Tag: media sosial

  • Dalam Lima Hari Pengguna Threads Telah Lampaui 100 Juta Orang

    Dalam Lima Hari Pengguna Threads Telah Lampaui 100 Juta Orang

    7cloud.asia – Dalam waktu lima hari, Threads, aplikasi media sosial baru yang diluncurkan Mark Zuckerberg telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna. 

    Artinya, Threads yang dibuat untuk menandingi Twitter ini telah mengalahkan rekor yang dibuat oleh aplikasi ChatGPT buatan Open AI.

    Threads mulai diluncurkan untuk perangkat Apple dan Android di 100 negara, Rabu (5/72023) lalu. Dan menurut data terbaru pengguna Threads telah melampaui angka 100 juta orang.

    Padahal, aplikasi tersebut tidak tersedia di Eropa karena undang-undang privasi data UE.

    Baca: Jenis pekerjaan yang belum akan tergusur oleh AI

    Mark Zuckerberg, direktur eksekutif Meta, yang juga memiliki Facebook, mengatakan Threads memiliki 10 juta pengguna dalam tujuh jam pertama peluncuran dan lebih dari 30 juta pengguna pada Kamis (06/07/2023 ) pagi waktu setempat.
     

    Sekitar 24 jam kemudian, angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat.

    Dengan 100 juta pengguna, menurut angka dari platform data Quiver Quantitative, jumlah pengguna Threads mencapai kurang dari sepertiga dari 350 juta pengguna reguler yang diyakini dimiliki oleh Twitter.

    Para pengamat memperkirakan, Threads akan mampu menarik pengguna Twitter yang tidak senang dengan perubahan kebijakan pada platform tersebut.

    Baca: Generasi alfa yang akan membentuk dunia kerja di masa yang akan datang

    Threads – yang saat ini belum diluncurkan di Uni Eropa – memungkinkan pengguna untuk mengunggah hingga 500 karakter, dan memiliki banyak fitur yang mirip dengan Twitter.

    Sebelumnya, Zuckerberg mengatakan ingin membuat platform yang “bersahabat… yang pada akhirnya akan menjadi kunci keberhasilan”.

    Tetapi pemilik Twitter, Elon Musk, menanggapi dengan: “Lebih baik diserang oleh orang asing di Twitter, daripada menikmati kebahagiaan palsu dan kesedihan di Instagram.”

    Ketika ditanya apakah aplikasi Threads akan “lebih besar dari Twitter”, Zuckerberg berkata: “Itu akan membutuhkan waktu, tapi saya kira harus ada aplikasi percakapan publik dengan lebih dari satu miliar orang di dalamnya.”

    Baca: Pandawara gandeng ribuan warga Lampung bersihkan pantai terkotor di Indonesia

    “Twitter punya kesempatan untuk wujudkan itu, meski belum berhasil. Mudah-mudahan kami bisa melakukannya.”

    Para pesaing mengkritik jumlah data yang mungkin digunakan aplikasi tersebut. Data itu termasuk kesehatan, keuangan, dan penjelajahan yang ditautkan ke identitas pengguna, menurut Apple App Store.

    Meta, yang menaungi Facebook dan Instagram, menyebut Threads sebagai “versi awal”, dengan fitur tambahan yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang-orang di aplikasi media sosial lain seperti Mastodon.

    “Visi kami dengan Threads adalah untuk mengambil yang terbaik dari Instagram dan mengembangkannya menjadi teks,” ujar perusahaan itu sebelum peluncuran.

    Baca: Kiat menggunakan internet secara ramah lingkungan

    Meskipun Threads menjadi aplikasi tersendiri, pengguna bisa masuk menggunakan akun Instagram. Nama pengguna Instagram akan tetap ada, namun ada opsi untuk menyesuaikan profil mereka khusus di Threads.

    Pengguna juga bisa memilih untuk mengikuti akun yang sama dengan yang mereka ikuti di Instagram, kata Meta.

    Sumber: BBC

  • Pengguna Mulai Tinggalkan Threads, Baca Penyebabnya di Sini

    Pengguna Mulai Tinggalkan Threads, Baca Penyebabnya di Sini

    7cloud.asia – Peluncuran Threads oleh Meta awal Juli lalu, disambut dengan antusiasme tinggi dari pengguna media sosial.

    Pasalnya, peluncuran Threads bersamaan dengan perubahan kebijakan aplikais media sosial  lainnya yakni Twitter yang banyak dikeluhkan pengguna.

    Apalagi, aplikais media sosial besutan Meta bernama Threads ini memiliki tampilan dan layanan yang mirip dengan Twitter.

    Usai diluncurkan pada 5 Juli 2023, pengguna Twitter pun ramai-ramai migrasi ke media sosial buatan perusahaan Mark Zuckerbreg itu. Hanya dalam waktu lima hari pengguna Threads tercatat sudah mencapai 100 juta orang.

    Baca Juga: Dalam Lima Hari Pengguna Threads Telah Lampaui 100 Juta Orang

    Catatan ini membuat Threads menjadi aplikasi media sosial tercepat yang mencapai 100 juta pengunduh, sehingga mengejutkan hampir semua orang.

    Kompas.com mengutip Mashable, menulis salah satu alasan Threads sukses sejak awal adalah kemudahan bagi pengguna Instagram untuk membuat akun.

