Tag: pertamina

  • Pertamina Luncurkan Pertamax Green 95 dari Tetes Tebu: Upaya Penganekaragaman Energi Berkelanjutan

    Pertamina Luncurkan Pertamax Green 95 dari Tetes Tebu: Upaya Penganekaragaman Energi Berkelanjutan

    7cloud.asia – Pada akhir Juli 2023, PT Pertamina berencana meluncurkan bahan bakar Pertamax Green 95 yang merupakan campuran antara bensin Pertamax dengan bioetanol berbahan dasar tetes tebu.

    PT Pertamina melalui anak perusahaan PT Pertamina Niaga akan mulai mengedarkan secara terbatas Pertamax Green 95 yang terbuat dari campuran bensin Pertamax (95%) dengan bioetanol (5%) pada Juli ini.

    Bioetanol di Pertamax Green 95 ini berbahan dasar molase atau tetes tebu yang merupakan produk sampingan atau sisa dari proses pembuatan gula.

    MADANI Berkelanjutan mengapresiasi peluncuran Pertamax Green 95 ini. Keberadaan Pertamax Green 95 dinilai bisa membawa Indonesia satu langkah lebih dekat kepada transisi menuju energi berkelanjutan.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen, ini plus minusnya

    Pertamax Green 95 berbahan dasar molase atau tetes tebu ini juga sebagai upaya menuju kemandirian energi apabila ditindaklanjuti dengan penganekaragaman sumber bahan bakar nabati.

    Deputi Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan  Giorgio Budi Indrarto menyambut positif  peluncuran Pertamax Green 95 ini. Menurutnya, campuran energi berkelanjutan Indonesia masih perlu ditingkatkan.

    “Oleh karena itu, inovasi berbahan dasar tetes tebu ini bisa dilihat sebagai langkah kecil awal menuju pemanfaatan sumber-sumber bahan bakar berkelanjutan lainnya, terutama yang berasal dari residu atau limbah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (19/7/2023).

    Ini bukan kali pertama PT Pertamina membaurkan bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati (BBN).

    Baca: Plus minus sawit sebagai bahan biodiesel

    Sejak 2008, PT Pertamina mencampurkan diesel dengan biodiesel berbahan dasar minyak sawit yang baurannya saat ini mencapai 35%, sesuai dengan kebijakan B35 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

    Sampai saat ini, minyak sawit adalah satu-satunya bahan baku BBN yang pemanfaatannya mendapatkan mandat dan insentif dari pemerintah. Sementara ekspansi perkebunan sawit masih memiliki risiko sosial dan lingkungan.

    Oleh karena itu, selagi terus memperbaiki tata kelola sawit, pemerintah juga perlu mengoptimalkan penggunaan aneka sumber bahan baku dalam pengembangan BBN generasi kedua, yang berasal dari sampah atau limbah.

    “Sumber-sumber lain tersebut bisa berupa minyak jelantah; tongkol jagung; tetes tebu, seperti yang digunakan Pertamax Green 95; limbah-limbah pertanian; dan lain sebagainya,” terang Giorgio Budi Indrarto.

    Baca: Tantangan penggunaan bus listrik secara massal

    Budi Indrarto juga menekankan bahwa diversifikasi atau penganekaragaman sumber bahan bakar sejalan dengan target Indonesia untuk beralih kepada energi berkelanjutan dalam rangka mengurangi emisi.

    Di dalam Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia menargetkan agar, pada tahun 2050, BBN menyumbang 46% dari total energi sektor transportasi.

    Pencapaian target LTS-LCCR 2050 tersebut, Menuurt Budi Indarto, memerlukan andil berbagai bahan baku agar Indonesia tidak bergantung kepada minyak sawit saja.

    “Karena ketergantungan berlebihan terhadap satu bahan baku memiliki banyak risiko dari sisi ekonomi, sosial dan ekologi,”  ujarnya

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil ramah lingkungan

    Selain mendukung transisi energi, Budi Indrarto juga menyoroti keunggulan lain dari diversifikasi bahan baku BBN, yakni mendukung kemandirian energi. 

    Diversifikasi bahan baku BBN merupakan wujud upaya memaksimalkan sumber daya energi domestik yang kemudian bisa memberikan stimulus bagi perekonomian di berbagai daerah.

    “Perlu diingat, berbagai daerah di Indonesia memiliki potensi sumber BBN yang berbeda-beda yang patut, tetapi belum, dikembangkan,” jelasnya.

    Menutup responnya, Budi Indrarto juga mendorong masyarakat untuk memilih bahan bakar atau energi berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan.

    “Dengan cara tersebut, masyarakat bisa ambil andil dalam meningkatkan demand domestik terhadap energi berkelanjutan.”

    Baca: Ini yang dilakukan pemerintah untuk dorong konversi ke motor listrik

     

  • Puluhan Sumur di Lombok Barat Tercemar, Diduga Akibat Pipa SPBU Milik Pertamina Bocor

    Puluhan Sumur di Lombok Barat Tercemar, Diduga Akibat Pipa SPBU Milik Pertamina Bocor

    7cloud.asia – Puluhan sumur milik warga yang tinggal dekat SPBU Montong Are Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tercemar Bahan Bakar Minyak (BBM).

    Melansir TV 9 Lombok, salah seorang warga Nyiur Gading, Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Mahani menjelaskan kondisi ini sudah berlangsung selama 4 bulan.

    Menurutnya selama itu pula air tidak hanya berbau, tetapi juga berwarna kehijauan seperti BBM. Padahal mayoritas warga mengambil sumber air dari sumur untuk keperluan sehari-hari.

    “Sudah ada 3 atau 4 bulan lalu berbau, tapi baru hari ini berubah warna begini. Untuk sehari-hari, kami terpaksa membeli air untuk masak dan minum. Untuk mandi terpaksa kami gunakan air itu,” jelas Mahani.

    Baca; Kemarau bikin warga Bekasi kesulitan air bersih

    Hal senada juga dikeluhkan warga lainnya, Muhammad Nasir. Bahkan sempat mencoba menggunakannya untuk menyiram tanaman, akibatnya tanaman berubah warna menjadi kuning.

    “Ini tanaman saya berubah warna jadi kuning, yang berbuah, buahnya pada rontok semua. Sekarang malah ada yg tidak mau berbuah setelah di siram menggunakan air sumur ini.” jelasnya.

    Warga menduga kondisi air sumur seperti ini akibat bocornya pipa milik SPBU yang berada tidak jauh dari rumah warga.

    Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, Hermansyah menjelaskan pihaknya sudah mendapatkan laporan dari warga dan pihak desa terkait dugaan pencemaran sumur warga tersebut.

    Baca: Warga Lebak harus mencari air bersih ke hutan

    “Ada beberapa sumur warga diduga tercemar BBM, hari itu juga kami menurunkan UPT Laboratorium LH,” katanya.

    Selanjutnya ia menjelaskan setelah turun mengambil sampel pada hari pertama, timnya kembali turun untuk pengambilan sampel kedua pada Rabu (4/10).

    Kemudian, sampel tersebut diuji untuk memastikan dugaan pencemaran air sumur warga.

    Hasil uji laboratorium itu nantinya akan digunakan untuk menindaklanjuti langkah-langkahyang akan diambili dan memangil pihak-pihak terkait. ”Kita tunggu hasil uji lab lagi,” tegasnya.

    Baca: BKT, Pengendali banjir yang berfungsi sebagai pusat komunitas

    Area Manager Comm. Rel.&CSR PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi menjelaskan pihaknyamemutuskan untuk menyetop sementara operasi SPBU tersebut hingga keluar hasil uji lab.

    “Sambil menunggu hasil lab Dinas Lingkungan Hidup, kami melakukan pemberhentian operasional sementara SPBU untuk proses pengecekan lebih lanjut,” katanya.

    Bagi masyarakat yang membutuhkan BBM, pelayanan ke konsumen sementara dialihkan ke SPBU terdekat yang berjarak 3 km yaitu SPBU 5483322 yang berada di jalan Kediri.

