Tag: jawa

  • Ini Penyebab Hujan Ekstrem Berkepanjangan di Pulau Jawa

    Ini Penyebab Hujan Ekstrem Berkepanjangan di Pulau Jawa

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan musim hujan mengalami perpanjangan di Pulau Jawa dan belum ada tanda-tanda berakhir meski sekarang sudah memasuki bulan Maret.

    Periset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin melalui akun X pribadinya mengatakan hujan persisten yang turun dengan intensitas sedang, bahkan ekstrem di Jawa tidak dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer.

    “Selama Februari tidak ada bukti penjalaran kelembapan dari arah timur maupun barat menuju Jawa,” ujarnya.

    Erma mengatakan hujan juga tidak terbentuk karena angin skala luas yg umumnya dibentuk dari garis Zona Konvergensi Antar Tropis (ITCZ) atau daerah konvergensi antar-tropis.

    Baca: Drainase kota Jakarta dinilai tidak memadai

    Kondisi itu menandakan tidak ada faktor global dan remote forcing yang berperan signifikan dalam pembentukan hujan.

    Kemudian penyebab hujan adalah forcing local yang berasal dari memanasnya suhu permukaan laut baik di Laut Jawa maupun Samudra Hindia sebelah selatan Jawa.

    “Pemanasan suhu permukaan laut berperan penting dalam menciptakan Oceanic Convection System (OCS) yang masif dan akseleratif,” kata Erma.

    Lebih lanjut dia menyampaikan dalam kondisi angin dari utara yang mengalami penguatan, sistem konveksi yang masif dan terjadi meluas di laut dapat dengan cepat masuk ke darat dan bergabung dengan konveksi di atas darat efek orografis.

    Baca: Sejumlah wilayah di Indonesia sudah lewati puncak musim hujan

    Fenomena itulah, kata dia, yang membuat hujan di Jawa jadi meluas, bahkan ekstrem.

    Konveksi laut dapat terbentuk setiap hari oleh pemanasan suhu muka laut, sehingga menaburkan garam di atas lautan akan memperparah dan mempercepat sistem hujan yang terbentuk di atas laut.

    Sementara hujan telah siap berpindah menuju darat.

    Erma berpesan untuk memperbaiki sistem drainase, menambah jumlah penampungan air, hingga membuat dan meningkatkan sistem peringatan dini.

    “Modifikasi cuaca termasuk bagian dari usaha yang dampaknya di luar kontrol kita,” ucapnya dikutip Antaranews.com.

  • Banjir dan Longsor Kerap Melanda Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

    Banjir dan Longsor Kerap Melanda Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa hari belakangan ini banjir dan tanah longsor melanda sebagian wilayah di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya penurunan permukaan tanah.

    Demikian diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati seperti yang dikutip Antaranews pada Kamis (14/03/2024).

    “Fenomena penurunan muka tanah ini diketahui merujuk dari hasil penyelidikan geologi yang diikuti oleh tim BMKG,” ujar Dwikorita.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi landa Jawa Timur

    Perempuan yang akrab disapa Rita ini menjelaskan Kota Semarang, Pekalongan dan Demak menjadi salah satu contoh daerah di Pulau Jawa yang paling kentara mengalami penurunan permukaan tanah itu.

    Berdasarkan hasil penelitian itu penurunan permukaan tanah menyasar wilayah pesisir Kota Semarang, Pekalongan dan Demak sekitar 10 sentimeter per tahun.

    Kondisi ini sudah berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Akibatnya permukaan tanah wilayah pesisir Jawa Tengah itu terpaut lebih rendah dari muka air laut.

    Kondisi ini diperburuk dengan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) serta fenomena Gelombang Kelvin, Rossby Equatorial, dan tiga Bibit Siklon Tropis sekaligus yang melanda Indonesia.

    Baca: Tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    “Itulah mengapa bila diguyur hujan air cepat menyebar, dan surutnya membutuhkan waktu lama dan juga tak sedikit berujung longsor,” ujarnya.

    Rita berharap dengan adanya analisa ini, semua pihak baik pemerintah, legislatif maupun masyarakat dapat menemukan solusi terbaik dalam menangani banjir serta meminimalisir dampak banjir.