    Mashbale memperkirakan jumlah pengguna Threads mungkin akan lebih besar lagi jika tersedia di Uni Eropa.

    Baca Juga: Kiat Menggunakan Internet yang Ramah Lingkungan

    Sayangnya, catatan mengesankan ini hanya berlangsung singkat. Pekan lalu, jumlah pengguna Threads dilaporkan terus mengalami penurunan.

    Sebuah analisis data yang dilakukan oleh Similarweb menunjukkan, jumlah pengguna aktif harian di Threads turun dari 49 juta menjadi 23,6 juta hanya dalam seminggu.

    Total menit penggunaan harian Threads juga mengalami penurunan dari 21 menit pada 7 Juli menjadi lebih dari 6 menit pada 14 Juli 2023.

    “Kami memang melihat keterlibatan menurun selama akhir pekan, dan pada hari Senin kami memperkirakan Threads memiliki 36,6 juta pengguna aktif di Android,” kata Manajer Wawasan Senior di Similarweb, David Carr, dikutip dari CNBC.

    Baca Juga: Seperti Apa Perwujudan Konsep Smart City atau Kota Pintar di IKN

    “Meskipun ada minat yang kuat untuk memeriksa aplikasi Threas pada awalnya, tidak setiap pengguna memiliki kebiasaan mengunjungi Threads sesering aplikasi sosial lainnya,” sambung dia.

    Diketahui, ada beberapa fitur dasar pada Twitter yang tidak dimiliki oleh Threads, termasuk emoji, tagar, dan tampilan kronologis yang menyulitkan pengguna beralih dari Twitter.

    Seorang juru bicara Threads menganggap wajar jika ledakan pendaftar berkurang saat pengguna menjelajahi layanan baru dari Meta tersebut.

    “Meskipun ini masih awal, kami senang dengan kesuksesan awal Threads, yang telah melampaui harapan kami,” ujarnya.

    Baca Juga: Perubahan Iklim Jadi Momentum Tuk Jalani Gaya Hidup Frugal Living

    Menurutnya, Threads saat ini akan memfokuskan diri pada kinerja stabil, fitur-fitur baru, dan meningkatkan pengalaman pengguna dalam beberapa bulan ke depan.

    Pihak Threads juga mencatat bahwa CEO Mark Zuckerberg berkomentar di Threads bahwa sebagian besar pertumbuhannya hingga 100 juta pendaftar adalah organik, bukan hasil promosi.

    Sementara itu, Kepala Instagram dan Threads di Meta Adam Mosseri mengatakan tidak memiliki rencana untuk memprioritaskan berita atau politik di platform baru.

    Baca Juga: Hidupmu Terasa Berat Penuh Beban? Tak Ada Salahnya Mencoba Gaya Hidup Minimalis

    Sumber: Kompas.com

  • Komisi VI DPR: Perdagangan Online di Media Sosial Harus Diatur untuk Lindungi UMKM

    Komisi VI DPR: Perdagangan Online di Media Sosial Harus Diatur untuk Lindungi UMKM

    7cloud.asia – Perdagangan online di media sosial menjadi sorotan publik karena dianggap turut mempengaruhi anjloknya penjualan pedagang kecil di  pasar tradisional.

    Ketua Komisi VI DPR Faisol Riza menilai, perlu adanya aturan tentang perdagangan online di media sosial untuk lindungi pedagang kecil.

    “Bagaimanapun juga itu (perdagangan online di media sosial, red) adalah aktivitas bisnis yang memerlukan pengaturan supaya ada perlindungan kalau ada masalah di kemudian hari,” ujar Faisol Riza kepada wartawan, Sabtu (23/9/2023).

    Baca Juga: Pedagang Pasar Tanah Abang Keluhkan Sepinya Pembeli

    Faisol Riza menyebut aturan mengenai perdagangan online di media sosial itu perlu disusun untuk perlindungan sesama pelaku usaha. Selain itu, agar tidak merugikan antara pedagang satu dan lainnya.

    “Juga mengatur harga supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan,” lanjut Faisol Riza.

    Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI M Sarmuji menyorot media sosial TikTok. Pasalnya, TikTok tidak hanya digunakan sebagai media sosial sehari-hari, tapi juga sebagai media berjualan.

    Baca Juga: DPR Ingatkan Ancaman Perdagangan Daring di Tiktok pada Produk Dalam Negeri

    Sarmuji menyebut, TikTok seharusnya tidak boleh berjualan langsung karena mereka adalah vendor medsos yang bisa menguasai data pengguna medsos.

    “Kalau mereka juga melakukan transaksi dagang langsung pasti mengancam pelaku usaha, baik offline maupun online karena mereka dapat menelusuri perilaku konsumen secara detail,” kata Sarmuji.

    Menurutnya, saat ini DPR tengah membicarakan hal ini bersama UMKM dan koperasi. Hasilnya, DPR sepakat mengatur penjualan melalui media sosial.

    Baca Juga: Dukung UMKM Tanah Air, TikTok Sebut Tak Akan Buka Project S di Indonesia.

    “Ini untuk melindungi UMKM kita dari predatory market melalui dunia digital,” lanjutnya.

    Diberitakan sebelumnya, Jokowi menyebut kementerian terkait akan membuat aturan mengenai e-commerce berbasis media sosial.

    Kebijakan ini dilakukan setelah jual beli secara online di media sosial mulai berdampak signifikan terhadap anjloknya pendapatan pedagang di pasar.

    Baca Juga: Bikin UMKM Ambruk, Pemerintah Akan Atur E-commerce Berbasis Media Sosial macam TikTokShop

    “Ini baru disiapkan. Itu kan lintas kementerian dan ini memang baru difinalisasi di Kementerian Perdagangan,” ujar Jokowi dalam keterangan yang diterima dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Sabtu (23/9/2023). 

    Jokowi mengatakan jualan secara online menggunakan medsos ini harus segera diatur karena dapat berdampak pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia serta aktivitas perekonomian di pasar.

    “Karena kita tahu itu berefek pada UMKM, pada produksi di usaha kecil, usaha mikro, dan juga pada pasar. Ada pasar, di beberapa pasar mulai anjlok menurun karena serbuan,” lanjutnya.

  • TikTok Shop Resmi Dilarang, Ini Penjelasan Pemerintah

    TikTok Shop Resmi Dilarang, Ini Penjelasan Pemerintah

    7cloud.asia – Pemerintah akhirnya resmi melarang e-commerce berbasis media sosial, seperti TikTok Shop, bertransaksi langsung di platform media sosial (medsos).

    Selanjutnya, pemerintah hanya akan memberi izin bagi medsos semacam TikTok Shop untuk mempromosikan barang atau jasa.

    Keputusan untuk melarang transaksi langsung di media sosial seperti TikTok Shop diputuskan dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (25/9/2023).

    Ratas tersebut dihadiri oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi, dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

    Baca: TikTok Shop bikin UMKM ambruk

    Larangan yang mengatur soal medsos seperti Tiktok Shop digunakan untuk bertransaksi langsung dituangkan dalam revisi Peraturan Mendag (Permendag) Nomor 50 Tahun 2020.

    Saat dihubungi, Zulhas menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada platform terkait larangan bertransaksi di medsos.

    “Setelah itu (revisi Permendag disahkan) dikasih tahu (sanksinya). Hari ini (revisi Permendag) ditandatangani,” ujar Zulhas saat dihubungi Kompas.com, Selasa (26/9/2023).

    Zulhas menyampaikan bahwa medsos dengan e-commerce akan dipisah. Nantinya, medsos hanya diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau jasa, seperti layaknya TV.

    Baca: Pedagang Pasar Tanah Abang keluhkan sepinya pembeli

    “Tidak boleh bayar langsung. Bayar langsung enggak boleh lagi. Dia (media sosial) hanya boleh untuk promosi seperti TV, TV kan boleh tapi enggak bisa terima uang,” ujarnya dikutip dari kanal YouTube Setpres.

    Zulhas juga menyampaikan, dilarangnya medsos sebagai tempat bertransaksi dimaksudkan supaya algoritma tidak dikuasai oleh platform.

    “Ini mencegah penggunaan data pribadi untuk kepentingan bisnis,” tandas Zulhas.

    Ia menjelaskan, pemerintah juga akan mengatur mekanisme masuknya barang dari luar negeri ke Indonesia dalam positive list yang sebelumnya disebut negative list.

    Dalam list tersebut, pemerintah mengatur barang apa saja yang boleh masuk.

    Baca: Pembeli sepi, banyak pedagang pasar Tanah Abang tunggak sewa kios

    Nantinya, barang dari luar negeri akan diperlakukan sama dengan produk dalam negeri, seperti sertifikasi halal atau izin edarnya.

    “Kalau makanan harus ada sertifikasi halal. Kalau beauty itu harus ada BPOM-nya,” tandas Zuhas.

    Pemerintah menyebutkan sejumlah alasan mengapa transaksi di medsos, seperti TikTok Shop, tidak diperbolehkan. Berikut penjelasan dari Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri.

    Presiden Jokowi, seperti diilansir dari Kompas TV, larangan medsos digunakan sebagai e-commerce seperti Tiktok Shop dimaksudkan sebagai payung hukum untuk transformasi digital.

    Sebab perdagangan berbasis online di mana seller atau penjual bisa bertransaksi secara langsung di medsos, menurut Jokowi berdampak pada anjloknya penjualan UMKM dan pedagang pasar.

    Baca: TikTok nggak boleh buka Project S

    Jokowi mengatakan, larangan transaksi langsung di medsos bertujuan untuk memayungi UMKM dari terjangan dunia digital. Ia mengakui bahwa aturan tersebut terlambat dikeluarkan sehingga berdampak ke banyak hal.

    Padahal, menurut data Kemenkop UKM, kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 60,51 persen dengan nilai transaksi sebesar Rp 9.580 triliun.

    “Tadi baru saja kita rapat terbatas memutuskan mengenai sosial media yang digunakan untuk e-commerce. besok mungkin keluar (aturannya). Karena dampaknya memang sangat dahsyat sekali. Kita terlambat hanya beberapa bulan saja efeknya ke mana-mana,” ujar Jokowi.

    Disebutkan bahwa nilai barang yang terjual atau transaksi di e-commerce bisa mencapai triliunan rupiah.

    Di Shopee, nilai barang yang terjual mencapai Rp 277,6 triliun. Sementara, nilai barang terjual di TikTok sebesar Rp 38,5 triliun.

     

  • Tanggapan TikTok Soal Larangan Transaksi di Media Sosial

    Tanggapan TikTok Soal Larangan Transaksi di Media Sosial

    7cloud.asia – Aplikasi media sosial asal China, Tik Tok menyesalkan keputusan pemerintah Indonesia melarang transaksi e-commerce di platform media sosial seperti TikTok Shop

    Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (28/9/2023) TikTok mengkhawatirkan kemungkinan dampak pelarangan ini terhadap jutaan penjual yang memanfaatkan TikTok Shop.

    Indonesia melarang transaksi barang-barang di platform media sosial seperti TikTok Shop dalam upaya melindungi usaha kecil dari persaingan e-commerce.

    Transaksi di media sosial yang dilakukan di TikTok Shop ini dinilai menerapkan predatory pricing (banting harga) sehingga memukul UMKM.

    Baca: TikTok Shop resmi dilarang, ini penjelasan pemerintah

    Larangan transaksi di media sosial macam TikTok ini diatur dalam Permendag no 11/2023 yang diteken pada Selasa (26/9/2023)/

    Drei Permana, seorang pengguna TikTok , mengatakan ia akan kehilangan pembelian yang mudah dan murah dengan aplikasi itu.

    Di Indonesia, negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, TikTok memiliki 2 juta pedagang kecil yang menjual barang-barang mereka di platform ini.

    Baca: TikTok Shop bikin ambruk UMKM di Indonesia

    Dilansir VOA Indonesia Asia Tenggara, kawasan berpenduduk lebih dari 675 juta orang, adalah salah satu pasar terbesar TikTok dalam hal jumlah pengguna.

    Indonesia telah mendatangkan lebih dari 325 juta pengunjung ke aplikasi TikTok itu setiap bulan.

    TikTok memiliki 8.000 karyawan untuk memfasilitasi transaksi senilai 4,4 miliar dolar AS di kawasan tersebut tahun lalu, naik dari 600 juta dolar AS pada tahun 2021.

    Baca: Pedagang Pasar Tanah Abang keluhkan sepi pembeli

    Tetapi TikTok masih jauh tertinggal di belakang penjualan regional Shopee yang bernilai 48 miliar dolar AS pada tahun 2022, menurut layanan pengembangan bisnis berbasis di Singapura, Momentum Works.

    Berbagai negara, termasuk AS, Inggris dan Selandia Baru telah melarang penggunaan aplikasi TikTok ini di telepon milik pemerintah.

    TikTok sendiri telah berulang kali membantah bahwa pihaknya berbagi data dengan pemerintah China dan tidak akan melakukannya jika diminta.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Perang Israel – Palestina Rambah Media Sosial, Konten Soal Palestina Dibatasi

    Perang Israel – Palestina Rambah Media Sosial, Konten Soal Palestina Dibatasi

    7cloud.asia – Organisasi non-pemerintah Sada Social, menemukan adanya upaya perusahaan media sosial untuk menghapus konten-konten tentang Palestina sejak konflik Israel-Palestina terjadi pada 7 Oktober 2023.

    Temuan Sada Social ini dihasilkan dari pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran digital terhadap konten Palestina di media sosial. 

    Dilansir kantor berita Palestina WAFA, Sada Social mengatakan bahwa ada upaya global untuk membungkam narasi Palestina dalam menceritakan peristiwa yang sedang terjadi di media sosial

    Di sisi lain pemerintah dan platform media sosial di seluruh dunia sepenuhnya mendukung dan mempromosikan narasi Israel.

    Baca: PBB serukan koridor kemanusiaan untuk Palestina

    Menurut Sada Social, Uni Eropa telah meminta platform media sosial untuk menghapus konten-konten terkait Palestina. Platform-platform itu diberi waktu 24 jam untuk mengambil tindakan.

    Jika tidak, mereka diancam akan menghadapi konsekuensi hukum, didenda dan dilarang penggunaannya di Eropa.

    Menanggapi eskalasi di Palestina, Facebook mengubah kebijakan privasi kontennya pada 11 Oktober.

    Facebook menekankan pembatasan terhadap “individu dan organisasi berbahaya,” termasuk sebagian besar narasi Palestina dan hasil liputan wartawan Palestina.

    Baca: Akar konflik Israel Palestina sudah berlangsung seratus tahun

    CEO Meta Mark Zuckerberg, yang memiliki platform termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, Threads, dan Messenger, menyatakan dengan tegas dukungannya terhadap Israel di tengah pembersihan etnis warga sipil di Gaza, kata Sada Social.

    Pada Senin, 10 Oktober, X menyatakan bahwa mereka bermitra dengan Forum Internet Global untuk Melawan Terorisme untuk menghapus konten-konten yang berkaitan dengan gerakan Hamas dan akun-akun Palestina.

    Sekitar 50 juta cuitan sedang diawasi secara global, dan X telah menghapus ratusan akun warga Palestina.

    Baca: Dunia serukan perang Israel Palestina segera diakhiri

    YouTube juga telah menghapus video-video yang menggambarkan peristiwa yang terjadi di Palestina.

    Platform tersebut secara khusus mengingatkan pengguna bahwa, meskipun video tersebut tidak melanggar standar komunitas, video tersebut mungkin saja tidak sesuai untuk semua penonton.

    TikTok menangguhkan beberapa akun warga Palestina dan membatasi atau melarang video-video yang menunjukkan solidaritas dan dukungan terhadap Palestina.

    Messenger, yang dimiliki oleh Meta, melarang para penggunanya untuk mengirimkan tautan situs web resmi dan tautan saluran Telegram gerakan Hamas.

    Baca: Indonesia serukan perang Israel Palestina diakhiri

    Mereka juga melarang tautan situs web resmi dan tautan saluran Telegram Brigade Izz ad-Din al-Qassam.

    Ratusan profil palsu di berbagai platform terdeteksi menyerang warga Palestina, menghasut kekerasan terhadap mereka, dan menyebarkan berita palsu. Platform belum menghapus akun-akun ini, kata NGO tersebut.

    Sada Social mengatakan bahwa tindakan itu merupakan upaya untuk menghalangi akses terhadap kebenaran dan berkontribusi pada penyebaran rumor dan berita palsu, terutama pada situasi krisis seperti sekarang.

    Mereka mengizinkan Israel untuk menceritakan peristiwa-peristiwa dari sudut pandangnya, tetapi membatasi suara warga Palestina.

    Baca: Indonesia kembali terpilih jadi anggota Dewan HAM PBB

    Perusahaan-perusahaan media sosial telah menerapkan pembatasan yang lebih ketat terhadap konten berbahasa Arab, tetapi tidak menerapkan pembatasan serupa terhadap konten berbahasa Ibrani, katanya.

    “Sensor dan pembatasan konten di internet sama bahayanya dengan aktivitas fisik militer. Tanpa akuntabilitas atau tanggung jawab, penyaringan konten menambah agresi dan kejahatan nyata terhadap warga,” kata Sada Social

    Sebagai akibat dari meluasnya hasutan untuk membunuh warga Palestina di platform media sosial, Sada Social merekomendasikan agar setiap unggahan yang bersifat menghasut segera dilaporkan agar dihapus.

    Sumber: Antaranews.com

  • Milenial Tinggalkan Bahasa Daerah, DPR Ajak Manfaatkan Media Sosial Jadi Wadah Promosi

    Milenial Tinggalkan Bahasa Daerah, DPR Ajak Manfaatkan Media Sosial Jadi Wadah Promosi

     

    7cloud.asia – Sebuah penelitian badan budaya PBB, UNESCO terungkap bahwa setiap dua minggu satu bahasa daerah di dunia punah. Hal juga terjadi di Indonesia 

    Hal ini sangatlah disayangkan karena bahasa daerah menjadi kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia.

    Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mendorong penggunaan media sosial (medsos) sebagai wadah promosi bahasa daerah. 

    Langkah mempelajari bahasa daerah lewat konten medsos, selain di sekolah formal menurutnya bisa menjadi langkah yang efektif.

    “Kita tadi terpikir bahwa salah satu hal yaitu pengembangan atau pemanfaatan teknologi di dalam kita membudayakan bahasa daerah. Ini mungkin yang masih sangat kurang,” ujarnya usai kunjungan kerja spesifik (kunspek) Komisi X DPR RI ke Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kamis (21/3/2024).

    Terlebih lagi katanya, anak-anak muda kini lebih senang belajar dengan metode yang interaktif. Sebagai contoh, kini tersedia banyak platform digital untuk belajar bahasa inggris.

    Baca: Kemendikbud berhasil identifikasi 718 bahasa di Indonesia

    Bukan cuman kamus yang dibutuhkan tetapi sesuatu yang lebih interaktif, di mana anak-anak muda bisa belajar bahasa yang benar tentang bahasa daerahnya itu.

    “Aplikasi-aplikasi seperti ini yang sangat jauh dibanding dengan bahasa inggris misalnya,” ujar Hetifah.

    Hetifah juga melihat, di media sosial kini ada beberapa anak muda konten kreator yang menggunakan bahasa daerah dalam kontennya.

    Di daerah-daerah juga kata dia ada Duta Bahasa. Maka elok menurutnya jika pemerintah merangkul dan mendorong mereka sebagai subjek pelestari bahasa daerah.

    Kalau bisa pemerintah, lanjutnya, apakah itu Badan Bahasa atau Balai Bahasa, Kantor-Kantor Bahasa itu libatkan (konten kreator). Sekarang juga setau saya ada Duta-Duta Bahasa.

    “Jadi anak-anak muda ini menurut saya perlu dilibatkan dan diberikan peran yang lebih besar lagi untuk melestarikan bahasa daerah,” ucapnya.

    Baca: Separuh dari sekitar 6000 bahasa lokal di dunia terancam punah

    Terpisah, Anggota Komisi X DPR Zainuddin Maliki mengatakan pihaknya ingin memfokuskan bagaimana Pemkot Serang memajukan, mengaktualisasikan, dan merevitalisasi bahasa daerah, khususnya Jawa Serang.

    Menurutnya, secara umum, perhatian masyarakat terhadap bahasa daerah ada kecenderungan untuk melemah.

    Hal ini terkonfirmasi dari kajian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Bahwa, bahasa daerah itu sebagai suatu bentuk kearifan lokal itu dimiliki oleh orang-orang tua atau generasi kolonial.

    Sebaliknya, bagi generasi milenial sudah sangat berkurang memahami dan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar mereka.

    “Ini menurut saya harus menjadi perhatian. Karena bahasa daerah sesungguhnya merupakan akar jati diri bangsa kita. Jadi kita jangan sampai mengalami tercerabut dari akar budaya kita,” jelas Zainuddin kepada Parlementaria, di sela-sela pertemuan, di Serang, Banten, Kamis (21/3/2024).

    Menurut Politisi Fraksi PAN itu, Bahasa merupakan gambaran dari budaya masyarakat.

    Jadi, pilihan bahasa yang dipakai mencerminkan budaya. Bahasa Indonesia, misalnya, adalah bahasa yang menggambarkan corak budaya yang egaliter dengan derajat yang sama.

    Baca: UNESCO tetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi

    “Sehingga kalau sebut orang kedua relatif sama, misalnya dengan istilah engkau, kamu, dan anda. Ini relatif egaliter. Tapi kalau bahasa daerah, itu hierarkinya lebih jelas,” jelas doktor dari Universitas Airlangga tersebut..

    Kalau bahasa Jawa yang saya tahu, untuk menyebut diri kita sendiri kalau menggunakan Bahasa Jawa ada kulo, itu bahasa yang paling rendah, kromo yang paling rendah. Kemudian ada kawulo, kromo madyo.

    Kemudian ada dalem, kromo yang paling tinggi. Ini mengajarkan kepada kita menghargai orang lain yang lebih tua, senior, dan sebagainya. Ini mengajarkan etika yang sangat bagus

    Pembelajaran berbahasa daerah yang menghargai orang lain ini, menurutnya, menjadi relevan ketika masyarakat sedang mengalami krisis etika.

    Rasa menghargai martabat orang lain yang sedang hilang dalam situasi seperti ini sangat bermanfaat utnuk merevitalisasi bahasa daerah.

    Dari bahasa daerah, ujarnya, kita diperkenalkan untuk menghargai orang lain. Cara menghadapi sesama, menghargai senior, masyarakat dan bernegara ini.

    “Dengan begitu, akan lahir manusia Pancasila yang akan menerapkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” tutupnya.

     

     

  • Sudahkah Anda Gabung di Aksi Blokir Akun Selebritas Bernama Blockout2024?

    Sudahkah Anda Gabung di Aksi Blokir Akun Selebritas Bernama Blockout2024?

    7cloud.asia – Sebuah gerakan yang dikenal sebagai “Blockout2024” mendapat perhatian di media sosial di banyak belahan dunia.

    Gerakan Blockout2024 ini mendesak pengguna media sosial untuk memblokir akun selebriti yang tetap bungkam mengenai krisis kemanusiaan di Gaza.

    Lewat gerakan Blockout2024 ini, warganet di seluruh dunia mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap para selebriti karena tidak menyadari situasi mengerikan di Gaza, Palestina.

    Lewat gerakan Blockout202 ini, warganet mendesak para selebritas untuk menggunakan pengaruh mereka untuk menarik perhatian terhadap situasi di Gaza.

    Baca Juga: AS Sebut Penggunaan Senjata yang Disuplainya oleh Israel Kemungkinan Melanggar Prinsip Internasional

    Seorang pengguna TikTok yang terlibat dalam gerakan tersebut menyatakan tujuannya adalah untuk “menghentikan aliran pendapatan dan popularitas tertentu” dari para selebriti.

    Para pengguna media sosial yang terorganisir membagikan daftar selebriti untuk diblokir, yang menyebabkan hilangnya pengikut beberapa tokoh masyarakat secara signifikan di Instagram dan platform lainnya

    Social Blade, situs analisis media sosial yang berbasis di Amerika Serikat melansir, selebritis yang masuk daftar gerakan Blockout2024 di antaranya adalah penyanyi dan aktris Selena Gomez, penyanyi dan aktris Zendaya.

    Pemengaruh media sosial Kim Kardashian dan sang adik Kylie Jenner yang kehilangan ratusan ribu bahkan jutaan pengikut baik di Instagram dan X.

    Baca Juga: Unjukrasa Pro-Palestina Tolak Keikutsertaan Israel di Kompetisi Lagu Pop Eurovision di Malmo, Swedia

    Selain itu ada juga penyanyi Beyonce dan Rihanna serta pencipta lagu dan penyanyi Billie Eilish yang kehilangan 1,1 juta pengikut di Instagram.

    Gerakan ini dipicu oleh video TikTok dari pemengaruh Haley Kalil di Met Gala pada 7 Mei, yang melakukan sinkronisasi bibir dengan kalimat “Biarkan mereka makan kue.”

    Ungkapan ini mirip dengan Revolusi Perancis ketika ketidakpedulian Ratu Marie Antoinette terhadap penderitaan orang miskin menjadi simbolis.

    Video Kalil mendapat dukungan secara masif dan reaksi keras di media sosial.

    Baca Juga: Demonstrasi Pro-Palestina Berlangsung di Kampus-kampus Seantero AS

    Seorang pengguna TikTok membagikan video yang menyatakan: “Sudah waktunya bagi masyarakat untuk melakukan ‘guillotine digital’ kepada semua selebriti yang tidak menggunakan sumber daya mereka untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan.”

