7cloud.asia – Terkenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, Pulau Sumatra dan Kalimantan dianggap menjadi kawasan penghasil emisi terbesar nasional.
Sebab, di daerah-daerah tersebut banyak terjadi aktivitas perkebunan dan pertambangan yang menyebabkan kerusakan lingkungan akibat deforestasi untuk alih fungsi lahan.
Tapi jika ditelisik lebih jauh, jejak emisi dan dampak kerusakan lingkungan yang dihasilkan di daerah tersebut sebenarnya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan antardaerah.
Wilayah lain konsumen hasil alam daerah sumber juga punya andil dalam jejak emisi dan kerusakan lingkungan.
Penelitian kami menganalisis bagaimana rekam jejak sebaran tiga jenis jejak lingkungan (environmental footprints) yakni air, penggunaan lahan, dan emisi gas rumah kaca—di berbagai provinsi di Indonesia.
Kami mempertimbangkan sisi produksi atau lokasi di mana jejak lingkungan dihasilkan dan juga sisi konsumsi atau lokasi di mana jejak lingkungan dikonsumsi atau digunakan.
Jejak lingkungan ini menjadi indikator untuk menggambarkan dampak suatu aktivitas, baik konsumsi maupun produksi, terhadap lingkungan.
Riset kami menunjukkan, meskipun aktivitas pertanian banyak terjadi di Pulau Sumatra dan Kalimantan, secara keseluruhan produsen sekaligus konsumen jejak lingkungan terbesar di Indonesia adalah Pulau Jawa.
Kenapa Pulau Jawa?
Hasil studi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia, mencakup produksi produk maupun jasa, secara total menghasilkan jejak emisi gas rumah kaca sebesar 476 juta ton CO₂eq (karbon dioksida ekuivalen).
Lalu, produksi air sebanyak 105 miliar meter kubik (m3) dan penggunaan lahan pertanian seluas 60 juta hektare.
Dari total produksi tersebut, sekitar 415 juta ton CO₂eq emisi gas rumah kaca, 85 miliar m³ air, dan 50 juta hektare lahan pertanian dikonsumsi di dalam negeri. Sisanya, dikonsumsi oleh negara lain melalui ekspor.
Studi ini menggunakan model ekonomi yang menggabungkan analisis input-output antarwilayah atau Environmentally-extended Interregional Input Output tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Data ini memungkinkan kami untuk mengevaluasi distribusi spasial jejak lingkungan di berbagai provinsi di Indonesia.
Grafik di atas menggambarkan jejak lingkungan per kapita atau ukuran dampak lingkungan yang dihasilkan oleh setiap individu di tingkat provinsi.
Jika titik berada di atas garis diagonal, maka jejak lingkungan lebih banyak dihasilkan dari proses konsumsi ketimbang produksi, begitu pun sebaliknya untuk titik yang berada di bawah garis.
Kami membagi wilayah ke dalam enam kelompok pulau terbesar di Indonesia, yakni Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku & Papua, serta Bali & Nusa Tenggara.
Pada grafik emisi gas rumah kaca (paling kiri), terlihat bahwa kebanyakan provinsi berkumpul di sekitar garis diagonal, namun ada tiga titik ekstrem, yakni Pulau Jawa (penyumbang terbesar adalah DKI Jakarta) di titik tertinggi, baik dalam produksi maupun konsumsi.
Sedangkan titik ekstrem di bawah garis 45° merepresentasikan Banten (di Pulau Jawa) dan Kepulauan Riau (di Pulau Sumatra) sebagai wilayah yang memproduksi emisi jauh lebih besar dibanding konsumsi—hal ini sehubungan dengan banyaknya jumlah PLTU batu bara di Banten dan kawasan industri yang besar di Kepulauan Riau.
Sementara itu, pada grafik penggunaan air (tengah) dan lahan pertanian (kanan), distribusi titik-titik tersebut cenderung tersebar di bawah garis 45°.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pengekspor air dan lahan pertanian di tingkat global.
Data ini didukung oleh analisis gambar di bawah, yang menunjukkan distribusi jejak lingkungan dan kaitannya dengan perdagangan antardaerah.
Aliran berwarna abu-abu muda menujukan konsumsi domestik, sedangkan aliran berwarna abu-abu tua menunjukkan dinamika impor-ekspor jejak lingkungan atau perdagangan antardaerah.
Temuan paling mencolok dari gambar tersebut adalah Pulau Jawa mendominasi produksi dan konsumsi barang produksi beremisi tinggi, penggunaan air, sekaligus menjadi eksportir jejak lingkungan terbesar.
Sedangkan, Pulau Sumatra dan Kalimantan merupakan produsen utama jejak lahan pertanian dengan Pulau Jawa merupakan importir dalam negeri terbesar produk-produk intensif lahan pertanian.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Fikri Muhammad (Senior Analyst Economics and Governance, Climateworks Centre) dan Djoni Hartono (Associate Professor at the Department of Economics, Faculty of Economics and Business, Universitas Indonesia)

Leave a Reply