    Selain itu, Pertamina memberikan bantuan kepada warga terdampak berupa 8.000 liter air bersih yang disalurkan di 10 tandon yang tersebar di 10 titik.

    Penyaluran air bersih ini akan diberikan kepada warga terdampak sementara menunggu hasil pengecekan sampel air dari Lab Dinas Lingkungan Hidup.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Pertamina Ajak Masyarakat Gunakan BBM Berkualitas Tuk Bantu Turunkan Emisi Karbon

    Pertamina Ajak Masyarakat Gunakan BBM Berkualitas Tuk Bantu Turunkan Emisi Karbon

    7cloud.asia – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengajak komunitas otomotif di Provinsi Jambi menggunakan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas.

    Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Zibali Hisbul Masih mengatakan, penggunaan BBM berkualitas akana membantu penurunan emisi karbon dan mengurangi polusi udara.

    “Kami sangat mengapresiasi komunitas otomotif di Provinsi Jambi, karena mempercayai dan menggunakan produk terbaik dan berkualitas yang kami berikan serta mengkampanyekan dorongan penggunaan BBM berkualitas,” katanya sebagaimana dikutip Antaranews.com

    Ia mengatakan dukungan ini diimplementasikan Pertamina melalui program MyPertamina Diesel Society.

    Baca: Sektor kehutanan berperan besar dalam penurunan emisi karbon

    Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif meminta PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan kualitas bahan bakar minyak secara bertahap sebagai upaya menurunkan emisi karbon dari sektor energi.

    “Kita memang memiliki misi agar bisa menjaga emisi. Untuk itu kualitas BBM secara bertahap akan kami tingkatkan, sehingga kita bisa menurunkan emisi karbon sesuai standar industri,” kata Arifin dalam sebuah webinar pada September lalu.

    Untuk memenuhi penurunan emisi karbon ini, pemerintah berharap supaya masyarakat bisa beralih mengonsumsi BBM dengan standar Euro IV.

    BBM ini memiliki Research Octane Number (RON) di atas 91, seperti pertamax dan pertamax turbo.

    Baca: Pertamina luncurkan Pertamax Bio 95 berbahan tetes tebu

    Selain itu, pemerintah akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan BBM ramah lingkungan dan efisiensi energi.

    Ini tercermin melalui pembatasan gerai penjualan BBM jenis premium, kemudian meningkatkan outlet penjualan BBM jenis pertamax melalui Pertashop milik Pertamina.

    “Kualitas BBM harus selalu terjaga dan harus ditingkatkan,” ujar Arifin.

    Saat ini, konsumsi BBM oktan rendah jenis premium dengan RON 88 makin menurun.

    Baca: Plus minus energi hidrogen

    Dan semakin banyak konsumen yang beralih menggunakan bahan bakar oktan tinggi, seperti pertamax dengan RON 92.

    Berdasarkan data Pertamina hingga Agustus 2021, penyaluran premium mengalami penurunan tercatat hanya 30 persen dari total kuota tahun ini sebesar 10 juta kiloliter.

    Pertamina menargetkan satu desa ada satu unit Pertashop sebagai upaya mendukung pemerintah dalam mengurangi emisi karbon.

    “Sampai sekarang sudah beroperasi 2.400 pertashop, ini targetnya satu desa terdapat satu Pertashop,” Direktur Logistik, Rantai Pasok, dan Infrastruktur Pertamina Mulyono.

     

  • Sumbang Sepertiga Kebutuhan BBM, Kilang Pertamina Cilacap Dorong BBM Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Kilang minyak milik Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah, saat ini menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan BBM nasional.

    Sementara untuk pulau Jawa, kilang Pertamina di Cilacap ini menyumbang 60 persen kebutuhan BBM.

    Demikian mengemuka pada pertemuan Komisi VII DPR RI dalam Kunjungan Kerja Reses dengan Direksi Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2024).

    Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto mengungkapkan, produksi kilang minyak Cilacap merupakan nomor dua terbesar dengan produksi mencapai 342 ribu barel per hari (bph), 

    Baca: BBM berkualitas yang lebih ramah lingkungan

    Sedangkan produsen terbesar tetap dipegang kilang Balikpapan sudah berproduksi maksimal 360 ribu barel per hari.

    “Kilang Cilacap memproduki sepertiga kebutuhan BBM Indonesia dan 60 persen kebutuhan pulau Jawa. Jadi penting sekali keandalan kilang Cilacap ini,” ujar Sugeng kepada Parlementaria.

    Menurut Sugeng, keandalan kilang minyak Cilacap sangat penting dalam memproduksi kuantitas BBM. Di sisi lain, kilang Cilacap juga mampu secara kualitatif memproduksi BBM ramah lingkungan.

    “Biofuel diproduksi dari sini dan ke depan akan menjadi prospek yang baik dalam memenuhi kebutuhan BBM. Tetapi, terus ditekan emisinya rendah karbon,” harap politisi Partai Nasdem itu.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen, ini plus minusnya

    Sugeng menambahkan, ke depan, biofuel yang diproduksi Kilang Pertamina Cilacap ini mempunyai prospek yang baik dalam memenuhi kebutuhan BBM.

    BBM rendah karbon yang diproduksi Indonesia sudah sesuai untuk kendaran berstandar emisi gas buang Euro 5. BBM rendah karbon tersebut memiliki ron 92 ke atas.

    Disampaikan legislator dapil Jateng VIII (Cilacap, Banyumas) ini, BBM yang rendah karbon sudah menjadi tren dunia, lantaran digunakan oleh banyak jenis kendaraan bermotor yang menyumbang emisi karbon sangat besar.

    Sugeng mengingatkan, dunia telah sepakat mewujudkan net zero emissions atau emisi nol di tahun 2060.

    Baca: Indonesia mulai serius kembangkan energi hidrogen

    Karena itu, seluruh infrastruktur tentang energi terus menerus dimitigasi termasuk di Cilacap, apakah dalam berproduksi menerapkan ESG (environment, social, and governance).

    “Itu sebagai syarat bagaimana sebuah industri atau sebuah publikasi memenuhi kaidah-kaidah yang dipersyaratkan menyangkut tata lingkungan, berapa besar melepaskan karbon,” ulas Sugeng.

  • Pertamina Jamin Pasokan dan Stabilitas Harga BBM

    Pertamina Jamin Pasokan dan Stabilitas Harga BBM

    7cloud.asia – Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan menjamin stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) pasca salingserang antara Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) dan sepekan kemudian.

    Salingserang antara Iran dan Israel ini dikhawatirkan akan menyebabkan meroketnya harga minyak mentah dunia yang berimbas pada harga BBM dalam negeri.

    Apalagi dalam waktu bersamaan nilai dolar juga menguat. Kecenderungan harga minyak mentah naik, ujarnya, namun kami tetap memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman.

    Kami juga komitmen menjaga harga BBM domestik tetap stabil agar tidak berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat,” ujar Riva di Jakarta, pekan lalu.

    Baca Juga: Kemlu Imbau WNI Tinda Perjalanan ke Iran dan Israel

    Untuk sisi harga, kata dia, Pertamina telah mengambil kebijakan menahan tarif BBM sekali pun biaya produksi mengalami peningkatan seiring naiknya harga minyak mentah dunia.

    Hal ini merupakan arahan dari pemerintah untuk menahan harga BBM agar tidak naik hingga paruh pertama 2024.

    “Sebagai perusahaan negara, kami mendukung upaya pemerintah menjaga perekonomian nasional lebih stabil dan kondusif,” kata dia.

    Lebih lanjut, Riva menegaskan pihaknya bakal menjamin kestabilan stok BBM, terutama pada Hari Raya Idul Fitri 2024, di mana peningkatan konsumsi BBM menjadi sebuah keniscayaan akibat adanya arus mudik dan arus balik.

    Baca Juga: Antisipasi Ketegangan di Timur Tengah, Pemerintah Diminta Pastikan Pasokan Energi

    Dia mengatakan pasokan BBM tersedia jauh lebih tinggi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama arus mudik maupun arus balik Lebaran 2024.

    Misalnya untuk ketahanan stok Pertalite di level 20 hari, Pertamax 41 hari, Pertamax Turbo 58 Hari, Solar dan Biosolar 22 hari, Pertamina Dex 70 hari, serta avtur 41 hari.

    “Penambahan stok selama masa Satgas RAFI telah disiapkan sejak Satgas Natal dan Tahun Baru untuk memastikan kebutuhan nasional terpenuhi dengan baik,” ujar Riva Siahaan.

    Pada lain kesempatan, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengakui harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menyentuh angka 100 dolar AS per barel.

    Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah-Pengusaha Harus Bahu Membahu Antisipasi Ketegangan di Timur Tengah

    Kenaikan harga ICP ini sebagai dampak dari konflik antara Iran dan Israel.

    Sebelum konflik antarnegara Timur Tengah itu pecah, kata Tutuka, harga minyak mentah sudah meningkat 5 dolar AS per barel per bulan sejak Februari 2024.

    Sumber:Antaranews.com

  • Catat! Mulai 1 Juni Pembelian LPG 3 KG Wajib Gunakan KTP

    Catat! Mulai 1 Juni Pembelian LPG 3 KG Wajib Gunakan KTP

    7cloud.asia – PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan, mulai 1 Juni 2024, pembelian LPG 3 kilogram atau LPG 3 kg wajib menggunakan KTP.

    Langkah ini, menurut Pertamina, untuk memastikan pemberian subsidi LPG Kg tepat sasaran dan benar-benar untuk yang membutuhkan.

    “Kami laporkan bahwa per tanggal 1 Juni nantinya, pada saat akan melakukan pembelian LPG 3 kg, itu nanti akan dipersyaratkan untuk menggunakan KTP,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII di Jakarta, Selasa (28/5/2024).

    Riva mengatakan bahwa seluruh agen distribusi telah melakukan pendataan terhadap konsumen yang melakukan pembelian dan mencatat dalam aplikasi atau sebuah sistem yang disebut Merchant Application atau MAP.

    Baca: Pemerintah diminta perketat distribusi LPG 3 Kg

    Sebanyak 253.365 pangkalan aktif menyalurkan LPG 3 kg pada April 2024. Dari keseluruhan pangkalan tersebut, sebesar 98,8 persen telah melakukan pencatatan minimal satu kali pada Maret 2024.

    “Update data ini adalah update data per 30 April 2024 dan ini masih bergerak di dalam penyelesaian untuk pencatatan setiap transaksinya,” kata Riva.

    Sebanyak 221.615 pangkalan atau 88 persen pangkalan, kata dia, telah melakukan pencatatan transaksi sebesar 100 persen realisasi penyaluran pada Maret 2024.

    “Secara juta tabung, itu sampai 30 April, 98 persen transaksi itu sudah dicatatkan ke dalam merchant application,” ucap dia.

    Baca: Sejak Januari distribusi LPG 3 Kg diperketat

    Hasil dari pencatatan ini, lanjut Riva, hingga saat ini sudah ada 41,8 juta NIK yang mendaftar di subsidi tepat LPG 3 kg.

    Di mana 85,9 persen pendaftarnya, atau sekitar 35,9 juta NIK berasal dari sektor rumah tangga.

    Lebih lanjut terdapat sektor usaha mikro sebanyak 5,8 juta NIK; diikuti pengecer sebanyak 70,3 ribu NIK; nelayan sasaran sebanyak 29,6 ribu NIK; dan petani sasaran sebanyak 12,8 ribu NIK.

    Riva menjelaskan bahwa jumlah konsumen rumah tangga dan usaha mikro yang melakukan transaksi masih terus bertambah selama periode Januari–April 2024.

    Baca: Orang kaya dilarang beli LPG 3 Kg, ini alternatifnya

    “Untuk sektor petani sasaran dan nelayan sasaran, itu cukup stagnan,” kata Riva.

  • Pipa BBM Pertamina Bocor, Ribuan Warga Tuban Mengungsi

    Pipa BBM Pertamina Bocor, Ribuan Warga Tuban Mengungsi

    7cloud.asia – Sejak Minggu (9/6/2024) malam, ribuan warga di Dusun Plaosan, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban terganggu dengan aroma Bahan Bakar Minyak (BBM) yang bocor.

    Akibat kebocoran instalasi pipa terminal BBM PT Pertamina yang berada di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tersebut, tak kurang dari 1500 warga dari tiga dusun terpaksa mengungsi.   

    Menurut Kepala Desa Tasikharjo, Damuri, pada Minggu sekitar pukul 22.00 WIB sejumlah warga melihat ada kabut asap pekat di sekitar lokasi kebocoran.

    Mereka mulai mencium bau BBM yang sangat kuat dan menyengat. Bahkan banyak diantara mereka mengalami gangguan sesak napas, pusing, mual dan muntah.

    Baca: Alasan pertamina distribusikan pertamax green 95

    “Tadi pagi informasinya ada warga yang sampai dilarikan ke puskesmas karena menghirup bau BBM,” ungkap Damuri.

    Warga yang terparah menderita dampak dari kebocoran instalasi pipa di Terminal BBM PT Pertamina adalah warga di Dusun Plaosan, Desa Tasikharjo.

    Selanjutnya Damuri menjelaskan pihaknya telah menghubungi petugas PT Pertamina terkait kebocoran yang berdampak pada warganya tersebut.

    “Malam saat kejadian, saya sudah menghubungi petugasnya tapi tidak respons, dan belum ada penjelasan juga,” ungkapnya.

    Baca: Puluhan sumur di Lombok Barat tercemar diduga akibat pipa BBM Pertamina bocor

    Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga melalui Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Tuban mulai menangani kebocoran pipa tersebut.

    Langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan dinding pengamanan mampu memagari agar rembesan tidak meluber (auto protection).

    Selain itu penanganan dilakukan dengan mengerahkan vacuum truk (penyedot minyak) dan oil absorbant (penyerap minyak) agar minyak yang keluar segera tertangani.

    Baca: Kilang Pertamina Cilacap dorong BBM yang ramah lingkungan

    Menurut Area Manager Communication, Relation & CSR Jatimbalinus Ahad Rahedi saat ini kondisi sudah mulai membaik. Namun, pihaknya masih menyelidiki penyebab kebocoran tersebut.

    “Kondisi sudah berangsur membaik dan sebagian warga sudah kembali ke rumah. Penyaluran BBM ke masyarakat Tuban dan sekitarnya tetap berjalan normal dan stok dipastikan aman. Kami juga terus berkoordinasi dengan Forkopimda, BPBD serta lembaga dan instansi terkait lainnya di Tuban,” papar Ahad.

    Pada kesempatan itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat di sekitar area Terminal BBM untuk tidak merokok maupun menyalakan api hingga kondisi dinyatakan sepenuhnya aman.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

     

     

  • Instalasi Pipa Terminal BBM Pertamina Bocor, Begini Kata WALHI

    Instalasi Pipa Terminal BBM Pertamina Bocor, Begini Kata WALHI

    7cloud.asia – Bocornya instalasi pipa terminal BBM PT Pertamina di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur membuat ribuan warga mengungsi. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyayangkan peristiwa ini.

    Manajer Kampanye Isu Tambang dan Energi Eksekutif Nasional, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Fanny Tri Jambore menjelaskan peristiwa seperti ini kerap terjadi di berbagai daerah.

    Menurut Fanny, hal ini menunjukkan kegagalan perencanaan pembangunan secara sistemik.

    “Kondisi ini seharusnya dapat menjadi evaluasi menyeluruh terhadap rencana pembangunan pemerintah, mengingat pemberian izin proyek-proyek berisiko tinggi seperti pipa minyak, kilang minyak serta industri pertambangan lainnya masih belum secara menyeluruh menggunakan instrument-instrumen yang telah diatur dalam UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan ketat,” urai  Fanny, seperti yang dikutip Portonews.

