Tag: obesitas

  • Pelajaran dari Meninggalnya Penderita Obesitas Akibat Sepsis

    Pelajaran dari Meninggalnya Penderita Obesitas Akibat Sepsis

    7cloud.asia – Fajri, laki-laki obesitas meninggal pada Kamis (22/6/2023) kemarin. Saat meninggal berat badan Fajri mencapai 300 kilogram. Diduga Fajri mengalami sepsis atau komplikasi berbahaya akibat respons tubuh terhadap infeksi.

    Pada saat terjadi infeksi, sistem kekebalan tubuh akan aktif untuk melawan infeksi tersebut. Saat terjaid sepsis dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis sehingga terjadi kerusakan pada organ dan jaringan tubuh, bahkan bisa mengancam nyawa penderitanya.

    Sepsis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh melawan infeksi secara berlebihan dan tidak terkendali sehingga berdampak buruk bagi tubuh penderitanya.

    Baca: IDI minta draf RUU Kesehatan dibuka secara transparan

    Kasus kematian akibat syok sepsis bisa mencapai 30-50 persen. Maka syok sepsis sangat berbahaya jika tidak tertangani dengan cepat.

    Tahapan sepsis terdiri dari sepsis, yakni saat infeksi masuk aliran darah dan menyebabkan peradangan di tubuh. Jika tidak ditangani segera maka bisa terjadi sepsis berat di mana terjadi infeksi cukup parah yang memengaruhi fungsi organ.

    Tahap akhir sepsis adalah syok sepsis, yaitu penurunan tekanan darah drastis, gagal napas, gagal jantung,stroke, disfungsi organ. Syok sepsis ini ditandai dengan detak jantung cepat.

    Demam atau hipotermia, kulit hangat lembab dan berkeringat, hiperventilasi atau nafas pendek dan sesak nafas juga merupakan gejala syok sepsis.  

    Baca: Seperti ini protokol kesehatan saat endemi Covid-19

    Obesitas sendiri diketahui mengurangi harapan hidup secara keseluruhan dan dikaitkan dengan peningkatan insiden kondisi kesehatan kronis seperti diabetes melitus tipe dua, hipertensi, gagal jantung, dan penyakit arteri koroner. 

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai indeks massa tubuh (BMI) lebih besar dari 30 kilogram/m. 

    Lantas seberapa besar pengaruh obesitas terhadap kematian pada orang dewasa yang membutuhkan pengobatan untuk sepsis?

    Baca: Usia reproduksi terbaik pada perempuan

    Di dunia, ada banyak kasus kematian pada pasien obesitas yang mengalami sepsis. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengungkap pengaruh obesitas dan sepsis secara pasti

    Dilansir ncbi.nlm.nih.gov studi yang mengevaluasi efek ini tidak konsisten dan masih ada peningkatan morbiditas yang terkait dengan obesitas. 

    Selain itu, ada banyak keterbatasan pada studi-studi terkait pengaruh obesitas pada sepsis yang membingungkan interpretasi. Studi prospektif di masa depan meminimalkan bias dan faktor pembaur disarankan untuk mengatasi masalah klinis yang penting ini.

    Baca: Olahraga pada sore hari efektif untuk penderita Diabetes tipe 2

    Hanya saja obesitas telah menjadi tantangan dunia kedokteran. Data yang ada mencatat sekitar 70 persen orang dewasa di Amerika Serikat kelebihan berat badan dan 35 persen mengalami obesitas. 

    Karena prevalensi obesitas yang tinggi, ada peningkatan jumlah pasien obesitas yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Dari orang dewasa yang dirawat di ICU, sekitar 25 persen mengalami kelebihan berat badan, obesitas, atau obesitas yang tidak wajar. 

    Sepsis adalah penyebab paling umum untuk masuk ke ICU. Sepsis dikaitkan dengan morbiditas, mortalitas, dan biaya yang signifikan untuk sistem perawatan kesehatan.

    Baca: Mengenal bipolar, ketika seorang terombang-ambing dalam dua kutub emosi

    Di Amerika Serikat, septikemia secara keseluruhan merupakan penyebab kematian ke-11 pada tahun 2010 menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan merupakan penyebab kematian paling umum di ICU. 

