Tag: konservasi

  • Pameran Konservasi: Melestarikan Binatang Langka Tak Berarti Harus Memiliki

    Pameran Konservasi: Melestarikan Binatang Langka Tak Berarti Harus Memiliki

    7cloud.asia – Selama dua hari ini Mall Sarinah, Jakarta diramaikan pameran konservasi lingkungan yang dihelat Belantara Foundation.

    Pameran bertajuk  Konservasi Indonesia Maju: Konservasi untuk Kini dan Masa Depan Generasi ini digelar di lantai dasar Mall Sarinah Jakarta pada 9-10 September 2023 di 

    Pameran ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi, yang meliputi kontes foto di backdrop bergambar satwa liar kharismatik dan tumbuhan terancam punah di Indonesia pada 8-17 Agustus 2023.

    Rangkaian kegiatan ini juga diisi kuliah umum bertemakan Konservasi Biodiversitas dan Satwa Liar di Indonesia pada 10 Agustus 2023 di Universitas Pakuan.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Indonesia

    Selain itu, juga digelar lomba fotografi bertajuk Belantara Snapshot bertemakan Pesona Satwa Liar Indonesia pada 23 – 31 Agustus 2023 di Instagram.

    Selain itu Belantara Learning Series Episode 7 dengan tema Metode Kajian Orangutan dan Kisah dari Lapangan pada 30 Agustus 2023 secara luring dan daring yang dikuti oleh hampir 500 peserta.

    “Kajian secara luring diadakan di Universitas Pakuan, sedangkan daring via aplikasi zoom dan live streaming di channel Youtube Belantara Foundation,” terang Nur Purba Priambada.

    Acara ini diselenggarakan secara khusus dalam rangka Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli, Hari Konservasi Alam Nasional/HKAN yang diperingati setiap 10 Agustus dan World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus serta International Orangutan Day yang diperingati setiap 19 Agustus.

    Baca: KLHK temukan tiga spesies baru di hutan Indonesia

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam sambutannya mengatakan bahwa acara Muda Mudi Konservasi ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik khususnya generasi muda akan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dan satwa liar beserta habitatnya di Indonesia.

    Menurut Dokumen Rencana Aksi dan Strategi Biodiversitas Indonesia (IBSAP) 2015-2020, Indonesia menjadi rumah bagi 10 persen tumbuhan berbunga, 15 persen serangga, 25 persen ikan, 16 persen amfibia, 17 persen burung, dan 12 persen mamalia dari seluruh yang ada di dunia.

    Indonesia memiliki sekitar 28.000 spesies tumbuhan berbunga (urutan ke-7 dunia), 122 spesies kupu-kupu sayap burung (urutan ke-1 dunia yang mana 44 persennya merupakan spesies endemik).

    Indonesia juga menjadi rumah bagi 409 spesies amfibi (urutan ke-5 dunia), 755 spesies reptilia (urutan ke-3 dunia), 1.818 spesies burung (28 persen di antaranya endemik) dan 776 spesies mamalia (36 persen di antaranya endemik).

    Baca: Kontroversi konservasi ex situ

    Dolly yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menjelaskan keanekaragaman hayati dan satwa liar di Indonesia juga menghadapi berbagai ancaman,

    Salah satunya akibat maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar oleh masyarakat, lalu dijadikan sebagai hewan peliharaan. Tak jarang, pemelihara satwa liar berasal dari kalangan tokoh publik/public figure.

    Situasi ini diperparah dengan banyaknya kasus satwa liar peliharaan yang dijadikan sebagai konten media sosial.

    Secara tidak langsung, hal ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, yang beranggapan bahwa satwa liar boleh dijadikan hewan peliharaan.

    “Padahal, mencintai satwa liar tidak harus memiliki,” imbuh Dolly yang juga ​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

    Baca: Yuk ubah gaya hidup untuk merawat keanekaragaman hayati

    Ancaman lainnya yaitu degradasi habitat, hama dan penyakit, pencemaran, perubahan iklim, serta kerusakan lingkungan lainnya.

    Sementara itu, Kepala Divisi Profesi Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia (ASLIQEWAN), Nur Purba Priambada menyebutkan bahwa memelihara satwa liar itu bertentangan dengan kesejahteraan satwa, yang mana berpotensi membuat satwa stres, sakit, dan mudah tertular penyakit.

    Terutama penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya). Perlu diingat dalam sejarah umat manusia bahwa mayoritas wabah penyakit mematikan yang terjadi adalah penyakit zoonosis seperti rabies, pes, flu burung, ebola, anthrax, SARS, hingga COVID-19.

    “Sudah saatnya masyarakat stop menormalisasi aktivitas pemeliharaan satwa liar demi menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan dan kelestarian alam, untuk kehidupan manusia yang lebih baik”, ujar Purbo, panggilan akrabnya.

    Pelibatan masyarakat khususnya generasi muda merupakan kunci bagi keberhasilan pelestarian satwa liar beserta habitatnya. Generasi muda memainkan peran penting sebagai tombak perubahan.

    Hal tersebut dapat diwujudkan dengan terlibat aktif dalam mendukung perubahan di lingkungan masyarakat menuju arah yang lebih baik.

    Baca: Media memotret aksi lingkungan anak muda

    Salah satu kekuatan generasi muda yaitu aktif di media sosial dan cepat viral. Banyak cara untuk terlibat dalam pelestarian satwa liar beserta habitatnya, aksi paling sederhana yaitu melakukan penyadartahuan (awareness), edukasi dan kampanye tentang satwa liar bukan hewan peliharaan di media sosial.

    Tidak hanya itu, aksi tak kalah penting yang perlu dilakukan adalah tidak menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan.

    Gerakan ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat khususnya generasi muda agar terlibat lebih aktif dalam pelestarian satwa liar dan habitatnya di sekitar mereka.

    Pameran yang diselingi talkshow ini diselenggarakan atas kolaborasi dengan Forum HarimauKita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), Eat & Run, Biologeek, dan organisasi penggiat konservasi satwa liar lainnya.

    Sejumlah perusahaan swasta seperti APP Sinar Mas, PT Sharp Electronics Indonesia dan Pristinem turut mendukung acara ini. Sebagai media partner yaitu Tempo.co, Majalah Trubus, Forest Insights, Klik Hijau dan Sorot Jakarta.

    Baca: Gen Z punya kesadaran tinggi pada lingkungan tapi enggan beraksi

     

  • Lima Burung Kakatua Maluku Dilepasliarkan, Populasinya Terus Menurun Akibat Perburuan Liar

    Lima Burung Kakatua Maluku Dilepasliarkan, Populasinya Terus Menurun Akibat Perburuan Liar

    7cloud.asia – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku melepasliarkan lima satwa liar dilindungi berupa kakatua maluku (Cacatua moluccensis).

    Pelepasliaran burung kakatua Maluku ini dilakukan di kawasan konservasi suaka alam gunung Sahuwai, Desa Waesala, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

    Burung kakatua maluku memiliki distribusi yang terbatas dan populasinya terus menurun akibat perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan. 

    Burung kakatua maluku ini merupakan spesies endemik di Maluku Selatan dan tidak bisa dijumpai di tempat lain di dunia.

    Burung kakatua maluku biasa mendiami hutan dataran rendah di bawah ketinggian 1000 mdpl.

    Baca: Ditunggu, langkah konkret pemerintah lindungi perburuan satwa liar

    Keberadaan burung kakaktua maluku  kini terancam punah. Dilansir Kehati, Kakatua Maluku berstatus rentan atau Vulnurable menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

    Hal ini membuat burung Kakatua Maluku termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh PP no 7 tahun 1999 dan dilarang untuk dimiliki, dijual, atau diburu dalam bentuk hidup dan mati.

    Burung kakatua maluku berukuran besar yang bisa mencapai panjang 52 cm dan berat 850 gram.

    Ciri dari burung kakatua maluku adalah jambulnya yang berwarna merah muda, bulu yang agak kemerahan, dan sedikit warna kuning di bagian bawah sayap dan ekor.

    “Kami kembali melepasliarkan satwa endemik Maluku jenis burung kakaktua, di gunung sahuwai, Desa Waesala, SBB,” kata Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Maluku, Seto, di Ambon, Kamis (16/11/2013).

    Baca: Pro kontra pelestarian satwa dengan sistem ex situ

    Ia mengatakan, dipilihnya lokasi tersebut karena merupakan salah satu habitat satwa kakaktua Maluku (Cacatua moluccensis) serta memliki kondisi baik dari segi vegetasi dan daya dukung lainnya.

    Dalam kegiatan pelepasliaran ini, BKSDA melibatkan pihak Kepolisian Kabupaten SBB dalam hal ini Bhabinkamtibmas dan pihak Pemerintah Desa Waesala sebagai saksi.

    “Terkait satwa yang dilepasliarkan merupakan hasil sitaan petugas Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Masohi,” ujarnya.

    Ia menambahkan, dengan adanya pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan satwa yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup dan berkembangbiak di habitatnya sehingga keberadaannya tetap lestari.

    Bhabinkamtibmas Desa Waesala, SBB, Aiptu Eko Wahyudi mengatakan, kakaktua tersebut termasuk salah satu hewan langka yang dilindungi karena jumlah spesiesnya dari tahun ke tahun semakin berkurang. 

    Baca: Kemarau panjang dampak El Nino ancam kehidupan satwa liar

    Burung kakak tua merupakan salah satu satwa yang sering diburu untuk diperjualbelikan.

    “Iya memang kami terus berupaya untuk tetap menjaga kelestarian spesies burung kakaktua tersebut, karena termasuk salah satu spesies yang sudah terbilang langka,” kata Eko.

    Dilansir Antaranews.com Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahwa,

    Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp.100 juta (Pasal 40 ayat (2)

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

     

  • Pohon Ulin Terancam Punah, Pemprov Kalsel Bangun Pusat Konservasi

    Pohon Ulin Terancam Punah, Pemprov Kalsel Bangun Pusat Konservasi

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan membangun pusat konservasi tanaman kayu ulin atau kayu besi yang diberi nama Borneo Zwageri Island.

    Pusat konservasi kayu ulin ini berlokasi di Pulau Rusa berada di Waduk Riam Kanan, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar dan diresmikan pada Selasa (28/11/2023).

    Peresmian pusat konservasi kayu ulin yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang juga merupakan kawasan Geopark Pegunungan Maratus Nasional.

    Gubernur Kalsel dalam sambutan tertulisnya, menyampaikan bahwa pusat konservasi ini bukan hanya untuk penghijauan, tapi juga melestarikan kayu ulin yang merupakan tanaman endemik asli Kalimantan yang sekarang hampir punah.

    Baca: Penggundulan hutan jadi masalahserius bagi lingkungan

    Pohon ulin memang sangat baik untuk penghijauan jangka panjang. Di samping menahan air dan tanah, Kalsel, pohon ulin memiliki daya cegah untuk menahan erosi maupun tanah longsor.

    “Keberadaan pohon ulin mengurangi pemanasan global, serta menjaga iklim untuk tetap stabil,” ucapnya.

    Menurut dia, dengan kebersamaan semua pihak, Banua (Kalsel) akan meraih sukses dalam melakukan rehabilitasi hutan dan lahan.

    Terutama dengan gerakan revolusi hijau yang telah terbukti mampu merehabilitasi hutan dan lahan yang sangat besar.

    Baca: Perkebunan monokultur picu deforestasi

    Tanpa konservasi, kayu ulin dikhawatirkan bakal punah di masa mendatang karena eksploitasi terus menerus yang dilakukan oleh masyarakat.

    Eksplorasi yang terus berlangsung oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan karakteristiknya yang sangat sulit dibudidayakan menjadi faktor utama yang mengancam kelestarian kayu ulin,

    Sejak beberapa tahun ini, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan melarang penebangan kayu ulin untuk pelestarian.

    Usaha pembudidayaan kayu ulin relatif sulit dilakukan walau melalui sistem kultur jaringan, dan dibutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar kayu ulin bisa ditebang.

    Baca: Indonesia dan Brasil disebut sebagai penyumbang terbesar deforestasi hutan tropis

    Luasan hutan -tak hanya hutan ulin- di Kalsel terus berkurang seiring terus adanya kegiatan eksploitasi oleh masyarakat.

    Sehingga luas areal hutan Kalsel sekarang ini diperkirakan tinggal 1 juta hektare saja lagi.

    Sementara data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, luas lahan kritis di Kalimantan Selatan tahun 2013 lebih dari 642.580 hektare.

    Namun setelah digalakkan Program Revolusi Hijau oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor pada tahun 2017, luasan lahan kritis berkurang signifikan.

    Baca: Negara-negara di dunia sepakat hentikan penebangan hutan pada 2030

    Data hingga tahun 2022, luas lahan kritis di Kalsel tinggal 458.478 hektare.

    Dengan demikian, sejak tahun 2013 hingga tahun 2022, Kalsel mampu menurunkan lahan kritis hingga seluas 184.102 hektare.

    “Gerakkan Revolusi Hijau terus ditingkatkan hingga lahan kritis di provinsi ini makin menipis,” katanya.

    Esti Utami, disarikan dari tulisan di Antaranews.com

  • Usai Letusan Gunung Ruang, Pulau Ruang Akan Dijadikan Kawasan Konservasi

    Usai Letusan Gunung Ruang, Pulau Ruang Akan Dijadikan Kawasan Konservasi

    7cloud.asia – Setelah erupsi pada 16 April 2024, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara akan menjadikan Gunung Ruang di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro menjadi kawasan konservasi.

    “Kawasan Gunung Ruang akan dialihkan fungsi menjadi kawasan konservasi seperti yang ditegaskan Gubernur Olly Dondokambey,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Steve Kepel pada Rapat Forum Penataan Ruang (FPR), di Manado, Senin (29/4/2024).

    Forum ini dalam rangka proses persetujuan substansi revisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulut tahun 2014-2034, ujarnya.

    “Hal ini berkaitan dengan keinginan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Drs Steven Kandouw agar proses revisi Perda RTRW Provinsi Sulut Tahun 2014-2034 dipercepat,” katanya.

    Baca Juga: Setelah 22 Tahun Tertidur Gunung Ruang Kembali Aktif, 272 Kepala Keluarga Mengungsi

    Karena itu Steve berharap, proses perbaikan segera ditindaklanjuti termasuk hal-hal paling aktual saat ini terkait dengan relokasi warga yang tinggal di kaki Gunung Ruang.

    “Kalau bisa ditetapkan wilayah konservasi dan wilayah relokasi ditetapkan sebagai pemukiman,” ujarnya.

    Dalam revisi Perda RTRW Provinsi Sulut, ikut juga dibahas pembangunan ‘blue economy’ di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

    “Blue economy ini berbicara mengenai industri perikanan darat, yang nantinya ditetapkan sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi,” sebut Steve.

    Steve yang didampingi Kepala Dinas PUPR Sulut Deicy Paat juga berharap revisi RTRW tersebut mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah kabupaten dan kota sebagai pemilik wilayah.

    Baca Juga: Uniknya Acara Grebeg Besar Kirab Sesaji Puji Jagat di Lereng Gunung Sumbing

    Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey menyebutkan, warga terdampak erupsi Gunung Ruang di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro akan direlokasi.

    “Rencananya mereka akan direlokasi dari sana (Pulau Ruang),” kata Olly di Manado, Jumat.

    Rencana relokasi tersebut, kata dia, telah dikomunikasikan dengan warga yang sebelumnya tinggal di Pulau Ruang dan sebagian besar menyatakan minta untuk direlokasi.

    “Saat kunjungan kerja Wakil Gubernur Steven Kandouw ke sana, masyarakat ditanya terkait dengan relokasi. Sebagian besar minta direlokasi,” ujar Gubernur.

    Pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari tempat yang nantinya menjadi lokasi relokasi warga Pulau Ruang.

    Baca Juga: Langgar Aturan, 20 Pendaki Masuk Daftar Hitam Pendakian Gunung Gede Pangrango

    “Kementerian PUPR akan membangun rumah, sementara tanah akan kita siapkan. Itu nantinya akan menjadi lokasi perkampungan baru, lokasinya akan kami cari yang dekat-dekat,” ujarnya.

    Infrastruktur seperti jalan, sekolah serta rumah-rumah ibadah akan disiapkan oleh Kementerian PUPR, kata Olly menambahkan.

    Saat erupsi Gunung Ruang pada 16 April 2024, dua kampung/desa yaitu Kampung Pumpente (332 jiwa) dan Kampung Laingpatehi (506 jiwa) diungsikan ke Pulau Tagulandang.

    Mereka saat ini menempati posko induk yang ada di Kampung Apengsala. Baru-baru ini Wakil Gubernur bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melihat kondisi pengungsi bersama infrastruktur yang terdampak erupsi Gunung Ruang.

    Sumber:Antaranews.com

  • Koralestari, Upaya Konservasi Jutaan Hektare Kawasan Terumbu Karang di Kalimantan Timur

    Koralestari, Upaya Konservasi Jutaan Hektare Kawasan Terumbu Karang di Kalimantan Timur

    7cloud.asia – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Global Fund for Coral Reefs (GFCR) dan para mitra lain menginisiasi Program Koralestari untuk kelestarian terumbu karang di Samarinda, Kalimantan Timur.

    Dalam siaran persnya, YKAN menjelaskan, program Koralestari itu dilaksanakan di tiga wilayah prioritas dengan total luas 4,1 juta hektare, yang tersebar di perairan Samarinda

    Konservasi terumbu karang itu dilakukan di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS), Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur;

    Juga Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Provinsi NTT, dan; Kawasan Konservasi Perairan Daerah Lingga (KKPD Kabupaten Lingga), Provinsi Kepulauan Riau.

    “Setelah diluncurkan di Kupang pada 1 Juli lalu, kali ini program diluncurkan juga di Samarinda, Kalimantan Timur, 9 Juli 2024 yang bertujuan meningkatkan upaya perlindungan dan restorasi terumbu karang melalui dorongan kegiatan ekonomi biru,” kata Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman dalam keterangan tertulis Kamis (11/7/2024).

    Baca: AS hapus 35 juta dolar utang Indonesia untuk konservasi terumbu karang

    Ia menjelaskan, visi dari program Koralestari adalah transformasi upaya perlindungan dan restorasi terumbu karang melalui pembiayaan berkelanjutan dari Kawasan Konservasi Perairan yang berdampak positif terhadap kelestarian terumbu karang

    Program Koralestari ini juga diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan ketahanan pesisir terhadap perubahan iklim.

    “Sekitar 90 persen kerusakan terumbu karang disebabkan oleh mata pencaharian masyarakat. Sehingga, dengan terbentuknya kelembagaan, pengelolaan kawasan konservasi bisa lebih efektif sekaligus mampu membantu dalam mengembangkan mata pencaharian masyarakat,” jelas Ilman.

    Menurut dia, ekosistem terumbu karang di Kaltim memiliki potensi yang sangat besar. Selain termasuk ke dalam Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), sejumlah perairan di Kaltim pun sudah menjadi kawasan konservasi.

    “Meski begitu, kawasan konservasi di Kaltim itu masih sulit dijangkau karena belum kuatnya kelembagaan,” katanya.

    Baca: Meningkatnya keasaman air laut ancam terumbu karang

    Dalam peluncuran program itu, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKHL KKP) Muhammad Firdaus Agung mengatakan, dalam mengoptimalkan program Koralestari perlu memperhatikan tiga aspek.

    Tiga aspek itu adalah konservasi, pendanaan, dan ekonomi untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang.

    Menurutnya, perbaikan ekosistem terumbu karang melalui Koralestari dapat dipadukan dengan dorongan ekonomi biru yang berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.

    “Terumbu karang merupakan ekosistem yang penting bagi kesehatan laut. Secara nasional, program Koralestari mampu berkontribusi bagi kebijakan ekonomi biru dan meningkatkan efektifitas kawasan konservasi,” ujar Firdaus.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Provinsi Kalimantan Timur, Ujang Rachmad menekankan pentingnya kolaborasi untuk menyukseskan program Koralestari.

    Baca: Kenaikan air laut jadi masalah besar bagi lingkungan

    Ia berharap, program ini dapat dijalankan secara kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kampung, serta mitra-mitra pembangunan, dengan melihat potensi dan kewenangan masing-masing pihak.

    “Nantinya, program Koralestari dapat diintegrasikan dengan rencana strategis kelautan dan perikanan di Kabupaten Berau serta program-program kerja pemerintah lainnya,” papar Ujang.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kaimana Papua Barat Ditetapkan Menjadi Lokasi Konservasi Hiu Paus

    Kaimana Papua Barat Ditetapkan Menjadi Lokasi Konservasi Hiu Paus

    7cloud.asia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi menjadikan Kabupaten Kaimana, Papua Barat menjadi salah satu lokasi prioritas pengembangan dan rencana aksi nasional konservasi hiu paus di Indonesia.

    Ketua Tim Kerja Perlindungan dan Pelestarian Jenis Ikan KKP Pingkan Katharina Roeroe di Kaimana, Rabu (14/8/2024) mengatakan di wilayah Papua dan Kaimana banyak teridentifikasi biota laut yang unik seperti hiu paus yang perlu dijaga dan dilestarikan.

    “Hiu paus adalah ikan yang dilindungi secara berkelanjutan, terencana dan terukur hingga tahun 2025,” katanya.

    Hiu paus biasa mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.

    Baca: Kolaborasi KLHK dan Pertamina identifikasi hiu paus baru

    Pada Juni lalu, ditemukan individu baru hiu paus sebagai hasil monitoring bersama antara Pertamina bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

    Pengendali Ekosistem Habitat Seksi Pengelolaan TNTC Wilayah 1 Kwatisore, menyatakan data awal populasi hiu paus berjumlah 195 ekor.

    Pingkan mengatakan untuk melakukan konservasi hiu paus, KKP harus membuat rencana aksi nasional konservasi hiu paus periode 2026-2029 di Kaimana.

    Rencana aksi merupakan kolaborasi antara Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (Usaid Kolektif), Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Konservasi Alam Nusantara dan Konservasi Indonesia.

    Rencana aksi nasional lanjut Pingkan, akan dibarengi dengan berbagai kegiatan seperti, sasaran, strategi, indikator, lokasi

    Baca: Kekayaan potensi ikan laut Indonesia

    Adapun penanggungjawab kegiatan ini akan melibatkan semua pemangku kepentingan atau stakeholder terkait.

