Tag: Pawai Bebas Plastik

  • Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    7cloud.asia – Menyambut Bulan Juli Bebas Plastik sejumlah organisasi lingkungan akan kembali menggelar Pawai Bebas Plastik yang rencananya akan digelar pada Minggu (30/7/2023) serentak di sejumlah kota di Indonesia.

    Di Jakarta, Pawai Bebas Plastik akan dilakukan di Jalan Jenderal Sudirman mulai dari Stasiun MRT Benhil hingga Bundaran HI.

    Rangkaian kegiatan Pawai Bebas Plastik 2023 telah dimulai sejak awal Juli dengan agenda diskusi Global Plastic Treaty, diskusi tematik polusi plastik, pemutaran film Pulau Plastik dan lokakarya poster kampanye.

    Agenda puncak Pawai Bebas Plastik 2023 akan dilaksanakan pada Minggu, 30 Juli 2023 dalam bentuk kampanye publik di area Car Free Day Jakarta.

    Puncak acara Pawai Bebas Plastik juga akan diramaikan dengan orasi sejumlah tokoh termasuk mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. 

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    Rangkaian kampanye Pawai bebas Plastik ini diharapkan bisa menjadi sarana pengarusutamaan agenda lingkungan hidup, terutama persoalan sampah dan plastik dalam wacana pesta demokrasi 2024.

    Gerakan kolektif bertajuk Pawai Bebas Plastik ini bertujuan mewujudkan masa depan bebas plastik lewat beragam upaya sistematis mulai dari kebijakan pembatasan produksi plastik, pelarangan plastik sekali pakai, perluasan tanggung jawab produsen hingga transisi menuju ekonomi sirkular.

    Gerakan ini pertama kali diinisiasi oleh beberapa organisasi lingkungan seperti Divers Clean Action, EcoNusa, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Greenpeace Indonesia, Indorelawan, Pandu Laut Nusantara, Pulau Plastik, dan WALHI pada tahun 2019.

    Tahun 2023 ini menandai tahun kelima penyelenggaraan kampanye #PlasticFreeJuly atau Bulan Juli Bebas Plastik oleh berbagai organisasi dan komunitas di Indonesia melalui kampanye kolektif bernama Pawai Bebas Plastik.

    Baca: Dunia targetkan polusi plastik turun hingga 80 persen, bisakah dicapai?

    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pawai Bebas Plastik ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak awal Juli lalu hingga Februari 2024  mendatang.

    Membuka penjelasannya, Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan gaya hidup minim sampah khususnya sampah plastik.

    Masyarakat sudah melakukan berbagai inisiatif seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah dari rumah hingga partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembersihan atau clean up sampah plastik di sungai, pesisir dan lautan.

    “Berbagai upaya tersebut masih belum menyelesaikan persoalan polusi plastik. Pencemaran plastik ke lingkungan hingga penutupan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) akibat kelebihan muatan sampah seperti plastik masih belum berhasil dituntaskan,” ujar Tiza, Kamis (27/7/2023) di sela jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 di Jakarta.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastiknya

    Ada tiga tuntutan yang didesakkan oleh inisiator dan kolaborator Pawai Bebas Plastik 2023 untuk menjawab persoalan polusi plastik dan mewujudkan masa depan belas plastik.

    Pertama, mendorong pemerintah melarang penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong praktik guna ulang sebagai solusi.

    Dijelaskan, saat ini sudah ada lebih dari 100 kabupaten/kota dan provinsi yang melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Melalui kebijakan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan ada pengurangan sampah plastik secara signifikan, khususnya pada jenis plastik sekali pakai seperti kantong belanja, sedotan dan styrofoam.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Pada sisi yang lain, harus ada kebijakan yang bisa mempercepat ekosistem guna ulang (reuse) sebagai solusi berkelanjutan.

    Salah satu advokasi yang saat ini sedang dijalankan oleh kelompok masyarakat adalah mengenai solusi guna ulang, solusi ini sebenarnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia dari dulu.

    Namun, dengan perkembangan zaman dan adanya perubahan perilaku konsumsi, perlu upaya konkret dari pemerintah dan produsen untuk sama-sama menciptakan ekosistem guna ulang seperti sedia kala.