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

     

  • Survei: Generasi Muda Cenderung Mencari Informasi dalam Bentuk Video di Media Sosial

    Survei: Generasi Muda Cenderung Mencari Informasi dalam Bentuk Video di Media Sosial

    7cloud.asia – Sebuah survei terkait media menjelaskan bahwa generasi muda saat ini cenderung memilih konten informasi yang disajikan melalui video di media sosial ketimbang membaca konten teks.

    Kecenderungan anak muda memilih konten video di media sosial ini terungkap dalam sesi diskusi panel Forum Media Global 2024 (GMF24) di Pusat Konferensi Dunia (WCCB) di Bonn pada Selasa (18/6/2024).

    “Karena melalui video lebih cepat mendapatkan informasi,” kata peneliti senior Reuters Institute for the Study of Journalism Nic Newman terkait konten video di media sosial.

    Menurut Nic, pihaknya melakukan survei secara daring kepada 2.000 responden berbahasa Inggris di sepuluh negara pengguna antara lain Thailand, Kenya, Malaysia, Indonesia, dan Afrika Selatan.

    Baca: Banyak media cetak yang mati di era digital

    Adapun pertanyaan yang diajukan terkait platform yang sering digunakan untuk mendapatkan berita.

    Sebesar 23 persen dari responden berusia 18-24 tahun menyatakan memanfaatkan TikTok untuk mendapatkan berita, sementara 43 persen menggunakannya untuk segala pencarian, dan sisanya untuk hal lain.

    Nic mengungkap terdapat tiga pertimbangan dari respondennya melihat tayangan di media sosial, pertama karena dinilai tanpa ada rekayasa dan tidak ada bias, maupun agenda tertentu dalam konten.

    “Mengapa mereka menyukai tayangan karena rasa percaya… Alasan lain juga karena menilai tidak ada agenda tertentu dari media arus utama,” jelas Nic.

    Baca: Surat kabar tertua di dunia berhenti terbit

    Hal kedua yakni karena tayangan berdurasi pendek menyajikan konten secara ringkas sehingga lebih mudah dicerna.

    “Namun hal itu juga tergantung algoritma yang menyajikan konten relevan sesuai dengan keinginan personal,” tambah Nic terkait variasi konten yang disajikan di media sosial.

    Selanjutnya hal ketiga yakni terkait beragam perspektif dan kelengkapan konten dalam platform media sosial.

    “Mereka bisa menemukan hampir semua topik dari beragam perspektif. Video panjang untuk konten khusus berkedalaman, sementara video pendek untuk pratinjau,” tulis laporan itu.

    Baca: National Geographic setop edisi cetak

    Lembaga Penyiaran Publik Jerman Deutsche Welle telah menyelenggarakan Forum Media Global 2024 (GMF24) dengan tema “Berbagi solusi” pada 17-18 Juni 2024 dengan dukungan Kementerian Luar Negeri Jerman dan Pemerintah Negara Bagian Rhine Westphalia Utara.

    Diskusi dalam sesi panel GMF24 pada hari kedua juga mengangkat perihal keamanan-keselamatan jurnalis, masa depan jurnalisme, serta pemanfaatan kecerdasan buatan.

  • Tak Hanya Siswa, Guru Juga Perlu Aktif di Media Sosial. Ini Alasannya

    Tak Hanya Siswa, Guru Juga Perlu Aktif di Media Sosial. Ini Alasannya

    7cloud.asia – Media sosial (medsos) merupakan laman atau aplikasi yang memungkinkan penggunanya membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial.

    Di Indonesia, 10 platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah: WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, Telegram, X (dulunya Twitter), Facebook Messenger, Pinterest, Kuaishou, dan LinkedIn.

    Popularitas media sosial juga merambah dunia pendidikan. Selain siswa, banyak guru juga aktif membuat konten di media sosial.

    Baru-baru ini, misalnya, warganet Indonesia memperbincangkan sosok Melan Achmad, seorang pensiunan guru yang secara konsisten mengajar matematika melalui siaran langsung di TikTok.

    Ini merupakan langkah positif karena media sosial dapat menjadi ruang bagi guru untuk mengoreksi informasi yang tidak akurat, mengembangkan metode belajar yang lebih interaktif dan mengembangkan diri melalui jejaring.

    Baca: Generasi muda cenderung mencari informasi di media sosial

    Ada tiga alasan utama mengapa guru perlu hadir di media sosial, yaitu:

    1. Sebagai mekanisme koreksi dan konfirmasi
    Jumlah pengguna media sosial yang berusia dini atau kalangan pelajar di Indonesia sangatlah signifikan.

    Pendaftaran ke media sosial memang bisa dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua, dengan memodifikasi tanggal lahir mereka sendiri meski media sosial seperti Instagram, Facebook, Snapchat, TikTok, dan YouTube (kecuali YouTube Kids), telah sepakat melarang anak-anak di bawah usia 13 tahun mengakses platform mereka.

    Realita ini mengkhawatirkan, sebab pelajar saat ini lebih suka menggunakan media sosial untuk mencari tahu informasi secara cepat, termasuk untuk kepentingan studi mereka.

    Padahal, mayoritas pengguna internet usia muda, terutama yang berlatar belakang sosial ekonomi rendah, belum memiliki literasi yang baik.

