Tag: kalimantan

  • Mengenal Rumah Betang, Tempat Tinggal Komunal Suku Dayak

    Mengenal Rumah Betang, Tempat Tinggal Komunal Suku Dayak

    7cloud.asia – Komisi V DPR meninjau pekerjaan renovasi Rumah Betang Lunsa Hilir di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

    Ketua Komisi V DPR Lasarus yang memimpin kunjungan tersebut, mengatakan renovasi Rumah Betang di Kabupaten Kapuas Hulu, kalimantan Barat tersebut merupakan proyek percontohan yang dibiayai pemerintah.

    Menurutnya, ada dua puluhan rumah betang yang masih dipelihara oleh masyarakat di Kapuas Hulu ini. Sementara yang mendapatkan bantuan dari pemerintah baru satu ini.

    “Jadi satu ini mau ditata yang bagus. Kalau kita sajikan yang lama yang kan kumuh, itu kan pasti menyangkut wajah Indonesia, terutama di mata wisatawan mancanegara” ujar Lasarus  Kamis (12/10/2023) seperti dikutip Parlementaria.

    Lasarus menambahkan, secara perlahan Rumah Betang Lunsa Hilir di Kapuas Hulu akan dijadikan pusat pembinaan seni budaya dan berbagai produk kerajinan warga setempat.

    “Tadi sudah ada pembicaraan dengan Pak Bupati. Jadi nantinya selain orang bisa melihat rumah Betang yang mana Betang Dayak tempo dulu seperti ini, kemudian juga ada pernak-pernik yang memang asli produk lokal di sini bisa disajikan sebagai oleh-oleh,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Baca: Mengenal Perang Ketupat di Bali

    Lasarus memandang Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten yang unik. Selain karena hutannya yang masih terpelihara dengan baik, Kapuas Hulu juga memiliki banyak danau dan ribuan spesies ikan.

    Sehingga menurutnya, Kapuas Hulu akan menjadi daerah yang menarik bagi wisatawan, terutama bagi orang-orang yang senang dengan wisata alam.

    Intinya, ujarnya, negara ini harus bersiap dalam konteks pariwisata, termasuk mempersiapkan sajian yang baik kepada semua orang yang datang ke tempat ini.

    “Dengan demikian mudah-mudahan ini bisa mendorong Pembangunan di Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan semakin banyak wisatawan yang datang pastinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Lasarus

    Rumah Betang merupakan tempat tinggal suku Dayak yang ada di seluruh Pulau Kalimantan, di Barat, Timur, Selatan, Tengah maupun Utara.

    Rumah Betang banyak ditemukan di perkampungan suku Dayak yang berada di sekitar hulu sungai.

    Rumah Betang memiliki banyak keunikan. Bentuknya menyerupai panggung namun dengan arsitektur rumah. Di bawahnya tertancap tiang kayu yang kokoh asli dari Kalimantan dengan tinggi kayu rata-rata 5 meter.

    Baca: Mengenal tradisi Seba masyarakat Badui

    Hampir semua bangunan Rumah Betang terbuat dari kayu yang kuat dan tergolong tahan lama, tak mudah rapuh.

    Dilansir Indonesia.go.id, panjang Rumah Betang bisa mencapai 100-150 meter dan memiliki lebar mencapai sekitar 50 meter.

    Rumah Betang adalah rumah besar yang menjadi tempat tinggal komunal suku dayak. 

    Ada tiga tujuan dari suku Dayak membangun bentuk Rumah Betang dengan arsitektur berbeda dari kediaman lazimnya. Pertama; untuk menghindari kerugian akibat banjir.

    Secara umum, suku Dayak banyak bermukim di hulu sungai yang kapan saja dapat berisiko banjir jika air pasang.

    Lalu kedua, mencari keselamatan dari binatang buas yang masih banyak berkeliaran di hutan Kalimantan. Dan terakhir, agar aman dari orang-orang jahat ingin menggangu sebab bentuk Rumah Betang begitu besar dan megah.

    Baca: Tradisi mudik sudah ada sejak era Majapahit

    Bentuk Rumah Betang adalah rumah panggung dengan tinggi mencapai 5 meter. Uniknya: dalam kepercayaan suku Dayak, anak tangga Rumah Betang harus berjumlah ganjil.

    Ada banyak alasan melatari mengenai anak tangga Rumah Betang harus berjumlah ganjil.

    Salah satunya supaya rezeki mudah datang ke semua penghuni Rumah Betang dan dijauhkan dari kesulitan hidup.

    Selain itu, tangga untuk masuk ke Rumah Betang setiap malam diangkat. Tidak ditinggal begitu saja di luar rumah oleh suku Dayak.

    Mereka meyakini dengan membawa masuk tangga ke dalam Rumah Betang akan terhindar dari gangguan hantu serta serangan ilmu mistik yang jahat untuk menyerang sang penghuninya.

    Rumah Betang merupakan simbol kearifan lokal masyarakat adat yang ada di Indonesia.

    Sejuta makna terkandung di balik Rumah Betang. Untuk pembangunannya saja, hulu rumah harus menghadap ke arah matahari terbit. Bagi suku Dayak, itu menandakan bahwa mereka adalah pekerja keras.

