Tag: plastik sekali pakai

  • Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    7cloud.asia – Menyambut Bulan Juli Bebas Plastik sejumlah organisasi lingkungan akan kembali menggelar Pawai Bebas Plastik yang rencananya akan digelar pada Minggu (30/7/2023) serentak di sejumlah kota di Indonesia.

    Di Jakarta, Pawai Bebas Plastik akan dilakukan di Jalan Jenderal Sudirman mulai dari Stasiun MRT Benhil hingga Bundaran HI.

    Rangkaian kegiatan Pawai Bebas Plastik 2023 telah dimulai sejak awal Juli dengan agenda diskusi Global Plastic Treaty, diskusi tematik polusi plastik, pemutaran film Pulau Plastik dan lokakarya poster kampanye.

    Agenda puncak Pawai Bebas Plastik 2023 akan dilaksanakan pada Minggu, 30 Juli 2023 dalam bentuk kampanye publik di area Car Free Day Jakarta.

    Puncak acara Pawai Bebas Plastik juga akan diramaikan dengan orasi sejumlah tokoh termasuk mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. 

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    Rangkaian kampanye Pawai bebas Plastik ini diharapkan bisa menjadi sarana pengarusutamaan agenda lingkungan hidup, terutama persoalan sampah dan plastik dalam wacana pesta demokrasi 2024.

    Gerakan kolektif bertajuk Pawai Bebas Plastik ini bertujuan mewujudkan masa depan bebas plastik lewat beragam upaya sistematis mulai dari kebijakan pembatasan produksi plastik, pelarangan plastik sekali pakai, perluasan tanggung jawab produsen hingga transisi menuju ekonomi sirkular.

    Gerakan ini pertama kali diinisiasi oleh beberapa organisasi lingkungan seperti Divers Clean Action, EcoNusa, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Greenpeace Indonesia, Indorelawan, Pandu Laut Nusantara, Pulau Plastik, dan WALHI pada tahun 2019.

    Tahun 2023 ini menandai tahun kelima penyelenggaraan kampanye #PlasticFreeJuly atau Bulan Juli Bebas Plastik oleh berbagai organisasi dan komunitas di Indonesia melalui kampanye kolektif bernama Pawai Bebas Plastik.

    Baca: Dunia targetkan polusi plastik turun hingga 80 persen, bisakah dicapai?

    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pawai Bebas Plastik ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak awal Juli lalu hingga Februari 2024  mendatang.

    Membuka penjelasannya, Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan gaya hidup minim sampah khususnya sampah plastik.

    Masyarakat sudah melakukan berbagai inisiatif seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah dari rumah hingga partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembersihan atau clean up sampah plastik di sungai, pesisir dan lautan.

    “Berbagai upaya tersebut masih belum menyelesaikan persoalan polusi plastik. Pencemaran plastik ke lingkungan hingga penutupan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) akibat kelebihan muatan sampah seperti plastik masih belum berhasil dituntaskan,” ujar Tiza, Kamis (27/7/2023) di sela jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 di Jakarta.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastiknya

    Ada tiga tuntutan yang didesakkan oleh inisiator dan kolaborator Pawai Bebas Plastik 2023 untuk menjawab persoalan polusi plastik dan mewujudkan masa depan belas plastik.

    Pertama, mendorong pemerintah melarang penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong praktik guna ulang sebagai solusi.

    Dijelaskan, saat ini sudah ada lebih dari 100 kabupaten/kota dan provinsi yang melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Melalui kebijakan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan ada pengurangan sampah plastik secara signifikan, khususnya pada jenis plastik sekali pakai seperti kantong belanja, sedotan dan styrofoam.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Pada sisi yang lain, harus ada kebijakan yang bisa mempercepat ekosistem guna ulang (reuse) sebagai solusi berkelanjutan.

    Salah satu advokasi yang saat ini sedang dijalankan oleh kelompok masyarakat adalah mengenai solusi guna ulang, solusi ini sebenarnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia dari dulu.

    Namun, dengan perkembangan zaman dan adanya perubahan perilaku konsumsi, perlu upaya konkret dari pemerintah dan produsen untuk sama-sama menciptakan ekosistem guna ulang seperti sedia kala.