    Artinya, mereka belum memiliki keterampilan dalam menangkap dan mengolah berita dari media, seperti mengenali bias politik atau mengidentifikasi bahwa sebuah unggahan di media sosial telah disponsori oleh pihak tertentu.

    Memang sudah banyak ditemukan konten berisi pengetahuan dan informasi yang bebas tersedia di media sosial. Sebut saja Bright Side, Did You Know, dan Seputar Info 21.

    Baca: Pemerintah berencana membentuk Dewan Media Sosial

    Sayangnya, sumber daya ilmu pengetahuan umum tersebut tidak semuanya dapat diverifikasi kebenarannya karena bisa berasal dari sembarang orang tanpa latar belakang profesi atau pendidikan yang relevan.

    Di sinilah peran guru di media sosial diperlukan. Tak hanya di kelas, guru perlu mendampingi siswa-siswi dalam pembelajaran mereka melalui dunia maya, semisal dengan melakukan klarifikasi atas informasi yang keliru.

    Guru juga bisa hadir dengan kepakarannya masing-masing melalui akun medsosnya, untuk mengimbangi dan mengonfirmasi pengetahuan yang tersebar masif tanpa kendali di media sosial.

    2. Media berbagi dan kolaborasi
    Guru, secara pribadi maupun berkelompok, bisa membuat dan mengunggah konten dalam berbagai format yang berisi pemaparan materi sesuai dengan mata pelajarannya di media sosial.

    Konten tersebut bisa ditujukan secara terbatas kepada murid-murid yang ia ajar saja atau kepada publik luas dengan tujuan berbagi pengetahuan.

    Salah satu contoh dari aktivitas ini adalah akun bernama John Pare milik seorang pengajar di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Jawa Timur.

    Baca: Elon Musk bakal izinkan konten dewasa di platform X

    Secara rutin, dia membagikan pengetahuannya tentang bahasa asing yang ia ajarkan melalui akun medsosnya Mr.Johnhid.

    Contoh lainnya adalah kanal The Crash Course yang dipandu kakak beradik John Green dan Hank Green.

    Saluran YouTube ini menyajikan berbagai bahasan pelajaran, mulai dari sejarah, biologi, kimia, dan bahkan sastra, dengan sering berkolaborasi dengan beragam guru atau pakar pada bidangnya masing-masing.

    Pada kategori serupa, mungkin kamu juga mengenal Khan Academy dan Kok Bisa. Para kreator dari ketiga kanal tersebut memberikan keleluasaan bagi guru-guru untuk menggunakan konten mereka dalam kegiatan belajar-mengajar di lingkungan sekolah.

    Alih-alih mengulang materi yang sama dalam beberapa sesi berbeda, guru sebetulnya dapat membagikan tautan unggahan terkait suatu bahasan kepada siswa untuk dipelajari terlebih dahulu di rumah, sebelum akhirnya didiskusikan atau dilakukan praktikum di dalam kelas.

    Konsep inilah yang sebenarnya menjadi gagasan dalam pembelajaran terbalik (the flipped classroom) yang tengah populer diadopsi oleh sekolah-sekolah di kawasan Eropa, Amerika Utara, Cina, dan Australia.

    Hal ini terjadi setelah diperkenalkannya video sebagai media pembelajaran beberapa tahun silam.

    Baca: Penggunaan media sosial untuk kembangkan bahasa daerah

    Platform media sosial juga bisa digunakan sebagai alat pembelajaran-terbuka (open-learning tool), sehingga idealnya, mampu menciptakan iklim belajar interaktif.

    Hal tersebut dapat ditandai dengan adanya diskusi-diskusi di kalangan siswa. Aktivitas inilah yang kemudian mampu mengarahkan mereka pada kegiatan pembelajaran kolaboratif ketimbang kompetisi tidak sehat demi mencapai nilai tertentu.

    3. Mengembangkan diri dan berjejaring
    Media sosial juga memberi kesempatan bagi guru untuk memperluas pengetahuan dan membangun koneksi profesional.

    Dengan bergabung dalam sebuah komunitas, guru dapat berdiskusi tentang topik-topik yang menarik dan relevan, seperti metode dan teknik pengajaran, atau evaluasi.
    Partisipasi di forum seperti ini tidak hanya memperkaya informasi, tetapi juga meningkatkan reputasi profesional dan prospek karier.

    Dengan membuat branding personal dan menunjukkan ketertarikan secara positif pada dunia pendidikan melalui medsos, guru dapat membantu mempromosikan sekolah mereka kepada calon siswa baru, menarik minat calon guru untuk melamar, dan bahkan memperbaiki citra profesi guru di masyarakat.

    Selain itu, keterbukaan dan kelancaran komunikasi antara guru dan orang tua siswa juga dapat terfasilitasi di media sosial.

    Melalui media sosial, orang tua bisa turut memantau bahkan terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar anak-anak mereka, tentunya dengan tetap menjaga keseimbangan antara penggunaan medsos dengan aspek-aspek dalam kehidupan lainnya, seperti peran sosial, etika, tata krama, dan sebagainya.

    Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penggunaan media sosial sebagai sarana pendidikan. Apa saja hal itu, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Elga Ahmad Prayoga, Doctorant, Université de Genève