    Baca: Mengenal sumbu filosofi Kota Yogyakarta

    Suku Dayak harus bekerja agar bertahan hidup sejak terbitnya matahari. Sedangkan untuk hilir rumah dibuat searah dengan matahari terbenam. Secara filosofis mengartikan bahwa kerja kerja suku Dayak akan berhenti saat sore hari dan dimulai lagi besok pagi.

    Di dalam Rumah Betang dapat berkumpul sekitar 5-6 keluarga yang jumlahnya mampu mencapai belasan, bahkan dua puluhan orang.

    Di situlah mengapa Rumah Betang mempunyai arsitektur mewah dan tinggi sebab dihuni banyak keluarga. Setiap keluarga juga memiliki layaknya sekat ruangan yang ditempatinya, ada pula kamar.

    Berkumpulnya banyak keluarga di Rumah Betang adalah sebagai bentuk wujud bahwa suku Dayak hidup dalam kebersamaan, ikatan yang kuat dan tidak mudah untuk diadu domba.

    Dengan hidup bersama, maka sesama manusia akan lebih saling pedulu, bersikap tolong menolong dan memperhatikan.

    Suku Dayak tidak ingin ada anggota keluarganya merasakan kesusahan ketika hidup dalam kebersamaan di Rumah Betang.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun ini akan mulai fokus menjalankan program ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan untuk menemukan spesies atau taksa baru

    Program ekspedisi yang dilakukan BRIN di Kalimantan ini diharapkan dapat meningkatkan koleksi biodiversitas Indonesia.

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Bayu Adjie mengatakan alasan fokus ekspedisi itu di Kalimantan karena selama ini temuan taksa baru dari pulau tersebut masih sangat sedikit.

    “Kita punya pulau terbesar Kalimantan yang ternyata masih sangat jarang riset-riset biodiversitas di situ, bukannya tidak ada, tetapi relatif jarang, sehingga penemuan-penemuan jenis baru dari Kalimantan tidak banyak,” ujarnya di Jakarta, Rabu (28/2/2024).

    Baca: Mengenal biodiversitas Tanah Papua

    Bayu Adji mengatakan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan pihaknya akan fokus untuk mengeksplorasi biodiversitas di Kalimantan.

    Ia mengatakan, selama ini riset spesies paling banyak dilakukan di Pulau Jawa yang telah dimulai sejak zaman kolonial, lalu riset di Garis Wallace.

    Garis Wallace yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua menarik minat para peneliti di seluruh dunia karena wilayah itu adalah garis perbatasan Asia dan Australia yang membuat biodiversitas di sana tampak unik.

    Menurut Bayu, dari data-data riset Belanda sampai sekarang ekspedisi ke Pulau Kalimantan tergolong sedikit hanya 1 sampai 2 ekspedisi saja sepanjang tahun.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di Papua

    Selama tiga sampai lima tahun ke depan, BRIN akan membuat platform, menempatkan orang-orang (periset), dan merekrut pascasarjana untuk bergabung ke dalam ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan.
    ​​​​​
    “Kami ingin mencetak sebanyak mungkin taksonom-taksonom baru,” kata Bayu.

    Pada tahun 2023, BRIN berhasil menemukan 49 taksa baru dengan komposisi 96 persen spesies baru merupakan spesimen asal Indonesia.

    Jumlah taksa yang ditemukan di Kalimantan hanya 2 jenis. Adapun spesies terbanyak berasal dari Sulawesi mencapai 18 taksa, Papua sebanyak 7 taksa, dan Kepulauan Natuna 5 taksa.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Dilansir wikipedia, suatu takson (jamak: taksa) adalah pengelompokan makhluk hidup dengan makhluk hidup lain yang serupa yang diberi nama secara ilmiah, suatu kumpulan yang mencakup mahluk-makhluk hidup tertentu 

    Pada tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 taksa baru. Ekspedisi terbesar pencarian taksa baru tahun ini dilakukan di Pulau Kalimantan dengan jumlah mencapai 19 ekspedisi.

    “Setelah kami telusuri berbagai macam literatur ternyata penemuan-penemuan jenis baru di Kalimantan minim sekali,” kata Bayu.

    “Dengan ekspedisi, kami akan terus menambah koleksi-koleksi kami. Kenapa itu penting? itu adalah semacam dokumentasi kami. Itu penting untuk riset-riset taksonomi,” pungkasnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    7cloud.asia – Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 di Laut Jawa yang terjadi pada Jumat (22/03/2024) sekitar pukul 16.00 WIB tidak hanya terasa di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, tetapi juga terasa hingga ke Kalimantan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tektonik di Laut Jawa ini tidak berpotensi terjadi tsunami.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Daryono mengatakan data terakhir sekitar pukul 16.52 Wita, berdasarkan kejadian dan parameter gempa bumi terjadi di wilayah Laut Jawa pada jarak 114 kilometer arah timur laut Tuban, Jawa Timur, pada kedalaman 12 kilometer.

    Baca: Puluhan rumah rusak akibat gempa di Sumedang

    “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif di Laut Jawa, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser,” jelasnya.

    Dampak gempa bumi, kata dia, berdampak dan dirasakan di Pulau Bawean dengan intensitas V-VI MMI dengan getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, barang-barang/pajangan terpelanting, terjadi kerusakan ringan.

    Daerah Blora, Madura, Gresik, Surabaya, Kabupaten Banjar dengan skala intensitas III-IV MMI (bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah).

    Lalu, daerah Mojokerto, Banjarbaru, Sampit, Banjarmasin, Martapura, Balikpapan, Tanah Grogot, Malang, Lumajang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Semarang dengan skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu).

    Baca: Gempa di Bantul rusak ratusan rumah

    Kemudian daerah Yogyakarta, Kulon Progo, Kebumen, Temanggung, Blitar dan Solo dengan skala intensitas II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

    Daryono mengungkapkan berdasarkan laporan dari masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan kerusakan di Pulau Bawean.

    Lebih lanjut, dia menjelaskan gempa bumi ini merupakan bagian rangkaian gempa bumi di Laut Jawa dengan kekuatan magnitudo 6,0 yang terjadi pada pukul 12.22 Wita hingga pukul 17.15 Wita.

    Sementara hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 22 aktivitas gempa bumi.

    Baca: Lima tahun setelah gempa Palu

    “Saya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” katanya.

    Daryono meminta masyarakat yang terdampak getaran agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa.

    Selain itu, masyarakat juga perlu memastikan tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.

    Sumber: Antara

  • Pentingnya Lestarikan Kubah Gambut di Kalimantan sebagai Antisipasi Perubahan Iklim

    Pentingnya Lestarikan Kubah Gambut di Kalimantan sebagai Antisipasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Pulau Kalimantan dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, karena keberadaan hutan tropis yang dimilikinya.

    Selain itu, Pulau Kalimantan juga terdapat ekosistem yang memainkan peran vital dalam menjaga dan mengendalikan keseimbangan habitat lahan basah, bernama kubah gambut.

    Kubah gambut adalah areal kesatuan hidrologis gambut yang mempunyai topografi atau relief yang lebih tinggi dari wilayah sekitarnya, sehingga secara alami mempunyai kemampuan menyerap dan menyimpan air lebih banyak.

    Kubah gambut masuk dalam kawasan lindung yang memainkan peran luar biasa dalam menyerap air hujan, mencegah banjir, bahkan menyimpan karbon,

    Dengan kondisi ini, kubah gambut mampu menyuplai air pada wilayah sekitarnya, sekaligus mengurangi jejak gas rumah kaca yang mempengaruhi iklim global.

    Baca: Susahnya memulihkan lahan gambut ini jenis tanaman rekomendasi BRIN

    Dilansir Antaranewscom, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, Rossie Wiedya Nusantara keberadaan kubah gambut harus dijaga kelestariannya.

    Ia menilai perlindungan kubah gambut masih butuh keseriusan para pihak untuk pengelolaan, mengingat peran pentingnya dalam ekosistem.

    “Melindungi kubah gambut adalah kewajiban karena jika tanah gambut rusak maka bukan tanahnya saja yang rusak tapi juga keseluruhan lingkungannya,” katanya di Pontianak, akhir pekan lalu.

    Di Provinsi Kalimantan Barat, luas lahan gambut mencapai 1,79 juta hektare dan salah satu areal gambut terluas terdapat di Kabupaten Kubu Raya yang mencapai 202 ribu hektare.

    Ekosistem itu menjadi tempat tinggal bagi beragam flora dan fauna unik yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Sejumlah kawasan itu juga telah dimanfaatkan warga untuk lahan budi daya pertanian.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan

    Sebagai ekosistem unik, namun rapuh, peran kubah gambut sebagai pengatur hidrologi dapat terganggu bila mengalami kondisi drainase yang berlebihan.

    Pasalnya, kubah gambut memiliki sifat kering tak balik, porositas yang tinggi, dan daya hantar vertikal yang rendah.

    Gambut yang telah mengalami kekeringan sampai batas kering tak balik akan memiliki bobot isi yang sangat ringan, sehingga mudah hanyut terbawa air hujan.

    Struktur gambut lepas-lepas, seperti lembaran serasah, mudah terbakar, sulit menyerap air kembali, dan sulit ditanami kembali.

    Lahan gambut yang mengalami kerusakan ini bisa terkena api, maka dampaknya sangat luas karena sangat mudah terbakar.

    “Kebakaran gambut terakhir tahun 2021 mencapai 13 ribu hektare, karena itu restorasi sangat penting untuk mencegah bencana lebih besar,” katanya.

    Baca: Kebakaran lahan pada 2023 sangat parah tunjukkan lemahnya antisipasi

  • Selamat! Kalimantan Timur Telah Punya Pergub tentang Perdagangan Karbon

    Selamat! Kalimantan Timur Telah Punya Pergub tentang Perdagangan Karbon

    7cloud.asia – Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil merampungkan Peraturan Gubernur (Pergub) Kaltim tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) atau perdagangan karbon.

    Pergub Kalimantan Timur ini diharapkan bisan menjadi benchmark atau sesuatu yang dapat diukur dan digunakan sebagai standar produk hukum terkait perdagangan karbon di Indonesia.

    “Ini sepertinya yang pertama berlaku di Indonesia,” kata Penjabat (Pj) GubernurAkmal Malik di sela Rapat Pembahasan Rancangan Peraturan Gubernur (Ranpergub) tentang perdagangan karbon ini Kantor Gubernur Kaltim, Jum’at (3/5/2024).

    Menurut dia, Pergub Kaltim tentang Penyelenggaraan NEK sebagai draf hukum yang menjadi pedoman, sekaligus tonggak sejarah dalam penyelenggaraan ekonomi karbon bagi Indonesia.

    “Kaltim akan menjadi leading dalam penegakan penyelenggaraan ekonomi karbon,” tegasnya.

    Baca Juga: Tekan Emisi Karbon, Mengapa Pajak Karbon Harus Diterapkan Meski Telah Ada Perdagangan Karbon

    Dalam kesmpatan tersebut Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meminta pihak-pihak yang terlibat penyusunan draf Ranpergub agar segera menyelesaikannya.

    “Paling lama dua minggu ya. Soalnya kemarin saat pengusulan draf awal hanya butuh dua hari, selesai,” ucapnya.

    Keberadaan Pergub Kaltim tentang Penyelenggaraan NEK bagi Akmal sangat penting dan strategis, terutama setelah Kaltim menjadi provinsi yang ditunjuk melaksanakan Program FCPF-CF (Forest Carbon Partnership Facility – Carbon Fund) dan berhasil mendapatkan kompensasi (insentif) dari Bank Dunia.

    Selain itu Pergub perdagangan karbon ini juga sangat penting sebagai payung hukum menjadi norma-norma dalam menjaga alam serta pengelolaan dan pelestarian lingkungan, khususnya hutan.

    “Dalam Pergub ini nantinya jelas diatur siapa melakukan apa dan pedoman bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam ikut terlibat menjaga karbon Kaltim,” jelasnya.

    Baca Juga: Seperti Ini Peran Multi-Pihak dalam Mitigasi Perubahan Iklim lewat Perdagangan Karbon

    Bagi Akmal, potensi yang dimiliki Benua Etam harus mampu membawa dampak positif bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

    “Syukur-syukur nilai ekonominya dapat kita manfaatkan untuk kepentingan Kalimantan Timur di masa mendatang,” harapnya.

    Penyusunan Pergub tentang perdagangan karbon ini melibatkan peneliti dan akademisi dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

    “Semoga upaya kita ini memberikan kemanfaatan bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, menghadirkan keadilan bagi seluruh stakeholders serta kepastian hukum,” ungkapnya.

    Rapat pembahasan draf Ranpergub NEK dipandu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltim AnwarSanusi dengan membahas dua draf Ranpergub.

    Baca Juga: Agar Perdagangan Karbon Tak Sekadar Pencitraan atau Greenwashing

    Pada 2022, hasil perdagangan karbon oleh Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dengan Bank Dunia sesuai kontrak senilai 110 juta dolar AS atau setara Rp1,7 triliun.

    Uang ini akan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kaltim.

    “Sesuai dengan kesepakatan kontrak dengan Bank Dunia, Kaltim harus menurunkan emisi karbon sebanyak 22 juta ton, sedangkan sekarang capaiannya jauh melebihi 22 juta ton,” kata Ketua Harian Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim Daddy Ruhiyat di Samarinda, Oktober 2022.

    Emisi karbon di Kaltim ini dikurangi dari upaya melestarikan hutan dan perkebunan di Kaltim.

    Daddy melanjutkan, kesepakatan menurunkan emisi karbondioksida sebanyak 22 juta ton tersebut harus dicapai dalam masa 18 bulan, yakni mulai Juli 2019 hingga Desember 2020 dengan nilai kontrak sebesar 5 dolar AS per ton.

    Baca Juga: Perdagangan Karbon Akan Memotivasi Perusahaan Jalankan Ekonomi Hijau

    Sedangkan untuk penurunan emisi sebanyak 22 juta ton itu dibagi menjadi tiga tahap, pertama sebanyak 5 juta ton emisi karbondioksida dengan pembayaran yang akan diterima sebesar 25 juta dolar AS.

    Tahap kedua sebanyak 8 juta ton karbon dengan nilai 40 juta dolar AS, dan untuk tahap ketiga dengan target penurunan emisi 9 juta ton atau dengan pembayaran senilai 45 juta dolar AS.

    Saat itu, dia belum bisa memastikan kapan pembayaran akan dilakukan, karena pihak Bank Dunia masih melakukan verifikasi dan validasi administrasi.

    Sumber:Antaranews.com

  • SOS! Gajah Kalimantan Terancam Punah Masuk Daftar Merah IUCN Akibat Alih Fungsi Hutan

    7cloud.asia – Kabar kurang menggembirakan bagi pemerhati lingkungan Indonesia. Gajah Kalimantan secara resmi diklasifikan terancam punah dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature (IUCN).

    Menurut asesmen yang dilakukan IUCN, populasi gajah Kalimantan yang tergolong terkecil di dunia tersebut kini tinggal kurang dari 1.000 ekor.

    Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) adalah subspesies dari gajah asia dan dapat ditemukan di Kalimantan Utara dan Sabah.

    Dikutip wikipedia, penelitian DNA mitokondria yang dilakukan Pada tahun 2003 menemukan bahwa leluhur gajah kalimantan terpisah dari populasi daratan selama masa pleistosen,

    Saat itu jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan kepulauan Sunda menghilang 18.000 tahun yang lalu.

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 44.000 Spesies Terancam Punah dari Muka Bumi.

    Spesies ini kini berstatus kritis akibat hilangnya sumber makanan, perusakan rute migrasi dan hilangnya habitat mereka.

    Dilaporkan pada tahun 2007 hanya terdapat sekitar 1.000 gajah. Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan WWF tahun 2012 hanya tersisa sekitar 30-80 ekor.

    Kerusakan habitat dan penggundulan hutan besar-besaran di Kalimantan disebut menjadi penyebab utama anjloknya populasi gajah kalimantan di alam liar.

    Populasi gajah kalimantan yang merupakan subspesies dari gajah asia ini terus menyusut selama 75 tahun terakhir, baik di wilayah Indonesia maupun di Malaysia.

    Di Sabah, Malaysia, gajah kalimantan semakin sering memasuki wilayah yang dihuni manusia untuk mencari makanan.

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Upaya Menjaga Keanekaragaman Hayati di Indonesia dari Kepunahan

    Konflit gajah kalimantan dengan manusia ini terjadi seiring dengan bertambahnya populasi manusia di sana.

    Direktur Departemen Margasatwa Sabah dan anggota Grup Spesialis Gajah Asia IUCN SSC Augustine Tuuga mengatakan, selama 20 tahun terakhir ada sejumlah upaya untuk memahami dan melestarikan gajah kalimantan.

    “Kegiatan-kegiatan ini sangat penting untuk menjamin masa depan subspesies ini dan memungkinkan kelancaran pembangunan sosio-ekonomi di wilayah di mana gajah berkeliaran,” kata Tuuga dikutip Kompas.com dari siaran pers IUCN, Jumat (26/6/2024).

    Hilangnya habitat lebih lanjut akibat pembabatan hutan untuk kelapa sawit, perkebunan kayu, pertambangan, dan proyek infrastruktur besar seperti jalan raya juga mengancam masa depan gajah kalimantan.

    Perburuan gading, konsumsi bahan kimia pertanian yang tidak disengaja, dan tabrakan kendaraan juga menjadi kekhawatiran.

    Baca Juga: Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    Kepala Wildlife Recovery ZSL Mike Hoffmann mengatakan, gajah kalimantan menghadapi berbagai ancaman mulai dari hilangnya habitat sampai konflik dengan manusia dan satwa liar.

    Situasi tersebut terus menimbulkan ancaman bagi satwa liar dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

    Dia menambahkan, hal-hal tersebut telah disoroti oleh asesmen terhadap gajah kalimantan hingga diklasifikasikan terancam punah.

    “Saat kita bekerja secara global untuk melindungi dan memulihkan alam bagi semua orang, penting bagi kita untuk bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memahami tantangan yang mereka hadapi,” kata Hoffmann.

    Hoffmann menambahkan, “Dan mendukung mereka dalam mengembangkan intervensi berbasis komunitas yang akan membantu mereka hidup berdampingan secara damai dengan satwa liar.”

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Peran Masyarakat Adat dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati di Kalimantan Disuarakan di COP 16 CBD

    Peran Masyarakat Adat dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati di Kalimantan Disuarakan di COP 16 CBD

    7cloud.asia – Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, Pulau Kalimantan memiliki sedikitnya 15,000 jenis tanaman, 288 jenis mamalia, 350 jenis burung, 150 jenis reptil dan amfibi.

    Kondisi ini menjadikan Pulau Kalimantan sebagai daerah penting bertemunya beragam kebudayaan dengan tingginya keanekaragaman hayati.

    Dari keseluruhan keanekaragaman hayati di Pulau Kalimantan tersebut, berbagai kelompok Masyarakat Adat selama ratusan tahun secara turun temurun telah menjaga keanekaragaman hayati yang ada di wilayahnya.

    Contoh praktik baik itu dapat ditemukan di Kapuas Hulu yang merupakan salah satu bentang alam di jantung pulau Kalimantan dengan keanekaragaman hayati yang tak tertandingi.

    Hamparan hijau hutan hujan tropis yang berada di Kapuas Hulu merupakan benteng terakhir bagi banyak spesies flora dan fauna, termasuk Rangkong gading yang terancam punah serta 7 jenis rangkong Kalimantan, orangutan, dan jutaan makhluk lainnya yang menyebut hutan ini sebagai rumah.

    Praktik masyarakat adat dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati disampaikan oleh perwakilan masyarakat adat Ketemenggungan Iban, Jalai Lintang, Kalimantan Barat dalam salah satu side event di COP16 CBD.

    “Seluruh Masyarakat Adat di Indonesia harus terus menjaga dan mengelola hutan beserta isinya, karena lebih baik menjaga mata air, daripada meneteskan air mata,” tutur Raymundus Remang, Kepala Desa Batu Lintang/Ketua Gerempong Menuajudan-Sungai Utik.

    Darius Doni sebagai pemuda dari generasi ketiga Ketemenggungan Iban Jalai Lintang/Pengurus Daerah AMAN Kapuas Hulu, mengajak generasi muda adat untuk lebih aktif menjaga dan mengelola wilayah adat sebagai penerimaan leluhur, untuk masa depan yang terus baik”

    Praktik masyarakat adat dalam konservasi keanekaragaman hayati berakar kuat pada hubungan kosmos dalam penjagaan terhadap ekosistem alam.