    “Jika ekosistem ini diwujudkan dan dijalankan oleh seluruh masyarakat, Indonesia juga bisa menjadi contoh negara yang mempraktikkan solusi ini, sejalan dengan harapan dalam Global Plastic Treaty yang sedang disusun oleh negara-negara anggota PBB untuk mengakhiri polusi plastik.” ujar Tiza Mafira.

    Baca: Teknologi ini diklaim mampu olah sekilogram sampah jadi senilai 1 gram emas

    Tuntutan yang kedua adalah mendorong pemerintah memperbaiki sistem tata kelola sampah.

    Ini mencakup langkah-langkah perbaikan seperti penerapan kebijakan berdasarkan hirarki pengelolaan sampah, penerapan kebijakan pengurangan sampah seimbang dengan penanganan sampah, peningkatan anggaran dan infrastruktur pengelolaan sampah.

    Sebanyak 47 organisasi dan komunitas pesduli lingkungan meihat perlunya dukungan pada pengembangan ekosistem guna ulang serta pelibatan pekerja informal seperti pemulung dalam transisi menuju ekonomi sirkular.

    Perbaikan tata kelola sampah yang baik itu harus dilakukan mulai dari perencanaan, penerapan, pengendalian dan evaluasi menjadi kunci masalah sampah dan polusi plastik secara struktural.

    “Selama ini tata kelola sampah yang baik belum berjalan karena beberapa hal seperti perencanaan pengelolaan sampah tidak berbasis kajian komprehensif dan minimnya evaluasi dari program-program yang berjalan.” kata Abdul Ghofar, pengkampanye Polusi dan Urban WALHI Nasional.

    Baca: Solusi sampah plastik harus libatkan pemerintah-produsen dan konsumen

    Tuntutan ketiga adalah mendorong produsen dan pelaku usaha bertanggung jawab atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan ramah lingkungan, dan implementasi kewajiban perluasan tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Sejauh ini, sudah ada 42 produsen yang telah menyerahkan peta jalan pengurangan sampah dalam produk kemasan mereka ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia mengatakan produsen FMCG memegang peranan penting dalam mencegah timbulan sampah.  Aksi individu untuk mengurangi plastik sekali pakai juga perlu.

    “Tetapi perubahan sistem bagaimana produk didistribusikan kepada konsumen akan memberikan dampak yang lebih signifikan,” terangnya

     

  • Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    7cloud.asia – Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti dan aktris Aurellie Moeremans mengikuti Pawai Bebas Plastik 2023 yang dihelat sejumlah organisasi lingkungan pada Minggu (30/7/2023) pagi.

    Pawai Bebas Plastik 2023 ini merupakan kali kelima diselenggarakan dan bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Di pawai bebas plastik 2023 ini, Susi Pudjiastuti membawa poster bertuliskan “tolak sekali pakai” yang dibuat dari kardus bekas.  

    Baca Juga: Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Pawai Bebas Plastik 2023 yang diikuti berbagai organisasi dan komunitas itu mengusung tiga tuntutan utama yakni:

    Pertama, Pawai Bebas Plastik menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Larangan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang berkontribusi pada peningkatan volume sampah plastik.

    Dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan masyarakat akan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Baca Juga: 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    Pawai Bebas Plastik juga menyerukan pemerintah untuk memperbaiki sistem tata kelola sampah yang ada.

    Ini mencakup langkah-langkah seperti peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah plastik, pengembangan program daur ulang yang efektif, peningkatan ketersediaan tempat pembuangan sampah yang sesuai.

    Pawai Bebas Plastik 2023 juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik, terutam auntuk sampah plastik yang sangat merusak lingkungan.

    Dengan sistem tata kelola sampah yang lebih baik, diharapkan sampah, termasuk sampah plastik, dapat ditangani secara lebih efisien dan berkelanjutan.

    Baca Juga: Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    Terakhir, Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab atas sampah plastik pasca konsumsi.

    Salah satu aspek penting dalam penanganan sampah plastik adalah tanggung jawab produsen terhadap sampah yang dihasilkan oleh produk dan kemasannya.

    Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab secara penuh atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan yang ramah lingkungan, dan pelaksanaan program tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Baca Juga: Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

    Dengan melibatkan produsen dalam tanggung jawab penuh atas sampah yang dihasilkan, diharapkan dapat tercipta siklus produksi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.

    Dengan menyerukan tiga tuntutan ini, Pawai Bebas Plastik berharap dapat mendorong perubahan kebijakan, kesadaran masyarakat, dan tanggung jawab produsen dalam menghadapi masalah sampah plastik.

    “Semua pihak, termasuk pemerintah, produsen, dan masyarakat, harus bekerja sama untuk mencapai pengurangan dan penanganan sampah plastik,” demikian seruan koalisi pawai bebas plastik.

    Baca Juga: Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

     

  • Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    7cloud.asia – Sampah plastik telah menimbulkan masalah serius bagi lingkungan. Dan, sebuah penelitian mengungkap, Indonesia merupakan salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia.

    Indonesia berada di peringkat kedua sebagai produsen sampah plastik yang dibuang ke laut dengan menghasilkan 1,3 juta ton per tahun (Jambeck, 2015).

    Tingginya sampah plastik ini sebagian besar dihasilkan dari penggunaan plastik sekali pakai. Sampah plastik dari plastik sekali pakai sangat problematik bagi lingkungan, karena hanya sekali digunakan lantas menjaid sampah yang butuh ratusan tahun untuk dapat terurai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik usung tiga tuntutan tuk kurangi sampah plastik

    Meski demikian plastik sekali pakai masih sering dan banyak digunakan oleh masyarakat dengan alasan murah dan praktis.

    Mengingat ancaman besar yang ditimbulkan sampah plastik yang dipicu plastik sekali pakai pada lingkungan, sejumlah organisasi lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sejak beberapa waktu lalu gencar mengampanyekan “Ban the Big 5”

    AZWI menyerukan pelarangan penggunaan 5 produk plastik sekali pakai terbesar diantaranya styrofoam, plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan sachet, dan microbeads.

    Kemasan plastik, dan plastik multi-bahan sekali pakai lainnya seperti popok, juga merupakan sumber utama sampah plastik.

     

    Baca: 5 Perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

    Untuk itu AZWI yang antara lain beranggotakan GIDKP, Komunitas Nol Sampah, PPLH Bali, Greenpeace Indonesia, ECOTON, Nexus3, ICEL, dan YPBB menargetkan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mengatasi masalah sampah plastik ini.

    Perusahaan harus ikut bertanggung jawab yang lebih besar atas limbah mereka, mendesain ulang kemasan, dan memikirkan kembali metode alternatif untuk penjualan produk dalam kemasan bulk.

    Dilansir di aliansizerowaste.id, AZWI menyebut pada Tahun 2019 pihaknya memberikan dukungan pengarahan kepada Provinsi Bali di Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam kasus judisial review antara Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dengan Gubernur Bali.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari siklus

    Mahkamah Agung menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk melarang plastik sekali pakai melalui Putusan MK Nomor 29 P / HUM / 2019.

    Ini memberikan yurisprudensi penting sebagai amunisi hukum bagi advokasi kebijakan soal larangan plastik sekali pakai ke kota/kabupaten lainnya.

    Upaya menghindari plastik sekali pakai ini adalah langkah konkret pengurangan sampah plastik sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dilakukan dengan cara melarang, dan/atau membatasi produksinya, distribusinya, penjualannya, dan/atau pemakaiannya.

    Baca: Kampanye guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Saat ini kantong plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbanyak sampah di Indonesia. Pada tahun 2019 sekitar 9.52 juta ton sampah plastik telah dihasilkan.

    Sekitar 10.95 juta lembar sampah kantong plastik setiap tahun ‘hanya’ berasal dari 100 toko anggota APRINDO (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia). 

    Salah satu penanganan sampah plastik sekali pakai adalah melalui penerapan peraturan pemerintah daerah untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

    Saat ini sudah ada puluhan kota/kabupaten/provinsi yang menerapkan peraturan ini diantaranya yakni Provinsi DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Balikpapan, Kota Bekasi, Kota Bogor, Provinsi Bali, dan Kota Banjarmasin. 

    Baca: Yuk kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

     

  • Praktek Guna Ulang Lewat Challenge Jajan Bebas Plastik

    Praktek Guna Ulang Lewat Challenge Jajan Bebas Plastik

    7cloud.asia – Challenge Jajan Bebas Plastik menjadi bagian dari kampanye bebas plastik yang disuarakan Koalisi Pawai Bebas Plastik yang antaralain digawangi oleh Greenpeace Indonesia.

    Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar mengatakan, lewat Jajan Bebas Plastik ini, pihaknya ingin mengajak konsumen untuk mengurangi kemasan plastik sekali pakai dengan mempraktikkan konsep guna ulang.

    Selama ini, ujarnya, kulineran hampir tidak pernah terlepas dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Karena itu, lewat challenge jajan bebas plastik ini Greenpeace ingin mendobrak anggapan itu.

    ”Saat kulineran pasti membutuhkan wadah atau kemasan. Jika kita makan di tempat, wadah itu bisa berupa mangkok atau piring. Yang jadi masalah adalah bungkus yang kita pakai merupakan kemasan sekali pakai seperti plastik dan sebagainya,” ujar Ibar kepada 7cloud.asia di Jakarta, Minggu (28/7/2024).

    Lewat jajan bebas plastik ini, Greenpeace Indonesia menantang anak muda di Jabodetabek untuk kulineran tanpa plastik sekali pakai dan dilakukan secara rendah emisi.

    Baca: Piknik bebas plastik untuk atasi krisis sampah plastik

    Hal ini bisa dilakukan dengan membawa wadah sendiri dan menggunakan transportasi umum saat menuju ke tempat kuliner yang dituju.

    Chalenge jajan bebas plastik ini, Greenpeace ingin menghidupkan kembali praktik guna ulang yang makin memudar. Padahal, ujar Ibar, praktik guna ulang ini efektif kurang plastik sekali pakai dan sudah diterapkan di masa lalu.

    “Maka dari itu, melalui kegiatan ini, Greenpeace juga sekaligus mengenalkan alat-alat guna ulang yang praktis untuk bisa mereka pakai saat berkuliner,” ungkap Ibar.

    Sebanyak 20 peserta ikut terlibat pada acara jajan bebas plastik ini. Mereka dibagi menjadi empat kelompok dengan rute perjalanan berbeda.

    Challenge jajan tanpa plastik menjadi momentum untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa praktik guna ulang bisa diterapkan dengan mudah. Praktik ini juga dapat menekan laju sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari hulu

    Salah seorang peserta, Ghifari Alfani Royan mengakui challenge ini sangat menantang lagi menginspirasi.

    Ghifari yang tergabung dalam Tim Katirisala mengatakan, kegiatan jajan bebas plastik ini juga bisa jadi sarana edukasi bagi pedagang bahwa ada alternatif selain menggunakan plastik sekali pakai yang tak bagus untuk lingkungan

    Dari fakta yang ditemukannya di lapangan, sambutan dari pedagang cukup positif karena ini akan memangkas biaya yang harus dikeluarkan untuk kemasan.

    “Namun, ada juga pedagang yang heran karena masih jarang pembeli yang membawa wadah sendiri. Selain itu, mereka juga khawatir wadah yang dibawa tak bisa menampung makanan yang dibeli,“ ujarnya kepada 7cloud.asia.

    Pengalaman mengikuti challenge jajan bebas plastik ini, menurut Ghifari, bisa menjadi sarana edukasi, baik kepada konsumen maupun pedagang, untuk mengurangi plastik sekali pakai.

    Baca: Apa itu Pawai Bebas Plastik

    Setelah ini, Ghifari akan mencoba menerapkan praktik serupa ke pedagang lain sehingga lebih banyak pedagang yang terpapar

    “Saya juga akan mengajak orang-orang di sekitar saya, mulai dari yang terdekat untuk menerapkan praktek jajan bebas plastik ini,“ imbuhnya

    Baik Ibar maupun Ghifari sependapat, praktik guna ulang ini penting mendapatkan dukungan dari pemerintah dan produsen. Kedua pihak tersebut harus menciptakan kondisi sesuai perannya masing-masing seperti penguatan kebijakan dan penyediaan fasilitas.

