Materi yang dibahas terkait kesehatan mental itu berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari seperti isu depresi, kesulitan tidur, kekerasan terhadap anak dan lain sebagainya.
Baca: Jalan kaki itu bagus untuk kesehatan fisik dan mental
Sosialisasi soal pentingnya kesehatan mental juga dapat dilakukan dimulai dari tingkat sekolah dengan memasukkan pembahasan soal bahaya perundungan atau dapat dilakukan di acara-acara perangkat desa.
Bahasa yang digunakan juga dapat tidak menggunakan istilah medis jika sosialisasi dilakukan menyasar masyarakat awam.
“Jadi materi-materi yang sangat menyentuh dari bawah, tidak usah pakai bahasa-bahasa medis,” tuturnya.
Seperti diketahui bahwa usia remaja yang sedang dalam masa transisi rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Untuk itu sosialisasi tentang kesehatan mental perlu dilakukan di usia tersebut.
Sosialisasi juga dapat dilakukan menggunakan media sosial untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umum akan isu kesehatan mental, mengingat masih ada stigma terhadap penderitanya.
“Untuk mereka yang tidak bisa mengakses kenapa tidak dimulai dari RT/RW dulu, misalnya bahwa bullying itu tidak boleh atau tidak boleh memukul anak,” jelasnya.
Langkah selanjutnya, katanya, memastikan akses kesehatan mental yang bisa dijangkau masyarakat umum seperti yang berada di puskesmas.
Saat ini sudah tersedia layanan kesehatan mental di tingkat puskesmas yang dicover BPJS Kesehatan, namun masih banyak anggota masyarakat yang belum mengetahuinya.

Leave a Reply