    “Jika ekosistem ini diwujudkan dan dijalankan oleh seluruh masyarakat, Indonesia juga bisa menjadi contoh negara yang mempraktikkan solusi ini, sejalan dengan harapan dalam Global Plastic Treaty yang sedang disusun oleh negara-negara anggota PBB untuk mengakhiri polusi plastik.” ujar Tiza Mafira.

    Baca: Teknologi ini diklaim mampu olah sekilogram sampah jadi senilai 1 gram emas

    Tuntutan yang kedua adalah mendorong pemerintah memperbaiki sistem tata kelola sampah.

    Ini mencakup langkah-langkah perbaikan seperti penerapan kebijakan berdasarkan hirarki pengelolaan sampah, penerapan kebijakan pengurangan sampah seimbang dengan penanganan sampah, peningkatan anggaran dan infrastruktur pengelolaan sampah.

    Sebanyak 47 organisasi dan komunitas pesduli lingkungan meihat perlunya dukungan pada pengembangan ekosistem guna ulang serta pelibatan pekerja informal seperti pemulung dalam transisi menuju ekonomi sirkular.

    Perbaikan tata kelola sampah yang baik itu harus dilakukan mulai dari perencanaan, penerapan, pengendalian dan evaluasi menjadi kunci masalah sampah dan polusi plastik secara struktural.

    “Selama ini tata kelola sampah yang baik belum berjalan karena beberapa hal seperti perencanaan pengelolaan sampah tidak berbasis kajian komprehensif dan minimnya evaluasi dari program-program yang berjalan.” kata Abdul Ghofar, pengkampanye Polusi dan Urban WALHI Nasional.

    Baca: Solusi sampah plastik harus libatkan pemerintah-produsen dan konsumen

    Tuntutan ketiga adalah mendorong produsen dan pelaku usaha bertanggung jawab atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan ramah lingkungan, dan implementasi kewajiban perluasan tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Sejauh ini, sudah ada 42 produsen yang telah menyerahkan peta jalan pengurangan sampah dalam produk kemasan mereka ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia mengatakan produsen FMCG memegang peranan penting dalam mencegah timbulan sampah.  Aksi individu untuk mengurangi plastik sekali pakai juga perlu.

    “Tetapi perubahan sistem bagaimana produk didistribusikan kepada konsumen akan memberikan dampak yang lebih signifikan,” terangnya

     

  • Koalisi Pawai Bebas Plastik Ajak Masyarakat Ramai-ramai Terapkan Guna Ulang, Apa Bedanya dengan Daur Ulang?

    Koalisi Pawai Bebas Plastik Ajak Masyarakat Ramai-ramai Terapkan Guna Ulang, Apa Bedanya dengan Daur Ulang?

    7cloud.asia – Kampanye penerapan konsep guna ulang menjadi salah satu yang digaungkan Koalisi Pawai Bebas Plastik 2023 untuk mengurangi sampah plastik dan polusi plastik.

    Di sela jumpa pers tentang Pawai Bebas Plastik 2023, Kamis (27/7/2023) di Jakarta, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi polusi plastik.

    Hierarki pengelolaan sampah sendiri, menurut Tiza yang merupakan salah satu motor Pawai Bebas Plastik 2023 ini, terdiri dari prinsip 3R, yaitu reuse, reduce, dan recycle.

    “Jadi guna ulang atau reuse adalah hierarki mendasar dalam pengurangan sampah plastik,” ujar Tiza dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 tersebut. 

     

    Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 usung tiga tuntutan

    Tiza mengatakan, saat ini masyarakat masih sering salah memahami makna guna ulang dengan daur ulang. Padahal keduanya merujuk pada dua hal yang berbeda.

    “Guna ulang tidak hanya digunakan satu-dua kali, tetapi berkali-kali; tetapi dipakai, dicuci, dipakai, dicuci. Sesimpel itu,” kata dia.

    Sementara daur ulang itu hanya sekali digunakan lalu didaur-ulang, jadi sangat berbeda dengan guna ulang.

    Dalam daur ulang, ujarnya, ada proses kimia, proses industrial, proses yang cukup intens yang sangat berbeda dengan guna ulang.

    Baca: Dunia targetkan turunkan polusi plastik hingga 80persen pada 2040

    Guna ulang lebih direkomendasikan oleh Koalisi Pawai Bebas Plastik karena proses ini yang rendah emisi dan tidak menghasilkan polusi plastik.

    Tiza menjelaskan guna ulang bisa diterapkan di beberapa jenis produk, yakni kosmetik, makanan olahan dan makanan siap saji.

    “Guna ulang itu hanya meliputi proses pencucian saja. Setelah itu, barang yang digunakan langsung disanitasi untuk kemudian digunakan kembali,” ujarnya.

    Tiza menyebut guna ulang tak bisa dibiarkan berhenti di inisiatif warga yakni dengan membawa sendiri wadah, tote bag atau tumbler. Pemassalan pelaksanaan guna ulang, tandasnya, membutuhkan sistem yang mendukung.

    “Kita bawa tumbler sendiri tapi ketemu enggak tempat isi ulang air? Kan belum tentu. Kita bawa tote bag sendiri, tapi ada enggak tempat untuk mengembalikannya ketika sudah tidak dibutuhkan atau sudah terlalu banyak di rumah? Belum ada sistemnya,” kata Tiza.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Tiza melihat inisiatif warga untuk menerapkan guna ulang sudah semakin besar. Hal ini, ujarnya, harus didukung oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan produsen sebagai penghasil produk.

    Ia mengapresiasi Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM yang beberapa waktu lalu merilis aturan yang memungkinkan diterapkannya sistem guna ulang untuk produk kosmetik.

    Sikap BPOM itu diwujudkan lewat  Peraturan BPOM Nomor 12 Tahun 2023 tentang Pengawasan Pembuatan dan Peredaran Kosmetik.

    “Ini merupakan langkah positif yang layak diapresiasi yang juga hasil dorongan masyarakat sipil,” kata Tiza.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik dengan konsep guna ulang

    Dari sisi produsen, Tiza juga melihat sudah mulai ada inisiatif untuk memfasilitasi sistem guna ulang dengan menyediakan layanan isi ulang. Meski hal itu  harus terus diperluas jangkauannya

    “Bahkan ada yang bisa dikembalikan botolnya ke produsen, lalu produsen mengisi ulang, kemudian menempatkan produknya kembali di toko mereka,” ujarnya.

    Tiza menambahkan, agar guna ulang ini bisa dilaksanakan dalam skala besar, harus dibangun sistem yang mendukung lewat kebijakan. Sayangnya, hingga saat ini pemerintah masih cenderung mendorong daur ulang bahan sekali pakai ketimbang mendorong guna ulang. 

    Tiza menekankan pentingnya pelarangan bahan sekali pakai. Karena semua benda sekali pakai  pasti akan menghasilkan sampah yang akan mengotori lingkungan meski bahan bahan yang digunakan adalah bahan yang bisa diurai

    “Kalau plastik diganti dengan sekali pakai lagi, tetap akan menimbulkan masalah lingkungan di kemudian hari,” pungkasnya.

    Baca: Ragam teknologi yang dikembangkan untuk atasi polusi plastik

     

  • Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

    Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

    7cloud.asia – Pada Minggu (30/7/2023) besok akan digelar Pawai Bebas Plastik di sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, Pawai Bebas Plastik akan dihelat di Jalan Jenderal Sudirman mulai dari Stasiun MRT Benhil hingga Bundaran HI.

    Pawai Bebas Plastik mulai digelar pada 2019 sebagai media kampanye mengurangi sampah plastik yang semakin menjadi ancaman nyata bagi lingkungan.

    Gerakan ini pertama kali diinisiasi oleh beberapa organisasi lingkungan seperti Divers Clean Action, EcoNusa, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Greenpeace Indonesia, Indorelawan, Pandu Laut Nusantara, Pulau Plastik, dan WALHI pada tahun 2019.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    Memasuki kali kelima dilaksanakannya Pawai Bebas Plastik sejumlah capaian berarti berhasil ditorehkan koalisi yang kini beranggotakan 47 organisasi dan komunitas ini.

    Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang menjadi salah satu motor Pawai Bebas Plastik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kemajuan terkait penanganan sampah plastik.

    Pawai Bebas Plastik, menurut Tiza, berhasil membangun kesadaran masyarakat untuk lebih terlibat dalam upaya menanggulangi sampah plastik. 

    Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 tuntut transparansi perusahaan tangani sampah plastik

    Organisasi yang terlibat dalam Pawai Bebas Plastik yang awalnya hanya 8 organisasi kini telah bertambah menjadi 47 organisasi dan komunitas,

    Pawai Bebas Plastik juga berhasil mendorong lahirnya kebijakan dalam penanganan sampah plastik.

