Milenial Tinggalkan Bahasa Daerah, DPR Ajak Manfaatkan Media Sosial Jadi Wadah Promosi

Written by

in

 

7cloud.asia – Sebuah penelitian badan budaya PBB, UNESCO terungkap bahwa setiap dua minggu satu bahasa daerah di dunia punah. Hal juga terjadi di Indonesia 

Hal ini sangatlah disayangkan karena bahasa daerah menjadi kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mendorong penggunaan media sosial (medsos) sebagai wadah promosi bahasa daerah. 

Langkah mempelajari bahasa daerah lewat konten medsos, selain di sekolah formal menurutnya bisa menjadi langkah yang efektif.

“Kita tadi terpikir bahwa salah satu hal yaitu pengembangan atau pemanfaatan teknologi di dalam kita membudayakan bahasa daerah. Ini mungkin yang masih sangat kurang,” ujarnya usai kunjungan kerja spesifik (kunspek) Komisi X DPR RI ke Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kamis (21/3/2024).

Terlebih lagi katanya, anak-anak muda kini lebih senang belajar dengan metode yang interaktif. Sebagai contoh, kini tersedia banyak platform digital untuk belajar bahasa inggris.

Baca: Kemendikbud berhasil identifikasi 718 bahasa di Indonesia

Bukan cuman kamus yang dibutuhkan tetapi sesuatu yang lebih interaktif, di mana anak-anak muda bisa belajar bahasa yang benar tentang bahasa daerahnya itu.

“Aplikasi-aplikasi seperti ini yang sangat jauh dibanding dengan bahasa inggris misalnya,” ujar Hetifah.

Hetifah juga melihat, di media sosial kini ada beberapa anak muda konten kreator yang menggunakan bahasa daerah dalam kontennya.

Di daerah-daerah juga kata dia ada Duta Bahasa. Maka elok menurutnya jika pemerintah merangkul dan mendorong mereka sebagai subjek pelestari bahasa daerah.

Kalau bisa pemerintah, lanjutnya, apakah itu Badan Bahasa atau Balai Bahasa, Kantor-Kantor Bahasa itu libatkan (konten kreator). Sekarang juga setau saya ada Duta-Duta Bahasa.

“Jadi anak-anak muda ini menurut saya perlu dilibatkan dan diberikan peran yang lebih besar lagi untuk melestarikan bahasa daerah,” ucapnya.

Baca: Separuh dari sekitar 6000 bahasa lokal di dunia terancam punah

Terpisah, Anggota Komisi X DPR Zainuddin Maliki mengatakan pihaknya ingin memfokuskan bagaimana Pemkot Serang memajukan, mengaktualisasikan, dan merevitalisasi bahasa daerah, khususnya Jawa Serang.

Menurutnya, secara umum, perhatian masyarakat terhadap bahasa daerah ada kecenderungan untuk melemah.

Hal ini terkonfirmasi dari kajian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Bahwa, bahasa daerah itu sebagai suatu bentuk kearifan lokal itu dimiliki oleh orang-orang tua atau generasi kolonial.

Sebaliknya, bagi generasi milenial sudah sangat berkurang memahami dan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar mereka.

“Ini menurut saya harus menjadi perhatian. Karena bahasa daerah sesungguhnya merupakan akar jati diri bangsa kita. Jadi kita jangan sampai mengalami tercerabut dari akar budaya kita,” jelas Zainuddin kepada Parlementaria, di sela-sela pertemuan, di Serang, Banten, Kamis (21/3/2024).

Menurut Politisi Fraksi PAN itu, Bahasa merupakan gambaran dari budaya masyarakat.

Jadi, pilihan bahasa yang dipakai mencerminkan budaya. Bahasa Indonesia, misalnya, adalah bahasa yang menggambarkan corak budaya yang egaliter dengan derajat yang sama.

Baca: UNESCO tetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi

“Sehingga kalau sebut orang kedua relatif sama, misalnya dengan istilah engkau, kamu, dan anda. Ini relatif egaliter. Tapi kalau bahasa daerah, itu hierarkinya lebih jelas,” jelas doktor dari Universitas Airlangga tersebut..

Kalau bahasa Jawa yang saya tahu, untuk menyebut diri kita sendiri kalau menggunakan Bahasa Jawa ada kulo, itu bahasa yang paling rendah, kromo yang paling rendah. Kemudian ada kawulo, kromo madyo.

Kemudian ada dalem, kromo yang paling tinggi. Ini mengajarkan kepada kita menghargai orang lain yang lebih tua, senior, dan sebagainya. Ini mengajarkan etika yang sangat bagus

Pembelajaran berbahasa daerah yang menghargai orang lain ini, menurutnya, menjadi relevan ketika masyarakat sedang mengalami krisis etika.

Rasa menghargai martabat orang lain yang sedang hilang dalam situasi seperti ini sangat bermanfaat utnuk merevitalisasi bahasa daerah.

Dari bahasa daerah, ujarnya, kita diperkenalkan untuk menghargai orang lain. Cara menghadapi sesama, menghargai senior, masyarakat dan bernegara ini.

“Dengan begitu, akan lahir manusia Pancasila yang akan menerapkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” tutupnya.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *