Pawai Bebas Plastik: Penanganan Krisis Sampah Plastik Harus Dimulai dari Produksi Plastik

Written by

in

7cloud.asia – Pawai Bebas Plastik yang digelar setiap bulan Juli menjadi bagian dari kampanye global yang dikenal sebagai #PlasticFreeJuly.

Pawai Bebas Plastik secara khusus berfokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sepanjang bulan Juli.

Para inisiator dari kegiatan Pawai Bebas Plastik ini terdiri dari Indorelawan, WALHI, Greenpeace Indonesia, Divers Clean Action, Dietplastik Indonesia, Econusa, Pandu Laut, dan Pulau Plastik.

Pawai Bebas Plastik mengajak organisasi, komunitas dan jaringan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan Pawai Bebas Plastik di kota-kota lain, bersama-sama menyerukan aksi untuk menghentikan krisis plastik.

Pawai Bebas Plastik diinisiasi dengan melihat masalah di Indonesia, di mana sampah plastik
tidak hanya menjadi masalah di wilayah daratan saja, tetapi juga sudah mencemari wilayah laut.

Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat dampak dari plastik sekali pakai yang ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan hidup, akan tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan manusia.

Baca: Tentang Pawai Bebas Plastik

Melihat fakta-fakta tersebut, koalisi melihat perlu adanya suatu gerakan bersama sebagai upaya pengurangan sampah plastik. Tujuannya, pada tahun 2025 Indonesia dapat mencapai target untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen.

Tahun ini, Pawai Bebas Plastik mengangkat isu plastik yang berhubungan dengan kesehatan, iklim, dan masyarakat adat.

“Isu plastik juga berhubungan dengan seberapa besar produksi plastik dari industri minyak dan gas,“ ujar Ibar Akbar, Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia ditemui di sela acara Piknik Bebas Plastik, Minggu (28/7/2024) di Jakarta.

Itu sebabnya, pembahasan pembatasan produksi plastik di KTT Plastik Ottawa beberapa waktu lalu berjalan alot. Penghasil minyak bumi bersikeras mempertahankan produksi plastik, karena lebih dari 99 persen plastik sekali pakai diproduksi dari bahan bakar fosil.

Ibar menegaskan, tanggung jawab produsen atas sampah plastik sangat diperlukan. Menangani isu plastik tidak bisa hanya fokus ke hilir, tapi juga hulu ketika plastik pertama kali diproduksi.

Ibar memaparkan, saat ini baru 18 produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang telah mengimplementasikan pilot project Permen LHK no 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

“Jumlahnya masih sedikit dibandingkan seluruh jumlah produsen di Indonesia dan tidak ada transparansi serta capaian dari peta jalan pengurangan sampah dari produsen” imbuh Ibar.

Yang banyak muncul di lapangan saat ini, lanjutnya, adalah upaya untuk mendaur ulang sampah plastik untuk berbagai peruntukan. Tetapi belum terlihat upaya untuk memotong atau mengurangi produksi sampah. 

Sementara emisi gas rumah kaca terjadi pada setiap tahap siklus hidup plastik, mulai dari ekstraksi gas dan minyak hingga produksi, pembakaran, penimbunan, dan bahkan daur ulang.

Sebelumnya, fokus analisis dampak iklim pada plastik hanya terbatas pada emisi dari produksi resin dan pembuatan produk plastik.

Namun, pada tahun 2019, Center for International Environmental Law (CIEL) menerbitkan laporan yang memperkirakan emisi global dari seluruh siklus hidup plastik.

Baca: Tentang Piknik Bebas Plastik 2024

Produksi kemasan plastik sekali pakai berkontribusi terbesar penyumbang plastik murni
setiap tahun.

Diperkirakan sekitar 40 persen dari total permintaan plastik dan lebih dari setengah sampah plastik di seluruh dunia.

Industri ini juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan penggunaan plastik di negara-negara berkembang.

Berdasarkan laporan OECD – Global Plastics Outlook: Policy Scenarios to 2060 menyebutkan dalam skenario baseline, penggunaan plastik global diproyeksikan akan tiga kali lipat antara tahun 2019 dan 2060, dari 460 juta ton menjadi 1.321 juta ton.

Fakta ini menegaskan, perlunya solusi mengatasi krisis sampah plastik ini mulai dari awal produksi plastik dengan pengurangan produksi plastik di hulu.

“Inisiatif yang hanya berfokus pengurangan sampah di hilir tidak akan selesai jika keran produksi plastik dikurangi,” Ujar Abdul Ghofar, Manajer Kampanye Polusi dan Urban WALHI.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *