Tag: kelas menengah

  • Anggota Komisi X DPR Usul Beasiswa untuk Mahasiswa dari Keluarga Kelas Menengah

    Anggota Komisi X DPR Usul Beasiswa untuk Mahasiswa dari Keluarga Kelas Menengah

    7cloud.asia – Anggota Komisi X DPR Ratih Megasari Singkarru meminta pemerintah mempertimbangkan kembali struktur Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang saat ini tengah berlaku.

    Menurutnya, model pembiayaan UKT harusnya dapat dieksplorasi menjadi lebih adil untuk masyarakat kelas menengah.

    UKT, ujarnya, tidak hanya meringankan beban bagi keluarga yang tidak mampu tetapi juga bagi keluarga kelas menengah yang memiliki lebih dari satu anggota keluarga yang mengenyam pendidikan tinggi.

     

    Baca Juga: Dinilai Picu Lonjakan UKT, Mahasiswa FH UGM Ajukan Uji Materi atas Permendikbudristek 2/2024 ke MA

    Menurutnya, masyarakat kelas menengah ini justru menjadi kelompok yang terkadang justru terabaikan.

    ”Jadi mereka tuh kan posisinya nanggung. Miskin tidak, kaya juga tidak, tapi tanggungannya juga banyak,” kata Ratih dalam Rapat Kerja Komisi X di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (13/6/2024).

    Politisi Fraksi NasDem ini bahkan mengusulkan adanya beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga menengah.

    ”Karena prestasi itu kan tidak melulu sebenarnya untuk yang tidak mampu tapi sebenarnya yang di kelas menengah inilah sasaran utamanya. Yang tadi saya bilang mereka ini ada di kelompok di tengah-tengah. Jadi tolong perhatiannya juga untuk kelompok yang kelas menengah ini,” kata Ratih.

    Baca Juga: Pembatalan Kenaikan UKT Dinilai Tak Selesaikan Akar Masalah, Mahasiswa Unsoed Masih Menunggu Realisasi Keputusan Ini

    Lebih lanjut, Ratih juga mengungkapkan pihaknya juga memahami kekhawatiran yang muncul di masyarakat terkait isu kenaikan UKT di tahun depan.

    Ratih menegaskan bahwa pihaknya mendorong kebijakan pendidikan yang inklusif dan juga berkelanjutan.

    ”Memastikan bahwa setiap siswa-siswi kita itu memiliki akses, tidak peduli dengan latar belakang ekonomi mereka seperti apa yang penting mereka memiliki akses ke pendidikan tinggi yang berkualitas tanpa beban finansial yang berlebihan,” pungkasnya.

  • Sikapi Banyaknya Kelas Menengah yang Turun Kelas, DPR Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius

    Sikapi Banyaknya Kelas Menengah yang Turun Kelas, DPR Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius

    7cloud.asia – Data BPS juga menunjukkan bahwa jumlah dan persentase penduduk Kelas Menengah mulai menurun pasca pandemi, sebaliknya jumlah dan persentase penduduk menuju kelas menengah meningkat.

    Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 66,35 persen masyarakat Indonesia berada pada kategori pengeluaran kelas menengah dan menuju kelas menengah.

    Menyikapi hal ini, wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie Othniel Frederic Palit memberikan komentar kritis mengenai pentingnya intervensi pemerintah yang lebih seimbang terhadap berbagai kelas ekonomi.

    Dolfie mengingatkan bahwa ketidakstabilan pada kelas menengah dapat berdampak negatif pada perekonomian secara keseluruhan, sebagaimana terlihat pada krisis ekonomi 1998.

    Ia meminta agar kebijakan pemerintah di masa depan lebih memperhatikan keseimbangan antara berbagai kelas ekonomi untuk mencegah masalah serupa.

    Baca: Tabungan masyarakat tunjukkan penurunan

    Dolfie menekankan bahwa selama ini, intervensi fiskal lebih banyak difokuskan pada kelas bawah dan atas, padahal kondisi kelas menengah juga bisa mempengaruhi kondisi tanah air.

    Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR pada Rabu (28/8/2024) di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.

    “intervensi dari masing-masing kelas Pak. Fiskalnya apa Bu? Kebijakan fiskal untuk intervensi masing-masing kelas. Selama ini (intervensi) yang paling banyak adalah (untuk) miskin, rentan miskin,” ujar Dolfie pada Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gubernur BI, dan Ketua OJK.

    Menurut Dolfie, kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mungkin tergantung dari tetesan dari kelas atas.

    Di kelas atas, ujarnya, pemerintah banyak memberikan intensif fiskal, fasilitas-fasilitas baik dari BI, OJK maupun Kemenkeu.

    Baca: Alasan perusahaan menolak fresh graduate yang terjerat utang

    Dolfie menginginkan adanya kejelasan intervensi pemerintah terhadap setiap kelas termasuk soal anggarannya. Ia menegaskan bahwa ini menunjukkan dapat keberpihakan pemerintah.

    Kalau nggak, ujarnya, nanti terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan seperti yang terjadi pada 1998 karena kelas menengahnya yang terganggu,

    “Bukan karena kelas atas dan kelas bawah tetapi karena kelas menengahnya terganggu dengan adanya krisis ekonomi itu mungkin ke depan Pak Menteri dan Bu Menteri,” ungkapnya.

    Melansir data dari paparan Plt. Kepala BPS dalam rapat, persentase masyarakat Indonesia berada pada kelas pengeluaran “menuju kelas menengah” adalah 49,22 persen dan 17,3 persen masuk pada kategori kelas menengah.

    Sementara masyarakat rentan miskin diperkirakan sebanyak 24,23 persen dan masyarakat miskin menempati proporsi 9,03 persen. Kelas pengeluaran untuk kelas atas sendiri hanya 0,38 persen atau diperkirakan sekitar 1 juta jiwa.

  • Jumlah Penduduk Kelas Menengah Indonesia Turun: Alarm Tanda Bahaya Bagi Ekonomi Nasional?

    7cloud.asia – Fenomena penurunan jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis datanya pada Agustus 2024 lalu.

    Laporan BPS itu menunjukkan proporsi kelas menengah pada 2024 tercatat sebesar 47,85 juta jiwa, melorot dibandingkan periode prapandemi Covid-19 pada 2019 yang mencapai 57,33 juta jiwa.

    Sebaliknya, kelompok aspiring middle class atau kelas menengah rentan menunjukkan peningkatan jumlah, yakni dari 128,85 juta jiwa pada 2019 menjadi 137,5 juta jiwa pada tahun 2024.

    Jumlah kelompok miskin pun meningkat menjadi 25,22 juta jiwa, sedikit lebih tinggi dari 25,14 juta jiwa pada 2019.

    Baca: Pemerintah diminta seriusi penurunan jumlah penduduk kelas menengah

    BPS mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat dengan pengeluaran antara 3,5 sampai 17 kali lipat dari garis kemiskinan nasional.

    Pada Maret 2024 BPS menetapkan nilai garis kemiskinan nasional sebesar Rp582.932 per kapita per bulan.

    Artinya, masyarakat Indonesia yang tergolong kelas menengah tahun ini memiliki rentang pengeluaran antara Rp2.040.262 sampai Rp9.909.844 per kapita per bulan.

    Apakah penurunan kelompok menengah ini bisa menjadi alarm tanda bahaya bagi perekonomian Indonesia?

    Baca: Tabungan penduduk kelas menengah menurun, pertanda apa?

    Dalam episode SuarAkademia terbarunya, tim The Conversation membahas issue ini bersama Krisna Gupta, senior fellow dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan dosen dari Politeknik APP Jakarta.