    Baca: Puluhan sumur di Lombok Barat tercemar gegara Pertamina bocorpipa

    Lebih jauh Fanny menjelaskan seharusnya Pertamina melakukan  pengkajian risiko terlebih dahulu agar tidak merugikan masyarakat sekitar.

    Pengkajian risiko tersebut meliputi seluruh proses mulai dari identifikasi bahaya, penaksiran besarnya konsekuensi atau akibat.

    Selain itu, pengkajian risiko juga melakukan penaksiran kemungkinan munculnya dampak yang tidak diinginkan, baik terhadap keamanan dan kesehatan manusia maupun lingkungan hidup.

    WALHI menyoroti berulangnya peristiwa kebocoran maupun kebakaran pada kilang, depo serta pipa di sektor migas di berbagai daerah.

    Agar tak terulang, lanjut Fanny, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem kemanan dan keselamatan pada industri migas yang melibatkan seluruh stakeholder terkait khususnya KLHK dan Kementerian ESDM.

    Baca: Pipa Pertamina bocor, ribuan warga di Tuban mengungsi

    “Pertamina harus menyiapkan skema mitigasi terhadap operasional perusahaannya yang memiliki resiko tinggi, terutama pada resiko kebocoran pipa, kebakaran kilangnya. Pasalnya, kebocoran pipa atau kebakaran kilang minyak ini sangat berdampak buruk bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat,” jelasnya.

    Tak hanya itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus berani melakukan tindakan tuntutan hukum terhadap perusahaan yang mencemari lingkungan dan mengancam keselamatan.

    Dalam hal ini terdapat klausul pidana dalam UU 32/2009 yang dapat digunakan sebagai langkah-langkah hukum untuk menindak perusahaan yang mencemari lingkungan dan berdampak pada kehidupan masyarakat.

    Fanny memberi contoh pada 2019 lalu, KLHK pernah mengajukan tuntutan hukum terhadap perusahaan termasuk Pertamina atas kasus pencemaran Teluk Balikpapan.

     

  • Daftar Harga BBM per Agustus 2024: Pertamina Tunggu Arahan Pemerintah Terkait Pembatasan BBM Bersubsidi

    Daftar Harga BBM per Agustus 2024: Pertamina Tunggu Arahan Pemerintah Terkait Pembatasan BBM Bersubsidi

    7cloud.asia – Memasuki awal Agustus 2024, harga bahan bakar minyak (BBM) yang dijual PT Pertamina masih sama dengan bulan sebelumnya.

    Artinya PT Pertamina kembali tidak melakukan penyesuaian harga BBM untuk semua jenis.

    Sementara soal wacana pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan menunggu arahan pemerintah

    “Kita tunggu pemerintah,” kata Nicke di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (31/7/2024).

    Sementara saat dikonfirmasi apakah ada kenaikan harga BBM non-subsidi pada 1 Agustus 2024, ia mengatakan bahwa untuk BBM non-subsidi memang selalu ada penyesuaian harga.

    “Itu kan sudah biasa kalau non-subsidi,” ucap Nicke.

    Baca: Simpang siur pembatasan BBM bersubsidi

    Ia pun mengaku belum mengetahui apakah ada kenaikan harga BBM non-subsidi pada 1 Agustus 2024.

    “Belum tahu, kita belum hitung,” ujar Nicke.

    Seperti diketahui, harga BBM Pertamina belum berubah sejak 1 Januari 2024. Hal ini sebagaimana dilihat dari laman resmi Pertamina yang diakses Kamis (1/8/2024) pukul 02.10 WIB.

    Terpantau bahwa BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite masing-masing masih dipasarkan dengan harga Rp 6.800 per liter dan Rp 10.000 per liter.

    Begitu pula untuk harga Pertamax masih Rp 12.950 per liter untuk kawasan DKI Jakarta dan Pulau Jawa.

    Baca: Harga BBM bersubsidi belum berubah

    Adapun Pertamax Green 95 dipasarkan Rp 13.900 per liter, Pertamax Turbo Rp 14.400 per liter, Dexlite Rp 14.550 per liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100 per liter.

    Berikut harga BBM di SPBU Pertamina per Agustus 2024 (wilayah Jakarta dan sekitarnya):
    – Biosolar: Rp 6.800 per liter
    – Pertalite: Rp 10.000 per liter
    – Pertamax: Rp 12.950 per liter
    – Pertamax Green 95: Rp 13.900 per liter
    – Pertamax Turbo: Rp 14.400 per liter
    – Dexlite: Rp 14.550 per liter
    – Pertamina Dex: Rp 15.100 per liter

     

  • Pertamina Naikkan Harga Pertamax Hari Ini, Simak Daftar Harganya di Sini

    Pertamina Naikkan Harga Pertamax Hari Ini, Simak Daftar Harganya di Sini

    7cloud.asia – PT. Pertamina Patra Niaga kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada Agustus 2024.

    Setelah menaikkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Green 95, Pertamina Dex, dan Dexlite pada 2 Agustus 2024, kini Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga Pertamax yang berlaku mulai 10 Agustus 2024.

    Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari mengatakan, harga Pertamax naik menjadi Rp 13.700 per liter dari semula Rp 12.950 per liter.

    Harga tersebut berlaku untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar lima persen.

    “Seperti Badan Usaha lain, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi,” kata Heppy dikutip Kompas.com, Sabtu (10/8/2024).

    Pertamina telah mengumumkan rincian harga BBM subsidi maupun non-subsidi terbaru melalui laman Pertamina Fuel setelah mengumumkan kenaikan harga Pertamax.

    Simak rincian harga BBM mulai 10 Agustus 2024 berikut ini.

    Aceh
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax: Turbo: Rp 15.450
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamax Dex: Rp 15.650 –

    Free Trade Zone (FTZ) Sabang
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 12.600 –
    Dexlite: Rp 14.100 – –

    Sumatera Utara
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamax Dex: Rp 16.000 –

    Sumatera Barat
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150 –
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamax Dex: Rp 16.350

    Riau
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamax Dex: Rp 16.350

    Kepulauan Riau
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamx Dex: Rp 16.350

    Free Trade Zone (FTZ) Batam
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.000
    Pertamax Turbo: Rp 14.700
    Dexlite: Rp 14.600
    Pertamx Dex: Rp 14.900

    Jambi
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Bengkulu
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamina Dex: Rp 16.350 –

    Sumatera Selatan
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Bangka-Belitung
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Lampung
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    DKI Jakarta
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95:Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    Banten
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    Jawa Barat
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    Jawa Tengah
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    DI Yogyakarta
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650

    Jawa Timur
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    Bali
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650 –

    Nusa Tenggara Barat
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Pertamina Dex: Rp 15.650

    Nusa Tenggara Timur
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 13.700
    Pertamax Turbo: Rp 15.450
    Pertamax Green 95: Rp 15.000
    Dexlite: Rp 15.350
    Dexlite: Rp 15.650
    Pertamina Dex: 15.250

    Kalimantan Barat
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Kalimantan Tengah
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Kalimantan Selatan
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamina Dex: Rp 16.350 –

    Kalimantan Timur
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Kalimantan Utara
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.300
    Pertamax Turbo: Rp 16.150
    Dexlite: Rp 16.050
    Pertamina Dex: Rp 16.350 –

    Sulawesi Utara
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Gorontalo
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Sulawesi Tengah
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Sulawesi Tenggara
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Sulawesi Selatan
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800 Rp
    Pertamax: 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000 –

    Sulawesi Barat
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700
    Rp 16.000 –

    Maluku/Maluku Utara
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Dexlite: Rp 15.700 – –

    Papua
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Pertamax Turbo: Rp 15.800
    Dexlite: Rp 15.700 

    Papua Barat/Papua Barat Daya
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Dexlite: Rp 15.700
    Pertamina Dex: Rp 16.000

    Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah
    Pertalite: Rp 10.000
    Biosolar: Rp 6.800
    Pertamax: Rp 14.000
    Dexlite: Rp 15.700