Tag: kanker

  • Kanker Pankreas Intai Usia Muda, Ini Sebabnya

    Kanker Pankreas Intai Usia Muda, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Kanker pankreas beberapa pekan terakhir ini banyak diperbincangkan. Terutama pasca ekonom senior Rizal Ramli yang meninggal karena kanker pankreas. Penyakit ini ternyata juga mengintai kelompok muda.

    Apalagi saat seseorang mengonsumsi makanan tertentu, seperti daging merah dalam jumlah berlebih.

    Hal ini dijelaskan oleh dokter spesialis penyakit dalam yang juga Guru Besar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Ari Fachrial Syam.

    Menurutnya makanan tinggi lemak, termasuk daging merah membuat organ tubuh harus bekerja lebih ekstra atau keras, salah satunya pankreas.

    Baca: Hindari gaya hidup rebahan

    “Secara logika, makanan tinggi lemak seperti daging merah membuat kinerja organ-organ tubuh lebih berat. Termasuk pankreas,” jelas Prof Ari seperti yang dikutip Detik.com.

    Dengan adanya kerja organ yang berat tersebut, lama-kelamaan gangguan atau masalah tidak bisa dihindari.

    Sebab, daging berlemak akan sulit dicerna dan lebih mungkin memicu peradangan yang berujung menjadi polip.

    Polip adalah sebuah jaringan abnormal dan memiliki tangkai yang tumbuh di dalam tubuh.

    “Kalau sudah menjadi polip, tinggal tunggu lemak-lemak tadi berubah jadi kanker di pankreas,” kata Prof. Ari.

    Karena itu, Prof Ari mengimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi daging merah berlemak.

    Menurutnya sumber protein tidak hanya diperoleh dari daging merah, tetapi juga dari unggas, tempe, tahu, hingga ikan.

    Baca: Bahaya kanker payudara

    “Bisa ganti dengan ayam atau ikan. Semua makanan ini lebih sehat,” katanya.

    Hal yang kemudian tidak kalah penting untuk menghindari risiko kanker pankreas adalah aktif bergerak.

    Konsumsi makanan yang buruk diperparah dengan kebiasaan ‘rebahan’ atau malas bergerak. Sebisa mungkin selalu menyempatkan olahraga dalam sepekan minimal tiga kali.

    “Jadi lebih aktif dan sebaiknya rutin melakukan tes kesehatan. Bagusnya itu setahun dua kali tapi satu tahun sekali juga tidak apa-apa,” ujarnya.

    Kasus kanker pankreas terbanyak pada usia lebih dari 45 tahun. Sembilan puluh persen dari pasien terjadi di usia lebih dari 55 tahun dan 70 persen 65 tahun ke atas.

    Salah satu gejala yang sering dialami penderita kanker pankreas adalah nyeri ulu hati.

    Baca: Waspada nyeri pinggang berkepanjangan

    Prof Ari mengatakan, ketika tumor pankreas semakin besar, bagian lambung akan terasa terdorong, pasien akan mengalami mual, muntah, bahkan diare.

    “Di tahap awal, kanker pankreas tidak memiliki gejala sampai kondisinya lanjut. Tumor semakin besar baru dia akan merasakan gejala,” katanya.

    “Bila sudah ada sumbatan biasanya pasien akan gatal. Umumnya pengidap ini berat badannya turun. Kemudian, juga terjadi pembengkakan pada kaki, nafsu makan menurun, cepat lelah, bawaannya selalu lemas,” tambahnya lagi.

    Karenanya, ia mengimbau apabila merasakan gejala nyeri ulu hati untuk segera dicek ke dokter. Sebab apabila gejala penyerta lainnya sudah muncul, kanker pankreas akan lebih sulit untuk diobati.

    “Kalau penyakit ini sudah bergejala, sebenarnya sudah terlambat. Sekali lagi ketika sudah ada gejala, sebenarnya itu sudah tingkat lanjut perjalanan dari kanker pankreas tersebut,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    7cloud.asia – Pemeriksaan kesehatan awal dengan CERDIK perlu dilakukan untuk mendeteksi dini adanya indikasi kanker.

    Hal ini diungkapkan oleh Staf Komunikasi Transformasi Kesehatan pada Kementerian Kesehatan, Ngabila Salama seperti yang dilansir Antaranews. 

    Selanjutnya Ngabila menjelaskan CERDIK meliputi Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres, untuk mencegah kanker.

    Melakukan cek kesehatan juga dapat dilakukan di puskesmas dan fasilitas kesehatan lain.

    Mantan Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu mengatakan, pemeriksaan kesehatan rutin setiap enam atau 12 bulan sekali.

    Baca: Kanker pankreas intai usia muda

    Dengan pemeriksaan rutin, lanjut Ngabila, indikasi kanker dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. Selain itu juga dapat mendeteksi adanya kelainan dan masalah kesehatan.

    Jika terindikasi kanker, maka penanganannya bisa dilakukan dengan pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

    Data dari Kementerian Kesehatan sebanyak 30 sampai 50 persen kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menjalankan perilaku CERDIK.

    Ia mengatakan, deteksi dini mesti dilakukan bersamaan dengan upaya pencegahan melalui penerapan pola hidup sehat.

    Yaitu seperti tidak merokok, rutin berolahraga, mengelola stres, mencukupkan istirahat, dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

    “Jangan lupa untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah sehari-hari 3-5 porsi per hari,” katanya.

    Baca: Gaya hidup rebahan picu kanker pankreas

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penyakit kanker setiap tahun menyebabkan 9,6 juta kematian di dunia serta merupakan masalah kesehatan global dan nasional.

    Sementara data Globocan tahun 2020 menunjukkan kasus baru kanker di Indonesia mencapai 396.914 kasus dan 234.511 di antaranya mengakibatkan kematian.

    Pada perempuan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan yakni kanker payudara (65.858 kasus) diikuti kanker leher rahim (36.633 kasus).

    Sedangkan pada lelaki paling banyak kanker paru-paru (34.783 kasus) diikuti kanker kolorektal (34.189 kasus). 

    Reporter: Nurakhmayani

  • Divonis Kanker Stadium 4, Membuat Bintang Beverly Hills 90210, Shanen Doherty Menikmati Minimalisme

    Divonis Kanker Stadium 4, Membuat Bintang Beverly Hills 90210, Shanen Doherty Menikmati Minimalisme

    7cloud.asia – Bintang “Beverly Hills, 90210” Shannen Doherty diberitakan mengidap kanker stadium 4, namun demikian penyakit ini justru memberinya pelajaran yang sangat bermakna.

    Shanen Doherty mengatakan dia belajar melepaskan harta bendanya sehingga dia bisa fokus pada hal-hal yang penting dalam hidupnya, termasuk penyaket kanker di tubuhnya.

    Pada episode podcastnya hari Senin, “Let’s Be Clear With Shannen Doherty,” aktris yang tenar di tahun 90an ini membuka tentang membersihkan gudangnya untuk membuang hal-hal yang tidak lagi membuatnya bahagia.

    “Kanker, bagi saya, benar-benar membuat saya memikirkan hidup saya dan mengubah prioritas saya, dan prioritas saya saat ini adalah ibu saya,” kata Doherty, seraya menambahkan bahwa dia tahu akan berat bagi ibunya jika dia meninggal. 

    Dilansir businessinsider.com, Shanen Doherty mengatakan bahwa meski memiliki harapan yang tinggi terhadap perawatan medis untuk “terus memperpanjang” hidupnya, dia merasa bahwa dia “perlu membersihkan segalanya, untuk berjaga-jaga.”

    Baca: Saat hidupmu terasa berat, beristirahatlah tapi jangan berhenti

    Shanen Doherty pertama kali didiagnosis menderita kanker payudara pada tahun 2015 tetapi mengalami remisi pada tahun 2017.