    Krisna mengatakan tren penurunan kelas menengah di Indonesia ini bukanlah hal yang baru, dan sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

    Mengutip laporan dari LPEM FEB UI, Krisna menjelaskan bahwa penurunan kelas menengah telah menjadi tren jangka panjang yang sudah terjadi sejak 2019, bukan hanya fenomena baru yang disebabkan oleh pandemi.

    Krisna menambahkan, fenomena ini terjadi dikarenakan adanya “guncangan” di sektor formal.

  • Riset: FOMO Menjadi Salah Satu Pemicu Anjloknya Jumlah Kelompok Menengah

    Riset: FOMO Menjadi Salah Satu Pemicu Anjloknya Jumlah Kelompok Menengah

    7cloud.asia – Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.

    Gara-gara FOMO banyak kelompok menengah turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

    Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.

    Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.

    Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.

    Baca: Berapa idealnya biaya hidup di Jakarta?

    Salah satu dampak paling merugikan dari FOMO adalah budaya belanja berlebihan, yang dapat mengarah pada masalah keuangan serius, bahkan kemiskinan. Lalu apa obatnya?

    Melalui bukunya, Patrick McGinnis, pencipta istilah FOMO mengajak pembacanya untuk membatasi penggunaan media sosial, menerima kenyataan bahwa tidak semua peluang perlu diambil.

    Berani berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan juga menjadi cara jitu agar tidak terjebak dalam fenomena FOMO.

    Patrick juga memberikan panduan tentang bagaimana membuat keputusan yang efektif dengan cara yang lebih percaya diri, tanpa dihantui oleh rasa ragu-ragu atau takut kehilangan peluang.

    Bijak merespons fenomena di media sosial
    Media sosial memainkan peran besar dalam meningkatkan prevalensi FOMO. Platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter sering menampilkan postingan tentang liburan mewah, gadget terbaru, fashion, kuliner terkini, dan gaya hidup yang tampaknya sempurna.

    Baca: Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus menurun

    Secara reguler, kita terpapar oleh gambar kehidupan glamor serta tren terbaru yang dipamerkan oleh teman-teman, selebriti, dan influencer.

    Penggunaan media sosial yang berlebihan menjadi pangkal permasalahan munculnya FOMO. Tidak sedikit anak muda yang terpapar FOMO merasa depresi jika tidak bisa mengikuti standar gaya hidup di media sosial.

    Beberapa penelitian telah berusaha mengukur seberapa umum FOMO di berbagai kelompok demografis.

    Sebuah studi tahun 2013 menemukan bahwa hampir tiga perempat responden dewasa muda melaporkan mengalami FOMO sampai tingkat tertentu.

    Penelitian ini juga menemukan bahwa FOMO lebih umum di kalangan anak muda dan laki-laki dibandingkan perempuan.

    Baca: Pemerintah diminta serius menyikapi turunnya jumlah penduduk kelas menengah

    Sejumlah fakta menarik juga ditemukan dari hasil eksperimen sosial yang dilakukan oleh ‘Blibli’ pada tahun 2023.

    Riset tersebut mengungkap warga Jakarta menjadi jawara korban FOMO dan perempuan menjadi yang paling FOMO kala belanja online.

    Dari segi demografi usia, warga usia 25-34 tahun menjadi yang paling mudah terpancing mengunjungi situs, disusul warga usia 18-24 tahun.

    Ini menegaskan pentingnya edukasi dan literasi tentang media sosial, termasuk dalam hal keuangan. Sebab, selain membuat depresi, FOMO juga bisa menyeretmu ke dalam lubang kemiskinan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)

  • Sempat Meredup, Aktivisme Kelas Menengah Kini Bangkit Melawan Rezim

    Sempat Meredup, Aktivisme Kelas Menengah Kini Bangkit Melawan Rezim

    7cloud.asia – Pada gelombang demo Agustus lalu, kesadaran politik kelas menengah kembali bangkit setelah sebelumnya sempat redup.

    Titik baliknya adalah kesadaran bahwa situasi ekonomi telah memukul semua lapisan masyarakat. Aktivisme kelas menengah perlu diperkuat melalui solidaritas antarkelas agar tak performatif.

    Masih ingat istilah kelas menengah ‘ngehe’? Istilah yang mulai viral pada 2016 ini menggambarkan perilaku kelas menengah yang apolitis, oportunis, dan pragmatis.

    Tahun 2025 ini, seiring dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta kembalinya otoritarianisme ala Orde Baru, kesadaran politik kelas menengah kembali bangkit.

    Dalam demonstrasi terakhir pada Agustus lalu, kita bisa melihat bagaimana masyarakat dari segala latar belakang sosial-ekonomi bersama-sama turun ke jalan menyuarakan aspirasi.

    Namun, seiring dengan meredanya arus demonstrasi tersebut, kritik bermunculan terhadap aktivisme kelas menengah tahun 2025 yang dinilai sekadar berada di level performatif.

    Gerakan ini dianggap eksklusif dan terpisah dari gerakan kelas pekerja yang lebih luas. Aktor dalam aktivisme performatif ini dianggap bertujuan meningkatkan reputasi pribadi semata.

    Baca: Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun

    Suara kelas menengah sempat redup
    Pada 2024, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat yang menghabiskan Rp2 juta hingga Rp9,9 juta per bulan.

    Kelas menengah terutama ditandai dengan pencapaian pendidikan tinggi dan pendapatan yang stabil melalui pekerjaan formal.

    Kelas menengah biasanya memiliki pola pikir ingin mendapatkan pekerjaan stabil setelah meraih kualifikasi pendidikan tinggi. Ini membuat mereka sering kali menjadi subjek kontrol intelektual dan material.

    Dalam struktur masyarakat neoliberal yang kompetitif, posisi sebagai kelas menengah berpendidikan meniscayakan fokus terhadap pemenuhan kebutuhan material, dan menihilkan peran-peran intelektual kelas menengah di ruang publik.

    Di Indonesia, kecenderungan ini erat kaitannya dengan privatisasi pendidikan tinggi di era Reformasi.

    Meredupnya suara aktivis kelas menengah berawal dari perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—yang pernah menjadi kiblat aktivisme mahasiswa—menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada tahun 2000.

    Baca: Menebak arah gerakan mahasiswa jaman now

    Perubahan ini telah mengubah lanskap aktivisme mahasiswa secara radikal. PTN BHMN di era Reformasi diberikan otonomi penuh dalam hal keuangan dan cenderung membebankan pembiayaan pendidikan tinggi kepada mahasiswa.

    Konsekuensinya, PTN BHMN jadi cenderung beorientasi profit, tidak lagi bersahabat dengan calon mahasiswa dari latar belakang sosial-ekonomi menengah ke bawah.

    Dengan demikian, mobilitas sosial-ekonomi yang sebelumnya dapat dilakukan melalui pendidikan tinggi, kini hanya berputar di kalangan kelas menengah saja. Ini perlahan mematikan kesadaran kelas dan solidaritas antar kelas.

    Fokus pendidikan tinggi sejak era PTN BHMN telah bergeser menjadi alat untuk mendapatkan pekerjaan, tidak lagi menjadi medium membangun kesadaran sosial dan politik.

    Puncak dari dampak privatisasi pendidikan tinggi ini adalah lebarnya kesenjangan antara milenial berpendidikan tinggi dan yang tidak berpendidikan.

    Laporan mengenai kesenjangan kehidupan millennial di Jakarta menemukan bahwa milenial berpendidikan tinggi—sebagai bagian dari kelas menengah atas—menikmati pekerjaan bergaji tinggi di sektor ekonomi digital.

    Sementara milenial yang tidak berpendidikan tinggi harus berjuang bertahan hidup di Jakarta dengan penghasilan rata-rata Rp1,5 juta per bulan.

    Baca: Masyarakat sipil dan kelompok pekerja ikut aksi Indonesia Gelap

    Kembalinya kesadaran politik kelas menengah
    Memasuki 2024 hingga saat ini, kondisi ekonomi memukul semua kalangan, termasuk mereka yang mengenyam pendidikan tinggi.

    Buktinya, sepanjang Januari hingga Agustus 2025, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 44.433 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja. Fenomena ini merata dari mulai sektor manufaktur hingga media.

    Menyusul tren global PHK di sektor ekonomi digital, pekerja prekariat di Indonesia juga bernasib sama.

    Dalam sebuah wawancara dengan Rory Asyari, jurnalis dan reporter TV, jurnalis senior Marissa Anita membagi pengalaman pahitnya ketika diberhentikan dari SEA Today, satu-satunya kanal televisi berbahasa Inggris di Indonesia.

    Marissa dan jutaan kelas menengah Indonesia termasuk dalam kategori kelompok yang lebih rentan turun (jatuh miskin) daripada naik kelas sosial.

    Sementara itu, jika generasi milenial terdidik sempat merasakan pasar kerja yang lebih stabil, Generasi Z (Gen Z) yang ikut terdampak oleh krisis ekonomi dan politik di Indonesia justru mengalami persaingan ganda.

    Mereka bersaing dengan generasinya sendiri dan pekerja milenial berpengalaman yang harus kembali berjuang di pasar kerja.

    Baca: #IndonesiaGelap jadi alarm agar publik tak terlena narasi penguasa

    Dengan tantangan ekonomi sebesar itu, energi aktivisme kelas menengah perlu dibagi rata dengan kondisi ekonomi digital saat ini yang tidak menjanjikan stabilitas pekerjaan bagi kelas menengah berpendidikan tinggi.

    Kelindan antara kesadaran bahwa situasi ekonomi terkini telah memukul semua lapisan masyarakat dengan situasi politik yang menuju ke arah otoritarianisme, menjadi titik balik kembalinya kesadaran kelas dan solidaritas antar kelas di tahun 2025.

    Perlu terus dipupuk
    Kita perlu mengapresiasi gerakan-gerakan dan aksi protes sebagai potensi oposisi alternatif, mengingat saat ini kita berhadapan dengan struktur pemerintahan yang tidak memiliki oposisi.

    Geliat pergerakan ini perlu dilihat bukan sebagai sprint (lari cepat), melainkan sebagai maraton. Sebagaimana maraton pada umumnya, daya tahan aktivisme kelas menengah perlu dipupuk terus menerus melalui kesadaran kelas dan solidaritas antarkelas.

    Dengan demikian, aktivisme kelas menengah yang pada awalnya hanya dinilai performatif dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan bertransformasi menjadi aktivisme yang benar-benar berguna bagi kemaslahatan bersama.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Asep Muizudin Muhamad Darmini (Lecturer in Digital Transformation, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII)

  • Riset NEXT Indonesia Center Temukan Subsidi Lebih Banyak Dirasakan Kelas Menengah Ketimbang Rakyat Miskin

    Riset NEXT Indonesia Center Temukan Subsidi Lebih Banyak Dirasakan Kelas Menengah Ketimbang Rakyat Miskin

    7cloud.asia – Hasil riset NEXT Indonesia Center menemukan bahwa kelas menengah di Indonesia menerima manfaat subsidi lebih banyak ketimbang masyarakat miskin dan hampir miskin.

    Subsidi yang dinikmati kelas menengah itu, mulai dari subsidi yang seharusnya jatah masyarakat miskin dan hampir miskin hingga berupa insentif khusus.

    “Temuan riset tersebut sekaligus menepis anggapan yang berkembang bahwa kelas menengah kurang mendapat perhatian dari pemerintah,” ungkap Christiantoko, Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center di dalam keterangannya pada media, Minggu (16/11/2025).

    Dia mengungkapkan, kelas menengah merupakan kelompok masyarakat dengan pengeluaran 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan nasional, sesuai standar yang digunakan oleh Bank Dunia.

    Pada Maret 2025, garis kemiskinan sebesar Rp609.160 per kapita per bulan, sehingga pengeluaran kelas sekitar Rp2,1 juta hingga Rp10,4 juta per kapita per bulan.

    Mengacu pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah sekitar 47,9 juta orang atau 14,9 juta rumah tangga.

    Baca: Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun

    Dari jumlah itu, 91,87 persen rumah tangga kelas menengah menggunakan bensin, termasuk di dalamnya jenis Pertalite. “Bahan bakar yang dibeli itu digunakan untuk transportasi,” ujar Christiantoko.

    Sementara keluarga miskin dan rentan miskin (pengeluaran 1,0-1,5 kali garis kemiskinan), hanya 79,54 persen yang menggunakan bensin untuk transportasi. Bahkan sebagian besar atau 89,27 persen masyarakat yang masuk dalam kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class ikut mengonsumsi komoditas tersebut.

    Christiantoko mengungkapkan, sumber energi bersubsidi lain yang dinikmati oleh kelas menengah adalah liquified petroleum gas (LPG) ukuran 3 kilogram atau populer disebut gas melon.

    Subsidi yang sebenarnya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat kelas bawah, justru lebih banyak dinikmati oleh warga berpenghasilan jauh di atas mereka.

    Sekitar 79,85 persen atau 11,9 juta dari 14,9 juta rumah tangga kelas menengah ikut mengonsumsi gas melon.

    Sedangkan kelompok masyarakat menuju kelas menengah yang menikmatinya ada sekitar 32 juta rumah tangga atau 87,46 persen dari total rumah tangga di kelompok masyarakat tersebut.

    Baca: Beasiswa untuk mahasiswa dari keluarga kelas menengah

    Tragisnya lagi, lanjutnya, masyarakat kelas menengah juga banyak yang menikmati bantuan sosial atau bansos reguler yang dikucurkan oleh pemerintah.

    Misalnya, yang termasuk dalam program itu adalah Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan non-tunai dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

    “Mestinya program ini diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan rentan miskin, tapi kelas menengah juga terima alirannya,” ujar Christiantoko.

    Faktanya, mengacu pada data Susenas Maret 2024, sekitar 594 ribu rumah tangga kelas menengah menikmati KKS. Kemudian, ada 727 ribu yang menerima PKH, 1,2 juta dapat aliran bantuan pangan non-tunai, serta 399 ribu menerima BLT Dana Desa.

    Insentif khusus kelas menengah
    Selain yang turut menikmati subsidi dan bantuan sosial yang sebenarnya khusus untuk masyarakat bawah, kelompok kelas menengah juga masih menerima subsidi keuangan yang disediakan oleh pemerintah.

    Misalnya, yang dikenal dengan istilah pajak ditanggung pemerintah atau DTP, seperti pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.

    Baca: Aktivisme kelas menengah kembali bangkit melawan rezim

    Sebagai contoh adalah pajak penjualan atas barang mewah untuk kendaraan jenis hybrid yang ditanggung oleh pemerintah, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2025.

    Selain itu, ada subsidi untuk Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing yang pajak penghasilannya ditanggung oleh pemerintah.

    “Tentu semua ini, baik kendaraan hybrid maupun SBN valas, bukan untuk konsumsi masyarakat bawah. Hanya kelas menengah yang dapat menikmatinya,” tegas Christiantoko.

    Menurut catatan NEXT Indonesia Center, sepanjang tahun 2024, total belanja pemerintah untuk PPh-DTP mencapai Rp8,3 triliun. Sedangkan PPN-DTP sekitar Rp138 miliar.

    Kelas menengah juga menikmati Kredit Usaha Rakyat (KUR). Christiantoko menegaskan, penerima manfaat jenis ini jelas bukan orang miskin maupun hampir miskin.

    “Selain karena mereka memiliki usaha, bank juga tetap memperhitungkan pengembalian kredit yang dikucurkan, walaupun sudah disubsidi oleh pemerintah,” tuturnya.