Riset: FOMO Menjadi Salah Satu Pemicu Anjloknya Jumlah Kelompok Menengah

Written by

in

7cloud.asia – Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.

Gara-gara FOMO banyak kelompok menengah turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.

Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.

Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.

Baca: Berapa idealnya biaya hidup di Jakarta?

Salah satu dampak paling merugikan dari FOMO adalah budaya belanja berlebihan, yang dapat mengarah pada masalah keuangan serius, bahkan kemiskinan. Lalu apa obatnya?

Melalui bukunya, Patrick McGinnis, pencipta istilah FOMO mengajak pembacanya untuk membatasi penggunaan media sosial, menerima kenyataan bahwa tidak semua peluang perlu diambil.

Berani berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan juga menjadi cara jitu agar tidak terjebak dalam fenomena FOMO.

Patrick juga memberikan panduan tentang bagaimana membuat keputusan yang efektif dengan cara yang lebih percaya diri, tanpa dihantui oleh rasa ragu-ragu atau takut kehilangan peluang.

Bijak merespons fenomena di media sosial
Media sosial memainkan peran besar dalam meningkatkan prevalensi FOMO. Platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter sering menampilkan postingan tentang liburan mewah, gadget terbaru, fashion, kuliner terkini, dan gaya hidup yang tampaknya sempurna.

Baca: Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus menurun

Secara reguler, kita terpapar oleh gambar kehidupan glamor serta tren terbaru yang dipamerkan oleh teman-teman, selebriti, dan influencer.

Penggunaan media sosial yang berlebihan menjadi pangkal permasalahan munculnya FOMO. Tidak sedikit anak muda yang terpapar FOMO merasa depresi jika tidak bisa mengikuti standar gaya hidup di media sosial.

Beberapa penelitian telah berusaha mengukur seberapa umum FOMO di berbagai kelompok demografis.

Sebuah studi tahun 2013 menemukan bahwa hampir tiga perempat responden dewasa muda melaporkan mengalami FOMO sampai tingkat tertentu.

Penelitian ini juga menemukan bahwa FOMO lebih umum di kalangan anak muda dan laki-laki dibandingkan perempuan.

Baca: Pemerintah diminta serius menyikapi turunnya jumlah penduduk kelas menengah

Sejumlah fakta menarik juga ditemukan dari hasil eksperimen sosial yang dilakukan oleh ‘Blibli’ pada tahun 2023.

Riset tersebut mengungkap warga Jakarta menjadi jawara korban FOMO dan perempuan menjadi yang paling FOMO kala belanja online.

Dari segi demografi usia, warga usia 25-34 tahun menjadi yang paling mudah terpancing mengunjungi situs, disusul warga usia 18-24 tahun.

Ini menegaskan pentingnya edukasi dan literasi tentang media sosial, termasuk dalam hal keuangan. Sebab, selain membuat depresi, FOMO juga bisa menyeretmu ke dalam lubang kemiskinan.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *