantung.

    Mager atau malas gerak (sedentary lifestyle) adalah setiap perilaku bangun yang ditandai dengan pengeluaran energi 1,5 METS, seperti duduk atau berbaring.

    Bukti terbaru menunjukkan bahwa malas gerak terus menerus (seperti duduk untuk waktu yang lama) terkait dengan metabolisme glukosa yang abnormal dan morbiditas kardio-metabolik, serta kematian secara keseluruhan.

    Anda dapat mengurangi mager dengan cara melakukan aktivitas fisik. Bentuknya macam-macam seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga, dan bentuk rekreasi aktif misalnya: menari, yoga, tai chi, dan latihan beban.

    Aktifitas fisik juga bisa berupa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, memasak, dan lain-lain.

    Rekomendasi WHO anak-anak dan remaja usia 5 hingga 17 tahun dianjurkan melakukan aktifitas dengan intesitas sedang selama 60 menit sehari.

    Sedangkan dewasa usia 18 hingga 64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas sedang selama 150 menit atau 75 menit melakukan aktivitas berat dalam satu hari.

    Usia 65 tahun keatas, WHO menganjurkan melakukan aktivitas sedang 150 menit atau aktivitas berat 75 menit ditambah olahraga 2 kali seminggu.

    Pada usia ini sebenarnya lebih direkomendasikan untuk melakukan aktifitas sedang selama 300 menit sehari.

    Hasil studi yang dilakukan para peneliti di Stanford Universit, Indonesia merupakan negara paling malas berjalan kaki di seluruh dunia.

    Studi tersebut menyebut bahwa rata-rata orang Indonesia berjalan kaki hanya 3.513 langkah per hari.

    Para peneliti Stanford University menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang di seluruh dunia yang menggunakan Argus, aplikasi pemantau aktivitas yang ada di telepon seluler.

    Para peneliti terkejut ketika menemukan fakta bahwa kesenjangan aktivitas juga didorong berdasarkan gender. Di Indonesia perempuan cenderung lebih mager ketimbang pria.

    Ada tiga faktor yang menyebabkan orang Indonesia menjadi malas untuk jalan kaki, yaitu infrastruktur pedesterian tidak memadai, cuaca panas dan catcalling atau pelecehan verbal yang dilakukan saat berjalan kaki.

    Jiika malas gerak kerap terjadi akan berisiko terkena penyakit jantung, sebab:
    1. Malas gerak berkaitan erat dengan penurunan metabolisme lemak darah, yang menghasilkan peningkatan LDL (kolesterol jahat) penurunan HDL (kolesterol baik).

    Sehingga penumpukan lemak darah ke dinding pembuluh darah semakin masif. Hasilnya dalam jangka panjang adalah aterosklerosis sebagai faktor risiko serangan jantung.

    2. Malas gerak menurunkan jumlah pengeluaran energy (kalori) sehingga penumpukan lemak akan meningkatkan berat badan. Berat badan yang berlebih sampai obesitas akan memperberat kerja jantung.

    3. Malas gerak akan menurunkan fungsi otot gerak (ekstremitas). Di level seluler, akan terjadi disfungsi mitokondria (sumber energi sel) dan terjadi atrofi otot.

    Otot yang mengecil tidak mampu menerima kelebihan glukosa yang dikonsumsi sehingga akan menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin ini faktor risiko penyakit diabetes dan penyakit jantung.

    4. Risiko penyakit jantung dari malas gerak hampir setara dengan hipertensi, merokok, dan diabetes mellitus.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Awas! Olahraga Berlebihan Bisa Bahayakan Kesehatan Jantung

    Awas! Olahraga Berlebihan Bisa Bahayakan Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Untuk menjaga kebugaran dan kesehatan, pakar menyarankan untuk banyak beraktivitas dan melakukan olahraga seara teratur. 

    Namun, tahukah kamu melakukan olahraga yang berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menyebabkan serangan jantung? 

    Dilansir Hindustan Times, Rabu (22/11/2023), ahli jantung di Asian Heart Institute Mumbai Dr. Abhijit Borse mengatakan rutinitas olahraga yang ketat disarankan untuk mencapai kebugaran fisik puncak.

    Namun olahraga yang melebihi takaran, secara tidak langsung dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk serangan jantung.

    Olahraga, ujarnya, dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko obesitas, meningkatkan kadar kolesterol, dan memperkuat otot jantung. Meski demikian, ia mengingatkan untuk menjaga keseimbangannya.

    Baca: Ini cara berolahraga di daerah dengan polusi udara tinggi

    “Olahraga berlebihan, terjadi ketika seseorang melakukan olahraga yang intens dalam jangka waktu lama tanpa memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri,” kata Borse.

    Kekhawatiran utama dari olahraga berlebihan, kata Borse, adalah ketegangan yang terjadi pada jantung.

    Selama aktivitas fisik yang berat, jantung memompa lebih banyak darah untuk memasok oksigen dan nutrisi ke otot. 

    Ini adalah respons normal terhadap olahraga, dan membantu meningkatkan kinerja jantung untuk menjadi lebih efisien.

    Namun, jika olahraga dilakukan secara ekstrem, jantung bisa bekerja terlalu berat dan lelah, sehingga meningkatkan risiko kejadian buruk pada jantung.

    Baca: Sering begadang dan jarang olahraga pertinggi risiko stroke

    Salah satu kondisi umum yang terkait dengan olahraga berlebihan dikenal sebagai “jantung atlet” atau “remodeling jantung akibat olahraga”.

    “Pada individu yang secara konsisten memaksakan tubuhnya hingga batas maksimal, jantung mengalami perubahan struktural untuk mengakomodasi peningkatan kebutuhan aliran darah,” jelasnya.

    Ia melanjutkan, meskipun adaptasi ini umumnya tidak berbahaya pada atlet yang terlatih, namun dapat menjadi masalah bagi mereka yang berolahraga berlebihan tanpa bimbingan yang tepat atau pemulihan. 

    Potensi risiko olahraga yang berlebihan menyebabkan peningkatan detak jantung yang terus-menerus, yang seiring waktu, dapat melemahkan otot jantung dan mengurangi kemampuannya untuk memompa secara efektif.

    Selain itu, olahraga intens tanpa pemulihan yang memadai dapat memicu irama jantung yang tidak normal, seperti aritmia (fibrilasi atrium), yang dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah dan stroke.

    Baca: Bahaya malas bergerak untuk kesehatan jantung

    Olahraga berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit jantung, terutama pada individu dengan faktor risiko yang sudah ada sebelumnya.

    Olahraga berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap infeksi, yang secara tidak langsung dapat berdampak pada kesehatan jantung.

    Menurutnya, kuncinya adalah menemukan keseimbangan yang sesuai dengan tingkat kebugaran dan tujuan individu serta melakukannya dalam jumlah sedang.

    Beberapa tips penting yang diberikan Borse untuk menjaga jantung tetap aman adalah mendengarkan tubuh anda dengan memperhatikan tanda-tanda nyeri atau kelelahan. 

    Ia juga menyarakan untuk melakukan variasi rutinitas latihan, jadwalkan hari istirahat teratur dan pertimbangkan untuk bekerja dengan pelatih untuk membantu membuat perencanaan olahraga.

    Baca: Cara mengurangi risiko munculnya autoimun

     

  • Pemilu 2024: Jumlah Petugas KPPS yang Meninggal Menurun, Paling Banyak Akibat Serangan Jantung

    Pemilu 2024: Jumlah Petugas KPPS yang Meninggal Menurun, Paling Banyak Akibat Serangan Jantung

    7cloud.asia – Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia pada Pemilu 2024 ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu. Penyebab utamanya penyakit jantung.

    Hal ini diungkapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes pada Senin (19/02/2024).

    Budi memaparkan hingga Senin kemarin, tercatat 84 petugas KPPS Pemilu 2024 yang meninggal dunia.

    Rinciannya 71 orang merupakan bagian dari penyelenggara pemilu, sementara 13 di antaranya adalah pengawas pemilu.

    “Tadi Pak [ketua] KPU angkanya 71 untuk yang tanggal 14-18 Februari, dari Bawaslu ada tambahan 13 orang, jadi totalnya ada 84 sampai sekarang yang meninggal,” ungkap Budi dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes, Senin (19/2/2024).

    Baca: Sebanyak 71 petugas KPPS Pemilu 2024 meninggal

    Jika dibandingkan dengan Pemilu 2019, angka kematiannya saat itu mencapai 500-an orang.