    “Kami berharap melalui rencana aksi bisa memperoleh masukan dan gagasan dari semua pihak, sehingga kami bisa menyusun dokumen rencana aksi hiu paus untuk periode 2026-2029,” ujarnya.

    Kepala Bappeda Kaimana Abdul Rahim Furuada mengapresiasi KKP yang telah memberikan perhatian kepada potensi kelautan di Kabupaten Kaimana.

    Dijelaskan, dalam perencanaan tata ruang Kabupaten Kaimana, ada upaya untuk mendukung konservasi hiu paus yang ada di perairan laut Kaimana.

    “Tujuan utama dari pemerintah adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Untuk itu diperlukan kolaborasi yang baik dari semua pihak, terutama dalam pengelolaan dan pelestarian hiu paus,” ujarnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Ingin Terlibat Langsung dalam Konservasi Alam? Coba Enam Cara Berikut Ini

    Ingin Terlibat Langsung dalam Konservasi Alam? Coba Enam Cara Berikut Ini

    7cloud.asia – Menyambut Hari Konservasi Alam Sedunia pada Juli lalu, Daniel Kaul menulis sebuah artikel menarik di laman earth.org.

    Ia memberi judul tulisannya dengan Hari Konservasi Alam Sedunia: Setiap Orang Harus menjadi Ilmuwan

    “Memang benar, dengan munculnya kecerdasan buatan (AI), data telah menjadi barang yang sangat berharga. Namun, hanya ada sedikit ilmuwan berbayar yang mengumpulkan data yang sangat dibutuhkan oleh para ilmuwan iklim saat ini. Di situlah Anda berperan,” tulisnya.

    Daniel yang sehari-hari menggeluti tour di bidang konservasi mengatakan bahwa dengan terlibat dalam ilmu pengetahuan, warga tidak hanya membantu para ilmuwan dan upaya konservasi.

    Proses ini juga dapat membantu membangkitkan minat generasi muda yang melek teknologi dan ramah lingkungan untuk aktif melakukan aksi iklim.

    Baca: LaporIklim dorong keterlibatan masyarakat dalam aksi iklim

    Jika Anda ingin terlibat dalam ilmu pengetahuan warga pada Hari Konservasi Alam Sedunia ini, berikut beberapa proyek yang disarankan Daniel untuk Anda lakukan:

    1. Observasi lingkungan sekitar
    Setiap orang dapat berkontribusi terhadap data iklim dengan mengamati dan mencatat pola cuaca lokal, waktu mekarnya tanaman, migrasi hewan, dan perubahan ekologi lainnya.

    Data ini dapat membantu para ilmuwan memahami dampak dan variabilitas iklim regional.

    Di Inggris misalnya, aplikasi seperti FIT Count memungkinkan orang mencatat jumlah penyerbuk lokal di wilayah tersebut.

    Di AS, Jaringan Fenologi Nasional memungkinkan pengguna mengumpulkan data tentang berbagai indikator alam, seperti jumlah hewan, waktu mekarnya bunga, dan kondisi cuaca.

    Baca: Manfaat taman kota bagi konservasi lingkungan

    2. Penginderaan jarak jauh
    Masyarakat dapat menggunakan ponsel cerdas dan perangkat lain untuk mengambil gambar dan mencatat data mengenai kualitas udara, suhu, dan faktor terkait iklim lainnya.

    Hal ini pada dasarnya menambah seluruh lapisan infrastruktur penelitian, yang berarti bahwa para ilmuwan dapat mengumpulkan data di tempat-tempat yang biasanya tidak dapat mereka akses.

    PurpleAir mendorong pengguna untuk memasang sensor kualitas udara berbiaya rendah yang dapat membantu memasukkan data secara real-time.

    Jika terjadi kebakaran hutan, misalnya, sensor tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi jumlah asap di suatu area tertentu, sehingga membantu memetakan perkembangan api secara real-time.

    Baca: Pengamatan Belantara Foundation di Taman Lapangan Banteng

    3. Memantau keanekaragaman hayati
    Pelacakan spesies dapat membantu mengatasi krisis iklim melalui data belaka. Proyek seperti iNaturalist dan eBird tidak hanya memungkinkan Anda memperbarui penampakan Anda sendiri.

    Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda dapat membangun literasi alami Anda sendiri, karena aplikasi tersebut mengajari Anda tentang apa yang Anda amati, saat Anda mengamatinya.

    Faktanya, eBird telah menjadi salah satu proyek sains warga yang paling sukses di seluruh dunia;

    Lebih dari satu miliar observasi burung telah dicatat dari seluruh dunia, memberikan kontribusi positif bagi pengembangan studi ornitologi.

    4. Komputasi Terdistribusi
    Ilmu Pengetahuan Warga lebih dari sekadar mencatat pengamatan Anda sendiri. Banyak model iklim yang kompleks memerlukan sejumlah besar daya pemrosesan yang mahal untuk dapat dijalankan.

    Baca: Dampak perubahan iklim pada sektor pariwisata di Eropa

    Situs web seperti ClimatePrediction.Net menggunakan kekuatan pemrosesan cadangan komputer penggunanya untuk menjalankan model iklim yang kompleks.

    Dalam hal ini, pengguna dapat membantu mendukung perjuangan iklim tanpa perlu bersusah payah.

    5. Menggabungkan Ilmu Pengetahuan dengan Pariwisata
    Anda dapat terlibat dengan Citizen Science di halaman rumah Anda sendiri. Namun, saat ini semakin banyak peluang untuk membantu mendorong konservasi melalui pengumpulan data sambil menikmati waktu istirahat yang layak.

    “Sebagai operator tur, saya pribadi telah menyaksikan peningkatan besar jumlah orang yang ingin memastikan waktu istirahat mereka yang berharga juga berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan,” terang Daniel.

    Misalnya, banyak operator tur menawarkan serangkaian perjalanan dan proyek yang digabungkan dengan aktivitas penelusuran sains warga.

    Seseorang dapat merekam kebiasaan migrasi gajah, pola pergerakan anjing liar dan hiu paus, serta jalur terbang burung, sambil membenamkan diri di beberapa habitat paling liar di bumi.

    6. Respons bencana
    Banyak proyek masyarakat yang tidak hanya membantu kita melakukan mitigasi perubahan iklim namun juga membantu kita beradaptasi terhadap dampaknya.

    Flood Network UK menyediakan pemantauan banjir secara real-time menggunakan sensor yang dipasang warga.

    Di AS, aplikasi mPing, yang dibuat oleh National Severe Storms Agency, memungkinkan pengguna mencatat dan mengkategorikan peristiwa cuaca ekstrem di wilayah mereka, yang kemudian dapat membantu menginformasikan respons bencana nasional.

    Dan di Australia, aplikasi Fireballs in the Sky membantu warga di seluruh dunia berkontribusi dalam penelitian meteorologi dan kebakaran hutan terkemuka.

    Potensi sains warga di era teknologi semakin berkembang. Kebanyakan warga negara dipersenjatai dengan komputer di saku mereka, sehingga memudahkan siapa pun untuk menjadi ilmuwan warga.

    “Hari Konservasi Alam Sedunia ini harus menjadi pengingat bahwa kita semua mempunyai peran dalam melindungi alam tempat kita bergantung.Gunakan ini sebagai sinyal untuk mengeluarkan ponsel Anda dan mulai melindungi alam, entri data satu per satu,” demikian Daniel menutup tulisannya.

    Baca artikel asli di sini

  • Pameran Muda Mudi Konservasi; Cara Belantara Foundation Mengedukasi Pentingnya Hidup Harmonis dengan Satwa Liar

    Pameran Muda Mudi Konservasi; Cara Belantara Foundation Mengedukasi Pentingnya Hidup Harmonis dengan Satwa Liar

    7cloud.asia – Belantara Foundation menyelenggarakan Pameran Muda Mudi Konservasi 2.0: Kolaborasi Kunci Keberhasilan Konservasi Biodiversitas Indonesia pada 5-6 Oktober 2024 di Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jakarta.

    Pameran selama dua hari ini diawali dengan Lomba Cerdas Cermat antar SMA se-Jabodetabek dan diselingi perbincangan mengenai pelestarian satwa liar di Indonesia.

    Pameran terselenggara atas kolaborasi dengan IUCN Indonesia Species Specialist Group atau IdSSG, Forum HarimauKita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), APP Group, Student Care, Eat & Run, Biologeek.

    Kegiatan Talk Show yang digelar dalam dua sesi mengangkat tema besar “Kolaborasi Multipihak dalam Pelestarian Satwa Liar di Indonesia”.

    Sesi pertama Talk Show di hari ke-1 pada 5 Oktober 2024 mengusung subtema “Mewujudkan Harmonisasi Manusia – Satwa Liar di Habitatnya”,

    Sedangkan hari ke-2 Talk Show pada 6 Oktober 2024 mendikusikan subtema “Bersama Lestarikan Ala Nusantara”.

    Baca: Melestarikan binatang langka tak harus memiliki

    Dari pantauan 7cloud.asia, pameran ini menarik perhatian dari masyarakat. Foto-foto pemenang lomba yang dipamerkan mampu menyadarkan pengunjung Sarinah, bahwa Indonesia sangat kaya akan sumber daya hayati.

    Tidak sedikit pengunjung Sarinah yang melintas, meluangkan waktu sejenak untuk mengamati foto-foto satwa liar maupun keindahan alam Indonesia.

    Salah satunya Safina yang datang dari Depok, yang mengatakan dari pameran ini dia jadi tahu ada katak berwarna merah dan hitam.

    “Saya jadi tahu ternyata ada kelompok yang berupaya mengenalkan dan melestarikan satwa liar kepada warga kota,“ ujarnya.

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam sambutannya di acara pembukaan mengatakan bahwa acara Pameran Muda Mudi Konservasi merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan (awareness) publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Oleh karenanya, Pameran Muda Mudi Konservasi kali ini difokuskan pada upaya menyampaikan pemahaman tentang pentingnya hidup harmonis antara manusia dengan satwa liar di habitatnya di Indonesia.

    Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pengurus Belantara Foundation, Irsyal Yasman mengatakan bahwa gerakan Muda Mudi Konservasi ini sangat relevan dengan salah satu pilar program Belantara yaitu pelestarian satwa liar beserta habitatnya.

    “Kami akan terus mengajak dan terus menggalakkan upaya kolaborasi multipihak untuk mendukung gerakan penyadartahuan atau awareness serta edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan biodiversitas di Indonesia”, ujar Irsyal.

    Pameran ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi, yang meliputi Belantara Learning Series Episode 11 dengan tema Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia pada 11 September 2024.

    Baca: Pendidikan yang turut memberi solusi atasi perubahan iklim

    Rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi ini juga diramaikan dengan Kampanye Digital berupa komik reels di Instagram dengan tema “Hidup Harmonis Manusia-Satwa Liar di Habitatnya”.

    Selain itu juga ada lomba fotografi bertajuk Belantara Snapshot bertemakan “Pesona Alam Indonesia” pada 24 September hingga 2 Oktober 2024 di Instagram.

    Menyusul kegiatan “Belantara Goes To School” yang mengangkat tema “Peningkatan Literasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Quiz Game dan Media Sosial”.

    Serial berbagai kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Belantara Foundation dengan Universitas Pakuan ini akan dimulai pada 23 Oktober 2024 mendatang di SMA Negeri 1 Sukaraja, Kabupaten Bogor.

    Rangkaian acara yang dimulai sejak bulan Agustus diselenggarakan dalam rangka Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli, Hari Konservasi Alam Nasional/HKAN yang diperingati setiap 10 Agustus, serta World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus, dan International Orangutan Day yang diperingati setiap 19 Agustus.

    Turut mendukung sebagai media partner yaitu Tempo.co, Trubus, Klik Hijau, Ruangkota.com, Greeners.co dan BeritaLingkungan.com.

  • Upaya Konservasi Masyarakat Adat Dalem Tamblingan Justru Terancam oleh Kebijakan Pemerintah

    Upaya Konservasi Masyarakat Adat Dalem Tamblingan Justru Terancam oleh Kebijakan Pemerintah

    7cloud.asia – Di balik gempitanya wisata alam di Danau Tamblingan Bedugul, Bali tersimpan perjuangan dan upaya konservasi yang dilakukan masyarakat adat Dalem Tamblingan.

    Berbicara di acara diskusi bertajuk “Peace with Nature: Konservasi Berbasis HAM Masyarakat Adat untuk Perlindungan Ragam Hayati dan Ketahanan Iklim” yang diikuti secara daring pada Sabtu (19/10/2024), salah seorang tokoh masyarakat adat Dalem Tamblingan, Putu Ardana mengisahkan perjuangan mereka.

    Keberadaan masyarakat adat Dalem Tamblingan dengan sistem adatnya telah terdokumentasikan dalam Prasasti Tamblingan Pura Endek yang dibuat pada tahun 844 Saka atau sejak abad ke-10 Masehi.

    Prasasti ini menyebutkan penduduk di sekitar Danau Tamblingan sebagai Anak Banwa Tamblingan. Hingga saat ini ada sepuluh kelompok prasasti yang berhasil ditemukan dan menjadi bukti eksistensi Masyarakat Adat Dalem Tamblingan di Alas Mertajati.

    Berbagai aturan adat untuk melindungi Alas Mertajati juga tercatat dalam Prasasti Gobleg Pura Batur B dan Tamblingan Pura Endek IV, yang di antaranya mengatur waktu penebangan hutan dan perburuan binatang di hutan.

    Sistem yang dibangun Masyarakat Adat Dalem Tamblingan telah memetakan Alas Mertajati sebagai daerah konservasi. Kemudian daerah lainnya sebagai area pertanian dan pemukiman.

    “Dengan sistem ini, masyarakat adat Dalem Tamblingan memenuhi kebutuhannya dan secara tidak langsung menjaga kelestarian sumber air bagi daerah di sekitarnya,” papar Putu Ardana.

    Namun, upaya konservasi ini justru terancam oleh kebijakan pemerintah lewat
    pemberian izin kepada pihak swasta untuk mengembangkan Alas Mertajati menjadi Taman Wisata Alam.

    Kebijakan ini sedikit demi sedikit mengubah wajah tanah ulayat menjadi area komersil sehingga merusak alam yang bagi warga setempat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam budaya dan kepercayaan mereka.

    Baca: Ingkar janji Jokowi kepada masyarakat adat

     

    Kedatangan investor-investor itu mengusik tatanan yang telah berlangsung ratusan tahun. Putu mengisahkan bagaimana investor berniat mengeksplore keindahan alam Danau Tamblingan tanpa mengindahkan keberadaan masyarakat adat dengan segala budayanya.

    Ada yang pernah mau membuat kereta gantung di atas danau, di atas pura-pura kita. Kemudian membuat restoran apung di danau, ada yang mau buat villa dan sebagainya.

    “Bahkan ada yang ingin menjadikan ritual agama kami, menjadi atraksi wisata,” kata Putu Ardana.

    Dia menambahkan, masyarakat menolak rencana tersebut demi menjaga kelestarian hutan mereka. Itu hutan, ujarnya kalau ada kegiatan manusia dalam hutan akan mengganggu dan mengancam habitat di sana.

    Masyarakat adat tegas menolak pihak asing merusak lahan mereka dengan iming-iming kesejahteraan. Setidaknya ada tiga program yang batal dibangun karena penolakan warga.

    “Ada investor yang mengiming-imingi, membuat kegiatan di sana [hutan], nanti masyarakat mendapat pekerjaan, penghasilan. Tapi itu konyol, kami sebagai masyarakat pertanian di sini, kalau tidak ada hutan yang menyangga, mengaliri air, sulit nanti,” imbuh Putu.

    Merespons berbagai tantangan dan dinamika yang menggerus hak ulayat juga adat istiadat Tamblingan, para pemimpin adat dari keempat desa itu akhirnya bersepakat membentuk Tim 9.

    Dilansir projectmultatuli.com, pembentukan Tim 9 ini juga memudahkan warga untuk membangun sikap bersama menolak rencana pembangunan yang berpotensi merusak Alas Mertajati.

    Baca: Ketua Komunitas Adat Sorbatua Siallagan Dibui 2 Tahun karena pertahankan hutan adatnya

     

    Termasuk ketika PT Sekarmas Nusantara, perusahaan yang bergerak di industri pariwisata dan hiburan, meminta warga untuk mendukung para investor dengan membawa surat langsung dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK.

    Kala itu, perusahaan berencana membangun resor rumah-rumah pohon di Alas Mertajati.

    Demi melanjutkan perjuangan lintas-generasi, pada Oktober 2020, Tim 9 bersama tetua adat lainnya membentuk Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti), organisasi serupa yang ditujukan untuk generasi muda.

    “Brasti ini organisasi yang kita anggap lebih modern, organisasi yang kita siapkan untuk menghadapi dinamika zaman, menghadapi modernitas, menghadapi kapitalisme yang kebablasan,” kata Putu Ardana, yang ditunjuk menjadi ketua Tim 9.

    Selain banyaknya izin “pembangunan” di kawasan Alas Mertajati, pembalakan liar juga sempat terjadi. Pada 2015, masyarakat sekitar sempat melakukan penjagaan saat tengah malam, waktu yang diduga pembalakan kerap terjadi.

    Patroli juga melibatkan Kantor Kepolisian Kecamatan Banjar. Mereka berjaga di jalur keluar masuk hutan.

    “Begitu dapat informasi, kita jagalah dan ketangkep lah satu truk penuh dengan kayu, ada empat orang di sana, 2 masyarakat biasa dan 2 orang BKSDA. Saya engga mengatakan orang BKSDA pencurinya, tapi faktanya itulah,” kata Putu Ardana, salah satu tokoh adat Tamblingan.

    Warga menuntut agar kasus diselesaikan secara hukum tetapi bupati berkeinginan lain.

    Baca: Kelestarian hutan adat masyarakat Tabi terancam

    “Mau dicari jalan tengah, tetapi tetap tidak ketemu karena kita tetap nuntut, ya, harus diselesaikan secara hukum. Tetapi yang terjadi kasus itu tidak ada kelanjutannya dan Kapolsek yang membantu kami dimutasi,” kata Putu Ardana.

    Negara Merenggut Hak, Merampas Alam
    Perubahan kawasan Alas Mertajati menjadi TWA turut memudarkan generasi penerus Masyarakat Adat Dalem Tamblingan mengenal hutan dan danau mereka.

    “Kenapa generasi yang lebih muda banyak yang kurang merasa memiliki hutan, karena untuk masuk hutan saja harus perlu Simaksi, Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi. Kalo nggak bawa Simaksi, nanti ditangkap,” ungkap Putu masygul.

    BKSDA membagi area TWA dalam beberapa blok, yaitu blok perlindungan, blok publik, blok religi, blok pemanfaatan, dan blok khusus. “Blok khusus itu objek vital negara kayak listrik atau pembangkit tenaga gas.

    BKSDA mengklaim penetapan Alas Mertajati sebagai TWA ikut mengacu pada aturan yang dibuat Belanda.

    “Itu sejak zaman Belanda, jadi memang oleh pemerintah Belanda sudah ditetapkan menjadi kawasan konservasi dan kalau pemerintah Belanda sudah menetapkan, berarti raja-raja Bali sudah setuju,” kata Sumarsono.

    Bukan hanya itu, kendati ditetapkan sebagai wilayah konservasi tetapi nyatanya pengelolaan dan pembangunan oleh swasta masih diizinkan. Sumarsono menyebut izin kepada swasta itu diberikan hanya pada blok pemanfaatan.

    Jauh sebelum Belanda hadir, masyarakat adat telah menetapkan kawasan Alas Mertajati sebagai area konservasi.

    Hal ini terdokumentasikan dalam Prasasti Buyan Sanding Tamblingan yang menuturkan kebijakan tentang pembatasan pengambilan flora dan fauna di hutan, serta pemanfaatan lahan dan air untuk pertanian.

  • Konservasi Lingkungan di Kepulauan Seribu Terkendala Sampah Plastik

    Konservasi Lingkungan di Kepulauan Seribu Terkendala Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sampah, khususnya sampah plastik yang bocor ke lautan masih menjadi salah satu isu yang dihadapi upaya konservasi lingkungan di sekitar Kepulauan Seribu.

    Ancaman sampah plastik ini diungkapkan Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi Kemenhut Ahmad Munawir ditemui usai peresmian Rumah Penyu di Suaka Margasatwa Pulau Rambut di Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (29/11/2024)

    Dia menyebut, dalam beberapa periode tertentu sampah plastik yang berasal dari daratan utama dapat terbawa sampai ke wilayah konservasi tersebut dan menutup sepanjang pantai,

    “Kalau dipenuhi dengan sampah, pasti penyu tidak akan bertelur di situ ini yang menjadi kendala utama. Dampaknya juga adalah sebenarnya terjadinya kematian tanaman pantai, termasuk mangrove, dan juga terumbu karang,” jelasnya.

    Suaka Margasatwa Pulau Rambut sendiri memiliki posisi penting dalam upaya konservasi, termasuk menjadi kawasan berkembang biak bangau bluwok (Mycteria cinerea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

    Baca: Pulau Onrust di Kepulauan Seribu Dikembangkan Menjadi Eduwisata

    Keberadaan dua satwa endemik ini masuk dalam daftar satwa terancam punah versi daftar merah IUCN.

    Wilayah konservasi itu menjadi rumah itu 95 spesies satwa dan 31 spesies biota laut, termasuk beberapa jenis yang dilindungi lain selain penyu sisik dan bangau bluwok.

    Persoalan sampah plastik sulit untuk diselesaikan oleh pemerintah sendiri, katanya, dan butuh kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai yang pada akhirnya dapat berakhir ke lautan.

    Terutama sampah plastik yang berasal dari wilayah sekitar Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

    Dia sangat berharap kemudian sampah-sampah bisa dikelola dengan baik di hulu, janganlah kemudian dibuang ke sungai, karena kalau dibuang ke sungai pasti bermuara ke laut.

    Baca: Rencana Pembangunan Pulau Sampah Bukan di Kepulauan Seribu

    “Dan pulau yang paling dekat dari sana adalah pulau ini, sehingga pasti sampah-sampah terus pasti akan menyangkut di sini dan itu akan sangat mengganggu biodiversitas yang ada di sini,” ujarnya.

    Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Seribu mempromosikan destinasi wisata di wilayah tersebut melalui aksi menjaga kebersihan lingkungan di Pulau Untung Jawa

    Kabupaten Kepulauan Seribu miliki sebuah tempat edukasi pengelolaan sampah organik di sekitar Pulau Untung Jawa yang menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.