    Pada tahun 2020, di acara “Good Morning America” ​ia mengumumkan ​​​bahwa penyakitnya telah kembali sebagai kanker stadium 4, yang berarti telah menyebar melampaui lokasi aslinya.

    “Saya tidak ingin dia mempunyai banyak hal untuk diurus,” kata Doherty, mengacu pada ibunya.

    “Saya tidak ingin dia memiliki empat unit penyimpanan yang penuh dengan furnitur karena saya memiliki obsesi furnitur.”

    Shanen menjelaskan, ketika didiagnosis mengidap kanker payudara, ia merahasiakan kabar tersebut dari anak-anaknya. Ia baru menceritakan penyakitnya ini pada mereka 5 tahun kemudian.

    Baca: Pengalaman Joshua Becker 16 tahun jalani gaya hidup minimalis

    “Seperti Kate Middleton, saya harus memberi tahu anak-anak saya bahwa saya mengidap kanker. Saya membiarkan mereka bertanya dan meminta bantuan agar mereka merasa dilibatkan,“ ujarnya.

    Shanen Doherty yang juga membintangi “Charmed” itu mengatakan dia telah “mengumpulkan begitu banyak sampah” karena kecintaannya pada belanja furnitur antik dan semua barang hanya disimpan di gudang.

    “Saya tidak menikmatinya dan yang lain tidak menikmatinya, dan apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apakah saya perlu memiliki tiga meja ruang makan?” katanya.

    “Jawabannya adalah tidak, tidak ada di antara kita yang benar-benar membutuhkannya semua barang yang kami miliki, dan kami semua bisa melakukan sedikit pengurangan dan tidak menjadi penimbun, seperti yang saya alami pada semua perabotan saya.”

    Baca: Lima cara mudah memulai minimalisme

  • Awas! Perubahan Warna Kuku Bisa Jadi Indikasi dan Risiko Kanker

    Awas! Perubahan Warna Kuku Bisa Jadi Indikasi dan Risiko Kanker

    7cloud.asia – Kondisi dan pertumbuhan kuku tak bisa dianggap remeh. Pasalnya kondisi kuku bisa menjadi cermin kondisi kesehatan kita.

    Penelitian yang dilaksanakan oleh Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat menunjukkan bahwa perubahan warna alami kuku kemungkinan menandakan risiko seseorang mengalami kanker.

    Hasil penelitian itu menyebutkan, adanya onychopapilloma atau kelainan kuku yang ditandai dengan pita berwarna putih atau merah di sepanjang kuku dan penebalan kuku dapat menyebabkan sindrom predisposisi tumor BAP1.

    Antaranews.com melansir siaran Medical Daily pada Senin (20/5/2024), sindrom predisposisi tumor BAP1 merupakan kelainan bawaan langka.

    Baca Juga: Riset: Konsumsi Ganja Bisa Memicu Masalah Kesehatan Mental

    Kelainan ini berhubungan dengan peningkatan risiko tumor kanker pada kulit, mata, ginjal dan mesothelium yang melapisi dada dan perut.

    “Temuan ini langka terlihat dalam populasi umum, dan kami yakin adanya perubahan pada kuku yang mengindikasikan onychopapillomas pada sejumlah kuku semestinya mendorong pertimbangan diagnosis sindrom predisposisi tumor BAP1,” kata Dr. Edward Cowen, salah satu penulis hasil penelitian.

    Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti merekomendasikan pemeriksaan kuku pada pasien-pasien dengan riwayat melanoma atau potensi keganasan yang dihubungkan dengan BAP1.

    “Penemuan ini adalah contoh sangat baik tentang bagaimana tim multidisiplin dan studi sejarah alam dapat mengungkap wawasan tentang penyakit langka,” kata Dr. Rafit Hassan, salah satu penulis senior hasil studi.

    Baca Juga: Dampak Positif Pengembangan Energi Terbarukan Bagi Kesehatan Masyarakat

    Temuan penelitian yang dipublikasikan di Jama Network tersebut diperoleh setelah tim mengevaluasi kelainan kuku pada 47 orang yang terdaftar di Pusat Klinis Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat untuk skrining varian BAP1.

    Peserta penelitian ini berasal dari 35 keluarga. Ketika ditanya tentang kesehatan kuku dalam penilaian genetik dasar, satu pasien melaporkan bahwa dia memperhatikan perubahan halus pada kukunya.

    “Komentarnya mendorong kami untuk secara sistematis mengevaluasi perubahan kuku peserta lain dan mengungkap temuan baru ini,” kata Alexandra Lebensohn, salah satu penulis hasil riset dari Institut Kanker Nasional Amerika Serikat.

    Para peneliti kemudian berusaha memastikan dugaan onychopapiloma pada peserta dengan melakukan biopsi.

    Baca Juga: Kelas dalam BPJS Kesehatan Dihapus, Ini Aturan Mengenai Besaran Iuran dan Dendanya

    Onychopapiloma biasanya hanya berpengaruh pada satu kuku.

    Namun, kondisi itu terjadi pada banyak kuku pada lebih dari 88 persen peserta penelitian dengan sindrom disposisi tumor BAP 1 yang berusia 30 tahun ke atas.

    Sumber: Antaranews.com

  • Riset: Sel Kanker Bisa Bersembunyi Lalu Hidup Lagi Setelah Puluhan Tahun

    7cloud.asia – Setelah diobati dan menghilang, sel kanker bisa bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun dan kemudian muncul lagi untuk tubuh.

    Demikian hasil riset tentang kanker yang dipimpin oleh Dr. Gary Luker dari University of Michigan di Amerika Serikat.

    Menurut hasil penelitian yang dikutip dalam siaran The Hindustan Times pada Rabu (25/12/2024), kondisi ini ditemukan pada pasien kanker payudara yang menjalani terapi estrogen.

    Dilansir clevelandclinic.org, terapi hormon ini biasanya untuk mengobati kanker payudara reseptor hormon positif (HR+), termasuk jenis kanker payudara yang paling umum — kanker payudara reseptor estrogen positif (ER+).

    Ahli onkologi menggunakan terapi hormon untuk mencegah kanker payudara menyebar atau kambuh setelah perawatan. Mereka sering menggabungkan terapi hormon dengan pembedahan atau terapi tertarget.

    Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi dan risiko kanker

    Adapun, hasil penelitian Dr. Gary Luker menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan kanker tidak menjamin semua sel kanker di dalam tubuh hilang. Setidaknya, demikian yang terjadi pada kanker payudara dengan reseptor estrogen positif.

    Sel-sel kanker ini dapat bersembunyi di sumsum tulang selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum muncul kembali dan menyebabkan kanker kambuh kembali.

    “Sel-sel kanker secara fisik meminjam molekul, seperti protein, messenger RNA, secara langsung dari sel punca mesenkimal,” kata Dr. Gary Luker selaku penulis utama hasil studi tersebut.

    “Pada dasarnya, sel punca mesenkimal bertindak seperti tetangga yang sangat murah hati dengan menyumbangkan hal-hal yang membuat sel kanker menjadi lebih agresif dan resisten terhadap obat,” katanya.

    Baca: Hari Tanpa Bra ingatkan bahaya kanker payudara

    Dalam eksperimen di laboratorium, para peneliti menemukan keberadaan protein kunci bernama GIV atau Girdin yang memainkan peran penting dalam membantu sel kanker bertahan hidup.

    Protein GIV membuat sel-sel kanker menjadi resisten terhadap terapi yang menargetkan estrogen seperti Tamoxifen, yang membantu mereka bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun.

    Sel-sel kanker ini selanjutnya meminjam protein esensial dari sel punca di sumsum tulang melalui terowongan antar sel.

    Dengan dukungan penelitian lanjutan, temuan studi tersebut dapat membantu pengembangan terapi kanker untuk menyasar sel-sel kanker cerdik yang bersembunyi di dalam tubuh.

  • Sebagian Kanker yang Dapat Dicegah Terkait dengan Hanya Dua Kebiasaan

    Sebagian Kanker yang Dapat Dicegah Terkait dengan Hanya Dua Kebiasaan

    7cloud.asia – Banyak orang merasa tak berdaya saat divonis menderita kanker, tetapi sebuah studi baru telah mengidentifikasi beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker.

    Menurut analisis terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO), lebih dari sepertiga dari semua kasus kanker di seluruh dunia dapat dicegah. Kanker paru-paru, lambung, dan serviks mencakup hampir setengah dari kasus tersebut.

    Ini berarti bahwa jutaan kasus kanker mematikan setiap tahun dapat dicegah melalui intervensi medis, perubahan perilaku, pengurangan risiko pekerjaan, atau penanganan polutan lingkungan.

    “Mengatasi penyebab yang dapat dicegah ini merupakan salah satu peluang paling ampuh untuk mengurangi beban kanker global,” kata Isabelle Soerjomataram, ahli epidemiologi medis di WHO dan penulis senior analisis tersebut.

    Studi yang diterbitkan di Nature Medicine ini menemukan bahwa pada tahun 2022, terdapat hampir 19 juta kasus kanker baru. Sekitar 38 persen dari diagnosis tersebut terkait dengan 30 faktor risiko yang dapat diubah.

    Baca: Sel kanker bisa bersembunyi lalu hidup lagi setelah puluhan tahun

    Faktor-faktor tersebut meliputi merokok tembakau, konsumsi alkohol, indeks massa tubuh yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, tembakau tanpa asap (seperti tembakau kunyah).

    Stimulan tradisional yang dikenal sebagai kacang areca, pemberian ASI yang tidak optimal, polusi udara, radiasi ultraviolet, agen infeksi, dan lebih dari selusin paparan pekerjaan juga dapat memicu kanker.

    Tapi ada faktor yang paling dapat dicegah yang terkait dengan kanker, yakni merokok tembakau. Hal ini dikaitkan dengan 15 persen dari semua kasus kanker pada tahun itu.

    Bagi laki-laki, risiko yang ditimbulkan merokok tembakau sangat tinggi. Merokok berkontribusi pada 23 persen dari semua kasus kanker baru secara global pada laki-laki pada tahun 2022.

    Namun merokok bukanlah satu-satunya penyebab; polusi udara juga berperan, dan dampaknya bervariasi menurut wilayah. Di Asia Timur, misalnya, sekitar 15 persen dari semua kasus kanker paru-paru pada perempuan disebabkan oleh polusi udara.

    Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi kanker

    Dilansirs sciencealert.com, sementara di Afrika Utara dan Asia Barat, sekitar 20 persen dari semua kasus kanker paru-paru pada pria disebabkan oleh polusi udara.

    Setelah merokok tembakau, faktor gaya hidup yang dapat diubah berikutnya adalah konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol menyumbang 3,2 persen dari semua kasus kanker baru (sekitar 700.000 kasus).

    Sementara itu, infeksi dikaitkan dengan sekitar 10 persen kasus kanker baru. Di antara perempuan, sebagian besar kanker yang dapat dicegah disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) berisiko tinggi, yang dapat menyebabkan kanker serviks.

    Untungnya, sekarang kita memiliki vaksin untuk HPV yang mencegah banyak penyakit terkait ini, namun cakupannya di banyak bagian dunia masih rendah.

    Kasus kanker lambung lebih tinggi di kalangan laki-laki dan cenderung dikaitkan dengan merokok dan infeksi akibat kepadatan penduduk, sanitasi yang tidak memadai, dan akses yang buruk terhadap air bersih.

    “Dengan meneliti pola di berbagai negara dan kelompok populasi, kita dapat memberikan informasi yang lebih spesifik kepada pemerintah dan individu untuk membantu mencegah banyak kasus kanker sebelum dimulai,” kata André Ilbawi, Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO dan salah satu penulis analisis tersebut.