    Jadi, lanjut Budi, jumlah petugas yang meninggal pada penyelenggaraan Pemilu 2024 saat ini setara dengan 16% dari keseluruhan jumlah pada pemilu sebelumnya.

    “Itu 16% dari pemilu sebelumnya yang angkanya di atas 500-an orang, jadi memang terjadi penurunan yang sangat drastis dari jumlah petugas pemilu yang wafat saat bertugas pada pemilu sebelumnya,” jelasnya.

    Meski jumlahnya menurun, pihaknya tetap menganggap serius dan tidak menganggap ringan kasus kematian ini.

    “Kami di pemerintah khususnya di Kemenkes melihat bahwa satu nyawa itu sudah terlalu banyak,” pungkasnya.

    Baca: Belasan petugas KPPS di Gorontalo jatuh sakit karena kelelahan

    Berdasarkan data terbaru Kemenkes, penyebab kematian tertinggi adalah penyakit jantung, sebanyak 19 orang.

    Kemudian diikuti oleh penyebab yang masih dikonfirmasi, kecelakaan, dan hipertensi.

    Sebelumnya kemenkes telah melakukan skrining kesehatan terhadap 6,8 juta petugas sebelum menjalankan tugasnya pada Pemilu 2024. Namun, hanya 6,4 juta orang yang dinyatakan sehat dan tanpa risiko tinggi.

    Ia menambahka sekitar 400 ribu petugas KPPS berisiko tinggi. Namun mereka ini  masih banyak lolos.

    “Risiko tingginya itu paling banyak hipertensi. Banyak sekali, nih, masyarakat Indonesia hipertensi. Jadi makannya tolong diatur, jangan banyak-banyak garam, gula, dan lemak. Rokok juga kalau bisa dikurangi,” lanjut Budi.

    Baca: DPR sudah minta petugas KPPS dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

    Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama sakit dan kematian anggota Badan Ad Hoc Pemilu 2024 adalah kelelahan.

    Hal ini akibat waktu bekerja yang melebihi batas waktu (overtime). Pencoblosan suara dimulai pukul 07.00 sampai 13.00. Kemudian dilanjut dengan perhitungan suara maksimal sampai 12 malam.

    “Namun, kemarin ada putusan MK (Mahkamah Konstitusi) boleh tambah lagi (masa rekapitulasi suara) 12 jam, hari berikutnya. Itu total kurang lebih 33 jam, belum lgi persiapan sebelum pencoblosan,” jelas Tito.

    Memang keputusan MK menyatakan bahwa perhitungan suara harus dilakukan tanpa jeda.

    Namun, hal ini dimaknai para petugas untuk bekerja terus menerus tanpa henti.

    “Nah, ada kausul yang kadang-kadang dibawa teman-teman kurang memahami, yaitu keputusan MK yang menyatakan bahwa penghitungan suara dilakukan tanpa jeda,” terangnya.

    Baca: Petugas KPPS di Pondok Kelapa jalani pemeriksaan sebelum pencoblosan

    “Tanpa jeda ini dimaknai tidak boleh berpindah tempat alias terus menerus, padahal idealnya manusia bekerja terus menerus maksimal 10 jam menurut Kemenkes. Nah, ini salah satu yang mungkin menyebabkan kelelahan,” tambahnya.

    Mantan kapolri ini menegaskan, pihaknya justru mengimbau petugas untuk beristirahat ketika sudah mulai merasa lelah.

    Sebab, jumlah anggota yang bertugas memungkinkan pekerjaan untuk dilakukan secara bergantian saat ada pihak yang beristirahat.

    “Bukan berarti individualnya yang terus menerus bekerja. Prosesnya tetap berjalan, ada penghitungan. Kalau ada yang mau ke toilet, ada yang lelah, ada yang ngantuk sekali, dia bisa beristirahat,” paparnya.

    “Sementara, temannya yang mengerjakan. Inilah pmahaman yang kita sampaikan sehinga mereka bisa memahami bahwa mereka boleh beristirahat saat lelah sekali,” lanjutnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Waspada! Perempuan Usia 50 Tahun ke Atas Lebih Berisiko Terkena Serangan Jantung

    Foto: RS Paru Sidarwangi

    7cloud.asia – Memasuki usia 50 tahun, perempuan diminta untuk lebih memperhatikan kesehatan jantungnya.

    Pasalnya, memasuki usia 50 tahun kesehatan jantung perempuan lebih berpotensi mengalami berbagai jenis gangguan

    Ditulis laman New York Post, Selasa (20/2/2024), penyakit kardiovaskular atau jantung menjadi penyebab utama kematian pada perempuan di New York, Amerika Serikat .

    Data ini berdasarkan temuan ahli jantung Northwell Health dan ahli medis relawan American Heart Association Dr. Stacey Rosen, yang berbasis di New York.

    Rosen mengatakan hampir 45 persen pasiennya yang berusia di atas 20 tahun mengidap penyakit kardiovaskular.

    Baca: Stres sejak kecil berpotensi memicu gangguan jantung

    Rosen juga melihat ada faktor risiko penyakit jantung yang berhubungan dengan jenis kelamin, tarmasuk riwayat menstruasi dan adverse pregnancy outcome (APO) atau kehamilan dengan luaran buruk.

    “Faktor risiko spesifik jenis kelamin lainnya termasuk kecemasan dan depresi, peningkatan risiko akibat pengobatan tertentu untuk kanker payudara, dan kondisi reumatologi,” kata Rosen.

    Faktor risiko utama peningkatan risiko penyakit kardiovaskular bagi perempuan berusia 50 tahun ke atas dimulai sejak menopause karena penurunan kadar hormon estrogen.

    Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi juga sering meningkat seiring bertambahnya usia.

    Kepala petugas medis WebMD dan berbasis di Washington, DC, John Whyte mengatakan risiko diabetes juga meningkat seiring bertambahnya usia

    Baca: Olahraga berlebihan bisa memicu serangan jantung

    Kondisi ini secara signifikan meningkatkan kemungkinan penyakit jantung, seperti halnya faktor kesehatan lainnya seperti obesitas, merokok, dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak.

    “Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kondisi penyakit penyerta lainnya,” kata Whyte menambahkan.

    Ia menyebut, perempuan seringkali mengalami gejala penyakit jantung yang berbeda dibandingkan laki-laki.

    Alih-alih mengalami nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, perempuan  mungkin akan merasakan kelelahan yang tidak biasa atau ekstrem, sesak napas, pusing, mual, dan gangguan pencernaan.

    Mayoritas penyakit kardiovaskular dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup, peningkatan kesadaran dan pendidikan.

    Baca: Malas bergerak tak bagus untuk kesehatan jantung

    Mulailah konsumsi buah-buahan dan sayuran yang kaya akan vitamin, mineral, serat dan antioksidan, biji-bijian utuh untuk serat dan nutrisi, protein tanpa lemak.

    Nutrisi ini bisa berasal dari daging ikan dan unggas, kacang-kacangan dan biji-bijian untuk lemak sehat, kacang-kacangan untuk serat dan protein, dan kopi dan teh untuk antioksidan.

    Di antara makanan yang harus dihindari adalah lemak jenuh dan lemak trans, yang ditemukan dalam daging merah, mentega, keju, dan makanan olahan, kata para ahli.

    Menghindari kelebihan garam juga akan membantu menghindari tekanan darah tinggi, sementara membatasi makanan dan minuman manis akan membantu mencegah obesitas dan diabetes.

    Selain menjaga asupan makanan, perempuan di atas 50 tahun juga dianjurkan beraktivitas fisik secara teratur, yaitu setidaknya 150 menit aktivitas aerobik sedang atau 75 menit aktivitas berat setiap minggu.

    Sumber: Antaranws.com

  • Studi: Minum 2 sampai 3 Cangkir Kopi Sehari Tingkatkan Kesehatan Jantung

    Studi: Minum 2 sampai 3 Cangkir Kopi Sehari Tingkatkan Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Penelitian tentang kopi dalam lima tahun sampai 10 tahun lalu memang kontradiktif. Ada yang menyebut konsumsi kopi berlebih bisa berefek buruk pada kesehatan.

    Tapi, dokter ahli spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiovaskular RSCM Jakarta, Dr dr Muhammad Yamin, Sp.JP(K), FACC, FSCAI mengatakan kopi bagus untuk kesehatan.

    Ia mengatakan bahwa meminum dua sampai tiga cangkir kopi sehari dapat meningkatkan kesehatan jantung.

