7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan membangun pusat konservasi tanaman kayu ulin atau kayu besi yang diberi nama Borneo Zwageri Island.
Pusat konservasi kayu ulin ini berlokasi di Pulau Rusa berada di Waduk Riam Kanan, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar dan diresmikan pada Selasa (28/11/2023).
Peresmian pusat konservasi kayu ulin yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang juga merupakan kawasan Geopark Pegunungan Maratus Nasional.
Gubernur Kalsel dalam sambutan tertulisnya, menyampaikan bahwa pusat konservasi ini bukan hanya untuk penghijauan, tapi juga melestarikan kayu ulin yang merupakan tanaman endemik asli Kalimantan yang sekarang hampir punah.
Baca: Penggundulan hutan jadi masalahserius bagi lingkungan
Pohon ulin memang sangat baik untuk penghijauan jangka panjang. Di samping menahan air dan tanah, Kalsel, pohon ulin memiliki daya cegah untuk menahan erosi maupun tanah longsor.
“Keberadaan pohon ulin mengurangi pemanasan global, serta menjaga iklim untuk tetap stabil,” ucapnya.
Menurut dia, dengan kebersamaan semua pihak, Banua (Kalsel) akan meraih sukses dalam melakukan rehabilitasi hutan dan lahan.
Terutama dengan gerakan revolusi hijau yang telah terbukti mampu merehabilitasi hutan dan lahan yang sangat besar.
Baca: Perkebunan monokultur picu deforestasi
Tanpa konservasi, kayu ulin dikhawatirkan bakal punah di masa mendatang karena eksploitasi terus menerus yang dilakukan oleh masyarakat.
Eksplorasi yang terus berlangsung oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan karakteristiknya yang sangat sulit dibudidayakan menjadi faktor utama yang mengancam kelestarian kayu ulin,
Sejak beberapa tahun ini, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan melarang penebangan kayu ulin untuk pelestarian.
Usaha pembudidayaan kayu ulin relatif sulit dilakukan walau melalui sistem kultur jaringan, dan dibutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar kayu ulin bisa ditebang.
Baca: Indonesia dan Brasil disebut sebagai penyumbang terbesar deforestasi hutan tropis
Luasan hutan -tak hanya hutan ulin- di Kalsel terus berkurang seiring terus adanya kegiatan eksploitasi oleh masyarakat.
Sehingga luas areal hutan Kalsel sekarang ini diperkirakan tinggal 1 juta hektare saja lagi.
Sementara data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, luas lahan kritis di Kalimantan Selatan tahun 2013 lebih dari 642.580 hektare.
Namun setelah digalakkan Program Revolusi Hijau oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor pada tahun 2017, luasan lahan kritis berkurang signifikan.
Baca: Negara-negara di dunia sepakat hentikan penebangan hutan pada 2030
Data hingga tahun 2022, luas lahan kritis di Kalsel tinggal 458.478 hektare.
Dengan demikian, sejak tahun 2013 hingga tahun 2022, Kalsel mampu menurunkan lahan kritis hingga seluas 184.102 hektare.
“Gerakkan Revolusi Hijau terus ditingkatkan hingga lahan kritis di provinsi ini makin menipis,” katanya.
Esti Utami, disarikan dari tulisan di Antaranews.com

Leave a Reply