7cloud.asia – Penerapan prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diserukan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk memerangi sampah plastik di Indonesia.
Ada alasan mengapa Koalisi Pawai Bebas Plastik lebih menganjurkan guna ulang ketimbang daur ulang yang selama ini jauh lebih populer dalam menangani sampah plastik.
Hal ini karena guna ulang nyaris tidak membutuhkan energi dan menghasilkan lebih sedikit sampah plastik.
Berbagai kajian menunjukkan, selain efektif mengurangi sampah plastik, penerapan guna ulang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya perubahan iklim.
Penggiat persampahan, Hanifah Nurawaliah, dalam diskusi “Peran Pemuda dan Pemerintah Daerah Dalam Mendorong Gerakan Guna Ulang Dalam Pengelolaan Sampah” di Bandung, Sabtu (27/7/2023) mengatakan, penerapan prinsip guna ulang bisa mengurangi emisi karbon hingga 54 persen.
Baca: Pawai Bebas Plastik serukan penerapan guna ulang
Sayangnya, pemerintah saat ini masih belum serius mendorong prinsip guna ulang ini. Prinsip guna ulang belum menjadi kewajiban bagi perusahaan FMCG yang banyak memproduksi sampah plastik.
Guna ulang masih sebatas pilihan bagi perusahaan FMCG dalam peta jalan penghapusan sampah plastik di Indonesia.
“Sehingga banyak perusahaan yang lebih memilih daur ulang karena dinilai lebih sesuai dengan situasi mereka,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 beberapa waktu lalu.
Perusahaan, lanjut Atta, juga cenderung memastikan bahwa kemasan mereka bisa didaur ulang. Masalahnya, untuk menghasilkan kemasan baru itu mereka masih menggunakan virgin plastik yang akan menghasilkan sampah plastik baru.
“Ini juga tidak memenuhi kaidah ekonomi sirkular yang sebenarnya, karena produk-produk mereka setelah diolah keluarannya adalah produk lain sementara tetap dihasilkan sampah plastik,” tandasnya.
Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular itu
Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi sampah plastik.
Menurut Tiza, saat ini telah muncul berbagai inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan prinsip guna ulang. Sayangnya hal ini belum diwadahi oleh sistem yang memadai.
Salah satu inisiatif tersebut antara lain ditunjukkan oleh Siklus, yang menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dengan sistem isi ulang.
Saat ini Siklus masih terbatas operasinya yakni di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia saja.
Selain itu juga ada Komunitas Guna Ulang Aja yang berdiri di Bandung sejak bulan Maret 2023 lalu.
Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus
Dilansir wartaekonomi.com, Guna Ulang Aja berfokus pada kampanye dan edukasi pengurangan sampah melalui praktik guna ulang.
“Karena faktanya kondisi persampahan kita cukup menyedihkan. Pada tahun 2022 lalu misalnya, produksi sampah nasional mencapai 69 juta ton, hanya 74 persen saja yang terkelola. Sementara Masyarakat Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari,” kata koordinator Guna Ulang Aja Muhammad Farhan Rizky.
Ada juga Izifill, perusahaan penyedia stasiun air minum isi ulang dengan menggunakan dispenser.
Pendiri Izifill, Ichsan Mulia belakangan berkembang tren di kalangan kaum muda untuk menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang-ulang, misalnya tumbler. Dia menuturkan, Izifill didirikan untuk merespons hal itu.
“Mereka membawa tumbler, kalau tidak ada stasiun pengisian airnya, terus bagaimana,” kata dia.
Beroperasi sejak Juni 2022, Izifill kini meliilki delapan unit stasiun air minum isi ulang di Bandung dan Jakarta. Ichsan mengklaim, telah mendistribudikan hampir 2000 liter air, dikonsumsi 820 orang, mengurangi lebih dari 5000 botol plastik.
Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

Leave a Reply