    “Tapi terakhir ini yang saya ikuti di beberapa publikasi, dua sampai tiga cangkir kopi sehari itu justru bisa membantu untuk meningkatkan kesehatan jantung karena ada kandungan antioksidannya,” kata Yamin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Ia mengatakan antioksidan dalam kopi berfungsi untuk memproteksi tubuh dengan mengikat radikal bebas.

    Baca: Batasi konsumsi kopi untuk tidur yang berkualitas

    Sehingga, mencegah terjadinya kerusakan pada sel-sel tubuh termasuk dinding sel pembuluh darah yang dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, dan penyakit fatal lainnya.

    Kopi sendiri, kata dia, memiliki kandungan polifenol yang memiliki sifat antioksidan sehingga bermanfaat bagi kesehatan selama dikonsumsi dengan cara yang tepat.

    Yamin pun menganjurkan untuk meminum kopi dengan sedikit gula atau bahkan tanpa gula agar manfaatnya dapat dirasakan oleh tubuh.

    “Yang bikin kopi itu jelek adalah kalau diminum pakai gula yang banyak sambil merokok. Kopinya bagus, tapi karena dicampur gula banyak-banyak, sambil merokok, ya jadinya jelek,” katanya.

    Menurut Yamin, konsumsi kopi dengan banyak gula tentu akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes.

    Baca: Hindari konsumsi kopi saat cuaca panas

    Tingginya kadar gula darah juga tentu akan menyebabkan rusaknya pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung.

    Apalagi jika ditambah merokok, maka risiko seseorang terkena penyakit jantung akan semakin meningkat.

    “Jadi cara mengonsumsinya yang harus diubah. Sekarang, masyarakat di Eropa, mereka punya concern terhadap konsumsi dan gula, jadi mereka sudah melakukan pendidikan atau coaching mendorong supaya dikampanyekan minum kopi tanpa gula,” katanya.

    Dia menambahkan, susu almond dan susu kedelai dapat menjadi alternatif untuk menggantikan gula saat mengkonsumsi kopi.

    “(Susu almond) juga bagus untuk kesehatan, banyak antioksidannya,” demikian Muhammad Yamin.

    Sumber:Antaranews.com

  • Paparan Polusi Udara dalam Jangka Panjang Bisa Picu Masalah Jantung

    Paparan Polusi Udara dalam Jangka Panjang Bisa Picu Masalah Jantung


    7cloud.asia – Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke.

    “Bahkan partikel-partikel kecil dalam udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru,” kata Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Eka Hospital BSD Astri Indah Prameswari dalam keterangan di Tangerang, Rabu (3/7/2024).

    Dampak lain dari polusi udara, lanjutnya, bisa memperparah penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

    Selain itu ia menyebut Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang disebabkan polusi udara bisa memicu sejumlah komplikasi seperti radang paru atau pneumonia hingga jantung karena terjadi gangguan pada pembuluh darah.

    Baca Juga: Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    “ISPA adalah infeksi pada saluran pernafasan atas dan bawah. Gejalanya antara lain batuk kering atau batuk, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, nyeri kepala atau pusing, sesak nafas, dan demam,” katanya.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara IQAir, kualitas udara Jakarta cenderung memburuk memasuki musim kemarau. Sudah beberapa pekan kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat.

    Bila dibandingkan sembilan wilayah lain di Indonesia, Jakarta menempati peringkat pertama terburuk. Wilayah Tangerang Selatan, Banten, tercatat berada di urutan kedua (190), diikuti Medan, Sumatera Utara (153).

    “Tingkat polusi udara yang tinggi bisa memicu penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Jika dibiarkan, bisa berujung pada penyakit yang lebih parah,” ujarnya.

    Baca Juga: IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    Langkah untuk menghindari dampak buruk dari polusi udara adalah mengenakan masker untuk menutup area sekitar hidung dan mulut ketika bepergian ke luar rumah.

    “Ganti masker secara berkala jika sudah terlalu lembab, basah, atau kotor,” katanya.

    Membiasakan hidup bersih dengan cara selalu mencuci tangan sehabis bepergian atau setelah aktivitas di luar ruangan karena kuman dan bakteri mudah menempel pada tangan.

    Biasakanlah membawa hand sanitizer dan aplikasikan jika kita sering menyentuh fasilitas umum. Segera cuci pakaian setelah aktivitas dengan mobilitas tinggi.

    “Bersihkan rumah secara rutin, minimal dua kali sehari agar terhindar dari tumpukan debu akibat polusi,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kehidupan Perkotaan dengan Ruang Hijau dan Air Terbatas, Tak Bagus untuk Kesehatan Jantung

    Kehidupan Perkotaan dengan Ruang Hijau dan Air Terbatas, Tak Bagus untuk Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Kehidupan di perkotaan yang minim lingkungan hijau atau perairan tidak baik untuk kesehatan jantung.

    Demikian hasil studi yang dikeluarkan oleh Feinberg School of Medicine di Northwestern University, Amerika Serikat.

    “Para partisipan memiliki akses yang terbatas ke lingkungan hijau, terutama mereka yang tinggal lingkungan ekonomi rendah, memiliki peluang lebih tinggi mengalami kalsifikasi arteri coroner,” jelas Dr. Lifang Hou, penulis studi ini kepada VOA.

    Kalsifikasi atau pengapuran arteri koroner dapat menjadi tanda awal penyakit jantung, yang dapat menyebabkan serangan jantung.

    Studi jangka panjang menemukan bahwa hal ini banyak terjadi pada orang kulit hitam yang tinggal di lingkungan berpenghasilan rendah.

    Baca: Paparan polusi jangka panjang pengaruhi kesehatan jantung

    Di sisi lain, akses ke alam sebenarnya memiliki efek kesehatan yang dapat memperlambat proses penuaan biologis.

    “Lingkungan yang menguntungkan ini juga memiliki oksigen yang lebih baik, udara yang lebih bersih, dan menurutnya yang paling penting adalah mendorong interaksi sosial dari para warga untuk aktif secara fisik. Dan semua faktor ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda,” ujar Dr. Lifang Hou.

    Hasil penelitian ini tidak mengejutkan bagi Heidi Schreiber-Pan, seorang terapis di negara bagian Maryland yang sering melakukan sesi bersama klien di lingkungan yang alami.

    Ada begitu banyak bukti yang mendukung bahwa ketika tubuh manusia berhubungan dengan alam, sistem saraf simpatik terhadap kecemasan kita menjadi lebih rendah, tekanan darah juga lebih rendah.

    “Jadi, tubuh merespons dengan sangat baik terhadap lingkungan yang menenangkan, seperti kicauan burung, suara air, dan pepohonan,” kata Heidi Schreiber-Pan.

    Baca: Jakarta akan terus menambah ruang terbuka hijau

    Penelitian ini diikuti oleh hampir tiga ribu orang selama 25 tahun, dari sekitar tahun 1985 hingga 2011.

    Para penulis studi menyimpulkan bahwa sering berada di luar ruangan berarti orang lebih banyak berolahraga, yang baik untuk kesehatan jantung. Hal itu sangat masuk akal bagi Schreiber-Pan.

    “Katanya, ketika manusia berada di luar ruangan, yang merupakan habitat aslinya, mereka cenderung lebih aktif secara fisik. Itulah yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.

    Jadi, ada begitu banyak manfaat bagi kardiovaskular, hanya dengan menjadi lebih aktif. Namun, ada juga manfaat lain dari suara alam, air, dan burung, bukan?” ujar Heidi Schreiber-Pan.

    Penulis studi, Lifang Hou mengatakan bahwa analisisnya memberikan bukti ilmiah bahwa akan bermanfaat bagi pemerintah dan perencana kota untuk menemukan cara untuk meningkatkan akses ke lingkungan hijau dan perairan seperti sungai dan laut yang berkualitas.

    Fasilitas ini terutama dibutuhkan di daerah-daerah yang secara ekonomi kurang beruntung.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Waspada! Cemas atau Stres yang Berkepanjangan Bisa Memicu Penyakit Jantung

    Waspada! Cemas atau Stres yang Berkepanjangan Bisa Memicu Penyakit Jantung

    7cloud.asia – Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, Rio Probo Kaneko mengatakan munculnya penyakit jantung bisa dipicu cemas atau stres yang berkepanjangan.

    “Paparan stres secara kumulatif (jangka panjang) itu bisa meningkatkan risiko penyakit jantung,” kata Rio Probo Kaneko dalam diskusi bertajuk “Menjaga Kesehatan Jantung AZ” yang digagas Sekolah ANTARA secara daring, Rabu (18/9/2024)

    Ia menjelaskan stres yang berkepanjangan itu akan direspon oleh tubuh untuk mengeluarkan hormon-hormon epinefrin, kortisol, maupun doplamin, yang berlebih.

