7cloud.asia – Yasinda Atok adalah saksi hidup apa yang dialami penyandang disabilitas saat badai Seroja menghantam sejumlah wilayah di Nusa Tenggara termasuk di kotanya di Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 2021 silam.
Di Kabupaten malaka, NTT, ada tiga kecamatan yang sangat merasakan dampak badai Seroja pada awal 2021 lalu.
Di sela diskusi Webinar bertajuk Gerakan Perubahan Iklim di Indonesia: Sudah Terlibatkah Penyandang Disabilitas? pada Senin (21/5/2023) yang dihelat secara daring, Yasinda menceritakan apa yang dialami para penyandang disabilitas saat bencana alam yang menewaskan ratusan orang itu terjadi,
“Mereka terjebak di dalam rumahnya, tertinggal saat evakuasi saat para korban dievakuasi. Bahkan keluarganya melupakan mereka dan terjebak di rumah yang terendam banjir sampai banjir berlalu, ketika keluarganya kembali ternyata masih selamat,” ujarnya.
Baca: Peran masyarakat adat hadapi perubahan iklim
Sementara, kelompok disabilitas yang berhasil dievakuasi harus menghadapi tempat pengungsian yang tidaka inklusif.
“Saat ke toilet tidak tersedia fasilitas yang mereka butuhkan. Pun saat antri ambil makanan, juga harus secara umum, yang memakai tongkat/kursi roda kesulitan,” imbuhnya.
Belajar dari pengalaman ini, Yasinda dan aktivis disabilitas kemudian melakukan edukasi kepada masyarakat apa seharusnya yang dilakukan saat bencana terjadi. kami, ujarnya, mengedukasi keluarga penyandang disabilitas untuk memprioritaskan anggota keluarganya yang disabilitas dan jangan sampai tertinggal.
Baca: Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dirilis sejak 70 tahun silam
Selain itu Yasinda bersama aktivis lainnya juga terus mendorong agar ke depan, saat kembali terjadi bencana, disiapkan pengungsian yang inklusif bagi semua kelompok termasuk penyandang disabilitas.
Apa yang disampaikan oleh Yasinda mungkin menjadi potret bagaimana pengendalian dampak perubahan iklim di Indonesia. Di mana penanganan dan perumusan kebijakan justru sering tidak melibatkan kelompok yang paling rentan.
Masih ada beberapa kelompok di masyarakat yang masih tertinggal serta belum terlibat secara penuh dalam perjuangan melawan krisis iklim. Salah satunya adalah kelompok penyandang disabilitas.
Baca: Mengurai kemiskinan ekstrem di Indonesia
Yeni Rosa Damayanti dari Perkumpulan Jiwa Sehat mengatakan, tak hanya dalam penanganan, pengenalan ancaman dan dampak perubahan iklim masih jauh untuk bisa diakses oleh kelompok disabilitas.
Ia memaparkan, tantangan tak hanya dihadapi kelompok disabilitas fisik, tetapi juga disabilitas netra, tuli dan sebagainya. Perangkat dan materi kampanye perubahan iklim yang ada sama sekali belum menyentuh kelompok ini.
“Untuk kelompok disabilitas intelektual, belum ada instrumen yang bisa menjelaskan tentang perubahan iklim dan dampaknya dalam bahasa yang mudah dimengerti,” ujarnya.
Baca: Peran pendidikan dalam menghadapi perubahan iklim
Abdul Ghofar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan menduduki posisi nomor tiga paling rentan akibat banjir dan kenaikan suhu.
Ia memaparkan, dampak perubahan iklim akan makin terasa dalam beberapa dekade mendatang dan dampaknya tidak merata, berbeda antar kelompok, sehingga dalam merumuskan kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing kelompok.
Ghofar lantas menyebut sejumlah kelompok yang paling rentan, seperti negara berkembang dan negara miskin serta negara kepulauan.
Sementara di masyarakat, masuk dalam kelompok rentan antar alain adalah kelompok disabilitas, anak-anak, masyarakat kurang mampu, masyarakat adat, orang tua, orang dengan masalah kesehatan, disabilitas, perempuan hamil dan menyusui.
“Kelompok disabilitas memiliki risko empat kali lipat dibanding yang lain saat terjadi bencana,” ujar Ghofar.
Baca: Seperti ini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan
Namun sayangnya, hingga saat ini kelompok disabilitas nyaris ditinggalkan dalam pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim. Pembahasan masih terbatas di kalangan elit yang tidak merasakan dampak sebagaimana yang dirasakan kelompok rentan.
Pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim yang inklusif, ujarnya, tidak mungkin tanpa keterlibatan penyandang disabilitas karena penyandang disabilitas adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.
“Sayangnya sampai saat ini upaya untuk memberikan informasi yang cukup serta melibatkan penyandang disabilitas dalam isu perubahan iklim masih belum banyak dilakukan,” ujarnya.

Leave a Reply