    Baca: Wujudkan sikap empati untuk pasien kanker dengan empat cara ini

  • Studi: Harapan Hidup Penyintas Kanker Alami Kemajuan Signifikan

    Studi: Harapan Hidup Penyintas Kanker Alami Kemajuan Signifikan

    7cloud.asia – Kabar baik untuk para penyintas kanker di seluruh dunia. Kemajuan besar telah dicapai peneliti di Amerika Serikat (AS) dalam memerangi penyakit kanker.

    Dalam sebuah studi yang dirilis di CA: A Cancer Journal for Clinicians, peneliti mencapai tonggak penting berupa angka harapan hidup lima tahun sebesar 70 persen untuk kasus kanker yang didiagnosis antara tahun 2015 dan 2021.

    Dilansir www.sciencealert.com, peningkatan angka harapan hidup yang paling signifikan terjadi pada kasus kanker stadium lanjut atau fatal.

    Deteksi dini, peningkatan skrining dan pengobatan, serta pengurangan prevalensi merokok telah membantu mencegah 4,8 juta kematian akibat kanker di AS antara tahun 1991 dan 2023.

    Capaian ini memberikan kesempatan hidup baru bagi 3.256.800 pasien laki-laki dan 1.555.300 pasien perempuan.

    Baca: Kanker dapat dicegah hanya dengan dua kebiasaan

    Temuan oleh para peneliti di American Cancer Society (ACS) ini, baru-baru ini diterbitkan dalam Cancer Statistics 2026.

    “Tujuh dari 10 orang sekarang bertahan hidup dari kanker mereka selama lima tahun atau lebih, meningkat dari hanya setengahnya pada pertengahan tahun 70-an,” kata ahli epidemiologi kanker dan penulis utama Rebecca Siegel.

    “Kemenangan luar biasa ini sebagian besar merupakan hasil dari penelitian kanker selama beberapa dekade yang memberikan para klinisi alat untuk mengobati penyakit ini secara lebih efektif, mengubah banyak kanker dari vonis mati menjadi penyakit kronis.”

    Laporan tahun 2026 menandai tahun ke-75 ACS menyebarkan data kelangsungan hidup kanker untuk membantu meningkatkan kesadaran publik dan upaya kesehatan.

    Laporan tersebut mencakup angka kejadian dan angka kematian berbasis populasi terbaru hingga tahun 2022 dan 2023.

    Baca: Sel kanker bisa bersembunyi selama puluhan tahun lalu hidup lagi

    Data ini selalu tertinggal beberapa tahun dari tahun berjalan karena waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan, menyusun, memverifikasi, dan menyebarkan data.

    Kanker adalah penyebab kematian kedua terbesar di AS, setelah penyakit jantung, tetapi secara keseluruhan angka kelangsungan hidup lima tahun kini telah mencapai tingkat tertinggi.

    Angka ini meningkat dari 49 persen untuk diagnosis selama tahun 1970-an menjadi 70 persen untuk diagnosis selama tahun 2015-2021.

    Selain itu, peningkatan terbesar dalam tingkat kelangsungan hidup diamati pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lain.

    Di mana tingkat kelangsungan hidup dalam kasus ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari 17 persen pada pertengahan tahun 1990-an menjadi 35 persen selama periode 2015-2021.

  • Simak! Perkembangan dan Penanganan Pasien Kanker di Amerika Serikat

    7cloud.asia – Kemajuan ilmu kedokteran membuat angka harapan hidup pasien kanker di Amerika Serikat telah mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir.

    Dalam sebuah studi yang dirilis di CA: A Cancer Journal for Clinicians beberapa waktu lalu, dilaporkan angka harapan hidup pasien yang didiagnosis kanker meningkat menjadi 70 persen untuk diagnosis selama tahun 2015-2021.

    Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun 1970an, di mana angka harapan hidup hanya sekitar 49 persen.

    Dilansir sciencealert.com, laporan itu menyebutkan bahwa angka harapan hidup bervariasi di antara jenis kanker.