    Secara global, ada kematian di rumah sakit sebesar 15 persen dengan sepsis dan 25 persen untuk sepsis berat. Kematian meningkat menjadi 40-50 persen pada pasien dengan komplikasi dan di negara berpenghasilan rendah. 

    Diperkirakan 50 persen pasien dengan sepsis memerlukan perawatan di ICU dan 17 persen memerlukan intubasi. Perkiraan total biaya di Amerika Serikat untuk sepsis berat adalah 24,3 miliar dolar AS per tahun.

     

     
  • Olahraga Pada Malam Hari Bermanfaat Bagi Obesitas

    Olahraga Pada Malam Hari Bermanfaat Bagi Obesitas

    7cloud.asia – Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care menyebut olahraga pada malam hari bermanfaat bagi orang yang mengalami obesitas.

    Mengutip Health, penelitian tersebut dilakukan terhadap hampir 30 ribu orang dan 10 persen diantaranya menderita diabetes tipe dua.

    Hasilnya? Peserta yang melakukan latihan aerobik antara pukul 6 sore hingga tengah malam sebagian besar memiliki risiko penyakit jantung dan kematian dini yang paling rendah. 

    “Meskipun kami perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menetapkan hubungan sebab akibat, studi ini menunjukkan bahwa waktu aktivitas fisik bisa menjadi bagian penting dari rekomendasi untuk manajemen obesitas dan diabetes tipe dua di masa depan, serta perawatan kesehatan preventif secara umum,” jelas penulis studi Emmanuel Stamatakis, PhD, profesor aktivitas fisik, gaya hidup, dan kesehatan populasi di University of Sydney, dalam sebuah siaran pers.

    Baca: Olahraga berlebihan membahayakan kesehatan jantung

    Namun, jika tidak bisa melakukan olahraga pada malam hari, para ahli menekankan bahwa berolahraga tetap bagus dilakukan kapan pun dapat melakukannya.

    “Ya, dalam dunia yang sempurna, mungkin malam hari adalah yang terbaik, tapi jika kita tidak bisa melakukannya di malam hari, masih ada manfaat bahkan pada waktu lain dalam sehari,” ujar Matthew Freeby, MD, endokrinologis dan direktur Gonda Diabetes Center di UCLA Health, kepada Health.

    Menurut para ahli, inilah bagaimana waktu berolahraga dapat mempengaruhi kesehatan bagi orang dengan obesitas dan diabetes tipe dua, serta apa yang perlu diketahui sebelum mengubah rutinitas olahraga Anda.

    Sebanyak 29.836 orang yang terdaftar dalam basis data Biobank Inggris, mereka semua mengalami obesitas dan sekitar 3 ribu diantanya menderita diabetes tipe dua.

    Baca: Bahaya sering begadang dan jarang olahraga

    Para responden tersebut berusia sekitar 62 tahun dan sekitar 53% adalah wanita.

    Selama seminggu, mereka terus mengenakan akselerometer pergelangan tangan sehingga peneliti dapat melacak dengan akurat aktivitas fisik sedang hingga berat (MVPA) setiap orang.

    Ini mencakup berbagai gerakan yang meningkatkan detak jantung seseorang, mulai dari berkebun atau jalan cepat hingga bersepeda atau berlari.

    Penulis studi melihat seberapa sering peserta berolahraga dan menempatkannya ke dalam tiga kategori berbeda berdasarkan apakah mereka melakukan sebagian besar MVPA mereka di pagi hari, siang hari, atau malam hari.

    Setelah melacak kesehatan peserta selama hampir delapan tahun, peneliti menemukan bahwa mereka yang melakukan sebagian besar MVPA mereka pada malam hari memiliki risiko kematian akibat semua sebab penyakit lebih rendah.

    Penyakit yang dimaksud adalah penyakit kardiovaskular dan penyakit mikrovaskular yang paling rendah, yaitu jenis penyakit jantung yang mempengaruhi arteri yang lebih kecil.

    Baca: Tips olahraga di daerah polusi tinggi

    Penulis studi mengatakan bahwa temuan ini tercermin pada subset peserta yang memiliki obesitas dan diabetes tipe dua.

    Olahraga malam hari dalam kelompok ini bahkan lebih terkait dengan mortalitas dan morbiditas kardiovaskular yang lebih rendah.

    Penelitian ini bersifat observasional. Artinya rentan terhadap bias. Para ahli tidak tahu dengan pasti mengapa berolahraga pada malam hari terkait dengan berbagai manfaat tersebut.

    Para penulis menyarankan bahwa aktivitas fisik pada malam hari mungkin menyebabkan penurunan kadar glukosa di pagi hari, yang dapat memberikan manfaat metabolik.

    Para penulis studi mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk lebih memahami hubungan antara olahraga malam hari dan penurunan risiko kematian dan penyakit jantung khususnya apakah yang pertama dapat menyebabkan yang terakhir.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Riset: Pekerja Shift Malam Lebih Rentan Terkena Diabetes dan Obesitas

    Riset: Pekerja Shift Malam Lebih Rentan Terkena Diabetes dan Obesitas

    7cloud.asia – Sebuah studi dari Washington State University and Pasific Northwest Nation Laboratory menyebut bekerja pada waktu (shift) malam dapat menyebabkan para pekerja rentan terkena penyakit diabetes dan obesitas.

    Dilansir dari Medical Daily, Mei lalu, alasan risiko tersebut meningkat pada pekerja yang bekerja pada shift malam karena ritme protein dalam tubuh yang terganggu, terlebih bila shift malam dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

    Lewat penelitian tersebut, para peneliti mengeksplorasi bagaimana pekerja shift malam lebih rentan terhadap gangguan metabolisme termasuk diabetes dan obesitas.

    Menurut hasil yang diterbitkan dalam Journal of Proteome Research, bekerja pada jadwal shift malam terbukti hanya beberapa hari pada jadwal shift malam mengganggu ritme protein yang berkaitan dengan regulasi glukosa darah, metabolisme energi, dan peradangan, proses yang dapat mempengaruhi perkembangan kondisi metabolisme kronis.

    Peneliti kemudian merekrut sukarelawan yang menjalani imulasi jadwal shift malam atau siang selama tiga hari.

    Baca: Kebiasaan begadang bisa memicu diabetes

    Para peserta kemudian tetap terjaga selama 24 jam setelah giliran kerja terakhir mereka, di bawah pencahayaan, suhu, postur, dan asupan makanan yang konstan.

    “Ini untuk mengukur ritme biologis internal mereka tanpa pengaruh luar,” katanya.

    Sementara para peserta tetap terjaga, sampel darah diambil untuk mengidentifikasi protein dalam sel sistem kekebalan berbasis darah.

    Beberapa protein ini terkait erat dengan jam biologis utama. Karena jam utama yang menjaga tubuh pada ritme 24 jam tahan terhadap perubahan jadwal shift, tidak banyak perubahan pada protein ini.

    Namun, pada sebagian besar jenis protein lain, seperti yang terlibat dalam regulasi glukosa, terdapat perubahan ritme yang substansial di antara peserta shift malam dibandingkan dengan peserta shift siang.

    Baca: Sering begadang bisa percepat demensia

    Di samping itu, mereka turut mencatat bahwa terdapat pembalikan ritme glukosa yang hampir sempurna pada peserta shift malam.

    Peserta pekerja shift malam juga tidak memiliki sinkronisasi dalam proses produksi dan sensitivitas insulin.

    Proses-proses ini biasanya harus bekerja sama untuk menjaga kadar glukosa dalam kisaran yang sehat.

    Hal ini disebabkan oleh regulasi insulin yang mencoba membatalkan perubahan glukosa yang dipicu oleh jadwal shift malam, yang mungkin merupakan respons yang sehat saat ini, namun menimbulkan masalah dalam jangka panjang.

    Baca: Hal yang pelu diperhatikan penderita diabetes saat konsumsi obat herbal

    Penulis senior dari WSU Elson S. Floyd College of Medicine Hans Van Dongen menambahkan, ada proses yang terkait dengan jam biologis utama di otak yang mengatakan bahwa siang adalah siang dan malam adalah malam.

    Sementara, proses lain yang mengikuti ritme yang diatur di tempat lain di tubuh yang mengatakan malam adalah siang dan siang adalah malam.

    Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi dini mungkin dilakukan untuk mencegah diabetes dan obesitas, yang juga dapat diterapkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke pada pekerja shift malam.

    “Ketika ritme internal tidak teratur, anda mengalami stres berkepanjangan dalam sistem tubuh anda yang kami yakini memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang,” kata Dongen.