    “Setelah Pawai Bebas Plastik pertama pada Juli 2019, di akhir tahun itu pemerintah provinsi DKI Jakarta merilis aturan yang melarang penggunaan kantung plastik sekali pakai,” terang Tiza  di sela jumpa pers terkait penyelenggaraan Pawai Bebas Plastik 2023, Kamis (27/7/2023) di Jakarta.

    Baca: Koalisi Pawai Bebas Plastik kampanyekan sistem guna ulang

    Ia menambahkan, saat ini setidaknya ada 100 kota/kabupaten yang telah memiliki aturan yang dinilai efektif mengurangi sampah plastik tersebut, Diharapkan, ke depan semakin banyak kota/kabupaten yang menerapkan kebijakan serupa.

    Pada 2020 Pawai Bebas Plastik harus dilakukan sedara daring karena pandemi Covid-19. namun kampanye untuk menurunkan sampah plastik terus dilakukan.

    Lalu pada 2021, Koalisi Pawai Bebas Plastik menyoroti meningkatnya volume sampah plastik yang dihasilkan dari packaging belanja online.  

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang nggak peduli sampah plastik

    Saat itu, terang Tiza, Koalisi Pawai Bebas bersama-sama mendatangi kantor salah satu e-commerce menuntut disediakannya packaging yang lebih ramah lingkungan dan minimal menghasilkan sampah plastik.

    “Kami mendesak pelaku e-commerce untuk memberikan opsi bagi konsumen untuk memilih  packaging yang lebih ramah lingkungan meski untuk itu harus ada biaya lebih besar,” imbuh Tiza.

    Sayang sampai saat ini tanggapan belum seperti yang diharapkan, tapi lewat berbagai aksi ini, baik e-commerce dan masyarakat sudah lebih menyadari ada resistensi pada sampah plastik.

    Baca: Daftar produsen sampah plastik terbesar di dunia

    Pawai Bebas Plastik kembali dilanjutkan pada 2022 secara daring dengan mengusung empat tuntutan terkait pengelolaan sampah plastik.

    Tuntutan yang diusung dalam Pawai Bebas Plastik kala itu adalah kewajiban memilah sampah, pengelolaan sampah organik yang lebih baik sehingga tidka semua sampah diuang ke TPA, larangan kantung plastik sekali pakai dan daur ulang sampah anorganik. 

    Menggaris bawahi penjelasannya, Tiza menegaskan bahwa inisiatif individu dan organisasi masyakarat ini akan lebih efektif mengurangi sampah plastik ini jika didukung dengan kebijakan sehingga terbangun sistem yang lebih ramah lingkungan.  

    Baca: Solusi sampah plastik harus libatkan pemerintah-produsen dan konsumen

     

  • Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    7cloud.asia – Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti dan aktris Aurellie Moeremans mengikuti Pawai Bebas Plastik 2023 yang dihelat sejumlah organisasi lingkungan pada Minggu (30/7/2023) pagi.

    Pawai Bebas Plastik 2023 ini merupakan kali kelima diselenggarakan dan bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Di pawai bebas plastik 2023 ini, Susi Pudjiastuti membawa poster bertuliskan “tolak sekali pakai” yang dibuat dari kardus bekas.  

    Baca Juga: Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Pawai Bebas Plastik 2023 yang diikuti berbagai organisasi dan komunitas itu mengusung tiga tuntutan utama yakni:

    Pertama, Pawai Bebas Plastik menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Larangan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang berkontribusi pada peningkatan volume sampah plastik.

    Dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan masyarakat akan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Baca Juga: 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    Pawai Bebas Plastik juga menyerukan pemerintah untuk memperbaiki sistem tata kelola sampah yang ada.

    Ini mencakup langkah-langkah seperti peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah plastik, pengembangan program daur ulang yang efektif, peningkatan ketersediaan tempat pembuangan sampah yang sesuai.

    Pawai Bebas Plastik 2023 juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik, terutam auntuk sampah plastik yang sangat merusak lingkungan.

    Dengan sistem tata kelola sampah yang lebih baik, diharapkan sampah, termasuk sampah plastik, dapat ditangani secara lebih efisien dan berkelanjutan.

    Baca Juga: Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    Terakhir, Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab atas sampah plastik pasca konsumsi.

    Salah satu aspek penting dalam penanganan sampah plastik adalah tanggung jawab produsen terhadap sampah yang dihasilkan oleh produk dan kemasannya.

    Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab secara penuh atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan yang ramah lingkungan, dan pelaksanaan program tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Baca Juga: Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

    Dengan melibatkan produsen dalam tanggung jawab penuh atas sampah yang dihasilkan, diharapkan dapat tercipta siklus produksi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.

    Dengan menyerukan tiga tuntutan ini, Pawai Bebas Plastik berharap dapat mendorong perubahan kebijakan, kesadaran masyarakat, dan tanggung jawab produsen dalam menghadapi masalah sampah plastik.

    “Semua pihak, termasuk pemerintah, produsen, dan masyarakat, harus bekerja sama untuk mencapai pengurangan dan penanganan sampah plastik,” demikian seruan koalisi pawai bebas plastik.

    Baca Juga: Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

     

  • Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    7cloud.asia – Penerapan prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diserukan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk memerangi sampah plastik di Indonesia.

    Ada alasan mengapa Koalisi Pawai Bebas Plastik lebih menganjurkan guna ulang ketimbang daur ulang yang selama ini jauh lebih populer dalam menangani sampah plastik.

    Hal ini karena guna ulang nyaris tidak membutuhkan energi dan menghasilkan lebih sedikit sampah plastik.

    Berbagai kajian menunjukkan, selain efektif mengurangi sampah plastik, penerapan guna ulang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya perubahan iklim.

    Penggiat persampahan, Hanifah Nurawaliah, dalam diskusi “Peran Pemuda dan Pemerintah Daerah Dalam Mendorong Gerakan Guna Ulang Dalam Pengelolaan Sampah” di  Bandung, Sabtu (27/7/2023) mengatakan, penerapan prinsip guna ulang bisa mengurangi emisi karbon hingga 54 persen.

    Baca: Pawai Bebas Plastik serukan penerapan guna ulang

    Sayangnya, pemerintah saat ini masih belum serius mendorong prinsip guna ulang ini. Prinsip guna ulang belum menjadi kewajiban bagi perusahaan FMCG yang banyak memproduksi sampah plastik.

    Guna ulang masih sebatas pilihan bagi perusahaan FMCG dalam peta jalan penghapusan sampah plastik di Indonesia.

    “Sehingga banyak perusahaan yang lebih memilih daur ulang karena dinilai lebih sesuai dengan situasi mereka,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 beberapa waktu lalu. 

    Perusahaan, lanjut Atta, juga cenderung memastikan bahwa kemasan mereka bisa didaur ulang. Masalahnya, untuk menghasilkan kemasan baru itu mereka masih menggunakan virgin plastik yang akan menghasilkan sampah plastik baru. 

    “Ini juga tidak memenuhi kaidah ekonomi sirkular yang sebenarnya, karena produk-produk mereka setelah diolah keluarannya adalah produk lain sementara tetap dihasilkan sampah plastik,” tandasnya.

    Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular itu

    Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi sampah plastik. 

    Menurut Tiza, saat ini telah muncul berbagai inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan prinsip guna ulang. Sayangnya hal ini belum diwadahi oleh sistem yang memadai.

    Salah satu inisiatif tersebut antara lain ditunjukkan oleh Siklus, yang menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dengan sistem isi ulang.

    Saat ini Siklus masih terbatas operasinya yakni di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia saja.

    Selain itu juga ada Komunitas Guna Ulang Aja yang berdiri di Bandung sejak bulan Maret 2023 lalu.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Dilansir wartaekonomi.com, Guna Ulang Aja berfokus pada kampanye dan edukasi pengurangan sampah melalui praktik guna ulang.

    “Karena faktanya kondisi persampahan kita cukup menyedihkan. Pada tahun 2022 lalu misalnya, produksi sampah nasional mencapai 69 juta ton, hanya 74 persen saja yang terkelola. Sementara Masyarakat Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari,” kata koordinator Guna Ulang Aja Muhammad Farhan Rizky.

    Ada juga Izifill, perusahaan penyedia stasiun air minum isi ulang dengan menggunakan dispenser.

    Pendiri Izifill, Ichsan Mulia belakangan berkembang tren di kalangan kaum muda untuk menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang-ulang, misalnya tumbler. Dia menuturkan, Izifill didirikan untuk merespons hal itu.

    “Mereka membawa tumbler, kalau tidak ada stasiun pengisian airnya, terus bagaimana,” kata dia.