    Namun, peningkatan terbesar dalam angka harapan hidup diamati pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lain, dengan angka harapan hidup meningkat lebih dari dua kali lipat dari 17 persen pada pertengahan tahun 1990-an menjadi 35 persen selama tahun 2015-2021.

    “Angka harapan hidup kontemporer tertinggi untuk kanker tiroid (98 persen), prostat (98 persen), testis (95 persen), dan melanoma (95 persen), dan terendah untuk kanker paru-paru (28 persen), hati (22 persen), kerongkongan (22 persen), dan pankreas (13 persen),” lapor para peneliti.

    Baca: Harapan hidup penyintas kanker alami kemajuan signifikan

    Angka kejadian dan kematian juga bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti kesenjangan sosial ekonomi, ras, dan etnis.

    Penduduk asli Amerika memiliki angka kematian akibat kanker tertinggi. Sebagai contoh, angka kematian mereka akibat kanker ginjal, hati, lambung, dan leher rahim sekitar dua kali lipat dibandingkan orang kulit putih.

    Selain itu, tren geografis bergantung pada kebijakan kesehatan negara bagian dan lokal serta pada keterjangkauan asuransi kesehatan.

    Akibatnya, kematian akibat kanker bervariasi dari 122 hingga 128 per 100.000 di Utah, Hawaii, New York, dan Colorado, hingga 178 hingga 180 kematian per 100.000 di West Virginia, Mississippi, dan Kentucky.

    Praktik pencegahan juga berbeda, dengan tingkat vaksinasi HPV (human papillomavirus) untuk anak laki-laki dan perempuan, usia 13-17 tahun, berkisar dari 38 persen di Mississippi hingga 84 persen di Rhode Island.

    Baca: Sebagian kanker dapat dicegah dengan hanya dua kebiasaan

    Secara nasional, angka kematian akibat kanker pada anak-anak telah menurun lebih dari dua pertiga, dari enam per 100.000 pada tahun 1970 menjadi dua per 100.000 pada tahun 2023.

    Angka kematian remaja juga menurun secara signifikan selama periode yang sama, dari 7 per 100.000 menjadi 3 per 100.000.

    Sebagian besar penurunan ini disebabkan oleh peningkatan angka kelangsungan hidup leukemia yang dihasilkan dari rejimen pengobatan yang dioptimalkan.

    Tren temporal juga berperan. Para dokter mungkin akan segera melihat peningkatan diagnosis kanker stadium lanjut karena kelalaian deteksi terkait Covid.

    Misalnya, penurunan skrining kanker kolorektal selama pandemi dapat menyebabkan hingga 7.000 kematian tambahan pada tahun 2040. Namun, peningkatan skrining baru-baru ini, yang didorong oleh peningkatan pengujian feses, dapat mengurangi proyeksi angka kematian ini.

    Baca: Sel kanker bisa sembunyi puluhan tahun lalu hidup lagi

    Laporan ini memprediksi kejadian dan angka kematian di masa mendatang. Pada tahun 2026, lebih dari 2.100.000 kasus kanker baru (sekitar 5.800 per hari) dan hampir 630.000 kematian (sekitar 1.720 per hari) diprediksi terjadi di Amerika Serikat.

    Kanker paru-paru diproyeksikan menjadi penyebab kematian tertinggi, menyebabkan lebih banyak kematian daripada gabungan kanker kolorektal (peringkat kedua) dan kanker pankreas (peringkat ketiga).

    Terakhir, meskipun angka kelangsungan hidup telah meningkat, kemajuan berkelanjutan terancam oleh berbagai pertimbangan, termasuk meningkatnya angka kejadian kanker umum seperti kanker payudara, prostat, dan pankreas.

    “Ancaman terhadap pendanaan penelitian kanker dan dampak signifikan terhadap akses ke asuransi kesehatan dapat membalikkan kemajuan ini dan menghambat terobosan di masa depan,” kata Shane Jacobson, CEO ACS.

    “Kita tidak bisa berhenti sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.”