7cloud.asia – Kelebihan berat badan atau obesitas berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk sistem reproduksi (kesuburan).
Menurut Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, hal ini terjadi karena obesitas dapat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan memicu kondisi Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) maupun endometriosis.
PCOS) adalah kelainan hormonal pada wanita usia subur yang ditandai dengan tiga ciri utama: siklus haid tidak teratur, tingginya hormon androgen (hormon pria), dan adanya kista (kumpulan kantung folikel kecil) pada ovarium.
Sedangkan endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim.
Jaringan ini dapat menempel pada ovarium, saluran tuba, usus, atau kandung kemih. Saat siklus haid, jaringan ini ikut menebal dan berdarah, tetapi terperangkap sehingga memicu nyeri hebat dan peradangan.
Vardian memaparkan, dalam banyak kasus obesitas datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas.
”Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, kepada media Maret lalu.
Dokter yang menamatkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Brawijaya itu mengatakan saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun ke atas, kadar hormon mulai menurun.
Pada fase ini, berbagai penyakit lebih mudah muncul, terlebih jika sebelumnya mengalami obesitas.
Selain itu, Vardian menambahkan bahwa hal penting yang perlu disoroti adalah definisi obesitas itu sendiri, lantaran banyak orang hanya berpatokan pada berat badan atau BMI (IMT).
Padahal, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.
“Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tutur dia.
Vardian menyampaikan, sejak tahun 2022 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menekankan bahwa obesitas ini sebagai penyakit kronis.
Hal ini lantaran penderita obesitas kerap memiliki berbagai penyakit penyerta, termasuk berkaitan dengan demensia dan Alzheimer.
“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.
Dia juga menyampaikan obesitas meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Pada organ jantung sendiri, penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung hingga gagal jantung.
Obesitas, lanjut Vardian juga menjadi faktor risiko terbesar diabetes tipe 2, fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati, batu empedu, serta penurunan libido bisa terjadi karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen, beban sendi.
Jadi, ujarnya, membahas obesitas itu sangat kompleks. Dia menegaskan, WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis, sehingga penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi.
”Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia.

Leave a Reply