    Beroperasi sejak Juni 2022, Izifill kini meliilki delapan unit stasiun air minum isi ulang di Bandung dan Jakarta. Ichsan mengklaim, telah mendistribudikan hampir 2000 liter air, dikonsumsi 820 orang, mengurangi lebih dari 5000 botol plastik.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

     

     

     

     

  • Piknik Bebas Plastik: Upaya Koalisi Pawai Bebas Plastik Suarakan Stop Krisis Lingkungan

    Piknik Bebas Plastik: Upaya Koalisi Pawai Bebas Plastik Suarakan Stop Krisis Lingkungan

    7cloud.asia – Ada yang berbeda pada pelaksanaan Pawai Bebas Plastik yang dihelat guna memperingati Plastic Free July yang kembali diadakan untuk tahun kelimanya.

    Jika biasanya kegiatan Pawai Bebas Plastik ini dilaksanakan dengan melakukan parade di Car Free Day, tahun ini penyelenggara memberikan sentuhan berbeda sehingga bisa lebih dekat dengan para audiens.

    Pawai Bebas Plastik tahun ini dirayakan dengan melakukan diskusi terkait isu polusi plastik, yang dikemas dalam kegiatan bertajuk Piknik Bebas Plastik.

    Piknik Bebas Plastik ini diadakan di Neha Hub, di kawasan Cilandak Jakarta Selatan, Minggu (28/7/2024). Sebelumnya, penyelenggara juga menggelar chalenge bertajuk jajan bebas plastik yang diikuti puluhan peserta.

    Serangkaian kegiatan, seperti talkshow, workshop, showcase, dan pertunjukkan seni lainnya turut meramaikan Piknik Bebas Plastik yang diikuti ratusan peserta ini.

    Baca: Perjalanan Pawai Bebas Plastik sejak 2019

    Acara diawali talkshow dengan mengangkat isu plastik yang berhubungan dengan kesehatan, iklim, dan masyarakat adat.

    Tak ketinggalan, juga dibahas isu plastik yang berhubungan dengan seberapa besar produksi plastik dunia yang merupakan produk samping dari industri minyak dan gas.

    Manager Komunikasi Dietplastik Indonesia, Adithiyasanti Sofia mengatakan, Piknik Bebas Plastik menjadi contoh acara publik yang menggunakan protokol guna ulang.

    Protokol ini mengharuskan para peserta tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai dalam praktek tenant makanan dan minuman serta para pengunjung.

    ”Piknik Bebas Plastik, menjadi bukti nyata bahwa masyarakat bisa melakukan praktek guna ulang, membawa tempat makan sendiri, tenant makanan dan minuman juga mampu memfasilitasi praktek guna ulang, seperti dengan menyediakan tempat pencucian alat makan,” ujarnya.

    Baca: Mengapa Pawai Bebas Plastik gencar promosikan guna ulang

    Pawai Bebas Plastik menjadi bagian dari kampanye global yang dikenal sebagai #PlasticFreeJuly, yang secara khusus berfokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai pada bulan Juli.

    Para inisiator dari kegiatan Pawai Bebas Plastik ini terdiri dari Indorelawan, WALHI, Greenpeace Indonesia, Divers Clean Action, Dietplastik Indonesia, Econusa, Pandu Laut, dan Pulau Plastik.

    Pawai Bebas Plastik mengajak organisasi, komunitas dan jaringan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan Pawai Bebas Plastik di kota-kota lainnya, bersama-sama menyerukan menghentikan krisis plastik.

    Pawai Bebas Plastik diinisiasi dengan melihat masalah di Indonesia, di mana sampah plastik
    tidak hanya menjadi masalah di wilayah darat saja, tetapi juga sudah mencemari wilayah laut.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik

    Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat dampak dari plastik sekali pakai yang ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan dan hewan yang hidup, akan tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan manusia.

    Melihat fakta-fakta tersebut perlu adanya suatu gerakan bersama sebagai upaya pengurangan sampah plastik agar di tahun 2025 Indonesia dapat mencapai target untuk mengurangi sampah plastik sebesar 70 persen.

  • Pawai Bebas Plastik: Penanganan Krisis Sampah Plastik Harus Dimulai dari Produksi Plastik

    Pawai Bebas Plastik: Penanganan Krisis Sampah Plastik Harus Dimulai dari Produksi Plastik

    7cloud.asia – Pawai Bebas Plastik yang digelar setiap bulan Juli menjadi bagian dari kampanye global yang dikenal sebagai #PlasticFreeJuly.