    Dengan meningkatnya hormon tersebut, lanjut dia, merupakan sinyal yang tidak bagus bagi kesehatan jantung seseorang yang menderita stres atau cemas berkepanjangan.

    Efek negatif tersebut berupa kerja jantung yang menjadi lebih berat hingga detak jantung menjadi lebih cepat.

    Baca: Perkotaan minim ruang hijau dan perairan tak bagus untuk kesehatan jantung

    Penelitian mengungkap bahwa cemas dan stres bisa meningkatkan kadar lemak dalam tubuh, kemudian terjadi peradangan pembuluh darah pada jantung dan juga beban kerja jantung meningkat, detak jantung cepat, tekanan darah tinggi.

    ”Sehingga risiko terjadinya penyakit jantung baik koronoer dan lainnya,” kata Rio

    Meski demikian, lanjutnya, stres yang hanya sementara atau bersifat sesaat tidak menimbulkan kerusakan kepada jantung.

    Pemicu munculnya sakit jantung terhadap seseorang yang mengalami kecemasan dan juga stres hanya dalam jangka waktu yang panjang.

    Bahkan menurut penelitian yang ada, kata dia, seseorang bisa mengalami sakit jantung akibat cemas dan stres berkepanjangan tersebut, jika mereka mengalaminya dalam jangka waktu selama 6 sampai dengan 12 bulan.

    Baca: Polusi jangka panjang berpengaruh pada kesehatan jantung

    “Jadi banyak penelitian yang mayoritas dilakukan di luar negeri itu menyebutkan bahwa paparan stres kronis yang dialami selama 6 sampai dengan 12 bulan yang bisa menyebabkan jantung tidak sehat,” ucap dia.

    “Kalau cemas atau stres yang hanya 1 sampai dengan 2 hari itu tidak termasuk,” kata Rio.

    Dokter yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Purwokerto itu menjelaskan bahwa pengelolaan stres maupun cemas yang berlebih sangat perlu dilakukan.

    Ketika perasaan itu muncul, ia menyarankan untuk mengeluarkan melalui bercerita kepada orang terdekat dan terpercaya hingga melakukan pertemuan dengan psikiater.

    Hal tersebut dilakukan guna mengeluarkan emosi dan juga perasaan yang tidak nyaman dalam pikiran.

    Sumber:Antaranews.com

  • Studi Ini Ungkap Efek Duduk dan Berdiri Terlalu Lama untuk Kesehatan Jantung

    Studi Ini Ungkap Efek Duduk dan Berdiri Terlalu Lama untuk Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Hasil studi baru yang diterbitkan di The International Journal of Epidemiology menunjukkan kaitan berdiri lama dengan risiko penyakit jantung.

    Sebagaimana dilansir Well and Good pada Kamis (17/10/2024), dalam studi baru itu para peneliti melibatkan lebih dari 80.000 orang dewasa sehat dari Inggris.

    Selama dua tahun, para peserta penelitian memakai akselerometer pergelangan tangan yang merekam berapa lama mereka duduk ataupun berdiri.

    Ketika peneliti menilai data dan menindaklanjutinya selama periode enam tahun, mereka menemukan bahwa duduk selama lebih dari 10 jam sehari berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

    Namun, berdiri lebih lama dibanding waktu duduk juga tidak mengurangi risiko masalah jantung.

    Baca: Minum 2-3 cangkir kopi/teh setiap hari bagus untuk kesehatan jantung

    Lebih khusus lagi, untuk setiap 30 menit yang dihabiskan untuk berdiri selama dua jam lebih, risiko masalah kesehatan ini meningkat 11 persen.

    Selain itu, berdiri lebih lama dapat meningkatkan risiko varises (pembesaran vena) dan trombosis vena dalam.

    “Hal terpenting yang dapat diambil adalah bahwa berdiri terlalu lama tidak akan mengimbangi gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan bisa berisiko bagi sebagian orang dalam hal kesehatan peredaran darah,” kata Matthew Ahmadi, peneliti pasca-doktoral di Universitas Sydney yang juga penulis utama studi tersebut.

    Oleh karena itu, Ahmadi dan rekan-rekan penelitinya menyarankan, lebih baik menjadwalkan gerakan teratur sepanjang hari alih-alih berdiri sepanjang hari.

    Peneliti antara lain merekomendasikan untuk mengmbil waktu istirahat secara berkala, meluangkan waktu untuk berjalan-jalan, ikuti rapat sambil berjalan, menggunakan tangga ketimbang lift.

    Baca: Cemas atau stres berkepanjangan bisa picu masalah jantung

    Selain itu juga disarankan untuk mengambil jeda waktu istirahat secara berkala saat berkendara jarak jauh

    “Atau manfaatkan waktu makan siang untuk meninggalkan meja dan melakukan beberapa gerakan,” kata Ahmadi.

    Peregangan singkat, latihan kardio singkat, atau beberapa kali squat bisa dilakukan di kala rehat juga disarankan.

    Menurut hasil studi tahun 2024 yang dipublikasikan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, latihan dengan intensitas tinggi selama enam menit dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

    Hal ini juga bisa diganti dengan latihan sedang hingga berat selama 30 menit per hari. Dan ini sangat efektif bahkan bagi orang yang tidak banyak bergerak selama 11 jam sehari atau lebih.

  • Kemenkes dan RSCM Larang Dokter Ahli Jantung Anak Layani Pasien BPJS

    Kemenkes dan RSCM Larang Dokter Ahli Jantung Anak Layani Pasien BPJS

    7cloud.asia – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang juga dokter spesialis jantung anak, Dokter Piprim Basarah Yanuarso menyayangkan keputusan Menteri Kesehatan dan RSCM yang melarang dirinya menangani pasien BPJS.

    Kebijakan ini dinilainya akan berdampak buruk pada anak yang menderita gangguan jantung karena tidak akan bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk berobat.

    Dalam pernyataan yang dirilis Media Indonesia, Jumat (22/8/2025) Piprim mengaku, mulai Jumat, dilarang untuk menangani pasien anak yang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

    Aturan itu dikeluarkan oleh Direksi RS Cipto Mangungkusumo, tempat Piprim bekerja, dan Kementerian Kesehatan.

    “Saya hanya diperbolehkan menangani dan melayani pasien di Poli Swasta Kencana RSCM. Di poli ini, pasien hanya bisa membayar mandiri sebesar minimal Rp4 juta untuk pemeriksaan echo jantung, karena poli ini tidak dicakup pelayanan BPJS kesehatan,” ungkapnya.

    Baca: 21 Layanan penyakit yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan

    Atas kebijakan itu, Piprim menyatakan keberatan. Pasalnya, tujuan dirinya menjadi dokter ialah untuk menolong lebih banyak anak Indonesia, terutama yang memiliki penyakit jantung dan penyakit jantung bawaan.

    Piprim menyayangkan keputusan Menteri Kesehatan dan RSCM, karena dedikasinya sebagai dokter spesialis anak tidak dihargai oleh para regulator.

    Terhadap keputusan itu, lanjutnya, dirinya akan memperjuangkan masalah ini dengan menempuh jalur hukum, sehingga pasien anak dengan masalah jantung bisa dilayani kembali oleh dirinya dengan BPJS di RSCM.

    “Saya berharap para orangtua yang memiliki anak dengan gangguan jantung tetap semangat dan diberikan solusi terbaik,” tandasnya.

    Baca: Premi BPJS Kesehatan diperkirakan naik pada 2025

    Selain Piprim, kebijakan serupa juga ditetapkan untuk Dr Rizky Adriansyah dari RS Adam Malik Medan. Dia dilarang menangani pasien BPJS di RS Vertikal.

    Saat ini, jumlah dokter spesialis jantung anak di Indonesia hanya 72 dokter yang tersebar di 18 provinsi di Indonesia. Ini artinya tidak semua provinsi memiliki dokter spesialis dokter anak.

    Selain ada 28 calon konsulen atau dokter spesialis yang melanjutkan pendidikan ke jenjang subspesialisasi, atau dokter yang memiliki keahlian sangat mendalam di bidang kedokteran tertentu.

    Jumlah dokter subspesialis jantung anak ini masih jauh dari harapan untuk menangani masalah jantung anak di Indonesia.

    Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan terdapat 103,924 kasus jantung anak (kardiologi pediatrik) di Indonesia pada 2021/2022.

    Baca: 6 Pemicu serangan jantung di usia muda