    Apabila keduanya telah terbangun, tentu masyarakat akan mudah dan memiliki pilihan untuk melakukan praktik guna ulang. Sehingga, mereka akan terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Konsumen atau masyarakat sebenarnya bisa menerapkan guna ulang. Tinggal menunggu pemerintah dan produsen saja, apakah mereka mau mendukung gerakan ini?

    “Dari sisi pemerintah bisa merancang peraturannya. Lalu, produsen bisa ikut membentuk infrastrukturnya,” pungkas Ibar.

  • Langkah Mudah untuk Hentikan Penggunaan Plastik Sekali Pakai Sekaligus Kurangi Sampah Plastik

    Langkah Mudah untuk Hentikan Penggunaan Plastik Sekali Pakai Sekaligus Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sampah yang dihasilkan plastik sekali pakai menjadi ancaman terbesar terhadap lingkungan. Sekitar 300 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya.

    Dan, faktanya lebih dari 90 persen plastik sekali pakai berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibuang begitu saja yang kemudian mencemari tanah dan laut atau menyumbat aliran sungai.

    Tak sepadan dengan waktu penggunaannya yang sangat pendek, plastik sekali pakai ini butuh waktu ratusan tahun untuk terurai.

    Sebagian di antaranya terpecah menjadi mikroplastik yang membahayakan makhluk hidup baik manusia ataupun binatang yang tak sengaja mengonsumsinya.

    Saat ini memang mulai bermunculan berbagai insiatif untuk mendaurulang sampah plastik menjadi beragam barang berguna lainnya.

    Baca: Kurangi sampah plastik sekali pakai dari hulunya

    Namun, menurut Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia Ibar Akbar, daur ulang plastik tak hanya membutuhkan energi dan biaya tetapi juga menghasilkan emisi karbon.

    Sehingga cara terbaik untuk mengatasi sampah plastik adalah mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai.

    “Inisiatif yang hanya berfokus pengurangan sampah di hilir tidak akan selesai jika keran produksi plastik dikurangi,” ujarnya kepada ruangkota,com di sela acara Piknik Bebas Plastik, Minggu (28/7/2024) lalu.

    Jika kamu terpikir untuk meningglkan plastik sekali pakai tapi bingung bagaimana caranya, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

    Saat memesan makanan untuk dibawa pulang, pertimbangkan untuk menggunakan wadah sendiri yang dapat digunakan kembali.

    Baca: Cara unik agar wisata kulinermu bebas sampah plastik

    Beberapa waktu belakangan, semakin banyak orang yang membawa peralatan makan sendiri ke manapun dia bepergian. Baik sendok, garpu, sumpit atau bahkan sedotan.

    Selain lebih higienis, cara ini juga efektif mengurangi sampah plastik sekali pakai. Pergi untuk minum kopi? Bawalah mug atau termos portabel atau tumblermu sendiri.

    Saat pergi berbelanja, bawalah tas belanja yang dapat digunakan kembali. Selain itu sebisa mungkin hindari pembungkus plastik.

    Jika kamu khawatir ribet, saat ini terdapat sejumlah aplikasi belanja yang tak hanya menjual produk organik yang ramah lingkungan, tetapi juga menerapkan sistem guna ulang.

    Terakhir, selalu pilih produk yang dapat digunakan kembali daripada plastik sekali pakai untuk membatasi konsumsi plastik kamu. Jadi, jangan lagi menunda untuk lingkungan yang lebih baik.

  • Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai, Pemkot Yogyakarta Rilis Surat Edaran Pembatasan Plastik

    Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai, Pemkot Yogyakarta Rilis Surat Edaran Pembatasan Plastik

    7cloud.asia – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo telah menerbitkan Surat Edaran (SE) nomor 100.3.4/3479/2025 tentang pelaksanaan pembatasan plastik sekali pakai untuk mendorong masyarakat dan pelaku usaha membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

    Surat Edaran tersebut adalah upaya optimalisasi pelaksanaan Peraturan Wali (Perwal) Kota Yogyakarta nomor 40 tahun 2024 tentang pengurangan timbulan sampah plastik sekali pakai. Pembatasan plastik akan mendukung pengurangan sampah di Kota Yogyakarta.

    “Dengan ditetapkannya Perwal nomor 40 tahun 2024 tentang pengurangan timbulan sampah plastik sekali pakai, agar pelaksanaannya berjalan secara optimal di lingkungan perkantoran, kegiatan usaha, fasilitas publik dan permukiman di Kota Yogyakarta berlaku sejumlah ketentuan,” ujar Hasto dalam Surat Edaran terebut

    Dalam SE itu, ditegaskan sesuai Pasal 9 dan 10 Perwal Nomor 40 Tahun 2024 diatur setiap orang dan pelaku usaha wajib melakukan pembatasan plastik sekali pakai.

    Pelaksanaan pembatasan dengan tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai dan menggantinya dengan kantong belanja ramah lingkungan yang dapat didaur ulang dan digunakan kembali.

    Masyarakat juga diharapkan membawa kantong belanja ramah lingkungan dan dapat digunakan berulang. Termasuk tidak menggunakan tempat, wadah atau makanan dan minuman botol dan gelas berbahan plastik sekali pakai dalam penyediaan jamuan maupun penjualan makanan dan minuman.

    Hasto juga mengimbau masyarakat membawa tempat atau wadah makanan minuman sendiri dari rumah. Masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi aktif dan memberikan edukasi dalam mendukung terlaksananya pembatasan plastik sekali pakai di masyarakat.

    Selain itu bagi pelaku usaha dan kegiatan agar melaporkan pelaksanaan pembatasan plastik sekali pakai setiap bulan melalui link https://bit.ly/LaporanPembatasanPlastikYK.

    Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq, SE Wali Kota tentang pembatasan plastik sekali pakai menegaskan Perwal Nomor 40 tahun 2024 dan sejalan dengan gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang digencarkan Pemkot Yogyakarta.

    Dia menyebut jumlah sampah plastik selama ini mencapai sekitar 20 persen dibandingkan sampah lainnya. Diharapkan pembatasan sampah plastik sekali pakai bisa mengurangi volume sampah sekitar 20 persen.

    “Surat Edaran Wali Kota ini menguatkan dan memperjelas apa yang harus dilaksanakan karena ini tidak hanya warga masyarakat, tapi juga seluruh pelaku usaha. Jadi ini merupakan salah satu upaya kita untuk mereduksi sampah yang ada di depo,” kata Rajwan ditemui di Kantor DLH Kota Yogyakarta, Jumat (10/10/2025)

    Dia menjelaskan DLH Kota Yogyakarta sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta untuk mensosialisasikan SE Wali Kota itu kepada para pelaku usaha perdagangan dan di pasar rakyat.

    Begitu pula dengan Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta agar menyosialisasikan kepada para pelaku UMKM di Kota Yogyakarta untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

    Dia mencontohkan supermarket tidak menyediakan kantong plastik sehingga masyarakat harus membawa tas dari rumah. Jika masih menyediakan kantong plastik sekali pakai harganya dibuat lebih mahal sehingga masyarakat akan membawa tas sendiri.

    ”Ini seiring dengan Mas JOS yang kelima menggunakan wadah yang berulang. Masyarakat harapannya nanti belanja di supermarket dan tempat-tempat penjualan menggunakan tas yang dibawa dari rumah,” terangnya.

    Kepala Dinas LIngkungan Hidup Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq mengatakan, dalam satu bulan pertama ini pihaknya akan mensosialisasikan kepada seluruh warga masyarakat dan pelaku usaha untuk bisa melaksanakan dari SE wali kota ini.

    ”Kami akan pantau dalam satu bulan ini. Bulan depan kita evaluasi bagaimana tindak lanjutnya di masyarakat dan pelaku usaha. Harapan kami seluruh warga masyarakat, pelaku usaha marilah kita kurangi penggunaan plastik sehingga bisa menciptakan lebih ramah lingkungan dan Yogyakarta yang nyaman,” pungkas Rajwan.

  • BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta, Ini Respon Dinas Lingkungan Hidup

    BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta, Ini Respon Dinas Lingkungan Hidup

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan, akan menindaklanjuti hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait temuan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

    Selain berupaya mengintensifkan pengawasan pemanfaatan plastik, Pemprov DKI Jakarta akan berkomunikasi dengan BRIN untuk mencari upaya inovatif mengurangi dampak lingkungan.

    Volume sampah plastik di Jakarta sangat signifikan; pada tahun 2022, plastik menyumbang 22,95 persen dari total komposisi sampah di DKI Jakarta, yang mencapai 22.953 ton berdasarkan data tahun tersebut.

    Selain itu, pada tahun 2019, sekitar 1.000 ton dari total 7.500 ton sampah harian di Jakarta adalah sampah plastik, terutama plastik sekali pakai.

    Kepala Dinas LH DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya tengah memperkuat program pengendalian sampah plastik dari hulu hingga hilir, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.

    “Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Menurut Asep, Pemprov DKI Jakarta selama ini telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan sampah plastik sekali pakai.

    Di antaranya melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan, serta perluasan program Jakstrada Persampahan yang menargetkan 30 persen pengurangan sampah dari sumbernya.

    Selain itu, lanjut Asep, Pemprov DKI Jakarta juga terus memperluas bank sampah, TPS 3R, dan inisiatif daur ulang berbasis komunitas agar limbah plastik tidak lagi berakhir di lingkungan terbuka.

    “Upaya pengurangan plastik harus dilakukan dari sumbernya — mulai dari rumah tangga, industri, hingga sektor jasa. Setiap orang punya peran,” tambahnya.

    Sebagai tindaklanjut, Asep mengaku, pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan BRIN untuk memperluas pemantauan mikroplastik dalam udara dan air hujan sebagai bagian dari sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI), platform pemantauan kualitas lingkungan berbasis data.

    Baca: Siswa diajak bawa tumbler untuk kurangi sampa plastik

    Hasil pengukuran ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih kuat dalam pengendalian polusi plastik di udara.

    Lebih lanjut, Asep mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan memperkuat kampanye publik bertajuk “Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi” untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.

    “Langit Jakarta sedang mengingatkan kita untuk lebih bijak mengelola bumi. Perubahan perilaku adalah kunci,” tegasnya.

    Pemprov DKI juga mengajak dunia usaha, lembaga riset, dan komunitas lingkungan untuk bersama memperkuat aksi nyata pengurangan plastik dan inovasi daur ulang.

    “Kami terbuka untuk kolaborasi riset, teknologi filtrasi, hingga pengembangan produk ramah lingkungan. Upaya menjaga langit bersih dari mikroplastik adalah tanggung jawab bersama,” tukasnya.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi mengatasi krisis sampah plastik

    Hal senada diutarakan Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali. Dia mengemukakan bahwa Pemprov DKI sangat responsif terhadap berbagai hasil riset yang menyoroti kualitas lingkungan, termasuk air, udara, dan tanah.

    Menurutnya, pemerintah daerah aktif mengendalikan penggunaan plastik berkualitas rendah yang umumnya dihasilkan dari proses daur ulang sederhana. Jenis plastik ini banyak dipakai masyarakat, mulai dari pasar tradisional, warung, hingga pedagang kaki lima.

    “Plastik jenis ini memang mudah terurai, yang sekilas tampak baik bagi lingkungan. Namun, justru berkontribusi besar terhadap peningkatan mikroplastik di alam,” ujarnya.

    Ia menambahkan, Pemprov DKI tidak sedang “bermusuhan” dengan plastik. Namun demikian, Ia mengingatkan tentang dampak lingkungan akibat dari sampah plastik.

    “Kita tidak anti terhadap plastik, karena plastik sudah menjadi bagian dari peradaban modern. Yang kita tolak adalah plastik yang mencemari lingkungan,” tandasnya.