    Pawai Bebas Plastik secara khusus berfokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sepanjang bulan Juli.

    Para inisiator dari kegiatan Pawai Bebas Plastik ini terdiri dari Indorelawan, WALHI, Greenpeace Indonesia, Divers Clean Action, Dietplastik Indonesia, Econusa, Pandu Laut, dan Pulau Plastik.

    Pawai Bebas Plastik mengajak organisasi, komunitas dan jaringan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan Pawai Bebas Plastik di kota-kota lain, bersama-sama menyerukan aksi untuk menghentikan krisis plastik.

    Pawai Bebas Plastik diinisiasi dengan melihat masalah di Indonesia, di mana sampah plastik
    tidak hanya menjadi masalah di wilayah daratan saja, tetapi juga sudah mencemari wilayah laut.

    Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat dampak dari plastik sekali pakai yang ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan hidup, akan tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan manusia.

    Baca: Tentang Pawai Bebas Plastik

    Melihat fakta-fakta tersebut, koalisi melihat perlu adanya suatu gerakan bersama sebagai upaya pengurangan sampah plastik. Tujuannya, pada tahun 2025 Indonesia dapat mencapai target untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen.

    Tahun ini, Pawai Bebas Plastik mengangkat isu plastik yang berhubungan dengan kesehatan, iklim, dan masyarakat adat.

    “Isu plastik juga berhubungan dengan seberapa besar produksi plastik dari industri minyak dan gas,“ ujar Ibar Akbar, Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia ditemui di sela acara Piknik Bebas Plastik, Minggu (28/7/2024) di Jakarta.

    Itu sebabnya, pembahasan pembatasan produksi plastik di KTT Plastik Ottawa beberapa waktu lalu berjalan alot. Penghasil minyak bumi bersikeras mempertahankan produksi plastik, karena lebih dari 99 persen plastik sekali pakai diproduksi dari bahan bakar fosil.

    Ibar menegaskan, tanggung jawab produsen atas sampah plastik sangat diperlukan. Menangani isu plastik tidak bisa hanya fokus ke hilir, tapi juga hulu ketika plastik pertama kali diproduksi.

    Ibar memaparkan, saat ini baru 18 produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang telah mengimplementasikan pilot project Permen LHK no 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    “Jumlahnya masih sedikit dibandingkan seluruh jumlah produsen di Indonesia dan tidak ada transparansi serta capaian dari peta jalan pengurangan sampah dari produsen” imbuh Ibar.

    Yang banyak muncul di lapangan saat ini, lanjutnya, adalah upaya untuk mendaur ulang sampah plastik untuk berbagai peruntukan. Tetapi belum terlihat upaya untuk memotong atau mengurangi produksi sampah. 

    Sementara emisi gas rumah kaca terjadi pada setiap tahap siklus hidup plastik, mulai dari ekstraksi gas dan minyak hingga produksi, pembakaran, penimbunan, dan bahkan daur ulang.

    Sebelumnya, fokus analisis dampak iklim pada plastik hanya terbatas pada emisi dari produksi resin dan pembuatan produk plastik.

    Namun, pada tahun 2019, Center for International Environmental Law (CIEL) menerbitkan laporan yang memperkirakan emisi global dari seluruh siklus hidup plastik.

    Baca: Tentang Piknik Bebas Plastik 2024

    Produksi kemasan plastik sekali pakai berkontribusi terbesar penyumbang plastik murni
    setiap tahun.

    Diperkirakan sekitar 40 persen dari total permintaan plastik dan lebih dari setengah sampah plastik di seluruh dunia.

    Industri ini juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan penggunaan plastik di negara-negara berkembang.

    Berdasarkan laporan OECD – Global Plastics Outlook: Policy Scenarios to 2060 menyebutkan dalam skenario baseline, penggunaan plastik global diproyeksikan akan tiga kali lipat antara tahun 2019 dan 2060, dari 460 juta ton menjadi 1.321 juta ton.

    Fakta ini menegaskan, perlunya solusi mengatasi krisis sampah plastik ini mulai dari awal produksi plastik dengan pengurangan produksi plastik di hulu.

    “Inisiatif yang hanya berfokus pengurangan sampah di hilir tidak akan selesai jika keran produksi plastik dikurangi,” Ujar Abdul Ghofar, Manajer Kampanye Polusi dan Urban WALHI.