    Sumber:Antaranews.com

     

     

  • Awas! Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Obesitas

    Awas! Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Obesitas

    7cloud.asia – Kurang tidur ternyata tak hanya berdampak pada kelelahan, tetapi juga dapat memicu peningkatan nafsu makan yang berpotensi meningkatkan risiko obesitas.

    Hal ini diungkapkan Dokter spesialis neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM) Astri Budikayanti dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Senin (16/3/2026).

    Dalam diskusi yang digelar secara daring ini, Astri menjelaskan kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar sehingga seseorang cenderung lebih sering merasa ingin makan.

    “Ketika kita kurang tidur, tubuh membutuhkan energi lebih. Akibatnya hormon yang memicu rasa lapar meningkat, sehingga kita jadi ingin makan terus,” katanya.

    Baca: Kurang tidur dapat memicu kerusakan otak dan gangguan jantung

    Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat berat badan meningkat apabila terjadi dalam jangka waktu lama.

    Karena itu, menjaga pola tidur yang cukup juga menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menjaga berat badan.

    Menurut Astri, orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur minimal enam jam setiap malam, sementara durasi ideal berkisar tujuh hingga delapan jam.

    Ia juga menjelaskan bahwa kualitas tidur sangat dipengaruhi oleh fase-fase tidur yang terjadi sepanjang malam.

    Baca: Main ponsel sebelum tidur bisa memicu insomnia

    Pada paruh pertama malam, tubuh biasanya memasuki fase tidur dalam yang berfungsi memulihkan otak setelah aktivitas sepanjang hari.

    Sementara pada paruh kedua malam, tubuh lebih banyak memasuki fase Rapid Eye Movement atau REM yang berperan dalam proses pemulihan memori dan fungsi kognitif.

    “Kalau fase tidur ini terganggu, seseorang bisa bangun dalam keadaan tidak segar atau bahkan merasa seperti belum tidur,” ujarnya.

    Ia menambahkan gangguan kualitas tidur juga dapat berdampak pada kemampuan berpikir dan mengingat.

    Karena itu, Astri mengimbau masyarakat untuk menjaga pola tidur yang konsisten serta menghindari kebiasaan yang dapat mengganggu kualitas tidur, seperti begadang atau penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan sebelum tidur.

  • Mie Instan Lebih Murah dari Sayur: Obesitas Kini Banyak Dialami Warga Miskin

    Mie Instan Lebih Murah dari Sayur: Obesitas Kini Banyak Dialami Warga Miskin

     

    7cloud.asia – Hasil cek kesehatan gratis (CKG) pada 2025 menunjukkan hampir sembilan juta orang dewasa Indonesia usia 18 – 59 tahun mengalami obesitas sentral alias kondisi perut buncit akibat penumpukan lemak berlebih.

    Kita mungkin mengira bahwa obesitas—yang lekat dengan stereotip “akibat makan berlebihan”—banyak dialami orang kaya.

    Namun, berbagai studi dalam lima tahun terakhir mengungkap bahwa obesitas kini justru lebih banyak dialami masyarakat miskin di Tanah Air.

    Salah satu penyebabnya adalah makanan cepat saji dan ultraproses (tinggi lemak, gula, dan garam) yang makin banyak dan mudah didapatkan. Tengok saja betapa mudah kita mendapatkan mi instan di warung dan minimarket, terutama bagi yang bermukim di kota. 

    Ketika harga menentukan isi piring

    Sejak 2021, UNICEF (organisasi PBB yang fokus pada kesejahteraan anak) sudah memperingatkan tren peningkatan kasus kegemukan dan obesitas di Indonesia dalam dua dekade terakhir, terutama pada kelompok rumah tangga miskin.

    Pada 2025, studi Indonesian Food Barometer terhadap lebih dari 1.600 orang dewasa Indonesia, mengonfirmasi bahwa masyarakat miskin kini lebih banyak mengalami kegemukan dan obesitas, dibandingkan orang kaya.

    Kemiskinan menjadi akar penyebabnya. Ketika upah minimum provinsi di sejumlah daerah masih berkisar Rp2 juta per bulan, pilihan makan sebuah keluarga dikendalikan oleh harga.

    Di Pulau Jawa, misalnya, sebungkus mie instan seharga Rp3 ribu, jauh lebih terjangkau dibandingkan sepiring sayur dan lauk berprotein lengkap seharga Rp15 ribu.

    Teh manis kemasan seharga Rp4 ribu juga lebih murah daripada susu atau jus buah segar seharga Rp10 ribu.

    Makanan tidak sehat lebih terjangkau

    Menariknya, studi Indonesian Food Barometer menemukan bahwa kegemukan justru lebih banyak dialami kelompok miskin yang lebih berpendidikan.

    Artinya, mengetahui bahwa mie instan bukan makanan ideal tidak otomatis mengubah apa yang dimasak di dapur. Ketika produk makanan cepat saji dan ultraproses murah banyak ditemukan di sekitar rumah kita, pengetahuan saja tidak cukup dalam mengatasi masalah akses dan harga.

    Belum lagi, aplikasi pangan digital menampilkan berbagai pilihan makanan cepat saji dengan potongan harga yang menggiurkan.

    Di tengah kesibukan dan tekanan ekonomi, keluarga miskin memilih makanan cepat saji yang murah, tetapi tinggi gula, garam, dan lemak. 

    Anak-anak menjadi korban paling nyata dari kondisi ini. UNICEF pada 2022 melaporkan bahwa satu dari lima anak usia 5 – 12 tahun dan satu dari tujuh remaja usia 13 – 18 tahun di Indonesia sudah mengalami kegemukan atau obesitas.

    Survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada 2023 menemukan lebih dari separuh anak dan remaja di perkotaan mengonsumsi minuman manis 5 — 7 kali per minggu.

    Bukan karena mereka memilih demikian, melainkan karena itulah makanan yang tersedia dan terjangkau di kantin sekolah, warung, dan minimarket terdekat.

    Pola serupa terjadi secara global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menunjukkan bahwa remaja dari keluarga kurang mampu lebih sering mengonsumsi minuman manis.

    Mereka juga lebih jarang makan buah dan sayur, serta 50 persen lebih mungkin mengalami kegemukan, dibandingkan remaja dari keluarga kaya. 

    Masyarakat miskin tanggung beban ganda

    Setiap rupiah yang dihemat untuk membeli makanan murah dan tidak sehat berpotensi menjadi beban biaya pengobatan jutaan rupiah di kemudian hari.

    Ironisnya, masyarakat miskin yang paling tidak mampu membeli makanan sehat adalah kelompok yang paling kesulitan membayar dampak kesehatannya.

    Anak-anak dari keluarga miskin menghadapi risiko ganda: kualitas pangan rendah sejak kecil membentuk kebiasaan yang sulit diubah. Ketika dampaknya mulai terasa di usia dewasa, mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan.

    Sementara itu, respons kebijakan masih tertinggal jauh. Iklan pangan tinggi gula dan garam tetap membanjiri media sosial tanpa batasan berarti.

    Label peringatan pada kemasan makanan, tak cukup informatif untuk membantu konsumen membuat pilihan konsumsi yang sehat.

    Adapun cukai minuman berpemanis dalam kemasan, yang seharusnya menjadi salah satu instrumen pencegahan juga terus ditunda. 

    Dampak dari kegagalan sistemik ini ujung-ujungnya mengganggu sistem kesehatan nasional. Bank Dunia mencatat bahwa BPJS Kesehatan mengalami defisit hampir setiap tahun sejak diluncurkan pada 2014 silam.

    Defisit disebabkan oleh melonjaknya kasus penyakit tidak menular akibat obesitas, seperti penyakit jantung, stroke, hingga kanker—yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

    Jika tidak ingin boncos terus, pemerintah harus memperketat pembatasan iklan dan ketersediaan makanan tidak sehat (baik di ruang digital maupun fisik), menerapkan label peringatan kemasan, serta menaikkan cukai pangan tinggi gula-garam-lemak.

    Pemerintah juga perlu berinvestasi lebih untuk mensubsidi penyebaran pangan sehat-segar dengan harga terjangkau di pasar maupun minimarket, seperti buah, sayur, protein hewani maupun nabati.

    Ekosistem pangan sehat dan aturan pangan yang ketat akan mendorong masyarakat memiliki pola makan lebih menyehatkan.