    Praktik baik oleh masyarakat adat dalam pengelolaan ekosistem berkelanjutan yang dilakukan turun temurun, karena segala kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang kehidupan masyarakat adat terpenuhi oleh alam.

    Selain Masyarakat Adat Ketemenggungan Iban Jalai Lintang, juga ada Masyarakat Adat Dayak Punan Tugung di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

    Meskipun wilayah adat mereka sepenuhnya berada dalam izin konsesi perusahaan dan masuk dalam kawasan hutan, Masyarakat Adat Dayak Punan Tugung tetap menjaga keanekaragaman hayati yang berada di wilayah adat mereka.

    Rahmat Sulaiman dari Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) menyampaikan bahwa kondisi wilayah adat Dayak Punan Tugung cukup memprihatinkan.

    Pasalnya, keseluruhan dari wilayah adat mereka berada dalam konsesi PT. Intracawood yang bergerak pada Hak Pengelolaan (HPH), baik dalam fungsi produksi maupun lindung, keseluruhan masuk dalam konsesi.

    Namun, ujarnya, perbedaan pengelolaan hutan oleh korporasi dan Masyarakat Adat terlihat sangat mencolok dan menunjukkan bagaimana Masyarakat Adat Dayak Punan Tugung mampu melindungi keperawanan hutan adat mereka.

    Nurhayati, perempuan adat Punan Tugung bercerita tentang pengetahuan tradisional berbasis kearifan lokal di wilayah adat mereka. Obat-obatan tradisional atau Ethnobotani telah dimanfaatkan secara turun temurun.

    Dalam pemaparannya, Nurhayati menunjukkan berbagai tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai obat-obatan, mulai dari panas dalam, penawar racun, dan lain sebagainya kepada para peserta dalam ASEAN Pavilion.

    “Hutan adalah supermarket dan apotek gratis bagi kami. Dari hutan, kami bisa mendapatkan segala kebutuhan yang kami perlukan. Kami tidak bisa dipisahkan dengan hutan adat kami,” tambah Nurhayati.

    Meski demikian, pengakuan terhadap masyarakat adat di Pulau Kalimantan masih sangat minim. Data PADI Indonesia dan JKPP menunjukkan, pengakuan masyarakat adat di Kalimantan Utara baru ada di 3 kabupaten, yaitu Malinau, Nunukan dan Bulungan.

    “Untuk jumlah komunitas adat yang telah mendapatkan pengakuan hingga saat ini baru ada 19 Komunitas yang tersebar di 3 kabupaten tersebut.” ucap Among, sebagai Direktur Eksekutif PADI Indonesia yang merupakan pendamping dari Komunitas Adat Punan Tugung.

    Masyarakat Adat, tegasnya, bukanlah yang menyebabkan kehilangan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Mereka justru garda terdepan pelindung biodiversitas dan sebagai pihak yang akan terdampak langsung terhadap kehilangan biodiversitasnya.

    Oleh karenanya, lanjut Among, pengakuan formal bagi Masyarakat Adat dan dukungan dari masyarakat dunia tentang perlindungan dan kontribusi masyarakat adat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati sangat kami butuhkan.

    Masyarakat adat di Kalimantan pada kenyataannya bukan merupakan satu-satunya yang sedang berusaha mendapatkan pengakuan atas status dan ruang hidupnya.

    Tidak hanya di Indonesia, proses negosiasi dalam COP16 CBD untuk penghoramatan dan pengakuan hak masyarakat adat dan komunitas lokal berjalan alot.

    Padahal, masyarakat adat telah terbukti berkontribusi pada perlindungan keanekaragaman hayati dan secara tidak langsung juga berkontribusi dalam pencapaian target 3 KM-GBF.

    Karena itu, penghormatan terhadap hak dan pengakuan terhadap ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal merupakan prasyarat utama bagi masyarakat adat untuk bisa melangsungkan praktik pengelolaan ekosistem berkelanjutan yang telah terbukti berhasil melindungi keanekaragaman hayati.

    Yoki Hadiprakarsa dari Yayasan Rekam Nusantara mengatakan bahwa perjuangan masyarakat adat dalam menjaga dan mengelola hutan adat secara berkelanjutan sudah sejak lama dilakukan.

    Karenanya, ujarnya, perlu terus dukungan teknis dan pendanaan oleh para pihak untuk memastikan upaya pengelolaan melalui pemantauan keanekaragaman hayati terus berjalan, sebagai bentuk nyata kontribusi masyarakat adat dalam implementasi KM-GBF di Indonesia.

    ”Terpenting, untuk terus memberikan manfaat luarbiasa, untuk Indonesia dan masyarakat global,” tandasnya.

     

     

  • BRIN Gandeng Universitas Tanjungpura Ungkap Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis dan Lahan Basah Kalbar

    BRIN Gandeng Universitas Tanjungpura Ungkap Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis dan Lahan Basah Kalbar

    7cloud.asia – Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia dan salah satu pusat kehati tertinggi, Kalimantan (Borneo) menjadi magnet bagi penelitian keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

    Sayangnya, eksplorasi keanekaragaman hayati di Kalimantan masih kurang tergarap secara optimal (underexplored).