    Pihaknya siap membantu berbagai hal baik dalam mitigasi kebencanaan maupun upaya penanganan darurat dampak bencana bersama lembaga/instansi lainnya demi kemaslahatan bangsa.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Garut dan Sekitarnya Sejumlah Orang Dilaporkan Terluka

    Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Garut dan Sekitarnya Sejumlah Orang Dilaporkan Terluka

    7cloud.asia – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang mengguncang Kabupaten Garut, Jawa Barat dan sekitarnya, Sabtu (27/4/2024) malam mengakibatkan sejumlah orang terluka dan puluhan bangunan rusak.

    Getaran akibat gempa dirasakan di sejumlah wilayah, seperti Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor hingga Serpong.

    Sebanyak 2 warga Kecamatan Pameungpeuk dilaporkan terluka akibat tertimpa reruntuhan bangunan gempa.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Gempa juga mengakibatkan bangunan Rumah Sakit Pameungpeuk dan sejumlah rumah warga di Kecamatan Cilawu Garut juga mengalami kerusakan.

    Dua warga Pameungpeuk yang mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa material rumah.

    Informasi sementara, gempa bumi juga memicu kerusakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pameungpeuk.

    Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    Sejumlah bangunan rumah di sekitar Dayeuh Manggung, Cilawu juga dilaporkan mengalami kerusakan.

    Meski belum ada laporan secara resmi, akan tetapi foto dan video sudah diterima.

    Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut masih melakukan pendataan, dan belum berikan laporan resmi dampak gempa bumi 6,5 magnitudo yang sempat membuat warga panik berhamburan keluar rumah.

    Baca Juga: Indonesia Masuk Negara yang Paling Sering Dilanda Gempa, Tapi Literasi Masyarakat Masih Rendah

    Hasil analisa BMKG menunjukkan, episenter gempa terletak pada koordinat 6.83 LS dan 107.00 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 12 kilometer timur laut Kota Sukabumi pada kedalaman 5 kilometer.

    “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar cugenang,” ujar Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Hartanto dalam keterangannya, Sabtu (27/4/2024).

  • Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda Pulau Jawa. Sejumlah wilayah mengalami kekeringan, tak terkecuali wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Ribuan warga di wilayah ini mengalami krisis air bersih sejak beberapa hari yang lalu seiring dengan menurunnya intensitas hujan.  

    Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, M Adam sebanyak 1.847 jiwa di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor mengalami krisis air bersih.

    Baca: Wilayah Banyumas mulai mengalami kekeringan

    “Intensitas hujan yang menurun di wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan sumber mata air warga berkurang dan warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya,”  jelas Adam seperti yang dilansir INews.

    Selanjutnya Adam menjelaskan ada dua kampung di Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol sebanyak 146 KK dengan 448 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Untuk mengatasinya, pihaknya juga telah menyalurkan  10.000 liter air ke wilayah tersebut.

    “Pengambilan air bersih di Kantor BPBD Kabupaten Bogor dan PDAM Tirta Kahuripan Cabang Jonggol,” ungkapnya.

    Baca: Yogyakarta tetapkan status siaga darurat bencana kekeringan

    Selain itu, lanjut Adam, terdapat  465 KK dengan 1.399 jiwa di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol yang kekurangan air bersih. “Volume pengiriman air bersih 5.000 liter,” katanya.

    Dengan adanya bantuan tersebut, saat ini kebutuhan air bersih di wilayah tersebut sudah terpenuhi.

    Namun, jika masyarakat membutuhkan air bersih kembali, maka dapat berkoordinasi dengan aparatur desa setempat dan BPBD Kabupaten Bogor.

    “Kebutuhan air bersih untuk hari ini sudah terpenuhi,” katanya.

  • BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    7cloud.asia – Bencana alam akibat cuaca ekstrem masih terus terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi berlanjut di Pulau Jawa hingga Maret atau April 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan bencana alam berpotensi terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas hujan di Pulau Jawa.

    “Ini baru awal ya, tapi kita masih harus waspada sampai awal 2025 bahkan sampai medio Maret sampai April,” kata Muhari dalam konferensi pers bertajuk “Disaster Briefing”  pada Senin (09/12/2024).

    Baca: Jakarta berpotensi banjir besar seperti tahun 2020

    Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat dan pemerintah daerah memperhatikan peringatan tersebut agar dapat meminimalisasi dampak buruk yang akan ditimbulkan.

    Dia mencontohkan salah satunya mengintensifkan pengecekan pada kawasan aliran sungai, perbukitan, tebing curam, mempersiapkan peralatan, anggaran dan termasuk menetapkan status tanggap darurat bencana.

    “Kalau daerah sudah langganan bencana segeralah menetapkan status tanggap darurat sehingga pemerintah pusat dalam hal ini BNPB bisa memberi pendampingan kepada daerah,” jelasnya.

    Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 1999 kasus bencana di Indonesia yang didominasi oleh bencana banjir dan cuaca ekstrem.

    Selanjutnya Muhari memaparkan saat ini musim hujan mulai merata di seluruh Indonesia. Namun, bagian tengah pesisir barat Sumatera dan bagian barat Jawa mendominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem beberapa pekan kedepan

    “Ini yang memicu tingginya intensitas bencana hidrometeorologi basah di Banten dan Jawa Barat,” ujarnya.

    Hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pulau Jawa, dan 60 persen zona musim di Indonesia lainnya saat ini sudah berada pada musim penghujan dan puncaknya berlangsung sampai kuartal pertama 2025.

    Peningkatan intensitas hujan sebesar 20 persen dibandingkan kondisi normal. Hal ini disebabkan oleh sejumlah fenomena atmosfer seperti Madden Julian Osciliation (MJO), gelombang ekuatorial Rossby, gelombang Kelvin, La Nina lemah dan dapat diperkuat dengan adanya siklon tropis atau bibit siklon tropis.

     

  • Liburan Panjang, Waspada Cuaca Ekstrem Landa Sejumlah Wilayah Termasuk Jawa

    Liburan Panjang, Waspada Cuaca Ekstrem Landa Sejumlah Wilayah Termasuk Jawa

    7cloud.asia – Kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk wilayah Jawa pada Minggu (26/01/2025). Masyarakat diimbau waspada.

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain wilayah Jawa, cuaca ekstrem berpotensi pula melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian besar wilayah Kalimantan.

    Selain itu, cuaca ekstrem berpotensi pula melanda sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Bali, Nusa Tenggara dan Papua.

    Baca: Pulau Jawa Waspada Bencana hingga April 2025

    Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini pada BMKG, Ida Pramuwardhani mengatakan cuaca ekstrem berpotensi melanda wilayah tersebut hingga puncak musim hujan, yaitu Februari 2025.

    Lebih lanjut Ida mengungkapkan cuaca ekstrem biasanya terjadi pada sore, malam hingga dini hari seperti yang terjadi di wilayah Jakarta.

    Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem. Adanya bibit siklon 97S yang terbentuk sejak beberapa hari yang lalu di sekitar wilayah Nusa Tenggara.

    Selain itu peningkatan aktivitas monsun dan seruakan dingin Asia yang turut berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.

    Selain cuaca ekstrem, sebagian besar kota di Indonesia berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir. Seperti Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Palembang berpotensi terjadi hujan ringan.

    Baca: Cuaca ekstrem di Jakarta dan beberapa wilayah hingga Februari 2025

    Kondisi cuaca yang sama berpeluang pula terjadi di Kota Pangkal Pinang, Serang, Jakarta, Surabaya, Mataram, Samarinda, Manado, Kendari, Ambon, Sorong, Manokwari dan Jayawijaya.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Bandung, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Makassar, Mamuju dan Nabire. Sedangkan Kota Gorontalo berpotensi terjadi hujan lebat.

    BMKG mengajak masyarakat mewaspadai potensi hujan disertai petir di Kota Jambi, Bandar Lampung, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Tanjung Selor, Palu, Ternate dan Merauke.

     

  • Cuaca Hari Ini: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Jawa dan Sejumlah Wilayah Lain

    Cuaca Hari Ini: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Jawa dan Sejumlah Wilayah Lain

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk wilayah Jawa.

    Melalui akun youtube resminya, selain wilayah Jawa, cuaca ekstrem berpotensi melanda sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

    Sementara kota-kota lainnya, BMKG memperkirakan potensi hujan disertai petir yang akan melanda Kota Bandar Lampung, Kupang, Pontianak, Tanjung Selor, Banjarmasin, Mamuju dan Manado.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar dan Kendari.

    Hujan berintensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Serang, Semarang, Mataram, Palangkaraya, Samarinda, Palu, Nabire, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    Selain hujan, BMKG juga memperkirakan banjir rob masih berpotensi terjadi di pesisir Bangka Belitung, pesisir Banten, pesisir Jakarta Utara, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, pesisir Nusa Tenggara Timur dan pesisir Kalimantan Selatan.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

     

     

  • Riset: Pulau Jawa Produsen Sekaligus Konsumen Jejak Emisi Terbesar di Indonesia

    Riset: Pulau Jawa Produsen Sekaligus Konsumen Jejak Emisi Terbesar di Indonesia

    7cloud.asia – Terkenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, Pulau Sumatra dan Kalimantan dianggap menjadi kawasan penghasil emisi terbesar nasional.

    Sebab, di daerah-daerah tersebut banyak terjadi aktivitas perkebunan dan pertambangan yang menyebabkan kerusakan lingkungan akibat deforestasi untuk alih fungsi lahan.

    Tapi jika ditelisik lebih jauh, jejak emisi dan dampak kerusakan lingkungan yang dihasilkan di daerah tersebut sebenarnya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan antardaerah.

    Wilayah lain konsumen hasil alam daerah sumber juga punya andil dalam jejak emisi dan kerusakan lingkungan.

    Penelitian kami menganalisis bagaimana rekam jejak sebaran tiga jenis jejak lingkungan (environmental footprints) yakni air, penggunaan lahan, dan emisi gas rumah kaca—di berbagai provinsi di Indonesia.

    Kami mempertimbangkan sisi produksi atau lokasi di mana jejak lingkungan dihasilkan dan juga sisi konsumsi atau lokasi di mana jejak lingkungan dikonsumsi atau digunakan.

    Jejak lingkungan ini menjadi indikator untuk menggambarkan dampak suatu aktivitas, baik konsumsi maupun produksi, terhadap lingkungan.

    Riset kami menunjukkan, meskipun aktivitas pertanian banyak terjadi di Pulau Sumatra dan Kalimantan, secara keseluruhan produsen sekaligus konsumen jejak lingkungan terbesar di Indonesia adalah Pulau Jawa.

    Kenapa Pulau Jawa?
    Hasil studi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia, mencakup produksi produk maupun jasa, secara total menghasilkan jejak emisi gas rumah kaca sebesar 476 juta ton CO₂eq (karbon dioksida ekuivalen).

    Lalu, produksi air sebanyak 105 miliar meter kubik (m3) dan penggunaan lahan pertanian seluas 60 juta hektare.

    Dari total produksi tersebut, sekitar 415 juta ton CO₂eq emisi gas rumah kaca, 85 miliar m³ air, dan 50 juta hektare lahan pertanian dikonsumsi di dalam negeri. Sisanya, dikonsumsi oleh negara lain melalui ekspor.

    Studi ini menggunakan model ekonomi yang menggabungkan analisis input-output antarwilayah atau Environmentally-extended Interregional Input Output tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik (BPS).

    Data ini memungkinkan kami untuk mengevaluasi distribusi spasial jejak lingkungan di berbagai provinsi di Indonesia.

    Grafik di atas menggambarkan jejak lingkungan per kapita atau ukuran dampak lingkungan yang dihasilkan oleh setiap individu di tingkat provinsi.

    Jika titik berada di atas garis diagonal, maka jejak lingkungan lebih banyak dihasilkan dari proses konsumsi ketimbang produksi, begitu pun sebaliknya untuk titik yang berada di bawah garis.

    Kami membagi wilayah ke dalam enam kelompok pulau terbesar di Indonesia, yakni Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku & Papua, serta Bali & Nusa Tenggara.

    Pada grafik emisi gas rumah kaca (paling kiri), terlihat bahwa kebanyakan provinsi berkumpul di sekitar garis diagonal, namun ada tiga titik ekstrem, yakni Pulau Jawa (penyumbang terbesar adalah DKI Jakarta) di titik tertinggi, baik dalam produksi maupun konsumsi.

    Sedangkan titik ekstrem di bawah garis 45° merepresentasikan Banten (di Pulau Jawa) dan Kepulauan Riau (di Pulau Sumatra) sebagai wilayah yang memproduksi emisi jauh lebih besar dibanding konsumsi—hal ini sehubungan dengan banyaknya jumlah PLTU batu bara di Banten dan kawasan industri yang besar di Kepulauan Riau.

    Sementara itu, pada grafik penggunaan air (tengah) dan lahan pertanian (kanan), distribusi titik-titik tersebut cenderung tersebar di bawah garis 45°.

    Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pengekspor air dan lahan pertanian di tingkat global.

    Data ini didukung oleh analisis gambar di bawah, yang menunjukkan distribusi jejak lingkungan dan kaitannya dengan perdagangan antardaerah.

    Aliran berwarna abu-abu muda menujukan konsumsi domestik, sedangkan aliran berwarna abu-abu tua menunjukkan dinamika impor-ekspor jejak lingkungan atau perdagangan antardaerah.

    Temuan paling mencolok dari gambar tersebut adalah Pulau Jawa mendominasi produksi dan konsumsi barang produksi beremisi tinggi, penggunaan air, sekaligus menjadi eksportir jejak lingkungan terbesar.

    Sedangkan, Pulau Sumatra dan Kalimantan merupakan produsen utama jejak lahan pertanian dengan Pulau Jawa merupakan importir dalam negeri terbesar produk-produk intensif lahan pertanian.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Fikri Muhammad (Senior Analyst Economics and Governance, Climateworks Centre) dan Djoni Hartono (Associate Professor at the Department of Economics, Faculty of Economics and Business, Universitas Indonesia)

  • Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Pulau Jawa Berpeluang Hujan

    Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Pulau Jawa Berpeluang Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan mengguyur sebagian besar Pulau Jawa dan wilayah lainnya di Indonesia pada Rabu (02/07/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan juga berpotensi terjadi di Kota Tanjung Pinang, Palembang, Mataram, Palangkaraya, Banjarmasin.

    Selain itu Kota Makassar, Mamuju, Gorontalo, Ternate, Ambon, Sorong, Nabire dan Jayapura juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Kemudian hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Palu, Kendari, Manado dan Jayawijaya. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pekanbaru, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Tanjung Selor dan Merauke.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Aceh, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

    Tak hanya angin kencang, banjir rob juga masih berpotensi terjadi di wilayah Kalimantan Tengah. Karena itu masyarakat diimbau waspada.

     

     

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15-18 September 2025

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15-18 September 2025

    7cloud.asia – BMKG mengimbau masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.

    Cuaca ekstrem seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, dan gelombang tinggi juga berpotensi sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi

    Peringatan ini didasarkan pada pantauan BMKG terhadap keberadaan bibit siklon tropis 93 S di Samudra Hindia di barat Bengkulu yang membentuk daerah konvergensi (perlambatan kecepatan angin) dan konfluensi (pertemuan angin) memanjang dari Selat Malaka hingga Bengkulu.

    Dilansir di laman resminya, BMKG menyebutkan bahwa pertemuan angin lainnya juga terpantau memanjang dari perairan utara Jawa hingga Sumatra Selatan.

    Selain itu, pola siklonik di wilayah Kalimantan Utara menyebabkan terbentuknya area konvergensi angin yang meluas ke Kalimantan Tengah. Pola angin ini diperkirakan meningkatkan potensi hujan dalam beberapa hari mendatang.

    Baca: Bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia dapat memicu hujan lebat

    Secara lokal, kondisi atmosfer juga mendukung terbentuknya awan dan hujan.

    Labilitas yang cukup kuat serta kelembapan udara yang basah menjadi pemicu terbentuknya awan hujan konvektif di banyak wilayah, meliputi sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali–Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.

    Dalam prospek cuaca mingguan, BMKG menyebut, pada periode 15–18 September 2025
    kondisi cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat.

    Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi di sejumlah daerah.

    BMKG merilis peringatan dini Siaga (hujan lebat) untuk daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

    Baca: Pemanasan global picu bencana hidrometeorologi

    Sementara angin kencang berpotensi terjadi di Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

    “Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung,” demikian BMKG dalam pernyataannya.

    Hujan dengan intensitas sedang juga berpotensi terjadi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan.

    Wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

    Prospek di atas merupakan kondisi secara umum. Untuk informasi cuaca lebih detail dapat diakses melalui website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG dan sosial media @infoBMKG.

    Baca: Cuaca panas ekstrem pengaruhi kesehatan dan produktivitas pekerja