    Febri Pangestu, PhD Scholar, Griffith University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Obesitas Berisiko Memicu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

    Obesitas Berisiko Memicu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

    7cloud.asia – Kelebihan berat badan atau obesitas berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk sistem reproduksi (kesuburan).

    Menurut Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, hal ini terjadi karena obesitas dapat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan memicu kondisi Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) maupun endometriosis.

     

    PCOS) adalah kelainan hormonal pada wanita usia subur yang ditandai dengan tiga ciri utama: siklus haid tidak teratur, tingginya hormon androgen (hormon pria), dan adanya kista (kumpulan kantung folikel kecil) pada ovarium.

    Sedangkan endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim.

    Jaringan ini dapat menempel pada ovarium, saluran tuba, usus, atau kandung kemih. Saat siklus haid, jaringan ini ikut menebal dan berdarah, tetapi terperangkap sehingga memicu nyeri hebat dan peradangan.

    Vardian memaparkan, dalam banyak kasus obesitas datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas.

    ”Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, kepada media Maret lalu.

    Dokter yang menamatkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Brawijaya itu mengatakan saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun ke atas, kadar hormon mulai menurun.

    Pada fase ini, berbagai penyakit lebih mudah muncul, terlebih jika sebelumnya mengalami obesitas.

    Selain itu, Vardian menambahkan bahwa hal penting yang perlu disoroti adalah definisi obesitas itu sendiri, lantaran banyak orang hanya berpatokan pada berat badan atau BMI (IMT).

    Padahal, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.

    “Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tutur dia.

    Vardian menyampaikan, sejak tahun 2022 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menekankan bahwa obesitas ini sebagai penyakit kronis.

    Hal ini lantaran penderita obesitas kerap memiliki berbagai penyakit penyerta, termasuk berkaitan dengan demensia dan Alzheimer.

    “Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.

    Dia juga menyampaikan obesitas meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Pada organ jantung sendiri, penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung hingga gagal jantung.

    Obesitas, lanjut Vardian juga menjadi faktor risiko terbesar diabetes tipe 2, fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati, batu empedu, serta penurunan libido bisa terjadi karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen, beban sendi.

    Jadi, ujarnya, membahas obesitas itu sangat kompleks. Dia menegaskan, WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis, sehingga penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi.

    ”Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia.

  • Obesitas Banyak Dialami Warga Miskin: Ketika Makanan Cepat Saji Lebih Murah

    Obesitas Banyak Dialami Warga Miskin: Ketika Makanan Cepat Saji Lebih Murah

     

    7cloud.asia – Hasil cek kesehatan gratis (CKG) pada 2025 menunjukkan nyaris sembilan juta orang dewasa Indonesia usia 18 – 59 tahun mengalami obesitas sentral alias kondisi perut buncit akibat penumpukan lemak berlebih.

    Kita mungkin mengira bahwa obesitas—yang lekat dengan stereotip “akibat makan berlebihan”—banyak dialami orang kaya.

    Namun, berbagai studi dalam lima tahun terakhir mengungkap bahwa obesitas kini justru lebih banyak dialami masyarakat miskin di Tanah Air.

    Salah satu penyebabnya adalah makanan cepat saji dan ultraproses (tinggi lemak, gula, dan garam) yang makin banyak dan mudah didapatkan. Tengok saja betapa mudah kita mendapatkan mi instan di warung dan minimarket, terutama bagi yang bermukim di kota. 

    Ketika harga menentukan isi piring

    Sejak 2021, UNICEF (organisasi PBB yang fokus pada kesejahteraan anak) sudah memperingatkan tren peningkatan kasus kegemukan dan obesitas di Indonesia dalam dua dekade terakhir, terutama pada kelompok rumah tangga miskin.

    Pada 2025, studi Indonesian Food Barometer terhadap lebih dari 1.600 orang dewasa Indonesia, mengonfirmasi bahwa masyarakat miskin kini lebih banyak mengalami kegemukan dan obesitas, dibandingkan orang kaya.

    Kemiskinan menjadi akar penyebabnya. Ketika upah minimum provinsi di sejumlah daerah masih berkisar Rp2 juta per bulan, pilihan makan sebuah keluarga dikendalikan oleh harga.

    Di Pulau Jawa, misalnya, sebungkus mi instan seharga Rp3 ribu, jauh lebih terjangkau dibandingkan sepiring sayur dan lauk berprotein lengkap seharga Rp15 ribu.

    Teh manis kemasan seharga Rp4 ribu juga lebih murah daripada susu atau jus buah segar seharga Rp10 ribu.

    Makanan tidak sehat lebih terjangkau

    Menariknya, studi Indonesian Food Barometer menemukan bahwa kegemukan justru lebih banyak dialami kelompok miskin yang lebih berpendidikan.

    Artinya, mengetahui bahwa mi instan bukan makanan ideal tidak otomatis mengubah apa yang dimasak di dapur. Ketika produk makanan cepat saji dan ultraproses murah banyak ditemukan di sekitar rumah kita, pengetahuan saja tidak cukup dalam mengatasi masalah akses dan harga.

    Belum lagi, aplikasi pangan digital menampilkan berbagai pilihan makanan cepat saji dengan potongan harga yang menggiurkan.

    Di tengah kesibukan dan tekanan ekonomi, keluarga miskin memilih makanan cepat saji yang murah, tetapi tinggi gula, garam, dan lemak. 

    Anak-anak menjadi korban paling nyata dari kondisi ini. UNICEF pada 2022 melaporkan bahwa satu dari lima anak usia 5 – 12 tahun dan satu dari tujuh remaja usia 13 – 18 tahun di Indonesia sudah mengalami kegemukan atau obesitas.

    Survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada 2023 menemukan lebih dari separuh anak dan remaja di perkotaan mengonsumsi minuman manis 5 — 7 kali per minggu.

    Bukan karena mereka memilih demikian, melainkan karena itulah makanan yang tersedia dan terjangkau di kantin sekolah, warung, dan minimarket terdekat.

    Pola serupa terjadi secara global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menunjukkan bahwa remaja dari keluarga kurang mampu lebih sering mengonsumsi minuman manis. Mereka juga lebih jarang makan buah dan sayur, serta 50 persen lebih mungkin mengalami kegemukan, dibandingkan remaja dari keluarga kaya. 

    Masyarakat miskin tanggung beban ganda

    Setiap rupiah yang dihemat untuk membeli makanan murah dan tidak sehat berpotensi menjadi beban biaya pengobatan jutaan rupiah di kemudian hari.

    Ironisnya, masyarakat miskin yang paling tidak mampu membeli makanan sehat adalah kelompok yang paling kesulitan membayar dampak kesehatannya.

    Anak-anak dari keluarga miskin menghadapi risiko ganda: kualitas pangan rendah sejak kecil membentuk kebiasaan yang sulit diubah. Ketika dampaknya mulai terasa di usia dewasa, mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan.

    Sementara itu, respons kebijakan masih tertinggal jauh. Iklan pangan tinggi gula dan garam tetap membanjiri media sosial tanpa batasan berarti.

    Label peringatan pada kemasan makanan, tak cukup informatif untuk membantu konsumen membuat pilihan konsumsi yang sehat.

    Adapun cukai minuman berpemanis dalam kemasan, yang seharusnya menjadi salah satu instrumen pencegahan juga terus ditunda. 

    Dampak dari kegagalan sistemik ini ujung-ujungnya mengganggu sistem kesehatan nasional. Bank Dunia mencatat bahwa BPJS Kesehatan mengalami defisit hampir setiap tahun sejak diluncurkan pada 2014 silam.

    Defisit disebabkan oleh melonjaknya kasus penyakit tidak menular akibat obesitas, seperti penyakit jantung, stroke, hingga kanker—yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

    Jika tidak ingin boncos terus, pemerintah harus memperketat pembatasan iklan dan ketersediaan makanan tidak sehat (baik di ruang digital maupun fisik), menerapkan label peringatan kemasan, serta menaikkan cukai pangan tinggi gula-garam-lemak.

    Pemerintah juga perlu berinvestasi lebih untuk mensubsidi penyebaran pangan sehat-segar dengan harga terjangkau di pasar maupun minimarket, seperti buah, sayur, protein hewani maupun nabati.

    Ekosistem pangan sehat dan aturan pangan yang ketat akan mendorong masyarakat memiliki pola makan lebih menyehatkan.


    Febri Pangestu, PhD Scholar, Griffith University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.