    Mengatasi kondisi ini, Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Arif Nurkanto mengatakan pentingnya karja sama berbagai pihak terkait dengan keanekaragaman hayati.

    BRIN, ujarnya, menjalin kolaborasi dengan Universitas Tanjungpura (Untan). Kolaborasi ini melibatkan dua fakultas di Untan dalam kerangka riset bersama keanekaragaman hayati (kehati).

    Kerja sama BRIN dengan Fakultas Kehutanan dan MIPA Untan diharapkan akan mengeksplorasi dan mengungkap keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis dan lahan basah Kalimantan Barat (Kalbar).

    Baca: 11.000 hektare hutan mangrove di Berau dalam kondisi rusak

    Kerja sama ini menurutnya menjadi langkah strategis dalam mendukung riset keanekaragaman hayati di Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat yang merupakan salah satu jantung dari hotspot biodiversitas dunia.

    “Hingga saat ini, kegiatan riset dan penemuan ilmiah di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Sehingga, diperlukan upaya kolaboratif melalui ekspedisi ilmiah bersama yang melibatkan berbagai pihak,” ujar Arif, di Aula Bungur, Untan, Kalimantan Barat Selasa, (6/5/2025).

    Melalui kerja sama ini, diharapkan tidak hanya menghasilkan temuan-temuan penting dalam bidang biodiversitas, tetapi juga turut mencetak generasi muda berbakat dari Untan sebagai salah satu tuan rumah kawasan biodiversitas Kalimantan untuk menjadi taksonom andal di masa depan.

    Menurut Arif, keberadaan mereka akan mengisi kebutuhan pakar taksonomi Indonesia yang saat ini masih minim.

    Baca: Membangun ‘big data’ keanekaragaman hayati Indonesia

    “Harapan saya, mahasiswa dari Untan ini dapat menjadi calon-calon taksonom, baik di BRIN maupun di tempat lain. Kontribusi mereka kelak akan sangat penting dalam memperkuat kapasitas nasional dalam mempelajari dan melestarikan kehati Indonesia,” ujar Arif.

    Kerja sama ini untuk mendukung program Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan dilaksanakan pada 2025 hingga 2027 di Kalbar.

    Pada kesempatan ini, dua Peneliti PRBE BRIN, Bayu Adjie dan Amir Hamidy menyampaikan kuliah umum tentang “Pendekatan Ilmiah dan Kebijakan dalam Pengelolaan Kehati: dari Biosistematika hingga Regulasi Global”.

    Pada kuliah tersebut, diungkapkan bahwa saat ini terjadi fenomena linnean shortfall, yaitu adanya gap pengetahuan keanekaragaman hayati yang ada di alam dengan keanekaragaman hayati yang sudah dideskripsi atau diungkap.

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

  • Tim Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Katak Bertaring dari Kalimantan

    Tim Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Katak Bertaring dari Kalimantan

    7cloud.asia – Tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi melaporkan penemuan dua spesies baru katak bertaring (famili Dicroglossidae) dari kawasan Pegunungan Meratus di Kalimantan Tengah dan Selatan.

    Dua spesies baru tersebut masing-masing diberi nama Limnonectes maanyanorum sp.nov. dan Limnonectes nusantara sp. nov., yang mana sebelumnya disangka sebagai bagian dari spesies umum, Limnonectes kuhlii.

    Profesor Riset bidang Herpetologi PRBE BRIN, Amir Hamidy mengatakan, penemuan spesies baru ini menjadi kontribusi penting dalam upaya mendokumentasikan keanekaragaman herpetofauna Kalimantan.

    Penemuan ini sekaligus menegaskan peran penting wilayah Meratus dalam konservasi spesies endemik,” katanya melalui keterangan yang dikutip Antaranews.com, Rabu (16/7/2025).

    Amir menjelaskan Limnonectes maanyanorum sp.nov. ditemukan di kawasan Gunung Karasik, Kalimantan Tengah. Nama ilmiahnya diberikan untuk menghormati masyarakat adat Dayak Maanyan yang tinggal di wilayah tersebut.

    Di kalangan masyarakat setempat, katak ini dikenal sebagai Senteleng Watu, yang berarti “katak batu”.

    Baca: BRIN temukan spesies baru katak pohon endemik Sulawesi

    Sementara itu, Limnonectes nusantara sp.nov. ditemukan di daerah Loksado dan Paramasan, Kalimantan Selatan. Nama “Nusantara” dipilih sebagai simbol identitas nasional Indonesia, sekaligus merujuk pada Ibu Kota Negara baru yang berlokasi di Kalimantan.

    Di wilayah asalnya, katak ini disebut Lampinik oleh masyarakat Dayak Meratus. Kedua spesies ini berukuran tubuh sedang dan memiliki ciri khas berupa ‘taring’ (struktur tulang menonjol) di rahang bawah, terutama pada katak jantan.

    “Jari-jari kaki mereka berselaput penuh, kulit tubuh berbintil, dan memiliki warna serta pola tubuh yang khas. Bentuk bintil dan ukuran taring menjadi pembeda penting antara keduanya,” jelas Amir.

    Amir memaparkan analisis genetik dan morfologi menunjukkan bahwa keduanya merupakan garis keturunan yang berbeda secara signifikan berdasarkan jarak genetik pada sebagian sekuens gen 16S rRNA serta kombinasi karakter morfologis.

    Sedangkan, analisis filogenetik menunjukkan bahwa L. maanyanorum dan L. nusantara masing-masing membentuk klad monofiletik dengan dukungan statistik yang sangat tinggi, serta memiliki jarak genetik yang signifikan dibandingkan spesies lainnya.

    Hal ini menguatkan status keduanya sebagai spesies baru.

    Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di hutan Indonesia

    Menurut Amir, penemuan ini menegaskan pentingnya eksplorasi biodiversitas dan penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah di wilayah-wilayah tropis yang masih kurang terjamah

    Hal khususnya untuk wilayah Kalimantan sebagai bagian dari kawasan Sundaland yang sangat kaya akan spesies endemik.

    “Penemuan ini menunjukkan bahwa Kalimantan masih menyimpan banyak misteri biologis. Kita perlu terus melakukan eksplorasi dan penelitian, terutama di wilayah yang belum banyak dijangkau,” tegas Amir.

    Diketahui, penemuan ini dilakukan berkat kerja sama Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aichi University of Education, Kyoto University, dan Universitas Palangkaraya.

    Penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa (Zootaxa 5575 (3): 387-408) pada 24 Januari 2025, dengan judul Two new species of fanged frog from Southeastern Borneo, Indonesia.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

  • Krisis Iklim Mengganggu Budidaya Tanaman Tengkawang di Kalimantan Barat

    Krisis Iklim Mengganggu Budidaya Tanaman Tengkawang di Kalimantan Barat

    7cloud.asia – Para petani hutan di 12 kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mengaku semakin sulit memprediksi musim buah tengkawang (Shorea spp) akibat krisis iklim.

    Tengkawang adalah nama buah dan pohon dari beberapa jenis Meranti, suku Dipterocarpaceae, yang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi.

    Pohon-pohon tengkawang ini hanya terdapat di Kalimantan tumbuh subur di hutan-hutan tropis Kalimantan, khususnya di wilayah dataran rendah yang lembab dan subur.

    Dalam bahasa Inggris tengkawang dikenal sebagai illipe nut atau Borneo tallow nut.

    Pohon tengkawang tidak berbuah setiap tahun, melainkan hanya sekitar 3-4 tahun sekali. Fenomena ini dikenal dengan istilah “mast fruiting,” di mana banyak pohon di hutan berbuah secara bersamaan, menghasilkan panen besar yang langka.

    Ketua Kelompok Pengelola Hutan Adat Dayak Iban Menua Ngaung Keruh, Kabupaten Kapuas Hulu, Robertus Tutong mengatakan, krisis iklim telah mengakibatkan perubahan kondisi cuaca.

    Baca: Perubahan iklim berdampak pada produksi kopi dunia

    Dilansir Antaranews.com, kondisi cuaca yang tidak menentu berpengaruh nyata terhadap produksi buah tengkawang yang merosot tajam.

    “Seperti yang kami alami pada tahun 2024 ada kemarau selama dua bulan, membuat produksi buah merosot tajam,” katanya di sela-sela Festival Tengkawang 2025 di Pontianak, Kamis.

    Ia mengatakan pada September 2024 pohon tengkawang sudah memasuki musim bunga yang lebat. Beberapa ranting pohon bahkan patah karena tidak sanggup menahan banyaknya bunga yang muncul.

    Namun, akibat kemarau selama dua bulan penuh, bunga yang sudah muncul berguguran alias gagal menjadi buah.

    Kondisi ini mengakibatkan petani tengkawang mengalami gagal panen sehingga prediksi potensi buah tengkawang yang diperoleh petani pada tahun 2025 meleset dari perkiraan.

    “Kami sudah membayangkan akan panen besar di tahun 2024 tetapi ternyata gagal dan sampai saat ini untuk wilayah Kapuas Hulu belum ada pohon tengkawang yang berbunga,” katanya.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang global

     

    Di hutan adat Menua Ngaung Keruh pada 2015 telah ditanam sebanyak 94 ribu batang pohon tengkawang dengan berbagai spesies dan pada 2023 dimulai lagi penanaman baru sebanyak 18 ribu batang di atas lahan seluas 185 hektare.

    Koordinator Jaringan Tengkawang Kalbar, Valentinus Heri mengatakan musim kemarau yang panjang pada 2024 membuat hanya sebagian kecil wilayah yang dapat memanen buah tengkawang.

    “Padahal untuk petani hutan, terutama petani perhutanan sosial, buah tumbuhan hutan ini menjadi andalan untuk mendapatkan pemasukan dengan harga jual buah tengkawang kering Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram,” katanya.

    Dari pendataan pihaknya pada 2024, wilayah yang dapat memanen buah tengkawang yaitu Kabupaten Bengkayang, Landak dan Sanggau. Sementara wilayah yang gagal panen antara lain Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Ketapang, Sambas dan Sekadau.

    Berdasarkan pemetaan tahun 2025, potensi buah tengkawang yang bisa dipanen tahun ini mencapai 8.140 ton yang tersebar di 171 desa di 11 kabupaten.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global