7cloud.asia – Komisi V DPR meninjau pekerjaan renovasi Rumah Betang Lunsa Hilir di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.
Ketua Komisi V DPR Lasarus yang memimpin kunjungan tersebut, mengatakan renovasi Rumah Betang di Kabupaten Kapuas Hulu, kalimantan Barat tersebut merupakan proyek percontohan yang dibiayai pemerintah.
Menurutnya, ada dua puluhan rumah betang yang masih dipelihara oleh masyarakat di Kapuas Hulu ini. Sementara yang mendapatkan bantuan dari pemerintah baru satu ini.
“Jadi satu ini mau ditata yang bagus. Kalau kita sajikan yang lama yang kan kumuh, itu kan pasti menyangkut wajah Indonesia, terutama di mata wisatawan mancanegara” ujar Lasarus Kamis (12/10/2023) seperti dikutip Parlementaria.
Lasarus menambahkan, secara perlahan Rumah Betang Lunsa Hilir di Kapuas Hulu akan dijadikan pusat pembinaan seni budaya dan berbagai produk kerajinan warga setempat.
“Tadi sudah ada pembicaraan dengan Pak Bupati. Jadi nantinya selain orang bisa melihat rumah Betang yang mana Betang Dayak tempo dulu seperti ini, kemudian juga ada pernak-pernik yang memang asli produk lokal di sini bisa disajikan sebagai oleh-oleh,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Baca: Mengenal Perang Ketupat di Bali
Lasarus memandang Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten yang unik. Selain karena hutannya yang masih terpelihara dengan baik, Kapuas Hulu juga memiliki banyak danau dan ribuan spesies ikan.
Sehingga menurutnya, Kapuas Hulu akan menjadi daerah yang menarik bagi wisatawan, terutama bagi orang-orang yang senang dengan wisata alam.
Intinya, ujarnya, negara ini harus bersiap dalam konteks pariwisata, termasuk mempersiapkan sajian yang baik kepada semua orang yang datang ke tempat ini.
“Dengan demikian mudah-mudahan ini bisa mendorong Pembangunan di Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan semakin banyak wisatawan yang datang pastinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Lasarus
Rumah Betang merupakan tempat tinggal suku Dayak yang ada di seluruh Pulau Kalimantan, di Barat, Timur, Selatan, Tengah maupun Utara.
Rumah Betang banyak ditemukan di perkampungan suku Dayak yang berada di sekitar hulu sungai.
Rumah Betang memiliki banyak keunikan. Bentuknya menyerupai panggung namun dengan arsitektur rumah. Di bawahnya tertancap tiang kayu yang kokoh asli dari Kalimantan dengan tinggi kayu rata-rata 5 meter.
Baca: Mengenal tradisi Seba masyarakat Badui
Hampir semua bangunan Rumah Betang terbuat dari kayu yang kuat dan tergolong tahan lama, tak mudah rapuh.
Dilansir Indonesia.go.id, panjang Rumah Betang bisa mencapai 100-150 meter dan memiliki lebar mencapai sekitar 50 meter.
Rumah Betang adalah rumah besar yang menjadi tempat tinggal komunal suku dayak.
Ada tiga tujuan dari suku Dayak membangun bentuk Rumah Betang dengan arsitektur berbeda dari kediaman lazimnya. Pertama; untuk menghindari kerugian akibat banjir.
Secara umum, suku Dayak banyak bermukim di hulu sungai yang kapan saja dapat berisiko banjir jika air pasang.
Lalu kedua, mencari keselamatan dari binatang buas yang masih banyak berkeliaran di hutan Kalimantan. Dan terakhir, agar aman dari orang-orang jahat ingin menggangu sebab bentuk Rumah Betang begitu besar dan megah.
Baca: Tradisi mudik sudah ada sejak era Majapahit
Bentuk Rumah Betang adalah rumah panggung dengan tinggi mencapai 5 meter. Uniknya: dalam kepercayaan suku Dayak, anak tangga Rumah Betang harus berjumlah ganjil.
Ada banyak alasan melatari mengenai anak tangga Rumah Betang harus berjumlah ganjil.
Salah satunya supaya rezeki mudah datang ke semua penghuni Rumah Betang dan dijauhkan dari kesulitan hidup.
Selain itu, tangga untuk masuk ke Rumah Betang setiap malam diangkat. Tidak ditinggal begitu saja di luar rumah oleh suku Dayak.
Mereka meyakini dengan membawa masuk tangga ke dalam Rumah Betang akan terhindar dari gangguan hantu serta serangan ilmu mistik yang jahat untuk menyerang sang penghuninya.
Rumah Betang merupakan simbol kearifan lokal masyarakat adat yang ada di Indonesia.
Sejuta makna terkandung di balik Rumah Betang. Untuk pembangunannya saja, hulu rumah harus menghadap ke arah matahari terbit. Bagi suku Dayak, itu menandakan bahwa mereka adalah pekerja keras.
Baca: Mengenal sumbu filosofi Kota Yogyakarta
Suku Dayak harus bekerja agar bertahan hidup sejak terbitnya matahari. Sedangkan untuk hilir rumah dibuat searah dengan matahari terbenam. Secara filosofis mengartikan bahwa kerja kerja suku Dayak akan berhenti saat sore hari dan dimulai lagi besok pagi.
Di dalam Rumah Betang dapat berkumpul sekitar 5-6 keluarga yang jumlahnya mampu mencapai belasan, bahkan dua puluhan orang.
Di situlah mengapa Rumah Betang mempunyai arsitektur mewah dan tinggi sebab dihuni banyak keluarga. Setiap keluarga juga memiliki layaknya sekat ruangan yang ditempatinya, ada pula kamar.
Berkumpulnya banyak keluarga di Rumah Betang adalah sebagai bentuk wujud bahwa suku Dayak hidup dalam kebersamaan, ikatan yang kuat dan tidak mudah untuk diadu domba.
Dengan hidup bersama, maka sesama manusia akan lebih saling pedulu, bersikap tolong menolong dan memperhatikan.
Suku Dayak tidak ingin ada anggota keluarganya merasakan kesusahan ketika hidup dalam kebersamaan di Rumah Betang.
Esti Utami, dari berbagai sumber

Leave a Reply