Dear Anak Muda, 6 Gaya Hidup Tak Ramah Lingkungan Ini Layak Ditinggalkan

Written by

in

7cloud.asia – Pernahkah kamu merenungkan apa dampak gaya hidup yang kamu jalani bagi lingkungan? Berapa banyak yang telah kau ambil dari lingkungan? Berapa banyak limbah atau sampah yang setiap hari kita hasilkan dan mengotori lingkungan?

Memang tanpa sadari gaya hidup kita ternyata punya banyak dampak buruk bagi lingkungan. Kita sering mengambil terlalu banyak dari yang kita butuhkan, dan membuang terlalu banyak sampah yang mengotori lingkungan tanpa kita pernah melakukan sesuatu untuk lingkungan. 

Dalam artikel ini, kami ingin mengajak kamu untuk mulai peduli pada lingkungan dan mulai memperhatikan gaya hidup kita agar lebih ramah lingkungan. 

Berikut adalah beberapa gaya hidup yang kurang ramah lingkungan yang sebaiknya segera kamu tinggalkan:

1. Penggunaan plastik sekali pakai

Plastik kini menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, padahal plastik sudah terbukti tidak ramah lingkungan. Ini karena plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. 

Dan limbah dari plastik sekali pakai memicu banyak masalah bagi lingkungan. Limbah plastik yang mencemari laut mengancam kelangsungan hidup binatang laut. Jika dibakar, limbah plastik akan menghasilkan gas berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.

Baca: Cara bijak mengelola sampah

2. Sisa makanan

Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan di bawah Arab Saudi dan di atas Amerika Serikat.

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SISPN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah di Indonesia.  

Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut.
 
Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

Sisa makanan yang membusuk juga memicu produksi gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

 

3. Penggunaan kendaraan pribadi

Penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil yang berlebihan akan memicu polusi udara. 

Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5) yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan. 

Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana atau yang dikenal denga gas rumah kaca yang bisa mempercepat perubahan iklim. 

Penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan juga memicu kemacetan di banyak kota besar, 

 

4.  Fast fashion  

Banyak orang enggan menggunakan pakaian yang sama dalam kesempatan berbeda. Kebiasaan mengenakan baju baru dalam kesempatan yang berbeda bisa memicu penumpukan sampah.

Dilansir di The Conversation, Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

Sehingga di tengah kondisi iklim yang berubah kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

5. Boros energi

Boros energi juga masuk dalam kategori gaya hidup tak ramah lingkungan, karena dalam setiap energi yang kita gunakan ada emisi karbon atau gas rumah kaca yang dilepas ke alam yang selanjutnya akan mempengaruhi lingkungan.

Jadi mulai sekarang, matikan listrik saat tidak digunakan. Gunakan air secukupnya dan matikan kran saat tidak digunakan. Dan cobalah mencari cara yang lebih ramah lingkungan.  

6. Konsumsi daging secara berlebihan

Mungkin kamu nggak mengira kalau gaya hidup yang satu ini nggak ramah lingkungan. Namun, tahukah kamu bahwa industri peternakan menyumbang gas metana dalam jumlah yang cukup besar?

Gas metana sendiri merupakan gas rumah kaca yang paling banyak diproduksi di dunia dan menyebabkan pemanasan global. Gas metana dihasilkan dari kotoran hewan dan fermentasi enternik.

Semakin banyak kebutuhan akan daging hewan, maka semakin banyak pula hewan yang dipelihara dan menyebabkan jumlah gas metana kian meningkat.

Gas metana dari sapi mencapai 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia. Padahal, metana mempertipis lapisan ozon yang melindungi bumi, sehingga suhu bumi perlahan-lahan meningkat.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *